Makalah 158: Gunung Transfigurasi

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 158

Gunung Transfigurasi

HARI sudah menjelang senja pada hari Jumat sore, 12 Agustus tahun 29 M, ketika Yesus dan rekan-rekannya mencapai kaki Gunung Hermon, dekat tempat di mana anak lelaki Tiglat pernah menunggu sementara Guru mendaki gunung sendirian untuk menyelesaikan takdir-takdir rohani Urantia dan secara teknis mengakhiri pemberontakan Lucifer. Di sini mereka singgah selama dua hari dalam persiapan rohani terhadap peristiwa-peristiwa yang segera akan menyusul.

Secara umum, Yesus tahu sebelumnya apa yang akan berlangsung di atas gunung, dan dia amat menginginkan agar semua rasulnya dapat berbagi pengalaman ini. Untuk menyesuaikan mereka terhadap pengungkapan dirinya inilah maka dia menunggu bersama mereka di kaki gunung. Namun mereka tidak bisa mencapai tingkat rohani tertentu yang akan membuat mereka mampu mengalami pengalaman penuh kunjungan sosok-sosok selestial yang akan segera hadir di bumi. Dan karena dia tidak dapat membawa semua rekan-rekannya bersamanya, dia memutuskan untuk mengambil hanya tiga yang biasa menyertai dia pada hal berjaga-jaga secara khusus seperti itu. Dengan demikian, hanya Petrus, Yakobus, dan Yohanes yang mengambil bagian meskipun sebagian dari pengalaman unik bersama dengan Guru ini.

1. Transfigurasi (Perubahan Rupa)

Pagi-pagi pada hari Senin, 15 Agustus, Yesus dan tiga rasul memulai pendakian Gunung Hermon, dan ini adalah enam hari setelah pengakuan siang hari yang mengesankan dari Petrus di pinggir jalan di bawah pohon-pohon murbei.

Yesus telah diundang untuk naik ke atas gunung, selain oleh dirinya sendiri, adalah untuk transaksi urusan-urusan penting yang berkaitan dengan kemajuan penganugerahan dirinya dalam daging sebagaimana pengalaman ini terkait dengan alam semesta ciptaannya sendiri. Adalah penting bahwa peristiwa luar biasa ini dibuat waktunya terjadi ketika Yesus dan para rasul berada di tanah orang-orang kafir, dan bahwa hal itu benar-benar terjadi di sebuah gunung orang kafir.

Mereka mencapai tujuan mereka, sekitar setengah jalan naik gunung, tak lama sebelum tengah hari, dan sementara makan siang, Yesus berkata kepada tiga rasul sesuatu tentang pengalamannya di perbukitan di sebelah timur Yordan segera setelah baptisannya dan juga beberapa lagi dari pengalamannya di Gunung Hermon sehubungan dengan kunjungan sebelumnya ke tempat retret yang sepi ini.

Ketika masih seorang anak, Yesus terbiasa untuk naik bukit dekat rumahnya dan membayangkan pertempuran yang telah dipertarungkan antara pasukan-pasukan kerajaan di dataran Esdraelon; sekarang dia naik gunung Hermon untuk menerima karunia kemampuan yang akan mempersiapkan dia untuk turun ke atas dataran Yordan untuk memberlakukan adegan-adegan penutupan drama penganugerahan dirinya di Urantia. Guru bisa saja melepaskan perjuangan itu pada hari ini di Gunung Hermon dan kembali ke pemerintahannya atas wilayah-wilayah alam semesta, tetapi dia tidak hanya memilih untuk memenuhi persyaratan-persyaratan dari ordo keputraan ilahinya yang tercakup dalam amanat dari Putra Kekal di Firdaus, tetapi dia juga memilih untuk memenuhi takaran terakhir dan penuh dari kehendak Bapa Firdausnya saat itu. Pada hari di bulan Agustus ini tiga dari para rasulnya melihat dia menolak untuk dilantik dengan otoritas alam semesta penuh. Mereka memandang dengan takjub ketika para utusan selestial itu berangkat, meninggalkannya sendirian untuk mengakhiri hidupnya di bumi sebagai Anak Manusia dan Anak Tuhan.

Iman para rasul berada pada titik tinggi saat pemberian makan lima ribu orang, dan kemudian dengan cepat turun hampir nol. Sekarang, sebagai akibat dari pengakuan Guru akan keilahiannya, iman dari dua belas yang mundur itu bangkit dalam beberapa minggu ke depan ke puncak tertingginya, namun kemudian mengalami penurunan terus menerus. Kebangkitan ketiga iman mereka barulah terjadi setelah kebangkitan Guru.

Sekitar jam tiga pada sore hari yang indah ini Yesus berpamitan dari tiga rasul, mengatakan: “Aku pergi terpisah sesaat untuk berbicara dengan Bapa dan utusan-utusan-Nya; aku minta kamu menunggu di sini dan, sambil menunggu aku kembali, berdoa agar kehendak Bapa dapat dilakukan dalam semua pengalaman kamu sehubungan dengan misi penganugerahan Anak Manusia lebih lanjut.” Dan setelah mengatakan ini kepada mereka, Yesus menarik diri untuk konferensi panjang dengan Gabriel dan Bapa Melkisedek, tidak kembali sampai sekitar jam enam. Ketika Yesus melihat kecemasan mereka karena tidak hadirnya dia sekian lama, dia berkata: “Mengapa kamu takut? Kamu tahu benar bahwa aku harus berada di dalam pekerjaan Bapaku; Mengapakah kamu ragu ketika aku tidak bersama kamu? Aku sekarang menyatakan bahwa Anak Manusia telah memilih untuk meneruskan hidupnya dengan penuh di tengah-tengah kamu dan sebagai salah seorang dari kamu. Bergembiralah; aku tidak akan meninggalkan kamu sampai pekerjaanku selesai.”

Selagi mereka menyantap makan malam mereka yang sedikit itu, Petrus bertanya kepada Guru, “Berapa lama kita tetap di gunung ini jauh dari saudara-saudara kita?” Yesus menjawab: “Sampai kamu akan melihat kemuliaan Anak Manusia dan tahu bahwa apapun yang telah aku nyatakan kepadamu itu benar.” Lalu mereka membicarakan tentang perkara-perkara pemberontakan Lucifer sementara duduk sekitar bara api unggun mereka sampai kegelapan turun dan mata para rasul menjadi berat, karena mereka telah mulai perjalanan mereka sangat awal pagi itu.

Ketika ketiganya telah tertidur pulas selama sekitar setengah jam, mereka tiba-tiba dibangunkan oleh suatu suara berderak di dekat mereka, dan mereka begitu takjub dan cemas, saat melihat ke sekitar mereka, mereka melihat Yesus berbicara akrab dengan dua sosok cemerlang berpakaian busana cahaya alam selestial. Dan wajah dan wujud Yesus bersinar dengan terang dari cahaya surgawi. Ketiganya berbicara dalam suatu bahasa asing, tetapi dari hal-hal tertentu yang dikatakan, Petrus dengan keliru menduga bahwa sosok-sosok yang bersama Yesus itu adalah Musa dan Elia; dalam kenyataannya, mereka adalah Gabriel dan Bapa Melkisedek. Para pengendali fisik telah mengatur sehingga para rasul dapat menyaksikan adegan ini karena permintaan Yesus.

Tiga rasul begitu ketakutan sehingga mereka lambat menguasai diri mereka, tetapi Petrus, yang pertama memulihkan dirinya, mengatakan, ketika visi menyilaukan itu memudar dari depan mereka dan mereka mengamati Yesus berdiri sendirian: “Yesus, Guru, adalah baik untuk berada di sini. Kami bahagia melihat kemuliaan ini. Kami enggan kembali ke dunia yang hina. Jika engkau bersedia, marilah kita tinggal di sini, dan kami akan mendirikan tiga kemah, satu untuk engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.” Dan Petrus mengatakan ini karena kebingungannya, dan karena tidak ada yang lain datang di benaknya pada saat itu.

Sementara Petrus masih berbicara, suatu awan berwarna keperakan mendekat dan menaungi mereka berempat. Para rasul sekarang menjadi sangat ketakutan, dan saat mereka jatuh tengkurap untuk menyembah, mereka mendengar suara, sama dengan yang berbicara pada peristiwa baptisan Yesus, mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi; dengarkanlah dia.” Dan ketika awan itu menghilang, lagi Yesus sendirian dengan ketiganya, dan dia mengulurkan tangan dan menyentuh mereka, mengatakan: “Bangunlah dan jangan takut; kamu akan melihat hal-hal yang lebih besar dari ini.” Tetapi rasul-rasul itu benar-benar takut; mereka bertiga diam dan penuh pikiran karena mereka bersiap untuk turun gunung tak lama sebelum tengah malam.

2. Menuruni Gunung

Selama sekitar setengah jarak menuruni gunung tidak ada sepatahpun kata yang diucapkan. Yesus kemudian mulai pembicaraan dengan berkata: “Pastikan bahwa kamu tidak memberitahukan kepada siapapun, bahkan tidak pada saudara-saudara kamu, apa yang kamu lihat dan dengar di gunung ini sampai Anak Manusia telah bangkit dari yang mati.” Tiga rasul terkejut dan bingung oleh kata-kata Guru, “sampai Anak Manusia bangkit dari yang mati.” Mereka yang baru saja menegaskan kembali iman mereka kepadanya sebagai Pembebas, Anak Tuhan, dan mereka baru saja menyaksikan Yesus berubah rupa dalam kemuliaan di depan mata mereka, dan sekarang dia mulai berbicara tentang “bangkit dari yang mati”!

Peter bergidik membayangkan meninggalnya Guru—gagasan yang terlalu tidak menyenangkan untuk dibayangkan—dan kuatir bahwa Yakobus atau Yohanes mungkin mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan pernyataan ini, ia pikir terbaik untuk memulai pengalihan percakapan dan, karena tidak tahu apa lagi yang harus dibicarakan, ia mengungkapkan pikiran pertama yang datang dalam benaknya, yang adalah: “Guru, mengapa bahwa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu sebelum Mesias akan muncul?” Dan Yesus, mengetahui bahwa Petrus berusaha menghindari acuan pada kematian dan kebangkitannya, menjawab: “Memang Elia datang pertama untuk mempersiapkan jalan bagi Anak Manusia, yang harus menderita banyak hal dan akhirnya ditolak. Tetapi aku memberitahukanmu bahwa Elia sudah datang, dan mereka tidak menerimanya tetapi melakukan terhadap dia apapun yang mereka kehendaki.” Dan kemudian memang tiga rasul itu merasa bahwa dia menyebut Yohanes Pembaptis sebagai Elia. Yesus tahu bahwa, jika mereka tetap menganggap dia sebagai Mesias, maka haruslah Yohanes menjadi Elia yang ada dalam nubuatan.

Yesus memerintahkan mereka tetap diam tentang pengamatan mereka terhadap icip-icip pendahuluan dari kemuliaan pasca kebangkitannya karena dia tidak ingin memupuk gagasan bahwa, karena sekarang dia diterima sebagai Mesias, dia akan dalam taraf tertentu memenuhi konsep keliru mereka tentang pembebas yang melakukan keajaiban. Meskipun Petrus, Yakobus, dan Yohanes merenungkan semua ini dalam pikiran mereka, mereka tidak membicarakan hal itu kepada siapapun sebelum kebangkitan Guru.

Sementara mereka terus menuruni gunung, Yesus berkata kepada mereka: “Kamu tidak mau menerimaku sebagai Anak Manusia; oleh karena itu aku telah setuju untuk diterima sesuai dengan tekad kamu yang sudah tetap, tetapi, jangan salah, kehendak Bapaku harus berlaku. Jika kamu memilih untuk mengikuti kecenderungan kehendak kamu sendiri seperti itu, kamu harus siap untuk menderita banyak kekecewaan dan mengalami banyak cobaan, tapi pelatihan yang kuberikan kepada kamu harusnya cukup untuk membawa kamu berkemenangan bahkan melalui dukacita akibat pilihanmu sendiri.”

Yesus tidak membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes dengan dia naik ke gunung transfigurasi karena mereka dalam pengertian apapun lebih siap daripada para rasul yang lain untuk menyaksikan apa yang terjadi, atau karena mereka secara rohani lebih sesuai untuk menikmati hak istimewa yang langka tersebut. Tidak sama sekali. Dia juga dengan baik tahu bahwa tak satupun dari dua belas yang memenuhi syarat secara rohani bagi pengalaman ini; oleh karena itu dia membawa hanya tiga rasul yang ditugasi untuk menemaninya pada saat-saat ketika dia ingin sendirian untuk menikmati persekutuan.

3. Makna dari Transfigurasi

Apa yang Petrus, Yakobus, dan Yohanes saksikan di gunung transfigurasi adalah sekilas lintas pertunjukan selestial yang berlangsung pada hari yang penting di Gunung Hermon ini. Perubahan rupa itu adalah peristiwa:

1. Penerimaan oleh Putra-Ibu Kekal Firdaus mengenai kepenuhan penganugerahan kehidupan Mikhael yang dijelmakan di Urantia. Sejauh menyangkut persyaratan dari Putra Kekal itu, Yesus sekarang menerima kepastian pemenuhannya. Dan Gabriel membawa kepada Yesus kepastian itu.

2. Kesaksian tentang kepuasan Roh Tanpa Batas mengenai penuhnya penganugerahan Urantia dalam keserupaan manusia fana. Perwakilan Roh Tanpa Batas di alam semesta, yaitu rekan dekat Mikhael di Salvington dan teman kerjanya yang selalu hadir, pada kesempatan ini berbicara melalui Bapa Melkisedek.

Yesus menyambut kesaksian ini mengenai keberhasilan misi buminya yang disampaikan oleh utusan-utusan dari Putra Kekal dan Roh Tanpa Batas itu, tetapi dia mencatat bahwa Bapanya tidak menunjukkan bahwa penganugerahan dirinya di Urantia sudah selesai; hanya memang kehadiran Bapa yang tak terlihat itu bersaksi melalui Pelaras Dipersonalisasinya Yesus dan berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi; dengarkanlah dia.” Dan ini diucapkan dalam kata-kata untuk didengar juga oleh tiga rasul.

Setelah kunjungan selestial ini Yesus berusaha untuk mengetahui kehendak Bapanya dan memutuskan untuk menjalani penganugerahan diri fana sampai akhirnya secara alami. Inilah makna transfigurasi itu bagi Yesus. Pada ketiga rasul hal itu adalah peristiwa yang menandai masuknya Guru pada tahap akhir karier buminya sebagai Anak Tuhan dan Anak Manusia.

Setelah kunjungan resmi Gabriel dan Bapa Melkisedek, Yesus mengadakan pembicaraan informal dengan mereka ini, para Putranya dalam pelayanan, dan berkomunikasi dengan mereka mengenai urusan-urusan alam semesta.

4. Anak Lelaki Penderita Epilepsi

Tak lama sebelum waktu sarapan pada Selasa pagi ini ketika Yesus dan teman-temannya tiba di perkemahan kerasulan. Saat mereka mendekat, mereka melihat sekerumunan besar orang berkumpul di sekitar para rasul dan segera mulai mendengar kata-kata keras percekcokan dan perdebatan kelompok sekitar lima puluh orang ini, mencakup sembilan rasul dan suatu kumpulan yang terbagi sama antara ahli-ahli kitab Yerusalem dan murid-murid percaya yang telah melacak Yesus dan rekan-rekannya dalam perjalanan mereka dari Magadan.

Meskipun kerumunan itu terlibat dalam banyak perdebatan, pokok kontroversi adalah tentang seorang penduduk Tiberias yang tiba pada hari sebelumnya mencari Yesus. Pria ini, Yakobus dari Safed, memiliki seorang putra berusia empat belas tahun, anak tunggal, yang menderita epilepsi (ayan) parah. Selain penyakit saraf ini, anak lelaki ini telah dirasuki oleh sesosok makhluk tengah yang gentayangan, nakal, dan memberontak yang saat itu ada di bumi dan tidak dikendalikan, sehingga anak muda itu menderita epilepsi maupun juga kerasukan setan.

Selama hampir dua minggu ayah yang cemas ini, seorang pejabat rendah dari Herodes Antipas, telah mengembara keliling melalui perbatasan barat wilayahnya Filipus, mencari Yesus agar ia dapat memohon untuk menyembuhkan anak yang menderita ini. Dan ia belum berhasil menyusul rombongan kerasulan itu sampai sekitar siang pada hari ketika Yesus berada di atas gunung dengan tiga rasul.

Sembilan rasul itu amat terkejut dan sangat gelisah saat pria ini, disertai dengan hampir empat puluh orang lain yang sedang mencari Yesus, tiba-tiba datang kepada mereka. Pada saat kedatangan kelompok tersebut, sembilan rasul ini, setidaknya sebagian besar mereka, telah jatuh pada godaan lama mereka—yaitu membahas siapa yang akan menjadi yang terbesar dalam kerajaan yang akan datang; mereka sibuk berdebat tentang kemungkinan posisi yang akan ditugaskan kepada masing-masing rasul. Mereka benar-benar tidak bisa melepaskan diri sepenuhnya dari gagasan yang lama dipendam tentang misi duniawi Mesias. Dan sekarang bahwa Yesus sendiri telah menerima pengakuan mereka bahwa ia memang Pembebas—setidaknya dia telah mengakui fakta tentang keilahiannya—apa lagi yang lebih alami lagi dari hal itu, selama periode terpisah dari Guru ini, sehingga mereka jatuh untuk berbicara tentang harapan dan ambisi yang paling tinggi dalam hati mereka. Dan mereka sedang terlibat dalam diskusi-diskusi ini ketika Yakobusdari Safed dan teman-temannya pencari Yesus datang kepada mereka.

Andreas melangkah maju untuk menyambut ayah dan anaknya, mengatakan, “Siapakah yang engkau cari?" Kata Yakobus: “Sobatku yang baik, aku mencari Gurumu. Aku mencari kesembuhan bagi anakku yang menderita sakit. Aku ingin Yesus mengusir setan ini yang merasuki anakku.” Dan kemudian sang ayah melanjutkan dengan menceritakan kepada para rasul bagaimana anaknya begitu menderita sehingga ia telah berkali-kali hampir kehilangan hidupnya sebagai akibat dari kejang-kejang yang ganas ini.

Saat pada rasul mendengarkan, Simon Zelot dan Yudas Iskariot melangkah ke depan sang ayah, mengatakan: “Kami bisa menyembuhkannya; engkau tidak perlu menunggu kembalinya Guru. Kami adalah duta-duta kerajaan; tidak lagi kita menyimpan hal-hal ini secara rahasia. Yesus adalah Pembebas itu, dan kunci-kunci kerajaan telah diserahkan kepada kami.” Pada saat ini Andreas dan Tomas sedang berkonsultasi di satu sisi. Natanael dan yang lain melihat dengan takjub; mereka semua terkejut pada keberanian tiba-tiba, jika tidak bisa dikatakan kelancangan, dari Simon dan Yudas itu. Maka kata ayah itu: “Jika telah diberikan kepadamu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan ini, aku mohon agar engkau akan mengucapkan kata-kata yang akan melepaskan anakku dari belenggu ini.” Kemudian Simon melangkah maju dan, sambil menempatkan tangannya di atas kepala anak itu, menatap langsung ke matanya dan memerintahkan: “Keluarlah dari padanya, kamu roh najis; dalam nama Yesus taatilah aku.” Tapi pemuda itu bahkan semakin ganas, sementara para ahli kitab ramai mencemooh para rasul, dan orang-orang percaya yang kecewa itu menanggung ejekan dari kritikus-krititus yang tidak bersahabat ini.

Andreas sangat kecewa oleh upaya keliru dan kegagalan yang tidak mujur ini. Dia memanggil para rasul ke samping untuk pembicaraan dan doa. Setelah saat meditasi ini, merasakan tajamnya sengatan dari kekalahan mereka dan merasakan penghinaan ke atas mereka semua, Andreas berusaha, dalam upaya kedua, untuk mengusir setan itu, tetapi hanya kegagalan yang mengikuti usahanya. Andreas terus terang mengaku kalah dan meminta sang ayah untuk tetap bersama mereka semalam atau sampai Yesus kembali, dengan berkata: “Mungkin jenis ini tidak keluar kecuali oleh perintah pribadi Guru.”

Dan begitulah, sementara Yesus menuruni gunung dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes yang riang dan gembira, sembilan saudara-saudara mereka juga tidak tidur karena bingung dan merasa terhina. Mereka menjadi kelompok yang sedih dan tertegur. Tapi Yakobus dari Safed itu tidak mau menyerah. Meskipun mereka tidak bisa memberikan gagasan kapan Yesus akan kembali, ia memutuskan untuk terus tinggal sampai Guru kembali.

5. Yesus Menyembuhkan Anak Lelaki

Ketika Yesus mendekat, sembilan rasul lebih dari lega hati menyambutnya, dan mereka menjadi sangat dikuatkan melihat sikap riang dan antusiasme yang tidak biasa yang menandai raut wajah Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka semua bergegas maju untuk menyambut Yesus dan tiga saudara mereka. Sementara mereka bertegur sapa, kerumunan datang, dan Yesus bertanya, “Apa yang kalian ributkan ketika kami mendekat?” Tetapi sebelum para rasul yang bingung dan terhina itu bisa menjawab pertanyaan Guru, si ayah dari anak menderita yang cemas itu melangkah maju dan, sambil berlutut di kaki Yesus, mengatakan: “Guru, aku punya anak lelaki, anak tunggal, yang kerasukan roh jahat. Tidak hanya dia berteriak mengerikan, berbusa di mulut, dan jatuh seperti orang mati pada saat serangan ayan, tapi seringkali roh jahat ini yang merasuki dia mengoyakkan dia dalam kejang-kejang dan kadang-kadang telah melemparkan dia ke dalam air dan bahkan ke dalam api. Karena banyak kertak gigi dan sebagai akibat dari banyak luka, anakku merana sia-sia. Hidupnya lebih buruk daripada kematian; ibunya dan aku bersedih hati dan patah semangat. Sekitar tengah hari kemarin, ketika mencari engkau, aku bertemu dengan murid-muridmu, dan sementara kami menunggu, rasul-rasulmu berusaha untuk mengusir setan ini, tapi mereka tidak bisa melakukannya. Dan sekarang, Guru, maukah engkau melakukan hal ini untuk kami, maukah engkau menyembuhkan anakku?”

Setelah Yesus mendengarkan kisah ini, dia menyentuh ayah yang berlutut itu dan menyuruhnya bangkit sementara dia melihat dengan pandangan menyelidik kepada rasul-rasul yang berdekatan. Maka kata Yesus kepada semua orang yang berdiri di depannya: "Hai angkatan yang tidak beriman dan jahat, berapa lama lagi harus aku sabar dengan kamu? Berapa lama aku akan berada dengan kamu? Berapa lama sebelum kamu mengetahui bahwa pekerjaan-pekerjaan iman tidak muncul atas permintaan dari ketidakpercayaan dan keraguan?” Dan kemudian, sambil menunjuk kepada ayah yang gemetaran itu, Yesus berkata, “Bawalah kemari anakmu.” Dan setelah Yakobus membawa anaknya ke depan Yesus, ia bertanya, “Sudah berapa lama anak itu telah menderita seperti ini?” Sang ayah menjawab, “Sejak ia masih sangat kecil.” Dan sementara mereka berbicara, anak muda itu dikuasai serangan yang ganas dan jatuh di tengah mereka, mengertakkan giginya dan berbusa mulutnya. Setelah serangkaian kejang-kejang keras ia terbaring di sana di depan mereka seperti sudah mati. Sekarang ayah itu berlutut lagi di kaki Yesus sementara ia memohon pada Guru, mengatakan: “Jika engkau dapat menyembuhkannya, aku mohon engkau berbelas kasihan pada kami dan melepaskan kami dari penderitaan ini.” Dan ketika Yesus mendengar kata-kata ini, dia memandang ke bawah ke wajah cemas si ayah, mengatakan: “Jangan pertanyakan kuasa kasihnya Bapaku, tetapi ketulusan dan jangkauan imanmu. Semua perkara itu mungkin bagi orang yang benar-benar percaya.” Dan kemudian Yakobus dari Safed mengucapkan kata-kata iman bercampur ragu yang akan lama diingat itu, “Tuhan, aku percaya. Aku mohon engkau menolong ketidakpercayaanku.”

Ketika Yesus mendengar kata-kata ini, dia melangkah maju dan, sambil mengangkat tangan anak itu, berkata: “Aku akan melakukan ini sesuai dengan kehendak Bapaku dan menghormati iman yang hidup. Anakku, bangkitlah! Keluar dari dia, roh yang tidak taat, dan pergi jangan kembali ke dalamnya.” Sambil menaruh tangan anak itu di tangan si ayah, Yesus berkata: “Pergilah. Bapa telah mengabulkan keinginan jiwamu.” Dan semua yang hadir, bahkan musuh-musuh Yesus, takjub akan apa yang mereka lihat.

Memang suatu kekecewaan bagi tiga rasul yang baru saja menikmati ekstase rohani dari adegan dan pengalaman transfigurasi, karena begitu cepat kembali ke adegan kekalahan dan kegagalan rasul-rasul teman mereka. Tapi selalu demikian dengan dua belas duta besar kerajaan. Mereka tidak pernah gagal bergantian antara peninggian dan penghinaan dalam pengalaman hidup mereka.

Inilah penyembuhan sesungguhnya dari suatu penyakit ganda, sakit badan dan penyakit roh. Dan anak itu sembuh secara permanen sejak saat itu. Setelah Yakobus berangkat dengan anaknya yang dipulihkan, Yesus berkata: “Kita pergi sekarang ke Kaisarea Filipi; bersiaplah segera.” Dan mereka menjadi kelompok yang diam sewaktu mereka berjalan ke selatan sementara kerumunan orang banyak mengikuti di belakang.

6. Di Tamannya Celsus

Mereka menginap semalam di rumah Celsus, dan malam itu di taman, setelah mereka makan dan beristirahat, dua belas berkumpul sekitar Yesus, dan Tomas mengatakan: “Guru, sementara kami yang ditinggalkan menunggu masih tetap tidak tahu apa yang terjadi di atas gunung, dan apa yang begitu membuat sangat riang saudara-saudara kami yang bersama dengan engkau, kami rindu agar engkau berbicara kepada kami mengenai kegagalan kami dan mengajar kami dalam hal-hal ini, melihat bahwa hal-hal yang terjadi di atas gunung tidak dapat diungkapkan pada saat ini.”

Dan Yesus menjawab Tomas, mengatakan: “Segala sesuatu yang saudara-saudaramu dengar di atas gunung akan diungkapkan kepadamu pada waktunya. Tapi sekarang aku akan menunjukkan penyebab kekalahanmu dalam apa yang kamu upayakan dengan begitu tidak bijaksana. Sementara Gurumu dan teman-temannya, saudara-saudaramu, naik gunung yang di sana kemarin untuk mencari pengetahuan yang lebih besar akan kehendak Bapa dan untuk meminta kemampuan hikmat yang lebih kaya agar berhasil melakukan kehendak ilahi itu, kamu yang tinggal untuk berjaga di sini dengan petunjuk untuk berusaha memperoleh pikiran dengan wawasan rohani dan berdoa bersama kami untuk pengungkapan yang lebih penuh tentang kehendak Bapa, kamu gagal menggunakan iman pada pimpinanmu, tetapi, sebaliknya, menyerah kepada godaan dan jatuh pada kecenderungan jahat lama kamu untuk mencari bagi diri kamu sendiri tempat yang disukai dalam kerajaan surga. Kerajaan jasmani dan duniawi itu yang terus kamu renungkan. Dan kamu berpegang teguh pada konsep-konsep yang keliru ini meskipun pernyataanku berulang kali bahwa kerajaanku itu bukan dari dunia ini.

“Baru saja imanmu memahami siapa sebenarnya Anak Manusia tapi keinginan egois untuk pangkat duniawi merayap kembali ke atas kamu, dan kamu jatuh untuk membahas di antara kamu siapa yang akan menjadi yang terbesar dalam kerajaan surga, sebuah kerajaan yang, seperti yang kamu terus membayangkannya, tidak ada, atau tidak pernah akan ada. Bukankah aku mengatakan kepada kamu bahwa siapa yang ingin menjadi yang terbesar dalam kerajaan persaudaraan rohaninya Bapaku itu haruslah menjadi kecil dalam pandangannya sendiri dan dengan demikian menjadi pelayan saudara-saudaranya? Kebesaran rohani terdiri dalam kasih yang memahami yang adalah seperti Tuhan, dan bukan kenikmatan dalam penggunaan kekuasaan jasmani untuk peninggian diri sendiri. Dalam apa yang kamu cobakan, yang mana kamu benar-benar gagal, maksud kamu itu tidak murni. Motif kamu tidak ilahi. Cita-cita kamu tidak rohani. Ambisi kamu tidak mementingkan orang lain. Prosedur kamu tidak didasarkan pada kasih, dan sasaran pencapaian kamu bukan kehendak Bapa di surga.

“Berapa lama waktu agar membuat kamu belajar bahwa kamu tidak dapat memperpendek-waktu perjalanan fenomena alamiah yang ditahbiskan kecuali bila hal-hal tersebut sesuai dengan kehendak Bapa? Kamu juga tidak bisa melakukan pekerjaan rohani tanpa adanya kuasa rohani. Dan kamu tidak dapat melakukan satupun hal ini, bahkan ketika potensi mereka hadir, tanpa adanya faktor manusiawi yang ketiga dan pokok itu, yaitu pengalaman pribadi memiliki iman yang hidup. Haruslah kamu selalu memiliki manifestasi jasmani sebagai suatu daya tarik untuk kenyataan-kenyataan rohani kerajaan? Tidak dapatkah kamu memahami makna roh dari misiku tanpa pameran pekerjaan ajaib yang kelihatan? Kapan kamu bisa diandalkan untuk patuh pada kenyataan yang lebih tinggi dan rohani kerajaan itu terlepas dari penampilan yang kelihatan dari semua manifestasi jasmani?”

Sesudah Yesus berbicara dengan dua belas, ia menambahkan: “Dan sekarang pergilah beristirahat, karena esok kita kembali ke Magadan dan di sana berunding mengenai misi kita ke kota-kota dan desa-desa di Dekapolis. Dan dalam kesimpulan dari pengalaman hari ini, biarlah aku menyatakan kepada kamu masing-masing apa yang aku katakan pada saudara-saudaramu di gunung, dan biarkan kata-kata ini tinggal tetap di dalam hatimu: Anak Manusia sekarang masuk pada fase terakhir dari penganugerahan. Kita akan memulai pekerjaan yang akan segera mengarah pada pengujian besar dan akhir terhadap iman dan pengabdianmu ketika aku akan diserahkan ke tangan orang-orang yang menghendaki kematianku. Dan ingatlah apa yang kukatakan kepada kamu: Anak Manusia akan dihukum mati, namun dia akan bangkit lagi.”

Mereka beristirahat malam itu, dengan bersedih. Mereka terguncang; mereka tidak bisa memahami kata-kata ini. Dan sementara mereka takut untuk bertanya apapun tentang apa yang dia katakan, mereka mengingat semua itu setelah kebangkitannya.

7. Protes Petrus

Pagi-pagi hari Rabu ini Yesus dan dua belas berangkat dari Kaisarea Filipi ke Taman Magadan dekat Betsaida-Julias. Para rasul telah tidur sedikit sekali malam itu, sehingga mereka bangun pagi-pagi dan siap untuk pergi. Bahkan kembar Alfeus yang pendiam itu terkejut oleh pembicaraan tentang kematian Yesus ini. Saat mereka berangkat ke selatan, melewati Rawa Merom mereka sampai ke jalan Damaskus, dan karena ingin menghindari para ahli kitab dan orang-orang lain yang Yesus tahu akan segera datang mengikuti mereka, dia menyuruh agar mereka pergi ke Kapernaum melalui jalan Damaskus yang melewati Galilea. Dan dia melakukan ini karena dia tahu bahwa orang-orang yang mengikutinya akan terus turun melalui jalan timur Yordan karena mereka memperhitungkan bahwa Yesus dan para rasul akan takut untuk melewati wilayahnya Herodes Antipas. Yesus berusaha menghindari para pengkritiknya dan kerumunan orang banyak yang mengikutinya agar dia dapat sendirian dengan para rasulnya hari ini.

Mereka berjalan terus melalui Galilea sampai lewat waktu untuk makan siang mereka, ketika mereka berhenti di tempat teduh untuk beristirahat. Dan setelah mereka menyantap makanan, Andreas, berbicara kepada Yesus, mengatakan: “Guru, saudara-saudaraku tidak memahami perkataanmu yang mendalam. Kami telah sepenuhnya percaya bahwa engkau Anak Tuhan, dan sekarang kami mendengar kata-kata aneh tentang meninggalkan kami, tentang kematian. Kami tidak mengerti ajaranmu. Apakah engkau berbicara kepada kami dalam perumpamaan? Kami mohon engkau untuk berbicara kepada kami secara langsung dan dalam bentuk yang tidak disamarkan.”

Dalam jawaban pada Andreas, Yesus berkata: “Saudara-saudaraku, karena kamu telah mengakui bahwa akulah Anak Tuhan maka aku harus mulai mengungkapkan kepada kamu kebenaran tentang akhir penganugerahan diri Anak Manusia di bumi. Kamu terus berpegang pada keyakinan bahwa akulah Mesias, dan kamu tidak mau meninggalkan gagasan bahwa Mesias harus duduk di atas takhta di Yerusalem; Karena itulah aku tetap saja memberitahu kamu bahwa Anak Manusia harus segera pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh para ahli kitab, tua-tua, dan imam-imam kepala, dan setelah semua ini akan dibunuh dan dibangkitkan dari yang mati. Dan aku tidak berbicara perumpamaan kepada kamu; aku berbicara kebenaran kepada kamu agar kamu dapat dipersiapkan untuk peristiwa ini ketika hal itu tiba-tiba menimpa kita.” Dan sementara dia masih berbicara, Simon Petrus, menyerbu tidak sabar ke arahnya, meletakkan tangannya di atas bahu Guru dan berkata: “Guru, dijauhkanlah dari kami untuk membantah engkau, tapi aku nyatakan bahwa hal-hal ini tidak akan pernah terjadi kepadamu.”

Petrus berkata demikian karena ia mengasihi Yesus; tetapi sifat manusiawi Guru menyadari dalam kata-kata perhatian yang berarti baik itu adalah saran halus pencobaan agar ia mengubah kebijakannya untuk mengikuti sampai akhir penganugerahan buminya agar sesuai dengan kehendak Bapa Firdausnya. Dan karena dia mendeteksi bahaya mengizinkan saran dari teman-temannya yang sayang dan setia itu untuk mencegahnya, maka dia berpaling kepada Petrus dan rasul-rasul lainnya, mengatakan: “Pergi kamu ke belakangku. Kamu tercium bau roh si musuh, si penggoda itu. Kalau kamu berbicara dengan cara ini, kamu tidak berada di pihakku melainkan di pihak musuh kita. Dengan cara ini kamu membuat kasihmu kepadaku suatu batu sandungan agar aku tidak melakukan kehendak Bapa. Jangan pikirkan cara manusia melainkan kehendak Tuhan.”

Setelah mereka pulih dari kejutan pertama teguran Yesus yang menyengat itu, dan sebelum mereka melanjutkan perjalanan mereka, Guru berbicara lebih jauh: “Jika ada orang yang mau mengikut aku, hendaklah ia tidak mempedulikan dirinya, memikul tanggung jawabnya setiap hari, dan mengikut aku. Karena barangsiapa yang hendak menyelamatkan hidupnya untuk kepentingan dirinya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya demi aku dan karena injil, ia akan menyelamatkannya. Apa untungnya manusia memperoleh seluruh dunia dan kehilangan jiwanya sendiri? Apa yang dapat diberikannya sebagai ganti hidup yang kekal? Janganlah malu karena aku dan karena perkataanku dalam generasi yang berdosa dan munafik ini, sama seperti aku tidak akan malu untuk mengakui kamu ketika dalam kemuliaan aku muncul di depan Bapaku di hadapan semua kawanan surgawi. Namun demikian, banyak dari kamu yang sekarang berdiri di depanku tidak akan merasakan kematian sampai kamu melihat kerajaan Tuhan ini datang dengan kuasa.”

Maka dengan demikian Yesus membuat jelas kepada dua belas jalan yang menyakitkan dan bertentangan yang mereka harus jalani jika mereka hendak mengikutinya. Sungguh sebuah kejutan kata-kata ini untuk para nelayan Galilea ini yang masih terus memimpikan sebuah kerajaan duniawi jabatan-jabatan terhormat untuk diri mereka sendiri! Tetapi hati-hati mereka yang setia dikobarkan oleh seruan berani ini, dan tidak satupun dari mereka berpikiran untuk meninggalkan dia. Yesus tidak akan mengirim mereka sendirian ke dalam konflik; dia sedang memimpin mereka. Dia minta hanya agar mereka mengikuti dengan berani.

Perlahan dua belas itu menangkap gagasan bahwa Yesus sedang mengatakan kepada mereka tentang kemungkinan kematiannya. Mereka hanya samar-samar memahami apa yang dia katakan tentang kematiannya, sementara pernyataannya tentang bangkit dari kematian benar-benar gagal untuk terekam dalam benak mereka. Sementara hari-hari berlalu, Petrus, Yakobus, dan Yohanes, mengingat pengalaman mereka di atas gunung transfigurasi itu, tiba pada pemahaman yang lebih lengkap tentang beberapa hal-hal ini.

Dalam semua hubungan dua belas dengan Guru mereka, hanya beberapa kali mereka melihat kilatan mata itu dan mendengar kata-kata cepat teguran seperti yang diberikan kepada Petrus dan sisa mereka yang lain pada kesempatan ini. Yesus biasanya selalu sabar dengan kekurangan-kekurangan manusiawi mereka, tapi tidak begitu ketika dihadapkan pada datangnya ancaman yang menentang program melaksanakan secara mutlak kehendak Bapanya mengenai sisa karier buminya. Para rasul benar-benar tertegun; mereka heran dan sangat takut. Mereka tidak bisa menemukan kata-kata untuk mengekspresikan kesedihan mereka. Perlahan mereka mulai menyadari apa yang Guru harus tanggung, dan bahwa mereka harus melalui pengalaman-pengalaman ini bersama dia, tetapi mereka belum tersadar pada kenyataan peristiwa-peristiwa yang akan datang ini lama setelah petunjuk-petunjuk awal ini mengenai tragedi yang akan segera datang pada saat-saat berikutnya itu.

Dalam keheningan Yesus dan dua belas berangkat ke perkemahan mereka di Taman Magadan, melalui jalan Kapernaum. Semakin menjelang sore, meskipun mereka tidak berbicara dengan Yesus, mereka bercakap-cakap banyak di antara mereka sendiri sementara Andreas berbicara dengan Guru.

8. Di Rumahnya Petrus

Memasuki Kapernaum pada kala senja, mereka pergi melalui jalan-jalan yang jarang dilalui langsung ke rumah Simon Petrus untuk makan malam mereka. Sementara Daud Zebedeus bersiap untuk membawa mereka menyeberang danau, mereka tetap tinggal di rumah Simon, dan Yesus, sambil memandang pada Petrus dan para rasul lainnya, bertanya: “Ketika kamu berjalan bersama-sama sore ini, apa yang kamu bicarakan dengan begitu sungguh-sungguh di antara kamu?” Para rasul menahan diri mereka karena banyak dari mereka telah melanjutkan diskusi yang dimulai di Gunung Hermon tentang seperti apa jabatan mereka dalam kerajaan yang akan datang; siapa yang harus menjadi yang terbesar, dan seterusnya. Yesus, mengetahui apa yang memenuhi pikiran mereka hari itu, memberi isyarat kepada salah satu anaknya Petrus yang masih kecil, dan sambil menempatkan anak kecil itu di antara mereka, dia berkata: “Sesungguhnya, aku berkata kepadamu, kalau kamu tidak berubah dan menjadi lebih seperti anak ini, kamu hanya akan membuat sedikit kemajuan dalam kerajaan surga. Barangsiapa merendahkan dirinya dan menjadi seperti si kecil ini, ia akan menjadi yang terbesar dalam kerajaan surga. Dan siapa yang menerima orang yang kecil seperti itu juga menerima aku. Dan mereka yang menerima aku menerima juga Dia yang mengutus aku. Jika kamu hendak menjadi yang pertama dalam kerajaan itu, berusahalah untuk melayankan kebenaran baik ini kepada sesama saudara-saudaramu. Tetapi barangsiapa menyesatkan satupun dari si kecil ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan digantung di lehernya dan ia dilemparkan ke dalam laut. Jika hal-hal yang kamu lakukan dengan tanganmu, atau hal-hal yang kamu lihat dengan matamu merugikan kemajuan kerajaan, korbankan berhala-berhala yang disayangi ini, karena lebih baik untuk masuk ke dalam kerajaan tanpa banyak hal kesayangan dalam hidup daripada tetap berpegang pada berhala-berhala ini dan menemukan diri kamu tertutup dari kerajaan. Tapi paling penting dari semuanya, pastikan agar kamu tidak menganggap rendah seorangpun anak-anak yang kecil ini, karena malaikat-malaikat mereka selalu memandang wajah-wajah balatentara surgawi.”

Setelah Yesus selesai berbicara, mereka memasuki perahu dan berlayar menyeberang ke Magadan.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved