Makalah 156: Kunjungan ke Tirus dan Sidon

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 156

Kunjungan ke Tirus dan Sidon

HARI Jumat sore, 10 Juni, Yesus dan rekan-rekannya tiba di lingkungan Sidon, dimana mereka singgah di rumah seorang wanita kaya yang pernah menjadi pasien di rumah sakit Betsaida selama masa-masa ketika Yesus berada pada puncak dukungan populernya. Para penginjil dan para rasul diinapkan di rumah teman-temannya yang berdekatan, dan mereka beristirahat selama hari Sabat di tengah lingkungan yang menyegarkan ini. Mereka menghabiskan hampir dua setengah minggu di Sidon dan sekitarnya sebelum mereka bersiap untuk mengunjungi kota-kota pantai di utara.

Hari Sabat di bulan Juni ini adalah salah satu masa yang sangat tenang. Para penginjil dan rasul-rasul seluruhnya asyik dalam perenungan-perenungan mereka mengenai ceramah Guru tentang agama yang telah mereka dengarkan pada perjalanan ke Sidon. Mereka semua dapat menghargai beberapa dari apa yang telah dia katakan kepada mereka, namun tidak seorangpun mereka yang sepenuhnya menangkap makna ajarannya.

1. Wanita Syria

Ada tinggal di dekat rumah Karuska, di mana Guru menginap, seorang wanita Syria yang telah mendengar banyak tentang Yesus sebagai penyembuh dan guru yang besar, dan pada hari Sabat sore ini dia datang, membawa putri kecilnya. Anak itu, berusia sekitar dua belas tahun, menderita gangguan saraf menyedihkan yang ditandai oleh kejang-kejang dan manifestasi parah lainnya.

Yesus telah menyuruh rekan-rekannya agar tidak memberitahukan kepada siapapun tentang kehadirannya di rumah Karuska, menjelaskan bahwa dia ingin beristirahat. Meskipun mereka telah mematuhi perintah Guru mereka, namun pelayannya Karuska telah mampir ke rumah wanita Syria ini, Norana, untuk memberitahu dia bahwa Yesus menginap di rumah nyonya majikannya dan telah mendesak ibu yang cemas ini agar membawa anaknya yang menderita itu untuk penyembuhan. Ibu ini, tentu saja, percaya bahwa anaknya dirasuki oleh setan, roh najis.

Ketika Norana tiba dengan putrinya, si kembar Alfeus menjelaskan melalui seorang penerjemah bahwa Guru sedang beristirahat dan tidak bisa diganggu; namun Norana menjawab bahwa ia dan anaknya akan tetap di situ sampai Guru telah selesai istirahatnya. Petrus juga berusaha untuk berbicara dengan wanita itu dan membujuknya untuk pulang. Ia menjelaskan bahwa Yesus sangat lelah oleh karena banyak pengajaran dan penyembuhan, dan bahwa ia telah datang ke Fenisia untuk masa tenang dan istirahat. Tapi itu sia-sia; Norana tidak mau pergi. Pada desakan-desakan Petrus ia hanya menjawab: “Aku tidak akan pergi sampai aku telah bertemu Gurumu. Aku tahu ia bisa mengusir setan keluar dari anakku, dan aku tidak mau pergi sampai penyembuh itu telah melihat pada putriku.”

Lalu Tomas berusaha untuk menyuruh wanita itu pergi tapi hanya menemui kegagalan. Pada Tomas ia berkata: “Aku memiliki iman bahwa Gurumu dapat mengusir setan ini yang menyiksa anakku. Aku telah mendengar pekerjaan-pekerjaan besarnya di Galilea, dan aku percaya padanya. Apa yang terjadi pada kalian, murid-muridnya, sehingga kalian hendak mengusir orang-orang yang datang mencari pertolongan Gurumu?” Dan setelah dia berbicara demikian, Tomas mundur.

Kemudian majulah Simon Zelot untuk berbantah dengan Norana. Kata Simon: “Perempuan, kamu adalah seorang kafir yang berbahasa Yunani. Tidaklah benar bahwa kamu harus mengharapkan Guru untuk mengambil roti yang ditujukan untuk anak-anak dari rumah tangga yang diperkenan dan melemparkannya kepada anjing.” Namun Norana menolak untuk membalas serangan Simon itu. Dia hanya menjawab: “Ya, guru, aku mengerti kata-katamu. Aku hanya anjing di mata orang-orang Yahudi, tetapi kalau mengenai Gurumu, aku anjing yang percaya. Aku bertekad agar ia melihat anakku, karena aku yakin, jika saja ia melihatnya, ia akan menyembuhkannya. Dan bahkan engkau, sobatku yang baik, tidak akan berani menolak anjing dari hak untuk memperoleh remah-remah yang kebetulan jatuh dari mejanya anak-anak.”

Tepat pada waktu ini gadis kecil itu dikuasai oleh kejang yang kuat di hadapan mereka semua, dan ibu ini berteriak: “Lihat itu, kalian bisa lihat bahwa anakku dirasuki roh jahat. Jika kebutuhan kami tidak menarik bagi kalian, itu akan menarik perhatian Guru kalian, yang aku telah diberitahu dia mengasihi semua orang dan berani bahkan untuk menyembuhkan orang kafir kalau mereka percaya. Kalian tidak layak untuk menjadi murid-muridnya. Aku tidak akan pergi sampai anakku telah disembuhkan.”

Yesus, yang telah mendengar semua percakapan ini melalui sebuah jendela yang terbuka, saat itu datang ke luar, sehingga mereka terkejut, dan berkata: “Hai perempuan, besar imanmu, begitu besar sehingga aku tidak bisa menahan apa yang kamu inginkan; pergilah dalam damai. Putrimu telah disembuhkan.” Dan gadis kecil itu sembuh mulai dari saat itu. Ketika Norana dan anaknya berpamitan, Yesus minta sungguh-sungguh agar mereka tidak memberitahukan kepada siapapun kejadian ini; dan meskipun rekan-rekan sekerjanya memang mematuhi permintaan ini, ibu dan anak itu tidak berhenti untuk memberitakan kesembuhan gadis kecil itu ke seluruh pedesaan dan bahkan di Sidon, begitu rupa sehingga Yesus disarankan untuk pindah penginapannya dalam beberapa hari.

Keesokan harinya, ketika Yesus mengajar para rasulnya, sambil mengomentari penyembuhan putri wanita Syria itu, ia berkata: “Dan begitulah yang terjadi di sepanjang jalan; kamu lihat sendiri bagaimana orang kafir dapat mengamalkan iman yang menyelamatkan dalam ajaran injil kerajaan surga. Sesungguhnya, aku berkata kepadamu bahwa kerajaan Bapa akan diambil oleh orang-orang kafir jika anak-anak Abraham tidak berniat untuk menunjukkan iman yang cukup supaya masuk ke dalamnya.”

2. Mengajar di Sidon

Ketika memasuki Sidon, Yesus dan rekan-rekannya melewati sebuah jembatan, jembatan pertama yang banyak dari mereka yang baru pertama kali melihatnya. Saat mereka berjalan di atas jembatan ini, Yesus, di antara hal-hal lain, berkata: “Dunia ini adalah hanya sebuah jembatan; kamu dapat melewatinya, tetapi kamu tidak boleh berpikir untuk membangun sebuah tempat tinggal di atasnya.”

Sementara dua puluh empat itu memulai pekerjaan mereka di Sidon, Yesus tinggal di sebuah rumah tepat di sebelah utara kota, rumah Justa dan ibunya, Bernike. Yesus mengajar dua puluh empat itu setiap pagi di rumah Justa, dan mereka pergi ke mana-mana di Sidon untuk mengajar dan berkhotbah pada sore hari dan malam hari.

Para rasul dan penginjil amat disenangkan oleh cara bagaimana orang-orang kafir di Sidon menerima pesan mereka; selama kunjungan pendek mereka banyak yang ditambahkan pada kerajaan. Periode sekitar enam minggu di Fenisia ini adalah waktu yang sangat berhasil dalam pekerjaan memenangkan jiwa, tetapi orang-orang Yahudi penulis Kitab-kitab Injil belakangan terbiasa untuk menganggap enteng sehingga melewatkan catatan tentang sambutan hangat pada ajaran Yesus oleh orang kafir ini ketika begitu banyak dari bangsanya sendiri berada dalam barisan bermusuhan melawan dia.

Dalam banyak cara orang-orang kafir yang percaya ini menghargai ajaran Yesus lebih sepenuhnya daripada orang-orang Yahudi. Banyak dari orang Sirofenisia yang berbahasa Yunani ini datang untuk mengetahui tidak hanya bahwa Yesus itu seperti Tuhan, tetapi juga bahwa Tuhan itu seperti Yesus. Orang-orang yang disebut kafir ini mencapai pemahaman yang baik tentang ajaran Guru tentang keseragaman hukum-hukum di dunia ini dan seluruh alam semesta. Mereka menangkap ajaran bahwa Tuhan itu tidak membeda-bedakan orang, ras, atau bangsa; bahwa tidak ada favoritisme dalam Bapa Semesta; bahwa alam semesta itu sepenuhnya dan selalu menaati-hukum dan selalu dapat diandalkan. Orang-orang kafir ini tidak takut pada Yesus; mereka berani untuk menerima pesannya. Sepanjang berabad-abad manusia telah tidak mampu memahami Yesus; mereka takut.

Yesus menegaskan kepada dua puluh empat bahwa dia tidak melarikan diri dari Galilea karena dia kurang keberanian untuk menghadapi musuh-musuhnya. Mereka memahami bahwa dia belum siap untuk bentrokan terbuka dengan agama yang sudah mapan, dan bahwa dia tidak berusaha untuk menjadi martir. Selama salah satu dari pertemuan di rumah Justa inilah Guru pertama kali mengatakan kepada murid-muridnya bahwa “sekalipun langit dan bumi akan berlalu, perkataan kebenaranku tidak akan berlalu.”

Tema dari ajaran-ajaran Yesus selama kunjungan di Sidon adalah kemajuan rohani. Dia memberitahu mereka bahwa mereka tidak dapat tetap diam; mereka harus maju dalam perbuatan benar atau mundur ke dalam kejahatan dan dosa. Dia memperingatkan mereka untuk “melupakan hal-hal yang di masa lalu sementara kamu bergerak maju untuk merangkul kenyataan-kenyataan yang lebih besar dari kerajaan.” Dia minta mereka agar tidak puas dengan masa kanak-kanak mereka dalam injil, tetapi berupaya untuk pencapaian postur dewasa penuh sebagai anak ilahi dalam komuni (persekutuan) roh dan dalam persekutuan orang percaya.

Kata Yesus: “Murid-muridku tidak boleh hanya berhenti melakukan kejahatan tetapi belajar untuk berbuat dengan baik; kamu tidak boleh hanya dibersihkan dari segala dosa yang disadari, tapi kamu pun harus menolak untuk menyimpan perasaan bersalah. Jika kamu mengakui dosa-dosamu, dosa-dosa itu diampuni; oleh karena itu, haruslah kamu menjaga hati nurani yang bebas pelanggaran.”

Yesus sangat menikmati selera humor mendalam yang ditunjukkan orang-orang kafir ini. Rasa humor yang ditampilkan oleh Norana, wanita Syria itu, serta imannya yang besar dan gigih itulah, yang begitu menyentuh hati Guru dan menarik belas kasihannya. Yesus sangat menyesalkan bahwa bangsanya—orang-orang Yahudi—begitu kurang dalam humor. Dia pernah berkata kepada Tomas: “Orang-orangku menganggap diri mereka terlalu serius; mereka hampir tanpa suatu penghargaan akan humor. Agamanya orang Farisi yang memberatkan itu tidak mungkin berasal dari antara orang-orang dengan rasa humor. Mereka juga kurang konsistensi; mereka menyaring lalat dan menelan unta.”

3. Perjalanan Sepanjang Pantai

Pada hari Selasa, tanggal 28 Juni, Guru dan rekan-rekannya meninggalkan Sidon, berjalan sepanjang pantai ke Porphyreon (Jieh) dan Heldua. Mereka diterima dengan baik oleh orang-orang kafir, dan banyak yang ditambahkan ke kerajaan selama minggu pengajaran dan pemberitaan ini. Para rasul berkhotbah di Porphyreon dan para penginjil mengajar di Heldua. Sementara dua puluh empat itu sedang sibuk dalam pekerjaan mereka, Yesus meninggalkan mereka untuk jangka waktu tiga atau empat hari, melakukan kunjungan ke kota pantai Beirut, dimana ia bercakap-cakap dengan seorang Syria bernama Malak (Malach), yang adalah orang percaya, dan yang telah berada di Betsaida tahun sebelumnya.

Pada hari Rabu, 6 Juli, mereka semua kembali ke Sidon dan menunggu di rumah Justa sampai Minggu pagi, ketika mereka berangkat ke Tirus, pergi ke selatan sepanjang pantai melalui Sarepta, tiba di Tirus, hari Senin, 11 Juli. Pada saat ini para rasul dan penginjil itu telah terbiasa bekerja di antara orang-orang yang disebut kafir, yang pada kenyataannya terutama berasal dari keturunan suku-suku Kanaan sebelumnya dari asal-usul suku Semit yang lebih awal lagi. Semua orang-orang ini berbicara bahasa Yunani. Menjadi kejutan besar bagi para rasul dan penginjil mengamati keinginan besar orang-orang bukan Yahudi ini untuk mendengar injil dan memperhatikan kesiapsediaan sehingga banyak dari mereka yang percaya.

4. Di Tirus

Dari 11 Juli sampai 24 Juli mereka mengajar di Tirus. Setiap rasul membawa seorang dari penginjil, dan dengan demikian berdua-dua mereka mengajar dan berkhotbah di semua bagian Tirus dan lingkungannya. Populasi macam-macam ras di pelabuhan yang sibuk ini mendengarkan mereka dengan senang hati, dan banyak yang dibaptis masuk ke dalam persekutuan kerajaan yang kelihatan. Yesus mendirikan markasnya di rumah seorang Yahudi bernama Yusuf, seorang beriman, yang tinggal lima atau enam kilometer di selatan Tirus, tidak jauh dari makam Hiram yang telah menjadi raja negara-kota Tirus selama masa raja Daud dan Salomo.

Setiap hari, selama jangka waktu dua minggu ini, para rasul dan penginjil memasuki Tirus melalui jalan tanggul Aleksander untuk melakukan pertemuan-pertemuan kecil, dan setiap malam sebagian besar dari mereka akan kembali ke perkemahan di rumah Yusuf di selatan kota. Setiap hari orang-orang percaya keluar dari kota untuk berbicara dengan Yesus di tempat peristirahatannya itu. Guru berbicara di Tirus hanya sekali, pada sore hari tanggal 20 Juli, ketika dia mengajar orang-orang percaya mengenai kasih Bapa bagi seluruh umat manusia dan tentang misi Anak untuk mewahyukan Bapa kepada seluruh ras manusia. Ada minat yang begitu besar akan injil kerajaan di antara orang kafir ini sehingga, pada kesempatan ini, pintu-pintu kuil Melkarth dibuka bagi dia, dan sangat menarik untuk dicatat bahwa dalam tahun-tahun berikutnya sebuah gereja Kristen dibangun tepat di atas situs kuil kuno ini.

Banyak dari pemuka dalam pembuatan Tyrian purple percaya pada kerajaan. Tyrian purple adalah pewarna ungu yang membuat Tirus dan Sidon terkenal di seluruh dunia, dan yang menyumbang begitu banyak pada perdagangan mereka di seluruh dunia dan kekayaan yang dihasilkannya. Ketika, tak lama setelah itu, pasokan hewan laut yang merupakan sumber zat warna ini mulai berkurang, para pembuat pewarna tersebut pergi mencari habitat-habitat baru jenis kerang ini. Dan dengan bermigrasi ke ujung-ujung bumi seperti itu, mereka membawa bersama mereka pesan tentang kebapaan Tuhan dan persaudaraan manusia -- injil tentang kerajaan itu.

5. Pengajaran Yesus di Tirus

Pada Rabu sore ini, dalam pidatonya, Yesus pertama kali menceritakan kepada para pengikutnya kisah bunga lili putih yang menghadapkan kuntum bunganya yang murni dan putih seperti salju itu kepada sinar matahari sementara akarnya ditanamkan dalam lumpur dan kotoran tanah yang gelap di bawahnya. “Demikian juga,” katanya, “manusia fana, meskipun ia memiliki akar asalnya dan keberadaannya dalam tanah kodrat manusia yang hewani, namun bisa oleh iman mengangkat kodrat rohaninya itu naik kepada sinar surya kebenaran surgawi dan benar-benar mengeluarkan buah-buah mulia dari roh.”

Selama khotbah yang sama inilah Yesus menggunakan perumpamaan yang pertama dan satu-satunya yang berkaitan dengan kejuruannya sendiri, yaitu pertukangan kayu. Dalam peringatan untuk “Membangun dengan baik fondasi untuk pertumbuhan karakter kemampuan rohani yang mulia,” dia berkata: “Agar menghasilkan buah-buah dari roh, kalian harus dilahirkan dari roh. Kalian harus diajar oleh roh dan dipimpin oleh roh jika kalian hendak menjalani kehidupan yang dipenuhi roh di antara sesamamu. Tetapi jangan membuat kesalahan tukang kayu bodoh yang membuang-buang waktu berharga untuk menyiku, mengukur, dan menghaluskan kayunya yang dimakan rayap dan dalamnya membusuk dan kemudian, setelah ia memberikan semua jerih payahnya terhadap balok yang tidak baik itu, ia harus mengapkirnya karena tidak layak untuk masuk ke fondasi bangunan yang akan ia bangun untuk menahan serangan waktu dan badai. Biarlah setiap orang memastikan bahwa fondasi karakter intelektual dan moral itu begitu rupa sehingga memadai untuk mendukung struktur di atasnya yaitu kodrat rohani yang makin besar dan makin mulia, yaitu dengan mengubah batin manusia itu dan kemudian, bekerjasama dengan batin yang diciptakan ulang itu, untuk mencapai pengembangan jiwa yang takdirnya baka. Kodrat rohmu itu—jiwa yang diciptakan secara gabungan bersama itu—adalah suatu pertumbuhan yang hidup, tetapi batin dan moral individu itu adalah tanah dari mana harus bertumbuh wujud-wujud yang lebih tinggi untuk pengembangan manusia dan takdir ilahi ini. Tanah untuk jiwa yang berkembang itu manusiawi dan jasmani, tetapi tujuan akhir dari makhluk gabungan dari batin dan roh ini bersifat rohani dan ilahi.”

Malamnya pada hari yang sama ini Natanael bertanya kepada Yesus: “Guru, mengapa kita berdoa agar Tuhan tidak membawa kita ke dalam pencobaan ketika kita juga tahu dari pewahyuanmu tentang Bapa bahwa Dia tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu?” Yesus menjawab Natanael:

“Tidaklah aneh bahwa kamu mengajukan pertanyaan seperti itu melihat bahwa kamu baru mulai mengenal Bapa seperti aku mengenal-Nya, dan bukan sebagai nabi-nabi Ibrani dahulu yang begitu samar-samar melihat-Nya. Kamu juga tahu bagaimana bapa leluhur kita cenderung melihat Tuhan dalam hampir segala sesuatu yang terjadi. Mereka mencari tangan Tuhan dalam segala kejadian alam dan dalam setiap episode pengalaman manusia yang tidak biasa. Mereka menghubungkan Tuhan dengan yang baik maupun yang jahat. Mereka berpikir Dia melembutkan hati Musa dan mengeraskan hati Firaun. Ketika manusia memiliki dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu, yang baik atau yang jahat, ia berada dalam kebiasaan memperhitungkan emosi yang tidak biasa ini dengan berkata: 'Tuhan berbicara kepadaku dan berkata, berbuatlah begini dan sebagainya, atau pergi ke sini dan ke sana.' Oleh karena itu, karena manusia begitu seringnya dan begitu hebatnya masuk ke dalam pencobaan, menjadi kebiasaan para bapa leluhur kita untuk percaya bahwa Tuhan menuntun mereka ke sana untuk pengujian, penghukuman, atau penguatan. Tapi kamu, memang, sekarang tahu lebih baik. Kamu tahu bahwa manusia terlalu sering dibawa ke dalam pencobaan oleh keinginan mementingkan diri mereka sendiri dan oleh dorongan dari kodrat (tabiat) hewani mereka. Ketika kamu dalam cara ini dicobai, aku mengingatkan kamu bahwa, meskipun kamu menyadari adanya godaan dengan jujur dan tulus apa adanya hal itu, namun kamu dengan cerdas mengalihkan energi-energi dari roh, batin, dan tubuh, yang sedang mencari ekspresi itu, ke saluran yang lebih tinggi dan ke arah sasaran yang lebih idealis. Dengan cara ini kamu bisa mengubah godaanmu menjadi jenis tertinggi pelayanan manusia yang memuliakan sementara kamu hampir seluruhnya menghindari konflik sia-sia dan melemahkan antara kodrat hewani dan rohani itu.

“Tetapi biarlah aku memperingatkan kamu terhadap kebodohan usaha untuk mengatasi godaan melalui upaya menggantikan satu keinginan dengan keinginan yang lain yang dianggap lebih unggul melalui kekuatan kehendak manusia semata-mata. Jika kamu hendak benar-benar berkemenangan atas godaan tabiat yang lebih kecil dan lebih rendah, kamu harus datang ke tempat keunggulan rohani itu dimana kamu benar-benar dan sungguh-sungguh mengembangkan minat nyata dalam, dan cinta untuk, bentuk-bentuk perilaku yang lebih tinggi dan lebih idealis yang batin kamu inginkan, untuk mengganti kebiasaan yang lebih rendah dan kurang idealis ini yang kamu kenali sebagai pencobaan. Kamu akan dengan cara ini dilepaskan melalui transformasi rohani daripada harus semakin terbebani oleh supresi (penekanan) yang menipu terhadap nafsu-nafsu manusia fana. Kehendak yang lama dan lebih rendah itu akan dilupakan dalam cinta terhadap hal yang baru dan lebih unggul. Keindahan selalu berjaya atas keburukan dalam hati semua yang diterangi oleh kasih akan kebenaran. Ada kekuatan hebat dalam tenaga menolak dari suatu kasih sayang rohani yang baru dan tulus. Dan lagi aku berkata kepadamu, jangan dikalahkan oleh kejahatan melainkan kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”

Hingga larut malam para rasul dan penginjil terus bertanya, dan dari banyak jawaban itu kami akan menyampaikan pemikiran-pemikiran berikut, yang disajikan kembali dalam ungkapan yang modern:

Ambisi kuat, penilaian cerdas, dan hikmat pengalaman adalah inti kesuksesan jasmani. Kepemimpinan tergantung pada kemampuan alami, kebijaksanaan, daya kemauan, dan tekad. Tujuan akhir rohani tergantung pada iman, kasih, dan pengabdian pada kebenaran -- lapar dan haus akan kebenaran -- keinginan sepenuh hati untuk menemukan Tuhan dan untuk menjadi seperti Dia.

Jangan berkecil hati oleh penemuan bahwa kamu hanyalah manusia. Tabiat manusiawi mungkin cenderung ke arah jahat, tetapi hal itu bukan menjadi sifatnya berdosa. Janganlah tertunduk oleh kegagalanmu untuk sepenuhnya melupakan beberapa pengalaman yang kamu bisa sesali. Kesalahan-kesalahan yang gagal kamu lupakan dalam waktu akan dilupakan dalam kekekalan. Ringankan beban jiwamu dengan cara secepatnya memperoleh wawasan jangka panjang tentang takdirmu, suatu perluasan alam semesta untuk kariermu.

Jangan membuat kesalahan dengan menaksir nilainya jiwa berdasarkan ketidaksempurnaan batin atau nafsu-nafsu tubuh. Jangan hakimi jiwa atau mengevaluasi takdirnya berdasarkan standar hanya satu episode manusia yang tidak beruntung. Takdir rohanimu itu dipengaruhi hanya oleh kerinduan-kerinduan dan maksud-maksud rohanimu.

Agama adalah pengalaman yang khusus rohani dari jiwa baka yang berkembang, jiwa manusia yang kenal Tuhan itu, tetapi kekuatan moral dan tenaga rohani itu adalah kekuatan-kekuatan perkasa yang dapat dimanfaatkan dalam menghadapi situasi-situasi sosial yang sulit dan dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi yang rumit. Kemampuan moral dan rohani ini membuat semua tingkatan kehidupan manusia menjadi lebih kaya dan lebih bermakna.

Kamu ditakdirkan untuk menjalani hidup yang sempit dan buruk jika kamu belajar hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu. Kasih manusia mungkin memang timbal balik, tapi kasih ilahi itu mengalir keluar dalam semua pencarian-kepuasannya. Semakin sedikit kasih dalam tabiat suatu makhluk, semakin besar kasih dibutuhkan, dan semakin besar kasih ilahi berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kasih itu tidak pernah mencari kepentingan diri sendiri, dan kasih tidak dapat diberikan sendiri. Kasih ilahi tidak bisa ditahan sendiri; kasih itu harus diberikan secara tanpa pamrih.

Orang-orang percaya kerajaan harus memiliki iman yang implisit (mutlak), keyakinan yang sepenuh jiwa, akan kemenangan pasti perbuatan benar. Pembangun-pembangun kerajaan haruslah tidak meragukan kebenaran tentang injil keselamatan kekal. Orang-orang percaya harus semakin belajar bagaimana untuk menyingkir dari kerepotan hidup -- melepaskan diri dari tekanan kehidupan jasmani—sementara mereka menyegarkan jiwa, menginspirasi pikiran, dan memperbarui roh melalui komuni (persekutuan dengan roh) yang penuh penyembahan.

Individu-individu yang kenal Tuhan itu tidaklah dikecewakan oleh karena ketidak-beruntungan atau murung oleh karena kekecewaan. Orang-orang percaya itu kebal terhadap depresi akibat dari pergolakan yang murni bersifat materi (jasmani); orang yang hidup oleh roh tidak terganggu oleh episode-episode dunia materi. Kandidat-kandidat untuk hidup kekal itu adalah praktisi-praktisi dari suatu teknik menyegarkan dan konstruktif untuk menghadapi semua perubahan-perubahan dan tekanan hidup manusia. Setiap hari seorang beriman sejati hidup, ia menemukan semakin mudah untuk melakukan hal yang benar.

Menjalani hidup yang rohani sangat kuat meningkatkan penghargaan diri sendiri yang sesungguhnya. Tapi menghargai diri sendiri bukanlah mengagumi diri sendiri. Penghargaan diri selalu sejajar dengan kasih dan pelayanan terhadap sesama. Tidaklah mungkin untuk menghargai dirimu sendiri lebih dari kamu mengasihi sesamamu; yang satu adalah ukuran tentang kapasitas untuk yang lainnya.

Sementara hari-hari berlalu, setiap orang percaya sejati menjadi lebih terampil dalam memikat rekan-rekannya ke dalam cinta untuk kebenaran kekal. Apakah kamu lebih pintar dalam mengungkapkan kebaikan kepada umat manusia hari ini daripada kamu kemarin? Apakah kamu seorang penganjur kebenaran yang lebih baik tahun ini daripada kamu tahun lalu? Apakah kamu menjadi semakin artistik dalam caramu memimpin jiwa-jiwa lapar ke dalam kerajaan rohani?

Apakah ideal-idealmu cukup tinggi untuk memastikan keselamatan kekalmu sedangkan ide-idemu sangat praktis sehingga membuat kamu warga yang berguna untuk berfungsi di bumi dalam kerjasama dengan rekan-rekan manusiamu? Dalam roh, kewargaanmu adalah di dalam surga; dalam daging, kamu masih warga kerajaan-kerajaan bumi. Persembahkan kepada Kaisar hal-hal yang material dan kepada Tuhan hal-hal yang rohani.

Ukuran terhadap kapasitas rohani dari jiwa yang berkembang itu adalah imanmu akan kebenaran dan kasihmu untuk manusia, tetapi ukuran kekuatan karakter manusiawi kamu adalah kemampuanmu untuk tidak menyimpan dendam dan kapasitasmu untuk tidak menjadi murung menghadapi duka yang mendalam. Kekalahan adalah cermin sejati yang di dalamnya kamu dengan jujur dapat melihat dirimu yang sesungguhnya.

Sementara kamu bertambah tua dalam usia dan lebih berpengalaman dalam urusan-urusan kerajaan, apakah kamu menjadi lebih bersikap bijak berurusan dengan manusia yang merepotkan dan lebih toleran dalam hidup dengan rekan-rekan yang keras kepala? Sikap bijak adalah titik tumpu untuk pengungkit sosial, dan toleransi adalah ciri khas dari jiwa yang agung. Jika kamu memiliki karunia-karunia yang langka dan menawan ini, sementara hari-hari berlalu kamu akan menjadi lebih waspada dan ahli dalam upaya-upayamu yang pantas untuk menghindari semua kesalahpahaman sosial yang tidak perlu. Jiwa-jiwa yang bijaksana tersebut dapat menghindari banyak masalah yang sudah pasti menjadi porsi semua orang yang menderita karena kurangnya penyesuaian emosional, mereka yang menolak untuk bertumbuh, dan mereka yang menolak untuk bertambah tua dengan ikhlas.

Hindarilah ketidakjujuran dan ketidakadilan dalam segala upayamu untuk memberitakan kebenaran dan mengabarkan injil. Jangan mencari pengakuan yang tidak semestinya dan jangan mendambakan simpati yang tidak patut. Kasih, terimalah dengan bebas dari sumber ilahi maupun manusia terlepas dari pantas-tidaknya kamu, dan kasihilah sebagai balasannya dengan cuma-cuma. Tetapi dalam semua hal-hal lain yang berkaitan dengan kehormatan dan sanjungan carilah hanya apa yang sejujurnya memang milikmu.

Manusia yang sadar-Tuhan itu pasti selamat; ia tidak takut akan hidup; ia jujur dan konsisten. Ia tahu bagaimana dengan berani menanggung penderitaan yang tidak dapat dihindari; ia tak mengeluh ketika dihadapkan dengan kesulitan yang tak terelakkan.

Orang beriman sejati tidak jemu-jemu berbuat baik hanya karena ia dirintangi. Kesulitan memicu semangat para pencinta kebenaran, sementara hambatan hanya menantang pengerahan tenaga para pembangun kerajaan yang tanpa gentar.

Dan banyak hal lain Yesus ajarkan pada mereka sebelum mereka bersiap-siap untuk berangkat dari Tirus.

Sehari sebelum Yesus meninggalkan Tirus untuk kembali ke kawasan Laut Galilea, dia memanggil rekan-rekan kerjanya bersama-sama dan menyuruh dua belas penginjil agar kembali dengan rute yang berbeda dari jalan yang akan dia tempuh bersama dua belas rasul. Dan setelah para penginjil di sini meninggalkan Yesus, mereka tidak pernah lagi secara begitu erat bekerjasama dengan dia.

6. Kembali dari Fenisia

Sekitar tengah hari pada hari Minggu, 24 Juli, Yesus dan dua belas meninggalkan rumah Yusuf, di selatan Tirus, menuruni pantai ke Ptolemais. Di sini mereka menunggu selama satu hari, menyampaikan kata-kata penghiburan kepada kumpulan orang percaya yang tinggal di sana. Petrus berkhotbah kepada mereka pada malam 25 Juli.

Pada hari Selasa mereka meninggalkan Ptolemais, pergi ke pedalaman timur ke dekat Jotapata melalui jalan Tiberias. Rabu mereka singgah di Jotapata dan mengajar orang-orang percaya lebih lanjut dalam hal-hal kerajaan. Kamis mereka meninggalkan Jotapata, pergi ke utara lewat jalan setapak Nazaret-Gunung Lebanon ke desa Zebulon, melalui Rama. Mereka mengadakan pertemuan-pertemuan di Rama pada hari Jumat dan tetap di sana sepanjang hari Sabat. Mereka mencapai Zebulon pada hari Minggu, tanggal 31, mengadakan pertemuan malam itu dan berangkat keesokan harinya.

Meninggalkan Zebulon, mereka berjalan ke persimpangan dengan jalan Magdala-Sidon dekat Gischala, dan dari situ mereka berjalan ke Genesaret di pantai barat Danau Galilea, selatan Kapernaum, dimana mereka telah berjanji untuk bertemu dengan Daud Zebedeus, dan dimana mereka bermaksud untuk berunding mengenai langkah selanjutnya yang akan dilakukan dalam pekerjaan memberitakan injil kerajaan.

Selama rapat singkat dengan Daud mereka mengetahui bahwa banyak pemimpin saat itu sedang berkumpul bersama di seberang danau dekat Kheresa, dan karena itu, malam itu juga sebuah kapal membawa mereka menyeberang. Selama satu hari mereka beristirahat dengan tenang di perbukitan, melanjutkan pergi pada hari berikutnya ke taman, yang berdekatan, di mana Guru pernah memberi makan lima ribu orang. Di sini mereka beristirahat selama tiga hari dan menyelenggarakan konferensi harian, yang dihadiri oleh sekitar lima puluh pria dan wanita, sisa-sisa dari rombongan orang percaya yang dulunya banyak, yang tinggal di Kapernaum dan sekitarnya.

Sementara Yesus tidak hadir di Kapernaum dan Galilea, dalam jangka waktu kunjungan Fenisia, musuh-musuhnya memperhitungkan bahwa seluruh gerakan itu telah dipatahkan dan menyimpulkan bahwa tergesa-gesanya Yesus mundur itu menunjukkan dia sepenuhnya ketakutan sehingga dia mungkin tidak akan pernah kembali mengganggu mereka. Semua perlawanan aktif terhadap ajarannya sudah hampir mereda. Orang-orang percaya mulai mengadakan pertemuan-pertemuan publik sekali lagi, dan terjadi suatu konsolidasi bertahap namun efektif dari mereka yang teruji dan setia dari pengayakan besar yang baru saja dilewati orang-orang percaya injil.

Philip (Filipus), saudara Herodes, telah menjadi orang percaya setengah hati pada Yesus dan mengirim kabar bahwa Guru bebas untuk hidup dan bekerja dalam wilayahnya.

Perintah untuk menutup rumah-rumah ibadah semua orang Yahudi pada ajaran Yesus dan semua pengikutnya telah berbuah negatif terhadap ahli-ahli kitab dan orang-orang Farisi. Segera setelah Yesus menarik dirinya sebagai objek kontroversi, terjadi reaksi di kalangan orang Yahudi seluruhnya; ada kemarahan umum terhadap orang-orang Farisi dan para pemimpin Sanhedrin di Yerusalem. Banyak para pemimpin sinagog mulai diam-diam membuka rumah-rumah ibadah mereka pada Abner dan rekan-rekannya, menyatakan bahwa guru-guru ini adalah pengikut Yohanes dan bukan murid Yesus.

Bahkan Herodes Antipas mengalami perubahan hati, dan ketika tahu bahwa Yesus sedang berkelana di seberang danau di wilayah saudaranya Filipus, ia mengirim pesan kepadanya bahwa, meskipun ia telah menandatangani surat perintah penangkapannya di Galilea, ia tidak memberi wewenang penangkapannya tersebut di Perea, dengan demikian mengisyaratkan bahwa Yesus tidak akan dianiaya jika ia tetap berada di luar Galilea; dan dia mengkomunikasikan putusan yang sama ini kepada orang-orang Yahudi di Yerusalem.

Dan itulah situasi sekitar awal Agustus, 29 M, ketika Guru kembali dari misi Fenisia dan memulai penataan ulang pasukannya yang tersebar, teruji, dan sudah menipis itu untuk tahun terakhir dan penting dari misinya di bumi.

Isu-isu pertempuran dengan jelas dipakai ketika Guru dan rekan-rekannya mempersiapkan diri untuk memulai proklamasi sebuah agama baru, agama tentang roh Tuhan yang hidup yang tinggal di dalam batin manusia.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved