Makalah 76: Taman yang Kedua

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 76

Taman yang Kedua

KETIKA Adam memilih untuk meninggalkan taman pertama untuk orang Nod tanpa perlawanan, ia dan pengikutnya tidak bisa pergi ke barat, karena orang Eden tidak memiliki kapal yang sesuai untuk petualangan laut demikian. Mereka tidak bisa pergi ke utara; orang-orang Nodit utara sudah berbaris menuju Eden. Mereka takut pergi ke selatan; perbukitan di wilayah itu diduduki suku-suku yang bermusuhan. Satu-satunya jalan yang terbuka adalah ke timur, sehingga mereka berangkat ke arah timur menuju daerah yang saat itu nyaman antara sungai Tigris dan Efrat. Dan banyak dari mereka yang ditinggalkan kemudian berangkat ke arah timur untuk bergabung dengan orang-orang Adamit di rumah lembah baru mereka itu.

Kain dan Sansa keduanya lahir sebelum kafilah Adam mencapai tujuannya di antara kedua sungai di Mesopotamia itu. Laotta, ibu Sansa, tewas pada saat kelahiran putrinya; Hawa sangat menderita tetapi selamat, karena kekuatan yang lebih unggul. Hawa mengambil Sansa, anak Laotta itu, ke pangkuannya, dan ia dibesarkan bersama dengan Kain. Sansa tumbuh menjadi seorang wanita berkemampuan besar. Ia menjadi istri Sargan, kepala ras biru utara, dan berkontribusi untuk kemajuan orang-orang ras biru pada masa-masa itu.

1. Kaum Edenit Memasuki Mesopotamia

Diperlukan hampir satu tahun penuh bagi kafilah Adam untuk mencapai Sungai Efrat. Karena menemukannya dalam banjir pasang, mereka tetap berkemah di dataran barat sungai hampir enam minggu sebelum mereka menyeberang ke tanah di antara sungai-sungai yang akan menjadi taman kedua itu.

Ketika berita mencapai para penghuni di tanah taman kedua bahwa raja dan imam besar dari Taman Eden sedang berbaris menuju mereka, mereka telah melarikan diri dengan tergesa-gesa ke pegunungan timur. Adam menemukan semua wilayah yang diinginkan itu dikosongkan ketika ia tiba. Dan di sini, di lokasi baru ini Adam dan para pembantunya bersiap untuk bekerja membangun rumah baru dan mendirikan sebuah pusat yang baru untuk budaya dan agama.

Lokasi ini dikenal Adam sebagai salah satu dari tiga pilihan pertama dari komite yang ditugasi untuk memilih lokasi yang mungkin untuk Taman yang diusulkan oleh Van dan Amadon. Kedua sungai itu sendiri adalah pertahanan alami yang baik pada masa-masa itu, dan tidak jauh di sebelah utara taman kedua, Efrat dan Tigris mengalir cukup berdekatan sehingga dapat dibangun dinding pertahanan sepanjang sembilan puluh kilometer untuk melindungi wilayah selatan dan antara sungai-sungai.

Setelah menetap di Eden yang baru, menjadi perlu untuk memakai cara hidup yang kasar; tampaknya seperti sepenuhnya benar bahwa tanah itu telah dikutuk. Alam sekali lagi yang menentukan. Sekarang bangsa Adamit terpaksa untuk mencari nafkah dari tanah yang belum siap dan untuk mengatasi kenyataan hidup menghadapi kesulitan dari alam dan ketidaksesuaian kehidupan fana. Mereka menemukan taman pertama telah sebagian disiapkan untuk mereka, tetapi yang kedua harus diciptakan oleh karya mereka sendiri dan oleh “peluh di wajah mereka.”

2. Kain dan Habel

Kurang dari dua tahun setelah kelahiran Kain, Habel lahir, anak pertama dari Adam dan Hawa yang dilahirkan di taman kedua. Ketika Habel tumbuh sampai usia dua belas tahun, ia memilih menjadi gembala; Kain telah memilih untuk menggeluti pertanian.

Adapun, pada hari-hari itu ada kebiasaan untuk membuat persembahan kepada imam dengan apa yang di tangan. Penggembala akan membawa dari ternak mereka, petani buah-buahan dari kebun; dan sesuai dengan kebiasaan ini, Kain dan Habel juga memberikan persembahan berkala untuk para imam. Kedua anak laki-laki itu telah seringkali bertikai tentang perbandingan manfaat dari bidang pekerjaan mereka, dan Habel tidak lambat untuk mencatat bahwa para imam terlihat lebih suka korban-korban hewannya. Sia-sia Kain berusaha mengingatkan kembali pada tradisi Eden yang pertama, kepada kesukaan sebelumnya untuk buah-buahan dari kebun. Tetapi Habel ini tidak mau menerimanya, dan ia mengejek kakaknya yang malu itu.

Pada hari-hari Eden yang pertama, Adam memang berusaha untuk mencegah persembahan korban hewan sehingga Kain punya preseden yang bisa dibenarkan bagi pendapatnya. Namun demikian, sulit untuk mengatur kehidupan beragama di Eden kedua. Adam dibebani dengan seribu satu rincian yang terkait dengan pekerjaan pembangunan, pertahanan, dan pertanian. Karena menjadi amat tertekan secara rohani, ia menyerahkan pengaturan ibadah dan pendidikan kepada mereka dari keturunan Nod tertentu yang pernah bertugas dalam jabatan ini di taman pertama; dan dalam waktu yang begitu singkat para imam Nodit yang menjabat itu kembali ke standar dan aturan dari masa-masa sebelum Adam.

Kedua anak lelaki itu tidak pernah bergaul dengan baik, dan perkara pengorbanan ini lebih jauh lagi menyumbang pada kebencian yang tumbuh antara mereka. Habel tahu ia adalah anak dari Adam maupun Hawa dan selalu saja mencela Kain bahwa Adam adalah bukan ayahnya. Kain bukan ungu murni karena ayahnya adalah dari ras Nodit yang kemudian bercampur dengan manusia biru dan merah dan dengan stok Andonik pribumi. Dan semua inilah, dengan sifat warisan alami Kain yang garang, menyebabkan ia memelihara kebencian yang semakin mendalam terhadap adiknya.

Anak-anak lelaki itu masing-masing berusia delapan belas dan dua puluh tahun ketika ketegangan antara mereka akhirnya diselesaikan, suatu hari, ketika ejekan Habel begitu membuat marah kakaknya yang garang itu sehingga Kain menyerang dengan murka dan membunuhnya.

Pengamatan tentang perilakunya Habel memperlihatkan nilai lingkungan dan pendidikan sebagai faktor-faktor dalam pengembangan karakter. Habel memiliki warisan sifat yang ideal, dan keturunan terletak pada dasar semua karakter, tetapi pengaruh lingkungan yang buruk nyaris menetralisir warisan sifat yang hebat ini. Habel, terutama selama masa-masa kecilnya, sangat dipengaruhi oleh lingkungannya yang tidak menguntungkan itu. Dia bisa menjadi pribadi yang sama sekali berbeda seandainya ia hidup sampai umur dua puluh lima atau tiga puluh tahun; warisan sifat unggulnya saat itu akan tampil dengan sendirinya. Meskipun lingkungan yang baik tidak dapat berkontribusi banyak untuk benar-benar mengatasi kendala karakter dari keturunan yang jelek, tapi lingkungan yang buruk bisa sangat efektif merusak warisan sifat yang sangat baik, setidaknya selama usia lebih muda. Lingkungan sosial yang baik dan pendidikan yang benar adalah tanah dan atmosfer yang sangat penting untuk mendapatkan hasil maksimal dari pewarisan sifat yang baik.

Kematian Habel itu diketahui oleh orangtuanya ketika anjing-anjingnya membawa kawanan ternak pulang tanpa majikan mereka. Bagi Adam dan Hawa, Kain dengan cepat menjadi pengingat suram tentang kebodohan mereka, dan mereka mendorong Kain dalam keputusannya untuk meninggalkan taman.

Kehidupan Kain di Mesopotamia belumlah benar-benar bahagia karena dia sedemikian rupa menjadi simbol dari kegagalan. Bukan karena rekan-rekannya tidak bersikap baik kepadanya, tetapi ia menyadari tentang kebencian bawah sadar mereka akan kehadirannya. Tetapi Kain tahu bahwa, karena ia tidak menyandang tanda suku, ia akan dibunuh oleh suku tetangga pertama yang mungkin kebetulan bertemu dengannya. Rasa takut, dan setengah sesal, menuntun dia untuk bertobat. Kain belum pernah didiami oleh Pelaras, selama itu selalu menentang disiplin keluarga dan menghina agama ayahnya. Tetapi ia sekarang pergi ke Hawa, ibunya, dan meminta bantuan dan bimbingan rohani darinya, dan ketika ia dengan jujur mencari bantuan ilahi, sesosok Pelaras mendiami dia. Dan Pelaras ini, yang tinggal di dalam dan yang memandang keluar, memberi Kain suatu keunggulan superioritas yang jelas sehingga menggolongkan dia termasuk suku Adam yang sangat ditakuti itu.

Maka Kain berangkat ke tanah Nod, di sebelah timur Eden kedua. Ia menjadi seorang pemimpin besar di antara satu kelompok dari bangsa ayahnya, dan sampai taraf tertentu, ia memenuhi prediksi Serapatatia, karena ia memang mendukung perdamaian antara divisi orang Nodit ini dan kaum Adam sepanjang hidupnya. Kain menikahi Remona, sepupu jauhnya, dan anak pertama mereka, Henokh, menjadi kepala kaum Nodit Elam. Selama ratusan tahun kaum Elam dan Adam terus berada dalam damai.

3. Kehidupan di Mesopotamia

Seiring waktu berlalu di taman kedua, akibat-akibat dari kejatuhan menjadi semakin jelas. Adam dan Hawa sangat merindukan rumah keindahan dan ketenangan mereka yang sebelumnya serta anak-anak mereka yang telah dideportasi ke Edentia. Memang kasihan mengamati pasangan agung ini diturunkan statusnya menjadi badan daging biasa dari alam; tetapi mereka menanggung penurunan keadaan mereka itu dengan ikhlas dan tabah.

Adam dengan bijaksana menghabiskan sebagian besar waktu untuk melatih anak-anaknya dan rekan-rekan mereka dalam pemerintahan sipil, metode pendidikan, dan ibadah keagamaan. Seandainya bukan karena pandangan ke depan ini, bencana besar akan pasti melanda pada saat kematiannya. Demikianlah, kematian Adam hanya sedikit berpengaruh dalam pelaksanaan urusan-urusan rakyatnya. Namun jauh sebelum Adam dan Hawa meninggal, mereka menyadari bahwa anak-anak dan pengikut mereka telah secara bertahap belajar untuk melupakan hari-hari kemuliaan mereka di Eden. Adalah lebih baik bagi mayoritas pengikut mereka karena mereka telah melupakan kemegahan Eden; mereka tidak terlalu mengalami kekecewaan yang tidak semestinya karena lingkungan mereka yang kurang menguntungkan itu.

Para penguasa sipil kaum Adam berasal turun temurun dari anak-anak dari taman pertama. Putra pertama Adam, Adamson (Putra Adam, Adam bin Adam), mendirikan sebuah pusat sekunder ras ungu di sebelah utara Eden kedua. Putra kedua Adam, Eveson (Putra Hawa), menjadi pemimpin dan administrator yang cakap; ia adalah penolong yang besar bagi ayahnya. Eveson tidak hidup lebih lama dari Adam, dan anak lelaki sulungnya, Jansad, menjadi penerus Adam sebagai kepala suku-suku Adam (Adamit).

Para penguasa agama, atau keimaman, berasal dari Set, putra tertua Adam dan Hawa yang masih hidup yang lahir di taman kedua. Dia lahir seratus dua puluh sembilan tahun setelah kedatangan Adam di Urantia. Set menjadi sibuk dalam pekerjaan memperbaiki status rohani rakyat ayahnya, menjadi kepala keimaman baru di taman kedua. Putranya, Enos, membuat tatanan baru ibadah, dan cucunya, Kenan, melembagakan pelayanan utusan asing untuk suku-suku di sekitarnya, yang jauh dan dekat.

Keimaman Set (orang Setit) itu usaha lipat tiga, mencakup agama, kesehatan, dan pendidikan. Para imam dari golongan ini dilatih untuk memimpin upacara keagamaan, untuk melayani sebagai dokter dan pengawas kebersihan, dan bertindak sebagai guru di sekolah-sekolah taman.

Kafilah Adam telah membawa benih dan umbi ratusan tanaman dan biji-bijian dari taman pertama ke tanah di antara sungai-sungai; mereka juga telah membawa macam-macam ternak dan beberapa dari semua hewan peliharaan. Karena inilah mereka memiliki keuntungan besar atas suku-suku di sekitarnya. Mereka menikmati banyak manfaat budaya sebelumnya dari Taman yang pertama.

Hingga pada saat meninggalkan taman pertama, Adam dan keluarganya selalu makan buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Dalam perjalanan ke Mesopotamia mereka, untuk pertama kalinya, makan bumbu-bumbuan dan sayuran. Makan daging sejak awal diperkenalkan ke taman kedua, tetapi Adam dan Hawa tidak pernah makan daging sebagai bagian dari diet teratur mereka. Putra Adam maupun Putra Hawa maupun anak-anak lain dari generasi pertama dari taman pertama itu juga tidak menjadi pemakan daging.

Bangsa Adam sangat mengungguli bangsa-bangsa sekitarnya dalam prestasi budaya dan perkembangan intelektual. Mereka menghasilkan alfabet ketiga dan selain itu meletakkan dasar bagi banyak hal yang menjadi cikal bakal untuk seni, ilmu pengetahuan, dan sastra modern. Di sini, di tanah antara Tigris dan Efrat itu mereka mempertahankan seni penulisan, pekerjaan logam, pembuatan tembikar, dan tenunan serta menghasilkan jenis arsitektur yang tidak tertandingi dalam ribuan tahun.

Kehidupan keluarga bangsa ungu itu ideal pada hari dan zaman mereka. Anak-anak diikutkan kursus-kursus pelatihan dalam bidang pertanian, kerajinan, dan peternakan, atau lainnya dididik untuk melakukan tugas lipat tiga seorang Setit: untuk menjadi imam, tabib, dan guru.

Dan ketika berpikir tentang keimaman Setit itu, jangan salah menyamakan guru-guru kesehatan dan agama yang berpikiran tinggi dan mulia itu, para pendidik sejati itu, dengan keimaman rendah dan komersial dari suku-suku yang belakangan dan bangsa-bangsa sekitarnya. Konsep keagamaan mereka tentang Deitas dan alam semesta maju dan kurang lebihnya akurat, ketentuan kesehatan mereka, untuk masa mereka, adalah sangat baik, dan metode pendidikan mereka belum pernah dilampaui sejak itu.

4. Ras Ungu

Adam dan Hawa adalah pendiri ras ungu manusia, ras manusia kesembilan yang tampil di Urantia. Adam dan keturunannya memiliki mata biru, dan bangsa ungu itu dicirikan oleh warna kulit cerah dan warna rambut terang—kuning, merah, dan coklat.

Hawa tidak menderita rasa sakit saat melahirkan; begitu pula ras-ras evolusioner awal. Hanya ras-ras campuran yang dihasilkan oleh persatuan manusia evolusioner dengan bangsa Nodit dan kemudian dengan Adamit itulah yang menderita kesakitan saat melahirkan.

Adam dan Hawa, seperti saudara-saudara mereka di Yerusem, mendapat energi oleh nutrisi rangkap dua, hidup dari makanan dan cahaya, ditambah dengan energi suprafisik tertentu yang tidak diungkapkan di Urantia. Keturunan Urantia mereka tidak mewarisi kemampuan orang tua untuk asupan energi dan sirkulasi cahaya itu. Mereka memiliki sirkulasi tunggal, jenis dukungan hidup darah manusia. Mereka sengaja dirancang bisa mati meskipun berumur panjang, sekalipun umur panjang itu cenderung turun ke usia biasa manusia tiap-tiap generasi berikutnya.

Adam dan Hawa dan generasi pertama anak-anak mereka tidak menggunakan daging hewan untuk makanan. Mereka hidup sepenuhnya dari “buah dari pohon.” Setelah generasi pertama semua keturunan Adam mulai makan dari produk susu, tetapi banyak dari mereka terus mengikuti diet tanpa daging. Banyak suku-suku selatan dengan siapa mereka kemudian bersatu juga pemakan bukan daging. Belakangan, banyak suku vegetarian ini bermigrasi ke timur dan bertahan sampai sekarang bercampur dalam bangsa-bangsa di India.

Baik penglihatan jasmani maupun rohani dari Adam dan Hawa itu jauh lebih unggul dibandingkan orang-orang masa kini. Indra-indra khusus mereka jauh lebih tajam, dan mereka mampu melihat makhluk tengah dan kawanan malaikat, para Melkisedek, dan Pangeran Kaligastia yang jatuh, yang beberapa kali datang untuk berunding dengan penerusnya yang mulia. Mereka mempertahankan kemampuan untuk melihat makhluk-makhluk gaib ini selama lebih dari seratus tahun setelah kegagalan. Indra-indra khusus ini tidak begitu tajam ada dalam anak-anak mereka dan cenderung berkurang tiap-tiap generasi berikutnya.

Anak-anak Adam biasanya didiami Pelaras karena mereka semua memiliki kapasitas yang tidak diragukan untuk selamat. Keturunan unggul ini tidak begitu tunduk pada rasa takut seperti anak-anak dari evolusi. Begitu banyak ketakutan bertahan dalam ras-ras sekarang di Urantia karena nenek moyangmu menerima begitu sedikit plasma kehidupan Adam, karena gagalnya sejak awal rencana untuk pemuliaan fisik bangsa-bangsa.

Sel-sel tubuh Putra Material dan keturunan mereka jauh lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan sel-sel makhluk evolusioner yang asli berasal dari planet. Sel-sel tubuh ras asli itu dekat dengan organisme hidup mikroskopis dan ultramikroskopis penghasil penyakit di alam. Fakta-fakta ini menjelaskan mengapa orang-orang Urantia harus berbuat banyak dengan cara upaya ilmiah untuk mengatasi begitu banyak penyakit fisik. Kamu akan jauh lebih tahan penyakit jika saja ras-rasmu membawa lebih banyak dari kehidupan Adam.

Setelah mapan di taman kedua di sungai Efrat, Adam memilih untuk meninggalkan sebanyak mungkin plasma hidupnya untuk memberi keuntungan pada dunia setelah kematiannya. Oleh karena itu, Hawa dibuat menjadi kepala komisi dua belas untuk perbaikan ras, dan sebelum Adam meninggal komisi ini telah memilih 1.682 orang dari jenis perempuan tertinggi di Urantia, dan para wanita ini dihamili dengan plasma kehidupan Adam. Anak-anak mereka semua tumbuh hingga dewasa kecuali 112 orang, sehingga dunia, dengan cara ini, diuntungkan oleh penambahan 1.570 pria dan wanita unggul. Meskipun para calon ibu ini dipilih dari semua suku sekitarnya dan mewakili sebagian besar ras di bumi, mayoritasnya dipilih dari galur tertinggi dari bangsa Nodit, dan mereka merupakan awal dari ras Andit yang perkasa. Anak-anak ini lahir dan dibesarkan dalam lingkungan suku ibu mereka masing-masing.

5. Kematian Adam dan Hawa

Tidak lama setelah pendirian Eden kedua, Adam dan Hawa dengan hormat diberitahu bahwa pertobatan mereka diterima, dan bahwa, meskipun mereka ditakdirkan untuk menjalani nasib manusia di dunia mereka, mereka akan dengan pasti memenuhi syarat untuk masuk ke jajaran peselamat tidur dari Urantia. Mereka percaya sepenuhnya kabar baik kebangkitan dan rehabilitasi yang disampaikan Melkisedek dengan begitu mengharukan kepada mereka. Pelanggaran mereka adalah kesalahan penilaian dan bukan dosa pemberontakan yang sengaja dan terencana.

Sebagai penduduk Yerusem, Adam dan Hawa tidak memiliki Pelaras Pikiran, mereka juga tidak didiami Pelaras ketika mereka berfungsi di Urantia di taman pertama. Namun tak lama setelah penurunan mereka ke status fana mereka menjadi sadar akan suatu kehadiran baru dalam diri mereka dan terbangun pada kenyataan bahwa status manusiawi yang digabung dengan pertobatan yang tulus telah memungkinkan bagi Pelaras untuk mendiami mereka. Pengetahuan tentang menjadi didiami Pelaras inilah yang sangat membesarkan hati Adam dan Hawa sepanjang sisa hidup mereka; mereka tahu bahwa mereka telah gagal sebagai Putra Material Satania, tetapi mereka juga tahu bahwa karier Firdaus masih terbuka bagi mereka sebagai putra-putra menaik dari alam semesta.

Adam tahu tentang kebangkitan akhir zaman (dispensasional) yang terjadi bersamaan dengan kedatangannya di planet ini, dan ia percaya bahwa dirinya dan pendampingnya mungkin akan dipersonalisasi ulang sehubungan dengan kedatangan ordo keputraan berikutnya. Ia tidak tahu bahwa Mikhael, penguasa berdaulat alam semesta ini, adalah yang akan segera muncul di Urantia; ia berharap bahwa Putra berikutnya yang tiba adalah dari ordo Avonal. Namun demikian, selalu suatu penghiburan kepada Adam dan Hawa, sekaligus sesuatu yang sulit untuk mereka pahami, ketika mereka merenungkan satu-satunya pesan pribadi yang pernah mereka terima dari Mikhael. Pesan ini, di antara pernyataan persahabatan dan penghiburan lain, mengatakan: “Aku telah memberikan pertimbangan pada keadaan-keadaan dari kegagalanmu, aku telah mengingat keinginan hatimu untuk selalu setia pada kehendak Bapaku, dan kamu akan dipanggil dari pelukan tidur fana ketika aku datang ke Urantia jika Putra-putra bawahan dari kalanganku tidak dikirimkan kepadamu sebelum waktu itu.”

Hal inilah yang menjadi misteri besar bagi Adam dan Hawa. Mereka bisa memahami janji terselubung tentang kemungkinan kebangkitan khusus dalam pesan ini, dan kemungkinan seperti itu sangat membahagiakan mereka, tetapi mereka tidak bisa menangkap makna isyarat bahwa mereka akan beristirahat sampai saat kebangkitan yang terkait dengan kehadiran pribadi Mikhael di Urantia. Maka pasangan Eden ini selalu mengabarkan bahwa sesosok Putra Tuhan suatu kali akan datang, dan mereka menyampaikan kepada kekasih-kekasih mereka tentang keyakinan, setidaknya harapan kerinduan, bahwa dunia kegagalan dan kesedihan mereka ini mungkin saja menjadi alam yang dipilih penguasa alam semesta ini untuk berfungsi sebagai Putra penganugerahan Firdaus. Hal itu tampaknya terlalu indah untuk menjadi kenyataan, tetapi Adam memang memegang pemikiran bahwa Urantia yang berantakan itu mungkin, pada akhirnya, akan berubah menjadi dunia yang paling beruntung dalam sistem Satania, planet yang dicemburui di seluruh Nebadon.

Adam hidup selama 530 tahun; ia meninggal karena apa yang bisa disebut usia tua. Mekanisme fisiknya aus begitu saja; proses disintegrasi secara bertahap melewati proses perbaikan, dan akhir yang tak terelakkan itupun datang. Hawa telah meninggal sembilan belas tahun sebelumnya karena pelemahan jantung. Mereka keduanya dimakamkan di tengah tempat suci ibadah ilahi yang telah dibangun sesuai dengan rencana mereka setelah dinding koloni telah diselesaikan. Dan ini adalah asal dari praktek menguburkan pria dan wanita yang terkemuka dan saleh di bawah lantai tempat-tempat ibadah.

Pemerintahan supramaterial Urantia, di bawah pimpinan para Melkisedek, terus berlanjut, namun kontak fisik langsung dengan ras-ras evolusioner telah terputus. Dari masa dahulu kala kedatangan staf jasmani Pangeran Planet, melalui masa Van dan Amadon hingga kedatangan Adam dan Hawa, perwakilan-perwakilan fisik dari pemerintahan alam semesta telah ditempatkan di planet ini. Tetapi dengan kegagalan Adam, berakhirlah rezim ini, yang berlangsung selama lebih dari empat ratus lima puluh ribu tahun. Dalam alam-alam rohani, para malaikat pembantu masih terus berjuang dalam hubungannya dengan para Pelaras Pikiran, keduanya bekerja dengan heroik untuk menyelamatkan orang per orang; tetapi tidak ada rencana komprehensif untuk kesejahteraan dunia jangka panjang yang diumumkan pada manusia di bumi sampai kedatangan Melkisedek Machiventa, pada zaman Abraham, yang dengan kuasa, kesabaran, dan wewenang dari sesosok Putra Tuhan, telah meletakkan dasar untuk mengangkat dan rehabilitasi rohani lebih lanjut Urantia yang malang itu.

Namun demikian, kemalangan bukan menjadi satu-satunya nasib Urantia; planet ini juga menjadi yang paling beruntung dalam alam semesta lokal Nebadon. Orang Urantia harus memperhitungkan semuanya adalah keuntungan jika kegagalan nenek moyang mereka dan kesalahan penguasa dunia awal mereka begitu rupa menjatuhkan planet ini ke dalam keadaan bingung yang begitu tanpa harapan, apalagi lebih dikacaukan oleh kejahatan dan dosa, bahwa latar belakang kegelapan seperti inilah yang menarik Mikhael Nebadon sehingga ia memilih dunia ini sebagai arena untuk mewahyukan kepribadian pengasih Bapa di surga. Tidaklah berarti bahwa Urantia membutuhkan sesosok Putra Pencipta untuk mengurai urusan-urusannya agar tertata; namun bahwa kejahatan dan dosa di Urantia menyediakan bagi Putra Pencipta suatu latar belakang yang lebih mencolok untuk mengungkapkan kasih, rahmat, dan kesabaran yang tiada tara dari Bapa Firdaus.

6. Keselamatan Adam dan Hawa

Adam dan Hawa pergi untuk istirahat fana mereka dengan iman yang kuat akan janji-janji yang dibuat kepada mereka oleh Melkisedek bahwa mereka suatu kali kelak akan terjaga dari tidur kematian untuk melanjutkan kehidupan di dunia-dunia mansion, dunia-dunia yang semuanya begitu mereka kenali pada hari-hari sebelum misi mereka dalam badan jasmani ras ungu di Urantia.

Mereka tidak lama beristirahat dalam tidur tidak sadar manusia biasa. Pada hari ketiga setelah kematian Adam, hari yang kedua setelah pemakamannya yang khidmat, perintah Lanaforge, ditopang oleh pejabat Yang Paling Tinggi Edentia dan disetujui oleh Yang Bersatu Harinya di Salvington, bertindak untuk Mikhael, ditempatkan di tangan Gabriel, memerintahkan panggilan panggilan hadir spesial untuk para peselamat yang terhormat dari kegagalan Adam di Urantia. Dan sesuai dengan mandat kebangkitan khusus ini, nomor dua puluh enam dari seri Urantia, Adam dan Hawa dipersonalisasi ulang dan dirakit kembali dalam ruang-ruang kebangkitan dunia mansion Satania bersama dengan 1.316 rekan-rekan mereka yang mengalami taman pertama. Banyak jiwa setia lain sudah ditranslasikan pada saat kedatangan Adam, yang disertai oleh penghakiman akhir zaman atas para peselamat tidur maupun para penaik hidup yang memenuhi syarat.

Adam dan Hawa dengan cepat melewati dunia-dunia kenaikan progresif sampai mereka mencapai kewargaan di Yerusem, sekali lagi menjadi penduduk planet asal mereka tetapi kali ini sebagai anggota ordo kepribadian semesta yang berbeda. Mereka meninggalkan Yerusem sebagai warga permanen—para Putra Tuhan; mereka kembali ke sana sebagai warga penaik—anak-anak manusia. Mereka langsung digabungkan pada layanan Urantia di ibukota sistem, kemudian ditugaskan sebagai anggota di antara dua puluh empat konselor yang membentuk badan pengendalian-pertimbangan Urantia saat ini.

Dengan demikian berakhirlah kisah Adam dan Hawa Planet Urantia, kisah tentang cobaan, tragedi, dan kemenangan, setidaknya kemenangan pribadi untuk Putra dan Putri Materialmu yang bermaksud baik tetapi terperdaya, dan tidak diragukan lagi, pada akhirnya, kisah tentang kemenangan akhir bagi dunia mereka dan penduduknya yang terhempas pemberontakan dan terusik kejahatan. Ketika semua disimpulkan, Adam dan Hawa membuat kontribusi hebat untuk peradaban yang berkembang cepat dan percepatan kemajuan biologis umat manusia. Mereka meninggalkan kebudayaan yang besar di bumi, namun tidaklah mungkin untuk sebuah peradaban maju seperti itu untuk bertahan menghadapi pengenceran sejak awal dan penenggelaman pada akhirnya terhadap pewarisan keturunan Adam. Orang-oranglah yang membuat peradaban, peradaban tidak membuat orang-orang.

[Disampaikan oleh Solonia, malaikat “suara di Taman.”]

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved