Makalah 151: Menunggu dan Mengajar di Tepi Danau

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 151

Menunggu dan Mengajar di Tepi Danau

PADA tanggal 10 Maret semua kelompok pengkhotbah dan pengajar telah berkumpul di Betsaida. Kamis malam dan Jumat banyak dari mereka keluar menangkap ikan, sementara pada hari Sabat mereka menghadiri sinagog untuk mendengar seorang Yahudi lanjut usia dari Damaskus berceramah tentang kemuliaan bapa Abraham. Yesus menghabiskan sebagian besar hari Sabat ini sendirian di perbukitan. Pada hari Sabtu malam itulah Guru berbicara selama lebih dari satu jam kepada kelompok yang berkumpul tentang “Maksud kesulitan dan nilai rohani kekecewaan.” Acara ini berkesan, dan para pendengarnya tidak pernah melupakan pelajaran yang dia sampaikan.

Yesus belum sepenuhnya pulih dari kesedihan karena penolakan terhadap dirinya baru-baru ini di Nazaret; para rasul menyadari adanya kesedihan yang tidak biasa bercampur dengan sikapnya yang biasanya ceria. Yakobus dan Yohanes bersama-sama dengan dia sebagian besar waktu, Petrus menjadi lebih dari sibuk dengan banyak tanggung jawab yang berkaitan dengan kesejahteraan dan kepemimpinan korps penginjil yang baru. Waktu untuk menunggu sebelum berangkat ke Paskah di Yerusalem ini, digunakan para wanita untuk berkunjung dari rumah ke rumah, mengajarkan injil, dan melayani orang sakit di Kapernaum dan kota-kota serta desa-desa sekitarnya.

1. Perumpamaan tentang Penabur

Sekitar saat inilah Yesus pertama kali mulai menggunakan metode perumpamaan untuk mengajar orang banyak yang begitu sering berkumpul di sekitar dia. Karena Yesus telah berbicara dengan rasul-rasul dan yang lain sampai larut malam, maka pada hari Minggu pagi ini sangat sedikit dari kelompok itu yang bangun untuk sarapan; jadi dia pergi ke pantai dan duduk sendirian di perahu, yaitu perahu penangkapan ikan lama milik Andreas dan Petrus, yang selalu tersedia untuknya, dan merenungkan langkah selanjutnya yang akan dilakukan dalam pekerjaan memperluas kerajaan. Tetapi Guru tidak lama sendirian. Segera orang-orang dari Kapernaum dan desa-desa berdekatan mulai berdatangan, dan pada pukul sepuluh pagi itu hampir seribu orang berkumpul di pantai dekat perahu Yesus dan ribut meminta perhatian. Petrus sekarang bangun, dan sambil berjalan ke perahu, berkata kepada Yesus, “Guru, apakah aku harus bicara pada mereka?” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak, Petrus, aku akan menceritakan mereka suatu kisah.” Lalu Yesus mulai menceritakan perumpamaan tentang penabur, satu yang pertama dari serangkaian panjang perumpamaan yang dia ajarkan kepada kerumunan orang yang mengikutinya. Perahu ini memiliki tempat duduk yang dinaikkan dimana dia duduk (menjadi kebiasaannya untuk duduk ketika mengajar) sementara dia berbicara kepada orang banyak yang berkumpul sepanjang pantai. Setelah Petrus mengucapkan beberapa patah kata, Yesus berkata:

“Adalah seorang penabur keluar untuk menabur, dan terjadilah ketika ia menabur bahwa beberapa benih itu jatuh di pinggir jalan sehingga terinjak-injak kaki orang dan dimakan oleh burung-burung di angkasa. Benih lain jatuh di tempat berbatu-batu dimana tanahnya sedikit, dan langsung bertunas karena tidak dalam di tanah, tetapi segera setelah matahari bersinar, ia menjadi layu karena tidak punya akar untuk mendapatkan air. Benih yang lain jatuh di tengah semak duri, dan saat duri itu tumbuh, tanaman itu terhimpit sehingga tidak menghasilkan gandum. Masih ada benih yang lain jatuh di tanah yang baik, dan tumbuh, menghasilkan, ada yang tiga puluh kali, beberapa enam puluh kali, dan ada yang seratus kali lipat.” Dan setelah dia selesai menyampaikan perumpamaan ini, dia berkata kepada orang banyak, “Siapa yang memiliki telinga untuk mendengar, biarlah ia mendengar.”

Para rasul dan orang-orang yang bersama mereka, ketika mereka mendengar Yesus mengajar orang-orang dengan cara ini, menjadi sangat bingung; dan setelah banyak berbicara antara mereka sendiri, malam itu di taman Zebedeus, Matius berkata kepada Yesus: “Guru, apa arti dari perkataan-perkataan tidak jelas yang engkau sampaikan pada orang banyak? Mengapa engkau berbicara dalam perumpamaan kepada mereka yang mencari kebenaran?” Dan Yesus menjawab:

“Dengan sabar aku telah mengajar kamu selama ini. Kepada kamu diberikan untuk mengetahui rahasia-rahasia kerajaan surga, tetapi untuk orang banyak yang tidak memahami dan pada mereka yang mengusahakan kehancuran kita, dari sekarang, rahasia kerajaan tersebut akan disampaikan dalam perumpamaan. Dan ini akan kita lakukan sehingga mereka yang benar-benar ingin masuk kerajaan dapat memahami makna ajaran dan dengan demikian menemukan keselamatan, sementara mereka yang mendengarkan hanya untuk menjerat kita mungkin menjadi lebih bingung sehingga mereka akan melihat tanpa mengerti dan mendengar tanpa mendengarkan. Anak-anakku, apakah kamu tidak melihat hukum roh yang menetapkan bahwa siapa yang memiliki akan diberi sehingga ia akan memiliki kelimpahan; tapi dari siapa yang tidak memiliki akan diambil bahkan apa yang ia miliki. Oleh karena itu aku akan selanjutnya berbicara kepada orang-orang itu kebanyakan dalam perumpamaan dengan tujuan agar teman-teman kita dan mereka yang ingin mengetahui kebenaran bisa menemukan apa yang mereka cari, sementara musuh-musuh kita dan mereka yang tidak mencintai kebenaran bisa mendengar tanpa pemahaman. Banyak dari orang-orang ini tidak mengikuti jalan kebenaran. Nabi memang menggambarkan semua jiwa yang tidak melihat seperti itu ketika ia berkata: ‘Karena hati bangsa ini keras dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.’”

Para rasul tidak sepenuhnya memahami arti kata-kata Guru. Ketika Andreas dan Tomas berbicara lebih lanjut dengan Yesus, Petrus dan para rasul lainnya menyingkir ke bagian lain taman dimana mereka terlibat dalam diskusi serius dan berkepanjangan.

2. Penafsiran tentang Perumpamaan

Petrus dan kelompoknya sampai pada kesimpulan bahwa perumpamaan tentang penabur itu adalah sebuah kiasan, bahwa masing-masing fiturnya memiliki beberapa makna tersembunyi, sehingga mereka memutuskan untuk pergi kepada Yesus dan meminta penjelasan. Oleh karena itu, Petrus mendekati Guru, mengatakan: “Kami tidak mampu menembus makna perumpamaan ini, dan kami ingin agar engkau menjelaskan kepada kami karena engkau mengatakan diberikan kepada kami untuk mengetahui rahasia kerajaan.” Dan ketika Yesus mendengar ini, dia berkata kepada Petrus: “Anakku, aku ingin untuk tidak menahan apapun dari kamu, tapi pertama-tama bolehkah kamu ceritakan apa yang telah kamu bicarakan; apa penafsiranmu tentang perumpamaan itu?”

Setelah hening sejenak, Petrus berkata: "Guru, kami telah membahas banyak mengenai perumpamaan itu, dan ini adalah tafsiran yang aku telah tentukan: Penabur itu adalah pengkhotbah injil; benihnya adalah firman Tuhan. Benih yang jatuh di pinggir jalan merupakan orang-orang yang tidak memahami ajaran injil. Burung-burung yang mematuk benih yang jatuh di tanah yang keras itu merupakan Setan, atau si jahat, yang mencuri apa yang telah ditaburkan dalam hati orang-orang bodoh ini. Benih yang jatuh di tempat berbatu-batu, dan yang bertunas begitu mendadak, merupakan orang-orang yang dangkal dan tidak berpikir, yang ketika mereka mendengar kabar gembira, menerima pesan itu dengan sukacita; tetapi karena kebenaran tidak memiliki akar yang nyata dalam pemahaman mereka yang lebih dalam, pengabdian mereka berusia pendek menghadapi kesusahan dan penganiayaan. Ketika masalah datang, orang-orang percaya ini jatuh; mereka murtad ketika dicobai. Benih yang jatuh di tengah semak duri merupakan orang-orang yang mendengar firman dengan rela hati, tetapi yang mengizinkan kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman kebenaran itu sehingga menjadi tidak berbuah. Adapun benih yang jatuh di tanah yang baik dan tumbuh untuk berbuah, ada yang tiga puluh, ada yang enam puluh, dan ada yang seratus kali lipat, merupakan orang-orang, yang setelah mereka mendengar kebenaran, menerimanya dengan berbagai tingkat penghargaan -- karena kemampuan kecerdasan mereka yang berbeda-beda -- dan karenanya menghasilkan berbagai tingkat pengalaman beragama ini.”

Yesus, setelah mendengarkan penafsiran Petrus tentang perumpamaan itu, meminta para rasul yang lain jika mereka juga memiliki saran untuk disampaikan. Terhadap undangan ini hanya Natanael yang menanggapi. Katanya: “Guru, meskipun aku mengakui banyak hal baik tentang penafsirannya Simon Petrus tentang perumpamaan itu, aku tidak sepenuhnya setuju dengan dia. Gagasanku tentang perumpamaan ini adalah: Benih itu merupakan injil kerajaan, sedangkan penabur mewakili utusan-utusan kerajaan. Benih yang jatuh di tepi jalan pada tanah yang dikeraskan itu merupakan orang-orang yang telah mendengar hanya sedikit tentang injil, bersama dengan mereka yang acuh tak acuh terhadap pesan itu, dan yang telah mengeraskan hati mereka. Burung-burung dari langit yang mematuk benih yang jatuh di pinggir jalan merupakan kebiasaan hidup seseorang, godaan kejahatan, dan keinginan daging. Benih yang jatuh di antara bebatuan merupakan jiwa-jiwa emosional tertentu yang cepat untuk menerima ajaran baru dan sama cepatnya untuk melepaskan kebenaran ketika dihadapkan dengan kesulitan dan kenyataan menghidupi kebenaran ini; mereka kurang memiliki daya paham rohani. Benih yang jatuh di tengah semak duri merupakan orang-orang yang tertarik pada kebenaran injil; mereka ingin mengikuti ajaran-ajarannya, tetapi mereka dicegah oleh keangkuhan hidup, kecemburuan, iri hati, dan kecemasan kehidupan manusia. Benih yang jatuh di tanah yang baik, bertumbuh dan berbuah, ada yang tiga puluh, ada yang enam puluh, dan ada yang seratus kali lipat, merupakan tingkat kemampuan yang alami dan beragam untuk memahami kebenaran dan menanggapi ajaran rohaninya, oleh pria dan wanita yang memiliki kemampuan bawaan berbeda-beda untuk pencerahan roh.”

Setelah Natanael selesai berbicara, para rasul dan rekan-rekan mereka masuk ke dalam diskusi serius dan terlibat dalam perdebatan sungguh-sungguh, beberapa membela kebenaran tafsiran Petrus, sementara hampir sejumlah yang sama berusaha untuk mempertahankan penjelasan Natanael terhadap perumpamaan itu. Sementara itu Petrus dan Natanael telah menyingkir ke rumah, dimana mereka terlibat dalam upaya bersemangat dan bertekad dimana yang satu hendak meyakinkan dan mengubah pikiran yang lain.

Guru mengizinkan kebingungan ini untuk melewati titik ekspresi yang paling keras; maka dia bertepuk tangan dan memanggil mereka datang seputar dia. Setelah mereka semua berkumpul di sekelilingnya sekali lagi, dia berkata, “Sebelum aku memberitahu kalian tentang perumpamaan ini, apakah dari kalian ada apapun yang mau dikatakan?” Setelah hening sesaat, Tomas angkat bicara: “Ya, Guru, aku ingin mengatakan beberapa kata. Aku ingat bahwa engkau pernah mengatakan kepada kami untuk berhati-hati terhadap hal yang ini. Engkau mengajar kami bahwa, bila menggunakan ilustrasi untuk pemberitaan kita, kita harus menggunakan kisah nyata, bukan dongeng, dan bahwa kita harus memilih cerita yang paling sesuai untuk gambaran tentang satu kebenaran pokok dan penting yang kita ingin ajarkan pada orang-orang, dan bahwa, setelah menggunakan cerita tersebut, kita tidak boleh berusaha untuk membuat penerapan rohani dari semua rincian kecil yang tercakup dalam penceritaan kisah itu. Aku yakin bahwa Petrus dan Natanael keduanya salah dalam upaya mereka untuk menafsirkan perumpamaan ini. Aku mengagumi kemampuan mereka untuk melakukan hal-hal ini, tapi aku juga yakin bahwa semua upaya tersebut untuk membuat perumpamaan alami agar menghasilkan persamaan rohani dalam semua ciri-cirinya itu hanya dapat mengakibatkan kebingungan dan kesalah-pahaman serius terhadap tujuan sebenarnya dari perumpamaan tersebut. Bahwa aku benar sepenuhnya dibuktikan oleh kenyataan bahwa, meskipun kami semua satu pikiran satu jam yang lalu, sekarang kami terbagi menjadi dua kelompok terpisah yang memiliki pendapat yang berbeda tentang perumpamaan ini dan memegang pendapat tersebut begitu sungguh-sungguh sehingga mengganggu, menurut pendapatku, pada kemampuan kami sepenuhnya untuk memahami kebenaran besar yang engkau pikirkan ketika engkau menyampaikan perumpamaan ini kepada orang banyak dan kemudian meminta kami untuk membuat komentar terhadapnya.”

Kata-kata yang diucapkan Tomas memiliki efek mendiamkan mereka semua. Ia menyebabkan mereka untuk mengingat apa yang Yesus telah ajarkan mereka pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, dan sebelum Yesus melanjutkan kembali berbicara, Andreas bangkit, mengatakan: “Aku diyakinkan bahwa Tomas itu benar, dan aku ingin minta dia memberitahu kita apa makna perumpamaan tentang penabur ini menurut dia.” Setelah Yesus memberi isyarat Tomas untuk berbicara, ia berkata: “Saudara-saudaraku, aku tidak ingin memperpanjang diskusi ini, tetapi jika kamu inginkan, aku akan mengatakan bahwa aku pikir perumpamaan ini dikatakan untuk mengajarkan kita satu kebenaran besar. Dan itu adalah bahwa pengajaran kita tentang injil kerajaan, tidak peduli seberapa setia dan efisien kita menjalankan tugas ilahi kita, akan disertai oleh berbagai tingkat keberhasilan; dan bahwa semua perbedaan hasil tersebut adalah secara langsung karena kondisi-kondisi yang ada dalam keadaan-keadaan pelayanan kita, kondisi-kondisi dimana kita memiliki sedikit atau tanpa kendali.”

Setelah Tomas selesai berbicara, mayoritas sesama pengkhotbah hendak siap untuk setuju dengan dia, bahkan Petrus dan Natanael melangkah hendak berbicara dengan dia, ketika Yesus bangkit dan berkata: “Baik sekali, Tomas; kamu telah memahami makna sebenarnya dari perumpamaan itu; namun Petrus maupun Natanael telah berbuat sama baiknya dalam hal mereka telah begitu sepenuhnya menunjukkan bahaya usaha untuk membuat sebuah kiasan dari perumpamaanku. Dalam hatimu sendiri, kamu mungkin sering terlibat secara bermanfaat dalam imajinasi spekulatif demikian, tetapi kamu membuat kesalahan kalau kamu berusaha untuk menawarkan kesimpulan seperti itu sebagai bagian dari ajaranmu di depan umum.”

Kini ketegangan itu berakhir, Petrus dan Natanael saling memberi selamat atas tafsiran mereka, dan dengan pengecualian si kembar Alfeus, masing-masing dari para rasul mencoba untuk membuat penafsiran atas perumpamaan tentang penabur itu sebelum mereka beristirahat malam. Bahkan Yudas Iskariot menawarkan penafsiran yang sangat masuk akal. Dua belas rasul itu sering, di antara mereka sendiri, berusaha untuk menafsirkan perumpamaan-perumpamaan Guru seperti halnya itu sebuah kiasan, tetapi tidak pernah lagi mereka menganggap spekulasi-spekulasi seperti itu dengan serius. Ini adalah sesi yang sangat bermanfaat bagi para rasul dan rekan-rekan mereka, terutama karena sejak saat itu Yesus semakin banyak menggunakan perumpamaan sehubungan dengan pengajarannya di depan umum.

3. Lebih Lanjut tentang Perumpamaan

Para rasul itu suka perumpamaan, begitu rupa sehingga malam berikutnya seluruhnya dikhususkan untuk diskusi lebih lanjut tentang perumpamaan. Yesus mengantarkan konferensi malam itu dengan mengatakan: “Kekasih-kekasihku, kamu harus selalu membuat perbedaan dalam mengajar sehingga menyesuaikan presentasi kebenaranmu terhadap pikiran dan hati yang kamu hadapi. Ketika kamu berdiri di hadapan orang banyak dengan berbagai kecerdasan dan temperamen, kamu tidak dapat mengucapkan kata-kata yang berbeda untuk setiap kelas pendengar, tetapi kamu dapat menceritakan sebuah kisah untuk menyampaikan pengajaranmu; dan masing-masing kelompok, bahkan masing-masing individu, akan mampu membuat penafsirannya sendiri terhadap perumpamaan kamu sesuai dengan kemampuan kecerdasan dan rohani mereka masing-masing. Kamu akan membuat terangmu bercahaya tetapi lakukanlah dengan hikmat dan kearifan. Tidak ada orang, ketika ia menyalakan lampu, menutupinya dengan bejana atau menempatkannya di bawah tempat tidur; ia menempatkan lampunya pada dudukan lampu supaya semua bisa melihat terang. Biarkan aku memberitahukan kepadamu bahwa tidak ada yang tersembunyi dalam kerajaan surga yang tidak akan dinyatakan; juga tidak ada rahasia apapun yang tidak akan pada akhirnya diketahui. Pada akhirnya, semua hal ini akan diterangi. Jangan pikirkan hanya orang banyak dan bagaimana mereka mendengar kebenaran; perhatikanlah baik-baik bagaimana kamu mendengar. Ingatlah bahwa aku telah berkali-kali memberitahu kamu: Siapa yang telah memiliki akan diberikan lebih, sedangkan dari siapa yang tidak memiliki akan diambil bahkan apa yang ia pikir ia miliki.”

Pembahasan berikutnya tentang perumpamaan dan pengajaran lebih lanjut mengenai penafsirannya dapat diringkas dan dinyatakan dalam ungkapan kalimat modern sebagai berikut:

1. Yesus menyarankan untuk tidak menggunakan kisah dongeng ataupun kiasan dalam mengajarkan kebenaran injil. Dia memang merekomendasikan penggunaan bebas terhadap perumpamaan, khususnya perumpamaan tentang alam. Dia menekankan nilai memanfaatkan analogi (kesamaan) yang ada antara wilayah-wilayah alam dan rohani sebagai sarana mengajarkan kebenaran. Dia sering menyebut alam itu sebagai “bayangan yang tidak nyata dan cepat berlalu dari kenyataan-kenyataan roh.”

2. Yesus menceritakan tiga atau empat perumpamaan dari kitab suci Ibrani, menarik perhatian pada fakta bahwa metode mengajar ini tidak sepenuhnya baru. Namun demikian, hal itu menjadi hampir sebuah metode pengajaran baru saat dia menggunakannya mulai dari waktu ini selanjutnya.

3. Dalam mengajari para rasul tentang nilai-nilai perumpamaan, Yesus menujukan perhatian pada poin-poin berikut:

Perumpamaan memberikan suatu daya tarik serentak kepada tingkat-tingkat pikiran dan jiwa yang sangat berbeda-beda. Perumpamaan merangsang imajinasi, menantang pembeda-bedaan, dan memancing pemikiran kritis; perumpamaan itu meningkatkan simpati tanpa membangkitkan permusuhan.

Perumpamaan itu berangkat dari hal-hal yang diketahui menuju pemahaman hal-hal yang tidak diketahui. Perumpamaan menggunakan yang material dan natural sebagai sarana untuk memperkenalkan yang spiritual dan yang supramaterial.

Perumpamaan mendukung pembuatan keputusan-keputusan moral yang tidak memihak. Perumpamaan menghindarkan banyak prasangka dan menempatkan kebenaran baru dengan nyaman ke dalam pikiran dan melakukan semua ini dengan membangkitkan minimum pembelaan diri yang berasal dari kebencian pribadi.

Untuk menolak kebenaran yang terkandung dalam analogi perumpamaan itu diperlukan tindakan intelektual sadar yang langsung melanggar penilaian jujur ​​dan keputusan adil seseorang. Perumpamaan membantu untuk memaksakan pemikiran melalui indra pendengaran.

Penggunaan bentuk perumpamaan untuk mengajar memungkinkan guru untuk menyajikan kebenaran baru dan bahkan kebenaran yang mengejutkan sementara pada saat yang sama ia sebagian besar menghindari semua kontroversi dan bentrok yang kelihatan dengan tradisi dan otoritas yang sudah mapan.

Perumpamaan ini juga memiliki keuntungan merangsang memori tentang kebenaran yang diajarkan ketika adegan yang sama seperti dalam perumpamaan itu kemudian ditemui lagi.

Dengan cara ini Yesus berusaha untuk memperkenalkan pengikutnya dengan banyak alasan yang mendasari prakteknya untuk semakin menggunakan perumpamaan dalam pengajaran publiknya.

Menjelang penutupan dari pelajaran malam itu Yesus membuat komentar pertamanya pada perumpamaan tentang penabur. Ia mengatakan perumpamaan ini mengacu pada dua hal: Pertama, perumpamaan penabur itu adalah tinjauan atas pelayanannya sendiri sampai saat itu dan suatu prakiraan apa yang ada di depannya selama sisa hidupnya di bumi. Dan kedua, itu juga petunjuk apa yang bisa diharapkan para rasul dan utusan kerajaan lain dalam pelayanan mereka dari generasi ke generasi seiring waktu berlalu.

Yesus juga beralih menggunakan perumpamaan sebagai sanggahan terbaik yang mungkin terhadap upaya disengaja dari para pemimpin agama di Yerusalem untuk mengajarkan bahwa semua karyanya dilakukan oleh bantuan setan dan para penghulu iblis. Daya tarik pada alam itu bertentangan dengan ajaran tersebut karena orang-orang dari masa itu memandang semua fenomena alam sebagai produk dari tindakan langsung dari sosok-sosok rohani dan kekuatan-kekuatan supranatural. Dia juga bertekad memakai metode mengajar ini karena memungkinkan dia untuk memberitakan kebenaran-kebenaran pokok bagi mereka yang ingin mengetahui jalan yang lebih baik sementara pada saat yang sama menyediakan musuh-musuhnya lebih sedikit kesempatan untuk menemukan alasan menyerang dan tuduhan melawan dirinya.

Sebelum ia membubarkan kelompok untuk malam itu, Yesus berkata: “Sekarang aku akan memberitahu kamu yang terakhir dari perumpamaan tentang penabur. Aku akan menguji kamu untuk mengetahui bagaimana kamu akan menerima ini: kerajaan surga adalah juga seperti seorang yang melemparkan benih yang baik ke atas bumi; dan sementara ia tidur di malam hari dan pergi untuk urusannya di siang hari, benih itu bertunas dan tumbuh, dan meskipun ia tidak tahu bagaimana hal itu terjadi, tanaman itu berbuah. Pertama ada helai daun, kemudian malai, lalu biji-bijian penuh di malai itu. Dan kemudian setelah gandum itu menguning, ia mengeluarkan sabit, dan panen diselesaikan. Siapa yang memiliki telinga untuk mendengar, biarlah ia mendengar."

Banyak kali para rasul memikir-mikirkan perkataan ini dalam pikiran mereka, namun Guru tidak pernah menyebut lebih lanjut tentang penambahan terhadap perumpamaan tentang penabur ini.

4. Perumpamaan Lagi di Tepi Danau

Hari berikutnya Yesus kembali mengajar orang-orang dari perahu, mengatakan: “Kerajaan surga itu seperti seseorang yang menabur benih yang baik di ladangnya; tapi sementara ia tidur, musuhnya datang dan menaburkan benih lalang di antara gandum itu dan bergegas pergi. Dan demikianlah ketika daun muda bertunas dan belakangan hendak menghasilkan buah, muncul juga lalang itu. Kemudian pelayan rumah tangga ini datang dan berkata kepadanya: “Pak, bukankah engkau menabur benih yang baik di ladangmu? Lalu dari mana datangnya lalang ini?” Dan dia menjawab kepada hamba-hambanya, ‘Seorang musuh yang melakukan ini.’ Para pelayan kemudian meminta tuan mereka, ‘Maukah engkau memperbolehkan kami keluar dan mencabuti lalang ini?’ Tapi dia menjawab mereka dan berkata: “Tidak, supaya jangan sampai waktu kamu mencabutnya, kamu mencabut gandumnya juga. Lebih baik biarkan mereka keduanya tumbuh bersama sampai waktu panen, ketika aku akan mengatakan kepada para pemanen, Kumpulkan pertama lalang dan ikat mereka dalam berkas untuk dibakar dan kemudian kumpulkan gandum untuk disimpan di lumbungku.’”

Setelah orang menanyakan beberapa pertanyaan, Yesus mengatakan perumpamaan lain: “Kerajaan surga adalah seperti biji mustard yang ditaburkan seseorang di ladangnya. Adapun biji mustard (moster) itu adalah benih yang terkecil, tetapi jika sudah bertumbuh penuh, itu menjadi yang terbesar dari semua tanaman bumbu dan seperti pohon sehingga burung-burung dapat datang dan beristirahat di ranting-rantingnya.”

“Kerajaan surga itu juga seperti ragi yang diambil seorang wanita dan dicampurkan dalam tiga takaran tepung, dan dengan cara ini terjadilah bahwa seluruh tepung itu diragikan.”

“Kerajaan surga adalah juga seperti harta yang terpendam di suatu ladang, yang ditemukan seseorang. Dalam kegembiraannya ia pergi untuk menjual semua yang ia miliki supaya ia mempunyai uang untuk membeli ladang itu.”

“Kerajaan surga juga seperti seorang pedagang yang mencari mutiara yang bagus; dan setelah menemukan satu mutiara yang bernilai tinggi, ia pergi dan menjual seluruh miliknya agar ia bisa membeli mutiara yang luar biasa itu.”

“Lagi, kerajaan surga adalah seperti pukat penyapu yang dilemparkan ke laut, dan jaring itu mengumpulkan setiap jenis ikan. Lalu, setelah jaring itu penuh, para nelayan menariknya ke pantai, dimana mereka duduk dan memilah ikan, mengumpulkan yang baik ke dalam wadah sedangkan yang jelek mereka buang.”

Banyak lagi perumpamaan lain Yesus katakan kepada orang banyak. Kenyataannya, dari waktu ini dan selanjutnya dia jarang mengajar orang banyak kecuali dengan cara ini. Setelah berbicara kepada khalayak umum dalam perumpamaan, dia akan, selama kelas-kelas malam, lebih lengkap dan secara gamblang menjelaskan ajaran-ajarannya kepada para rasul dan penginjil.

5. Kunjungan ke Kheresa

Orang banyak terus bertambah sepanjang minggu. Pada hari Sabat, Yesus bergegas pergi ke perbukitan, tetapi ketika Minggu pagi tiba, orang banyak kembali datang. Yesus berbicara kepada mereka pada sore hari setelah pemberitaan Petrus, dan setelah selesai, dia berkata kepada para rasulnya: “Aku lelah terhadap kerumunan orang banyak; marilah kita menyeberang ke sisi lain sehingga kita bisa beristirahat untuk sehari.”

Pada perjalanan menyeberang danau itu mereka menjumpai salah satu angin badai yang ganas dan mendadak yang merupakan ciri khas dari Danau Galilea, terutama pada musim ini. Kumpulan air ini sekitar dua ratus meter di bawah permukaan laut dan dikelilingi oleh tepian tinggi, terutama di sebelah barat. Ada ngarai-ngarai curam mengarah naik dari danau ke bukit-bukit, dan ketika udara yang dipanaskan naik dalam suatu kantong di atas danau pada siang hari, ada kecenderungan setelah matahari terbenam udara dingin dari ngarai-ngarai itu bertiup turun ke danau. Angin-angin kencang ini datang dengan cepat dan kadang-kadang pergi sama tiba-tibanya.

Badai petang semacam itulah yang menyergap kapal yang membawa Yesus ke sisi lain pada hari Minggu malam ini. Tiga kapal lain yang berisi beberapa penginjil muda sedang membuntuti di belakang. Prahara ini parah, walaupun itu terbatas di wilayah ini di danau, karena tidak ada tanda-tanda badai di pantai barat. Angin begitu kuat sehingga gelombang mulai menyapu ke atas perahu. Angin kuat telah merobek layar sebelum para rasul bisa menggulungnya, dan mereka sekarang sepenuhnya tergantung pada dayung mereka saat mereka dengan susah payah menuju pantai, sekitar dua setengah kilometer jauhnya.

Sementara itu Yesus berbaring tidur di buritan perahu di bawah sebuah tempat berteduh kecil. Guru lelah ketika mereka meninggalkan Betsaida, dan untuk memperoleh istirahat maka dia menyuruh mereka untuk berlayar menyeberang ke sisi lain. Mereka para mantan nelayan ini adalah pendayung yang kuat dan berpengalaman, namun ini adalah salah satu angin kencang terburuk yang pernah mereka temui. Meskipun angin dan gelombang melemparkan perahu mereka kian kemari seolah-olah itu kapal mainan, Yesus tetap tidur tidak terganggu. Petrus berada di dayung kanan dekat buritan. Ketika kapal mulai terisi dengan air, ia menjatuhkan dayungnya dan, bergegas kepada Yesus, mengguncangnya kuat-kuat agar membangunkan dia, dan setelah dia terbangun, Petrus berkata: “Guru, engkau tidak tahu kita berada dalam badai yang ganas? Jika engkau tidak menyelamatkan kita, kita semua akan binasa.”

Ketika Yesus keluar di tengah hujan, dia pertama melihat kepada Petrus, dan kemudian menatap ke dalam kegelapan kepada para pendayung yang sedang berjuang, dia mengarahkan pandangannya kembali pada Simon Petrus, yang karena kegelisahannya belum juga kembali pada dayungnya, dan berkata: “Mengapa semua kamu begitu dipenuhi rasa takut? Dimana imanmu? Tenang, diamlah.” Yesus baru saja mengucapkan teguran ini kepada Petrus dan rasul-rasul lainnya, dia baru saja menyuruh Petrus agar mencari damai untuk menenangkan jiwanya yang gelisah itu, namun cuaca yang terganggu itu, setelah mencapai keseimbangannya, menjadi sangat teduh. Gelombang yang marah hampir seketika mereda, sementara awan gelap, setelah habis turun dalam curah hujan sebentar, segera lenyap, dan bintang-bintang di langit bersinar di angkasa. Semua ini adalah murni kebetulan sejauh kami bisa menilainya; tetapi para rasul, khususnya Simon Petrus, tidak pernah berhenti untuk menganggap peristiwa itu sebagai mujizat alam. Sangat mudah khususnya bagi orang-orang pada hari itu untuk percaya pada keajaiban alam karena mereka yakin teguh bahwa seluruh alam adalah fenomena yang langsung di bawah kendali kuasa-kuasa roh dan sosok-sosok gaib.

Yesus dengan terus terang menjelaskan kepada dua belas bahwa dia telah berbicara kepada jiwa mereka yang bermasalah dan telah berbicara kepada pikiran mereka yang diombang-ambingkan ketakutan, bahwa dia tidak memerintahkan unsur-unsur alam untuk mematuhi sabdanya, tetapi hal itu tidak ada gunanya. Para pengikut Guru selalu bersikeras menempatkan penafsiran mereka sendiri terhadap semua kejadian yang kebetulan seperti itu. Mulai hari ini seterusnya mereka tetap menganggap bahwa Guru memiliki kekuasaan mutlak atas unsur-unsur alam. Petrus tidak pernah bosan menceritakan bagaimana “angin dan danaupun taat kepada-Nya.”

Sudah larut malam ketika Yesus dan rekan-rekannya mencapai pantai, dan karena malam itu tenang dan indah, mereka semua beristirahat di dalam kapal, tidak berlabuh ke darat sampai tak lama setelah matahari terbit keesokan harinya. Ketika mereka berkumpul, sekitar empat puluh orang semuanya, Yesus berkata: “Marilah kita pergi ke bukit-bukit di sana dan menunggu selama beberapa hari sementara kita merenungkan masalah-masalah kerajaan-Nya Bapa.”

6. Orang Gila Gerasa

Meskipun sebagian besar pantai timur danau yang berdekatan naik landai ke dataran tinggi yang di sana, pada tempat tertentu ini ada sebuah bukit yang curam, pantai di beberapa tempat menurun terjal ke dalam danau. Menunjuk ke sisi bukit yang berdekatan, Yesus berkata: “Mari kita naik ke bukit ini untuk sarapan kita dan di bawah beberapa tempat berteduh beristirahat dan bercakap-cakap.”

Seluruh bukit ini ditutupi oleh gua-gua yang telah dipahat dari batu. Banyak dari relung ini adalah kuburan-kuburan kuno. Sekitar setengah jalan mendaki bukit di sebuah tempat yang relatif rata ada pemakaman dari desa kecil Kheresa. Ketika Yesus dan rekan-rekannya lewat dekat tanah pemakaman ini, seorang gila yang tinggal di gua-gua lereng bukit ini bergegas mendekati mereka. Lelaki gila ini terkenal di sekitar wilayah ini, pernah ia suatu kali diikat dengan belenggu dan rantai dan dikurung dalam salah satu gua-gua itu. Sejak lama ia telah mematahkan belenggunya dan sekarang berkeliaran semaunya di antara nisan dan kuburan yang ditinggalkan.

Orang ini, yang namanya Amos, menderita suatu bentuk kegilaan berkala. Ada jangka waktu yang cukup lama ketika ia akan mengenakan pakaian dan membawa dirinya cukup baik di antara rekan-rekannya. Selama salah satu jangka waktu sadar ini ia telah pergi ke Betsaida, dimana ia mendengar khotbah Yesus dan para rasul, dan pada saat itu telah menjadi percaya setengah hati pada injil kerajaan. Namun segera muncul fase badai dari masalahnya, dan ia melarikan diri ke kuburan, di mana ia mengerang, berteriak keras, dan dengan demikian berlagak sehingga meneror semua orang yang kebetulan bertemu dengannya.

Ketika Amos mengenali Yesus, ia tersungkur di kakinya dan berseru: “Aku tahu engkau, Yesus, tapi aku dirasuk banyak setan, dan aku mohon agar engkau tidak akan menyiksa aku,” Orang ini benar-benar percaya bahwa penderitaan mental berkalanya itu adalah karena fakta bahwa, pada saat seperti itu, roh-roh jahat atau najis masuk ke dalam dirinya dan menguasai pikiran dan tubuhnya. Masalahnya itu kebanyakan adalah emosional—otaknya tidak terlalu berpenyakit.

Yesus, melihat ke bawah pada lelaki yang meringkuk seperti hewan itu di kakinya, menjangkau ke bawah dan, memegang tangannya, membuatnya berdiri dan berkata kepadanya: “Amos, kamu tidak dirasuk setan; kamu telah mendengar kabar baik bahwa kamu adalah anak Tuhan. Aku perintahkan kamu keluar dari kutukan ini.” Dan ketika Amos mendengar Yesus mengucapkan kata-kata ini, terjadilah perubahan dalam akal kecerdasannya sehingga ia segera dipulihkan menjadi berpikiran waras dan pengendalian normal atas emosinya. Pada saat ini sekerumunan besar orang telah berkumpul dari desa yang berdekatan, dan orang-orang ini, ditambah oleh penggembala babi dari dataran tinggi di atas mereka, terheran-heran melihat si orang gila yang duduk dengan Yesus dan para pengikutnya, memiliki pikiran waras dan dengan bebas bercakap-cakap dengan mereka.

Sementara para penggembala babi bergegas ke desa untuk menyebarkan berita tentang penjinakan orang gila itu, anjing-anjing menyerang sebuah kawanan kecil dan tidak dijaga sekitar tiga puluh ekor babi dan mendorong sebagian besar dari mereka dari atas tebing masuk ke laut. Dan kejadian kebetulan inilah, sehubungan dengan kehadiran Yesus dan kesembuhan orang gila yang dianggap ajaib itu, yang menjadi asal legenda bahwa Yesus telah menyembuhkan Amos dengan mengusir satu legiun setan dari dia, dan bahwa setan tersebut telah masuk ke dalam kawanan babi, menyebabkan mereka langsung terjun sampai tewas di laut di bawah. Sebelum hari itu berakhir, episode ini disiarkan kemana-mana oleh para penunggu babi, dan seluruh desa percaya. Amos yang paling yakin mempercayai cerita ini; ia melihat babi berjatuhan dari atas tebing bukit segera setelah pikirannya yang bermasalah menjadi tenang, dan ia selalu percaya bahwa babi-babi itu membawa roh-roh jahat itu yang telah begitu lama menyiksa dan membuatnya menderita. Dan hal ini berkaitan besar dengan kesembuhannya yang permanen. Juga benar bahwa semua rasul Yesus (kecuali Tomas) percaya bahwa episode tentang babi itu langsung terkait dengan penyembuhan Amos.

Yesus tidak mendapatkan istirahat yang ia cari. Sebagian besar hari itu dia dikerumuni oleh mereka yang datang menanggapi berita bahwa Amos telah disembuhkan, dan yang tertarik oleh cerita bahwa roh jahat dari orang gila masuk ke dalam kawanan babi. Jadi, setelah hanya satu malam istirahat, Selasa pagi-pagi Yesus dan teman-temannya dibangunkan oleh sekelompok delegasi para peternak babi bukan-Yahudi ini yang datang untuk mendesak agar ia berangkat dari tengah mereka. Kata juru bicara mereka pada Petrus dan Andreas: “Nelayan-nelayan Galilea, pergilah dari kami dan bawalah nabimu. Kami tahu dia adalah orang suci, tetapi dewa-dewa negeri kami tidak mengenalnya, dan kami berada dalam bahaya kehilangan banyak babi. Takut akan kamu telah turun ke atas kami, sehingga kami mohon kamu untuk pergi karenanya.” Dan ketika Yesus mendengar mereka, dia berkata kepada Andreas, “Mari kita kembali ke tempat kita.”

Ketika mereka hendak berangkat, Amos meminta kepada Yesus untuk mengizinkan dia agar kembali bersama mereka, namun Guru tidak setuju. Kata Yesus kepada Amos: “Jangan lupakan bahwa kamu adalah anak Tuhan. Kembalilah ke orang-orangmu sendiri dan tunjukkan kepada mereka hal-hal besar yang Tuhan telah lakukan untuk kamu.” Dan Amos pergi berkeliling mengabarkan bahwa Yesus telah mengusir satu legiun setan keluar dari jiwanya yang terganggu, dan bahwa roh-roh jahat itu telah masuk ke kawanan babi, sehingga membawa pada kematian cepat babi-babi itu. Dan ia belum berhenti sampai ia pergi ke semua kota di Dekapolis, menyatakan hal-hal besar apa yang telah dilakukan Yesus untuk dirinya.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved