Makalah 177: Rabu, Hari Istirahat

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 177

Rabu, Hari Istirahat

KETIKA pekerjaan mengajar orang-orang tidak menekan mereka, menjadi kebiasaan Yesus dan para rasulnya untuk beristirahat dari pekerjaan mereka setiap hari Rabu. Pada hari Rabu khusus ini mereka makan sarapan agak lambat dari biasanya, dan perkemahan itu diliputi oleh keheningan mencekam; sedikit yang dikatakan selama paruh pertama makan pagi ini. Akhirnya Yesus berbicara: “Aku ingin agar kamu semua beristirahat hari ini. Luangkan waktu untuk memikirkan semua yang telah terjadi sejak kita datang ke Yerusalem dan renungkan apa yang berada tepat di depan, yang aku telah katakan apa adanya pada kamu. Pastikan bahwa kebenaran itu tinggal di dalam hidupmu, dan bahwa kamu setiap hari bertumbuh dalam kasih karunia.”

Setelah sarapan Guru memberitahu Andreas bahwa dia bermaksud untuk absen untuk hari itu dan menyarankan agar para rasul diizinkan untuk menggunakan waktu sesuai dengan pilihan mereka sendiri, kecuali bahwa dalam kondisi apapun tidak boleh mereka pergi ke dalam gerbang-gerbang Yerusalem.

Ketika Yesus bersiap-siap untuk pergi ke bukit-bukit sendirian, Daud Zebedeus menyapa dia, katanya: “Engkau tahu benar, Guru, bahwa orang-orang Farisi dan para penguasa berusaha untuk membunuh engkau, namun engkau bersiap-siap untuk pergi sendirian ke perbukitan. Berbuat ini adalah kebodohan; karena itu aku akan mengirim tiga orang bersamamu siap siaga agar tidak ada bahaya menimpamu.” Yesus memandang sekeliling ke tiga orang Galilea yang bersenjata cukup serta kekar itu dan berkata kepada Daud: “Kamu bermaksud baik, tetapi salah karena kamu gagal untuk memahami bahwa Anak Manusia tidak memerlukan siapapun untuk membela dirinya. Tidak ada orang yang dapat menangkap aku sampai saatnya ketika aku siap untuk menyerahkan nyawaku sesuai dengan kehendak Bapaku. Orang-orang ini tidak boleh menemani aku. Aku ingin pergi sendirian, agar aku dapat bersekutu dengan Bapa.”

Setelah mendengar kata-kata ini, Daud dan para penjaga bersenjatanya mundur; tetapi saat Yesus hendak berangkat sendirian, Yohanes Markus maju dengan keranjang kecil berisi makanan dan air dan menyarankan agar, jika Yesus bermaksud untuk pergi sepanjang hari, dia mungkin merasa lapar. Guru tersenyum pada Yohanes dan mengulurkan tangan untuk mengambil keranjang itu.

1. Satu Hari Sendirian dengan Tuhan

Ketika Yesus hendak mengambil keranjang makan siang dari tangan Yohanes Markus, pemuda itu memberanikan diri untuk berkata: “Tapi, Guru, engkau dapat menaruh keranjang sementara engkau berpaling untuk berdoa dan melanjutkannya tanpa itu. Selain itu, jika aku boleh pergi bersama untuk membawa makanan, engkau akan lebih bebas untuk menyembah, dan aku pasti akan diam. Aku tidak akan mengajukan pertanyaan dan akan tetap dengan keranjang kalau engkau pergi sendirian untuk berdoa.”

Sambil membuat permintaan ini, dengan keberanian yang mengejutkan beberapa pendengar yang berdekatan, Yohanes Markus memberanikan diri untuk tetap memegangi keranjang itu. Jadi mereka berdiri, baik Yohanes maupun Yesus memegangi keranjang itu. Tak lama kemudian Guru melepaskannya dan, melihat ke bawah kepada anak itu, berkata: “Karena dengan segenap hatimu kamu ingin pergi dengan aku, itu tidak akan ditolak dari kamu. Kita sendiri yang akan pergi dan melakukan percakapan yang baik. Kamu boleh bertanya kepadaku pertanyaan apapun yang muncul dalam hatimu, dan kita akan saling menghibur dan menguatkan satu sama lain. Kamu boleh berangkat membawa makan siang, dan kalau kamu lelah, aku akan membantu kamu. Mari ikuti aku.”

Yesus baru kembali ke perkemahan petang itu setelah matahari terbenam. Guru menghabiskan hari tenang terakhir ini di bumi bercakap-cakap dengan pemuda yang lapar kebenaran ini dan berbicara dengan Bapa Firdausnya. Peristiwa ini telah dikenal di alam tinggi sebagai “hari yang seorang pemuda habiskan bersama Tuhan di perbukitan.” Selamanya kesempatan ini mencontohkan kesediaan Pencipta untuk bersekutu dengan makhluk. Sekalipun seorang anak muda, jika keinginan hati itu benar-benar tertinggi, dapat menarik perhatian dan menikmati pertemanan penuh kasih dari Tuhan sebuah alam semesta, benar-benar mengalami kegembiraan besar tak terlupakan sendirian dengan Tuhan di perbukitan, dan selama sehari penuh. Dan begitulah pengalaman unik Yohanes Markus pada hari Rabu ini di perbukitan Yudea.

Yesus bercakap-cakap panjang lebar dengan Yohanes, berbicara bebas tentang urusan-urusan dunia dan akhirat. Yohanes memberitahu Yesus betapa ia menyesal bahwa ia belum cukup tua untuk menjadi salah seorang rasul dan menyampaikan penghargaan yang besar bahwa ia telah diizinkan untuk mengikuti mereka sejak khotbah pertama mereka di penyeberangan Sungai Yordan dekat Yerikho, kecuali perjalanan ke Fenisia. Yesus memperingatkan anak lelaki itu agar tidak menjadi patah semangat oleh peristiwa-peristiwa yang segera datang dan meyakinkannya agar ia akan hidup untuk menjadi seorang utusan perkasa kerajaan.

Yohanes Markus tergetar oleh kenangan hari ini bersama dengan Yesus di perbukitan, tetapi ia tidak pernah lupa nasihat akhir Guru, yang diucapkan tepat saat mereka akan kembali ke perkemahan Getsemani, ketika dia berkata: “Baiklah, Yohanes, kita telah bercakap-cakap dengan baik, sehari benar-benar istirahat, tapi pastikan bahwa kamu tidak memberitahukan kepada siapapun hal-hal yang kukatakan padamu.” Dan Yohanes Markus tidak pernah mengungkapkan apapun yang berlangsung pada hari ini yang ia habiskan bersama Yesus di perbukitan.

Sepanjang beberapa jam-jam sisa kehidupan bumi Yesus, Yohanes Markus tidak pernah membiarkan Guru lama keluar dari pandangan matanya. Selalu pemuda itu dalam persembunyian di dekatnya; ia tidur hanya ketika Yesus tidur.

2. Kehidupan Keluarga Waktu Kecil

Selama perbincangan hari ini dengan Yohanes Markus, Yesus menghabiskan banyak waktu membandingkan pengalaman masa kanak-kanak dan masa kemudian sebagai anak lelaki. Meskipun orang tua Yohanes memiliki lebih banyak kekayaan di dunia ini daripada orang tua Yesus, ada banyak pengalaman dalam masa bocah lelaki mereka yang sangat mirip. Yesus mengatakan banyak hal yang membantu Yohanes untuk lebih baik memahami orang tuanya dan anggota-anggota lain keluarganya. Ketika pemuda itu bertanya kepada Guru bagaimana dia bisa tahu bahwa dia akan berubah menjadi “seorang utusan perkasa dari kerajaan,” kata Yesus:

“Aku tahu kau akan membuktikan setia kepada injil kerajaan karena aku dapat mengandalkan iman dan kasihmu sekarang karena sifat-sifat ini didasarkan atas pelatihan awal seperti yang telah menjadi bagianmu di rumah. Kamu adalah hasil dari sebuah keluarga dimana orang tua memberikan kasih sayang yang tulus satu sama lain, dan karena itu kamu tidak dimanjakan sehingga secara merusak meninggikan konsepmu tentang pentingnya diri kamu. Tidak pula kepribadianmu mengalami penyimpangan sebagai akibat dari siasat-siasat tanpa kasih dari orang tuamu demi untuk mendapatkan kepercayaan dan kesetiaanmu, yang satu melawan yang lain. Kamu telah menikmati kasih orang tua yang menjamin kepercayaan diri yang patut dipuji dan yang memupuk perasaan aman yang normal. Tapi kamu juga telah beruntung bahwa orang tuamu memiliki kebijaksanaan serta kasih; dan kebijaksanaan itulah yang membawa mereka untuk menahan sebagian besar bentuk kegemaran dan banyak kemewahan yang kekayaan dapat beli sementara mereka mengirim kamu ke sekolah sinagog bersama dengan teman-teman main lingkunganmu, dan mereka juga mendorong kamu untuk belajar bagaimana untuk hidup di dunia ini dengan mengizinkan kamu mendapat pengalaman yang asli. Kamu datang ke sungai Yordan, dimana kami berkhotbah dan murid-murid Yohanes membaptis, dengan teman mudamu Amos. Kamu berdua ingin pergi bersama kami. Ketika kamu kembali ke Yerusalem, orang tuamu setuju; orang tuanya Amos menolak; mereka begitu mencintai anak mereka begitu rupa sehingga mereka tidak memberikan kesempatan baginya memperoleh pengalaman diberkati yang telah kamu miliki, bahkan yang seperti kamu hari ini nikmati. Dengan lari dari rumah, Amos mungkin telah bergabung dengan kita, tetapi dengan demikian ia akan menciderai kasih dan mengorbankan kesetiaan. Bahkan jika hal tersebut bijaksana, akan menjadi harga yang sangat mahal untuk membayar pengalaman, kemandirian, dan kemerdekaan. Orang tua yang bijaksana, seperti orang tuamu, memastikan bahwa anak-anak mereka tidak harus menciderai kasih atau memadamkan kesetiaan dalam rangka mengembangkan kemandirian dan menikmati kebebasan menyegarkan ketika mereka telah tumbuh sampai usiamu.

“Kasih, Yohanes, adalah kenyataan tertinggi alam semesta ketika dikaruniakan oleh sosok-sosok yang mahabijaksana, tetapi kasih itu menjadi sifat yang berbahaya dan seringkali setengah egois seperti yang ditunjukkan dalam pengalaman para orang tua manusia. Ketika kamu menikah dan punya anak sendiri untuk dibesarkan, pastikan bahwa kasihmu itu dikendalikan oleh kebijaksanaan dan dibimbing oleh kecerdasan.

“Teman mudamu Amos percaya injil kerajaan ini sama seperti halnya kamu, tapi aku tidak bisa sepenuhnya mengandalkan dia; aku tidak yakin tentang apa yang akan ia lakukan di tahun-tahun mendatang. Kehidupan masa kecilnya di keluarga tidak seperti yang akan menghasilkan orang yang sepenuhnya dapat diandalkan. Amos itu terlalu mirip seperti salah seorang rasul yang gagal menikmati pelatihan keluarga yang normal, penuh kasih, dan bijaksana. Seluruh masa hidupmu kemudian akan lebih bahagia dan dapat diandalkan karena kamu menghabiskan delapan tahun pertamamu dalam keluarga yang normal dan diatur baik. Kamu memiliki karakter yang kuat dan menyatu baik karena kamu dibesarkan di sebuah rumah dimana kasih berlaku dan kebijaksanaan bertahta. Pelatihan anak seperti itu menghasilkan suatu jenis kesetiaan yang meyakinkanku bahwa kamu akan melanjutkan arah yang telah kamu mulai.”

Selama lebih dari satu jam Yesus dan Yohanes melanjutkan diskusi kehidupan keluarga ini. Guru melanjutkan untuk menjelaskan kepada Yohanes bagaimana seorang anak sepenuhnya tergantung pada orang tuanya dan kehidupan rumah tangga yang terkait untuk semua konsep awalnya tentang segala yang intelektual, sosial, moral, dan bahkan spiritual karena bagi anak kecil itu keluarga merupakan semua yang dia bisa pertama ketahui tentang hubungan manusia atau pun ilahi. Anak harus mendapatkan kesan pertama tentang alam semesta dari rawatannya ibu; ia sepenuhnya tergantung pada ayah duniawi untuk ide-ide pertamanya mengenai Bapa surgawi. Kehidupan berikutnya anak dibuat senang atau tidak senang, mudah atau sulit, sesuai dengan kehidupan mental dan emosional awalnya, dipengaruhi oleh hubungan-hubungan sosial dan rohani di rumah. Seluruh hidup berikutnya seorang manusia itu sangat dipengaruhi oleh apa yang terjadi selama beberapa tahun pertama keberadaannya.

Menjadi keyakinan tulus kami bahwa injil ajarannya Yesus, yang didirikan seperti itu di atas hubungan ayah-anak itu, akan sulit menikmati penerimaan oleh seluruh dunia sampai waktu ketika kehidupan keluarga bangsa-bangsa beradab modern merangkul lebih banyak kasih dan lebih banyak kebijaksanaan. Meskipun para orang tua dari abad kedua puluh memiliki pengetahuan besar dan bertambahnya kebenaran untuk memperbaiki rumah dan memuliakan kehidupan rumah, namun tetap merupakan fakta bahwa sangat sedikit rumah-rumah modern adalah tempat yang baik untuk memelihara anak-anak laki-laki dan perempuan seperti rumahnya Yesus di Galilea dan rumahnya Yohanes Markus di Yudea, meskipun penerimaan injil Yesus akan menghasilkan perbaikan langsung pada kehidupan rumah tangga. Kehidupan cinta kasih sebuah keluarga yang bijaksana dan pengabdian setia agama yang benar memberikan suatu pengaruh timbal balik yang kuat satu sama lain. Kehidupan rumah tangga seperti itu meningkatkan agama, dan agama yang sejati selalu memuliakan rumah tangga.

Memang benar bahwa banyak pengaruh penghambat yang tidak menyenangkan dan aspek-aspek mengekang yang lain di rumah-rumah Yahudi dahulu ini telah hampir dihilangkan dari banyak rumah modern yang diatur lebih baik. Ada, memang, kebebasan yang lebih spontan dan jauh lebih banyak kebebasan pribadi, tetapi kebebasan ini tidak dikekang oleh kasih, dimotivasi oleh kesetiaan, atau dipimpin oleh disiplin cerdas dari hikmat. Selama kita mengajari anak untuk berdoa, “Bapa kami yang di surga,” suatu tanggung jawab yang sangat besar diletakkan ke atas semua ayah duniawi untuk menjalani hidup dan menata rumah mereka agar kata bapa menjadi layak bertahta dalam pikiran dan hati semua anak yang sedang tumbuh.

3. Siang di Perkemahan

Para rasul menghabiskan sebagian besar hari ini berjalan sekeliling di Gunung Zaitun dan bercakap-cakap dengan murid-murid yang berkemah dengan mereka, tetapi sejak awal sore hari mereka menjadi sangat berkeinginan melihat Yesus kembali. Saat hari terus berlalu, mereka menjadi semakin cemas tentang keselamatannya; mereka merasa kesepian tak terkatakan tanpa dia. Ada banyak perdebatan sepanjang hari mengenai apakah Guru seharusnya dibiarkan pergi sendiri di perbukitan, disertai hanya oleh seorang anak lelaki pesuruh. Meskipun tidak ada orang yang secara terbuka mengungkapkan pikirannya, tidak ada seorang pun dari mereka, kecuali Yudas Iskariot, yang tidak berharap dirinya berada di tempatnya Yohanes Markus.

Saat itu sekitar tengah hari ketika Natanael berpidato tentang “Keinginan Tertinggi” kepada sekitar setengah lusin rasul dan sejumlah sama murid-murid, pada akhirnya adalah: “Apa yang salah dengan kebanyakan kita adalah bahwa kita hanya setengah hati. Kita gagal untuk mengasihi Guru seperti dia mengasihi kita. Jika kita semua ingin pergi bersamanya seperti yang Yohanes Markus lakukan, dia pasti akan mengajak kita semua. Kita berdiri saja sementara anak itu mendekati Guru dan menawarinya keranjang itu, tetapi ketika Guru memegangnya, anak itu tidak mau melepaskannya. Dan begitulah Guru meninggalkan kita di sini sementara dia pergi ke bukit dengan keranjang, anak laki-laki, dan semuanya.”

Sekitar jam empat, pelari-pelari datang ke Daud Zebedeus membawa kabar dari ibunya di Betsaida dan dari ibunya Yesus. Beberapa hari sebelumnya Daud telah berkesimpulan bahwa imam-imam kepala dan pemimpin akan membunuh Yesus. Daud tahu bahwa mereka bertekad untuk membunuh Guru, dan ia hampir yakin bahwa Yesus tidak akan mengerahkan kekuatan ilahinya untuk menyelamatkan dirinya sendiri atau pun mengizinkan para pengikutnya untuk menggunakan kekuatan dalam membelanya. Setelah mencapai kesimpulan-kesimpulan ini, ia tanpa buang waktu lagi mengirimkan seorang utusan kepada ibunya, mendesaknya untuk datang segera ke Yerusalem dan membawa Maria ibu Yesus dan setiap anggota keluarganya.

Ibunya Daud melakukan seperti yang diminta anaknya, dan sekarang para pelari kembali ke Daud membawa berita bahwa ibunya dan seluruh keluarga Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan akan tiba agak terlambat pada besok atau hari berikutnya pagi-pagi sekali. Karena Daud melakukan ini atas inisiatifnya sendiri, ia pikir bijaksana untuk menyimpan urusan tersebut bagi dirinya sendiri. Karena itu, ia tidak memberitahu kepada siapapun, bahwa keluarganya Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem.

Tak lama setelah tengah hari, lebih dari dua puluh orang-orang Yunani yang telah bertemu dengan Yesus dan dua belas di rumah Yusuf Arimatea tiba di perkemahan, dan Petrus serta Yohanes menghabiskan beberapa jam dalam pertemuan dengan mereka. Orang-orang Yunani ini, setidaknya beberapa dari mereka, telah cukup maju dalam pengetahuan tentang kerajaan, setelah diajar oleh Rodan di Aleksandria.

Malam itu, setelah kembali ke perkemahan, Yesus berbincang-bincang dengan orang-orang Yunani itu, dan kalau saja hal tersebut tidak akan sangat membuat gelisah para rasul dan banyak murid-murid terkemuka lainnya, dia tentu telah menahbiskan dua puluh orang Yunani ini, sama seperti yang dia lakukan pada tujuh puluh.

Sementara semua ini sedang terjadi di perkemahan, di Yerusalem imam-imam kepala dan tua-tua heran karena Yesus tidak kembali untuk berbicara kepada orang banyak. Benar, hari sebelumnya, ketika dia meninggalkan bait suci itu, dia telah berkata, “Aku meninggalkan rumahmu menjadi sunyi.” Tapi mereka tidak bisa mengerti mengapa dia bersedia melepaskan keunggulan besar yang telah dia bangun dalam sikap bersahabat dari orang banyak. Meskipun mereka kuatir ia akan membangkitkan keributan di antara rakyat, kata-kata terakhir Guru kepada orang banyak telah menjadi desakan agar tunduk dalam setiap cara yang wajar kepada wewenang orang-orang “yang menduduki kursi Musa.” Tapi hari itu adalah hari yang sibuk di kota karena mereka secara bersamaan bersiap-siap untuk Paskah dan menyempurnakan rencana mereka untuk membunuh Yesus.

Tidak banyak orang datang ke perkemahan, karena pendiriannya telah dibuat rahasia yang dijaga ketat oleh semua orang yang tahu bahwa Yesus mengharapkan untuk tinggal di sana dari pada pergi ke Betania setiap malam.

4. Yudas dan Imam-imam Kepala

Tak lama setelah Yesus dan Yohanes Markus meninggalkan perkemahan, Yudas Iskariot menghilang dari antara saudara-saudaranya, tidak kembali sampai sudah sore sekali. Rasul yang bingung dan tidak puas ini, meskipun Guru minta secara khusus untuk tidak memasuki Yerusalem, namun ia pergi dengan tergesa-gesa untuk menepati janji dengan musuh-musuh Yesus di rumah Kayafas, Imam Besar. Ini adalah pertemuan informal Sanhedrin dan telah ditentukan tidak lama setelah pukul sepuluh pagi itu. Pertemuan ini diadakan untuk membahas sifat tuduhan-tuduhan yang akan diajukan terhadap Yesus dan memutuskan prosedur yang akan digunakan untuk membawa dia ke depan penguasa-penguasa Romawi untuk tujuan memperoleh pengesahan pemerintah yang diperlukan untuk hukuman mati yang mereka sudah putuskan ke atasnya.

Pada hari sebelumnya Yudas telah mengungkapkan kepada beberapa kerabat dan kepada teman-teman Saduki tertentu dari keluarga ayahnya bahwa ia telah mencapai kesimpulan bahwa, meskipun Yesus itu pemimpi dan idealis yang bermaksud baik, namun dia bukan pembebas Israel yang diharapkan. Yudas menyatakan bahwa dia lebih suka menemukan suatu cara untuk menarik diri dengan anggun dari seluruh gerakan. Teman-temannya dengan menyanjung-nyanjung meyakinkannya bahwa pengunduran dirinya akan dipuji oleh para penguasa Yahudi sebagai peristiwa besar, dan tidak ada apapun yang akan begitu baik baginya. Mereka membuatnya percaya bahwa dia segera akan menerima penghargaan tinggi dari Sanhedrin, dan bahwa dia akan pada akhirnya berada dalam posisi untuk menghapus kesan jelek tentang “hubungan sial dengan orang-orang Galilea yang tidak berpendidikan itu,” walaupun ia bermaksud baik.

Yudas tidak bisa sepenuhnya percaya bahwa pekerjaan-pekerjaan besar Guru telah dikerjakan oleh kuasa dari penghulu setan, tapi ia sekarang sepenuhnya diyakinkan bahwa Yesus tidak mau mengerahkan kuasanya untuk membuat dirinya hebat; ia akhirnya yakin bahwa Yesus akan membiarkan dirinya dibunuh oleh para penguasa Yahudi, dan ia tidak bisa menanggung pikiran memalukan dikenali sebagai gerakan yang kalah. Ia menolak untuk memikirkan gagasan mengenai kegagalan yang nyata. Ia benar-benar memahami karakter kokoh Gurunya dan ketajaman dari pikiran yang agung dan penuh belas kasihan itu, namun ia mendapatkan kesenangan dari hiburan berat sebelah dari saran salah seorang saudaranya bahwa Yesus, meskipun dia adalah seorang fanatik yang bermaksud baik, mungkin dia tidak benar-benar waras pikirannya; karena dia selalu tampak seperti orang yang aneh dan salah dipahami.

Dan sekarang, belum pernah sebelumnya, Yudas menemukan dirinya dengan aneh menjadi marah karena Yesus tidak pernah menunjuknya untuk posisi kehormatan yang lebih besar. Selama ini ia telah menghargai kehormatan menjadi bendahara kerasulan, tapi sekarang ia mulai merasa bahwa ia tidak dihargai; bahwa kemampuannya tidak diakui. Dia tiba-tiba dikuasai oleh kemarahan bahwa Petrus, Yakobus, dan Yohanes telah dihormati dengan hubungan dekat dengan Yesus, dan pada saat ini, ketika ia sedang dalam perjalanan ke rumah Imam Besar, ia berpikir untuk membalas Petrus, Yakobus, dan Yohanes lebih dari semua pikiran mengkhianati Yesus. Namun lebih dan di atas semuanya, saat itu, suatu pikiran baru dan menguasai mulai menempati garis depan pikiran sadarnya: Dia telah bertekad untuk mendapatkan kehormatan bagi dirinya sendiri, dan jika ini bisa diperoleh bersamaan dengan membalas dendam terhadap orang-orang yang telah menyumbang pada kekecewaan terbesar dalam hidupnya, lebih baik lagi. Dia dikuasai oleh konspirasi mengerikan dari kebingungan, keangkuhan, keputusasaan, dan tekad. Dan dengan demikian jelaslah bahwa bukan karena uang bahwa Yudas saat itu dalam perjalanan ke rumah Kayafas untuk mengatur pengkhianatan pada Yesus.

Sementara Yudas mendekati rumah Kayafas, ia tiba pada keputusan akhir untuk meninggalkan Yesus dan rasul-rasul temannya; dan setelah memutuskan untuk meninggalkan pergerakan kerajaan surga seperti itu, ia bertekad untuk mendapatkan bagi dirinya sendiri sebanyak mungkin kehormatan dan kemuliaan yang ia pikir suatu kali akan menjadi miliknya ketika ia pertama kali menggabungkan dirinya dengan Yesus dan injil baru kerajaan. Semua rasul pernah berbagi ambisi ini dengan Yudas, tapi seiring waktu berlalu mereka belajar untuk mengagumi kebenaran dan mengasihi Yesus, setidaknya lebih daripada Yudas.

Si pengkhianat itu diperkenalkan pada Kayafas dan para penguasa Yahudi oleh sepupunya, yang menjelaskan bahwa Yudas, setelah menemukan kesalahannya karena membiarkan dirinya disesatkan oleh ajaran licik Yesus, telah sampai ke tempat dimana ia berharap untuk membuat penolakan publik dan formal mengenai hubungannya dengan orang Galilea itu dan pada saat yang sama untuk meminta pemulihan dalam kepercayaan dan persekutuan dari saudara-saudara Yudeanya. Juru bicara untuk Yudas ini terus menjelaskan bahwa Yudas mengakui bahwa akan terbaik bagi perdamaian Israel jika Yesus dibawa ke tahanan, dan bahwa, sebagai bukti dari kesedihannya karena telah ikut serta dalam gerakan sesat tersebut dan sebagai bukti ketulusannya dalam sekarang kembali ke ajaran-ajaran Musa, ia datang untuk menawarkan diri kepada Sanhedrin sebagai salah satu yang bisa mengatur dengan kapten yang memegang perintah penangkapan Yesus agar Yesus bisa dibawa ke tahanan diam-diam, sehingga menghindari bahaya menggemparkan orang banyak atau perlunya menunda penangkapannya sampai setelah Paskah.

Setelah sepupunya selesai berbicara, ia memperkenalkan Yudas, yang sambil melangkah maju mendekati Imam Besar, mengatakan: “Semua yang sepupuku telah janjikan, aku akan lakukan, tapi apa yang engkau mau berikan padaku untuk jasa ini?” Yudas tampaknya tidak melihat pandangan menghina dan bahkan jijik yang datang di wajah Kayafas yang keras hati dan sombong itu; hatinya terlalu banyak dilekatkan pada kemuliaan diri dan nafsu untuk kepuasan peninggian diri.

Dan kemudian Kayafas memandang ke atas pengkhianat itu sementara ia berkata: “Yudas, kamu pergi ke kapten penjaga dan aturlah dengan pejabat itu untuk membawa Gurumu kepada kami malam ini atau besok malam, dan setelah dia kamu bawa ke dalam tangan kami, kamu akan menerima upahmu untuk jasa ini.” Ketika Yudas mendengar ini, ia pergi dari hadapan imam-imam dan pemimpin kepala dan berunding dengan kapten penjaga bait suci mengenai cara bagaimana Yesus akan ditangkap. Yudas tahu bahwa Yesus saat itu tidak hadir di perkemahan dan tidak tahu kapan dia akan kembali malam itu, sehingga mereka sepakat di antara mereka untuk menangkap Yesus malam berikutnya (Kamis) setelah orang-orang Yerusalem dan semua musafir pengunjung telah beristirahat malam.

Yudas kembali ke rekan-rekannya di perkemahan, mabuk dengan pikiran kebesaran dan kemuliaan yang belum ia miliki sekian lama. Dia telah bergabung dengan Yesus berharap suatu hari menjadi orang besar dalam kerajaan baru itu. Dia akhirnya menyadari bahwa ada tidak ada kerajaan baru seperti yang telah ia harapkan. Tapi dia bergembira karena begitu cerdas sehingga menukar kekecewaannya karena gagal untuk mencapai kemuliaan dalam kerajaan baru yang diharapkan itu, dengan perwujudan segera kehormatan dan penghargaan dalam tatanan lama, yang sekarang ia percaya akan tetap bertahan, dan yang ia yakin akan menghancurkan Yesus dan segala yang ia perjuangkan. Dalam motif terakhirnya dari niat sadar, pengkhianatan Yudas pada Yesus itu adalah tindakan pengecut dari desertir egois yang hanya memikirkan keselamatan dan kemuliaannya sendiri, tidak peduli apa yang mungkin menjadi hasil dari perbuatannya terhadap Guru dan terhadap mantan rekan-rekannya.

Tapi selalu seperti itulah, Yudas sudah lama terlibat dalam kesadaran yang disengaja, terus menerus, egois, dan penuh dendam yang semakin lama semakin membentuk dalam pikirannya, dan menyimpan dalam hatinya, keinginan-keinginan balas dendam dan ketidaksetiaan yang penuh kebencian dan kejahatan ini. Yesus mengasihi dan mempercayai Yudas sama seperti dia mengasihi dan mempercayai para rasul yang lain, tetapi Yudas gagal untuk mengembangkan rasa percaya setia dan untuk mengalami kasih sepenuh hati sebagai balasannya. Dan betapa berbahayanya ambisi itu ketika sekali sepenuhnya disatukan dengan pencarian kepentingan sendiri dan dimotivasi sepenuhnya oleh dendam yang kelam dan lama terpendam! Alangkah menghancurkannya kekecewaan dalam hidup orang-orang bodoh itu, yang dengan menatapkan pandangan mereka pada daya pikat waktu yang gelap dan cepat berlalu, menjadi buta terhadap prestasi yang lebih tinggi dan lebih nyata, untuk pencapaian dunia-dunia kekal dari nilai-nilai ilahi dan kenyataan-kenyataan rohani yang sejati. Yudas mendambakan kehormatan duniawi dalam pikirannya dan tumbuh untuk mencintai keinginan ini dengan segenap hatinya; para rasul yang lain demikian pula merindukan kehormatan duniawi ini dalam pikiran mereka, tetapi dengan hati mereka, mereka mengasihi Yesus dan melakukan yang terbaik untuk belajar mencintai kebenaran yang dia ajarkan kepada mereka.

Yudas tidak menyadarinya pada saat ini, namun tanpa sadar ia telah selalu menjadi pengkritik Yesus sejak Yohanes Pembaptis dipenggal oleh Herodes. Jauh di lubuk hatinya Yudas selalu membenci fakta bahwa Yesus tidak menyelamatkan Yohanes. Kamu tidak boleh lupa bahwa Yudas telah menjadi murid Yohanes sebelum ia menjadi pengikut Yesus. Dan semua timbunan kebencian manusiawi dan kekecewaan pahit ini yang Yudas telah timbun dalam jiwanya dalam busana kebencian itu sekarang tertata rapi dalam pikiran bawah sadarnya dan siap untuk bangkit menelan dirinya ketika ia sekali berani untuk memisahkan dirinya dari pengaruh mendukung dari saudara-saudaranya sementara pada saat yang sama membuka dirinya terhadap sindiran pintar dan ejekan licin dari musuh-musuh Yesus. Setiap kali Yudas membiarkan harapannya melambung tinggi dan Yesus akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang akan menghancurkannya berkeping-keping, ada selalu tertinggal di hati Yudas suatu bekas luka kemarahan yang pahit; dan saat luka-luka ini bertambah banyak, tidak lama lagi hati itu, yang begitu sering terluka, kehilangan semua kasih sayang nyata bagi orang yang telah menimpakan pengalaman tidak menyenangkan ini terhadap kepribadian yang berniat baik tapi pengecut dan egois ini. Yudas tidak menyadari hal itu, tapi ia seorang pengecut. Oleh karena itu ia selalu cenderung untuk menganggap Yesus pengecut sebagai motif yang menyebabkan dia begitu sering menolak untuk merebut kekuasaan atau kemuliaan ketika hal-hal itu tampaknya mudah dalam jangkauannya. Dan setiap manusia fana tahu betul bagaimana kasih, bahkan sekalipun pernah asli, melalui kekecewaan, iri hati, dan kemarahan yang lama berkelanjutan, bisa pada akhirnya berubah menjadi kebencian yang nyata.

Akhirnyaimam-imam kepala dan tua-tua bisa bernapas lega selama beberapa jam. Mereka tidak harus menangkap Yesus di depan umum, dan mendapatkan Yudas sebagai sekutu pengkhianat menjamin bahwa Yesus tidak akan lolos dari wilayah kewenangan mereka seperti yang dia lakukan berkali-kali di masa lalu.

5. Jam Ramah Tamah Terakhir

Karena itu hari Rabu, malam ini di perkemahan adalah waktu ramah tamah. Guru berusaha untuk menghibur para rasul yang muram, tapi hal itu hampir-hampir mustahil. Mereka semua mulai menyadari bahwa peristiwa yang mencemaskan dan menghancurkan itu akan segera datang. Mereka tidak bisa ceria, bahkan ketika Guru menceritakan lagi tahun-tahun hubungan penuh kenangan dan penuh kasih mereka. Yesus membuat pertanyaan yang cermat tentang keluarga-keluarga semua para rasul dan, sambil melihat ke arah Daud Zebedeus, bertanya apakah ada yang pernah mendengar baru-baru ini tentang ibunya, adik bungsunya, atau anggota keluarganya yang lain. Daud menatap ke bawah ke kakinya; ia takut untuk menjawab.

Saat ini adalah kesempatan bagi Yesus untuk memperingatkan para pengikutnya agar berhati-hati terhadap dukungan dari orang banyak. Dia menceritakan pengalaman mereka di Galilea ketika berkali-kali kerumunan besar orang dengan antusias mengikuti mereka berkeliling dan kemudian hanya dengan sama bersemangatnya berbalik melawan mereka dan kembali ke cara-cara lama mereka percaya dan hidup. Dan kemudian dia berkata: “Dan demikianlah kamu jangan membiarkan diri kamu ditipu oleh orang banyak yang mendengar kita di bait suci, dan yang tampaknya percaya ajaran kita. Orang banyak ini mendengarkan kebenaran dan mempercayainya secara dangkal dengan pikiran mereka, tetapi hanya sedikit dari mereka mengizinkan firman kebenaran itu masuk ke dalam hati dengan akar-akar yang hidup. Mereka yang tahu injil hanya dalam pikiran, dan yang belum mengalaminya dalam hati, tidak dapat diandalkan untuk dukungan ketika masalah sebenarnya datang. Ketika para penguasa Yahudi mencapai kesepakatan untuk membunuh Anak Manusia, dan ketika mereka menyerang dengan sehati, kamu akan melihat orang banyak itu melarikan diri dengan cemas atau selain itu menonton dengan diam-diam kagum sementara para penguasa yang gila dan buta itu membawa guru-guru kebenaran injil kepada kematian mereka. Dan kemudian, ketika permusuhan dan penganiayaan turun atas kamu, masih ada lagi orang-orang lain yang kamu pikir mengasihi kebenaran akan tercerai berai, dan beberapa akan menolak injil dan meninggalkan kamu. Beberapa orang yang sudah sangat dekat dengan kita telah mengambil keputusan untuk membelot. Kamu telah beristirahat hari ini sebagai persiapan untuk saat-saat yang kini datang atas kita. Berjagalah, karena itu, dan berdoalah agar esok hari kamu dapat dikuatkan untuk hari-hari yang tepat ada di depan.”

Suasana perkemahan dipenuhi dengan ketegangan yang tak terkatakan. Utusan-utusan yang diam saja datang dan pergi, hanya berkomunikasi dengan Daud Zebedeus. Sebelum malam berlalu, orang-orang tertentu tahu bahwa Lazarus telah melarikan diri dengan tergesa-gesa dari Betania. Yohanes Markus diam dengan muram setelah kembali ke perkemahan, meskipun ia telah menghabiskan sehari penuh bersama Guru. Setiap upaya untuk membujuk dia agar berbicara hanya menunjukkan dengan jelas bahwa Yesus telah memberitahu dia supaya tidak berbicara.

Sikap gembira Guru dan keramah-tamahannya yang tidak biasa itu bahkan membuat mereka takut. Mereka semua merasakan pasti mendekatnya ke atas mereka rasa terasing yang mengerikan, yang mereka sadari hendak turun menimpa dengan tiba-tiba dan dengan teror yang tidak bisa dihindari. Mereka samar-samar merasakan apa yang akan terjadi, dan tidak ada yang merasa siap untuk menghadapi ujian. Guru telah pergi sepanjang hari; mereka telah amat merasa kehilangan dia.

Rabu malam ini adalah tanda surutnya status rohani mereka sampai jam sebenarnya kematian Guru. Meskipun hari berikutnya adalah masih satu hari lagi lebih dekat ke Jumat yang tragis itu, namun demikian, dia masih bersama mereka, dan mereka melewati jam-jam cemas itu dengan lebih ringan.

Tepat sebelum tengah malam ketika Yesus, karena mengetahui ini akan menjadi malam terakhir tidur yang dia lewatkan bersama keluarga pilihannya di bumi, mengatakan, saat dia membubarkan mereka untuk istirahat malam itu: “Pergilah tidur, saudara-saudaraku, dan damai atas kamu semua sampai kita bangun esok hari, satu hari lagi untuk melakukan kehendak Bapa dan mengalami sukacita mengetahui bahwa kita adalah anak-anak-Nya.”

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved