Makalah 96: Yahweh—Tuhan orang Ibrani

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 96

Yahweh—Tuhan orang Ibrani

DALAM MEMAHAMI tentang Deitas, manusia pertama menyertakan semua dewa, kemudian menaruh semua dewa asing sebagai bawahan dewa sukunya, dan akhirnya mengecualikan semua kecuali satu Tuhan yang bernilai terakhir dan tertinggi. Orang-orang Yahudi menyatukan semua ilah ke dalam konsep yang lebih luhur mereka tentang TUHAN, Allah Israel. Orang-orang Hindu demikian juga menggabungkan beraneka macam dewata mereka ke dalam “kerohanian esa dewata” yang digambarkan dalam Rig-Veda, sedangkan orang Mesopotamia mengurangi dewa-dewa mereka menjadi konsep yang lebih terpusat tentang Bel-Marduk. Ide-ide monoteisme ini menjadi matang di seluruh dunia tidak lama setelah munculnya Melkisedek Machiventa di Salem di Palestina. Namun konsep Melkisedek tentang Ketuhanan tidak seperti filosofi evolusi yang mengikutkan, membawahkan, dan mengecualikan itu; konsepnya itu didasarkan secara eksklusif pada daya cipta dan dengan segera sekali mempengaruhi konsep-konsep ketuhanan tertinggi di Mesopotamia, India, dan Mesir.

Agama Salem dihormati sebagai suatu tradisi oleh orang Keni dan beberapa suku Kanaan lainnya. Dan ini adalah salah satu tujuan inkarnasinya Melkisedek: Agar agama tentang Tuhan yang Esa itu dipupuk demikian rupa untuk mempersiapkan jalan bagi penganugerahan di bumi sesosok Putra dari Tuhan yang Esa itu. Mikhael sulit untuk bisa datang ke Urantia sampai ada satu bangsa yang percaya pada Bapa Semesta di antara mereka ia dapat tampil.

Agama Salem bertahan di antara orang Keni di Palestina sebagai kepercayaan mereka, dan agama ini sebagaimana yang kemudian diangkat oleh orang Ibrani itu dipengaruhi, pertama, oleh ajaran moral Mesir; kemudian, oleh pemikiran teologis Babilonia; dan terakhir, oleh konsepsi Iran tentang baik dan jahat. Secara fakta agama Ibrani itu didasarkan pada perjanjian antara Abraham dan Melkisedek Machiventa, secara evolusional agama itu adalah hasil pertumbuhan dari banyak keadaan situasional yang unik, tetapi secara budaya agama itu telah mengambil bebas dari agama, moralitas, dan filosofi dari seluruh Timur Tengah. Melalui agama Ibrani itulah banyak moralitas dan pemikiran keagamaan Mesir, Mesopotamia, dan Iran diteruskan ke bangsa-bangsa Barat.

1. Konsep Ketuhanan di kalangan Orang Semit

Bangsa Semit (keturunan Sem) yang mula-mula menganggap segala sesuatu didiami oleh suatu roh. Ada roh-roh dari dunia hewani dan dunia tumbuhan; ada roh tahunan, penguasa keturunan; roh api, air, dan udara; benar-benar suatu kahyangan roh-roh yang harus ditakuti dan disembah. Dan ajaran Melkisedek mengenai satu Pencipta Semesta itu tidak pernah sepenuhnya memusnahkan kepercayaan akan roh-roh bawahan atau dewa-dewa alam ini.

Kemajuan bangsa Ibrani dari politeisme melalui henoteisme kepada monoteisme itu bukanlah pengembangan konseptual yang tak terputus dan terus menerus. Mereka mengalami banyak kemunduran dalam evolusi konsep Ketuhanan mereka, sementara selama setiap zaman ada berbagai ide tentang Tuhan di antara berbagai kelompok orang percaya Semit. Dari waktu ke waktu banyak istilah yang diterapkan untuk konsep mereka tentang Tuhan, dan untuk mencegah kebingungan, berbagai sebutan Tuhan ini akan didefinisikan sebagaimana mereka berhubungan dengan evolusi teologi Yahudi:

1. Yahweh adalah ilah suku Palestina selatan, yang mengaitkan konsep ketuhanan ini dengan Gunung Horeb, gunung berapi Sinai. Yahweh hanyalah salah satu dari ratusan dan ribuan ilah alam yang mendapat perhatian dan penyembahan dari suku-suku dan bangsa-bangsa Semit.

2. El Elyon. Selama berabad-abad setelah kunjungan Melkisedek di Salem ajarannya tentang Tuhan bertahan dalam berbagai versi, tetapi umumnya disiratkan oleh istilah El Elyon, Tuhan Yang Paling Tinggi di surga. Banyak orang Semit, termasuk keturunan langsung Abraham, pada berbagai waktu menyembah Yahweh maupun El Elyon.

3. El Shaddai. Sulit untuk menjelaskan apa arti El Shaddai itu. Gagasan tentang Tuhan ini adalah suatu campuran yang berasal dari ajaran Kitab Kebijaksanaan Amenemope yang diubah oleh doktrinnya Ikhnaton mengenai Aton dan selanjutnya dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Melkisedek yang dicakup dalam konsep El Elyon. Namun ketika konsep El Shaddai meresapi pikiran Ibrani, konsep ini menjadi sepenuhnya diwarnai dengan oleh keyakinan-keyakinan dari padang pasir tentang Yahweh.

Salah satu ide yang dominan dari agama era ini adalah konsep Mesir tentang Pemeliharaan ilahi, ajaran bahwa kemakmuran materi adalah upah karena melayani El Shaddai.

4. El. Di tengah semua kebingungan istilah dan kekaburan konsep ini, banyak orang percaya yang saleh dengan tulus berusaha untuk menyembah semua ide-ide keilahian yang berkembang itu, dan tumbuhlah praktek yang mengacu pada Deitas atau Ketuhanan campuran ini sebagai El. Dan istilah ini masih menyertakan dewa-dewa alam Badui yang lain lagi.

5. Elohim. Di Kish dan Ur di sana lama bertahan kelompok Sumeria-Kasdim yang mengajarkan konsep Tuhan tiga-dalam-satu yang berdasarkan pada tradisi-tradisi dari masa Adam dan Melkisedek. Doktrin ini dibawa ke Mesir, dimana Trinitas ini disembah dengan nama Elohim, atau dalam bentuk tunggal sebagai Eloah (Allah). Kalangan-kalangan filosofis Mesir dan guru-guru Aleksandria turunan Ibrani yang belakangan mengajarkan kesatuan Tuhan yang majemuk ini, dan banyak dari penasihat Musa pada saat keluar dari Mesir percaya akan Trinitas ini. Namun konsep Elohim trinitarian itu tidak pernah menjadi bagian nyata dari teologi Ibrani hingga setelah mereka berada di bawah pengaruh politis dari orang Babilonia.

6. Bermacam-macam Nama. Orang Semit tidak suka untuk menyebutkan nama Tuhan mereka, dan karena itu mereka beralih ke berbagai sebutan dari waktu ke waktu, seperti: Roh Tuhan, Tuhan, Malaikat Tuhan, Yang Mahakuasa, Yang Kudus, Yang Paling Tinggi, Adonai, Yang Lanjut Usianya (The Ancient of Days), Tuhan Allah Israel, Pencipta Langit dan Bumi, Kurios (Kyrios), Jah, Tuhan Semesta Alam, dan Bapa di Surga.

Jehovah adalah istilah yang dalam waktu belakangan ini telah digunakan untuk menyebut konsep lengkapnya Yahweh yang akhirnya berkembang dalam pengalaman panjang orang Ibrani. Namun nama Jehovah (Yehuwa) itu belum dipakai sampai seribu lima ratus tahun setelah masa Yesus.

Hingga sekitar 2000 S.M., Gunung Sinai sekali-sekali masih aktif sebagai gunung berapi, letusan sekali-sekali yang terakhir terjadi pada saat persinggahan orang Israel di wilayah ini. Api dan asap, bersama dengan ledakan-ledakan bergemuruh yang terkait dengan letusan gunung berapi ini, semua mengesankan dan mempesona suku Badui dari daerah sekitarnya dan menyebabkan mereka sangat takut Yahweh. Roh dari Gunung Horeb ini kemudian menjadi ilah orang Semit Ibrani, dan mereka pada akhirnya mempercayainya sebagai yang tertinggi atas semua ilah yang lain.

Orang Kanaan sudah lama memuja Yahweh, dan meskipun banyak orang Keni lebih atau kurangnya meyakini akan El Elyon, tuhan super dari agama Salem, mayoritas orang Kanaan berpegang dengan longgar pada penyembahan ilah-ilah kesukuan lama. Mereka sulit bersedia untuk meninggalkan ilah-ilah nasional mereka demi mendukung Tuhan antar bangsa, apalagi Tuhan antar planet. Mereka tidak berpikiran ketuhanan yang semesta, dan karena itu suku-suku ini terus menyembah ilah kesukuan mereka, termasuk Yahweh dan anak lembu perak dan emas yang melambangkan konsep para penggembala Badui tentang roh gunung berapi Sinai itu.

Orang Syria, meskipun menyembah dewa-dewa mereka, juga percaya pada Yahweh orang Ibrani, karena nabi-nabi mereka berkata kepada raja Syria: “Allah mereka adalah ilah gunung, itulah sebabnya mereka lebih kuat dari pada kita; tetapi apabila kita berperang melawan mereka di tanah rata, pastilah kita lebih kuat dari pada mereka.”

Ketika manusia maju dalam kebudayaan, dewa-dewa yang lebih rendah ditundukkan kepada suatu tuhan tertinggi; Jove atau Jupiter yang akbar tetap bertahan hanya sebagai seruan “by Jove”. Para penganut monoteis mempertahankan dewa-dewa bawahan mereka sebagai roh-roh, setan, bidadari, nimfa laut, peri, brownie, cebol, banshee, dan mata jahat. Orang Ibrani melewati henoteisme dan lama percaya akan adanya ilah-ilah lain selain Yahweh, tetapi mereka semakin percaya bahwa ilah-ilah asing ini adalah bawahannya Yahweh. Mereka mengakui adanya Kamos (Chemosh), dewa orang Amori, tetapi menyatakan bahwa ia di bawahnya Yahweh.

Ide tentang Yahweh telah mengalami perkembangan yang paling luas dari pada semua teori manusia tentang Tuhan. Evolusi kemajuannya hanya dapat dibandingkan dengan perubahan bentuk konsep Buddha di Asia, yang pada akhirnya membawa pada konsep tentang Absolut Semesta, seperti halnya konsep Yahweh akhirnya membawa kepada ide tentang Bapa Semesta. Tetapi sebagai perkara fakta historis, harus dipahami bahwa, meskipun orang-orang Yahudi mengubah pandangan mereka tentang Tuhan dari ilah kesukuan Gunung Horeb kepada Bapa Pencipta yang pengasih dan penyayang pada masa kemudian, namun mereka tidak mengubah namanya; mereka terus saja sepanjang masa menyebut konsep Ketuhanan yang berkembang ini sebagai Yahweh.

2. Bangsa-bangsa Semit

Orang-orang Semit dari Timur adalah para penunggang kuda yang terorganisir dan terpimpin baik, yang menyerbu wilayah timur lengkungan subur dan di sana bersatu dengan orang-orang Babilonia. Orang Kasdim (Chaldean) dekat Ur adalah yang paling maju dari antara orang Semit timur. Orang Fenisia adalah kelompok Semit campuran yang unggul dan terorganisir baik, yang menguasai bagian barat Palestina, sepanjang pantai Mediterania. Secara ras, bangsa Semit adalah di antara orang-orang Urantia yang paling bercampur, yang mengandung faktor-faktor keturunan dari hampir semua sembilan ras dunia.

Berkali-kali orang-orang Semit Arab berusaha berjuang masuk ke Tanah Perjanjian utara, tanah yang “mengalir dengan susu dan madu,” tetapi tiap kali mereka diusir oleh bangsa Semit utara dan bangsa Het yang lebih terorganisir dan lebih sangat beradab. Kemudian, selama suatu masa kelaparan yang luar biasa parah, orang-orang Badui pengelana ini memasuki Mesir dalam jumlah besar sebagai buruh kontrak pada pekerjaan publik Mesir, namun hanya menemukan diri mereka mengalami pengalaman yang lebih pahit yaitu perbudakan pada kerja keras harian sebagai para buruh biasa dan tertindas di Lembah Nil.

Hanya setelah masa Melkisedek Machiventa dan Abraham, suku-suku tertentu Semit, karena keyakinan agama mereka yang khas, menjadi disebut sebagai anak-anak Israel dan kemudian sebagai Ibrani, Yahudi, dan “bangsa terpilih.” Abraham bukanlah bapak kebangsaan semua orang Ibrani; ia bahkan bukan nenek moyang semua Semit Badui yang tertawan di Mesir. Benar bahwa keturunannya, yang keluar dari Mesir, adalah yang membentuk inti orang-orang Yahudi nantinya, tetapi sebagian besar pria dan wanita yang digabungkan ke dalam marga-marga Israel itu tidak pernah tinggal sebagai orang asing di Mesir. Mereka hanyalah sesama nomaden yang memilih untuk mengikuti pimpinan Musa ketika anak-anak Abraham dan rekan-rekan Semit mereka dari Mesir berkelana melalui Arabia utara.

Ajaran Melkisedek tentang El Elyon, Yang Paling Tinggi, dan perjanjian perkenanan ilahi melalui iman, sebagian besar telah dilupakan pada waktu perbudakan Mesir terhadap orang Semit yang akan segera membentuk negara Ibrani itu. Tetapi sepanjang periode penawanan ini para nomaden Arab ini mempertahankan kepercayaan tradisional yang bertahan lama kepada Yahweh sebagai dewa kebangsaan mereka.

Yahweh disembah oleh lebih dari seratus suku-suku Arab yang berbeda, dan kecuali sedikit pengaruh konsep El Elyon dari Melkisedek yang bertahan di antara kelas-kelas yang lebih berpendidikan dari Mesir, termasuk stok campuran Ibrani dan Mesir, agama rakyat jelata para budak tawanan Ibrani itu adalah versi modifikasi dari ritual lama Yahweh yang terdiri dari sihir dan pengorbanan.

3. Musa yang Tiada Banding

Permulaan evolusi konsep dan ideal Ibrani tentang suatu Pencipta Tertinggi itu berasal dari keberangkatan bangsa Semit dari Mesir di bawah pemimpin, guru, dan organisator besarnya itu, Musa. Ibunya adalah dari keluarga kerajaan Mesir; ayahnya adalah seorang perwira penghubung Semit antara pemerintah dan para tawanan Badui. Musa dengan demikian memiliki kualitas yang berasal dari sumber-sumber rasial yang unggul; leluhurnya begitu sangat bercampur sehingga tidak mungkin untuk menggolongkan dia dalam satu kelompok ras. Seandainya ia bukan dari jenis campuran ini, ia tidak akan pernah dapat menampilkan keserbabisaan dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa yang memungkinkan dia mengelola gerombolan beraneka-ragam, yang akhirnya menjadi berkaitan dengan orang-orang Semit Badui yang melarikan diri dari Mesir ke Gurun Arab di bawah kepemimpinannya.

Meskipun ada godaan dari kebudayaan kerajaan Nil, Musa memilih untuk mempertaruhkan nasibnya dengan bangsa ayahnya. Pada saat sang organisator besar ini merumuskan rencananya untuk membebaskan bangsa ayahnya, para tawanan Badui itu hampir tidak memiliki agama yang layak disebut; mereka hampir tanpa konsep yang benar tentang Tuhan dan tanpa pengharapan di dunia.

Tidak ada pemimpin lain yang pernah berusaha melakukan reformasi dan mengangkat kelompok manusia yang lebih terlantar, putus asa, patah semangat, dan bodoh seperti ini. Tetapi para budak ini membawa berbagai kemungkinan pengembangan yang tersimpan dalam galur keturunan mereka, dan ada dalam jumlah yang cukup para pemimpin terdidik yang telah dilatih oleh Musa untuk membentuk korps pengelola yang efisien, sebagai persiapan untuk hari pemberontakan dan pemogokan untuk kebebasan. Orang-orang yang unggul ini telah dipekerjakan sebagai pengawas pribumi terhadap bangsa mereka; mereka telah menerima beberapa pendidikan karena pengaruhnya Musa terhadap penguasa-penguasa Mesir.

Musa berusaha untuk bernegosiasi secara diplomatis demi kebebasan bangsa Semit sesamanya. Ia dan saudaranya mengadakan suatu persetujuan dengan raja Mesir dimana mereka diberi izin damai untuk meninggalkan lembah sungai Nil menuju Gurun Arabia. Mereka akan menerima pembayaran uang dan barang sekedarnya sebagai kenang-kenangan atas layanan panjang mereka di Mesir. Orang Ibrani pada pihak mereka berjanji untuk menjaga hubungan persahabatan dengan para Firaun dan tidak bergabung dalam aliansi apapun melawan Mesir. Tetapi raja kemudian memutuskan untuk mengingkari perjanjian ini, memberikan alasan bahwa mata-matanya telah menemukan ketidaksetiaan di antara budak-budak Badui. Ia menuduh mereka mencari kebebasan akan pergi ke padang gurun untuk mengatur para suku pengembara agar melawan Mesir.

Tetapi Musa tidak berkecil hati; ia menunggu waktunya, dan dalam waktu kurang dari satu tahun, ketika pasukan militer Mesir sedang disibukkan sepenuhnya melawan serangan gencar bersamaan dari desakan kuat orang Libya dari selatan dan serangan angkatan laut Yunani dari utara, sang organisator pemberani ini memimpin para teman sebangsanya keluar dari Mesir dalam suatu pelarian malam yang spektakuler. Pelarian untuk kebebasan ini direncanakan hati-hati dan dilaksanakan dengan terampil. Mereka berhasil, walaupun mereka dengan penuh semangat dikejar oleh Firaun dan sepasukan kecil Mesir, yang semuanya jatuh menghadapi pertahanan para buronan itu, menyerahkan banyak jarahan, semuanya ditambah oleh jarahan dari kawanan budak yang maju melarikan diri itu sementara mereka berbaris menuju rumah gurun leluhur mereka.

4. Proklamasi tentang Yahweh

Perkembangan dan peningkatan ajaran Musa telah mempengaruhi hampir separuh dari seluruh dunia, dan masih terjadi bahkan di abad kedua puluh. Meskipun Musa memahami filosofi keagamaan Mesir yang lebih maju, budak-budak Badui itu hanya tahu sedikit tentang ajaran-ajaran tersebut, tetapi mereka tidak pernah sepenuhnya melupakan tuhannya Gunung Horeb, yang telah disebut nenek moyang mereka sebagai Yahweh.

Musa telah mendengar tentang ajaran Melkisedek Machiventa dari ayah maupun ibunya, kesamaan keyakinan keagamaan mereka itu menjadi penjelasan bagi persatuan yang tidak biasa antara seorang wanita berdarah kerajaan dan seorang pria dari ras tawanan. Ayah mertua Musa adalah penyembah El Elyon dari suku Keni, tetapi orang tua si pembebas itu percaya El Shaddai. Musa dengan demikian dididik sebagai pengikut El Shaddai; melalui pengaruh dari ayah mertuanya ia menjadi pengikut El Elyon; dan pada saat perkemahan Ibrani sekitar Gunung Sinai setelah pelarian dari Mesir, ia telah merumuskan konsep baru dan diperluas tentang Ketuhanan (yang berasal dari semua keyakinan sebelumnya), yang dengan bijaksana ia putuskan untuk diwartakan kepada rakyatnya sebagai konsep yang diperluas tentang tuhan kesukuan lama mereka, Yahweh.

Musa berusaha untuk mengajari orang-orang Badui ini ide El Elyon, tetapi sebelum meninggalkan Mesir, ia telah menjadi yakin bahwa mereka tidak akan pernah sepenuhnya memahami ajaran ini. Oleh karena itu ia dengan sengaja menentukan suatu adopsi kompromi terhadap ilah suku mereka di padang pasir itu sebagai satu-satunya tuhan untuk para pengikutnya. Secara khusus Musa tidak mengajarkan bahwa orang dan bangsa lain tidak boleh memiliki tuhan lain, tetapi ia dengan tegas mempertahankan bahwa Yahweh adalah lebih dan di atas semuanya, khususnya kepada orang Ibrani. Namun selalu ia terganggu oleh kesulitan janggal ketika mencoba menyajikan idenya tentang Ketuhanan yang baru dan lebih tinggi itu kepada para budak bodoh ini dengan berkedok istilah kuno Yahweh, yang selalu dilambangkan oleh lembu emas oleh suku-suku Badui.

Fakta bahwa Yahweh adalah tuhannya orang Ibrani yang melarikan diri itu menjelaskan mengapa mereka menunggu begitu lama di hadapan gunung suci Sinai, dan mengapa mereka menerima sepuluh perintah yang Musa kabarkan dalam nama Yahweh, tuhan gunung Horeb itu. Selama kunjungan panjang di Sinai ini upacara-upacara keagamaan dari ibadah Ibrani yang baru berkembang itu disempurnakan lebih lanjut.

Sepertinya Musa tidak akan pernah berhasil dalam pembentukan upacara ibadahnya yang agak maju dan dalam menjaga pengikutnya tetap utuh selama seperempat abad, kalau bukan karena letusan kuat Horeb selama minggu ketiga dari kunjungan ibadah mereka di kaki gunung itu. “Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat.” Melihat bencana alam ini tidak mengherankan bahwa Musa bisa mengesankan kepada saudara-saudaranya ajaran bahwa Tuhan mereka adalah “perkasa, mengerikan, api yang menghanguskan, menakutkan, dan mahakuasa.”

Musa menyatakan bahwa Yahweh adalah Tuhan Allah Israel, yang telah mengkhususkan Ibrani sebagai bangsa pilihannya; ia sedang membangun sebuah negara baru, dan ia dengan bijaksana menasionalisasikan ajaran agamanya, mengatakan pada pengikutnya bahwa Yahweh adalah pengawas kerja yang keras, “Allah yang cemburuan.” Namun tetap saja ia berusaha untuk memperluas konsep mereka tentang keilahian ketika ia mengajarkan mereka bahwa Yahweh adalah “Allah dari roh segala makhluk,” dan ketika ia berkata, “Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal.” Musa mengajarkan bahwa Yahweh adalah Tuhan yang menjaga perjanjian, bahwa ia “Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu.”

Musa melakukan upaya heroik untuk mengangkat Yahweh ke martabat Ketuhanan tertinggi ketika ia menyampaikan Yahweh sebagai “Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.” Namun demikian, meskipun ajaran ini tinggi, terbatasnya pemahaman pengikutnya membuat perlunya untuk berbicara tentang Tuhan sebagai berada dalam rupa manusia, seperti mengalami marah, murka, dan keras hati, bahkan ia pendendam dan mudah dipengaruhi oleh perilaku manusia.

Di bawah ajaran Musa ini, ilah alam kesukuan ini, Yahweh, menjadi Tuhan Allah Israel, yang mengikuti mereka melalui padang gurun dan bahkan ke pengasingan, dimana Dia pada saat itu diyakini sebagai Tuhan semua bangsa. Penawanan belakangan yang memperbudak orang-orang Yahudi di Babel itu akhirnya membebaskan konsep Yahweh yang berkembang itu sehingga memegang peran monoteistik sebagai Tuhan semua bangsa.

Fitur yang paling unik dan menakjubkan dari sejarah keagamaan orang Ibrani menyangkut evolusi berkelanjutan konsep Ketuhanan dari dewa primitif Gunung Horeb ini, naik melalui ajaran-ajaran rangkaian pemimpin rohani mereka hingga ke tingkat perkembangan tinggi yang digambarkan dalam doktrin Ketuhanan dari Yesaya, yang menyatakan konsep agung tentang Bapa Pencipta yang pengasih dan penyayang.

5. Ajaran Musa

Musa adalah suatu kombinasi yang luar biasa dari pemimpin militer, organisator sosial, dan guru agama. Dia adalah guru dan pemimpin dunia individual yang paling penting antara masa-masa Machiventa dan Yesus. Musa mencoba untuk memperkenalkan banyak reformasi di Israel yang tidak ada dalam catatan. Dalam rentang kehidupan satu orang ia memimpin gerombolan orang yang menggunakan bermacam-macam bahasa yang disebut orang Ibrani itu keluar dari perbudakan dan pengembaraan tak berbudaya sementara ia meletakkan dasar untuk kelahiran berikutnya sebuah negara dan kelangsungan hidup sebuah bangsa.

Ada begitu sedikit yang tercatat mengenai karya besar Musa karena orang Ibrani tidak memiliki bahasa tertulis pada saat eksodus. Catatan tentang waktu dan perbuatan Musa berasal dari tradisi-tradisi yang masih ada lebih dari seribu tahun setelah kematian pemimpin besar itu.

Banyak kemajuan yang dibuat Musa terhadap dan di atas agama orang Mesir dan suku-suku Timur Tengah sekitarnya adalah disebabkan oleh tradisi-tradisi orang Keni dari masa Melkisedek. Tanpa ajaran Machiventa kepada Abraham dan orang-orang semasanya, orang Ibrani akan keluar dari Mesir dalam kegelapan tanpa harapan. Musa dan ayah mertuanya, Jethro, mengumpulkan sisa-sisa dari tradisi-tradisi zaman Melkisedek, dan ajaran-ajaran ini, digabungkan dengan pembelajaran dari orang Mesir, memandu Musa dalam penciptaan agama dan tatacara yang lebih baik untuk orang Israel. Musa adalah seorang organisator; ia memilih yang terbaik dalam agama dan adat istiadat Mesir dan Palestina, dan dengan mengaitkan praktek-praktek ini dengan tradisi ajaran Melkisedek, menata sistem upacara ibadah Ibrani.

Musa adalah seorang yang percaya Providensia; ia telah menjadi sepenuhnya dicemari oleh doktrin Mesir mengenai pengendalian adikodrati atas sungai Nil dan unsur-unsur alam lainnya. Dia memiliki visi besar tentang Tuhan, tetapi ia benar-benar tulus ketika ia mengajari orang Ibrani bahwa, jika mereka taat kepada Tuhan, “Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu.” Ia bahkan mengatakan: “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan.” “engkau akan memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak akan meminta pinjaman; engkau akan menguasai banyak bangsa, tetapi mereka tidak akan menguasai engkau.”

Namun benar-benar kasihan menyaksikan pikiran besar Musa ini berusaha menyesuaikan konsep luhurnya tentang El Elyon, Yang Paling Tinggi, dengan pemahaman Ibrani yang bodoh dan buta huruf itu. Kepada para pemimpinnya yang berkumpul ia berseru, “Dengarlah, hai orang Israel : TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa”; sementara kepada orang banyak campuran ia menyatakan, “Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN” Musa membuat sikap berani dan setengah berhasil melawan benda keramat dan penyembahan berhala, menyatakan, “Hati-hatilah sekali—sebab kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari TUHAN berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api.” Ia juga melarang pembuatan patung dari jenis apapun.

Musa kuatir mewartakan belas kasihan Yahweh, lebih memilih untuk membuat kagum rakyatnya dengan rasa takut akan keadilan Tuhan, mengatakan : “Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap.” Sekali lagi ia berusaha untuk mengendalikan marga-marga yang bergolak ketika ia menyatakan bahwa “Tuhanmu akan membunuh kalau engkau tidak taat kepada-Nya; Dia menyembuhkan dan memberikan hidup kalau engkau taat kepada-Nya.” Tetapi Musa mengajari suku-suku ini bahwa mereka akan menjadi orang-orang pilihan Tuhan hanya dengan syarat bahwa mereka “berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.”

Hanya sedikit tentang rahmat Tuhan yang diajarkan pada orang Ibrani pada masa-masa awal ini. Mereka belajar Tuhan sebagai "Yang Maha Kuasa; Tuhan adalah pahlawan perang, Allah segala pertempuran, jaya dalam kuasa, yang mencerai-beraikan musuh-musuh-Nya." "Tuhan Allahmu, berjalan di tengah-tengah perkemahan untuk melepaskan engkau." Orang Israel menganggap Tuhan mereka sebagai Tuhan yang mengasihi mereka, tetapi yang juga "yang mengeraskan hati Firaun" dan "yang mengutuki musuh-musuh Israel."

Sementara Musa menyampaikan sekilas-sekilas tentang Tuhan yang semesta dan pemurah kepada anak-anak Israel, secara keseluruhan, konsep Yahweh mereka sehari -hari adalah tentang Tuhan yang sedikit lebih baik daripada para dewa-dewa kesukuan dari bangsa-bangsa sekitarnya. Konsep mereka tentang Tuhan masih primitif, kasar, dan menyerupai manusia; setelah Musa meninggal, suku-suku Badui ini dengan cepat kembali ke ide-ide semibarbar tentang ilah-ilah lama dari Horeb dan padang gurun mereka. Pandangan tentang Tuhan yang diperbesar dan lebih luhur yang Musa setiap kali sampaikan kepada para pemimpinnya itu segera hilang dari pandangan, sementara sebagian besar rakyat beralih ke penyembahan berhala anak lembu emas mereka, simbol penggembala Palestina tentang Yahweh.

Ketika Musa menyerahkan kepemimpinan orang Ibrani kepada Yosua, ia sudah mengumpulkan ribuan keturunan tambahan dari Abraham, Nahor, Lot, dan lainnya dari suku-suku yang berkaitan dan telah mencambuk mereka menjadi sebuah negara prajurit gembala yang mandiri dan setengah mengatur diri sendiri.

6. Konsep Tuhan setelah Kematian Musa

Setelah kematian Musa konsep mulia tentang Yahweh dengan cepat merosot. Yosua dan para pemimpin Israel terus mempertahankan tradisi Musa tentang Tuhan yang mahabijaksana, pemurah, dan mahakuasa, tetapi rakyat biasa dengan cepat kembali ke ide Yahweh padang gurun yang lama. Dan pergeseran mundur konsep Ketuhanan ini terus berlangsung semakin cepat dibawah pemerintahan berturut-turut berbagai syekh kesukuan, yang disebut para Hakim.

Daya pesona dari kepribadian Musa yang luar biasa itu tetap menjaga tetap hidup di hati para pengikutnya ilham tentang konsep Tuhan yang semakin diperluas itu; tetapi begitu mereka mencapai tanah-tanah subur Palestina, mereka dengan cepat berkembang dari penggembala berpindah-pindah menjadi petani menetap dan agak tenang. Dan evolusi dari praktek hidup dan perubahan sudut pandang agama ini menuntut perubahan yang lebih atau kurangnya lengkap dalam karakter konsepsi mereka tentang sifat Tuhan mereka, yaitu Yahweh. Selama masa-masa awal perubahan dari tuhan gurun Sinai yang keras, kasar, menuntut, dan bergemuruh menjadi konsep Tuhan kasih, keadilan, dan belas kasihan yang muncul kemudian, orang Ibrani hampir kehilangan ajaran-ajaran luhur Musa. Mereka nyaris kehilangan semua konsep monoteisme; mereka hampir kehilangan kesempatan mereka untuk menjadi bangsa yang akan berfungsi sebagai mata rantai penting dalam evolusi rohani Urantia, kelompok yang akan melestarikan ajaran Melkisedek tentang satu Tuhan sampai waktu inkarnasi sesosok Putra anugerah yang datang dari Bapa segalanya itu.

Dengan putus asa Yosua berusaha mempertahankan konsep Yahweh tertinggi dalam benak para anggota suku, menyebabkannya diumumkan: “seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Yosua merasa perlu untuk memberitakan berita yang keras kepada orang-orangnya yang tidak percaya, orang-orang yang terlalu mudah untuk percaya agama lama dan asli mereka tetapi tidak mau untuk maju dalam agama iman dan kebenaran. Titik berat ajarannya Yosua menjadi: “Yahweh adalah Allah yang kudus; Dialah Allah yang cemburu; Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.” Konsep tertinggi dari zaman ini menggambarkan Yahweh sebagai “Allah kuasa, penghakiman, dan keadilan.”

Tetapi bahkan dalam zaman yang gelap inipun, dari waktu ke waktu akan ada guru yang sendirian muncul menyatakan konsep ketuhanan Musa: “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus.” “ Mungkinkah seorang manusia benar di hadapan Allah, mungkinkah seseorang tahir di hadapan Penciptanya?” “Dapatkah engkau memahami hakikat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Sesungguhnya, Allah itu besar, tidak tercapai oleh pengetahuan kita. Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami.”

7. Mazmur dan Kitab Ayub

Di bawah kepemimpinan para syekh dan imam mereka, orang Ibrani menjadi secara umum menetap di Palestina. Tapi mereka segera bergeser kembali ke dalam keyakinan kelam dari padang pasir dan menjadi tercemar dengan praktek-praktek keagamaan orang Kanaan yang kurang maju. Mereka menjadi penyembah berhala dan tidak bermoral, dan gagasan mereka tentang Ketuhanan jatuh jauh di bawah konsep Tuhan orang Mesir dan Mesopotamia yang dijaga oleh kelompok-kelompok Salem tertentu yang masih bertahan, dan yang dicatat dalam beberapa Mazmur dan dalam kitab yang disebut Kitab Ayub.

Mazmur adalah karya dua puluh atau lebih penulis; banyak ditulis oleh guru-guru Mesir dan Mesopotamia. Selama masa-masa ini ketika Timur Tengah menyembah dewa-dewa alam, masih ada lumayan banyak orang yang percaya pada supremasi El Elyon, Yang Paling Tinggi.

Tidak ada kumpulan tulisan keagamaan yang mengungkapkan kekayaan ibadah dan ide-ide inspiratif tentang Tuhan seperti Kitab Mazmur. Akan sangat membantu jika, pada waktu mempelajari koleksi indah sastra ibadah ini, pertimbangan dapat diberikan kepada sumber dan kronologi setiap masing-masing nyanyian pujian dan pujaan itu, dengan mengingat bahwa tidak ada koleksi tunggal lainnya yang mencakup rentang waktu yang demikian panjang. Kitab Mazmur ini adalah catatan berbagai konsep yang berbeda-beda tentang Tuhan yang dipercayai oleh orang-orang beriman agama Salem seluruh Timur Tengah dan mencakup seluruh periode dari Amenemope hingga Yesaya. Dalam Mazmur Tuhan digambarkan dalam semua tahap konsepsi, dari ide kasar dari dewa kesukuan sampai ke ideal sangat diperluas dari orang Ibrani yang kemudian, dimana Yahweh digambarkan sebagai penguasa yang penuh kasih dan Bapa yang penyayang.

Dan kalau diperlakukan seperti demikian, kelompok Mazmur ini merupakan bermacam-macam sentimen peribadahan yang paling berharga dan bermanfaat yang pernah dirakit oleh manusia sampai abad kedua puluh. Roh penyembahan dari koleksi himne ini melampaui semua kitab-kitab suci lainnya di dunia.

Gambaran beraneka ragam tentang Deitas yang disajikan dalam Kitab Ayub adalah produk lebih dari dua puluh guru keagamaan Mesopotamia yang mencakup jangka waktu hampir tiga ratus tahun. Ketika kamu membaca konsep luhur keilahian yang ditemukan dalam kompilasi keyakinan-keyakinan Mesopotamia ini, kamu akan menyadari bahwa di lingkungan Ur di Kasdim itulah ide tentang Tuhan yang sebenarnya disimpan dengan baik selama masa-masa kegelapan di Palestina.

Di Palestina kebijaksanaan dan kemahatahuan Tuhan sering dipahami tetapi jarang mengenai kasih dan rahmat-Nya. Yahweh di masa-masa ini dianggap mengirimkan “roh jahat yang dari pada TUHAN” untuk menguasai jiwa musuh-musuhnya; ia memakmurkan anak-anaknya sendiri yang taat, sementara ia mengutuk dan menimpakan penghakiman atas semua orang lain. “ Ia menggagalkan rancangan orang cerdik, sehingga usaha tangan mereka tidak berhasil; Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.”

Hanya di Ur ada suara yang menyerukan rahmat Tuhan, katanya: “Ia berdoa kepada Allah, dan Allah berkenan menerimanya; ia akan memandang wajah-Nya dengan bersorak-sorai, dan Allah mengembalikan kebenaran kepada manusia.” Jadi dari Ur ada diberitakan keselamatan, perkenanan ilahi, oleh iman: “maka Ia akan mengasihaninya dengan berfirman: Lepaskan dia, supaya jangan ia turun ke liang kubur; uang tebusan telah Kuperoleh. Aku telah berbuat dosa, dan yang lurus telah kubengkokkan, tetapi hal itu tidak dibalaskan kepadaku. Ia telah membebaskan nyawaku dari jalan ke liang kubur, dan hidupku akan melihat terang.” Belum pernah sejak zaman Melkisedek dunia Timur Tengah mendengar dering dan sorak-sorai pesan keselamatan manusia seperti ajaran luar biasa dari Elihu, nabi dari Ur dan imam orang-orang percaya Salem, yang adalah sisa dari koloni Melkisedek yang pernah ada di Mesopotamia.

Demikianlah sisa-sisa para misionaris Salem di Mesopotamia menjaga cahaya kebenaran selama periode tercerai-berainya bangsa Ibrani sampai penampilan pertama dari garis panjang guru-guru Israel yang tidak pernah berhenti sementara mereka membangun, konsep demi konsep, sampai mereka telah mencapai kesadaran tentang ideal mengenai Bapa Semesta dan Pencipta dari segalanya, puncak dari evolusi konsep Yahweh.

[Disampaikan oleh sesosok Melkisedek dari Nebadon.]

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved