Makalah 155: Melarikan Diri Melalui Galilea Utara

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 155

Melarikan Diri Melalui Galilea Utara

SEGERA setelah mendarat di dekat Kheresa pada hari Minggu yang penuh peristiwa ini, Yesus dan dua puluh empat pergi agak jauh ke utara, dimana mereka bermalam di sebuah taman yang indah di selatan Betsaida-Julias. Mereka kenal baik tempat berkemah ini, karena pernah singgah di sana pada hari-hari yang lalu. Sebelum tidur malam, Guru memanggil para pengikutnya ke sekelilingnya dan mendiskusikan dengan mereka rencana untuk perjalanan keliling mereka yang direncanakan melalui Batanea dan Galilea utara ke pantai Fenisia.

1. Mengapa Rusuh Bangsa-bangsa Kafir?

Kata Yesus: “Kamu semua perlu ingat bagaimana Pemazmur berbicara tentang masa-masa ini, mengatakan, 'Mengapa rusuh (mengamuk) bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya: Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!.'

“Hari ini kamu melihat hal ini digenapi di depan matamu. Tetapi kamu tidak akan melihat sisa nubuat Pemazmur itu terpenuhi, karena ia memegang gagasan keliru tentang Anak Manusia dan misinya di bumi. Kerajaanku itu didasarkan pada kasih, dikabarkan dalam rahmat, dan dibangun oleh pelayanan tanpa pamrih. Bapaku tidak duduk di surga tertawa mengolok-olok orang kafir. Dia tidak penuh murka dalam kehangatan amarah-Nya. Benarlah janji bahwa Anak akan memiliki siapa yang disebut orang kafir (dalam kenyataannya adalah saudara-saudaranya yang tidak tahu dan tidak diajar) ini sebagai warisan. Dan aku akan menerima orang-orang kafir ini dengan tangan terbuka untuk belas kasihan dan kasih sayang. Semua cinta kasih ini akan ditunjukkan kepada yang disebut orang kafir itu, meskipun ada pernyataan yang tidak menguntungkan tentang catatan yang mengisyaratkan bahwa Anak yang berkemenangan itu 'akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.' Pemazmur menasihati kamu untuk 'Beribadah kepada TUHAN dengan takut'—tapi aku minta kamu masuk ke dalam hak istimewa yang dimuliakan menjadi anak ilahi oleh iman; dia memerintahkan kamu untuk bersukacita dengan gemetar; aku minta kamu bersukacita dengan kepastian. Dia mengatakan, 'ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala.' Tapi kamu yang telah hidup dengan aku tahu benar bahwa marah dan murka bukan merupakan bagian dari pembentukan kerajaan surga dalam hati manusia. Namun Pemazmur memang melihat sekilas terang yang benar ketika, ketika menyelesaikan nasihat ini, ia berkata: “Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya (Anak itu)!'”

Yesus terus mengajar dua puluh empat itu, mengatakan: “Orang kafir itu bukan tanpa alasan ketika mereka rusuh (mengamuk) pada kita. Karena pandangan hidup mereka kecil dan sempit, mereka mampu memusatkan tenaga-tenaga mereka dengan penuh antusias. Tujuan mereka itu dekat, dan lebih atau kurangnya dapat terlihat; sebab itu mereka berjuang dengan pelaksanaan yang gagah berani dan tepat guna. Kamu yang telah mengaku masuk ke dalam kerajaan surga itu sama sekali terlalu bimbang dan tak jelas dalam kelakuan mengajarmu. Orang kafir menghantam langsung ke tujuan-tujuan mereka; kamu bersalah karena terlalu banyak merindukan terus menerus. Jika kamu ingin masuk ke kerajaan, mengapa tidak kamu melakukannya dengan serangan rohani sama seperti orang kafir menduduki kota yang mereka kepung? Kamu tidak layak untuk kerajaan kalau pelayananmu sebagian besar terdiri dari sikap menyesali masa lalu, merengek terhadap masa kini, dan sia-sia berharap untuk masa depan. Mengapa bangsa-bangsa mengamuk? Karena mereka tidak mengetahui kebenaran. Mengapa kamu merana dalam kerinduan yang sia-sia? Karena kamu tidak menaati kebenaran. Hentikan kerinduanmu yang tiada guna itu dan majulah dengan berani melakukan apa yang berkenaan dengan pendirian kerajaan.

“Dalam semua yang kamu lakukan, jangan menjadi satu-sisi dan terlalu terspesialisasi. Orang-orang Farisi yang mengupayakan kehancuran kita itu benar-benar berpikir mereka melakukan ibadah pada Tuhan. Mereka telah menjadi begitu disempitkan oleh tradisi sehingga mereka dibutakan oleh prasangka dan hatinya dikeraskan oleh rasa takut. Pertimbangkan orang Yunani, yang memiliki ilmu tanpa agama, sementara orang-orang Yahudi memiliki agama tanpa ilmu. Dan ketika orang-orang menjadi demikian disesatkan sehingga menerima terpecah-pecahnya kebenaran yang sempit dan membingungkan itu, harapan keselamatan satu-satunya mereka hanyalah agar menjadi diselaraskan dengan kebenaran—yaitu dipindah-agamakan.

“Biarlah aku dengan tegas menyatakan kebenaran abadi ini: Jika kamu, oleh Pelarasan dengan kebenaran itu, belajar untuk mencontohkan dalam hidupmu keutuhan kebenaran yang indah ini, maka orang-orang sesamamu kemudian akan mencarimu supaya mereka bisa meraih apa yang kamu telah peroleh. Ukuran dengan mana para pencari kebenaran tertarik kepadamu itu merupakan ukuran karunia kebenaranmu, perbuatan benarmu. Sejauh mana kamu harus pergi dengan pesanmu kepada orang-orang, sedikit banyak, adalah ukuran kegagalanmu untuk menjalani kehidupan yang penuh atau benar, kehidupan yang diselaraskan dengan kebenaran.”

Dan banyak hal lain yang diajarkan Guru pada para rasul dan penginjil sebelum mereka mengucapkan selamat malam kepadanya dan beristirahat di atas bantal-bantal mereka.

2. Para Penginjil di Khorazim

Pada hari Senin pagi, 23 Mei, Yesus menyuruh Petrus untuk pergi ke Khorazim dengan dua belas penginjil sementara dia, dengan sebelas, berangkat ke Kaisarea Filipi, melalui jalan Sungai Yordan ke jalan Kapernaum-Damaskus, dari situ ke timur laut ke persimpangan dengan jalan ke Kaisarea-Filipi, dan kemudian masuk ke dalam kota itu, di mana mereka menunggu dan mengajar selama dua minggu. Mereka tiba pada sore hari Selasa, 24 Mei.

Petrus dan para penginjil tinggal di Khorazim selama dua minggu, memberitakan injil kerajaan kepada sekumpulan kecil tapi orang percaya yang sungguh-sungguh. Namun mereka tidak mampu mendapatkan banyak pengikut baru. Tidak ada kota di seluruh Galilea yang menghasilkan begitu sedikit jiwa-jiwa bagi kerajaan daripada Khorazim. Sesuai dengan instruksinya Petrus, dua belas penginjil itu sedikit berbicara tentang penyembuhan—hal-hal badani—sementara mereka berkhotbah dan mengajar dengan makin bersemangat tentang kebenaran rohani dari kerajaan surgawi. Dua minggu di Khorazim ini merupakan baptisan kesulitan yang sungguh-sungguh bagi dua belas penginjil karena itu adalah masa paling sulit dan tidak produktif dalam karier mereka hingga saat itu. Karena kehilangan kepuasan memenangkan jiwa bagi kerajaan seperti itu, masing-masing mereka lebih sungguh-sungguh dan jujur mengadakan pemeriksaan jiwanya sendiri dan kemajuannya dalam jalan-jalan rohani dari hidup yang baru.

Ketika ternyata bahwa tidak ada lagi orang yang berpikiran untuk berusaha masuk ke dalam kerajaan, Petrus, pada hari Selasa, 7 Juni memanggil rekan-rekannya bersama dan berangkat ke Kaisarea-Filipi untuk bergabung dengan Yesus dan para rasul. Mereka tiba sekitar tengah hari pada hari Rabu dan menghabiskan seluruh malam menceritakan pengalaman mereka di kalangan orang-orang tidak percaya di Khorazim. Selama diskusi malam ini Yesus membuat acuan lebih lanjut pada perumpamaan tentang penabur dan mengajari mereka banyak tentang arti usaha kehidupan yang sepertinya gagal.

3. Di Kaisarea-Filipi

Meskipun Yesus tidak melakukan pekerjaan publik selama kunjungan dua minggu di dekat Kaisarea-Filipi, para rasul mengadakan banyak pertemuan malam diam-diam di dalam kota, dan banyak orang percaya yang keluar ke perkemahan untuk berbicara dengan Guru. Sangat sedikit yang ditambahkan ke dalam kelompok orang percaya sebagai hasil dari kunjungan ini. Yesus berbicara dengan para rasul setiap hari, dan mereka secara lebih jelas melihat bahwa fase baru kerja memberitakan kerajaan surga sekarang dimulai. Mereka mulai memahami bahwa “kerajaan surga bukanlah makan dan minum tetapi kesadaran tentang sukacita rohani karena penerimaan sebagai anak ilahi.”

Kunjungan di Kaisarea-Filipi merupakan ujian sebenarnya kepada sebelas rasul; dua minggu itu masa sulit untuk mereka lalui. Mereka hampir-hampir depresi, dan mereka merindukan stimulasi berkala dari kepribadian Petrus yang bersemangat itu. Pada masa-masa ini benar-benar petualangan yang besar dan sulit untuk percaya pada Yesus dan pergi mengikuti dia. Meskipun mereka membuat sedikit petobat baru selama dua minggu ini, namun mereka belajar banyak hal yang sangat bermanfaat dari pertemuan harian mereka dengan Guru.

Para rasul belajar bahwa orang-orang Yahudi itu secara rohani mandeg dan sekarat karena mereka telah mengkristalkan kebenaran menjadi suatu sistem kepercayaan baku atau kredo; bahwa ketika kebenaran menjadi dirumuskan sebagai garis pembatas untuk eksklusivitas yang membenarkan diri sendiri, maka alih-alih berguna sebagai rambu-rambu bimbingan dan kemajuan rohani, ajaran-ajaran seperti itu kehilangan daya kreatif dan memberi-hidup mereka dan pada akhirnya hanya bersifat mengawetkan dan memfosilkan.

Semakin lama mereka belajar dari Yesus untuk memandang pribadi-pribadi manusia berdasarkan ukuran-ukuran kemungkinan-kemungkinan mereka dalam waktu dan dalam kekekalan. Mereka belajar bahwa cara yang terbaik agar banyak jiwa dapat dibawa mengasihi Tuhan yang tak terlihat itu adalah dengan pertama diajari untuk mengasihi saudara-saudari mereka yang mereka dapat lihat. Dan dalam hubungan inilah bahwa makna baru itu menjadi dikaitkan pada pernyataan Guru mengenai pelayanan tanpa pamrih untuk sesama: “Sejauh mana kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-saudaraku yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk aku.”

Salah satu pelajaran besar dari kunjungan di Kaisarea ini ada hubungannya dengan asal-usul tradisi keagamaan, dengan bahaya besar membiarkan perasaan kesucian menjadi terkait pada hal-hal yang tidak suci, ide-ide yang biasa, atau kejadian sehari-hari. Dari satu pertemuan mereka muncul dengan ajaran bahwa agama yang benar itu adalah kesetiaan sepenuh hati manusia pada keyakinannya yang paling tinggi dan paling benar.

Yesus memperingatkan para pengikutnya bahwa, jika kerinduan agama mereka hanya bersifat kebendaan, maka akhirnya mereka akan kehilangan iman mereka pada Tuhan, oleh karena kemajuan pengetahuan tentang alam, oleh digantinya secara progresif asal-usul hal-hal dari yang tadinya dianggap berasal dari supranatural. Namun bahwa, jika agama mereka bersifat rohani, tidak pernah kemajuan ilmu fisika itu dapat mengganggu iman mereka akan kenyataan-kenyataan kekal dan nilai-nilai ilahi.

Mereka belajar bahwa, kalau agama itu sepenuhnya rohani dalam motifnya, agama itu membuat seluruh kehidupan menjadi lebih bernilai, mengisinya dengan tujuan-tujuan yang tinggi, meningkatkan martabatnya dengan nilai-nilai yang transenden, mengilhaminya dengan motif-motif yang luhur, sambil tetap menghibur jiwa manusia itu dengan pengharapan yang mendalam dan memelihara. Agama yang benar itu dirancang untuk mengurangi tekanan kehidupan; agama itu membebaskan iman dan keberanian untuk hidup sehari-hari dan melayani tanpa pamrih. Iman meningkatkan vitalitas rohani dan kemampuan berbuah perbuatan benar.

Yesus berulang kali mengajar para rasulnya bahwa tidak ada peradaban yang lama bisa bertahan jika kehilangan yang terbaik dalam agamanya. Dan dia tidak pernah bosan menunjukkan kepada dua belas bahaya besar dari menerima simbol-simbol dan upacara keagamaan untuk menggantikan pengalaman keagamaan. Seluruh hidupnya di bumi secara konsisten diabdikan untuk misi pencairan bentuk-bentuk beku agama itu menjadi kemerdekaan cair sebagai anak Tuhan yang dicerahkan.

4. Dalam Perjalanan Menuju Fenisia

Pada Kamis pagi, 9 Juni, setelah mendapat kabar mengenai kemajuan kerajaan yang dibawa oleh para utusan Daud dari Betsaida, kelompok dua puluh lima guru kebenaran ini meninggalkan Kaisarea-Filipi untuk memulai perjalanan mereka ke pantai Fenisia (Phoenicia). Mereka memutari daerah rawa, melalui Lus (Luz), ke titik persimpangan dengan jalan setapak Magdala-Gunung Lebanon, dari situ ke persimpangan dengan jalan yang menuju ke Sidon, tiba di sana hari Jum'at sore.

Sementara berhenti untuk makan siang di bawah bayangan sebuah tebing batu menggantung, dekat Lus, Yesus menyampaikan salah satu pidato yang paling luar biasa yang para rasulnya pernah dengarkan bertahun-tahun mereka bekerjasama dengannya. Baru saja mereka duduk masing-masing untuk memecahkan roti, Simon Petrus bertanya kepada Yesus: “Guru, karena Bapa di surga tahu segala sesuatu, dan karena roh-Nya adalah pendukung kita dalam pendirian kerajaan surga di bumi, mengapa kita melarikan diri dari ancaman musuh-musuh kita? Mengapa kita menolak untuk menghadapi langsung musuh-musuh kebenaran itu?” Namun sebelum Yesus mulai menjawab pertanyaan Petrus, Tomas menyela, bertanya: “Guru, aku benar-benar ingin tahu apa yang salah dengan agama musuh-musuh kita di Yerusalem. Apa perbedaan nyata antara agama mereka dan agama kita? Mengapa kita berada dalam perbedaan keyakinan ketika kita semua mengaku menyembah Tuhan yang sama?” Dan setelah Tomas selesai, Yesus berkata: “Meskipun aku tidak akan mengabaikan pertanyaan Petrus, karena tahu betapa mudahnya salah paham mengenai alasanku untuk menghindari benturan terbuka dengan para penguasa Yahudi pada waktu ini, masih akan terbukti lebih bermanfaat untuk kamu semua jika aku lebih memilih untuk menjawab pertanyaan Tomas. Dan bahwa aku akan melakukannya setelah kalian selesai makan siang.”

5. Ceramah tentang Agama yang Benar

Ceramah mengesankan tentang agama ini, yang diringkas dan disajikan kembali dalam ungkapan modern, menyatakan kebenaran-kebenaran berikut ini:

Meskipun agama-agama dunia memiliki dua-asal—alami dan wahyu—pada suatu waktu dan di antara suatu bangsa dapat ditemukan tiga bentuk berbeda dari ibadah keagamaan. Dan ketiga manifestasi dari dorongan beragama ini adalah:

1. Agama primitif. Dorongan setengah alamiah dan naluriah untuk takut pada energi-energi yang misterius dan memuja kekuatan-kekuatan yang unggul, terutama agama yang bersifat fisik, agama rasa takut.

2. Agama peradaban. Majunya konsep-konsep dan praktek-praktek keagamaan pada ras-ras yang makin beradab—yaitu agama batin—teologi intelektual dari kekuasaan tradisi keagamaan yang mapan atau resmi.

3. Agama yang benar—agama pewahyuan. Pewahyuan nilai-nilai supranatural, wawasan sebagian ke dalam kenyataan-kenyataan kekal, sekilas tentang kebaikan dan keindahan karakter tak terbatas-Nya Bapa di surga—agama dari roh ketika diperagakan dalam pengalaman manusia.

Mengenai agama yang dari indra fisik dan ketakutan takhyul manusia alamiah, Guru menolak untuk meremehkannya, meskipun dia menyesalkan fakta bahwa begitu banyak bentuk penyembahan primitif ini masih bertahan dalam bentuk-bentuk agama bangsa-bangsa manusia yang lebih cerdas. Yesus memperjelas bahwa perbedaan besar antara agama batin dan agama roh adalah bahwa, meskipun agama yang pertama ditegakkan oleh otoritas lembaga keagamaan, agama yang kedua sepenuhnya didasarkan pada pengalaman manusia.

Dan kemudian Sang Guru, dalam jam mengajarnya, melanjutkan untuk memperjelas kebenaran ini:

Hingga nanti ras menjadi sangat cerdas dan lebih sepenuhnya beradab, akan masih bertahan banyak upacara kekanak-kanakan dan takhyul yang mencirikan praktek-praktek keagamaan yang berevolusi pada masyarakat yang masih primitif dan terbelakang. Hingga nanti umat manusia maju ke tataran pengenalan yang lebih tinggi dan lebih umum terhadap kenyataan pengalaman rohani, sejumlah besar pria dan wanita akan terus menunjukkan preferensi pribadi untuk agama-agama otoritas tersebut yang hanya membutuhkan persetujuan intelektual, berbeda dengan agama roh, yang memerlukan partisipasi aktif dari batin dan jiwa dalam petualangan iman untuk bergulat dengan kenyataan-kenyataan keras pengalaman manusia yang berkembang maju.

Penerimaan agama-agama otoritas yang tradisional itu menyajikan jalan mudah untuk dorongan manusia mencari kepuasan bagi kerinduan-kerinduan dari kodrat rohaninya. Agama otoritas yang ditetapkan, dibakukan, dan diresmikan itu menyediakan perlindungan yang siap bagi jiwa manusia yang terganggu dan bingung itu kemana ia dapat melarikan diri ketika diusik oleh rasa takut dan disiksa oleh ketidakpastian. Agama seperti itu mengharuskan para pengikutnya, sebagai harga yang harus dibayar untuk kepuasan dan jaminannya, hanya persetujuan yang pasif dan murni intelektual.

Dan selama waktu yang lama akan hidup di bumi orang-orang yang pemalu, penakut, dan ragu-ragu yang akan lebih memilih seperti itu untuk mendapatkan penghiburan keagamaan mereka, meskipun, dengan menjatuhkan pilihan pada agama-agama otoritas itu, mereka mengkompromikan kedaulatan kepribadian, merendahkan martabat harga diri, dan benar-benar menyerahkan hak untuk ikut serta dalam hal yang paling mendebarkan dan mengilhami dari semua pengalaman manusia yang mungkin: pencarian pribadi untuk kebenaran, kegembiraan menghadapi bahaya-bahaya penemuan intelektual, tekad untuk menyelidiki realitas-realitas pengalaman keagamaan pribadi, kepuasan tertinggi untuk mengalami kemenangan pribadi dalam hal realisasi nyata kemenangan iman rohani atas keraguan intelektual, ketika hal itu secara jujur dimenangi dalam petualangan tertinggi dari seluruh eksistensi manusia—manusia mencari Tuhan, untuk dirinya sendiri dan sebagai dirinya sendiri, dan menemukan Dia.

Agama tentang roh itu berarti daya upaya, perjuangan, konflik, iman, tekad, kasih, kesetiaan, dan kemajuan. Agama dari batin (teologi otoritas) itu memerlukan sedikit atau tidak ada pengerahan tenaga ini dari para pengikut resminya. Tradisi adalah perlindungan aman dan jalan mudah bagi jiwa-jiwa yang penakut dan setengah hati ini, yang secara naluriah menghindari perjuangan roh dan ketidakpastian mental yang terkait dengan pelayaran iman pada petualangan berani ke laut lepas kebenaran yang belum dijelajahi dalam mencari pantai kenyataan rohani yang lebih jauh, ketika hal-hal itu mungkin ditemukan oleh pikiran manusia yang maju dan dialami oleh jiwa manusia yang berkembang.

Dan Yesus melanjutkan dengan mengatakan: “Di Yerusalem para pemimpin agama telah merumuskan berbagai doktrin dari guru-guru tradisional mereka dan dari nabi-nabi dari zaman dahulu itu menjadi sistem keyakinan intelektual yang mapan, suatu agama otoritas. Daya tarik semua agama yang demikian itu adalah sebagian besar pada batin-pikiran. Dan sekarang kita hendak memasuki konflik mematikan dengan agama tersebut karena kita akan segera memulai proklamasi berani sebuah agama baru—agama yang bukan agama seperti makna kata itu pada saat ini, melainkan agama rohani yang membuat daya tarik utamanya pada roh ilahi Bapaku yang berada dalam batin manusia; sebuah agama yang akan memperoleh otoritasnya dari buah-buah penerimaannya yang begitu pasti akan muncul dalam pengalaman pribadi semua orang yang benar-benar dan sungguh-sungguh menjadi orang percaya dalam kebenaran-kebenaran persekutuan rohani yang lebih tinggi ini.”

Sambil menunjuk masing-masing dari dua puluh empat itu dan memanggil mereka berdasarkan nama, Yesus berkata: “Dan sekarang, siapa dari kamu yang lebih memilih untuk mengambil jalan mudah kesesuaian dengan agama yang resmi dan dibakukan ini, seperti yang dibela oleh orang-orang Farisi di Yerusalem, daripada menderita kesulitan dan aniaya yang menyertai misi untuk memberitakan jalan keselamatan yang lebih baik bagi manusia sementara kamu menyadari kepuasan karena menemukan bagi dirimu sendiri indahnya kenyataan pengalaman yang hidup dan pribadi dalam kebenaran kekal dan kebesaran tertinggi dari kerajaan surga itu? Apakah kamu penakut, lembek, dan mencari kemudahan? Apakah kamu takut untuk mempercayakan masa depanmu di tangan Tuhan kebenaran, yang kamu adalah anak-anak-Nya? Apakah kamu tidak percaya Bapa, yang kamu adalah anak-anak-Nya? Apakah kamu akan kembali ke jalan yang mudah yaitu kepastian dan kemapanan intelektual agama otoritas tradisional itu, atau maukah kamu mempersiapkan dirimu untuk maju dengan aku ke masa depan yang tidak pasti dan penuh masalah untuk mewartakan kebenaran baru tentang agama roh, kerajaan surga dalam hati manusia?”

Semua dua puluh empat pendengarnya bangkit berdiri, berniat untuk menandakan respon bersatu dan setia mereka pada hal ini, salah satu dari sedikit daya tarik emosional yang Yesus pernah buat pada mereka, tetapi dia mengangkat tangan dan menghentikan mereka, mengatakan: “Pergilah sekarang sendiri sendiri-sendiri, setiap orang sendirian dengan Bapa, dan temukan jawaban yang bukan emosional pada pertanyaanku itu, dan setelah menemukan sikap jiwa yang benar dan tulus itu, katakan jawaban itu dengan bebas dan berani kepada Bapaku dan Bapamu, yang kehidupan kasih-Nya yang tak terbatas itu adalah roh dari agama itu sendiri yang kita kabarkan.”

Para penginjil dan rasul pergi sendiri-sendiri untuk beberapa saat. Roh mereka terangkat, batin mereka diilhami, dan emosi mereka tergerak kuat oleh apa yang Yesus telah katakan. Tetapi ketika Andreas memanggil mereka bersama-sama, Guru hanya berkata: “Marilah kita melanjutkan perjalanan kita. Kita pergi ke Fenisia menunggu untuk sementara, dan kamu semua harus mendoakan agar Bapa mengubah emosi batin dan badanmu itu menjadi loyalitas batin yang lebih tinggi dan pengalaman roh yang lebih memuaskan.”

Sementara mereka melanjutkan perjalanan, dua puluh empat orang itu diam, namun segera mereka mulai berbicara sama lain, dan pada pukul tiga sore itu mereka tidak bisa pergi lebih jauh; mereka berhenti, dan Petrus, pergi kepada Yesus, mengatakan: “Guru, engkau telah mengatakan kepada kami kata-kata kehidupan dan kebenaran. Kami mau mendengar lebih banyak; kami mohon engkau untuk berbicara kepada kami lebih lanjut mengenai perkara-perkara ini.”

6. Ceramah Kedua tentang Agama

Maka, sementara mereka berhenti di bawah naungan lereng bukit, Yesus melanjutkan mengajar mereka mengenai agama roh, dalam intinya mengatakan:

Kamu telah keluar dari antara orang-orang sesamamu yang memilih untuk tetap puas dengan agama batin, yang mendambakan keamanan dan menyukai ketaatan pada aturan. Kamu telah memilih untuk menukar perasaan-perasaan kepastian otoritatif kamu dengan jaminan-jaminan dari roh untuk iman yang berani bertualang dan bergerak maju. Kamu telah berani memprotes melawan perbudakan yang melelahkan dari agama kelembagaan dan menolak otoritas dari tradisi-tradisi tertulis yang sekarang dianggap sebagai firman Tuhan. Bapa kita memang berbicara melalui Musa, Elia, Yesaya, Amos, dan Hosea, tapi Ia tidak berhenti menyampaikan kata-kata kebenaran ke dunia ketika nabi-nabi zaman dahulu itu mengakhiri ucapan-ucapan mereka. Bapaku tidak membeda-bedakan ras atau generasi, firman kebenaran itu tidak dipercayakan pada satu zaman dan disembunyikan dari zaman yang lain. Jangan melakukan kebodohan dengan menyebut sebagai ilahi apa yang sepenuhnya manusiawi, dan jangan gagal untuk melihat kata-kata kebenaran yang datang tidak melalui peramal-peramal tradisional yang dianggap sebagai ilham.

Aku telah menyerukan kepada kamu agar dilahirkan kembali, untuk dilahirkan dari roh. Aku telah memanggil kamu keluar dari kegelapan otoritas dan kelesuan tradisi ke dalam terang yang lebih tinggi, kesadaran tentang kemungkinan membuat bagi dirimu penemuan terbesar yang mungkin dibuat jiwa manusia—yaitu pengalaman supranatural menemukan Tuhan untuk dirimu sendiri, dalam dirimu sendiri, dan dari dirimu sendiri, dan melakukan semua ini sebagai suatu kenyataan dalam pengalaman pribadimu sendiri. Maka dengan demikian kamu bisa pindah dari kematian kepada kehidupan, dari otoritas tradisi kepada pengalaman mengenal Tuhan; dengan demikian kamu akan pindah dari kegelapan kepada terang, dari iman kebangsaan yang diwarisi kepada iman pribadi yang dicapai oleh pengalaman nyata; dan karena itu kamu akan maju dari teologi batin-pikiran yang diturunkan oleh nenek moyangmu menuju ke agama roh yang benar yang akan dibangun di dalam jiwamu sebagai suatu kemampuan yang kekal.

Agamamu akan berubah dari keyakinan intelektual pada otoritas tradisional belaka kepada pengalaman nyata dari iman yang hidup itu yang mampu memahami kenyataan Tuhan dan semua yang berhubungan dengan roh ilahi dari Bapa. Agama batin-pikiran mengikat kamu tanpa harapan ke masa lalu; agama roh terdiri dari pewahyuan yang terus maju dan selalu mengajak kamu menuju prestasi-prestasi yang lebih tinggi dan lebih suci dalam ideal-ideal rohani dan realitas-realitas kekal.

Meskipun agama otoritas bisa memberikan perasaan aman saat ini, kamu membayar harga untuk kepuasan sementara tersebut hilangnya kemerdekaan rohani dan kebebasan beragamamu. Bapaku tidak mewajibkan kamu sebagai harga memasuki kerajaan surga bahwa kamu harus memaksa dirimu mengikuti keyakinan pada hal-hal yang secara rohani menjijikkan, tidak suci, dan tidak benar. Tidak diwajibkan dari kamu bahwa perasaan belas kasihan, keadilan, dan kebenaranmu sendiri itu diperkosa oleh kepatuhan pada suatu sistem bentuk dan upacara keagamaan yang usang. Agama roh membuat kamu selamanya bebas untuk mengikuti kebenaran itu ke manapun pimpinan roh mungkin membawamu. Dan siapa yang bisa menduga—mungkin roh ini bisa memiliki sesuatu untuk disampaikan kepada generasi ini apa yang generasi sebelumnya telah tolak untuk mendengarnya?

Sungguh tidak tahu malu mereka guru-guru agama palsu yang menyeret jiwa-jiwa lapar itu kembali ke masa lalu yang suram dan jauh lalu di sana meninggalkan mereka! Dan begitu juga orang-orang yang malang ini ditakdirkan menjadi kuatir terhadap setiap penemuan baru, sementara mereka merasa tak nyaman oleh setiap pewahyuan kebenaran yang baru. Nabi yang mengatakan, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya,” itu tidak hanya semata-mata orang percaya secara intelektual pada teologi otoritatif. Manusia yang mengenal-kebenaran ini telah menemukan Tuhan; ia tidak semata-mata berbicara tentang Tuhan.

Aku menasihati kamu untuk meninggalkan kebiasaan selalu mengutip nabi-nabi dahulu kala dan memuji-muji pahlawan-pahlawan Israel, melainkan bercita-cita untuk menjadi nabi-nabi yang hidup dari Yang Paling Tinggi dan pahlawan-pahlawan rohani untuk kerajaan yang akan datang itu. Menghormati para pemimpin yang mengenal-Tuhan dari masa lalu itu mungkin memang bermanfaat, tapi mengapa, dengan berbuat begitu, kamu harus mengorbankan pengalaman tertinggi dari keberadaan manusia: mencari Tuhan untuk dirimu sendiri dan mengenal Dia dalam jiwamu sendiri?

Setiap ras bangsa manusia memiliki pandangan mentalnya sendiri terhadap keberadaan manusia; oleh karena itu haruslah agama batin selalu berjalan sesuai dengan berbagai sudut pandang rasial ini. Tidak pernah bisa agama-agama otoritas itu sampai pada penyatuan. Persatuan dan persaudaraan umat manusia dapat dicapai hanya oleh dan melalui suprakemampuan dari agama roh. Batin setiap ras mungkin berbeda-beda, tetapi semua umat manusia didiami oleh roh ilahi dan kekal yang sama. Harapan persaudaraan umat manusia hanya bisa diwujudkan kalau, dan ketika, agama-agama otoritas batin yang berbeda-beda itu diresapi dengan, dan dinaungi oleh, agama roh yang memersatukan dan memuliakan, yaitu agama dari pengalaman rohani pribadi.

Agama-agama otoritas hanya dapat memecah belah manusia dan memasang mereka dalam barisan rapi melawan satu sama lain; agama roh akan semakin maju menarik orang bersama-sama dan menyebabkan mereka untuk menjadi simpatik penuh pengertian satu sama lain. Agama-agama otoritas membutuhkan keseragaman dalam kepercayaan manusia, tapi hal ini tidak mungkin diwujudkan dalam keadaan dunia saat ini. Agama roh hanya memerlukan kesatuan pengalaman—keseragaman tujuan—membuat kelonggaran penuh untuk keragaman keyakinan. Agama roh hanya memerlukan keseragaman wawasan ke dalam, bukan keseragaman sudut pandang dan tampak luar. Agama roh tidak menuntut keseragaman pandangan intelektual, tapi hanya kesatuan perasaan roh. Agama-agama otoritas mengkristal menjadi pengakuan-pengakuan kepercayaan yang mati; agama roh tumbuh ke arah bertambahnya sukacita dan kebebasan, dari perbuatan-perbuatan yang memuliakan, dari layanan kasih dan pelayanan penuh rahmat.

Tapi waspadalah, jangan sampai salah seorangpun dari kamu memandang hina pada anak-anak Abraham karena mereka telah jatuh pada hari-hari jahat kemandulan tradisional ini. Bapa-bapa leluhur kita memberikan diri mereka untuk mencari Tuhan dengan gigih dan bersemangat, dan mereka menemukan-Nya sedangkan tidak ada bangsa lain di seluruh dunia yang mengenal-Nya sejak zaman Adam, yang tahu banyak tentang hal ini karena ia sendiri adalah seorang Putra Tuhan. Bapaku tidak lalai untuk memperhatikan perjuangan panjang dan tak kenal lelah dari Israel ini, terus menerus sejak zaman Musa, untuk menemukan Tuhan dan mengenal Tuhan. Selama generasi-generasi yang melelahkan orang-orang Yahudi tidak pernah berhenti bekerja keras, berkeringat, mengerang, mengalami kepedihan, dan menanggung penderitaan dan mengalami duka dari suatu bangsa yang disalahpahami dan dibenci, semua agar mereka mungkin akan sedikit lebih dekat pada penemuan kebenaran tentang Tuhan. Dan, meskipun semua kegagalan dan kejatuhan Israel itu, bapa-bapa leluhur kita secara makin maju, dari Musa ke zaman Amos dan Hosea, telah semakin mengungkapkan ke seluruh dunia gambaran yang lebih jelas dan lebih benar tentang Tuhan yang kekal. Dan demikianlah jalan dipersiapkan untuk pewahyuan yang lebih besar lagi dari Bapa yang mana kamu telah dipanggil untuk ikut serta.

Jangan lupa hanya ada satu petualangan yang lebih memuaskan dan menggembirakan daripada usaha untuk menemukan kehendak dari Tuhan yang hidup, dan itu adalah pengalaman yang tertinggi untuk secara jujur berusaha melakukan kehendak ilahi itu. Dan jangan pernah lupa bahwa kehendak Tuhan dapat dilakukan dalam setiap pekerjaan duniawi. Beberapa pamggilan hidup tidak suci dan yang lainnya sekuler. Semua hal adalah sakral dalam kehidupan orang-orang yang dipimpin roh; yaitu, ditundukkan pada kebenaran, dimuliakan oleh kasih, dikuasai oleh belas kasihan, dan dikekang oleh kewajaran—keadilan. Roh yang Bapaku dan aku akan kirim ke dunia bukan hanya Roh Kebenaran tetapi juga roh untuk keindahan yang dicita-citakan.

Kamu harus berhenti mencari firman Tuhan hanya di halaman tulisan-tulisan kuno dari otoritas teologis. Mereka yang lahir dari roh Tuhan selanjutnya akan dapat melihat firman Tuhan itu terlepas dari mana itu tampaknya berasal. Kebenaran ilahi tidak boleh dikurangi hanya karena saluran penganugerahannya itu kelihatannya adalah manusia. Banyak dari saudara-saudaramu memiliki pikiran yang menerima teori tentang Tuhan sementara mereka secara rohani gagal menyadari kehadiran Tuhan. Dan itulah alasan mengapa aku begitu sering mengajari kamu bahwa kerajaan surga terbaik dapat dirasakan dengan memperoleh sikap rohani seorang anak yang tulus. Bukan ketidakmatangan mental anak yang aku sarankan kepada kamu melainkan kesederhanaan rohani seperti si kecil yang mudah percaya dan sepenuhnya mempercayai tersebut. Tidak begitu penting kamu harus tahu mengenai fakta adanya Tuhan itu, namun lebih penting kamu harus semakin bertumbuh dalam kemampuan untuk merasakan kehadiran Tuhan.

Ketika kamu sekali mulai menemukan Tuhan dalam jiwa kamu, segera kamu akan mulai menemukan Dia dalam jiwa orang-orang lain dan akhirnya dalam semua makhluk dan ciptaan dalam sebuah alam semesta yang hebat. Tapi dalam jiwa-jiwa manusia yang hanya memberikan sedikit atau tidak ada waktu untuk perenungan bijaksana akan kenyataan kekal seperti itu, bagaimana mungkin Bapa dapat muncul sebagai Tuhan dengan kesetiaan tertinggi dan ideal ilahi? Meskipun batin itu bukanlah tempat kedudukan dari kodrat rohani, namun batin itu memang gerbang ke arah sana.

Tapi jangan membuat kesalahan dengan mencoba untuk membuktikan kepada orang lain bahwa kamu telah menemukan Tuhan; kamu tidak bisa secara sadar menghasilkan bukti yang sahih seperti itu, meskipun ada dua demonstrasi yang positif dan kuat dari kenyataan bahwa kamu mengenal Tuhan, dan hal itu adalah:

1. Buah-buah dari roh Tuhan yang ditunjukkan dalam hidupmu sehari-hari.

2. Fakta bahwa seluruh rencana hidupmu melengkapi bukti positif bahwa kamu telah tanpa syarat mengambil risiko segalanya dan milikmu, dan berada pada petualangan keselamatan setelah kematian, dalam mengejar harapan menemukan Tuhan yang kekal, yang kehadiran-Nya kamu telah cicipi sebelumnya dalam waktu.

Sekarang, jangan salah, Bapaku akan selalu menanggapi kerlipan iman yang paling redup sekalipun. Dia mencatat emosi-emosi fisik dan takhyul dari manusia primitif. Dan kepada jiwa-jiwa jujur tapi penakut yang imannya begitu lemah sehingga hanya sedikit lebih dari ketaatan intelektual pada sikap pasif persetujuan pada agama otoritas, Bapa selalu waspada untuk menghormati dan mendukung, bahkan untuk semua upaya lemah seperti itu untuk menjangkau Dia. Tapi kamu yang telah dipanggil keluar dari kegelapan ke dalam terang diharapkan untuk percaya dengan sepenuh hati; iman kamu akan menguasai sikap gabungan dari tubuh, batin, dan jiwamu.

Kamu adalah rasul-rasulku, dan bagi kamu agama tidak boleh menjadi tempat berteduh teologis kemana kamu dapat melarikan diri karena takut menghadapi kenyataan keras dari kemajuan rohani dan petualangan idealis; namun lebih baik agamamu menjadi kenyataan dari pengalaman nyata yang memberi kesaksian bahwa Tuhan telah menemukan kamu, mengidealkan, memuliakan, dan merohanikan kamu, dan bahwa kamu telah mendaftar dalam petualangan kekal untuk menemukan Tuhan yang telah menemukan dan mengangkat kamu sebagai anak.

Dan setelah Yesus selesai berbicara, dia memberi isyarat kepada Andreas dan, sambil menunjuk ke barat ke arah Fenisia, berkata: “Marilah kita lanjutkan perjalanan kita.”

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved