Makalah 126: Dua Tahun yang Genting

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 126

Dua Tahun yang Genting

DARI SEMUA pengalaman kehidupan Yesus di bumi, tahun keempat belas dan kelima belas itu adalah yang paling genting. Dua tahun ini, setelah ia mulai sadar diri akan keilahian dan takdirnya, dan sebelum ia mencapai taraf tinggi komunikasi dengan Pelaras yang mendiaminya, adalah cobaan yang paling besar dalam hidupnya yang penuh peristiwa itu di Urantia. Jangka waktu dua tahun inilah yang perlu disebut ujian besar, pencobaan yang sebenarnya. Tidak ada orang muda lain, yang sedang melewati masalah kebingungan dan penyesuaian awal masa remaja itu, yang pernah mengalami pengujian yang lebih gawat daripada yang dilewati Yesus selama masa peralihannya dari masa kanak-kanak ke masa dewasa muda.

Periode penting dalam pertumbuhan masa muda Yesus ini dimulai dengan berakhirnya kunjungan ke Yerusalem dan dengan kembalinya ke Nazaret. Pada awalnya Maria senang dalam pemikiran bahwa ia mendapatkan kembali anak lelakinya sekali lagi, bahwa Yesus telah pulang ke rumah untuk menjadi anak yang berbakti—bahwa ia tidak pernah menjadi yang lain—dan bahwa Yesus akan selanjutnya lebih tanggap terhadap rencana Maria untuk hidup masa depannya. Namun ia tidak lama menikmati nikmatnya khayalan keibuan dan kebanggaan keluarga yang tidak jelas ini; segera sekali ia akan menjadi sepenuhnya dikecewakan lagi. Semakin lama anak lelaki itu berada bersama-sama dengan ayahnya; semakin lama semakin sedikit ia datang kepadanya dengan masalah-masalahnya, sementara semakin lama kedua orangtuanya semakin gagal untuk memahami pergantian yang sering antara urusan dunia dan perenungan mengenai hubungan dengan urusan Bapanya. Terus terang, mereka tidak memahaminya, tetapi mereka sungguh-sungguh mengasihinya.

Saat tumbuh makin dewasa, belas kasihan dan kasih Yesus bagi orang-orang Yahudi makin mendalam, tetapi sementara tahun-tahun berlalu, berkembanglah dalam batinnya suatu kemarahan yang benar terhadapkehadiran para imam yang ditunjuk secara politis itu di bait suci Bapa. Yesus sangat menghormati orang-orang Farisi yang tulus dan ahli kitab yang jujur, tapi ia sangat tidak suka para Farisi yang munafik dan ahli agama yang tidak jujur; ia memandang rendah semua pemimpin agama yang tidak tulus itu. Ketika ia meneliti kepemimpinan Israel, ia kadang-kadang tergoda untuk menyukai kemungkinan dirinya menjadi Mesias harapan Yahudi, tetapi ia tidak pernah menyerah pada godaan tersebut.

Kisah keberaniannya di antara orang-orang bijak bait suci di Yerusalem amat menyenangkan bagi seluruh Nazaret, terutama bagi para mantan gurunya dalam sekolah sinagog. Untuk sementara waktu setiap orang memuji-mujinya. Seluruh desa menceritakan kebijaksanaan dan perilaku terpuji masa kecilnya dan meramalkan bahwa ia ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin besar di Israel; pada akhirnya seorang guru yang benar-benar hebat akan muncul dari Nazaret di Galilea. Dan mereka semua memandang ke depan pada waktu ketika ia akan berumur lima belas tahun sehingga ia dapat diizinkan secara teratur untuk membacakan Kitab Suci dalam rumah ibadat pada hari Sabat.

1. Tahun Keempat Belasnya (8 M)

Tahun ini adalah tahun kalender dari ulang tahun yang keempat belasnya. Ia telah menjadi pembuat kuk yang baik dan bekerja dengan baik dengan kanvas maupun kulit. Ia juga dengan cepat berkembang menjadi tukang kayu dan pembuat lemari yang ahli. Musim panas ini ia sering pergi ke puncak bukit sebelah barat laut Nazaret untuk berdoa dan bermeditasi. Ia secara bertahap menjadi lebih sadar diri mengenai sifat dasar penganugerahan dirinya di bumi.

Bukit ini, sedikit lebih dari seratus tahun sebelumnya, telah menjadi “tempat tinggi Baal,“ dan sekarang menjadi lokasi makam Simeon, orang suci Israel yang terkenal itu. Dari puncak bukit Simeon ini, Yesus memandang atas seluruh Nazaret dan pedesaan sekitarnya. Ia akan menatap ke arah Megido dan mengingat lagi kisah tentara Mesir memenangi kemenangan besar pertama mereka di Asia; dan bagaimana, kemudian lagi, satu lagi tentara lain seperti itu mengalahkan Yosia raja Yudea. Tidak jauh ia bisa memandang Taanakh, dimana Debora dan Barak mengalahkan Sisera. Di kejauhan ia bisa melihat bukit-bukit Dotan, dimana ia telah diajari tentang saudara-saudara Yusuf yang menjualnya ke perbudakan Mesir. Ia kemudian akan menggeser tatapan matanya ke Ebal dan Gerizim dan mengingat akan tradisi Abraham, Yakub, dan Abimelekh. Dan dengan demikian ia mengingat dan mempertimbangkan dalam benaknya peristiwa-peristiwa bersejarah dan tradisional dari bangsanya Yusuf ayahnya.

Dia terus melanjutkan kursus lanjutan membaca di bawah para guru rumah ibadat, dan ia juga melanjutkan pendidikan rumah saudara-saudarinya saat mereka tumbuh besar sampai pada usia yang sepantasnya.

Awal tahun ini Yusuf mengatur untuk menyisihkan penghasilan dari properti Nazaret dan Kapernaumnya untuk membayar perjalanan panjang studi Yesus di Yerusalem, karena telah direncanakan bahwa ia akan pergi ke Yerusalem pada bulan Agustus tahun berikutnya ketika ia akan berumur lima belas tahun.

Pada permulaan tahun ini baik Yusuf maupun Maria sering merasa ragu tentang takdir anak sulung mereka. Ia memang anak yang cemerlang dan menyenangkan, namun ia begitu sulit dipahami, begitu sukar dimengerti, dan sekali lagi, tidak ada yang bersifat luar biasa atau mujizat yang pernah terjadi. Puluhan kali sang ibu yang bangga ini menunggu dengan menahan napas, berharap melihat anaknya melakukan suatu perbuatan supramanusiawi atau mujizat, tetapi selalu harapannya hancur dalam kekecewaan yang pahit. Semua hal ini mengurangi semangat, bahkan mengecilkan hati. Orang-orang saleh pada hari-hari itu sungguh percaya bahwa para nabi dan orang-orang perjanjian selalu memperagakan panggilan mereka dan menetapkan otoritas ilahi mereka dengan melakukan mujizat dan mengerjakan keajaiban. Tetapi Yesus tidak melakukan hal-hal ini sama sekali; oleh karena itu kebingungan orang tuanya terus bertambah ketika mereka merenungkan masa depannya.

Membaiknya kondisi ekonomi keluarga Nazaret tercermin dalam banyak hal tentang rumah dan terutama dalam bertambahnya jumlah panan-papan putih licin yang digunakan sebagai papan tulis menulis, penulisannya dilakukan dengan arang. Yesus juga diizinkan untuk melanjutkan pelajaran musiknya; ia sangat suka bermain harpa.

Sepanjang tahun ini benar-benar dapat dikatakan bahwa Yesus “semakin berkenan di hadapan manusia dan Tuhan.” Prospek keluarga tampak baik; masa depan kelihatan cerah.

2. Kematian Yusuf

Semua berjalan dengan baik sampai hari yang naas, Selasa, 25 September, ketika seorang pelari dari Sepphoris membawa ke rumah Nazaret ini berita tragis bahwa Yusuf telah terluka parah oleh karena jatuhnya sebuah derek sementara bekerja di kediaman gubernur. Utusan dari Sepphoris itu telah mampir di toko bengkel dalam perjalanan ke rumah Yusuf, memberitahukan Yesus tentang kecelakaan ayahnya, dan mereka pergi bersama-sama ke rumah untuk menyampaikan berita sedih itu kepada Maria. Yesus ingin segera pergi kepada ayahnya, tetapi Maria tidak mau mendengar yang lain kecuali ia harus bergegas ke sisi suaminya. Ia menyuruh agar Yakobus, saat itu sepuluh tahun, harus menemaninya ke Sepphoris sementara Yesus tetap di rumah dengan anak-anak yang lebih kecil sampai ia akan kembali, karena ia tidak tahu seberapa serius Yusuf telah terluka. Namun Yusuf meninggal karena luka-lukanya sebelum Maria tiba. Mereka membawanya ke Nazaret, dan pada hari berikutnya ia dimakamkan bersama para leluhurnya.

Tepat pada saat prospek kelihatan baik dan masa depan tampak cerah, suatu nasib yang kelihatannya kejam memukul kepala rumah tangga Nazaret ini, urusan-urusan rumah ini menjadi terhenti, dan setiap rencana untuk Yesus dan pendidikan masa depannya dihapuskan. Anak muda tukang kayu ini, sekarang baru saja lewat empat belas tahun, dibangunkan pada kesadaran bahwa ia tidak hanya akan memenuhi tugas dari Bapa surgawinya untuk mengungkapkan sifat ilahi di bumi dan dalam daging, tetapi bahwa dirinya yang muda ini juga harus memikul tanggung jawab merawat ibunya yang janda dan tujuh saudara dan saudarinya—dan ada satu lagi yang belum lahir. Anak muda dari Nazaret ini sekarang menjadi satu-satunya penopang dan pelipur keluarga ini yang begitu tiba-tiba berduka. Dengan demikian diizinkanlah terjadinya peristiwa-peristiwa alami di Urantia yang akan memaksa manusia muda takdir ini agar begitu dini memegang tanggung jawab pendidikan dan disiplin yang berat tapi luhur ini, yang menyertainya setelah menjadi kepala keluarga manusia, menjadi ayah bagi saudara-saudarinya sendiri, untuk mendukung dan melindungi ibunya, untuk berfungsi sebagai pelindung rumah ayahnya, satu-satunya rumah tangga yang ia tahu sementara ada di dunia ini.

Yesus dengan riang hati menerima tanggung jawab yang begitu tiba-tiba disodorkan kepadanya itu, dan ia memikulnya dengan setia sampai pada akhirnya. Setidaknya satu masalah besar dan kesulitan yang diantisipasi dalam hidupnya telah secara tragis diselesaikan—ia sekarang tidak akan diharapkan untuk pergi ke Yerusalem untuk belajar di bawah para rabi. Akan tetap selalu benar bahwa Yesus “tidak akan duduk di kaki manusia.” Ia selalu mau belajar bahkan dari dari anak-anak kecil yang paling sederhana, namun ia tidak pernah mendapatkan otoritas untuk mengajarkan kebenaran dari sumber-sumber manusia.

Ia masih juga tidak tahu apa-apa tentang kunjungan Gabriel kepada ibunya sebelum kelahirannya; ia baru mengetahui hal ini dari Yohanes pada hari baptisannya, pada awal pelayanannya publiknya.

Sementara tahun-tahun berlalu, tukang kayu muda dari Nazaret ini semakin mengukur setiap lembaga masyarakat dan setiap kebiasaan agama dengan ujian yang tidak berubah: Apa gunanya itu bagi jiwa manusia? apakah itu membawa Tuhan kepada manusia? apakah itu membawa manusia kepada Tuhan? Meskipun pemuda ini tidak sepenuhnya mengabaikan aspek hiburan dan sosial dari kehidupan, namun semakin banyak ia mengabdikan waktu dan tenaganya hanya pada dua tujuan: pemeliharaan keluarga dan persiapan untuk melakukan kehendak Bapa surgawinya di bumi.

Tahun ini menjadi kebiasaan bagi para tetangga untuk berkunjung selama malam-malam musim dingin untuk mendengar Yesus bermain harpa, untuk mendengarkan ceritanya (karena anak muda itu adalah seorang pencerita ulung), dan untuk mendengar dia membaca dari kitab suci bahasa Yunani.

Urusan-urusan ekonomi keluarga masih berjalan cukup lancar karena ada sejumlah uang di tangan pada saat kematian Yusuf. Yesus sejak awal menunjukkan ia memiliki pertimbangan bisnis dan kecerdasan finansial yang tajam. Ia pemurah tetapi hemat; ia menabung tetapi suka memberi. Ia terbukti menjadi pengelola yang bijaksana dan efisien terhadap harta kekayaan ayahnya.

Meskipun Yesus dan para tetangga Nazaret sudah berbuat semua yang bisa dilakukan untuk membawa kegembiraan ke dalam rumah itu, namun Maria, dan bahkan anak-anak, tetap diselimuti oleh kesedihan. Yusuf sudah pergi. Yusuf adalah seorang suami dan ayah yang luar biasa, dan mereka semua kehilangan dia. Dan semakin tragis lagi mereka memikirkan bahwa ia meninggal sebelum mereka bisa berbicara kepadanya atau mendengarkan berkat perpisahannya.

3. Tahun Kelima Belas (9 M)

Pada pertengahan tahun kelima belas ini—dan kita sedang memperhitungkan waktu sesuai dengan kalender abad kedua puluh, bukan berdasarkan tahun Yahudi—Yesus telah memegang kuat manajemen keluarganya. Sebelum tahun ini berlalu, tabungan mereka telah hampir habis, dan mereka berhadapan dengan perlunya menjual salah satu rumah Nazaret yang dimiliki Yusuf bersama dalam kemitraan dengan Yakub tetangganya.

Pada Rabu malam, 17 April, 9 M, Rut, bayi keluarga itu dilahirkan, dan dengan yang terbaik dari kemampuannya Yesus berusaha untuk menggantikan ayahnya dalam menghibur dan melayani ibunya selama cobaan yang berat dan khususnya sedih ini. Selama hampir dua puluh tahun (sampai ia memulai pelayanan publiknya) tidak ada ayah yang lebih mencintai dan memelihara putrinya lebih sayang dan setia daripada Yesus bagi si Rut kecil ini. Namun ia adalah seorang ayah yang sama baiknya bagi semua anggota keluarganya yang lain.

Selama tahun ini Yesus pertama kali merumuskan doa yang kemudian ia ajarkan kepada para muridnya, dan yang banyak dikenal sebagai “Doa Bapa Kami.” Dalam satu sisi doa itu adalah pengembangan dari altar keluarga; mereka memiliki banyak bentuk puji-pujian dan beberapa doa resmi. Setelah kematian ayahnya Yesus mencoba untuk mengajarkan anak-anak yang lebih tua untuk mengungkapkan diri mereka secara perorangan dalam doa—seperti yang ia begitu suka melakukannya—tetapi mereka tidak bisa memahami pemikirannya dan akan selalu saja kembali ke bentuk-bentuk doa hafalan mereka. Dalam upaya untuk merangsang saudara-saudarinya yang lebih tua agar mengucapkan doa pribadi inilah Yesus akan berusaha untuk memimpin mereka bersama dengan kalimat-kalimat sugestif untuk membantu, dan kemudian, tanpa niat di pihaknya, berkembanglah bahwa mereka semua menggunakan bentuk doa yang sebagian besar dibangun dari pokok-pokok sugestif yang Yesus ajarkan kepada mereka.

Pada akhirnya Yesus meninggalkan gagasan untuk menyuruh setiap anggota keluarga merumuskan doa yang spontan, dan satu malam di bulan Oktober ia duduk dekat lampu kecil di meja batu rendah, dan, di atas selembar papan kayu cedar rata sekitar seratus enam belas sentimeter persegi, dengan sepotong arang ia menuliskan doa yang sejak saat itu menjadi permohonan keluarga yang baku.

Tahun ini Yesus banyak bermasalah dengan pemikiran yang bingung. Tanggung jawab keluarga telah cukup efektif menghapus semua pikiran untuk segera melaksanakan rencana apapun untuk menanggapi kunjungan penampakan di Yerusalem yang menyuruh dia untuk “berada dalam pekerjaan Bapanya.” Yesus dengan benar beralasan bahwa pemeliharaan keluarga ayah buminya itu harus diutamakan dibandingkan semua tugas; bahwa dukungan untuk keluarganya itu harus menjadi kewajiban pertamanya.

Dalam perjalanan tahun ini Yesus menemukan sebuah ayat di dalam kitah yang disebut Kitab Henokh yang mempengaruhinya dalam pemakaian kemudian untuk istilah “Anak Manusia” sebagai sebutan untuk misi penganugerahan dirinya di Urantia. Ia telah seluruhnya mempertimbangkan gagasan Mesias Yahudi dan tegas yakin bahwa ia tidak akan menjadi Mesias itu. Ia ingin sekali membantu bangsa ayahnya, tetapi ia tidak pernah berharap untuk memimpin pasukan-pasukan Yahudi dalam menumbangkan kekuasaan asing atas Palestina. Ia tahu ia tidak akan pernah duduk di atas singgasana Daud di Yerusalem. Ia juga tidak percaya bahwa misinya adalah menjadi seorang pembebas rohani atau guru moral yang semata-mata untuk bangsa Yahudi saja. Oleh karena itu, tidak ada dalam pengertian apapun, misi hidupnya akan dapat menjadi pemenuhan untuk kerinduan kuat dan anggapan nubuatan Mesianis dari kitab suci Ibrani; setidaknya, bukan seperti yang dipahami orang Yahudi tentang ramalan dari para nabi ini. Demikian juga ia yakin ia tidak akan pernah tampil sebagai Anak Manusia yang digambarkan oleh Nabi Daniel.

Tetapi ketika tiba saatnya bagi dia untuk keluar sebagai seorang guru dunia, bagaimana ia akan menyebut dirinya? Apa pengakuan yang harus ia buat tentang misinya? Dengan nama apa ia akan disebut oleh orang-orang yang akan menjadi orang yang percaya ajaran-ajarannya?

Sementara mempertimbangkan semua masalah ini mendalam dalam benaknya, ia menemukan di perpustakaan rumah ibadat di Nazaret, di antara buku-buku apokaliptik yang ia telah pelajari, naskah ini yang disebut “Kitab Henokh"; dan meskipun ia yakin bahwa naskah itu tidak ditulis oleh Henokh dari masa kuno itu, namun buku itu terbukti sangat menggelitik baginya, dan ia membaca dan membacanya lagi berulang kali. Ada satu ayat yang khusus sangat berkesan baginya, sebuah ayat di mana istilah “Anak Manusia" ini muncul. Penulis dari yang disebut Kitab Henokh ini kemudian melanjutkan dengan menceritakan tentang Anak Manusia ini, menjelaskan karya yang akan ia lakukan di bumi dan menjelaskan bahwa Anak Manusia ini, sebelum turun di bumi ini untuk membawa keselamatan bagi umat manusia, telah berjalan melalui istana-istana kemuliaan surgawi dengan Bapanya, Bapa atas segalanya, dan bahwa ia telah meninggalkan semua keagungan dan kemuliaan ini untuk turun ke bumi memberitakan keselamatan bagi manusia yang membutuhkan. Ketika Yesus membaca ayat-ayat ini (dengan memahami benar bahwa banyak dari mistisisme Timur yang telah bercampur dengan ajaran-ajaran ini adalah salah), ia menanggapi dalam hatinya dan mengakui dalam pikirannya bahwa dari semua prediksi Mesianik dari kitab-kitab suci Ibrani dan semua teori tentang penyelamat Yahudi, tidak ada begitu dekat dengan kebenaran seperti cerita yang tersimpan dalam kitab Henokh yang diakui secara sebagian ini; dan ia kemudian saat itu juga memutuskan untuk memakai sebagai judul pelantikannya “Anak Manusia.” Hal ini ia lakukan ketika ia kemudian memulai pekerjaan publiknya. Yesus memiliki suatu kemampuan yang tidak pernah salah untuk mengenali kebenaran, dan kebenaran itu tidak pernah ragu ia peluk, tidak peduli dari sumber manapun kebenaran itu tampaknya berasal.

Pada saat ini ia telah cukup seluruhnya menetapkan banyak hal tentang pekerjaan mendatangnya untuk dunia, tetapi ia tidak mengatakan apapun tentang hal-hal ini kepada ibunya, yang masih memegang teguh pada gagasan dirinya sebagai Mesias Yahudi.

Kebingungan besar masa-masa muda Yesus sekarang muncul. Setelah menetapkan tentang sifat misinya di bumi, “untuk melakukan pekerjaan Bapanya”— untuk menunjukkan sifat Bapanya yang pengasih kepada seluruh umat manusia—ia mulai merenungkan lagi banyak pernyataan dalam Kitab Suci yang mengacu pada kedatangan seorang penyelamat nasional, seorang guru atau raja Yahudi. Pada peristiwa apa nubuat-nubuat ini mengacu? Bukankah ia seorang Yahudi? atau apakah itu dirinya? Apakah ia adalah atau bukan dari keluarga Daud? Ibunya memastikannya ia dari keluarga Daud, ayahnya menentukan bahwa ia bukan. Yesus memutuskan ia bukan dari keluarga Daud. Namun apakah para nabi kebingungan akan sifat dan misi Mesias?

Bagaimanapun juga, bisakah mungkin bahwa ibunya benar? Dalam kebanyakan hal, ketika perbedaan-perbedaan pendapat telah muncul di masa lalu, ibunya itulah yang benar. Jika ia seorang guru baru dan bukan Mesias, maka bagaimana ia harus mengakui Mesias Yahudi jika seorang seperti itu muncul di Yerusalem selama masa misinya di bumi; dan, lebih jauh, apa hubungannya nanti dengan Mesias Yahudi ini? Dan apa hubungannya, setelah memulai misi hidupnya, dengan keluarganya? dengan persemakmuran dan agama Yahudi? dengan Kekaisaran Romawi? dengan orang kafir dan agama mereka? Setiap masalah-masalah penting ini dipertimbangkan orang Galilea muda ini dalam pikirannya dan dengan serius direnungkannya sementara ia terus bekerja di bangku kerja tukang kayu, susah payah mencari nafkah untuk dirinya sendiri, ibunya, dan delapan mulut lapar lainnya.

Sebelum akhir tahun ini Maria melihat dana keluarga makin berkurang. Ia mengalihkan penjualan merpati kepada Yakobus adiknya. Segera mereka membeli sapi yang kedua, dan dengan bantuan Miriam mereka mulai penjualan susu pada para tetangga Nazaret mereka.

Periode-periode meditasinya yang mendalam, seringnya perjalanan ke puncak bukit untuk berdoa, dan banyak ide-ide aneh yang dikemukakan Yesus dari waktu ke waktu, semua itu benar-benar menguatirkan ibunya. Kadang-kadang ia berpikir anak itu lupa ingatan, dan kemudian ia akan menenangkan rasa takutnya, mengingat bahwa ia, bagaimanapun, adalah anak perjanjian dan dalam beberapa cara berbeda dari pemuda lainnya.

Tetapi Yesus belajar untuk tidak membicarakan semua yang ada di pikirannya, tidak untuk menyampaikan semua gagasannya kepada dunia, bahkan tidak pada ibunya sendiri. Mulai dari tahun ini, pengungkapan Yesus tentang apa yang terjadi dalam pikirannya terus berkurang; yaitu, ia berbicara makin sedikit tentang hal-hal yang tidak bisa dipahami rata-rata orang, dan yang akan mengakibatkan dirinya dianggap aneh atau berbeda dari orang-orang pada umumnya. Dilihat dari semua penampilannya ia menjadi biasa-biasa saja dan konvensional, meskipun ia merindukan ada orang yang bisa memahami masalah-masalahnya. Ia mendambakan teman yang dapat dipercaya dan bisa menyimpan rahasia, tapi masalahnya terlalu kompleks untuk dipahami rekan-rekan manusianya. Keunikan dari situasi yang tidak biasa ini memaksanya untuk menanggung bebannya sendirian.

4. Khotbah Pertama di Rumah Ibadah

Dengan kedatangan ulang tahunnya yang kelima belas, Yesus secara resmi bisa menempati mimbar sinagog pada hari Sabat. Berkali-kali sebelumnya, karena tidak adanya pembicara, Yesus telah diminta untuk membacakan Kitab Suci, tetapi sekarang hari itu tiba ketika, sesuai hukum, ia dapat memimpin ibadah. Oleh karena itu pada hari Sabat pertama setelah ulang tahun kelima belasnya sang chazan (pemimpin ibadah) itu mengatur Yesus agar memimpin ibadah pagi di sinagog. Dan ketika semua orang beriman di Nazaret telah berkumpul, pemuda itu, setelah memilih dari Kitab Suci, berdiri dan mulai membaca:

“Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung, untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan-Nya.

“Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf.

“Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

“Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri? Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?

“Maka, dengan siapa, engkau akan menyamakan Allah yang duduk di atas bulatan bumi? Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

“Kamu inilah saksi-saksi-Ku, demikianlah firman TUHAN, dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.”

Dan setelah ia membaca demikian, ia duduk, dan orang-orang pulang ke rumah mereka, merenungkan kata-kata yang ia bacakan dengan begitu anggun kepada mereka. Belum pernah warga kota itu melihatnya khidmat begitu agung; belum pernah mereka mendengar suaranya begitu sungguh-sungguh dan begitu tulus; belum pernah mereka mengamati dia begitu gagah dan tegas, begitu berwibawa.

Hari Sabat ini sorenya Yesus mendaki bukit Nazaret dengan Yakobus adiknya dan, ketika mereka pulang ke rumah, menulis Sepuluh Perintah Tuhan dalam bahasa Yunani dengan arang pada dua papan rata. Selanjutnya Marta mewarnai dan menghiasi papan-papan ini, dan selama waktu yang lama mereka menggantungkannya di dinding di atas bangku kerja kecilnya Yakobus.

5. Pergumulan Keuangan

Secara bertahap Yesus dan keluarganya kembali ke kehidupan sederhana mereka dari tahun-tahun sebelumnya. Pakaian mereka dan bahkan makanan mereka menjadi lebih sederhana. Mereka memiliki banyak susu, mentega, dan keju. Pada musimnya mereka menikmati hasil dari kebun mereka, namun setiap bulan berlalu mengharuskan kebiasaan lebih berhemat lagi. Sarapan mereka sangat sederhana; mereka menyimpan makanan terbaik mereka untuk makan malam. Namun demikian, di kalangan orang-orang Yahudi kurangnya kekayaan tidak berarti rendah secara sosial.

Pemuda ini sudah hampir menguasai pemahaman tentang bagaimana manusia hidup dalam masanya. Dan seberapa baik ia mengerti kehidupan di rumah, ladang, dan bengkel itu ditunjukkan oleh ajaran-ajarannya kemudian, yang begitu penuh mengungkapkan hubungan akrabnya dengan semua tahap pengalaman manusia.

Chazan Nazaret terus berpegang teguh pada keyakinan bahwa Yesus akan menjadi seorang guru besar, mungkin penerus Gamaliel yang terkenal itu di Yerusalem.

Sepertinya semua rancangan untuk kariernya Yesus digagalkan. Masa depan tidak terlihat cerah melihat perkembangan saat itu. Namun ia tidak goyah; ia tidak berkecil hati. Ia jalani hidup terus, hari demi hari, melakukan dengan baik tugas yang ada saat itu dan dengan setia melaksanakan tanggung jawab langsung untuk tempatnya dalam hidup. Kehidupan Yesus adalah penghiburan selama-lamanya bagi semua idealis yang kecewa.

Upah umum harian untuk tukang kayu perlahan-lahan berkurang. Pada akhir tahun ini Yesus bisa mendapatkan, dengan bekerja dari pagi-pagi hingga malam, hanya setara dengan sekitar dua puluh lima sen (dolar) sehari. Pada tahun berikutnya mereka menghadapi kesulitan untuk membayar pajak sipil, belum lagi sumbangan rumah ibadah dan pajak bait suci setengah syikal. Selama tahun ini pemungut pajak mencoba memeras pendapatan ekstra dari Yesus, bahkan mengancam untuk mengambil harpanya.

Khawatir bahwa salinan kitab suci Yunani mungkin akan ditemukan dan disita oleh para pemungut pajak, Yesus, pada hari ulang tahun kelima belasnya, mempersembahkannya ke perpustakaan sinagog Nazaret sebagai persembahan kedewasaan kepada Tuhan.

Kejutan besar tahun kelima belasnya datang ketika Yesus pergi ke Sepphoris untuk menerima keputusan Herodes tentang perkara banding yang dibawa kepadanya dalam sengketa tentang jumlah uang yang harus dibayar pada Yusuf pada saat kematian karena kecelakaan itu. Yesus dan Maria berharap untuk penerimaan sejumlah besar uang namun ternyata bendahara di Sepphoris telah menawari mereka sejumlah uang yang tidak seberapa. Saudara-saudara Yusuf telah naik banding ke Herodes langsung, dan sekarang Yesus berdiri di istana dan mendengar keputusan Herodes bahwa ayahnya tidak memperoleh apa-apa pada saat kematiannya. Dan karena keputusan yang tidak adil seperti itu, Yesus tidak pernah lagi mempercayai Herodes Antipas. Tidak mengherankan bahwa ia suatu kali pernah menyebut Herodes sebagai “serigala itu.”

Pekerjaan terus menerus di bangku tukang kayu selama tahun ini dan tahun-tahun berikutnya membuat Yesus kehilangan kesempatan bergaul dengan para penumpang kafilah. Toko pasokan karavan milik keluarga sudah diambil alih oleh pamannya, dan Yesus bekerja sepenuhnya di bengkel kerja rumah, dimana ia dekat untuk membantu Maria mengurusi keluarga. Sekitar saat ini ia mulai mengirimkan Yakobus ke tempat unta untuk mengumpulkan informasi tentang peristiwa-peristiwa dunia, dan dengan demikian ia berusaha untuk tetap mengetahui berita saat itu.

Saat ia tumbuh menjadi lelaki dewasa, ia melewati semua konflik dan kebingungan yang dialami rata-rata orang-orang muda dari masa sebelumnya dan selanjutnya. Pengalaman berat menafkahi keluarganya itu adalah pengaman pasti sehingga dirinya tidak memiliki waktu berlebihan untuk meditasi menganggur atau kegemaran untuk kecenderungan mistis.

Tahun inilah Yesus menyewa sebidang besar tanah tepat di bagian utara rumah mereka, yang dibagi-bagi sebagai tanah kebun keluarga. Setiap anak yang lebih tua memiliki kebun sendiri, dan mereka masuk dalam persaingan sungguh-sungguh dalam upaya pertanian mereka. Kakak tertua mereka menghabiskan beberapa waktu dengan mereka di kebun setiap hari selama musim budidaya sayuran. Sementara Yesus bekerja dengan adik-adik lelaki dan perempuannya di kebun, ia berkali-kali memiliki harapan agar mereka semua menempati sebidang tanah pertanian di pedesaan dimana mereka bisa menikmati kebebasan dan kemerdekaan hidup yang tanpa gangguan. Namun mereka tidak menemukan diri mereka bertumbuh besar di pedesaan; dan Yesus, sebagai seorang muda yang benar-benar praktis demikian pula idealis, cerdas dan penuh semangat menangani masalahnya begitu ia menjumpai masalah itu, dan melakukan segala sesuatu dalam kemampuannya untuk menyesuaikan dirinya dan keluarganya dengan kenyataan situasi mereka, dan untuk beradaptasi dengan kondisi mereka untuk kepuasan tertinggi yang mungkin terhadap keinginan-keinginan perorangan dan bersama mereka.

Pernah Yesus samar-samar berharap bahwa ia mungkin dapat mengumpulkan cukup sarana, asalkan mereka dapat mengumpulkan sejumlah besar uang yang seharusnya dibayarkan kepada ayahnya untuk pekerjaan di istana Herodes itu, untuk menjamin pelaksanaan pembelian sebuah tanah pertanian kecil. Ia benar-benar memikirkan secara serius mengenai rencana memindahkan keluarganya ke pedesaan. Tetapi ketika Herodes menolak untuk membayar mereka dari dana yang harusnya dibayarkan pada Yusuf, maka mereka meninggalkan ambisi memiliki rumah di pedesaan ini. Namun demikian, mereka berusaha untuk menikmati banyak pengalaman hidup pertanian karena mereka kini memiliki tiga ekor sapi, empat ekor domba, sekawanan ayam, seekor keledai, dan seekor anjing, selain merpati. Bahkan anak-anak yang kecil memiliki tugas rutin mereka untuk dilakukan dalam skema pengelolaan yang teratur baik yang menjadi ciri kehidupan rumah keluarga Nazaret ini.

Akhir usia kelima belas ini Yesus menyelesaikan perpindahan dari periode yang berbahaya dan sulit dalam keberadaan manusia, waktu transisi antara tahun masa kanak-kanak yang lebih bersenang-senang dan kesadaran mendekati kedewasaan dengan meningkatnya tanggung jawab dan peluang untuk perolehan pengalaman lanjutan dalam pengembangan karakter yang mulia. Masa pertumbuhan untuk batin dan tubuh telah berakhir, dan kini mulailah karier sebenarnya pemuda dari Nazaret ini.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved