Makalah 162: Pada Perayaan Pondok Daun

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 162

Pada Perayaan Pondok Daun

KETIKA Yesus berangkat ke Yerusalem dengan sepuluh rasul, dia berencana untuk pergi melalui Samaria, yang merupakan rute yang lebih pendek. Oleh karena itu, mereka turun lewat pantai timur danau dan, melalui Scythopolis, memasuki perbatasan Samaria. Dekat malam tiba Yesus menyuruh Filipus dan Matius ke sebuah desa di lereng timur Gunung Gilboa untuk mendapatkan penginapan bagi rombongan. Kebetulan penduduk desa tersebut sangat berprasangka terhadap orang-orang Yahudi, bahkan lebih daripada rata-rata orang Samaria, dan perasaan tersebut meningkat pada saat ini karena banyak yang sedang dalam perjalanan ke perayaan Pondok Daun. Orang-orang ini tahu sedikit sekali tentang Yesus, dan mereka menolak untuk memberikan penginapan karena dia dan rekan-rekannya adalah orang Yahudi. Ketika Matius dan Filipus menunjukkan kemarahan dan memberitahu orang-orang Samaria ini bahwa mereka menolak untuk menjamu Yang Kudus dari Israel, para penduduk desa yang geram itu memburu mereka keluar dari kota kecil itu dengan tongkat dan batu.

Setelah Filipus dan Matius kembali ke rekan-rekan mereka dan melaporkan bagaimana mereka telah diusir keluar dari desa itu, Yakobus dan Yohanes melangkah maju kepada Yesus dan berkata: “Guru, kami mohon engkau untuk memberikan kami izin untuk memerintahkan api turun dari langit agar menghanguskan orang Samaria yang kurang ajar dan tidak mau bertobat ini.” Tapi ketika Yesus mendengar kata-kata balas dendam ini, dia berpaling kepada anak-anak Zebedeus dan dengan keras menegur mereka: “Kamu tidak tahu sikap apa yang kamu tunjukkan. Balas dendam tidak punya tempat dalam kerajaan surga. Daripada bertengkar, marilah kita berjalan ke desa kecil dekat penyeberangan Yordan itu.” Jadi karena prasangka picik orang-orang Samaria ini kehilangan kehormatan menunjukkan keramahan kepada Putra Pencipta sebuah alam semesta.

Yesus dan sepuluh singgah untuk bermalam di desa dekat penyeberangan Yordan itu. Hari berikutnya pagi-pagi mereka menyeberangi sungai dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem melalui jalan raya Yordan timur, tiba di Betania hari Rabu larut malam. Tomas dan Natanael tiba pada hari Jumat, telah tertunda oleh pembicaraan mereka dengan Rodan.

Yesus dan dua belas tetap di daerah pinggiran Yerusalem sampai akhir bulan berikutnya (Oktober), sekitar empat setengah minggu. Yesus sendiri masuk ke dalam kota hanya beberapa kali, dan kunjungan-kunjungan singkat ini dilakukan selama hari-hari perayaan Pondok Daun. Dia menghabiskan sebagian besar bulan Oktober bersama Abner dan rekan-rekannya di Betlehem.

1. Bahaya-bahaya Kunjungan ke Yerusalem

Jauh sebelum mereka melarikan diri dari Galilea, para pengikut Yesus telah memohon dia untuk pergi ke Yerusalem agar memberitakan kabar baik kerajaan supaya pesannya dapat memiliki prestise telah diberitakan di pusat kebudayaan dan pembelajaran Yahudi; tapi sekarang bahwa dia benar-benar telah datang ke Yerusalem untuk mengajar, mereka kuatir akan hidupnya. Mengetahui bahwa Sanhedrin telah berusaha untuk membawa Yesus ke Yerusalem untuk pengadilan dan mengingat pernyataan Guru yang baru-baru ini diulang bahwa dia harus mengalami kematian, para rasul telah benar-benar tertegun oleh keputusan mendadaknya untuk menghadiri perayaan Pondok Daun. Pada semua bujukan mereka sebelumnya agar dia pergi ke Yerusalem, dia telah menjawab, “Saatnya belum tiba.” Sekarang, pada protes ketakutan mereka dia hanya menjawab, “Tetapi saatnya telah tiba.”

Selama perayaan Pondok Daun Yesus pergi ke Yerusalem dengan berani pada beberapa kesempatan dan di depan publik mengajar di bait suci. Hal ini ia lakukan meskipun para rasulnya berupaya untuk mencegahnya. Meskipun mereka telah lama mendesak dia untuk memberitakan pesannya di Yerusalem, kini mereka takut untuk melihat dia masuk ke kota pada saat ini, karena tahu benar bahwa para ahli kitab dan orang Farisi bertekad untuk mendatangkan kematiannya.

Penampilan berani Yesus di Yerusalem itu lebih dari sebelumnya membingungkan para pengikutnya. Banyak dari murid-muridnya, dan bahkan Yudas Iskariot, rasul itu, sudah berani berpikir bahwa Yesus telah melarikan diri dengan tergesa-gesa ke Fenisia karena ia takut orang-orang Yahudi dan Herodes Antipas. Mereka gagal untuk memahami makna penting dari gerakan-gerakan Guru. Kehadirannya di Yerusalem pada perayaan Pondok Daun itu, bahkan bertentangan dengan saran dari para pengikutnya, cukup selamanya mengakhiri semua bisikan tentang ketakutan dan kepengecutan.

Selama perayaan Pondok Daun, ribuan orang percaya dari semua bagian Kekaisaran Romawi melihat Yesus, mendengarkan dia mengajar, dan bahkan banyak yang berangkat ke Betania untuk berbicara dengan dia tentang kemajuan kerajaan di wilayah-wilayah asal mereka.

Ada banyak alasan mengapa Yesus mampu untuk berkhotbah secara publik di pelataran (halaman) bait suci sepanjang hari-hari perayaan itu, dan yang terutama adalah ketakutan yang datang ke atas para pejabat Sanhedrin sebagai akibat dari perpecahan sentimen diam-diam di kalangan mereka sendiri. Menjadi fakta bahwa banyak anggota Sanhedrin yang diam-diam percaya kepada Yesus atau sebaliknya jelas menolak untuk menangkap dia selama perayaan, ketika sedemikian besar orang-orang hadir di Yerusalem, banyak di antara mereka yang percaya kepadanya atau setidaknya bersahabat pada gerakan rohani yang dia sokong.

Upaya Abner dan rekan-rekannya di seluruh Yudea juga telah berbuat banyak untuk mengkonsolidasikan sentimen menguntungkan terhadap kerajaan, begitu rupa sehingga para musuh Yesus tidak berani terlalu terang-terangan dalam perlawanan mereka. Ini adalah salah satu alasan mengapa Yesus secara publik bisa mengunjungi Yerusalem dan masih hidup-hidup pergi. Satu atau dua bulan sebelum ini dia akan pasti dihukum mati.

Tetapi keberanian Yesus tampil di depan umum di Yerusalem itu mengagumkan musuh-musuhnya; mereka tidak siap untuk tantangan yang begitu berani. Beberapa kali selama bulan ini Sanhedrin melakukan upaya-upaya lemah untuk menempatkan Guru dalam tahanan, tetapi tidak ada yang berhasil dari upaya-upaya ini. Musuh-musuhnya begitu kaget oleh penampilan publik Yesus yang tak terduga di Yerusalem sehingga mereka mengira dia tentulah dijanjikan perlindungan oleh para penguasa Romawi. Mengetahui bahwa Filipus (saudara Herodes Antipas) hampir menjadi pengikut Yesus, para anggota Sanhedrin berspekulasi bahwa Filipus telah memberikan bagi Yesus janji-janji perlindungan terhadap musuh-musuhnya. Yesus telah berangkat dari wilayah hukum mereka sebelum mereka tersadar bahwa mereka telah keliru meyakini bahwa kemunculannya yang tiba-tiba dan berani di Yerusalem itu disebabkan oleh kesepakatan rahasia dengan para pejabat pemerintah Romawi.

Hanya dua belas rasul yang tahu bahwa Yesus bermaksud untuk menghadiri perayaan Pondok Daun setelah mereka berangkat dari Magadan. Para pengikut Guru yang lain sangat tercengang-cengang ketika ia muncul di pelataran bait suci dan mulai untuk mengajar di depan umum, dan para penguasa Yahudi terkejut tidak kepalang ketika dilaporkan bahwa dia sedang mengajar dalam bait suci.

Meskipun murid-muridnya tidak mengharapkan Yesus menghadiri perayaan itu, sebagian besar musafir dari jauh yang telah mendengar kabar tentang dia menyimpan harapan bahwa mereka mungkin akan melihat dia di Yerusalem. Dan mereka tidak dikecewakan, karena pada beberapa kesempatan dia mengajar di Serambi Salomo dan di tempat-tempat lain dalam halaman bait suci. Ajaran-ajaran ini sebenarnya pengumuman ofisial atau resmi tentang keilahian Yesus kepada orang-orang Yahudi dan kepada seluruh dunia.

Orang banyak yang mendengarkan ajaran Guru terbagi dalam pendapat mereka. Beberapa mengatakan bahwa ia adalah orang baik; beberapa mengatakan ia nabi; beberapa mengatakan ia benar-benar Mesias; orang lain mengatakan dia adalah seorang pengacau yang jail, bahwa dia memimpin orang-orang tersesat dengan doktrin-doktrinnya yang aneh. Musuh-musuhnya ragu-ragu untuk mengecam dia secara terbuka karena takut pada orang-orang percaya yang bersahabat, sementara teman-temannya takut untuk mengakui dia secara terbuka karena takut terhadap pemuka-pemuka Yahudi, mengetahui bahwa Sanhedrin bertekad untuk menghukum mati dia. Tetapi musuh-musuhnya sekalipun terkagum-kagum akan ajarannya, mengetahui bahwa dia tidak dididik di sekolah-sekolah para rabi.

Setiap kali Yesus pergi ke Yerusalem, rasul-rasulnya dipenuhi kengerian. Mereka bahkan semakin takut lagi karena, dari hari ke hari, mereka mendengarkan pernyataannya yang semakin berani mengenai sifat dasar misinya di bumi. Mereka tidak terbiasa untuk mendengar Yesus membuat klaim-klaim positif tersebut dan penegasan-penegasan yang luar biasa seperti itu bahkan ketika berkhotbah di antara teman-temannya.

2. Pidato Bait Suci Pertama

Sore pertama Yesus mengajar dalam Bait Suci, serombongan cukup banyak orang duduk mendengarkan kata-katanya yang menggambarkan kebebasan dari injil yang baru dan sukacita mereka yang percaya kabar baik, ketika itulah seorang pendengar yang penasaran menginterupsinya untuk bertanya: “Guru, bagaimana engkau bisa mengutip Kitab Suci dan mengajar orang-orang begitu lancar sedangkan aku diberitahu bahwa engkau tidak dididik dalam pembelajaran para rabi?” Yesus menjawab: “Tidak ada orang yang mengajari aku kebenaran yang aku nyatakan kepada kamu. Dan ajaran ini bukan milikku tapi milik Dia yang telah mengutus aku. Jika ada orang yang benar-benar berkeinginan untuk melakukan kehendak Bapaku, ia akan pasti tahu tentang ajaranku, apakah itu dari Tuhan atau apakah aku berbicara untuk diriku sendiri. Siapa yang berbicara untuk dirinya sendiri mencari kemuliaannya sendiri, tetapi ketika aku memberitakan firman dari Bapa, aku karena itu mencari kemuliaan Dia yang mengutus aku. Tapi sebelum kamu mencoba untuk masuk ke dalam terang yang baru, bukannya tidak lebih baik kamu mengikuti terang yang sudah kamu miliki? Musa memberi kamu hukum, namun berapa banyak dari kamu yang dengan jujur berusaha untuk memenuhi tuntutan-tuntutannya? Musa dalam hukum ini memerintahkan kamu, berkata, 'Jangan membunuh'; meskipun ada perintah ini beberapa dari kamu berusaha untuk membunuh Anak Manusia.”

Ketika orang banyak mendengar kata-kata ini, mereka menjadi berselisih di antara mereka sendiri. Beberapa mengatakan dia gila; beberapa bahwa ia kerasukan setan. Lainnya mengatakan, ini memang nabi Galilea yang telah lama ahli-ahli kitab dan orang Farisi berusaha untuk bunuh. Beberapa mengatakan para pemimpin agama takut untuk menganiaya dia; yang lain berpikir bahwa mereka tidak menangkapnya karena mereka telah menjadi percaya kepadanya. Setelah banyak perdebatan salah satu dari kerumunan itu melangkah maju dan bertanya kepada Yesus, “Mengapa para penguasa berusaha untuk membunuh engkau?” Dan dia menjawab: “Para penguasa berusaha untuk membunuh aku karena mereka membenci ajaranku tentang kabar baik kerajaan, injil yang membuat manusia bebas dari tradisi-tradisi memberatkan dari agama upacara-upacara resmi yang guru-guru ini telah bertekad untuk menegakkannya dengan biaya berapapun. Mereka menyunat sesuai dengan hukum pada hari Sabat, tetapi mereka hendak membunuh aku karena aku pernah pada hari Sabat membebaskan seorang pria yang ditawan dalam belenggu penderitaan. Mereka mengikuti aku pada hari Sabat untuk memata-matai aku, tetapi mau membunuhku karena pada kesempatan lain aku memilih untuk membuat seorang pria yang lumpuh tak berdaya sepenuhnya sembuh pada hari Sabat. Mereka berusaha untuk membunuhku karena mereka tahu dengan baik bahwa, jika kamu benar-benar percaya dan berani untuk menerima ajaranku, sistem agama tradisional mereka akan digulingkan, selamanya diruntuhkan. Dengan demikian mereka akan kehilangan otoritas yang atas mana mereka telah mengabdikan hidup mereka karena mereka tetap gigih menolak untuk menerima injil baru dan lebih mulia tentang kerajaan Tuhan ini. Dan sekarang aku memohon pada kamu masing-masing: Jangan hakimi sesuai dengan penampilan luar melainkan hakimilah berdasarkan roh sebenarnya dari ajaran-ajaran ini; hakimilah dengan benar.”

Maka berkatalah seorang penanya lain: “Ya, Guru, kami memang mencari Mesias, tetapi ketika dia datang, kami tahu bahwa penampilannya akan dalam misteri. Kami tahu dari mana engkau. Engkau telah ada di antara saudara-saudaramu dari semula. Pembebas akan datang dalam kuasa untuk memulihkan tahta kerajaan Daud. Apakah engkau benar-benar mengaku sebagai Mesias?” Dan Yesus menjawab: “Kamu mengaku mengenal aku dan tahu dari mana aku. Aku berharap pengakuanmu benar, karena memang kamu akan menemukan hidup berkelimpahan dalam pengetahuan itu. Tapi aku menyatakan bahwa aku tidak datang kepada kamu demi untuk diriku sendiri; Aku telah diutus oleh Bapa, dan Dia yang mengutus aku itu adalah benar dan setia. Dengan menolak untuk mendengar aku, kamu menolak untuk menerima Dia yang mengutus aku. Kamu, jika kamu mau menerima injil ini, akan datang untuk mengenal Dia yang mengutus aku. Aku mengenal Bapa, karena aku telah datang dari Bapa untuk menyatakan dan mengungkapkan Dia kepada kamu.”

Agen-agen dari para ahli kitab ingin menangkap dia, tetapi mereka takut akan orang banyak, karena banyak yang percaya kepadanya. Pekerjaan Yesus sejak baptisannya telah menjadi terkenal ke seluruh orang Yahudi, dan sementara banyak orang-orang ini menceritakan hal-hal ini, mereka mengatakan di antara mereka: “Meskipun guru ini dari Galilea, dan meskipun ia tidak memenuhi semua harapan kita tentang Mesias, kami bertanya-tanya apakah sang pembebas, ketika ia datang, benar-benar akan melakukan sesuatu yang lebih mengagumkan daripada yang Yesus dari Nazaret ini telah lakukan.”

Ketika orang-orang Farisi dan agen-agen mereka mendengar orang-orang berbicara seperti ini, mereka berunding dengan para pemimpin mereka dan memutuskan bahwa sesuatu harus dilakukan segera untuk menghentikan penampilan publik Yesus di pelataran bait suci ini. Para pemimpin orang Yahudi, pada umumnya, cenderung untuk menghindari bentrokan dengan Yesus, karena percaya bahwa penguasa Romawi telah menjanjikan dia kekebalan hukum. Mereka tidak bisa menjelaskan selain itu tentang keberaniannya datang saat ini ke Yerusalem; tapi para pejabat Sanhedrin tidak sepenuhnya percaya desas-desus ini. Mereka beralasan bahwa para penguasa Romawi tidak akan melakukan hal seperti itu secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan badan pemerintahan tertinggi bangsa Yahudi.

Sesuai dengan itulah, Eber, pejabat yang ditunjuk Sanhedrin, dengan dua asisten dikirim untuk menangkap Yesus. Ketika Eber berjalan menuju Yesus, Guru berkata: “Jangan takut untuk mendekati aku. Mendekatlah sementara kamu mendengarkan ajaranku. Aku tahu kamu telah dikirim untuk menangkap aku, tapi kamu harus memahami bahwa tidak ada yang akan menimpa Anak Manusia sampai saatnya tiba. Kamu tidak berbaris melawan aku; kamu datang hanya untuk melakukan perintah tuan-tuanmu, dan bahkan para penguasa orang Yahudi ini sesungguhnya berpikir mereka beribadah kepada Tuhan ketika mereka diam-diam berusaha membunuh aku.

“Aku tidak memiliki niat buruk pada kamu. Bapa mengasihi kamu, dan karena itu aku merindukan pembebasan kamu dari belenggu prasangka dan kegelapan tradisi. Aku menawari kamu kebebasan hidup dan sukacita keselamatan. Aku menyatakan jalan yang baru dan hidup, pembebasan dari kejahatan dan pematahan belenggu dosa. Aku telah datang agar kamu dapat memiliki hidup, dan memilikinya selamanya. Kamu berusaha untuk menyingkirkan aku dan ajaranku yang menggelisahkan itu. Jika saja kamu bisa menyadari bahwa aku bersama kamu hanya sebentar lagi! Tidak lama lagi aku pergi kepada Dia yang mengutus aku ke dalam dunia ini. Dan kemudian banyak dari kamu akan secara tekun mencari aku, tetapi kamu tidak akan menemukan kehadiranku, karena di mana aku akan pergi kamu tidak bisa datang. Tapi semua yang benar-benar berusaha untuk menemukan aku suatu kali nanti akan mencapai kehidupan yang memimpin ke hadapan Bapaku.”

Beberapa dari para pengejek berkata di antara mereka sendiri: “Ke mana orang ini akan pergi sehingga kita tidak bisa menemukannya? Apakah ia akan pergi untuk hidup di antara orang-orang Yunani? Apakah dia akan membunuh dirinya sendiri? Apa yang bisa ia maksudkan ketika ia menyatakan bahwa segera ia akan pergi dari kita, dan bahwa kita tidak dapat pergi ke mana ia pergi?”

Eber dan para asistennya menolak untuk menangkap Yesus; mereka kembali ke tempat pertemuan mereka tanpa dia. Karena itu, ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memarahi Eber dan asisten-asistennya karena mereka belum membawa Yesus bersama mereka, Eber hanya menjawab: "Kami takut untuk menangkapnya di tengah-tengah orang banyak karena banyak yang percaya kepadanya. Selain itu, kami tidak pernah mendengar seorang manusia berbicara seperti orang ini. Ada sesuatu yang tidak biasa tentang guru ini. Kamu sebaiknya semua pergi ke sana untuk mendengarkan dia.” Dan ketika para penguasa kepala mendengar kata-kata ini, mereka heran dan berbicara dengan mengejek kepada Eber: “Apakah kamu juga disesatkan? Apakah kamu hendak percaya pada pendusta ini? Pernahkah kamu mendengar bahwa ada salah satu dari orang-orang kita yang terpelajar atau salah satu dari penguasa telah percaya kepadanya? Apakah ada dari para ahli kitab atau orang-orang Farisi yang tertipu oleh ajaran pintarnya? Bagaimana bisa bahwa kamu dipengaruhi oleh perilaku bodoh orang banyak ini yang tidak tahu hukum atau para nabi? Tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak diajar tersebut adalah terkutuk?” Dan kemudian jawab Eber: “Meski begitu, tuan-tuanku, tapi orang ini berbicara pada orang banyak dengan kata-kata rahmat dan harapan. Dia membuat girang orang yang putus asa, dan kata-katanya menghibur bahkan bagi jiwa-jiwa kami. Dapatkah ada yang salah dalam ajaran-ajaran ini meskipun mungkin ia bukan Mesias yang di Kitab Suci? Dan bukankah hukum kita mewajibkan keadilan? Apakah kita menghukum seseorang sebelum kita mendengarnya?” Dan kepala Sanhedrin murka kepada Eber dan, sambil berpaling ke arahnya, berkata: “Apakah kamu sudah gila? Apakah kamu kebetulan juga dari Galilea? Selidikilah Kitab Suci, dan kamu akan menemukan bahwa dari Galilea tidak ada bangkit nabi, apalagi Mesias.”

Sanhedrin dibubarkan dalam kebingungan, dan Yesus menyingkir ke Betania untuk bermalam.

3. Perempuan yang Ditangkap Karena Perzinahan

Selama kunjungan ke Yerusalem inilah Yesus berurusan dengan seorang wanita tertentu dengan reputasi jahat yang dibawa ke hadapannya oleh para penuduhnya dan musuh-musuhnya. Catatanmu yang terdistorsi mengenai episode ini menunjukkan bahwa wanita ini telah dibawa ke hadapan Yesus oleh ahli-ahli kitab dan orang Farisi, dan bahwa Yesus berurusan seperti itu dengan mereka untuk menunjukkan bahwa para pemimpin agama Yahudi itu sendiri mungkin telah bersalah karena amoralitas. Yesus tahu benar bahwa, meskipun ahli-ahli kitab dan orang-orang Farisi ini buta secara rohani dan berprasangka secara intelektual oleh kesetiaan mereka pada tradisi, namun mereka terhitung di antara orang-orang yang paling bermoral sepenuhnya dari hari dan generasi itu.

Apa yang sebenarnya terjadi adalah ini: Pagi-pagi pada hari ketiga perayaan itu, ketika Yesus mendekati bait suci, ia ditemui oleh sekelompok agen sewaan Sanhedrin yang menyeret seorang wanita bersama mereka. Saat mereka mendekat, juru bicaranya mengatakan: “Guru, perempuan ini dibawa karena perzinahan—tertangkap basah. Adapun hukum Musa memerintahkan agar kita harus merajam wanita yang seperti itu. Apa yang engkau katakan harus dilakukan terhadap dia?”

Rencana musuh Yesus adalah, jika dia menjunjung hukum Musa yang mengharuskan bahwa pelanggar yang mengaku itu agar dirajam batu, maka akan melibatkan dia dalam kesulitan dengan para penguasa Romawi, yang telah menolak hak orang-orang Yahudi untuk menjatuhkan hukuman mati tanpa persetujuan dari pengadilan Romawi. Jika dia melarang merajam batu wanita itu, mereka akan menuduh dia di hadapan Sanhedrin karena menetapkan dirinya di atas Musa dan hukum Yahudi. Jika dia tetap diam, mereka akan menuduhnya pengecut. Tetapi Guru mampu mengatasi situasi sedemikian rupa sehingga seluruh rancangan itu hancur berantakan karena kebusukannya sendiri.

Wanita ini, yang dulunya cantik, adalah istri dari seorang warga rendahan dari Nazaret, seorang pria yang telah menjadi pembuat masalah terhadap Yesus sepanjang masa mudanya. Pria itu, setelah menikahi wanita ini, dengan paling memalukan memaksanya untuk mencari nafkah untuk mereka dengan memperdagangkan tubuhnya. Dia telah muncul ke perayaan di Yerusalem agar istrinya mungkin melacurkan pesona tubuhnya untuk keuntungan keuangan. Dia telah masuk ke dalam tawar-menawar dengan orang-orang sewaan dari para penguasa Yahudi itu sehingga mengkhianati istrinya sendiri dalam kejahatan pelacuran itu. Dan demikianlah mereka datang dengan wanita itu dan pasangannya dalam pelanggaran itu dengan tujuan menjerat Yesus agar mengeluarkan beberapa pernyataan yang dapat digunakan melawan dirinya dalam kasus penangkapannya.

Yesus, melihat sekeliling kerumunan, melihat suami wanita itu berdiri di belakang orang-orang lain. Dia tahu lelaki macam apa dia dan merasa bahwa dia adalah pihak yang terlibat dalam transaksi tercela itu. Yesus pertama-tama berjalan keliling ke dekat tempat si suami bobrok ini berdiri dan menulis di atas pasir beberapa kata yang menyebabkan dia tergesa-gesa pergi. Kemudian dia kembali di depan wanita itu dan menulis lagi di atas tanah untuk kepentingan para calon penuduh wanita itu; dan ketika mereka membaca tulisannya itu, mereka juga pergi, satu per satu. Dan setelah Guru menulis di pasir ketiga kalinya, lelaki pasangan zinah wanita itu pergi juga, sehingga, ketika Guru bangun dari menulis, dia melihat wanita itu berdiri sendirian di hadapannya. Yesus berkata: “Perempuan, dimana para penuduhmu? tidak adakah orang yang masih tinggal untuk merajam kamu?” Dan wanita itu, sambil mengangkat matanya, menjawab, “Tidak ada, Tuhan.” Dan kemudian kata Yesus: “Aku tahu tentang kamu; akupun juga tidak menghukum kamu. Pergilah dalam damai.” Dan wanita ini, Hildana, meninggalkan suaminya yang bejat itu dan menggabungkan dirinya pada murid-murid kerajaan.

4. Perayaan Pondok Daun

Kehadiran orang-orang dari seluruh dunia yang dikenal, dari Spanyol ke India, membuat perayaan Pondok Daun suatu kesempatan ideal bagi Yesus untuk pertama kalinya secara publik memberitakan injil sepenuhnya di Yerusalem. Pada perayaan ini orang-orang tinggal sebagian besar di udara terbuka, dalam bilik-bilik dedaunan. Itulah perayaan pengumpulan panen raya, yang datang dan diadakan dalam sejuknya bulan-bulan musim gugur, sehingga perayaan itu lebih umum dihadiri oleh orang-orang Yahudi dari seluruh dunia daripada Paskah pada akhir musim dingin atau Pentakosta pada awal musim panas. Para rasul akhirnya menyaksikan Guru mereka membuat pengumuman berani mengenai misinya di bumi di depan seluruh dunia, seperti itu.

Ini adalah perayaan dari semua perayaan, karena semua pengorbanan yang tidak dibuat pada festival-festival lainnya dapat dilakukan pada saat ini. Inilah kesempatan untuk penerimaan persembahan bait suci; perayaan itu adalah kombinasi dari kesenangan liburan dengan tatacara khidmat ibadah agama. Di sinilah waktu untuk sukacita bangsa, dicampur dengan pengorbanan, nyanyian orang Lewi, dan tiupan khidmat sangkakala perak para imam. Pada malam hari pemandangan mengesankan bait suci dan kerumunan peziarahnya dengan cemerlang diterangi oleh kaki dian besar yang menyala terang di pelataran perempuan maupun oleh kilau puluhan obor yang berdiri seputar pelataran bait suci. Seluruh kota semarak dihiasi kecuali benteng Romawi Antonia, yang memandang dengan suram berlawanan terhadap suasana perayaan dan ibadah ini. Dan alangkah bencinya orang-orang Yahudi pada pengingat tentang kuk penjajahan Romawi yang terus ada ini!

Tujuh puluh ekor lembu jantan dikorbankan selama perayaan, simbol dari tujuh puluh negara-negara kekafiran. Upacara pencurahan air melambangkan pencurahan roh ilahi. Upacara air ini mengikuti prosesi matahari terbit dari para imam dan orang-orang Lewi. Para jemaah menuruni anak-anak tangga yang membawa dari pelataran Israel ke pelataran untuk perempuan sementara trompet keperakan ditiup sambung bersambung. Kemudian orang-orang beriman berbaris menuju gerbang elok, yang membuka ke pelataran orang kafir. Di sini mereka berpaling menghadap ke barat, untuk mengulang nyanyian mereka, dan melanjutkan barisan mereka menuju air simbolis.

Pada hari terakhir perayaan bertugaslah hampir empat ratus lima puluh imam dengan sejumlah yang sama orang Lewi. Saat fajar para peziarah yang berkumpul dari seluruh bagian kota, masing-masing membawa di tangan kanan seikat ranting myrtle (bungur), willow (dedalu), dan cabang-cabang daun pohon kurma, sementara di tangan kiri masing-masing membawa cabang dari apel firdaus—jeruk sitrun, atau “buah terlarang.” Para peziarah ini dibagi menjadi tiga kelompok untuk upacara pagi-pagi ini. Satu kelompok tetap di bait suci untuk menghadiri pengorbanan pagi; kelompok lain berbaris turun dari Yerusalem ke dekat Maza untuk memotong dahan-dahan pohon willow untuk hiasan mezbah pengorbanan, sedangkan kelompok ketiga membentuk arak-arakan untuk berbaris dari bait suci di belakang imam pembawa air, yang, mengikuti suara dari trompet perak, membawa kendi emas yang akan diisi air simbolik, keluar melalui Ofel ke dekat Siloam, dimana terletak gerbang air mancur. Setelah kendi emas diisi di kolam Siloam, prosesi berbaris kembali ke bait suci, masuk melalui pintu air dan pergi langsung ke pelataran para imam, di mana imam pembawa kendi air itu bergabung dengan imam pembawa anggur untuk korban minuman (curahan). Kedua kelompok imam ini kemudian bersama menuju ke saluran-saluran perak yang mengarah ke dasar mezbah dan menuangkan isi kendi-kendi itu ke dalamnya. Pelaksanaan ritus menuangkan anggur dan air ini adalah pertanda untuk para musafir yang berkumpul untuk memulai nyanyian dari Mazmur 113 sampai termasuk 118, bergantian dengan orang-orang Lewi. Dan sementara mereka mengucapkan baris-baris ayat ini, mereka akan melambaikan berkas-berkas ranting mereka di mezbah. Kemudian disusul pengorbanan untuk siang, berkaitan dengan pembacaan Mazmur untuk siang, Mazmur untuk hari terakhir perayaan adalah yang pasal delapan puluh dua, dimulai dari ayat kelima.

5. Khotbah mengenai Terang Dunia

Pada malam sebelum hari terakhir perayaan, saat suasana diterangi benderang oleh cahaya dari lampu-lampu kaki dian dan obor-obor, Yesus berdiri di tengah-tengah kerumunan orang yang berkumpul dan berkata:

“Akulah terang dunia. Siapa yang mengikuti aku tidak akan berjalan dalam kegelapan tetapi akan memiliki terang hidup. Dengan berusaha untuk mengadili aku dan mencoba untuk menghakimi aku, kamu menyatakan bahwa, jika aku bersaksi tentang diriku sendiri, kesaksianku tidak mungkin benar. Tapi tidak pernah bisa ciptaan itu duduk menghakimi Pencipta. Bahkan jika aku bersaksi tentang diriku sendiri, kesaksianku itu selama-lamanya benar, sebab aku tahu dari mana aku datang, siapa aku, dan ke mana aku pergi. Kamu yang hendak membunuh Anak Manusia tidak tahu dari mana aku datang, siapa aku, atau ke mana aku pergi. Kamu hanya menghakimi berdasarkan penampilan daging; kamu tidak melihat kenyataan-kenyataan roh. Aku tidak menghakimi siapapun, bahkan tidak pada musuh besarku. Tapi jika aku akan memilih untuk menghakimi, penghakimanku akan benar dan adil, karena aku tidak akan menilai sendirian tetapi dalam hubungan dengan Bapaku, yang mengutus aku ke dalam dunia, dan yang adalah sumber dari segala penghakiman yang benar. Kamu bahkan memperbolehkan bahwa kesaksian dari dua orang yang dipercaya dapat diterima—baiklah, kalau begitu, aku memberikan kesaksian tentang kebenaran-kebenaran ini; begitu pula Bapaku yang di surga. Dan ketika aku memberitahukan kamu kemarin ini, dalam kegelapanmu kamu bertanya kepadaku, 'Di mana Bapamu?' Sesungguhnya, kamu tidak kenal baik aku maupun Bapaku, karena kalau saja kamu telah mengenal aku, kamu juga akan mengenal Bapa.

“Aku telah memberitahu kamu bahwa aku akan pergi, dan bahwa kamu akan mencari aku dan tidak menemukan aku, karena ke mana aku pergi kamu tidak dapat datang. Kamu yang menolak terang ini berasal dari bawah; aku dari atas. Kamu yang lebih memilih untuk duduk dalam kegelapan adalah dari dunia ini; aku bukan dari dunia ini, dan aku hidup dalam terang kekal dari Bapa segala terang. Kamu semua memiliki kesempatan berlimpah untuk belajar siapa aku, tetapi kamu akan memiliki bukti lagi lainnya yang membenarkan siapa itu Anak Manusia. Akulah terang kehidupan, dan setiap orang yang dengan sengaja dan dengan memahami menolak terang penyelamat ini akan mati dalam dosa-dosanya. Banyak yang harus aku beritahukan padamu, tetapi kamu tidak dapat menerima kata-kataku. Namun demikian, Dia yang mengutus aku, adalah benar dan setia; Bapaku mengasihi juga anak-anaknya yang bersalah. Dan semua yang Bapaku telah katakan aku juga beritakan kepada dunia.

“Ketika Anak Manusia ditinggikan, maka kamu semua akan tahu bahwa akulah dia, dan bahwa aku tidak melakukan apapun dari diriku sendiri tapi hanya yang Bapa telah ajarkan padaku. Aku mengucapkan kata-kata ini kepadamu dan pada anak-anakmu. Dan Dia yang mengutus aku itu sekarangpun ada dengan aku; Dia tidak meninggalkan aku sendirian, karena aku selalu melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.”

Sementara Yesus mengajar para peziarah di pelataran (halaman dalam) bait suci, banyak yang percaya. Dan tidak ada seorangpun yang berani menangkapnya.

6. Ceramah tentang Air Hidup

Pada hari terakhir, hari puncak perayaan itu, ketika arak-arakan dari kolam Siloam melewati pelataran-pelataran bait suci, dan tepat setelah air dan anggur dituangkan ke atas mezbah oleh para imam, Yesus, sambil berdiri di antara para peziarah, mengatakan: “Jika ada orang yang haus, baiklah ia datang kepadaku dan minum. Dari Bapa di atas aku membawa ke dunia ini air hidup. Siapa yang percaya padaku akan dipenuhi dengan roh yang air ini wakili, karena bahkan Kitab Suci telah mengatakan, 'Dari dalam dia akan mengalir aliran-aliran air hidup.' Ketika Anak Manusia telah menyelesaikan pekerjaannya di bumi, maka akan dicurahkan ke atas semua manusia Roh Kebenaran yang hidup itu. Siapa yang menerima roh ini tidak akan pernah kenal kehausan rohani lagi.”

Yesus tidak mengganggu ibadah ketika mengucapkan kata-kata ini. Dia berbicara pada jemaah segera setelah nyanyian Hallel, pembacaan responsif kitab Mazmur (pasal 113-118) disertai dengan melambaikan ranting-ranting di depan mezbah. Tepat di sini ada jeda saat korban sedang dipersiapkan, dan pada saat inilah para peziarah mendengar suara menawan dari Guru yang menyatakan bahwa dia adalah pemberi air hidup kepada setiap jiwa yang haus roh.

Pada penutupan ibadah pagi ini Yesus terus mengajar orang banyak, katanya: “Apakah kamu belum membaca dalam Kitab Suci: 'Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu'? Mengapa kamu haus untuk pelayanan dari roh sementara kamu berusaha untuk mengairi jiwamu dengan tatacara manusia, yang dituangkan dari kendi-kendi rusak untuk upacara ibadah? Apa yang kamu lihat terjadi di sekitar bait suci ini adalah cara yang mana nenek moyangmu berusaha untuk melambangkan penganugerahan roh ilahi ke atas anak-anak iman, dan kamu telah berbuat baik untuk melestarikan simbol-simbol ini, bahkan hingga hari ini. Tapi sekarang telah datang pada generasi ini pewahyuan dari Bapa semua roh melalui penganugerahan Anaknya, dan semua ini pasti akan diikuti dengan penganugerahan roh dari Bapa dan Anak ke atas anak-anak manusia. Kepada setiap orang yang memiliki iman maka penganugerahan roh ini akan menjadi guru yang sejati tentang jalan yang menuju kepada hidup selama-lamanya, kepada air-air hidup yang sesungguhnya dalam kerajaan surga di atas bumi dan dalam Firdausnya Bapa di atas sana.”

Dan Yesus terus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang banyak maupun dari orang-orang Farisi. Beberapa berpikir dia adalah seorang nabi; beberapa percaya padanya sebagai Mesias; yang lain mengatakan dia tidak mungkin Kristus itu, melihat bahwa dia datang dari Galilea, dan bahwa Mesias harus memulihkan takhta Daud. Masih juga mereka tidak berani menangkapnya.

7. Ceramah tentang Kebebasan Rohani

Pada sore hari terakhir perayaan itu dan setelah para rasul gagal dalam upaya mereka untuk membujuk dia agar melarikan diri dari Yerusalem, Yesus pergi lagi ke bait suci untuk mengajar. Menemukan sekumpulan besar orang percaya sedang berkumpul di Serambi Sulaiman, dia berbicara kepada mereka, mengatakan:

“Jika kata-kataku tinggal di dalam kamu dan kamu berniat untuk melakukan kehendak Bapaku, maka kamu adalah benar-benar murid-muridku. Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Aku tahu bagaimana kamu akan menjawab aku: Kami adalah anak-anak Abraham, dan kita tidak berada dalam perbudakan siapapun; bagaimana kami akan dibuat merdeka? Meskipun demikian, aku tidak berbicara tentang penundukan yang kelihatan pada kekuasaan lain; aku mengacu pada kemerdekaan jiwa. Sesungguhnya, aku berkata kepadamu, setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan kamu tahu bahwa hamba itu tidak mungkin untuk tinggal selamanya di rumah tuannya. Kamu juga tahu bahwa anak itulah yang tetap di rumah ayahnya. Karena itu, jika Anak itu memerdekakan kamu, akan membuat kamu menjadi anak-anak-Nya, maka kamu akan benar-benar merdeka.

“Aku tahu bahwa kamu adalah keturunan Abraham, namun para pemimpinmu berusaha untuk membunuh aku karena firmanku tidak diizinkan untuk melakukan pengaruhnya yang mengubahkan itu dalam hati mereka. Jiwa mereka tertutup oleh prasangka dan dibutakan oleh keangkuhan dendam. Aku menyatakan kepadamu kebenaran yang Bapa kekal tunjukkan padaku, sementara para guru yang tersesat ini berusaha melakukan hal-hal yang telah mereka pelajari hanya dari bapa leluhur duniawi mereka. Dan kalau kamu menjawab bahwa Abraham adalah bapamu, maka aku memberitahu kamu bahwa, jika kamu adalah anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan Abraham. Beberapa dari kamu percaya ajaranku, tetapi yang lain berusaha untuk membunuhku karena aku telah mengatakan kepada kamu kebenaran yang aku terima dari Tuhan. Tetapi Abraham tidak seperti itu memperlakukan kebenaran Tuhan. Aku melihat bahwa beberapa di antara kamu bertekad untuk melakukan pekerjaan si jahat. Jika Tuhan adalah Bapamu, kamu akan mengenal aku dan mencintai kebenaran yang aku tunjukkan. Apakah kamu tidak melihat bahwa aku datang dari Bapa, bahwa aku diutus oleh Tuhan, bahwa aku tidak melakukan pekerjaan ini dari diriku sendiri? Mengapa kamu tidak mengerti kata-kataku? Apakah karena kamu telah memilih untuk menjadi anak-anak kejahatan? Jika kamu adalah anak-anak kegelapan, kamu akan sulit berjalan dalam terang kebenaran yang aku wahyukan. Anak-anak kejahatan hanya mengikuti cara bapa mereka, yang adalah pendusta dan tidak berdiri untuk kebenaran karena ternyata tidak ada kebenaran dalam dirinya. Tapi sekarang datanglah Anak Manusia berbicara dan menghidupi kebenaran, dan banyak dari kamu menolak untuk percaya.

“Siapakah di antara kamu menuduh aku berdosa? Maka, kalau aku menyatakan dan menghidupi kebenaran yang ditunjukkan kepadaku oleh Bapa, mengapa kamu tidak percaya? Siapa yang dari Tuhan mendengar dengan senang firman Tuhan; karena alasan ini banyak dari kamu tidak mendengar bukan kata-kataku, karena kamu bukan dari Tuhan. Guru-guru kamu bahkan berani mengatakan bahwa aku melakukan pekerjaanku oleh kuasa penghulu setan. Seseorang yang dekat baru saja mengatakan bahwa aku memiliki setan, bahwa aku adalah anak setan. Tapi semua yang jujur dengan jiwamu sendiri tahu betul bahwa aku bukan setan. Kamu tahu bahwa aku menghormati Bapa sekalipun kamu tidak menghormati aku. Aku tidak mencari kemuliaanku sendiri, tetapi hanya kemuliaan Bapa Firdausku. Dan aku tidak menghakimi kamu, karena ada yang menghakimi untuk aku.

“Sesungguhnya, aku berkata kepadamu yang percaya injil bahwa, jika seseorang mau menjaga firman kebenaran ini tetap hidup dalam hatinya, dia tidak akan pernah merasakan kematian. Dan sekarang tepat di sisiku seorang ahli kitab mengatakan bahwa pernyataan ini membuktikan bahwa aku memiliki setan, melihat bahwa Abraham sudah mati, juga para nabi. Dan dia bertanya: 'Apakah kamu jauh lebih besar daripada Abraham dan para nabi sehingga berani berdiri di sini dan mengatakan bahwa barang siapa memegang perkataanmu tidak akan mengecap kematian? Siapa kamu sehingga kamu berani mengucapkan hujatan seperti itu?' Dan aku mengatakan kepada semua yang seperti itu, bahwa jika aku memuliakan diriku sendiri, maka kemuliaanku adalah tidak berarti apa-apa. Tapi Bapa itulah yang akan memuliakan aku, bahkan Bapa yang sama yang kamu sebut Allah. Tapi kamu telah gagal untuk mengenal Allahmu dan Bapaku ini, dan aku telah datang untuk membawamu bersama-sama; untuk menunjukkan kepada kamu bagaimana untuk menjadi benar-benar anak-anak Allah. Meskipun kamu tidak kenal Bapa, aku benar-benar mengenal Dia. Bahkan Abraham bersukacita melihat hariku, dan oleh iman ia melihatnya dan berbahagia.”

Ketika orang-orang Yahudi yang tidak percaya dan agen-agen Sanhedrin yang telah berkumpul di sekeliling pada saat ini mendengar kata-kata ini, mereka membangkitkan keributan, berteriak: “Kamu belum lima puluh tahun, namun kamu berbicara tentang melihat Abraham; kamu adalah anak setan!” Yesus tidak dapat melanjutkan ceramah. Dia hanya mengatakan saat ia pergi, “Sesungguhnya, sesungguhnya, aku berkata kepada kamu, sebelum Abraham ada, aku ada.” Banyak orang yang tidak percaya menyerbu keluar mencari batu untuk dilemparkan ke arahnya, dan agen-agen Sanhedrin berusaha untuk menangkapnya, tetapi Guru dengan cepat berjalan melewati lorong-lorong bait suci dan meloloskan diri ke sebuah tempat pertemuan rahasia di dekat Betania, di mana Marta, Maria, dan Lazarus menantinya.

8. Percakapan dengan Marta dan Maria

Telah diatur bahwa Yesus akan menginap dengan Lazarus dan adik-adik perempuannya di rumah seorang teman, sementara para rasul bertebaran di sana-sini dalam kelompok-kelompok kecil, tindakan pencegahan ini diambil karena para penguasa Yahudi kembali menjadi berani dengan rencana mereka untuk menangkapnya.

Selama bertahun-tahun sudah menjadi kebiasaan bagi tiga bersaudara ini untuk meninggalkan semuanya dan mendengarkan ajaran Yesus setiap kali dia kebetulan mengunjungi mereka. Dengan meninggalnya kedua orang tua mereka, Marta telah memegang tanggung jawab rumah tangga, sehingga pada kesempatan ini, sementara Lazarus dan Maria duduk di kaki Yesus menikmati ajarannya yang menyegarkan, Marta bersiap-siap menyediakan makan malam. Perlu dijelaskan bahwa Marta secara tidak perlu terganggu oleh banyak tugas yang tidak penting, dan bahwa dia amat disibukkan oleh banyak hal sepele; itu adalah wataknya.

Ketika Marta menyibukkan diri dengan semua yang dianggap tugas ini, dia terganggu karena Maria tidak berbuat apapun untuk membantu. Oleh karena itu ia pergi kepada Yesus dan berkata: “Guru, tidakkah engkau peduli bahwa adikku membiarkan aku sendiri untuk melayani semuanya? Apakah engkau tidak menyuruh dia untuk datang dan membantuku?” Jawab Yesus: “Marta, Marta, mengapa kamu selalu cemas tentang begitu banyak hal dan terganggu oleh begitu banyak hal-hal sepele? Hanya satu hal yang benar-benar bernilai, dan karena Maria telah memilih bagian yang baik dan yang perlu ini, aku tidak akan mengambil hal itu darinya. Tapi kapan kalian berdua akan belajar untuk hidup seperti yang aku telah ajarkan pada kalian: berdua melayani bekerjasama dan berdua menyegarkan jiwamu bersamaan? Tidak dapatkah kalian belajar bahwa ada waktu untuk segala sesuatu—bahwa hal-hal yang kurang penting dari hidup harus digantikan oleh hal-hal yang lebih besar dari kerajaan surgawi?”

9. Di Betlehem dengan Abner

Sepanjang minggu yang mengikuti perayaan Pondok Daun, puluhan orang percaya berkumpul di Betania dan menerima petunjuk dari dua belas rasul. Sanhedrin tidak berusaha untuk menganiaya perkumpulan-perkumpulan ini karena Yesus tidak hadir; dia sepanjang waktu ini bekerja dengan Abner dan rekan-rekannya di Betlehem. Pada hari setelah penutupan perayaan itu, Yesus telah berangkat ke Betania, dan dia tidak lagi mengajar di bait suci selama kunjungan ke Yerusalem ini.

Pada saat ini, Abner sedang membangun markasnya di Betlehem, dan dari pusat itu banyak pekerja telah dikirim ke kota-kota Yudea dan Samaria selatan serta bahkan ke Aleksandria. Dalam beberapa hari kedatangannya, Yesus dan Abner menyelesaikan pengaturan untuk konsolidasi pekerjaan dua kelompok rasul itu.

Sepanjang kunjungannya ke perayaan Pondok Daun, Yesus telah membagi waktunya hampir sama antara Betania dan Betlehem. Di Betania dia menghabiskan banyak waktu dengan para rasulnya; di Betlehem dia memberikan banyak petunjuk kepada Abner dan mantan-mantan rasul Yohanes lainnya. Dan karena kontak akrab inilah akhirnya mereka percaya kepadanya. Para mantan rasul Yohanes Pembaptis ini terpengaruh oleh keberanian yang dia tampilkan dalam pengajaran publiknya di Yerusalem demikian pula oleh pengertian simpatik yang mereka alami dalam pengajaran pribadinya di Betlehem ini. Pengaruh-pengaruh inilah yang akhirnya dan sepenuhnya memenangi masing-masing rekan Abner sehingga menerima kerajaan dengan sepenuh hati dan semua yang tersirat dalam langkah tersebut.

Sebelum meninggalkan Betlehem untuk terakhir kalinya, Guru membuat pengaturan bagi mereka semua untuk bergabung dengannya dalam upaya bersatu yang akan mendahului babak akhir perjalanan hidup buminya dalam daging. Disepakati bahwa Abner dan rekan-rekannya akan bergabung dengan Yesus dan dua belas dalam waktu dekat di Taman Magadan.

Sesuai dengan kesepakatan ini, pada awal November Abner dan sebelas rekan-rekannya bergabung dengan Yesus dan dua belas dan bekerja dengan mereka sebagai satu organisasi hingga ke penyaliban.

Pada bagian akhir bulan Oktober Yesus dan dua belas menarik diri dari sekitar Yerusalem. Pada hari Minggu, 30 Oktober, Yesus dan rekan-rekannya meninggalkan kota Efraim, dimana dia telah beristirahat dalam persembunyian selama beberapa hari, dan berjalan melalui jalan raya barat sungai Yordan langsung ke Taman Magadan, baru tiba sore hari Rabu, 2 November.

Para rasul sangat lega mendapati Guru kembali di wilayah yang bersahabat; tidak lagi mereka mendesak dia agar pergi ke Yerusalem untuk memberitakan injil kerajaan.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved