Makalah 152: Peristiwa-peristiwa Menuju ke Krisis Kapernaum

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 152

Peristiwa-peristiwa Menuju ke Krisis Kapernaum

KISAH penyembuhan Amos, orang gila di Kheresa itu, sudah mencapai Betsaida dan Kapernaum, sehingga kerumunan besar orang sedang menunggu Yesus ketika kapalnya berlabuh hari Selasa menjelang siang itu. Di antara kerumunan ini ada para pengamat baru dari Sanhedrin Yerusalem yang datang ke Kapernaum agar menemukan alasan untuk menangkap dan mendakwa Guru. Sementara Yesus berbicara dengan orang-orang yang telah berkumpul untuk menyambutnya, Yairus, salah seorang pemimpin sinagog itu, berusaha berjalan melewati kerumunan, dan sambil tersungkur di kakinya, memegang tangannya dan memohon agar Yesus mau buru-buru pergi bersamanya, berkata: “Guru, putri kecilku, anakku satu-satunya, tergeletak di rumahku menjelang ajal. Aku mohon agar engkau datang dan menyembuhkannya.” Ketika Yesus mendengar permintaan ayah ini, dia berkata: “Aku akan pergi bersamamu.”

Sementara Yesus pergi bersama Yairus, kerumunan besar yang telah mendengar permintaan ayah itu mengikuti terus untuk melihat apa yang akan terjadi. Sesaat sebelum mereka mencapai rumah kepala sinagog itu, saat mereka bergegas melalui sebuah jalan sempit dan sementara kerumunan mendesak-desak dia, Yesus tiba-tiba berhenti, berseru, “Seseorang menyentuh aku.” Dan ketika orang-orang yang berada dekat dia membantah bahwa mereka telah menyentuhnya, Petrus berbicara : “Guru, engkau dapat melihat bahwa kerumunan orang ini menekan engkau, mengancam untuk meremukkan kita, namun begitu engkau katakan 'seseorang telah menyentuh aku'? Apa yang engkau maksudkan?” Lalu Yesus berkata: “Aku bertanya siapa yang menyentuh aku, karena aku merasa bahwa tenaga hidup telah keluar dari aku.” Sementara Yesus melihat sekelilingnya, pandangannya jatuh pada seorang wanita di dekatnya, yang maju ke depan, berlutut di kakinya dan berkata: “Selama bertahun-tahun aku telah menderita pendarahan yang parah. Aku telah menderita banyak hal dari banyak tabib; aku telah menghabiskan semua hartaku, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan aku. Lalu aku mendengar tentang engkau, dan aku pikir jika saja aku dapat menyentuh lipatan ujung jubahnya, aku akan pasti disembuhkan. Maka aku mendesak maju dengan orang banyak saat bergerak bersama sampai, berdiri di dekatmu, Guru, aku menyentuh pinggir jubahmu, dan aku disembuhkan; aku tahu bahwa aku telah disembuhkan dari penyakitku.”

Ketika Yesus mendengar ini, dia memegang tangan wanita itu dan, mengangkatnya berdiri, mengatakan: “Anak perempuan, imanmu telah menyelamatkanmu; pergilah dengan damai.” Imannya itulah dan bukan sentuhannya yang membuatnya sembuh. Dan kasus ini adalah contoh yang baik dari banyak penyembuhan yang tampaknya ajaib yang menyertai perjalanan hidup Yesus di bumi, tetapi yang tidak dalam arti secara sadar dia menghendakinya. Berlalunya waktu menunjukkan bahwa wanita ini benar-benar disembuhkan dari penyakit itu. Imannya adalah dari jenis yang telah memegang langsung kepada kuasa daya cipta yang berada dalam pribadinya Guru. Dengan iman yang ia miliki, hanya diperlukan untuk mendekati pribadinya Guru. Sama sekali tidak harus menyentuh jubahnya; hal memegang itu hanyalah bagian takhyul dari keyakinan wanita itu. Yesus memanggil wanita ini, Veronika dari Kaisarea-Filipi itu, ke hadapannya untuk memperbaiki dua kesalahan yang mungkin masih melekat dalam pikirannya, atau yang mungkin telah bertahan dalam pikiran orang-orang yang menyaksikan penyembuhan ini: Dia tidak ingin Veronika pergi berpikir bahwa ketakutannya dalam upaya untuk mencuri kesembuhan itu telah dihargai, atau bahwa takhyulnya dalam mengaitkan sentuhan pada pakaiannya dengan kesembuhannya itu yang manjur. Yesus ingin semua tahu bahwa iman wanita yang murni dan hidup itulah yang telah menghasilkan kesembuhannya.

1. Di Rumah Yairus

Yairus, tentu saja, sangat tidak sabar akan keterlambatan untuk mencapai rumahnya ini; sehingga mereka sekarang bergegas makin dipercepat. Bahkan sebelum mereka memasuki halaman pemimpin itu, salah seorang pelayannya keluar, mengatakan: “Jangan menyusahkan Guru; putrimu sudah meninggal,” Tetapi Yesus tampaknya tidak mengindahkan kata-kata hamba itu, karena, sambil membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes bersamanya, dia berpaling dan berkata kepada ayah yang ditimpa duka itu: “Jangan takut; percaya saja.” Ketika ia memasuki rumah, dia menjumpai para peniup seruling sudah ada di sana dengan para peratap, yang sedang membuat keributan yang tidak semestinya; para kerabat sudah menangis dan meratap. Dan setelah dia menyuruh semua peratap keluar dari ruangan, dia masuk dengan ayah dan ibu dan tiga rasulnya. Dia telah mengatakan kepada para peratap bahwa gadis itu tidak mati, tetapi mereka menertawakan dia untuk mencemooh. Yesus kemudian berpaling kepada si ibu, berkata: “Putrimu tidak mati; ia hanya tertidur.” Dan ketika rumah sudah mulai tenang, Yesus, pergi ke tempat anak itu berbaring, memegang tangannya dan berkata, “Anak perempuan, aku berkata kepadamu, bangun dan bangkitlah!” Dan ketika gadis itu mendengar kata-kata ini, ia segera bangun dan berjalan melintasi ruangan. Dan segera, setelah ia pulih dari linglungnya, Yesus menyuruh agar mereka memberikan sesuatu kepadanya untuk dimakan, karena ia sudah lama tidak makan.

Karena ada banyak hasutan di Kapernaum melawan Yesus, Yesus memanggil keluarga bersama-sama dan menjelaskan bahwa gadis itu telah dalam keadaan koma setelah demam lama, dan bahwa dia hanya membangunkannya, bahwa dia tidak membangkitkannya dari kematian. Dia begitu pula menjelaskan semua ini kepada para rasulnya, namun itu sia-sia; mereka semua percaya bahwa ia telah membangkitkan gadis kecil itu dari kematian. Apa yang Yesus katakan sebagai penjelasan atas banyak dari yang tampaknya keajaiban itu berdampak kecil terhadap para pengikutnya. Mereka cenderung berpikiran mujizat dan serta merta menganggap itu satu lagi mujizat dari Yesus. Yesus dan para rasul kembali ke Betsaida setelah dia secara khusus memperingatkan mereka semua agar mereka tidak memberitahukan kepada siapapun.

Ketika dia keluar dari rumah Yairus, dua orang buta yang dituntun oleh seorang anak bisu mengikutinya dan berteriak-teriak untuk penyembuhan. Sekitar saat ini reputasi Yesus sebagai penyembuh berada pada puncaknya. Kemana-mana dia pergi orang yang sakit dan menderita menunggunya. Guru sekarang tampak amat lelah, dan semua teman-temannya menjadi cemas jangan sampai dia melanjutkan pekerjaannya mengajar dan menyembuhkan itu sampai ke titik benar-benar roboh.

Para rasul Yesus, apalagi orang biasa, tidak bisa memahami kodrat dan sifat sang manusia-Tuhan ini. Demikian pula setiap generasi berikutnya tidak akan mampu mengevaluasi apa yang terjadi di bumi dalam pribadi Yesus dari Nazaret itu. Tidak pernah dapat terjadi suatu kesempatan ilmu pengetahuan ataupun agama untuk dapat memeriksa peristiwa yang luar biasa karena alasan sederhana bahwa situasi yang luar biasa tersebut tidak dapat pernah lagi terjadi, baik di dunia ini atau di dunia lain di Nebadon. Tidak pernah lagi, di setiap dunia di seluruh alam semesta ini, akan ada sosok yang muncul dalam rupa manusia fana, sekaligus pada waktu yang sama menampung semua sifat energi daya cipta yang digabungkan dengan kemampuan rohani yang melampaui waktu dan banyak keterbatasan jasmani lainnya.

Belum pernah sebelum Yesus berada di bumi, atau sejak itu, dimungkinkan secara langsung dan kasat mata untuk memperoleh hasil yang menyertai iman yang kuat dan hidup dari pria dan wanita fana. Untuk mengulangi lagi fenomena ini, kita harus pergi ke hadapan langsung Mikhael, Sang Pencipta, dan menemui dia sebagaimana dia ada pada masa itu—sebagai Anak Manusia. Demikian pula, hari ini, meskipun ketidakhadirannya mencegah manifestasi jasmani tersebut, janganlah kamu menempatkan jenis pembatasan apapun atas kemungkinan pameran kuasa rohaninya. Meskipun Guru tidak hadir sebagai sosok jasmani, dia hadir sebagai pengaruh rohani dalam hati manusia. Dengan pergi dari dunia, Yesus memungkinkan bagi rohnya agar bisa hadir bersama dengan roh Bapanya yang mendiami batin seluruh umat manusia.

2. Memberi Makan Lima Ribu Orang

Yesus terus mengajar orang-orang pada siang hari sementara dia mengajar para rasul dan penginjil pada malam hari. Pada hari Jumat ia mengumumkan cuti satu minggu agar semua pengikutnya bisa pulang ke rumah atau ke teman-teman mereka selama beberapa hari sebelum mempersiapkan diri untuk pergi ke Yerusalem merayakan Paskah. Tetapi lebih dari setengah muridnya menolak untuk meninggalkan dia, dan orang banyak itu setiap hari meningkat jumlahnya, begitu banyak sehingga Daud Zebedeus ingin untuk mendirikan sebuah perkemahan baru, tetapi Yesus tidak setuju. Guru mendapat begitu sedikit istirahat selama hari Sabat sehingga pada hari Minggu pagi, 27 Maret, dia berusaha untuk pergi menjauh dari orang banyak. Beberapa penginjil masih tinggal untuk berbicara dengan orang banyak sementara Yesus dan duabelas merencanakan untuk meloloskan diri, tanpa diketahui, ke pantai seberang danau, dimana mereka berniat untuk mendapatkan istirahat yang banyak dibutuhkan itu di sebuah taman yang indah di selatan Betsaida-Julias. Daerah ini adalah tempat favorit untuk wisata penduduk Kapernaum; mereka semua akrab dengan taman-taman di pantai timur ini.

Namun orang-orang tidak membiarkannya demikian. Mereka melihat arah yang dituju oleh kapal Yesus, dan dengan menyewa setiap perahu atau kapal yang tersedia, mereka mulai mengejar. Mereka yang tidak bisa mendapatkan perahu berjalan kaki memutari ujung utara danau.

Menjelang sore lebih dari seribu orang telah menemukan Guru berada di salah satu dari taman-taman itu, dan dia berbicara kepada mereka secara singkat, yang diikuti oleh Petrus. Banyak dari orang-orang ini telah membawa makanan, dan setelah mereka makan malam, mereka berkumpul sekeliling dalam kelompok-kelompok kecil, sementara para rasul dan murid-murid Yesus mengajar mereka.

Hari Senin sore orang banyak telah meningkat menjadi lebih dari tiga ribu. Dan masih–hingga jauh malam—orang-orang terus berdatangan, membawa segala jenis orang sakit bersama mereka. Ratusan orang yang berminat telah membuat rencana singgah di Kapernaum untuk melihat dan mendengar Yesus pada perjalanan mereka ke Paskah, dan mereka sama sekali tidak mau untuk dikecewakan. Hari Rabu siang sekitar lima ribu pria, wanita, dan anak-anak berkumpul di taman ini di sebelah selatan Betsaida-Julias. Cuacanya nyaman, mendekati penghujung akhir musim hujan di wilayah ini.

Filipus telah menyediakan pasokan tiga hari makanan bagi Yesus dan duabelas, yang dibawa oleh anak laki-laki bernama Markus, pembantu segala urusan sehari-hari mereka. Menjelang sore ini, hari ketiga bagi hampir setengah orang banyak ini, makanan yang mereka bawa hampir habis. Daud Zebedeus tidak memiliki kota bertenda di sini untuk memberi makan dan menampung orang banyak. Tidak pula Filipus membuat persediaan makanan untuk orang sebanyak itu. Tetapi orang-orang, meskipun mereka lapar, mereka tidak mau pergi. Sedang diam-diam dibisikkan bahwa Yesus, karena ingin menghindari masalah baik dengan Herodes maupun dengan para pemimpin Yerusalem, telah memilih tempat tenang ini di luar wilayah kewenangan semua musuhnya itu sebagai tempat yang tepat untuk dinobatkan menjadi raja. Antusiasme rakyat meningkat setiap jamnya. Meskipun tak sepatah katapun dikatakan kepada Yesus, tentu saja, dia tahu semua yang sedang berlangsung. Bahkan duabelas rasul masih tercemar oleh gagasan tersebut, dan khususnya penginjil-penginjil muda. Para rasul yang mendukung upaya untuk memproklamirkan Yesus menjadi raja ini adalah Petrus, Yohanes, Simon Zelot, dan Yudas Iskariot. Mereka yang menentang rencana tersebut adalah Andreas, Yakobus, Natanael, dan Tomas. Matius, Filipus, dan kembar Alfeus tidak menyatakan pendapat. Pemimpin komplotan untuk menjadikan dia raja ini adalah Yoab, salah seorang penginjil muda.

Inilah penataan panggung sekitar pukul lima hari Rabu sore, ketika Yesus meminta Yakobus Alfeus untuk memanggil Andreas dan Filipus. Kata Yesus: “Apa yang harus kita lakukan dengan orang banyak itu? Mereka telah bersama kita sekarang tiga hari, dan banyak dari mereka yang lapar. Mereka tidak memiliki makanan.” Filipus dan Andreas bertukar pandang, dan kemudian Filipus menjawab: “Guru, engkau harus menyuruh orang-orang ini pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa sekitar dan membeli sendiri makanan.” Dan Andreas, kuatir akan perwujudan rancangan raja tersebut, cepat bergabung dengan Filipus, dengan mengatakan: “Ya, Guru, aku pikir terbaik agar engkau membubarkan orang banyak sehingga mereka bisa pergi masing-masing dan membeli makanan sementara engkau bisa beristirahat sebentar.” Pada waktu ini rasul-rasul yang lain ikut bergabung dalam pertemuan. Maka kata Yesus: “Tapi aku tidak ingin menyuruh mereka pergi dengan lapar. Bisa tidakkah kalian memberi mereka makan?” Hal ini sudah keterlaluan bagi Filipus, dan ia berkata langsung: “Guru, di pedesaan begini dimana kita bisa membeli roti untuk orang banyak ini? Dua ratus dinar tidak akan cukup untuk makan siang.”

Sebelum para rasul memiliki kesempatan untuk menyatakan pendapat mereka, Yesus berpaling kepada Andreas dan Filipus, mengatakan: “Aku tidak mau menyuruh orang-orang ini pergi. Di sinilah mereka, seperti domba tanpa gembala. Aku ingin memberi mereka makan. Makanan apa yang ada pada kita?” Sementara Filipus sedang berbicara dengan Matius dan Yudas, Andreas mencari anak muda Markus itu untuk memastikan berapa banyak yang tersisa dari bekal sediaan mereka. Dia kembali kepada Yesus, mengatakan: “Anak itu hanya tersisa lima roti jelai dan dua ikan kering”—dan Petrus dengan cepat menambahkan, “Kita belum makan malam ini.”

Untuk sesaat Yesus berdiri dalam keheningan. Ada pandangan menerawang jauh di matanya. Para rasul tidak berkata apapun. Yesus berpaling tiba-tiba kepada Andreas dan berkata, “Ambilkan aku roti dan ikan itu.” Dan setelah Andreas membawa keranjang itu kepada Yesus, Guru berkata: “Suruh orang banyak untuk duduk di rumput dalam kumpulan seratus dan tunjuklah seorang pemimpin atas setiap kelompok sementara kalian semua membawa semua penginjil ke sini bersama kita.”

Yesus mengangkat roti-roti itu di tangannya, dan sesudah dia mengucap syukur, dia memecahkan roti dan memberikannya kepada para rasulnya, yang menyampaikan kepada rekan-rekan mereka, yang pada gilirannya membawanya kepada orang banyak. Yesus dengan cara serupa seperti itu memecah dan membagi-bagikan ikan. Maka orang banyak ini makan sampai kenyang. Dan setelah mereka selesai makan, Yesus berkata kepada para murid: “Kumpulkan potongan-potongan remah yang tersisa sehingga tidak ada yang terbuang.” Dan setelah mereka selesai mengumpulkan remah-remah itu, mereka mendapat duabelas keranjang penuh. Mereka yang makan dari pesta yang luar biasa ini berjumlah sekitar lima ribu pria, wanita, dan anak-anak.

Dan ini adalah yang pertama dan satu-satunya mujizat alam yang dilakukan Yesus sebagai hasil dari perencanaannya di muka secara sadar. Memang benar bahwa murid-muridnya cenderung menganggap untuk menyebut banyak hal adalah mujizat namun sebenarnya tidak, tapi kali ini adalah pekerjaan supranatural tulen. Dalam kasus ini, demikian kami diajari, Mikhael melipatgandakan unsur-unsur makanan seperti yang selalu dia lakukan kecuali penghapusan faktor waktu dan saluran kehidupan yang kasat mata.

3. Episode Pengangkatan Raja

Memberi makan lima ribu orang dengan energi supranatural adalah satu dari kasus-kasus dimana belas kasihan manusiawi ditambah kuasa mencipta sama dengan apa yang terjadi. Adapun orang banyak telah diberi makan sampai kenyang, dan karena ketenaran Yesus saat itu dan di tempat itu ditambah oleh keajaiban yang luar biasa ini, proyek untuk menangkap Guru dan memproklamirkan dia menjadi raja tidak membutuhkan pengarahan pribadi lebih lanjut. Gagasan itu tampaknya menyebar melalui kerumunan seperti wabah menular. Reaksi orang banyak pada penyediaan kebutuhan fisik mereka yang tiba-tiba dan spektakuler itu sangat mendalam dan luar biasa. Untuk waktu yang lama orang-orang Yahudi telah diajari bahwa Mesias, anak Daud, ketika ia datang, akan menyebabkan tanah mengalir lagi dengan susu dan madu, dan bahwa roti hidup akan dikaruniakan kepada mereka seperti manna dari surga yang dianggap telah dijatuhkan ke atas bapa leluhur mereka di padang gurun. Dan bukankah semua harapan ini sekarang dipenuhi tepat di depan mata mereka? Ketika orang banyak yang lapar, kekurangan gizi ini telah selesai melahap makanan ajaib itu, maka hanya ada satu reaksi mufakat: “Inilah raja kami.” Sang pembebas pembuat mujizat Israel telah datang. Di mata orang-orang yang berpikiran sederhana ini kuasa untuk memberi makan membawa sertanya hak untuk memerintah. Tidak heran, kemudian, bahwa orang banyak itu, ketika selesai makan, bangkit seperti satu orang dan berteriak, “Jadikan dia raja!”

Teriakan hebat ini membakar semangat Petrus dan para rasul yang masih mempertahankan harapan melihat Yesus menegaskan haknya untuk memerintah. Tetapi harapan palsu ini tidak bertahan lama. Teriakan hebat dari orang banyak itu belum berhenti bergema dari bebatuan yang berdekatan ketika Yesus melangkah naik ke atas sebuah batu besar dan, sambil mengangkat tangan kanannya untuk mendapatkan perhatian mereka, mengatakan: “Anak-anakku, kamu bermaksud baik, tetapi kalian berpandangan pendek dan berpikiran jasmani.” Ada suatu jeda singkat; orang Galilea yang gagah ini berada di sana dengan megahnya berpose dalam kilau mempesona senja langit timur. Setiap jengkal dia tampak seperti raja sambil ia terus berbicara pada orang banyak yang menahan napasnya ini: “Kalian ingin membuat aku raja, bukan karena jiwamu telah diterangi dengan kebenaran yang besar, tetapi karena perut kalian sudah kenyang dengan roti. Berapa kali aku katakan bahwa kerajaanku bukan dari dunia ini? Kerajaan surga ini yang kita proklamasikan itu adalah persaudaraan rohani, dan tidak ada manusia yang berkuasa atasnya duduk di atas singgasana jasmani. Bapaku yang di surga adalah Penguasa yang mahabijaksana dan mahakuasa atas persaudaraan rohani anak-anak Tuhan di bumi ini. Apakah aku begitu gagal mengungkapkan kepada kalian Bapa segala roh sehingga kalian ingin menjadikan Anak-Nya raja dalam daging! Sekarang semua kamu pulanglah ke rumah masing-masing. Jika kamu harus memiliki seorang raja, biarlah Bapa segala terang bertahta dalam hati kalian masing-masing sebagai Penguasa roh atas segala sesuatunya.”

Kata-kata Yesus ini membuat orang banyak itu pergi dengan tertegun dan patah semangat. Banyak yang percaya kepadanya berbalik dan tidak lagi mengikutinya mulai dari hari itu. Para rasul bungkam seribu bahasa; mereka berdiri dalam keheningan mengumpulkan duabelas keranjang remah-remah makanan; hanya si anak pesuruh, anak muda Markus, yang berbicara, “Dan dia menolak untuk menjadi raja kita.” Yesus, sebelum pergi sendirian ke perbukitan, berpaling kepada Andreas dan berkata: “Bawalah saudara-saudaramu kembali ke rumah Zebedeus dan berdoalah dengan mereka, terutama untuk saudaramu, Simon Petrus.”

4. Penglihatan Malam Simon Petrus

Para rasul, tanpa Guru mereka—pergi masing-masing—memasuki perahu dan dengan senyap mulai mendayung ke arah Betsaida di pantai barat danau. Tak satupun dari duabelas yang begitu hancur dan putus asa seperti Simon Petrus. Hampir tidak ada sepatah katapun diucapkan; mereka semua memikirkan tentang Guru yang sendirian di perbukitan. Apakah dia telah meninggalkan mereka? Dia belum pernah sebelumnya menyuruh mereka semua pergi dan menolak untuk pergi bersama mereka. Apa artinya semua ini?

Kegelapan turun ke atas mereka, karena telah muncul angin yang kuat dan bertentangan yang membuat gerak maju hampir mustahil. Sementara jam-jam kegelapan dan mendayung kuat-kuat terus berlalu, Petrus menjadi lelah dan jatuh ke dalam tidur nyenyak karena keletihan. Andreas dan Yakobus menempatkan dia untuk beristirahat di tempat duduk dengan bantalan di buritan perahu. Sementara rasul-rasul lainnya bekerja keras melawan angin dan ombak, Petrus mendapat mimpi; ia melihat suatu penglihatan Yesus datang kepada mereka berjalan di atas air. Ketika Guru sepertinya berjalan terus lewat perahu, Petrus berteriak, “Tolonglah kami, Guru, tolonglah kami.” Dan mereka yang berada di bagian belakang kapal mendengar dia mengatakan beberapa dari kata-kata ini. Sementara penampakan malam ini terus berlangsung dalam benak Petrus, ia bermimpi bahwa ia mendengar Yesus berkata: “Bergembiralah; inilah aku; jangan takut.” Ini adalah seperti balsem dari Gilead bagi jiwa Petrus yang resah; hal itu menenangkan rohnya yang susah, sehingga (dalam mimpinya) ia berseru kepada Guru: “Tuhan, jika benar-benar itu engkau, suruhlah aku datang dan berjalan denganmu di atas air.” Dan ketika Petrus mulai berjalan di atas air, gelombang keras membuatnya takut, dan ketika ia hampir tenggelam, ia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” dan banyak dari duabelas mendengar dia mengucapkan seruan ini. Lalu Petrus bermimpi bahwa Yesus datang untuk menolong, dan sambil mengulurkan tangannya, memegang dan mengangkat dia, mengatakan: “Hai, kamu yang kurang percaya, mengapa kamu bimbang?”

Sehubungan dengan bagian belakangan dari mimpinya itu Petrus bangkit dari tempat duduk dari mana ia tidur dan benar-benar melangkah ke laut dan masuk ke dalam air. Dan ia terbangun dari mimpinya saat Andreas, Yakobus, dan Yohanes meraih ke bawah dan menariknya keluar dari laut.

Bagi Petrus pengalaman ini selalu nyata. Ia sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus datang kepada mereka malam itu. Ia hanya sebagian meyakinkan Yohanes Markus, yang menjelaskan mengapa Markus menghilangkan sebagian dari kisah ini dari tulisannya. Lukas, sang dokter, yang membuat penyelidikan hati-hati ke dalam hal-hal ini, menyimpulkan bahwa episode itu adalah penglihatannya Petrus dan oleh karena itu menolak untuk memberikan tempat untuk cerita ini dalam penyusunan tulisannya.

5. Kembali ke Betsaida

Kamis pagi, sebelum fajar, mereka melabuhkan perahu mereka di lepas pantai dekat rumah Zebedeus dan berusaha tidur sampai sekitar tengah hari. Andreas yang pertama bangun, dan pergi berjalan-jalan di tepi laut, menemukan Yesus, ditemani anak laki-laki pesuruh mereka, sedang duduk di atas sebuah batu di tepi air. Meskipun banyak dari orang-orang dan para penginjil muda mencari Yesus sepanjang malam dan sebagian besar hari berikutnya di sekeliling perbukitan timur, tak lama setelah tengah malam Yesus dan anak muda Markus itu sudah mulai berjalan mengelilingi danau dan menyeberang sungai, kembali ke Betsaida.

Dari antara lima ribu orang ang secara ajaib diberi makan, dan yang ketika perut mereka penuh dan hati mereka kosong, hendak membuatnya menjadi raja, hanya sekitar lima ratus orang yang bertahan mengikuti dia. Namun sebelum mereka ini menerima kabar bahwa dia kembali ke Betsaida, Yesus meminta Andreas untuk mengumpulkan duabelas rasul dan rekan-rekan mereka, termasuk para wanita, mengatakan, “Aku ingin berbicara dengan mereka.” Dan setelah semua siap, Yesus berkata:

“Berapa lama aku harus sabar terhadap kalian? Apakah kamu semua lambat dalam pemahaman rohani dan kekurangan iman yang hidup? Sepanjang berbulan-bulan ini aku mengajari kalian kebenaran kerajaan, namun kalian dikuasai oleh motif-motif jasmani bukan pertimbangan-pertimbangan rohani. Apakah kalian tidak pernah membaca dalam Kitab Suci di mana Musa menegur anak-anak Israel yang tidak percaya, dengan mengatakan: ‘Janganlah takut, berdirilah tenang dan lihatlah keselamatan dari TUHAN,’? Kata sang penyanyi itu: 'Percayalah kepada TUHAN.' 'Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!.' 'Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN , maka Ia akan memelihara engkau! Percayalah kepada-Nya setiap waktu, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.' 'Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa.' 'Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada (raja-raja) manusia.'

“Dan sekarang kalian semua melihat bahwa pekerjaan mujizat dan pertunjukan keajaiban jasmani itu tidak akan memenangkan jiwa-jiwa bagi kerajaan rohani? Kita memberi makan orang banyak, tetapi itu tidak membuat mereka kelaparan untuk roti hidup ataupun haus akan air kebenaran rohani. Ketika rasa lapar mereka dipuaskan, mereka tidak berusaha masuk ke dalam kerajaan surga melainkan berusaha untuk memproklamirkan Anak Manusia menjadi raja menurut cara raja-raja dunia ini, hanya agar mereka bisa terus makan roti tanpa harus bekerja keras untuk itu. Dan semua ini, yang di dalamnya banyak dari kalian sedikit banyaknya telah ikut serta, tidak berbuat apapun untuk mewahyukan Bapa surgawi atau untuk memajukan kerajaan-Nya di bumi. Apakah kita tidak cukup musuh di kalangan pemimpin agama negeri ini tanpa berbuat hal yang mungkin akan menjauhkan juga para penguasa sipil? Aku berdoa agar Bapa akan mengurapi mata kalian sehingga kalian dapat melihat dan membuka telinga agar kalian bisa mendengar, sampai akhirnya agar kalian memiliki keyakinan penuh dalam injil yang telah aku ajarkan.”

Yesus kemudian mengumumkan bahwa dia ingin menarik diri selama beberapa hari istirahat dengan para rasulnya sebelum mereka bersiap-siap untuk pergi ke Yerusalem merayakan Paskah, dan dia melarang semua murid atau orang banyak untuk mengikutinya. Oleh karena itu mereka pergi naik kapal ke kawasan Genesaret selama dua atau tiga hari istirahat dan tidur. Yesus sedang mempersiapkan diri untuk suatu krisis besar hidupnya di bumi, dan oleh karena itu dia menghabiskan banyak waktu dalam persekutuan dengan Bapa di surga.

Kabar tentang memberi makan lima ribu orang dan upaya untuk membuat Yesus raja membangkitkan rasa ingin tahu yang luas dan menimbulkan ketakutan baik pemimpin agama maupun penguasa sipil di seluruh Galilea dan Yudea. Meskipun keajaiban besar ini tidak berbuat apa pun untuk memajukan injil kerajaan dalam jiwa orang percaya yang berpikiran jasmani dan setengah hati itu, namun hal itu berguna menjadi titik balik terhadap kecenderungan mencari-mujizat dan merindukan-raja di kalangan keluarga langsung para rasul dan murid-murid dekat Yesus sendiri. Episode spektakuler ini mengakhiri era mula-mula pengajaran, pelatihan, dan penyembuhan, sehingga mempersiapkan jalan pada tahun terakhir ini untuk memulai pemberitaan fase-fase yang lebih tinggi dan lebih rohani dari injil baru kerajaan itu—yaitu keanakan ilahi, kebebasan rohani, dan keselamatan kekal.

6. Di Genesaret

Sementara beristirahat di rumah seorang percaya yang kaya di kawasan Genesaret, Yesus mengadakan pembicaraan informal dengan duabelas setiap sore. Para duta besar kerajaan itu menjadi kelompok orang tersadar yang serius, tenang, dan menahan diri. Tapi sekalipun semua yang telah terjadi, dan seperti yang ditunjukkan oleh kejadian-kejadian selanjutnya, duabelas orang itu belum sepenuhnya dilepaskan dari anggapan mereka yang telah mendarah daging dan tersimpan lama tentang kedatangan sang Mesias Yahudi. Peristiwa-peristiwa beberapa minggu sebelumnya telah bergerak terlalu cepat bagi para nelayan yang terheran-heran itu sehingga mereka belum mengerti makna penuhnya. Memang perlu waktu bagi pria dan wanita untuk menghasilkan perubahan yang radikal dan luas dalam konsep dasar dan fundamental mereka tentang perilaku sosial, sikap filosofis, dan keyakinan keagamaan.

Sementara Yesus dan duabelas sedang beristirahat di Genesaret, orang banyak itu tersebar, beberapa pulang ke rumah mereka, yang lain pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Dalam waktu kurang dari satu bulan para pengikut Yesus yang antusias dan terbuka, yang berjumlah lebih dari limapuluh ribu di Galilea saja, menyusut menjadi kurang dari lima ratus orang. Yesus berniat untuk memberikan rasul-rasulnya pengalaman tentang berubah-ubahnya pengakuan populer tersebut agar mereka tidak akan tergoda untuk bergantung pada manifestasi histeria keagamaan seperti itu setelah dia nanti meninggalkan mereka sendirian dalam pekerjaan kerajaan, tetapi dia hanya sebagian berhasil dalam upaya ini.

Malam kedua kunjungan mereka di Genesaret Guru menceritakan lagi kepada para rasul perumpamaan tentang penabur dan menambahkan kata-kata ini: “Kalian lihat, anak-anakku, seruan (daya penarik) kepada perasaan manusia itu hanya sementara dan sama sekali mengecewakan; seruan yang semata-mata ditujukan pada akal kecerdasan manusia adalah juga kosong dan mandul; hanya dengan membuat seruanmu kepada roh yang hidup dalam batin manusia itulah maka kalian dapat berharap untuk mencapai keberhasilan yang langgeng dan mencapai transformasi karakter manusia yang menakjubkan itu yang akan segera muncul dalam dihasilkannya secara berlimpah buah-buah sejati dari roh di dalam kehidupan sehari-hari semua orang yang dibebaskan seperti itu dari gelapnya kebimbangan oleh kelahiran roh ke dalam terang iman—yaitu kerajaan surga."

Yesus mengajarkan seruan pada emosi sebagai teknik untuk menangkap dan memusatkan perhatian intelektual. Dia menyebut batin yang dirangsang dan dibangkitkan tersebut sebagai pintu gerbang menuju jiwa, dimana di sana berdiam kodrat rohani manusia itu yang pasti mengenali kebenaran dan menanggapi seruan rohani dari injil itu agar dapat menghasilkan hasil-hasil tetap yaitu perubahan-perubahan karakter yang sejati.

Yesus dengan demikian berusaha untuk mempersiapkan para rasul untuk kejutan yang sedang mendekat—krisis dalam sikap publik terhadap dirinya yang akan terjadi hanya beberapa hari ke depan. Dia menjelaskan kepada duabelas bahwa penguasa agama di Yerusalem akan bersekongkol dengan Herodes Antipas untuk menghancurkan mereka. Duabelas mulai menyadari lebih sepenuhnya (meskipun tidak pada akhirnya) bahwa Yesus tidak akan duduk di atas takhta Daud. Mereka melihat lebih sepenuhnya bahwa kebenaran spiritual itu tidak akan dimajukan oleh keajaiban material. Mereka mulai menyadari bahwa memberi makan lima ribu dan gerakan populer rakyat untuk menjadikan Yesus raja itu adalah titik puncak orang banyak mencari-mujizat, harapan akan pekerjaan-ajaib, dan puncak rakyat mengelu-elukan Yesus. Mereka dengan samar-samar melihat dan dengan suram meramalkan akan mendekatnya masa-masa penampian rohani dan permusuhan yang kejam. Duabelas orang ini perlahan-lahan terbangun pada kesadaran tentang sifat sebenarnya dari tugas mereka sebagai duta-duta kerajaan, dan mereka mulai melengkapi diri mereka menghadapi cobaan-cobaan yang sulit dan menguji pada tahun terakhir pelayanan Guru di bumi.

Sebelum mereka meninggalkan Genesaret, Yesus mengajar mereka mengenai hal memberi makan lima ribu secara ajaib itu, memberitahu mereka mengapa dia melakukan manifestasi daya cipta yang luar biasa ini dan juga meyakinkan mereka bahwa dia tidak menyerah begitu saja pada simpatinya terhadap orang banyak sampai dia telah memastikan bahwa hal itu “sesuai dengan kehendak Bapa.”

7. Di Yerusalem

Minggu, 3 April, disertai hanya oleh duabelas rasul, Yesus berangkat dari Betsaida dalam perjalanan ke Yerusalem. Untuk menghindari orang banyak dan untuk menarik sesedikit mungkin perhatian, mereka berangkat melalui jalan Gerasa dan Filadelfia. Dia melarang mereka untuk melakukan pengajaran publik apapun pada perjalanan ini; dia juga tidak mengizinkan mereka untuk mengajar atau berkhotbah saat berkunjung di Yerusalem. Mereka tiba di Betania, dekat Yerusalem, sudah larut malam pada hari Rabu, 6 April. Selama semalam ini mereka singgah di rumah Lazarus, Marta dan Maria, tetapi keesokan harinya mereka berpisah. Yesus, dengan Yohanes, tinggal di rumah seorang percaya yang bernama Simon, dekat rumah Lazarus di Betania. Yudas Iskariot dan Simon Zelot menginap dengan teman-teman di Yerusalem, sedangkan para rasul sisanya tinggal, berdua-dua, di rumah-rumah yang berbeda.

Yesus masuk ke Yerusalem hanya sekali selama Paskah ini, dan itu adalah pada hari puncak perayaan itu. Banyak orang percaya di Yerusalem dibawa keluar oleh Abner untuk bertemu Yesus di Betania. Selama tinggal di Yerusalem ini duabelas belajar bagaimana menjadi bencinya perasaan orang terhadap Guru mereka. Mereka berangkat dari Yerusalem semua percaya bahwa ada suatu krisis yang akan terjadi.

Pada hari Minggu, 24 April, Yesus dan para rasul meninggalkan Yerusalem ke Betsaida, melalui kota-kota pantai Yope (Joppa), Kaisarea, dan Ptolemais. Dari situ, ke pedalaman mereka melalui Rama dan Khorazim ke Betsaida, tiba pada hari Jumat, 29 April. Segera setelah mencapai rumah, Yesus mengirimkan Andreas untuk meminta izin pemimpin rumah ibadat untuk berbicara keesokan harinya, yang adalah hari Sabat, pada ibadah sore hari. Dan Yesus tahu benar bahwa kesempatan itu akan menjadi yang terakhir kalinya dia diizinkan untuk berbicara di sinagog Kapernaum.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved