Makalah 75: Kegagalan Adam dan Hawa

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 75

Kegagalan Adam dan Hawa

SETELAH lebih dari seratus tahun berupaya di Urantia, Adam hanya dapat melihat sangat sedikit kemajuan di luar Taman; dunia sebagian besar tampaknya tidak banyak membaik. Realisasi perbaikan ras tampaknya menjadi jalan yang masih jauh, dan situasi tampak begitu putus asa sehingga menuntut sesuatu untuk bantuan yang tidak tercakup dalam rencana yang semula. Setidaknya itulah yang sering terlintas dalam benak Adam, dan seperti itu ia ungkapkan berkali-kali kepada Hawa. Adam dan pasangannya itu setia, tetapi mereka terasing dari sesama mereka, dan mereka sangat tertekan oleh penderitaan menyedihkan dunia mereka.

1. Masalah Urantia

Misi Adam di Urantia yang eksperimental, terbakar pemberontakan, dan terisolasi itu adalah usaha yang memang berat. Putra dan Putri Material sejak awal menyadari akan kesulitan dan kerumitan penugasan planet mereka. Meskipun demikian, mereka dengan bersemangat mengatur tugas untuk memecahkan macam-macam masalah mereka. Namun ketika mereka menujukan perhatian mereka pada pekerjaan maha penting untuk menghilangkan yang cacat dan bobrok dari galur (strain) manusia, mereka cukup kecewa. Mereka tidak bisa melihat jalan keluar dari dilema itu, dan mereka tidak bisa berkonsultasi dengan para atasan mereka baik di Yerusem ataupun Edentia. Di sinilah mereka berada, terasing dan hari demi hari dihadapkan dengan kekusutan baru dan rumit, beberapa masalah yang tampaknya tak terpecahkan.

Di bawah kondisi-kondisi normal karya pertama dari Adam dan Hawa Planet adalah untuk koordinasi dan pembauran ras. Tetapi di Urantia proyek semacam itu tampaknya tanpa harapan saja, karena ras-ras, meskipun secara biologis layak, namun belum pernah dibersihkan dari galur-galur mereka yang mundur dan cacat.

Adam dan Hawa menemukan diri mereka di sebuah dunia yang sepenuhnya tidak disiapkan untuk proklamasi persaudaraan manusia, dunia yang masih meraba-raba sekeliling dalam sengsara kegelapan rohani dan dikutuk oleh kekacauan yang lebih buruk dari kegagalan misi pemerintahan sebelumnya. Pikiran dan moral berada pada tingkatan rendah, dan bukannya memulai tugas untuk menciptakan kesatuan beragama, mereka harus mulai lagi dari awal semua pekerjaan agar penduduk bumi menganut bentuk keyakinan agama yang paling sederhana. Alih-alih menemukan satu bahasa yang siap untuk dipakai, mereka dihadang oleh kebingungan adanya beratus-ratus dialek lokal di seluruh dunia. Tidak ada Adam untuk layanan planet yang pernah ditaruh di dunia yang lebih sulit; hambatan-hambatan tampak tak teratasi dan masalah-masalah melebihi jawaban makhluk.

Mereka terasing, dan rasa kesepian luar biasa yang menimpa mereka semakin ditambah lagi oleh kepergian sejak dini para penyelamat Melkisedek. Hanya secara tidak langsung, dengan sarana ordo-ordo malaikat, mereka bisa berkomunikasi dengan sosok lain di luar planet ini. Perlahan semangat mereka melemah, jiwa mereka terasa berat, dan kadang-kadang keyakinan mereka hampir goyah.

Beginilah gambaran sebenarnya tentang kegalauan dua jiwa mulia ini saat mereka merenungkan tugas yang mereka hadapi. Mereka berdua sangat menyadari pekerjaan besar yang tercakup dalam pelaksanaan tugas keplanetan mereka.

Mungkin tidak ada Putra Material Nebadon yang pernah dihadapkan dengan tugas yang demikian sulit dan tampaknya sia-sia seperti yang dihadapi Adam dan Hawa dalam penderitaan menyedihkan Urantia. Namun mereka suatu kali akan bertemu dengan keberhasilan seandainya saja mereka lebih berpandangan jauh ke depan dan sabar. Keduanya, terutama Hawa, sama sekali tidak sabar; mereka tidak mau menjadi tenang pada uji ketahanan yang begitu lama itu. Mereka ingin melihat suatu hasil yang langsung, dan mereka mendapatnya, tetapi hasil yang diperoleh seperti itu terbukti paling mencelakakan pada diri mereka sendiri maupun pada dunia mereka.

2. Rencana Jahat Kaligastia

Kaligastia sering berkunjung ke Taman dan mengadakan banyak pertemuan dengan Adam dan Hawa, tetapi mereka kukuh tidak menyerah terhadap semua saran untuk berkompromi dan petualangan jalan pintas. Mereka telah cukup menyaksikan di hadapan mereka hasil-hasil pemberontakan, yang menyebabkan kekebalan efektif terhadap semua usulan yang licik seperti itu. Bahkan anak-anak Adam yang muda tidak terpengaruh oleh tawaran-tawaran dari Daligastia. Tentu saja Kaligastia maupun rekannya itu tidak memiliki kuasa untuk mempengaruhi seseorang agar melawan kehendak orang itu, apalagi membujuk anak-anak Adam agar berbuat salah.

Perlu diingat bahwa Kaligastia masih menjabat Pangeran Planet Urantia secara tituler (gelar saja), Putra yang tersesat tetapi bagaimanapun pula ia Putra tinggi dari alam semesta lokal. Dia barulah pada akhirnya dipecat pada masa-masa Mikhael Kristus di Urantia.

Namun Pangeran yang jatuh ini gigih dan tekun. Ia segera berhenti membujuk Adam dan memutuskan untuk mencoba serangan sayap yang cerdik terhadap Hawa. Si jahat ini menyimpulkan bahwa satu-satunya harapan untuk berhasil terletak pada pemanfaatan pintar orang-orang yang sesuai yang termasuk strata atas dari kelompok Nodit, keturunan dari yang dulu adalah rekan-rekan staf-jasmaninya. Maka dibuatlah rencana untuk menjebak ibu ras ungu ini.

Jauh dari niat Hawa untuk melakukan apapun yang akan bertentangan dengan rencana Adam atau membahayakan amanah keplanetan mereka. Mengetahui kecenderungan wanita untuk mencari hasil langsung daripada merencanakan jangka panjang untuk hasil yang lebih jauh, maka para Melkisedek, sebelum berangkat, telah secara khusus menegaskan pada Hawa mengenai bahaya tertentu yang mengancam posisi mereka yang terisolasi di planet ini dan telah secara khusus memperingatkan dia untuk tidak pernah menjauh dari sisi pasangannya, yaitu, agar tidak mencoba metode pribadi atau rahasia untuk melanjutkan usaha bersama mereka. Hawa dengan paling hati-hati melaksanakan instruksi ini selama lebih dari seratus tahun, dan tidaklah tampak kepadanya bahwa akan ada bahaya yang melekat pada pertemuan-pertemuan yang semakin pribadi dan rahasia yang ia nikmati bersama dengan pemimpin orang Nodit tertentu bernama Serapatatia. Seluruh hubungan gelap itu berkembang secara begitu bertahap dan alami sehingga Hawa terbawa tanpa ia sadari.

Penghuni Taman telah berhubungan dengan orang Nodit sejak masa-masa awal Eden. Dari keturunan campuran anggota dari staf Kaligastia yang gagal itu mereka telah menerima banyak bantuan dan kerjasama yang berharga, dan melalui merekalah pula rezim Eden ini kini akan menemui kehancuran lengkap dan keruntuhan akhirnya.

3. Pencobaan Hawa

Adam baru saja merampungkan seratus tahun pertamanya di bumi saat Serapatatia, setelah kematian ayahnya, menjadi pimpinan konfederasi barat atau Syria untuk suku-suku Nodit. Serapatatia adalah seorang pria berwarna coklat, seorang keturunan yang cemerlang dari mantan kepala komisi kesehatan Dalamatia yang kawin dengan salah seorang perempuan cerdas dari ras biru pada masa lalu yang jauh itu. Selama berabad-abad garis keturunan ini telah memegang kekuasaan dan mempunyai pengaruh besar di kalangan suku-suku Nodit bagian barat.

Serapatatia telah membuat beberapa kunjungan ke taman dan menjadi sangat terkesan oleh benarnya tujuan Adam. Tak lama setelah menjabat pimpinan Nodit Syria, ia mengumumkan niatnya untuk membentuk suatu afiliasi dengan pekerjaan Adam dan Hawa di Taman. Mayoritas rakyatnya bergabung dalam program ini, dan Adam amat gembira oleh berita bahwa yang paling kuat dan paling cerdas dari semua suku tetangga telah hampir seutuhnya mendukung program untuk perbaikan dunia; hal itu jelas membesarkan hati. Dan tak lama setelah peristiwa besar ini, Serapatatia dan staf barunya dijamu oleh Adam dan Hawa dalam rumah mereka sendiri.

Serapatatia menjadi salah seorang yang paling cakap dan efisien dari semua perwiranya Adam. Dia sepenuhnya jujur dan benar-benar tulus dalam semua kegiatannya; ia tidak pernah sadar, bahkan di kemudian hari, bahwa ia sedang digunakan sebagai alat tak langsung oleh si licik Kaligastia.

Segera, Serapatatia menjadi rekan ketua komisi Eden untuk hubungan kesukuan, dan banyak rencana yang dibuat untuk pelaksanaan lebih kuat pekerjaan memenangkan suku-suku yang jauh untuk ikut tujuan Taman.

Ia mengadakan banyak pertemuan dengan Adam dan Hawa—khususnya dengan Hawa—dan mereka membicarakan banyak rencana untuk meningkatkan metode mereka. Suatu hari, saat berbicara dengan Hawa, terpikir oleh Serapatatia bahwa akan sangat membantu jika, sambil menunggu perekrutan sejumlah besar ras ungu, ada sesuatu yang sementara itu dapat dilakukan yang segera dapat memajukan suku-suku yang membutuhkan. Serapatatia berpendapat bahwa, jika bangsa Nodit, sebagai ras yang paling progresif dan kooperatif, bisa memiliki pemimpin yang lahir untuk mereka sebagian berasal dari darah ungu, maka hal itu akan merupakan pertalian yang kuat untuk mengikat bangsa-bangsa ini lebih dekat ke Taman. Dan semua ini dengan tenang dan jujur dipertimbangkan demi kebaikan dunia, karena anak ini nanti, yang dipelihara dan dididik di Taman, akan memberikan pengaruh baik yang besar atas bangsa ayahnya.

Harus kembali ditekankan bahwa Serapatatia itu sama sekali jujur dan sepenuhnya tulus dalam semua yang ia usulkan. Ia tidak pernah menduga sekalipun bahwa ia sedang bermain ke dalam pengaruh Kaligastia dan Daligastia. Serapatatia sepenuhnya setia untuk rencana membangun cadangan ras ungu yang kuat sebelum mencobakan peningkatan seluruh dunia terhadap bangsa-bangsa Urantia yang kacau itu. Tetapi hal ini akan memerlukan ratusan tahun untuk mencapainya, dan ia tidak sabar; ia ingin melihat beberapa hasil segera—sesuatu dalam masa hidupnya. Ia menjelaskan kepada Hawa bahwa Adam seringkali dikecewakan oleh sedikitnya apa yang telah dicapai menuju peningkatan dunia.

Selama lebih dari lima tahun rencana ini secara diam-diam dimatangkan. Akhirnya mereka telah berkembang ke titik dimana Hawa setuju untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan Kano, tokoh paling cemerlang dan aktif pemimpin dari koloni Nodit bersahabat yang berdekatan. Kano sangat simpatik dengan rezim Adam; bahkan, ia adalah pemimpin rohani yang tulus untuk kaum Nodit yang bertetangga tersebut yang menyukai hubungan persahabatan dengan Taman.

Pertemuan naas itu terjadi selama jam-jam senja di malam musim gugur, tidak jauh dari rumah Adam. Hawa sebelumnya belum pernah bertemu dengan Kano yang tampan dan antusias itu—dan ia adalah spesimen hebat dari fisik unggul dan kecerdasan menonjol yang masih bertahan dari nenek moyangnya yaitu para staf Pangeran. Kano juga benar-benar percaya tentang benarnya proyek Serapatatia itu. (Di luar Taman, kawin dengan banyak pasangan adalah praktek yang biasa).

Dipengaruhi oleh sanjungan, antusiasme, dan bujukan pribadi yang besar, Hawa saat itu dan di sana setuju untuk menempuh rencana yang telah banyak dibahas tersebut, untuk menambahkan skema kecilnya sendiri untuk menyelamatkan dunia menuju pada rencana ilahi yang lebih besar dan lebih jauh. Sebelum dia menyadari betul apa yang sedang terjadi, langkah fatal telah diambil. Hal itu dilakukan.

4. Realisasi Kegagalan

Kehidupan selestial di planet bergolak. Adam menyadari bahwa ada yang salah, dan ia meminta Hawa untuk datang bersamanya di Taman. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, Adam mendengar seluruh cerita tentang rencana yang dibina panjang untuk mempercepat perbaikan dunia dengan bekerja secara bersamaan dalam dua arah: pelaksanaan rencana ilahi bersamaan dengan pelaksanaan usaha Serapatatia.

Ketika Putra dan Putri Material bertemu di Taman diterangi cahaya bulan itulah, “suara di Taman” menegur mereka karena ketidak-taatan. Suara itu tak lain adalah pernyataanku sendiri pada pasangan Eden bahwa mereka telah melanggar perjanjian Taman; bahwa mereka tidak mentaati instruksi dari Melkisedek; bahwa mereka telah gagal dalam pelaksanaan sumpah kepercayaan mereka kepada penguasa alam semesta.

Hawa telah setuju untuk ikut serta dalam praktek baik dan jahat. Baik adalah melaksanakan rencana ilahi; dosa adalah pelanggaran yang disengaja atas kehendak ilahi; kejahatan adalah salah-penyesuaian rencana dan salah-pengaturan teknik yang mengakibatkan ketidak-harmonisan alam semesta dan kekacauan planet.

Setiap kali pasangan Taman itu makan dari buah pohon kehidupan, mereka telah diperingatkan oleh penghulu malaikat penjaganya diri agar tidak menyerah terhadap saran-saran Kaligastia untuk menggabungkan yang baik dan yang jahat. Mereka telah dinasihati: “Pada hari kamu mencampurkan yang baik dan yang jahat, kamu pasti akan menjadi seperti manusia biasa dari alam; kamu pasti akan mati.”

Hawa telah memberitahu Kano tentang peringatan yang sudah berulang kali ini pada kesempatan naas pertemuan rahasia mereka, tetapi Kano, karena tidak mengetahui pentingnya peringatan tersebut, telah meyakinkan Hawa bahwa pria dan wanita dengan motif yang baik dan niat yang benar tidak bisa melakukan kejahatan; bahwa ia pasti tidak akan mati melainkan hidup lagi dalam diri keturunan mereka, yang akan tumbuh besar untuk memberkati dan menstabilkan dunia.

Meskipun proyek untuk memodifikasi rencana ilahi ini telah dirancang dan dilaksanakan dengan seluruh ketulusan dan hanya dengan motif tertinggi mengenai kesejahteraan dunia, namun hal ini adalah jahat karena merupakan cara yang salah untuk mencapai tujuan yang benar, karena hal itu menyimpang dari cara yang benar, rencana ilahi.

Benar, Hawa telah mendapati bahwa Kano menyenangkan untuk dilihat, dan ia menyadari semua yang dijanjikan oleh perayunya itu dengan cara “pengetahuan baru dan meningkat terhadap urusan manusia dan pemahaman dipercepat tentang kodrat manusia sebagai tambahan pada pemahaman kodrat Adam.”

Aku berbicara dengan ayah dan ibu ras ungu malam itu di Taman sebagai kewajibanku dalam keadaan duka itu. Aku mendengarkan sepenuhnya kisah semua yang membawa pada kegagalan Ibu Hawa dan memberi mereka berdua saran dan nasihat mengenai situasi yang terjadi saat itu. Beberapa saran ini mereka ikuti; beberapa lagi mereka abaikan. Pertemuan ini muncul dalam catatanmu sebagai “Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: 'Di manakah engkau?'” Adalah kebiasaan generasi selanjutnya untuk mengaitkan segala sesuatu yang tidak biasa dan luar biasa, baik yang alami maupun yang rohani, secara langsung sebagai campur tangan pribadi dari Tuhan.

5. Dampak Kegagalan

Terbukanya mata Hawa benar-benar menyedihkan. Adam melihat seluruh situasi dan, meskipun patah hati dan sedih, ia memikirkan hanya rasa kasihan dan simpati bagi pasangannya yang bersalah itu.

Karena keputus-asaan terhadap kenyataan kegagalan itulah maka Adam, sehari setelah salah langkahnya Hawa, Adam mengambil Laotta, wanita Nodit brilian yang adalah kepala sekolah-sekolah barat di Taman, dan dengan sengaja melakukan kebodohan yang sama dengan Hawa. Tetapi jangan salah paham; Adam tidak terpedaya, ia tahu persis apa jadinya ia; ia dengan sengaja memilih untuk berbagi nasib dengan Hawa. Dia mengasihi pasangannya dengan kasih sayang supramanusia, dan ia berpikir bahwa ia tidak akan tahan kemungkinan kesepian di Urantia tanpa Hawa.

Ketika mereka tahu apa yang terjadi kepada Hawa, penduduk Taman yang murka menjadi tidak terkendali; mereka menyatakan perang pada pemukiman Nodit yang berdekatan. Mereka menyapu keluar melalui gerbang-gerbang Eden dan menyerbu orang-orang yang tidak siap ini, benar-benar menghabisi mereka—sehingga tidak ada pria, wanita, atau anak yang tersisa. Kano, ayah dari Kain yang belum lahir itu, juga tewas.

Setelah menyadari apa yang telah terjadi, Serapatatia dikuasai oleh kekuatiran dan hilang ingatan karena ketakutan serta penyesalan. Hari berikutnya ia menenggelamkan dirinya di sungai besar.

Anak-anak Adam berusaha menghibur ibu mereka yang bingung sementara ayah mereka berkelana dalam sendiri selama tiga puluh hari. Pada akhirnya akal sehat muncul sendiri, dan Adam kembali ke rumahnya dan mulai merancang arah tindakan mereka di masa depan.

Akibat-akibat dari kebodohan orang tua yang salah jalan itu begitu sering ditanggung bersama oleh anak-anak mereka yang tak bersalah. Anak-anak lelaki dan perempuan Adam dan Hawa yang benar dan mulia itu dicekam oleh duka yang tidak bisa dijelaskan mengenai tragedi tak bisa dipercaya yang telah begitu tiba-tiba dan begitu kejam menimpa mereka. Dalam waktu lima puluh tahun anak-anak yang lebih tua masih juga belum pulih dari duka dan kesedihan hari-hari yang tragis itu, khususnya teror waktu tiga puluh hari itu ketika ayah mereka tidak ada di rumah sementara ibu mereka yang bingung sama sekali tidak tahu dimana keberadaan atau nasibnya.

Bagi Hawa, waktu tiga puluh hari yang sama itu adalah seperti kesedihan dan penderitaan panjang bertahun-tahun. Tidak pernah lagi jiwa yang agung ini sepenuhnya pulih dari efek-efek periode penderitaan mental dan kesedihan rohani yang begitu menyiksa ini. Dalam ingatan Hawa, tidak ada kekurangan dan kesulitan jasmani mereka berikutnya bisa dibandingkan dengan hari-hari dan malam-malam mengerikan karena kesepian dan ketidak-pastian yang tak tertahankan itu. Ia mendengar tentang tindakan gegabah Serapatatia itu dan tidak tahu apakah pasangannya dalam kesedihan telah bunuh diri atau telah dipindahkan dari dunia sebagai pembalasan atas kesalahannya. Ketika Adam kembali, Hawa mengalami kepuasan sukacita dan rasa syukur yang tidak pernah terhapus oleh jerih lelah hidup kemitraan mereka yang lama dan sulit itu.

Waktu berlalu, tetapi Adam tidak yakin pasti tentang sifat pelanggaran mereka sampai tujuh puluh hari setelah kegagalan Hawa, ketika para penyelamat Melkisedek kembali ke Urantia dan mengambil kewenangan atas urusan-urusan dunia. Maka kemudian ia tahu bahwa mereka telah gagal.

Namun demikian masih ada masalah yang datang: Kabar tentang pemusnahan pemukiman Nodit dekat Eden itu tidak lambat mencapai suku-suku kampung halaman Serapatatia di utara, dan segera sejumlah besar kawanan berkumpul untuk berbaris menuju Taman. Maka ini adalah awal dari sebuah perang panjang dan sengit antara Adamit dan Nodit, karena permusuhan ini berlangsung terus lama setelah Adam dan pengikutnya hijrah ke taman kedua di lembah Efrat. Ada “permusuhan antara laki-laki itu dan perempuan itu, antara keturunan laki-laki itu dan keturunan perempuan itu,” permusuhan yang hebat dan bertahan lama.

6. Adam dan Hawa Meninggalkan Taman

Ketika Adam mengetahui bahwa bangsa Nodit sedang berbaris, ia mencari nasihat dari para Melkisedek, tetapi mereka menolak untuk memberi nasihat kepadanya, hanya menyuruhnya untuk melakukan apa yang dia pikir terbaik dan menjanjikan kerjasama bersahabat dari mereka, sejauh mungkin, dalam arah apapun yang ia mungkin putuskan. Para Melkisedek telah dilarang ikut campur dengan rencana pribadi Adam dan Hawa.

Adam tahu bahwa ia dan Hawa telah gagal; kehadiran para penyelamat Melkisedek itu memberitahukan kepadanya hal itu, meskipun ia masih belum tahu apapun mengenai status pribadi atau nasib masa depan mereka. Dia mengadakan suatu pertemuan sepanjang malam dengan sekitar seribu dua ratus pengikut setia yang mengikrarkan diri untuk mengikuti pemimpin mereka, dan hari berikutnya pada siang hari para musafir ini berangkat dari Eden untuk mencari rumah yang baru. Adam tak berkeinginan untuk berperang dan karenanya memilih untuk meninggalkan taman pertama kepada orang Nodit tanpa perlawanan.

Kafilah Eden itu dihentikan pada hari ketiga keluar dari Taman oleh kedatangan serafik transportasi dari Yerusem. Dan untuk pertama kalinya Adam dan Hawa diberitahu tentang nasib anak-anak mereka. Sementara para malaikat pengangkut itu menunggu, anak-anak yang telah tiba pada usia pilihan (dua puluh tahun) diberi pilihan untuk tetap tinggal di Urantia dengan orang tua mereka atau menjadi anak asuh Yang Paling Tinggi Norlatiadek. Dua pertiga memilih untuk pergi ke Edentia; sekitar sepertiga memilih untuk tetap dengan para orang tua mereka. Semua anak-anak usia pra-pilihan dibawa ke Edentia. Tidak ada yang bisa menyaksikan perpisahan sedih Putra dan Putri Material ini dan anak-anak mereka tanpa menyadari bahwa jalan pelanggar itu sulit. Keturunan Adam dan Hawa ini sekarang ada di Edentia; kami tidak tahu disposisi apa yang akan dibuat tentang mereka.

Maka kafilah yang sedih, amat sedih itu, bersiap-siap untuk terus berjalan. Apakah ada lagi yang lebih tragis! Datang ke dunia dengan harapan yang demikian tinggi, telah diterima dengan penuh harapan, dan kemudian pergi dalam kehinaan dari Eden, masih kehilangan lebih dari tiga perempat anak-anak mereka bahkan sebelum menemukan tempat tinggal yang baru!

7. Penurunan Derajat Adam dan Hawa

Sementara kafilah Eden ini dihentikan, Adam dan Hawa diberitahu tentang seperti apa pelanggaran mereka dan diberi nasihat mengenai nasib mereka. Gabriel muncul untuk mengumumkan penghakiman. Dan ini adalah putusannya: Adam dan Hawa Planet Urantia dihakimi sebagai gagal; mereka telah melanggar perjanjian perwalian mereka sebagai penguasa untuk dunia yang dihuni ini.

Meskipun tertunduk oleh rasa bersalah, Adam dan Hawa sangat disenangkan oleh pengumuman bahwa hakim-hakim mereka di Salvington telah membebaskan mereka dari segala tuduhan tentang “penghinaan terhadap pemerintah alam semesta.” Mereka tidak dianggap bersalah karena pemberontakan.

Pasangan Eden ini diberitahu bahwa mereka telah menurunkan derajat diri mereka ke status manusia fana biasa; bahwa mereka selanjutnya harus bertindak sendiri sebagai pria dan wanita Urantia, melihat ke masa depan ras dunia untuk masa depan mereka.

Jauh sebelum Adam dan Hawa meninggalkan Yerusem, para instruktur mereka telah sepenuhnya menjelaskan kepada mereka konsekuensi dari setiap penyimpangan pokok dari rencana ilahi. Aku secara pribadi dan berulang kali telah memperingatkan mereka, baik sebelum maupun setelah mereka tiba di Urantia, bahwa penurunan ke status daging fana akan menjadi hasil yang pasti, hukuman yang pasti, yang akan benar-benar menyertai kegagalan dalam pelaksanaan misi keplanetan mereka. Namun suatu pemahaman tentang status kebakaan dari ordo keputraan material itu penting untuk pemahaman yang jelas tentang akibat-akibat yang menyertai kegagalan Adam dan Hawa.

1. Adam dan Hawa, seperti rekan-rekan sesama mereka di Yerusem, menjaga status tidak-matinya (baka) melalui hubungan intelektual dengan sirkuit gravitasi-batin dari Roh. Ketika dukungan vital ini terputus oleh keterpisahan mental, maka, terlepas dari tingkat rohani keberadaan makhluk itu, status kebakaannya itu hilang. Status manusia fana yang diikuti oleh kehancuran fisik adalah akibat tak terelakkan untuk kegagalan intelektual Adam dan Hawa.

2. Putra dan Putri Material Urantia, karena juga dipersonalisasi dalam keserupaan dengan daging fana di dunia ini, lebih jauh menjadi bergantung pada pemeliharaan sistem peredaran rangkap dua, yang satu berasal dari kodrat fisik mereka, yang lainnya dari energi super yang tersimpan dalam buah dari pohon kehidupan. Senantiasa penghulu-malaikat penjaga pohon itu mewanti-wanti Adam dan Hawa bahwa kegagalan mengemban kepercayaan akan berujung pada penurunan status, dan akses ke sumber energi ini tidak diperbolehkan lagi setelah kegagalan mereka.

Kaligastia memang berhasil menjebak Adam dan Hawa, namun ia tidak mencapai tujuannya untuk membawa mereka masuk ke pemberontakan terbuka melawan pemerintahan alam semesta. Apa yang mereka lakukan itu memang kejahatan, tetapi mereka tidak pernah bersalah melecehkan kebenaran, mereka juga tidak secara sengaja mendaftar dalam pemberontakan melawan kekuasaan benar dari Bapa Semesta dan Putra Pencipta-Nya.

8. Apa Yang Disebut Kejatuhan Manusia

Adam dan Hawa memang jatuh dari kedudukan tinggi mereka dari keputraan material turun ke status rendah manusia fana. Tetapi hal itu bukanlah kejatuhan manusia. Umat manusia telah diangkat meskipun terkena langsung dampak kegagalan Adam. Meskipun rencana ilahi memberikan ras ungu kepada bangsa-bangsa Urantia tidak dilaksanakan dengan benar, ras-ras manusia telah diuntungkan sangat besar oleh sumbangan terbatas yang dibuat Adam dan keturunannya kepada ras-ras Urantia.

Tidak ada yang disebut “kejatuhan manusia.” Sejarah umat manusia adalah suatu sejarah evolusi progresif, dan anugerah Adam membuat bangsa-bangsa dunia amat diperbaiki di atas kondisi biologis mereka yang sebelumnya. Stok-stok yang lebih unggul di Urantia sekarang mengandung faktor-faktor pewarisan yang berasal dari sebanyak empat sumber terpisah: keturunan Andon, Sangik, Nod, dan Adam.

Adam jangan dianggap sebagai penyebab kutukan atas bangsa manusia. Meskipun ia memang gagal dalam melaksanakan rencana ilahi, walaupun ia memang melanggar perjanjiannya dengan Deitas, sekalipun ia dan pasangannya dengan pasti diturunkan ke status makhluk, namun demikian, kontribusi mereka pada umat manusia telah berbuat banyak untuk memajukan peradaban di Urantia.

Ketika menaksir hasil dari misi Adam pada duniamu, keadilan menuntut pengakuan tentang kondisi planet. Adam diperhadapkan pada tugas yang hampir-hampir tanpa harapan ketika ia, bersama pasangannya yang jelita itu, diangkut dari Yerusem ke planet yang gelap dan kacau ini. Tetapi seandainya saja mereka dituntun oleh nasihat dari para Melkisedek dan rekan-rekan mereka, dan seandainya saja mereka lebih sabar, mereka tentulah pada akhirnya bertemu dengan keberhasilan. Namun Hawa mendengarkan propaganda berbahaya tentang kemerdekaan pribadi dan kebebasan bertindak di planet. Dia terbawa untuk mencoba-coba dengan plasma kehidupan dari ordo keputraan material dalam hal ia membiarkan amanah kehidupan ini secara dini bercampur dengan plasma kehidupan dari seorang keturunan Nod, golongan campuran dari desain asli Pembawa Kehidupan, yang sebelumnya telah dikombinasikan dengan makhluk bereproduksi yang pernah diperbantukan pada staf Pangeran Planet itu.

Tidak akan pernah, dalam semua kenaikanmu ke Firdaus, kamu akan mendapatkan apapun dengan cara tidak sabar mencoba untuk memotong rencana yang ditetapkan dan ilahi melalui jalan pintas, penemuan pribadi, atau sarana-sarana lain untuk perbaikan di jalan kesempurnaan, menuju kesempurnaan, dan untuk kesempurnaan kekal.

Akhirnya dalam semuanya, mungkin tidak pernah ada penyalahgunaan kebijaksanaan yang lebih menyedihkan di planet manapun di seluruh Nebadon. Namun tidak mengherankan bahwa kesalahan-kesalahan langkah ini terjadi dalam urusan alam-alam semesta yang berevolusi. Kita adalah bagian dari kreasi yang mahabesar, dan tidak aneh bahwa segala sesuatu tidak bekerja secara sempurna; alam semesta kita tidak diciptakan dalam kesempurnaan. Kesempurnaan adalah tujuan kekal kita, bukan asal usul kita.

Jika saja alam semesta ini adalah alam semesta yang mekanistis, jika Sumber dan Pusat Besar Pertama hanyalah suatu daya kekuatan saja dan bukan pula suatu kepribadian, jika semua ciptaan adalah kumpulan besar materi fisik yang didominasi oleh hukum presisi yang dicirikan oleh aksi-aksi energi yang tak berubah-ubah, maka mungkin kemudian kesempurnaan itu diperoleh, bahkan meskipun status alam semesta tidak lengkap. Tidak akan ada perselisihan; maka tidak akan ada gesekan. Namun dalam alam semesta kita yang berkembang ini, yang terdiri dari kesempurnaan dan ketidak-sempurnaan relatif, kita bersukacita bahwa perselisihan dan kesalahpahaman itu mungkin, karena dengan demikian dibuktikan adanya fakta dan aksi kepribadian dalam alam semesta. Dan jika penciptaan kita adalah suatu eksistensi yang didominasi oleh kepribadian, maka dapatlah kamu yakin akan adanya peluang untuk kelangsungan, kemajuan, dan prestasi kepribadian; kita dapat yakin akan adanya pertumbuhan, pengalaman, dan petualangan kepribadian. Alangkah megahnya alam semesta, karena alam itu bersifat pribadi dan progresif, bukan hanya bersifat mekanis atau bahkan sempurna secara pasif!

[Disampaikan oleh Solonia, malaikat “suara di Taman.”]

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved