Makalah 173: Hari Senin di Yerusalem

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 173

Hari Senin di Yerusalem

PAGI-PAGI pada hari Senin ini, sesuai perjanjian sebelumnya, Yesus dan para rasul berkumpul di rumah Simon di Betania, dan setelah pembicaraan singkat mereka berangkat ke Yerusalem. Dua belas murid itu anehnya diam saja saat mereka berjalan menuju bait suci; mereka belum pulih dari pengalaman hari sebelumnya. Mereka berharap, takut, dan sangat dipengaruhi oleh perasaan terasing tertentu yang tumbuh dari perubahan mendadak taktiknya Guru, ditambah dengan instruksinya bahwa mereka tidak boleh melakukan pengajaran publik sepanjang minggu Paskah ini.

Saat kelompok ini menuruni Bukit Zaitun, Yesus memimpin perjalanan, para rasul mengikuti dekat di belakang dalam keheningan merenung. Hanya ada satu pikiran paling penting dalam pikiran semua kecuali Yudas Iskariot, dan itu adalah: Apa yang akan Guru lakukan hari ini? Satu hal yang memenuhi pikiran Yudas adalah: Apa yang akan aku lakukan? Apakah aku akan pergi bersama Yesus dan rekan-rekanku, atau haruskah aku mundur? Dan jika aku akan berhenti, bagaimana aku harus memisahkan diri?

Sudah sekitar pukul sembilan pada pagi indah ini ketika orang-orang ini tiba di bait suci. Mereka langsung pergi ke pelataran luas di mana Yesus sering mengajar, dan setelah menyapa orang-orang percaya yang sedang menunggu dia, Yesus memasang salah satu mimbar pengajaran dan mulai berbicara pada kerumunan orang yang berkumpul. Para rasul mundur tidak jauh dan menunggu perkembangan.

1. Membersihkan Bait Suci

Suatu lalu lintas komersial besar telah bertumbuh dalam hubungan dengan layanan dan upacara ibadah di bait suci. Ada bisnis menyediakan hewan yang cocok untuk berbagai pengorbanan. Meskipun diperbolehkan bagi seorang jemaah untuk menyediakan hewan korbannya sendiri, namun kenyataannya tetap bahwa hewan-hewan ini harus bebas dari semua “cacat” dalam arti hukum Lewi dan seperti yang ditafsirkan oleh para pengawas resmi bait suci. Banyak umat mengalami dipermalukan karena hewan yang dianggapnya sempurna ditolak oleh pemeriksa bait suci. Oleh karena itu menjadi praktek lebih umum untuk membeli hewan korban di bait suci, dan meskipun ada beberapa pangkalan di Bukit Zaitun yang berdekatan dimana hewan-hewan itu bisa dibeli, namun telah menjadi kebiasaan untuk membeli hewan-hewan ini langsung dari kandang-kandang bait suci. Secara bertahap berkembanglah kebiasaan menjual segala macam hewan korban ini di pelataran (halaman) bait suci. Maka lahirlah sebuah bisnis yang luas, dengan keuntungan yang sangat besar. Sebagian dari keuntungan ini dicadangkan untuk kas bait suci, tetapi bagian yang lebih besar pergi secara tidak langsung ke tangan keluarga-keluarga imam besar yang berkuasa.

Penjualan hewan di bait suci itu sangat menguntungkan karena, ketika seorang umat membeli hewan tersebut, meskipun harganya mungkin agak tinggi, tetapi tidak ada biaya lagi yang harus dibayar, dan dia bisa yakin pengorbanan yang dimaksudkan tidak akan ditolak karena alasan memiliki cacat yang nyata atau teknis. Sekali-sekali, ada sistem-sistem tambahan harga yang lebih mahal selangit diterapkan terhadap rakyat biasa, khususnya selama hari-hari raya kebangsaan yang besar. Pada satu waktu imam-imam yang serakah itu bahkan sampai menuntut setara dengan nilai kerja satu minggu untuk sepasang merpati yang seharusnya dijual kepada orang miskin hanya beberapa sen. “Anak-anak Hanas” itu sudah mulai mendirikan pasar-pasar mereka di sekitar bait suci, pasar barang dagangan itu terus bertahan hingga waktu mereka akhirnya digulingkan oleh massa, tiga tahun sebelum kehancuran bait suci itu sendiri.

Tapi lalu lintas hewan korban dan macam-macam barang dagangan itu bukan satu-satunya cara sehingga halaman bait suci dicemari. Pada saat itu dipelihara sistem perbankan yang luas dan pertukaran komersial yang dilakukan tepat di dalam halaman bait suci. Dan semua ini bisa terjadi dengan cara berikut: Selama dinasti Asmonean orang Yahudi membuat koin uang perak mereka sendiri, dan telah menjadi praktek untuk mengharuskan pajak bait suci setengah syikal dan semua biaya bait suci lain harus dibayar dengan koin Yahudi ini. Peraturan ini mengharuskan bahwa penukar-penukar uang diberi lisensi untuk menukarkan banyak jenis mata uang yang beredar di seluruh Palestina dan provinsi-provinsi lain di Kekaisaran Romawi dengan syikal ortodoks mata uang Yahudi ini. Pajak kepala bait suci, dibayar oleh semuanya kecuali wanita, budak, dan anak-anak, adalah setengah syikal, sekeping koin kira-kira berukuran keping sepuluh sen tetapi dua kali lebih tebal. Pada zaman Yesus para imam juga telah dibebaskan dari pembayaran kewajiban bait suci. Karena itu, dari tanggal 15 sampai tanggal 25 pada bulan sebelum Paskah, para penukar uang yang diakui resmi itu mendirikan kios-kios mereka di kota-kota utama Palestina untuk tujuan menyediakan orang-orang Yahudi dengan uang yang tepat untuk memenuhi kewajiban bait suci setelah mereka mencapai Yerusalem. Setelah periode sepuluh hari ini para penukar uang ini pindah ke Yerusalem dan melanjutkan dengan menata meja pertukaran mereka di halaman-halaman bait suci. Mereka diizinkan untuk meminta ongkos setara dengan tiga hingga empat sen komisi untuk pertukaran satu koin senilai sekitar sepuluh sen, dan dalam kasus koin yang nilainya lebih besar ditawarkan untuk pertukaran, mereka diizinkan untuk mengambil dua kali lipat. Demikian pula para bankir bait suci mendapat untung dari pertukaran semua uang yang dimaksudkan untuk pembelian hewan korban dan untuk pembayaran nazar dan pemberian persembahan.

Para penukar uang bait suci ini tidak hanya melakukan bisnis perbankan biasa untuk mendapat keuntungan dalam pertukaran lebih dari dua puluh jenis uang yang dibawa para musafir yang berkunjung secara berkala ke Yerusalem, tetapi mereka juga terlibat dalam semua jenis transaksi lainnya berkaitan dengan bisnis perbankan. Baik kas bait suci maupun para penguasa bait suci meraih keuntungan luar biasa dari kegiatan-kegiatan komersial ini. Tidak jarang kas bait suci menyimpan di atas sepuluh juta dolar sementara rakyat biasa merana dalam kemiskinan dan terus membayar pungutan-pungutan yang tidak adil ini.

Di tengah-tengah kumpulan para penukar uang, pedagang, dan penjual ternak yang bising ini, Yesus, pada hari Senin pagi ini, berusaha untuk mengajarkan injil kerajaan surgawi. Dia tidak sendirian dalam membenci penduniawian bait suci ini; rakyat biasa, terutama para pengunjung Yahudi dari provinsi-provinsi luar negeri, juga sungguh-sungguh membenci penodaan rumah ibadah bangsa mereka ini demi untuk mencari untung. Pada saat ini Sanhedrin sendiri mengadakan pertemuan rutinnya dalam sebuah ruang yang dikelilingi oleh semua ocehan dan keributan jual beli serta barter ini.

Ketika Yesus hendak memulai pidatonya, terjadi dua hal yang menyita perhatiannya. Di meja uang dari seorang penukar yang berdekatan terjadi perdebatan keras dan panas yang timbul karena tuduhan harga terlalu mahal dari seorang Yahudi Aleksandria, sementara pada saat yang sama udara dipenuhi oleh lenguhan dari kawanan sekitar seratus ekor lembu jantan yang sedang digiring dari satu bagian kandang hewan ke bagian lain. Sementara Yesus berhenti, diam-diam tapi serius merenungkan adegan perdagangan dan kekacauan ini, di dekatnya dia melihat seorang Galilea yang berpikiran sederhana, seorang pria yang pernah berbicara dengannya di Iron, diejek dan didorong-dorong kesana kemari oleh orang-orang Yudea yang congkak dan merasa lebih unggul; dan semua ini bergabung menghasilkan salah satu bangkitnya emosi marah yang aneh dan berkala dalam jiwa Yesus.

Diiringi keheranan para rasulnya yang berdiri dekat, yang menghindari ikut serta dalam apa yang akan segera terjadi, Yesus melangkah turun dari mimbar pengajaran dan, pergi ke pemuda yang sedang menggiring ternak melalui halaman, mengambil cambuk talinya dan dengan cepat mengusir kawanan hewan itu dari bait suci. Tapi itu belum semuanya; dia melangkah dengan gagah di depan tatapan heran ribuan orang yang berkumpul di pelataran bait suci menuju ke kandang ternak yang paling jauh kemudian membuka gerbang setiap kandang dan mengeluarkan hewan-hewan yang dikerangkeng itu. Pada saat ini para musafir yang berkumpul itu seperti tersengat, dan dengan berteriak gempar mereka bergerak menuju pasar dan mulai membalikkan meja-meja penukar uang. Dalam waktu kurang dari lima menit semua perdagangan telah disapu bersih dari bait suci. Pada saat para penjaga Romawi yang berdekatan muncul di tempat kejadian, semuanya tenang, dan orang banyak telah menjadi tertib; Yesus, kembali ke mimbar pembicara, berbicara kepada orang banyak: “Kalian hari ini telah menyaksikan apa yang tertulis dalam Kitab Suci: 'Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa, tetapi kalian telah membuatnya menjadi sarang penyamun.'”

Namun sebelum ia bisa mengucapkan kata-kata lain, kumpulan besar jemaah itu meledak dalam pujian hosana, dan segera sekerumunan pemuda melangkah keluar dari kerumunan untuk menyanyikan lagu-lagu syukur penghargaan karena para pedagang duniawi pencari untung itu telah diusir dari bait suci. Pada saat ini beberapa imam telah tiba di tempat kejadian, dan salah seorang dari mereka berkata kepada Yesus, “Apakah engkau tidak mendengar apa yang anak-anak Lewi itu katakan?” Dan Guru menjawab, “Apakah kamu tidak pernah membaca, 'Bahwa dari mulut bayi dan anak-anak yang menyusu pun puji-pujian sudah disempurnakan'?” Dan seluruh sisa hari itu, sementara Yesus mengajar, para penjaga ditempatkan oleh rakyat untuk menjaga setiap gerbang, dan mereka tidak mau mengizinkan siapa pun untuk membawa walaupun hanya wadah kosong melewati halaman-halaman bait suci.

Ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang kejadian ini, mereka tercengang. Semakin lagi mereka takut akan Guru, dan semakin lagi mereka bertekad untuk membunuhnya. Tapi mereka tidak tahu berbuat apa. Mereka tidak tahu bagaimana mendatangkan kematiannya, karena mereka sangat takut orang banyak, yang sekarang begitu vokal dalam persetujuan mereka untuk pengusiran para pencari untung duniawi itu. Dan sepanjang hari ini, hari yang tenang dan damai dalam halaman-halaman bait suci, orang-orang mendengar ajaran Yesus dan benar-benar memegang erat kata-katanya.

Tindakan mengejutkan dari Yesus ini di luar pemahaman para rasulnya. Mereka begitu terkejut oleh gerakan tiba-tiba dan tak terduga dari Guru mereka sehingga mereka tetap dalam seluruh episode ini bergerombol bersama-sama dekat mimbar pembicara; mereka tidak pernah ikut sedikitpun melanjutkan pembersihan bait suci ini. Jika kejadian spektakuler ini terjadi sehari sebelumnya, pada saat kedatangan pawai kemenangan Yesus di bait suci pada akhir prosesi riuh rendah melalui pintu gerbang kota, sambil dengan keras dipuji-puji oleh orang banyak, mereka mungkin telah siap untuk hal itu, tapi terjadi seperti itu, mereka sepenuhnya tidak siap untuk ikut serta.

Pembersihan bait suci ini mengungkapkan sikap Guru terhadap komersialisasi praktek-praktek keagamaan serta kebenciannya terhadap semua bentuk ketidakadilan dan pencarian untung dengan mengorbankan orang yang miskin dan yang tidak terpelajar. Episode ini juga menunjukkan bahwa Yesus tidak memandang dengan setuju terhadap penolakan untuk menggunakan kekuatan untuk melindungi mayoritas kelompok manusia tertentu terhadap praktek-praktek tidak adil dan memperbudak dari minoritas tidak adil yang mungkin dapat membentengi diri mereka di belakang kekuasaan politik, keuangan, atau keagamaan. Orang-orang yang licin, jahat, dan penuh tipu daya tidak boleh diizinkan untuk mengorganisir diri mereka untuk eksploitasi dan penindasan atas orang-orang yang, karena idealisme mereka, tidak bersedia menggunakan kekuatan untuk perlindungan diri sendiri atau untuk kelanjutan proyek-proyek kehidupan mereka yang terpuji.

2. Menantang Otoritas Guru

Pada hari Minggu pawai kemenangan masuk ke Yerusalem begitu mempesona para pemimpin Yahudi sehingga mereka menahan diri sehingga tidak menangkap Yesus. Hari ini, pembersihan spektakuler bait suci itu juga secara efektif menunda penangkapan Guru. Hari demi hari para penguasa Yahudi menjadi lebih dan lebih bertekad untuk membunuhnya, tapi mereka terganggu sekali oleh dua ketakutan, yang bekerjasama menunda waktu pelaksanaannya. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat tidak mau menangkap Yesus di depan umum karena takut orang banyak mungkin berbalik pada mereka dalam amuk kemarahan; mereka juga takut kemungkinan para penjaga Romawi dipanggil untuk memadamkan pemberontakan rakyat.

Pada sesi siang Sanhedrin disepakati secara bulat bahwa Yesus harus cepat-cepat dilenyapkan, berhubung tidak ada teman Guru yang menghadiri pertemuan ini. Tapi mereka tidak bisa sepakat kapan dan bagaimana dia akan ditahan. Akhirnya mereka setuju menunjuk lima kelompok untuk pergi ke antara orang-orang dan berusaha untuk menjerat Yesus dalam ajarannya atau untuk menjelekkan dirinya di mata orang-orang yang mendengarkan ajarannya. Oleh karena itu, sekitar jam dua siang, ketika Yesus baru saja mulai ceramahnya tentang “Kemerdekaan Anak Tuhan,” sekelompok tua-tua Israel ini maju ke dekat Yesus dan, menyelanya dengan cara yang sesuai kebiasaan, mengajukan pertanyaan ini: “Oleh wewenang apa engkau lakukan hal-hal ini? Siapa yang memberi engkau wewenang ini?”

Pantas sepenuhnya bahwa penguasa bait suci dan para pejabat Sanhedrin Yahudi akan menanyakan pertanyaan ini terhadap siapa saja yang berani mengajar dan bertindak dengan cara yang luar biasa yang telah menjadi ciri khas Yesus, terutama karena menyangkut perbuatan baru-baru ini membersihkan bait suci dari semua perdagangan. Para pedagang dan penukar uang ini semua beroperasi berdasarkan izin langsung dari penguasa tertinggi, dan suatu persentase dari keuntungan mereka dianggap masuk langsung ke kas bait suci. Jangan lupa bahwa wewenang adalah kata pengenal seluruh Yahudi. Para nabi selalu memicu masalah karena mereka begitu berani mengajar tanpa wewenang, tanpa telah sepatutnya dididik dalam akademi para rabi dan kemudian ditahbiskan secara reguler oleh Sanhedrin. Kurangnya otoritas ini dalam keberanian pengajaran publik dipandang sebagai menunjukkan kelancangan yang bodoh atau pemberontakan yang terbuka. Pada saat ini hanya Sanhedrin yang bisa menahbiskan seorang penatua atau guru, dan upacara tersebut harus berlangsung di hadapan setidaknya tiga orang yang sebelumnya telah ditahbiskan seperti itu. Penahbisan tersebut memberikan gelar “rabi” pada guru itu dan juga membuatnya memenuhi syarat untuk bertindak sebagai hakim, “mengikat dan melepaskan perkara-perkara yang mungkin dibawa kepadanya untuk diadili.”

Para penguasa bait suci yang datang di depan Yesus pada jam sore ini menantang tidak hanya ajarannya, tapi perbuatannya. Yesus tahu dengan baik bahwa orang-orang yang sama ini telah lama mengajarkan secara umum bahwa wewenangnya untuk mengajar adalah dari Setan, dan bahwa semua karya ajaib itu telah dibuat oleh kuasa para pemuka setan. Karena itu Guru memulai jawabannya pada pertanyaan mereka dengan mengajukan pertanyaan balasan. Kata Yesus: “Aku juga ingin mengajukan satu pertanyaan yang, jika kalian mau menjawab aku, aku juga akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah aku melakukan pekerjaan-pekerjaan ini. Baptisan Yohanes, dari mana itu? Apakah Yohanes mendapatkan wewenangnya dari surga atau dari manusia?”

Dan ketika para penanya itu mendengar ini, mereka mundur ke satu sisi untuk berembuk di antara mereka sendiri mengenai jawaban yang dapat mereka berikan. Mereka telah berpikir untuk mempermalukan Yesus di depan orang banyak, tapi sekarang mereka menemukan diri mereka amat bingung di depan semua orang yang berkumpul pada waktu itu di pelataran bait suci. Dan kebingungan mereka semua makin jelas ketika mereka kembali kepada Yesus, dengan mengatakan: “Mengenai baptisan Yohanes, kami tidak bisa menjawab; kami tidak tahu.” Mereka menjawab begitu kepada Guru karena mereka telah berunding di antara mereka sendiri: Jikalau kita katakan dari surga, maka dia akan katakan, Mengapa kalian tidak percaya dia, dan barangkali akan menambahkan bahwa dia menerima otoritasnya dari Yohanes; dan jika kita katakan dari manusia, maka mungkin orang banyak akan melawan kita, karena sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa Yohanes adalah seorang nabi; dan demikianlah mereka terpaksa untuk datang ke hadapan Yesus dan orang banyak, mengakui bahwa mereka, para guru agama dan pemimpin Israel, tidak dapat (atau tidak mau) menyatakan pendapat tentang misinya Yohanes. Dan setelah mereka berbicara, Yesus, melihat ke bawah kepada mereka, berkata, “Aku pun tidak akan mengatakan kepadamu dengan wewenang apa aku melakukan hal-hal ini.”

Yesus tidak pernah bermaksud untuk mengacu pada Yohanes untuk wewenangnya; Yohanes belum pernah ditahbiskan oleh Sanhedrin. Otoritas Yesus ada dalam dirinya sendiri dan dalam supremasi kekal Bapanya.

Dengan menggunakan metode ini untuk berurusan dengan musuh-musuhnya, Yesus tidak bermaksud untuk mengelak dari pertanyaan. Pada awalnya mungkin tampak bahwa dia bersalah karena menghindar secara pintar ini, tapi tidaklah demikian. Yesus tidak pernah bersedia untuk mengambil keuntungan yang tidak adil dari musuh-musuhnya sekalipun. Dengan apa yang tampaknya sebagai pengelakan ini dia sebenarnya menyediakan kepada semua pendengarnya jawaban atas pertanyaan orang-orang Farisi mengenai wewenang di balik misinya. Mereka telah menegaskan bahwa dia berbuat dengan otoritas dari penghulu setan. Yesus telah berulang kali menegaskan bahwa semua ajaran dan karya-karyanya adalah dengan kuasa dan wewenang dari Bapanya di surga. Pemimpin-pemimpin orang Yahudi ini menolak untuk menerima hal ini dan berusaha untuk menyudutkan dia supaya mengakui bahwa dia adalah seorang guru yang tidak sah karena dia belum pernah dikukuhkan oleh Sanhedrin. Dengan menjawab mereka seperti yang dia lakukan, meskipun tidak menyatakan bahwa wewenangnya dari Yohanes, dia begitu memuaskan rakyat dengan kesimpulan bahwa upaya musuh-musuhnya untuk menjerat dia secara efektif berbalik ke atas mereka sendiri dan banyak menjelekkan mereka di mata semua yang hadir.

Kejeniusan Guru untuk menghadapi musuh-musuhnya inilah yang membuat mereka begitu takut padanya. Mereka tidak mencoba bertanya lagi hari itu; mereka mundur untuk berembuk lebih lanjut di antara mereka sendiri. Tetapi orang-orang tidak lambat untuk melihat ketidakjujuran dan ketidaktulusan dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para penguasa Yahudi ini. Bahkan orang biasa pun bisa membedakan antara keagungan moral Guru dan kemunafikan pura-pura musuh-musuhnya. Tetapi pembersihan bait suci telah membuat orang Saduki menyeberang ke pihak orang Farisi dalam menyempurnakan rencana untuk membunuh Yesus. Dan orang-orang Saduki saat itu merupakan mayoritas di Sanhedrin.

3. Perumpamaan tentang Dua Anak

Saat orang-orang Farisi pengejek itu berdiri di sana dalam keheningan di depan Yesus, dia memandang ke bawah pada mereka dan berkata: “Karena kalian ragu tentang misi Yohanes dan bersekutu dalam permusuhan terhadap pengajaran dan pekerjaan-pekerjaan Anak Manusia, berikan telinga sementara aku memberitahu kalian sebuah perumpamaan: Ada seorang pemilik lahan besar dan terhormat yang memiliki dua putra, dan karena menginginkan bantuan anak-anaknya dalam pengelolaan perkebunan besarnya, ia datang kepada salah seorang dari mereka, berkata, ‘Nak, pergi bekerjalah hari ini di kebun anggurku.’ Dan anak yang sembarangan ini menjawab ayahnya, berkata, ‘Aku tidak mau pergi’; tapi setelah itu ia menyesal dan pergi. Ketika ia menemukan anaknya yang lebih tua, juga dia berkata kepadanya, ‘Nak, pergi bekerjalah di kebun anggurku.’ Dan anak yang munafik dan tidak setia ini menjawab, ‘Ya, ayahku, aku akan pergi.’ Tapi setelah ayahnya pergi, ia tidak pergi. Mari aku bertanya, yang mana dari dua anak ini yang benar-benar melakukan kehendak ayahnya?”

Dan orang-orang berkata dengan sehati, mengatakan, “Anak pertama.” Lalu kata Yesus: “Benar demikian; dan sekarang aku menyatakan bahwa para pemungut cukai dan pelacur, meskipun mereka tampaknya menolak panggilan untuk bertobat, akan melihat kesalahan jalan mereka dan masuk kerajaan Tuhan sebelum kalian, yang membuat kepura-puraan besar melayani Bapa di surga sementara kalian menolak untuk melakukan pekerjaan Bapa. Bukan kalian, orang-orang Farisi dan ahli-ahli kitab, yang percaya Yohanes, melainkan pemungut cukai dan orang berdosa; demikian juga kalian tidak percaya ajaranku, tetapi orang-orang biasa mendengar kata-kataku dengan senang.”

Yesus tidak membenci orang-orang Farisi dan Saduki secara pribadi. Sistem pengajaran dan kebiasaan mereka itulah yang dia hendak cela. Dia tidak bermusuhan dengan manusia siapapun, tetapi di sini terjadi bentrokan tak terelakkan antara agama roh yang baru dan hidup itu melawan agama upacara, tradisi, dan wewenang yang lebih lama.

Sepanjang waktu ini dua belas rasul berdiri di dekat Guru, tetapi mereka sama sekali tidak ikut serta dalam peristiwa-peristiwa ini. Masing-masing dari dua belas bereaksi dengan cara khas mereka pada peristiwa-peristiwa di hari-hari penutupan pelayanan Yesus dalam daging ini, dan masing-masing juga tetap taat pada perintah Guru untuk menghindari semua pengajaran dan khotbah publik selama minggu Paskah ini.

4. Perumpamaan tentang Tuan Tanah yang Pergi Jauh

Ketika orang-orang Farisi kepala dan ahli-ahli kitab yang telah berusaha untuk menjerat Yesus dengan pertanyaan-pertanyaan mereka itu telah selesai mendengarkan kisah tentang dua anak, mereka menarik diri untuk berembuk lebih lanjut, dan Guru, mengalihkan perhatiannya pada orang banyak yang mendengarkan, menceritakan perumpamaan lain:

“Ada seorang pria yang baik yang adalah pemilik rumah, dan ia menanami sebuah kebun anggur. Dia memasang pagar sekitarnya, menggali lubang untuk pemerasan anggur, dan membangun sebuah menara untuk para penjaga. Lalu ia menyewakan kebun anggur ini kepada penyewa-penyewa sementara ia pergi pada suatu perjalanan panjang ke negeri lain. Dan ketika musim berbuah mendekat, ia mengirim hamba-hamba kepada penyewa-penyewa itu untuk menerima uang sewanya. Tapi mereka bersekongkol di antara mereka sendiri dan menolak untuk memberikan pada hamba-hamba ini buah yang menjadi hak tuan mereka; sebagai gantinya, mereka menganiaya para hambanya, memukuli yang satu, melempari batu yang lain, dan mengusir yang lain pergi dengan tangan hampa. Dan ketika pemilik rumah mendengar tentang ini semua, ia mengirim hamba lain yang lebih dipercaya untuk berurusan dengan para penyewa jahat ini, dan mereka ini mereka lukai dan juga diperlakukan dengan memalukan. Dan kemudian pemilik rumah mengirim hamba kepercayaannya, pengurusnya, dan yang ini mereka bunuh. Dan masih lagi, dengan sabar dan dengan menahan diri, ia mengirim banyak hamba-hamba lain, tetapi tidak ada yang mereka terima. Beberapa mereka pukuli, yang lain mereka bunuh, dan ketika pemilik rumah telah diperlakukan seperti itu, ia memutuskan untuk mengirimkan anaknya untuk menangani para penyewa yang tidak tahu berterima kasih ini, sambil berkata pada dirinya sendiri, ‘Mereka mungkin saja memperlakukan buruk hamba-hambaku, tetapi mereka pasti akan menunjukkan hormat untuk putra kesayanganku.’ Tapi saat para penyewa yang tidak mau bertobat dan jahat ini melihat anak itu, mereka itu berpikir di antara mereka: 'Ini adalah ahli warisnya; ayo, mari kita bunuh dia dan kemudian warisan akan menjadi milik kita.’ Jadi mereka menangkap dia, dan setelah mengusir dia keluar dari kebun anggur itu, mereka membunuhnya. Kalau tuan kebun anggur itu mendengar bagaimana mereka telah menolak dan membunuh anaknya, apa yang akan dilakukannya pada penggarap-penggarap yang tidak tahu berterima kasih dan jahat itu?”

Dan ketika orang-orang mendengar perumpamaan ini dan pertanyaan yang Yesus ajukan, mereka menjawab, “Dia akan menghabisi orang-orang payah itu dan menyewakan kebun anggurnya kepada petani lain yang jujur yang akan memberikan dia buah-buahan pada musimnya.” Dan ketika beberapa dari mereka yang mendengar merasa bahwa perumpamaan ini mengacu pada bangsa Yahudi dan perlakuannya pada para nabi dan penolakan yang akan datang terhadap Yesus dan injil kerajaan, mereka berkata dengan sedih, “Semoga jangan sampai kita terus melakukan hal-hal ini.”

Yesus melihat sekelompok orang Saduki dan orang Farisi berusaha berjalan melalui kerumunan, dan dia berhenti sejenak sampai mereka mendekati dia, ketika dia berkata: “Kalian tahu bagaimana bapa-bapamu menolak para nabi, dan kalian juga tahu bahwa kalian bertekad dalam hatimu untuk menolak Anak Manusia.” Dan kemudian, sambil melihat dengan tatapan menyelidik pada para imam dan tua-tua yang berdiri di dekatnya, Yesus berkata: “Apakah kalian belum pernah membaca dalam Kitab Suci tentang batu yang dibuang para pembangun, dan yang, ketika orang-orang telah menemukannya, dibuat menjadi batu penjuru? Dan sekali lagi aku memperingatkan kalian bahwa, jika kalian terus menolak injil ini, tidak lama lagi kerajaan Allah akan diambil dari pada kalian dan akan diberikan kepada suatu umat yang bersedia untuk menerima kabar baik dan menghasilkan buah-buah roh. Dan ada sebuah misteri tentang batu ini, karena barangsiapa jatuh ke atasnya, meskipun karena itu ia pecah berantakan, tapi ia akan diselamatkan; tetapi kepada siapapun batu ini menimpa, ia akan hancur menjadi debu dan abunya tersebar ke seluruh empat mata angin.”

Ketika orang-orang Farisi mendengar kata-kata ini, mereka mengerti bahwa Yesus mengacu pada diri mereka dan para pemimpin Yahudi lainnya. Mereka sangat ingin untuk menangkap Yesus saat itu juga dan di sana, tetapi mereka takut orang banyak. Namun demikian, mereka begitu marah oleh kata-kata Guru sehingga mereka menarik diri dan mengadakan pertemuan lebih lanjut di antara mereka sendiri tentang bagaimana mereka dapat menyebabkan kematiannya. Dan malam itu orang Saduki maupun orang Farisi keduanya bergandengan tangan dalam rencana untuk menjebak dia pada hari berikutnya.

5. Perumpamaan tentang Pesta Pernikahan

Setelah para ahli kitab dan penguasa mundur, Yesus berbicara lagi kepada orang banyak yang berkumpul dan mengatakan perumpamaan tentang pesta pernikahan. Dia berkata:

“Kerajaan surga itu bisa disamakan dengan seorang raja tertentu yang membuat pesta pernikahan untuk anaknya dan mengirim utusan-utusan untuk memanggil orang-orang yang sebelumnya telah diundang ke pesta untuk datang, mengatakan, ‘Semuanya sudah siap untuk perjamuan kawin di istana raja.’ Adapun, banyak dari mereka yang pernah berjanji untuk hadir, pada saat ini menolak untuk datang. Ketika raja mendengar penolakan terhadap undangannya tersebut, ia menyuruh hamba-hamba dan utusan-utusan lainnya, mengatakan: ‘Beritahu semua orang yang diundang, untuk datang, karena, lihatlah, jamuan makanku sudah siap. Lembu dan ternak gemukanku telah dipotong dan semua ini sebagai persiapan untuk perayaan pernikahan mendatang putraku.’ Tapi lagi-lagi mereka yang ceroboh itu mengabaikan panggilan dari raja mereka ini, dan mereka pergi ke urusan mereka, yang satu ke ladang, yang lain ke pembuatan tembikar, dan lain-lain ke barang dagangan mereka. Yang lain lagi tidak puas dengan hanya meremehkan panggilan raja seperti itu, tetapi dalam pemberontakan terbuka mereka menangkap utusan raja dan menganiaya mereka secara memalukan, bahkan membunuh beberapa dari mereka. Dan ketika raja merasakan bahwa tamu-tamu yang dipilihnya, bahkan mereka yang telah menerima undangan pendahuluan dan telah berjanji untuk menghadiri pesta pernikahan itu, pada akhirnya telah menolak panggilan dan dengan memberontak telah menyerang dan membunuh para utusan yang dipilihnya, maka ia menjadi sangat murka. Dan kemudian raja yang dihina ini memerintahkan pasukannya dan tentara sekutu-sekutunya dan menyuruh mereka untuk menghancurkan para pembunuh yang memberontak ini dan membakar kota mereka.

"Dan setelah ia menghukum mereka yang menolak undangannya, ia menunjuk hari lain lagi untuk pesta pernikahan dan berkata kepada utusan-utusannya: ‘Mereka yang pertama kali diundang ke pernikahan itu tidak layak; jadi pergilah sekarang ke persimpangan jalan dan ke jalan raya dan bahkan ke luar batas-batas kota, dan sebanyak yang bisa kalian temukan, undanglah orang-orang asing ini juga untuk datang dan menghadiri pesta pernikahan ini.’ Dan kemudian hamba-hamba tersebut pergi ke semua jalan raya dan tempat-tempat yang di luar jalanan, dan mereka mengumpulkan sebanyak yang bisa mereka temukan, yang baik dan yang jahat, kaya dan miskin, sehingga akhirnya gedung pernikahan itu penuh dengan tamu-tamu yang bersedia. Ketika semua sudah siap, raja datang untuk melihat para tamunya, dan alangkah terkejutnya karena ia melihat ada seorang laki-laki tanpa pakaian pesta. Raja itu, karena ia dengan cuma-cuma telah menyediakan pakaian pesta untuk semua tamunya, berbicara kepada orang ini, mengucapkan: ‘Teman, bagaimana sehingga kamu datang ke ruangan tamu-tamuku pada acara ini tanpa pakaian pesta?' Dan orang yang tidak siap ini terdiam. Lalu kata raja kepada para pegawainya: ‘Usir keluar tamu yang sembarangan ini dari istanaku untuk berbagi nasib dengan banyak semua orang lain yang telah menolak keramahanku dan menolak panggilanku. Aku tidak mau ada yang lain di sini kecuali orang-orang yang senang menerima undanganku, dan yang memberiku kehormatan dengan memakai pakaian tamu yang telah dengan bebas disediakan untuk semuanya.'”

Setelah mengatakan perumpamaan ini, Yesus hendak membubarkan orang banyak ketika seorang percaya yang simpatik, sambil berusaha berjalan melalui kerumunan ke arahnya, bertanya: “Tapi, Guru, bagaimana kami akan tahu tentang hal-hal ini? Bagaimana kami harus siap untuk undangan raja? Apa tanda yang akan engkau berikan kepada kami supaya kami akan tahu bahwa engkau adalah Anak Tuhan?” Dan ketika Guru mendengar ini, ia berkata, “Hanya satu tanda akan diberikan kepadamu.” Dan kemudian, sambil menunjuk ke badannya sendiri, dia melanjutkan, “Hancurkanlah bait suci ini, dan dalam tiga hari aku akan membangkitkannya kembali.” Tapi mereka tidak memahaminya, dan sementara mereka bubar, mereka berbicara di antara mereka sendiri, mengatakan, “Hampir lima puluh tahun bait suci ini telah dibangun, namun dia mengatakan dia akan menghancurkannya dan mendirikannya dalam tiga hari.” Bahkan para rasulnya sendiri tidak memahami makna dari ucapan ini, tetapi kemudian, setelah kebangkitannya, mereka mengingat apa yang telah dikatakannya.

Sekitar jam empat sore ini Yesus memberi isyarat kepada para rasulnya dan menunjukkan bahwa dia ingin meninggalkan bait suci dan pergi ke Betania untuk makan malam mereka dan semalam istirahat. Di tengah perjalanan menuju Bukit Zaitun Yesus menyuruh Andreas, Filipus dan Tomas supaya esok harinya mereka membangun sebuah perkemahan lebih dekat kota, yang dapat mereka tempati selama sisa minggu Paskah. Menaati instruksi ini pagi esoknya mereka mendirikan tenda-tenda mereka di sebuah celah lereng bukit yang menghadap taman perkemahan umum Getsemani, di atas sebidang tanah milik Simon dari Betania.

Sekali lagi sekelompok orang-orang Yahudi yang hening itu berjalan naik sampai lereng barat Bukit Zaitun pada hari Senin malam ini. Dua belas orang ini, seperti belum pernah sebelumnya, mulai merasakan bahwa sesuatu yang tragis akan terjadi. Meskipun pembersihan dramatis bait suci pada awal pagi itu telah membangkitkan harapan mereka melihat Guru menegaskan dirinya dan mewujudkan kuasanya yang dahsyat, peristiwa-peristiwa sepanjang sore hanya berlangsung sebagai suatu antiklimaks karena semua menunjuk ke penolakan pasti ajaran Yesus oleh penguasa-penguasa Yahudi. Para rasul dicengkeram oleh ketegangan dan dicengkeram dalam genggaman kuat ketidakpastian yang mengerikan. Mereka menyadari bahwa mungkin tinggal beberapa hari singkat saja antara peristiwa-peristiwa pada hari yang baru dilewati dan datangnya bencana yang akan datang. Mereka semua merasa bahwa sesuatu yang hebat sekali akan terjadi, tetapi mereka tidak tahu apa yang diharapkan. Mereka pergi ke berbagai tempat mereka untuk beristirahat, tetapi mereka tidur sangat sedikit. Bahkan si kembar Alfeus akhirnya terjaga pada kesadaran bahwa peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Guru sedang bergerak cepat menuju puncak terakhirnya.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved