Makalah 97: Evolusi Konsep Tuhan di antara Orang Ibrani

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 97

Evolusi Konsep Tuhan di antara Orang Ibrani

PARA pemimpin rohani orang Ibrani melakukan apa yang belum pernah berhasil dilakukan yang lain sebelum mereka—mereka membuat konsep Tuhan mereka menjadi tidak menyerupai manusia tanpa mengubahnya menjadi sebuah abstraksi Ketuhanan yang hanya dipahami para filsuf. Bahkan orang-orang biasa mampu menghargai konsep dimatangkan tentang Yahweh sebagai Bapa, jika bukan untuk perorangan, setidaknya untuk bangsa.

Konsep mengenai kepribadian Tuhan, meskipun dengan jelas diajarkan di Salem pada masa-masa Melkisedek, menjadi samar dan kabur pada saat pelarian dari Mesir, dan hanya secara bertahap berkembang dalam pikiran orang Ibrani dari generasi ke generasi sebagai tanggapan terhadap ajaran dari para pemimpin rohani. Persepsi tentang kepribadian Yahweh itu jauh lebih kontinyu dalam evolusi majunya dibandingkan banyak atribut Ketuhanan yang lainnya. Dari Musa sampai Maleakhi terjadi suatu pertumbuhan gagasan yang hampir tiada putus tentang kepribadian Tuhan dalam pikiran Ibrani, dan konsep ini akhirnya ditinggikan dan dimuliakan oleh ajaran-ajaran Yesus tentang Bapa di surga.

1. Samuel—Nabi Ibrani yang Pertama

Tekanan bermusuhan dari masyarakat sekitar di Palestina segera mengajarkan kepada para syekh Ibrani bahwa mereka tidak punya harapan untuk bertahan kecuali mereka mengkonfederasikan pengorganisasian kesukuan mereka menjadi suatu pemerintahan yang terpusat. Dan sentralisasi kewenangan pemerintahan ini memberikan kesempatan yang lebih baik bagi Samuel untuk berfungsi sebagai guru dan pembaharu.

Samuel berasal dari garis panjang para guru Salem yang telah bertahan dalam menjaga kebenaran Melkisedek sebagai bagian dari bentuk-bentuk ibadah mereka. Guru ini adalah seorang lelaki yang kuat dan tegas. Hanya karena pengabdiannya yang besar, digabung dengan tekadnya yang luar biasa itu, yang memungkinkan ia untuk menahan pertentangan yang hampir menyeluruh yang ia temui ketika ia mulai mengubah seluruh Israel agar kembali untuk menyembah Yahweh mahatinggi dari masa Musa. Dan sekalipun demikian ia hanya setengah berhasil; ia memenangkan kembali kepada ibadah konsep Yahweh yang lebih tinggi itu hanya setengah orang Ibrani yang lebih cerdas; setengah lainnya terus saja dalam penyembahan dewa-dewa suku pedesaan dan dalam anggapan lebih rendah tentang Yahweh.

Samuel adalah tipe orang yang kasar dan siap sedia, seorang reformis praktis yang bisa keluar dalam satu hari dengan rekan-rekannya dan meruntuhkan belasan situs Baal. Kemajuan yang ia buat itu adalah semata karena kekuatan paksaan; ia sedikit berkhotbah, kurang mengajar, tetapi ia bertindak. Satu hari ia mengejek imam Baal; hari berikutnya, ia mencincang seorang raja tawanan. Ia dengan tekun percaya pada satu Tuhan, dan ia memiliki konsep yang jelas tentang Tuhan yang satu itu sebagai pencipta langit dan bumi: “Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan.”

Namun sumbangan besar yang Samuel buat untuk pengembangan konsep Ketuhanan adalah pernyataannya yang nyaring bahwa Yahweh itu tak berubah, selamanya perwujudan yang sama dari kesempurnaan dan keilahian yang tidak pernah salah. Pada masa-masa ini Yahweh dianggap sebagai Tuhan yang resah dengan tingkah laku yang cemburuan, yang selalu menyesali bahwa ia telah berbuat begini dan begitu; tetapi sekarang, untuk pertama kalinya sejak Ibrani berjalan keluar dari Mesir, mereka mendengar kata-kata yang mengejutkan ini, Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal.” Kestabilan dalam berurusan dengan Keilahian diumumkan. Samuel menegaskan lagi perjanjian Melkisedek dengan Abraham dan menyatakan bahwa Tuhan Allah Israel adalah sumber untuk semua kebenaran, kestabilan, dan kepastian. Selalu sebelumnya orang Ibrani telah memandang Tuhan sebagai sosok manusia, seorang manusia super, suatu roh mulia yang asalnya tidak diketahui; tetapi sekarang mereka mendengar tentang roh Horeb yang dahulu ini ditinggikan sebagai Tuhan kesempurnaan pencipta yang tidak berubah. Samuel sedang membantu perkembangan konsep Tuhan untuk naik ke puncak-puncak di atas keadaan batin manusia yang berubah-ubah dan perubahan-perubahan kehidupan fana. Di bawah ajarannya, Tuhan orang Ibrani sedang memulai kenaikan dari suatu ide pada tataran dewa kesukuan kepada ideal tentang Pencipta dan Pengawas semua ciptaan yang mahakuasa dan tak berubah.

Maka Samuel mengkhotbahkan baru lagi kisah ketulusan Tuhan, keandalannya dalam menjaga perjanjian. Kata Samuel: “Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya.” “Sebab Ia menegakkan bagiku suatu perjanjian kekal, teratur dalam segala-galanya dan terjamin.” Demikianlah, di seluruh Palestina ada terdengar panggilan kembali untuk menyembah Yahweh tertinggi. Selalu guru yang energik ini memproklamasikan, “Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau.”

Sampai saat itu orang Ibrani telah menganggap perkenanan Yahweh terutama dalam ukuran kemakmuran materi. Merupakan kejutan besar bagi Israel, dan hampir saja Samuel membayar dengan nyawanya, ketika ia berani menyatakan: “Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan.” Belum pernah sejak Musa diumumkan janji-janji menghibur untuk yang rendah dan yang kurang beruntung seperti itu, dan ribuan orang yang putus asa di kalangan orang miskin mulai menaruh harapan bahwa mereka bisa meningkatkan keadaan rohani mereka.

Tetapi Samuel tidak maju terlalu jauh melampaui konsep dewa kesukuan. Ia memproklamasikan Yahweh yang membuat semua manusia tapi disibukkan terutama dengan orang-orang Ibrani, bangsa pilihan-Nya. Meskipun begitu, seperti pada zaman Musa, sekali lagi konsep Allah menggambarkan suatu Ketuhanan yang kudus dan benar. “Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.”

Seiring tahun-tahun berlalu, sang pemimpin tua yang beruban ini maju dalam pemahaman tentang Tuhan, karena ia menyatakan: “Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji. TUHAN mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya. Maka akan orang yang murah Engkaupun menyatakan kemurahan-Mu, dan kepada orang yang tulus hatinya Engkaupun tulus hati. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela.” Bahkan di sini ada fajar belas kasihan, meskipun hal itu terbatas pada mereka yang berbelas kasihan. Belakangan ia selangkah lebih jauh ketika, dalam kesulitan mereka, ia menasihati umatnya: “Biarlah kiranya kita jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab besar kasih sayang-Nya.” “Sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.”

Perkembangan secara bertahap dalam hal konsep tentang karakter Yahweh ini berlanjut di bawah pelayanan para penerus Samuel. Mereka mencoba untuk menampilkan Yahweh sebagai Tuhan yang memelihara perjanjian tetapi sulit mempertahankan langkah yang ditetapkan oleh Samuel; mereka gagal mengembangkan gagasan tentang rahmat Tuhan sebagaimana yang Samuel pahami kemudian. Terjadi pergeseran mundur terus menerus menuju pengakuan ilah-ilah lain, meskipun dijaga bahwa Yahweh ada di atas semuanya. :Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.”

Titik berat dari era ini adalah kuasa ilahi; para nabi zaman ini memberitakan agama yang dirancang untuk mendukung raja di atas takhta Ibrani. “Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan. Dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.” Dan inilah status konsep Tuhan pada masa Samuel dan para penerus langsungnya.

2. Elia dan Elisa

Dalam abad kesepuluh sebelum Masehi negara Ibrani terbagi menjadi dua kerajaan. Dalam kedua bagian politis ini banyak guru kebenaran yang berusaha untuk membendung gelombang reaksioner kemerosotan rohani yang telah mulai pasang, dan yang berlanjut secara berbahaya setelah perang pemisahan. Namun upaya-upaya untuk memajukan agama Ibrani ini tidak berhasil sampai Elia, sang prajurit yang penuh tekad dan tak kenal takut demi kebenaran itu mulai mengajar. Elia memulihkan ke kerajaan utara suatu konsep Tuhan yang sebanding dengan yang dipercaya pada masa-masa Samuel. Elia memiliki sedikit kesempatan untuk menampilkan konsep Tuhan yang lebih maju; ia dibuat terus sibuk, seperti Samuel sebelum dia, merobohkan altar-altar Baal dan menghancurkan berhala-berhala dewa-dewi palsu. Ia membawa maju reformasinya menghadapi tantangan dari monarki yang menyembah berhala; tugasnya bahkan lebih raksasa dan sulit daripada yang telah dihadapi Samuel.

Ketika Elia diangkat pergi, Elisa, rekan setianya, mengambil alih pekerjaannya dan, dengan bantuan yang tak ternilai dari Mikhaya yang sedikit dikenal, menjaga terang kebenaran tetap hidup di Palestina.

Namun masa ini bukan masa-masa kemajuan dalam konsep Ketuhanan. Belum pernah orang Ibrani naik sampai idealnya Musa sekalipun. Era Elia dan Elisa ditutup dengan kelas-kelas masyarakat yang lebih baik kembali menyembah Yahweh tertinggi dan menyaksikan pemulihan ide tentang Pencipta Semesta hingga kira-kira sampai ke tempat yang telah ditinggalkan Samuel itu.

3. Yahweh dan Baal

Kontroversi yang lama dan berlarut-larut antara orang yang percaya Yahweh dan pengikut Baal adalah suatu benturan ideologi sosioekonomi ketimbang daripada perbedaan dalam keyakinan agama.

Penduduk Palestina berbeda-beda dalam sikap mereka terhadap kepemilikan pribadi terhadap tanah. Suku-suku Arab selatan atau mengembara (pengikut Yahweh) memandang tanah sebagai sesuatu yang tidak dapat dipindah-tangankan—sebagai hadiah dari Deitas kepada marga. Mereka berpegang bahwa tanah tidak dapat dijual atau digadaikan. “TUHAN berfirman, … tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu.”

Orang Kanaan utara yang lebih menetap (pengikut Baal) bebas membeli, menjual, dan menggadaikan tanah mereka. Kata Baal berarti pemilik. Pemujaan Baal didirikan di atas dua doktrin utama: Pertama, pengesahan pertukaran, kontrak, dan perjanjian properti—hak untuk membeli dan menjual tanah. Kedua, Baal dianggap mengirimkan hujan—ia adalah dewa kesuburan tanah. Panen yang baik tergantung pada perkenanan Baal. Pemujaan ini sebagian besar berkaitan dengan lahan, kepemilikan dan kesuburannya.

Secara umum, pengikut Baal memiliki rumah, tanah, dan budak. Mereka adalah tuan-tuan tanah aristokrat dan tinggal di kota-kota. Setiap Baal memiliki tempat suci, keimaman, dan para “wanita suci,” pelacur ritual.

Dari perbedaan dasar mengenai lahan inilah, berkembanglah pertentangan sengit sikap sosial, ekonomi, moral, dan keagamaan yang ditunjukkan oleh orang Kanaan dan Ibrani. Kontroversi sosioekonomi ini tidak menjadi isu keagamaan yang jelas sampai masa-masa Elia. Dari masa-masa nabi agresif ini isu tersebut diperjuangkan lebih pada garis keagamaan—Yahweh melawan Baal—dan hal itu berakhir dengan kemenangan Yahweh dan dorongan berikutnya ke arah monoteisme.

Elia menggeser kontroversi Yahweh-Baal dari isu tanah kepada aspek keagamaan dari ideologi Ibrani dan Kanaan. Ketika Ahab membunuh Nabot dalam intrik untuk mendapatkan kepemilikan terhadap tanah mereka, Elia membuat isu moral dari adat istiadat kuno itu dan melancarkan kampanye gencarnya melawan pengikut Baal. Hal ini juga merupakan perjuangan rakyat desa melawan dominasi oleh perkotaan. Adalah terutama di bawah Elia bahwa Yahweh menjadi Elohim. Nabi memulai sebagai pembaharu agraria dan berakhir dengan meninggikan Ketuhanan. Dewa-dewa Baal itu banyak, Yahweh itu esa—monoteisme menang atas politeisme.

4. Amos dan Hosea

Sebuah langkah besar dalam peralihan dari ilah kesukuan—tuhan yang sudah begitu lama disuguhi pengorbanan dan upacara, Yahweh dari orang Ibrani yang sebelumnya—kepada Tuhan yang akan menghukum kejahatan dan kemaksiatan bahkan di kalangan umatnya sendiri, yang dibawa oleh Amos, yang muncul dari antara perbukitan selatan untuk mengutuk kriminalitas, kemabukan, penindasan, dan amoralitas suku-suku utara. Belum ada dari sejak zaman Musa kebenaran nyaring tersebut dicanangkan di Palestina.

Amos bukan hanya pemulih atau pembaharu; ia adalah seorang penemu konsep baru Ketuhanan. Ia menyatakan banyak tentang Tuhan yang telah diumumkan oleh para pendahulunya dan secara berani menyerang kepercayaan akan suatu Sosok Ilahi yang membiarkan dosa di antara mereka yang disebut orang-orang pilihan-Nya. Untuk pertama kalinya sejak zaman Melkisedek telinga manusia mendengar kecaman terhadap standar ganda peradilan dan moralitas kebangsaan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka telinga Ibrani mendengar bahwa Tuhan mereka sendiri, Yahweh, akan tidak lagi mentolerir kejahatan dan dosa dalam hidup mereka, daripada Dia di antara setiap bangsa lain. Amos menggambarkan Tuhannya Samuel dan Elia yang keras dan adil itu, tetapi ia juga melihat Tuhan yang berpikir tidak berbeda terhadap orang Ibrani daripada bangsa lain ketika sampai pada hukuman atas perbuatan salah. Ini adalah serangan langsung pada doktrin egois tentang “bangsa terpilih,” dan banyak orang Ibrani hari-hari itu sangat marah karenanya.

Kata Amos: “Dia yang telah membuat bintang kartika (Pleiades) dan bintang belantik (Orion), yang mengubah kekelaman menjadi pagi dan yang membuat siang gelap seperti malam.” Dan dengan mencela sesamanya yang suam beragama, mencari untung dengan menghalalkan cara, dan kadang-kadang maksiat, ia berusaha untuk menggambarkan keadilan tak terelakkan dari Yahweh yang tidak berubah ketika ia berkata tentang para pelaku kejahatan: “Sekalipun mereka menembus sampai ke dunia orang mati, tangan-Ku akan mengambil mereka dari sana; sekalipun mereka naik ke langit, Aku akan menurunkan mereka dari sana.” “Sekalipun mereka berjalan di depan musuhnya sebagai orang tawanan, Aku akan memerintahkan pedang untuk membunuh mereka di sana.” Amos lebih lanjut mengejutkan para pendengarnya saat, dengan menudingkan jari yang menegur dan menuduh mereka, ia menyatakan dalam nama Yahweh: “Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!” “Dan Aku mengiraikan kaum Israel di antara segala bangsa, seperti orang mengiraikan ayak.”

Amos menyatakan Yahweh sebagai “Allah segala bangsa” dan memperingatkan orang Israel bahwa ritual tidak boleh menggantikan perbuatan benar. Dan sebelum guru yang pemberani ini dirajam batu sampai mati, ia telah menyebar cukup banyak ragi kebenaran untuk menyelamatkan doktrin tentang Yahweh mahatinggi; ia telah menjamin evolusi lebih lanjut untuk pewahyuan Melkisedek.

Hosea mengikuti Amos dan ajarannya tentang Tuhan keadilan yang universal melalui kebangkitan kembali konsep Musa tentang Tuhan yang pengasih. Hosea memberitakan pengampunan melalui pertobatan, bukan oleh pengorbanan. Ia memproklamasikan kabar baik cinta kasih dan rahmat ilahi, mengatakan: “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan.” “Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka.”

Hosea dengan setia melanjutkan peringatan moral dari Amos, mengatakan tentang Tuhan, “Aku telah datang untuk menghajar mereka.” Tetapi orang Israel menganggapnya sebagai kekejaman yang berbatasan dengan pengkhianatan ketika ia berkata: “Aku berkata kepada Lo-Ami (bukan umat-Ku): Umat-Ku engkau! dan ia akan berkata: Allahku!” Dia terus memberitakan pertobatan dan pengampunan, mengatakan, “Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka.” Selalu Hosea memberitakan pengharapan dan pengampunan. Titik berat pesannya selalu adalah: “Aku akan menyayangi umat-Ku. engkau tidak mengenal allah kecuali Aku, dan tidak ada juruselamat selain dari Aku.”

Amos menghidupkan hati nurani kebangsaan orang Ibrani kepada pengenalan bahwa Yahweh tidak akan memaafkan kejahatan dan dosa di antara mereka karena mereka dianggap bangsa terpilih, sedangkan Hosea belakangan memainkan not pembukaan dalam akor belas kasihan ilahi dan cinta kasih yang begitu indahnya akan dinyanyikan oleh Yesaya dan rekan-rekannya.

5. Yesaya yang Pertama

Inilah saat-saat ketika ada yang memberitakan ancaman-ancaman hukuman terhadap dosa-dosa pribadi dan kejahatan nasional di antara suku-suku utara sementara yang lain meramalkan bencana sebagai pembalasan atas pelanggaran-pelanggaran kerajaan selatan. Pada saat kebangunan hati nurani dan kesadaran di negara-negara Ibrani inilah Yesaya yang pertama muncul.

Yesaya melanjutkan dengan memberitakan tentang sifat dasar Tuhan yang kekal, kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, kesempurnaan keandalan-Nya yang tidak berubah. Dia mewakili Allah Israel ketika mengatakan: “Dan Aku akan membuat keadilan menjadi tali pengukur, dan kebenaran menjadi tali sipat” “Maka pada hari TUHAN mengakhiri kesakitan dan kegelisahanmu dan kerja paksa yang berat yang dipaksakan kepadamu.” “dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: 'Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya.'” “Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gemetar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku.” “Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN, sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”

Berbicara kepada orang Ibrani yang dibebani ketakutan dan lapar jiwa, nabi ini berkata: “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.” “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara.” “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran.” “Dalam semua penderitaan mereka, Ia juga menderita, dan malaikat kehadiran-Nya menyelamatkan mereka. Dalam kasih dan belas kasihan-Nya, Ia menebus mereka.”

Yesaya ini diikuti oleh Mikha dan Obaja, yang membenarkan dan menghiasi kabar baiknya yang memuaskan jiwa itu. Dua utusan berani tersebut dengan tegas mengecam tatacara ibadah orang Ibrani yang dikuasai para imam dan dengan tanpa gentar menyerang seluruh sistem pengorbanan.

Mikha mengecam “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang.” Ia mengajarkan suatu hari yang bebas dari takhyul dan penipuan imam, mengatakan: “Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut TUHAN semesta alam yang mengatakannya.”

Selalu inti pesan Mikha adalah: “Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri? Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Zaman itu adalah zaman yang besar; memang terjadi waktu-waktu menggemparkan saat-saat manusia fana mendengar, dan beberapa bahkan percaya, pada pesan-pesan yang membebaskan tersebut, lebih dari dua setengah milenium yang lalu. Dan kalau bukan karena perlawanan keras dari para imam, tentulah guru-guru ini sudah menggulingkan seluruh upacara penumpahan darah dari tatacara ibadah Ibrani itu.

6. Yeremia yang Tidak Kenal Takut

Sementara beberapa guru terus menjelaskan dengan terperinci kabar baik dari Yesaya, menjadi giliran Yeremia untuk mengambil langkah berani berikutnya dalam internasionalisasi Yahweh, Tuhan orang Ibrani.

Yeremia tanpa rasa takut menyatakan bahwa Yahweh tidak membela pihak Ibrani dalam perjuangan militer mereka melawan bangsa-bangsa lain. Ia menegaskan bahwa Yahweh adalah Tuhan seluruh bumi, semua negara dan semua bangsa. Ajaran Yeremia adalah puncak dari peningkatan gelombang internasionalisasi Allah Israel; akhirnya dan selamanya pengkhotbah pemberani ini menyatakan bahwa Yahweh adalah Tuhan semua bangsa, dan bahwa tidak ada Osiris untuk orang Mesir, Bel untuk orang Babel, Ashur untuk orang Asyur, atau Dagon untuk orang Filistin. Dan dengan demikian pula agama Ibrani berjasa dalam kebangkitan monoteisme di seluruh dunia pada sekitar dan setelah waktu ini; akhirnya konsep Yahweh telah naik ke tingkat martabat Tuhan atas planet dan bahkan alam semesta. Namun banyak dari rekan Yeremia sulit untuk membayangkan Yahweh terpisah dari bangsa Ibrani.

Yeremia juga memberitakan Tuhan yang adil dan penuh kasih seperti digambarkan oleh Yesaya, menyatakan: “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” “Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.”

Kata nabi yang tak kenal takut ini: “nama-Mu adalah TUHAN semesta alam, besar dalam rancangan-Mu dan agung dalam perbuatan-Mu; mata-Mu terbuka terhadap segala tingkah langkah anak-anak manusia dengan mengganjar setiap orang sesuai dengan tingkah langkahnya dan sesuai dengan buah perbuatannya.” Tetapi dianggap pengkhianatan yang menghujat ketika, selama pengepungan Yerusalem, ia berkata: “Dan sekarang, Aku menyerahkan segala negeri ini ke dalam tangan hamba-Ku, yakni Nebukadnezar, raja Babel.” Dan ketika Yeremia menasihatkan agar kota itu menyerah, para imam dan penguasa sipil melemparkan dia ke dalam lubang kotor di sebuah penjara gelap di bawah tanah.

7. Yesaya yang Kedua

Kehancuran bangsa Ibrani dan penawanan mereka di Mesopotamia akan terbukti sangat bermanfaat bagi teologi mereka yang makin berkembang itu seandainya bukan karena aksi gigih dari para imam mereka. Bangsa mereka telah kalah menghadapi tentara Babel, dan Yahweh nasional mereka itu telah menderita akibat khotbah-khotbah internasional dari para pemimpin rohani. Kemarahan karena hilangnya allah nasional mereka itulah yang menyebabkan para imam Yahudi untuk berpanjang lebar dalam pembuatan dongeng-dongeng dan pelipat-gandaan peristiwa-peristiwa yang tampaknya ajaib dalam sejarah Ibrani dalam upaya untuk mengembalikan orang-orang Yahudi sebagai bangsa yang terpilih, bahkan dari gagasan baru dan diperluas tentang Tuhan yang diinternasionalkan untuk semua bangsa itu.

Selama pembuangan orang-orang Yahudi banyak dipengaruhi oleh tradisi dan legenda Babilonia, meskipun perlu dicatat bahwa mereka selalu meningkatkan nada moral dan makna rohani dari cerita-cerita Kasdim yang mereka ambil, walaupun mereka selalu saja menyelewengkan legenda-legenda ini agar mencerminkan kehormatan dan kemuliaan kepada leluhur dan sejarah Israel.

Para imam dan ahli kitab Ibrani ini memiliki satu ide tunggal dalam benak mereka, dan itu adalah pemulihan kembali negara Yahudi, pengagungan tradisi-tradisi Ibrani, dan peninggian sejarah kebangsaan mereka. Jika ada kemarahan atas fakta bahwa para imam ini telah memasukkan gagasan keliru mereka terhadap sedemikian besar dunia Barat, perlu diingat bahwa mereka tidak dengan sengaja melakukan hal ini; mereka tidak mengaku menulis oleh ilham; mereka bukan berprofesi menulis sebuah kitab suci. Mereka hanya menyiapkan sebuah buku teks yang dirancang untuk membangkitkan semangat rekan-rekan mereka yang semakin menyusut di pembuangan. Mereka dengan jelas bertujuan untuk meningkatkan semangat dan moral kebangsaan para kompatriot mereka. Tetaplah orang-orang pada masa-masa kemudian yang merakit tulisan-tulisan ini dan tulisan lainnya menjadi sebuah buku panduan ajaran yang dianggap tanpa salah.

Para imam Yahudi menggunakan tulisan-tulisan ini dengan bebas setelah penawanan, tetapi mereka sangat terhambat dalam pengaruh mereka pada sesama tawanan oleh karena kehadiran seorang nabi muda dan tidak mau menyerah, Yesaya yang kedua, yang percaya penuh pada Tuhannya Yesaya yang lebih tua, Tuhan keadilan, kasih, kebenaran, dan belas kasihan. Ia juga percaya dengan Yeremia bahwa Yahweh telah menjadi Tuhan segala bangsa. Ia mengkhotbahkan teori-teori ini tentang sifat Tuhan dengan begitu mengesankan sehingga ia mendapat pengikut sama-sama di kalangan orang-orang Yahudi maupun para penawan mereka. Dan pengkhotbah muda ini meninggalkan di catatan ajaran-ajarannya, yang para imam yang bermusuhan dan tidak mau memaafkan itu berusaha melepaskannya dari semua hubungan dengan dia, meskipun karena semata-mata penghormatan untuk keindahan dan keagungan tulisan-tulisan inilah yang menyebabkan digabungkannya karya-karya ini di antara tulisan-tulisan Yesaya yang sebelumnya. Maka dengan demikian dapat ditemukan tulisan-tulisan Yesaya yang kedua ini dalam kitab dengan nama itu, mencakup pasal empat puluh sampai termasuk lima puluh lima.

Tidak ada nabi atau guru agama dari Machiventa hingga ke zaman Yesus yang mencapai konsep tinggi Tuhan yang diproklamirkan Yesaya kedua selama hari-hari pembuangan ini. Tuhan yang dicanangkan pemimpin rohani itu bukan Tuhan yang kecil, menyerupai manusia, atau buatan manusia. “Sesungguhnya, pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya.” “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Akhirnya Melkisedek Machiventa menyaksikan guru-guru manusia yang memproklamirkan Tuhan yang sebenarnya bagi manusia fana. Seperti Yesaya yang pertama, pemimpin ini mengkhotbahkan tentang Tuhan penciptaan dan pemeliharaan semesta. “Dialah Allah yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami” “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.” Berbicara demi Tuhan Allah Israel, nabi baru ini mengatakan: “Langit lenyap seperti asap, bumi memburuk seperti pakaian yang sudah usang; tetapi kelepasan yang Kuberikan akan tetap untuk selama-lamanya, dan keselamatan yang dari pada-Ku tidak akan berakhir.” “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu.” “Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!”

Amatlah menghibur bagi para tawanan Yahudi, seperti halnya beribu-ribu orang sejak itu, untuk mendengar kata-kata seperti: “Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: 'Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.'” “Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau. Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia.” “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.”

Dengarkanlah lagi pada kabar baik pewahyuan baru tentang Tuhan Salem ini: “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru, mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

Yesaya ini menyelenggarakan propaganda luas kemana-mana tentang kabar baik perluasan konsep tentang Yahweh yang mahatinggi. Ia bersaing dengan Musa dalam kefasihan cara ia menggambarkan Tuhan Allah Israel sebagai Pencipta Semesta. Dia puitis dalam penggambarannya tentang atribut tak terhingga dari Bapa Semesta. Tidak ada lagi pernyataan lebih indah tentang Bapa surgawi pernah dibuat. Seperti Mazmur, tulisan-tulisan Yesaya adalah salah satu presentasi paling luhur dan benar tentang konsep rohani Tuhan yang pernah menyapa telinga manusia fana sebelum kedatangan Mikhael di Urantia. Dengarkan penggambarannya mengenai Tuhan: "Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya.” “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.” “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.” Dan merupakan doktrin baru di kaum Yahudi ketika nabi yang tenang tapi berwibawa ini bertahan dalam khotbah tentang keteguhan ilahi, kesetiaan Tuhan. Dia menyatakan bahwa “Allah tidak akan melupakan, tidak akan meninggalkan.”

Guru yang berani ini menyatakan bahwa manusia sangat erat kaitannya dengan Tuhan, mengatakan: “Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.”

Dengarlah orang Ibrani yang agung ini menghancurkan konsep suatu Tuhan nasional sementara dalam kemuliaan ia menyatakan keilahian Bapa Semesta, tentang Dia ia mengatakan, “Langit adalah takhta-Ku, dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku.” Allahnya Yesaya itu sungguh suci, agung, adil, dan tidak terselami. Konsep Yahweh yang pemarah, pendendam, dan cemburuan dari orang Badui gurun itu hampir lenyap. Sebuah konsep baru Yahweh tertinggi dan universal telah muncul dalam pikiran manusia fana, tidak pernah hilang dari pandangan manusia. Kesadaran akan keadilan ilahi telah memulai penghancuran sihir primitif dan rasa takut biologis. Akhirnya, manusia diperkenalkan pada alam semesta hukum dan ketertiban dan pada Tuhan universal dengan sifat yang bisa dipercaya dan final.

Pengkhotbah Tuhan yang adiluhung ini tidak pernah berhenti mewartakan Tuhan yang pengasih ini. “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati.” Dan masih ada kata-kata lebih lanjut untuk penghiburan yang disampaikan guru besar ini kepada orang-orang semasanya: “TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. Sebab Ia akan datang seperti arus dari tempat yang sempit, yang didorong oleh napas TUHAN.” Dan sekali lagi kabar baik dari Melkisedek yang memusnahkan ketakutan dan dari agama Salem yang memupuk rasa percaya itu bersinar untuk memberkati umat manusia.

Yesaya yang berpandangan jauh ke depan dan berani ini secara efektif menutup Yahweh yang bersifat nasionalis itu oleh potret luhurnya tentang keagungan dan kemahakuasaan semesta dari Yahweh mahatinggi, Allah yang pengasih, penguasa alam semesta, dan Bapa penyayang seluruh umat manusia. Sejak hari-hari penting tersebut, konsep Tuhan tertinggi di Dunia Barat telah memeluk keadilan semesta, rahmat ilahi, dan kebenaran kekal. Dalam bahasa yang unggul dan dengan karunia yang tiada tara sang guru besar ini menggambarkan Pencipta mahakuasa sebagai Bapa yang maha kasih.

Nabi dari masa pembuangan itu memberitakan kepada rakyatnya dan kepada orang-orang dari banyak bangsa sementara mereka mendengarkan di tepian sungai di Babilon. Dan Yesaya kedua ini berbuat banyak untuk melawan banyak konsep rasial yang salah dan egois tentang misi Mesias yang dijanjikan itu. Namun dalam upaya ini ia tidak sepenuhnya berhasil. Seandainya saja para imam itu tidak mengabdikan diri mereka untuk pekerjaan membangun nasionalisme yang sesat itu, ajaran dari kedua Yesaya itu tentulah telah mempersiapkan jalan bagi pengakuan dan penerimaan Mesias yang dijanjikan.

8. Sejarah Suci dan Sejarah Duniawi

Kebiasaan untuk memandang catatan pengalaman orang Ibrani sebagai sejarah suci dan atas peristiwa seluruh dunia sebagai sejarah yang duniawi itu bertanggung jawab untuk banyak kebingungan yang terjadi dalam benak manusia mengenai penafsiran sejarah. Dan kesulitan ini muncul karena tidak ada sejarah sekuler orang Yahudi. Setelah para imam di pembuangan Babel menyiapkan catatan baru mereka tentang perkara-perkara yang dianggap ajaib antara Tuhan dengan orang Ibrani, sejarah suci Israel seperti yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, mereka dengan hati-hati dan lengkap memusnahkan catatan yang ada tentang hal ihwal Ibrani— buku-buku seperti “Perbuatan Raja-raja Israel” dan “Perbuatan Raja-raja Yehuda,” bersama-sama dengan beberapa catatan sejarah bangsa Ibrani yang kurang lebihnya akurat lainnya.

Untuk memahami bagaimana tekanan dahsyat dan paksaan yang tak bisa dihindari dari sejarah sekuler itu demikian meneror orang Yahudi yang tertawan dan dikuasai orang asing itu sehingga mereka mengusahakan penulisan ulang lengkap dan menyusun kembali sejarah mereka, kita harus melihat secara singkat catatan tentang pengalaman kebangsaan mereka yang membingungkan itu. Perlu diingat bahwa orang Yahudi gagal mengembangkan filsafat nonteologis yang memadai untuk kehidupan. Mereka berjuang dengan konsep asli dan konsep Mesir mereka mengenai pahala ilahi untuk kebenaran digabungkan dengan hukuman mengerikan bagi dosa. Drama Ayub itu adalah suatu protes terhadap filosofi yang keliru ini. Pesimisme terus terang kitab Pengkhotbah merupakan reaksi bijak duniawi terhadap keyakinan yang terlalu optimis akan Pemeliharaan Tuhan.

Namun lima ratus tahun di bawah kekuasaan atasan penguasa asing itu begitu keterlaluan bahkan untuk orang-orang Yahudi yang sabar dan tabah menderita. Para nabi dan imam mulai berseru: “Berapa lama, ya Tuhan, berapa lama lagi?” Ketika orang Yahudi yang jujur mencari di Kitab Suci, kebingungannya menjadi semakin parah. Seorang pelihat kuno menjanjikan bahwa Tuhan akan melindungi dan melepaskan “bangsa pilihan-Nya.” Amos telah mengancam bahwa Tuhan akan meninggalkan Israel kecuali mereka kembali menetapkan standar kebenaran nasional mereka. Juru tulis kitab Ulangan telah menggambarkan tentang Pilihan Besar—antara yang baik dan yang jahat, berkat dan kutuk. Yesaya pertama telah memberitakan seorang raja-penyelamat yang pemurah. Yeremia menyatakan era kebenaran batin— perjanjian yang tertulis pada loh atau tablet hati. Yesaya yang kedua berbicara tentang keselamatan dengan pengorbanan dan penebusan. Yehezkiel menyatakan pembebasan melalui layanan ibadah, dan Ezra menjanjikan kemakmuran dengan kepatuhan terhadap hukum. Namun demikian, mereka masih juga tinggal berlama-lama dalam perbudakan, dan pembebasan masih ditangguhkan. Kemudian Daniel menyampaikan drama tentang akan datangnya “krisis”—hantaman terhadap patung besar dan pembentukan segera pemerintahan kekal kebenaran, kerajaan Mesianik.

Semua pengharapan palsu ini menyebabkan tingkat kekecewaan dan frustrasi kebangsaan begitu rupa sehingga para pemimpin Yahudi sangat bingung sehingga mereka gagal untuk mengenali dan menerima misi dan pelayanan sesosok Putra ilahi dari Firdaus ketika ia segera datang kepada mereka dalam rupa manusia fana—menjelma sebagai Anak Manusia.

Semua agama modern telah secara serius membuat kesalahan besar dalam upaya menempatkan penafsiran secara ajaib pada zaman tertentu sejarah manusia. Meskipun benar bahwa Tuhan telah berulang kali mengulurkan campur tangan pemeliharaan Bapa ke dalam aliran urusan-urusan manusia, namun adalah suatu kesalahan untuk menganggap bahwa dogma-dogma teologis dan takhyul keagamaan itu sebagai campur tangan adikodrati yang muncul dengan perbuatan ajaib dalam aliran sejarah manusia ini. Kenyataan bahwa “Yang Paling Tinggi memerintah dalam kerajaan manusia” tidak mengubah sejarah sekuler menjadi apa yang disebut sejarah suci.

Para penulis Perjanjian Baru dan penulis Kristen kemudian lebih merumitkan penyimpangan sejarah Ibrani ini oleh upaya mereka yang bermaksud baik untuk mentransendenkan para nabi Yahudi itu. Maka demikianlah sejarah Ibrani telah dieksploitasi secara parah baik oleh penulis-penulis Yahudi maupun Kristen. Sejarah Ibrani sekuler telah sepenuhnya didogmatisir. Sejarah ini telah diubah menjadi sebuah fiksi sejarah suci dan telah menjadi terikat erat dengan konsep moral dan ajaran agama dari apa yang disebut negara-negara Kristen.

Suatu paparan singkat tentang poin-poin penting dalam sejarah Ibrani akan menggambarkan bagaimana fakta-fakta catatan itu begitu rupa diubah di Babel oleh para imam Yahudi sehingga mengubah sejarah sekuler biasa sehari-hari bangsa mereka menjadi sejarah yang fiktif dan sakral.

9. Sejarah Ibrani

Tidak pernah ada dua belas suku bangsa Israel—hanya tiga atau empat suku yang menetap di Palestina. Negara Ibrani itu muncul menjadi ada sebagai hasil dari penyatuan antara orang-orang yang disebut orang Israel dan orang Kanaan. “Demikianlah orang Israel itu diam di tengah-tengah orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Mereka mengambil anak-anak perempuan, orang-orang itu menjadi isteri mereka dan memberikan anak-anak perempuan mereka kepada anak-anak lelaki orang-orang itu, serta beribadah kepada allah orang-orang itu.” Orang Ibrani tidak pernah mengusir orang Kanaan keluar dari Palestina, walaupun catatan para imam mengenai hal-hal ini tanpa sungkan lagi menyatakan bahwa mereka melakukannya.

Kesadaran Israel sebagai bangsa berasal dari pedesaan perbukitan Efraim; kesadaran Yahudi di kemudian hari berasal dari marga Yehuda selatan. Orang-orang Yahudi (bani Yehuda) selalu berusaha untuk mencemarkan nama baik dan menjelekkan catatan tentang Israel bagian utara (bani Efraim).

Sejarah Ibrani yang dibuat agar tampak hebat itu dimulai dengan Saul menggerakkan marga utara untuk menahan serangan oleh orang Amon terhadap saudara-saudara sesuku mereka—orang Gilead—di sebelah timur Sungai Yordan. Dengan pasukan sedikit lebih dari tiga ribu orang ia mengalahkan musuh, dan karena upaya inilah yang menyebabkan suku-suku bukit mengangkat dia menjadi raja. Ketika imam di tempat pembuangan menulis ulang cerita ini, mereka menaikkan pasukan Saul menjadi 330.000 dan menambahkan “Yehuda” ke dalam daftar suku yang ikut serta dalam pertempuran itu.

Segera setelah kekalahan bangsa Amon, Saul diangkat menjadi raja oleh pemilihan populer oleh pasukannya. Tidak ada imam atau nabi ikut serta dalam urusan ini. Tetapi para imam kemudian memasukkan ke dalam catatan bahwa Saul dinobatkan menjadi raja oleh nabi Samuel sesuai dengan petunjuk ilahi. Hal ini mereka lakukan dalam rangka untuk membentuk sebuah “garis keturunan ilahi” untuk kerajaan bani Yehudanya Daud.

Yang terbesar dari semua penyimpangan sejarah Yahudi itu ada hubungannya dengan Daud. Setelah kemenangan Saul atas orang Amon (yang ia anggap karena Yahweh) orang Filistin menjadi kuatir dan mulai menyerang suku-suku utara. Daud dan Saul tidak pernah bisa sepakat. Daud dengan enam ratus orang masuk ke dalam aliansi Filistin dan berbaris sepanjang pantai menuju Esdraelon. Di Gat orang Filistin memerintahkan Daud keluar medan perang; mereka takut ia mungkin menyeberang ke pihak Saul. Daud mundur; orang Filistin menyerang dan mengalahkan Saul. Mereka tidak bisa melakukan hal ini jika saja Daud setia kepada Israel. Tentara Daud adalah campuran para pemberontak dari berbagai bahasa, sebagian besar terdiri dari orang-orang yang tidak ramah sosial dan para buronan dari peradilan.

Kekalahan tragis Saul di Gilboa oleh orang Filistin membawa Yahweh ke titik rendah di antara para ilah di mata orang Kanaan sekitarnya. Biasanya, kekalahan Saul akan dianggap karena murtad dari Yahweh, tapi kali ini para editor Yehuda menghubungkannya karena kesalahan tatacara penyembahan. Mereka memerlukan tradisi Saul dan Samuel sebagai latar belakang untuk kerajaan Daud.

Daud dengan pasukan kecilnya membuat markasnya di kota non-Ibrani yaitu Hebron. Segera rekan-rekan seperjuangannya menyatakan ia raja atas kerajaan baru Yehuda. Yehuda sebagian besar terdiri dari unsur-unsur non-Ibrani—orang Keni, Kaleb, Yebus, dan orang-orang Kanaan yang lain. Mereka adalah para pengembara—penggembala—sehingga begitu mengikuti ide Ibrani tentang kepemilikan tanah. Mereka memegang kepercayaan marga-marga suku gurun.

Perbedaan antara sejarah suci dan duniawi dicontohkan dengan baik oleh dua cerita yang berbeda tentang membuat Daud menjadi raja seperti yang ditemukan dalam Perjanjian Lama. Sebuah bagian dari kisah sekuler tentang bagaimana pengikut langsungnya (pasukannya) menobatkan dia menjadi raja secara tidak sengaja tertinggal dalam catatan oleh para imam yang kemudian membuat catatan panjang lebar dan menjemukan tentang sejarah suci dimana di dalamnya digambarkan bagaimana nabi Samuel, oleh arahan ilahi, memilih Daud dari antara saudara-saudaranya dan kemudian secara resmi dan dengan upacara yang rumit dan khidmat mengurapi dia sebagai raja atas orang Ibrani dan kemudian menyatakan dia sebagai penerus Saul.

Berkali-kali para imam, setelah mempersiapkan kisah fiktif mereka tentang perkara-perkara ajaib Tuhan dengan Israel, gagal sepenuhnya menghapus pernyataan polos dan fakta apa adanya yang sudah berada dalam catatan itu.

Daud secara politis berusaha untuk membangun dirinya dengan pertama-tama menikahi putri Saul, lalu janda Nabal orang Edom kaya itu, dan kemudian putri Talmai, raja Gesur. Ia mengambil enam istri dari para wanita Yebus, belum lagi Batsyeba, istri orang Het itu.

Maka dengan metode tersebut dan dari orang-orang seperti itulah Daud membangun fiksi tentang kerajaan ilahi Yehuda sebagai penerus warisan dan tradisi dari kerajaan utara bani Efraim Israel yang sedang lenyap itu. Suku Yehuda kosmopolitannya Daud itu lebih kafir daripada orang Yahudi; namun demikian para tua-tua Efraim yang tertindas itu turun dan “mengurapi dia raja Israel.” Setelah suatu ancaman militer, Daud kemudian membuat perjanjian dengan orang Yebus dan mendirikan ibukota kerajaan bersatunya di Yebus (Yerusalem), yang merupakan kota yang bertembok kuat di tengah antara Yehuda dan Israel. Orang Filistin bangkit dan segera menyerang Daud. Setelah pertempuran sengit mereka dikalahkan, dan sekali lagi Yahweh diresmikan sebagai “Tuhan Allah semesta alam.”

Tetapi terpaksalah Yahweh harus berbagi beberapa dari kemuliaan ini dengan para ilah Kanaan, karena sebagian besar tentara Daud adalah non-Ibrani. Maka dengan begitu muncul dalam catatanmu (terlewati oleh para editor Yehuda) pernyataan tanda ini: “TUHAN telah menerobos musuhku di depanku seperti air menerobos. Sebab itu orang menamakan tempat itu Baal-Perasim.” Mereka melakukan ini karena delapan puluh persen dari tentara Daud adalah pengikut Baal.

Daud menjelaskan kekalahan Saul di Gilboa itu dengan menunjukkan bahwa Saul telah menyerang sebuah kota Kanaan, Gibeon, yang penduduknya memiliki perjanjian damai dengan orang Efraim. Karena itu, Yahweh meninggalkan dia. Bahkan dalam masa-masa Saul, Daud telah membela kota Kanaan Keilah melawan orang Filistin, dan kemudian ia menempatkan ibukotanya di sebuah kota Kanaan. Sesuai dengankebijakan kompromi dengan orang Kanaan, Daud mengirimkan tujuh keturunan Saul kepada orang Gibeon untuk digantung.

Setelah kekalahan orang Filistin, Daud memperoleh kepemilikan atas “tabut Yahweh,” membawanya ke Yerusalem, dan membuat penyembahan Yahweh resmi untuk kerajaannya. Ia selanjutnya menetapkan upeti berat ke atas suku-suku tetangga—orang Edom, Moab, Amon, dan Syria.

Mesin politik korup Daud mulai mendapatkan kepemilikan pribadi tanah di utara yang melanggar adat istiadat Ibrani dan segera menguasai bea cukai kafilah yang sebelumnya dikumpulkan oleh orang Filistin. Kemudian datanglah serangkaian kekejaman yang mencapai klimaks dengan pembunuhan Uria. Semua banding peradilan diputuskan di Yerusalem, tidak bisa lagi para “tua-tua” memutuskan peradilan. Tidak heran maka pecah pemberontakan. Hari ini, Absalom bisa disebut seorang pemimpin rakyat populer; ibunya adalah seorang Kanaan. Ada setengah lusin pesaing untuk takhta selain putra Batsyeba—Sulaiman atau Salomo.

Setelah kematian Daud, Sulaiman membersihkan mesin politik dari semua pengaruh utara tapi terus melanjutkan semua tirani dan perpajakan dari rezim ayahnya. Sulaiman negara oleh istananya yang mewah dan oleh program pembangunannya yang rumit: Ada rumah Lebanon, istana putri Firaun, bait suci Yahweh, istana raja, dan perbaikan tembok di banyak kota. Salomo menciptakan angkatan laut Ibrani yang besar, yang dioperasikan oleh para pelaut Syria dan berdagang dengan seluruh dunia. Haremnya berjumlah hampir seribu orang.

Pada saat ini bait suci Yahweh di Silo (Shiloh) diturunkan martabatnya, dan semua peribadahan bangsa dipusatkan di Yebus di kapel kerajaan yang indah. Kerajaan utara kembali lebih menyembah Elohim. Mereka menikmati dukungan dari Firaun, yang kemudian memperbudak Yehuda, menempatkan kerajaan selatan di bawah upeti.

Ada pasang dan surut—perang-perang antara Israel dan Yehuda. Setelah empat tahun perang saudara dan tiga dinasti, Israel jatuh di bawah kekuasaan despot-despot kota yang mulai memperdagangkan tanah. Bahkan Raja Omri berusaha untuk membeli lahannya Semer. Namun akhir semua itu mendekat dengan cepat saat Salmaneser III memutuskan untuk mengendalikan pantai Mediterania. Raja Ahab dari Efraim mengumpulkan sepuluh kelompok lain dan melawan di Karkar; pertempuran itu imbang. Asyur dihentikan tetapi para sekutu tinggal sedikit. Pertarungan besar ini bahkan tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama.

Masalah baru dimulai ketika Raja Ahab mencoba untuk membeli tanah dari Nabot. Istri Fenisianya menuliskan nama Ahab di kertas-kertas yang memerintahkan agar tanah Nabot disita atas tuduhan bahwa ia telah menghujat nama-nama “Elohim dan raja.” Dia dan putra-putranya langsung dieksekusi. Elia yang kuat itu muncul di tempat kejadian mencela Ahab karena pembunuhan keluarga Nabot. Dengan demikian Elia, salah satu yang terbesar dari para nabi, memulai ajarannya sebagai pembela adat istiadat tanah lama yang melawan sikap kaum Baal yang menjual tanah, melawan upaya kota untuk mendominasi desa. Tetapi reformasi itu tidak berhasil sampai tuan tanah pedesaan Yehu bergabung dengan kepala suku gipsi (berpindah-pindah) Yehonadab untuk membunuh para nabi (agen real estat) Baal itu di Samaria.

Kehidupan baru muncul ketika Yehoas (Yoas) dan putranya Yerobeam melepaskan Israel dari musuh-musuhnya. Namun pada saat itu di Samaria berkuasalah suatu kebangsawanan gangster yang tindakan-tindakan merusaknya menyaingi dinasti Daud dahulu itu. Negara dan agama bergandengan tangan. Upaya untuk menekan kebebasan berbicara menyebabkan Elia, Amos, dan Hosea untuk memulai tulisan rahasia mereka, dan ini adalah permulaan yang sebenarnya untuk Kitab-kitab SuciYahudi dan Kristen.

Tetapi kerajaan utara tidak punah dari sejarah sampai raja Israel bersekongkol dengan raja Mesir dan menolak untuk membayar upeti lebih lanjut kepada Asyur. Kemudian mulailah pengepungan tiga tahun diikuti oleh pencerai-beraian total kerajaan utara. Efraim (Israel) dengan demikian lenyap. Yehuda—orang Yahudi,”sisa-sisa Israel”—telah memulai pemusatan tanah di tangan segelintir orang, seperti yang Yesaya katakan, “yang menyerobot rumah demi rumah dan mencekau ladang demi ladang.” Saat itu ada di Yerusalem sebuah kuil Baal bersama di samping kuil Yahweh. Pemerintahan teror ini diakhiri oleh suatu pemberontakan monoteistik yang dipimpin oleh raja bocah Yoas, yang giat mendukung Yahweh selama tiga puluh lima tahun.

Raja berikutnya, Amazia, mengalami kesulitan dengan pemberontakan orang Edom pembayar pajak dan tetangga-tetangga mereka. Setelah sebuah kemenangan gemilang ia beralih untuk menyerang tetangga utaranya dan dengan sama gemilangnya ia dikalahkan. Kemudian rakyat pedesaan memberontak; mereka membunuh raja dan menempatkan anaknya yang enam belas tahun di atas takhta. Ini adalah Azarya, yang disebut Uzia oleh Yesaya. Setelah Uzia, keadaan buruk menjadi makin buruk lagi, dan Yehuda masih ada selama seratus tahun dengan membayar upeti kepada raja-raja Asyur. Yesaya (Yesaya yang pertama) memberitahu mereka bahwa Yerusalem sebagai kota Yahweh, tidak akan pernah jatuh. Tetapi Yeremia tidak ragu-ragu untuk mengumumkan kejatuhannya.

Kehancuran nyata Yehuda disebabkan oleh lingkaran politisi yang korup dan kaya yang beroperasi di bawah kekuasaan seorang raja bocah, Manasye. Perubahan ekonomi menyukai kembalinya penyembahan Baal, yang urusan-urusan tanah milik pribadinya menentang ideologi Yahweh. Jatuhnya Asyur dan naiknya Mesir membawa pembebasan bagi Yehuda untuk sementara waktu, dan rakyat pedesaan mengambil alih. Di bawah Yosia mereka menghancurkan lingkaran politisi korup Yerusalem.

Tapi era ini sampai pada akhir yang tragis ketika Yosia berani keluar untuk mencegat pasukan perkasa Nekho yang bergerak sepanjang pantai dari Mesir untuk membantu Asyur melawan Babilon. Ia disapu habis, dan Yehuda masuk ke bawah kekuasaan Mesir. Partai politik Baal kembali berkuasa di Yerusalem, dan dengan demikian mulailah perbudakan Mesir yang sebenarnya. Kemudian terjadi suatu periode para politisi Baal mengendalikan pengadilan maupun keimaman. Pemujaan Baal adalah sistem ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan hak milik serta yang berkaitan dengan kesuburan tanah.

Dengan penggulingan Nekho oleh Nebukadnezar, Yehuda jatuh di bawah kekuasaan Babilon (Babel) dan diberikan sepuluh tahun kelonggaran, tetapi segera memberontak. Ketika Nebukadnezar datang melawan mereka, orang Yehuda memulai reformasi sosial, seperti melepaskan budak-budak, demi untuk mempengaruhi Yahweh. Ketika tentara Babel mundur sementara, orang Ibrani bersukacita bahwa keajaiban reformasi telah menyelamatkan mereka. Selama periode inilah Yeremia mengatakan kepada mereka tentang malapetaka yang makin dekat, dan tidak lama kemudian Nebukadnezar kembali.

Maka akhir Yehuda datang dengan tiba-tiba. Kota itu dihancurkan, dan orang-orangnya dibawa pergi ke Babel. Pertarungan antara Yahweh dan Baal berakhir dengan penawanan. Penawanan itu melecut sisa Israel masuk ke dalam monoteisme.

Di Babilon orang Yahudi tiba pada kesimpulan bahwa mereka tidak bisa eksis sebagai sebuah kelompok kecil di Palestina, memiliki kebiasaan sosial dan ekonomi yang khas mereka sendiri, dan bahwa, agar ideologi mereka menang, mereka harus membawa orang kafir agar percaya. Dengan demikian berasal konsep baru mereka tentang takdir— gagasan bahwa orang-orang Yahudi harus menjadi hamba pilihan Yahweh. Agama Yahudi di Perjanjian Lama itu benar-benar dikembangkan di Babilon selama penawanan.

Doktrin tentang kehidupan abadi juga terbentuk di Babilon. Orang-orang Yahudi telah berpikir bahwa gagasan tentang kehidupan akhirat mengurangi penekanan kabar baik mereka tentang keadilan sosial. Maka untuk pertama kalinya teologi menggantikan sosiologi dan ekonomi. Agama mengambil bentuk sebagai sebuah sistem pemikiran dan perbuatan manusia dan semakin lama semakin dipisahkan dari politik, sosiologi, dan ekonomi.

Demikianlah kebenaran tentang bangsa Yahudi mengungkapkan bahwa banyak hal yang telah dianggap sebagai sejarah suci itu ternyata hanyalah sedikit lebih dari tawarikh sejarah duniawi biasa. Yudaisme adalah tanah dari mana Kekristenan tumbuh, namun orang-orang Yahudi bukanlah bangsa yang ajaib.

10. Agama Ibrani

Pemimpin mereka telah mengajari bangsa Israel bahwa mereka adalah umat pilihan, bukan untuk kegemaran khusus dan monopoli perkenanan ilahi, tetapi untuk pelayanan khusus membawa kebenaran tentang satu Tuhan semesta alam kepada setiap bangsa. Dan mereka telah menjanjikan orang-orang Yahudi bahwa, jika mereka memenuhi tujuan ini, mereka akan menjadi pemimpin rohani semua bangsa, dan bahwa Mesias yang akan datang itu akan memerintah atas mereka dan seluruh dunia sebagai Raja Damai.

Setelah orang-orang Yahudi dibebaskan oleh bangsa Persia, mereka kembali ke Palestina namun jatuh kembali ke dalam perbudakan aturan yang dikuasai para imam mereka sendiri mengenai hukum, pengorbanan, dan tatacara. Dan seperti marga-marga Ibrani menolak cerita indah tentang Tuhan yang disampaikan dalam orasi perpisahan Musa mengenai ritual pengorbanan dan penebusan dosa, begitu pula sisa-sisa bangsa Ibrani ini menolak konsep agung Yesaya kedua untuk pemerintahan, peraturan, dan tatacara keimaman mereka yang sedang berkembang.

Egotisme nasional, keyakinan keliru mengenai Mesias yang dijanjikan tapi salah dipahami, serta meningkatnya perbudakan dan tirani keimaman itu selamanya membungkam suara-suara dari para pemimpin rohani (kecuali Daniel, Yehezkiel, Hagai, dan Maleakhi); dan dari hari itu sampai waktu Yohanes Pembaptis seluruh Israel semakin mengalami kemunduran rohani. Namun demikian orang-orang Yahudi tidak pernah kehilangan konsep tentang Bapa Semesta; bahkan sampai abad kedua puluh Masehi mereka terus mengikuti konsepsi Ketuhanan ini.

Dari Musa kepada Yohanes Pembaptis ada memanjang garis tak terputus guru-guru yang setia yang meneruskan obor cahaya monoteistik dari satu generasi ke generasi berikutnya sementara mereka tak henti-hentinya menegur penguasa yang tidak bermoral, mengecam imam-imam yang komersil, dan selalu mendesak orang-orang untuk tetap menyembah Yahweh mahatinggi, TUHAN Allah Israel.

Sebagai sebuah bangsa, bangsa Yahudi akhirnya kehilangan identitas politik mereka, tetapi agama Ibrani yang berkeyakinan tulus pada satu Tuhan yang universal itu terus hidup dalam hati orang-orang buangan yang tersebar itu. Dan agama ini bertahan karena telah secara efektif berfungsi melestarikan nilai-nilai tertinggi dari para pengikutnya. Agama Yahudi memang melestarikan ideal-ideal sebuah bangsa, tetapi gagal untuk memupuk kemajuan dan mendorong penemuan kreatif filosofis dalam wilayah kebenaran. Agama Yahudi memiliki banyak kekurangan—agama itu kurang dalam filsafat dan hampir tanpa kualitas estetika—tetapi agama itu melestarikan nilai-nilai moral; itulah sebabnya agama itu masih bertahan. Yahweh yang tertinggi, dibandingkan dengan konsep-konsep Ketuhanan lain, adalah sangat jelas, gamblang, pribadi, dan moral.

Orang Yahudi mencintai keadilan, kebijaksanaan, kebenaran, dan perbuatan benar seperti halnya beberapa bangsa lain, tetapi dibandingkan semua bangsa mereka menyumbang paling sedikit dalam hal pemahaman intelektual dan pengertian rohani terhadap sifat-sifat ilahi ini. Meskipun teologi Ibrani menolak untuk berkembang, namun teologi itu memainkan peran penting dalam perkembangan dua agama dunia lainnya, Kristen dan Islam.

Agama Yahudi bertahan juga karena lembaga-lembaganya. Sulit bagi agama untuk bertahan sebagai praktek pribadi dari perorangan yang sendiri-sendiri. Hal ini selalu menjadi kesalahan para pemimpin agama: Melihat kejahatan dari agama yang dilembagakan, mereka berusaha menghancurkan teknik berfungsinya kelompok. Daripada menghancurkan semua tatacara, mereka akan lebih berhasil dengan mereformasinya. Dalam hal ini Yehezkiel lebih bijaksana dari orang-orang semasanya; meskipun ia bergabung dengan mereka dalam menuntut pertanggung-jawaban moral pribadi, ia juga mengatur untuk menetapkan pelaksanaan setia suatu tatacara yang lebih unggul dan dimurnikan.

Maka dengan demikian rangkaian guru-guru Israel itu mencapai prestasi terbesar dalam evolusi agama yang pernah dihasilkan di Urantia: transformasi bertahap namun terus menerus dari konsep barbar roh primitif Yahweh, roh allah cemburuan dan kejam dari gunung berapi Sinai yang menyala-nyala, menuju kepada konsep mulia dan ilahi berikutnya tentang Yahweh mahatinggi, pencipta segala sesuatu dan Bapa yang pengasih dan penyayang atas semua umat manusia. Dan konsep Ibrani tentang Tuhan ini adalah gambaran manusia tertinggi tentang Bapa Semesta sampai saat itu ketika hal itu lebih diperluas lagi dan dengan begitu indah diperkuat oleh ajaran pribadi dan contoh kehidupan dari Putra-Nya, Mikhael dari Nebadon.

[Disampaikan oleh sesosok Melkisedek dari Nebadon.]

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved