Makalah 188: Waktu di Kubur

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 188

Waktu di Kubur

SATU setengah hari tubuh fana Yesus terbaring dalam kubur Yusuf, jangka waktu antara kematiannya di atas salib dan kebangkitannya, adalah bab dalam karier bumi Mikhael yang sedikit kami ketahui. Kami dapat menceritakan penguburan Anak Manusia dan memasukkan ke dalam catatan ini peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kebangkitannya, tetapi kami tidak dapat menyediakan banyak informasi yang bersifat otentik mengenai apa yang sebenarnya terjadi selama jangka waktu sekitar tiga puluh enam jam ini, dari jam tiga Jumat sore sampai jam tiga Minggu pagi. Periode ini dalam karier Guru dimulai tak lama sebelum dia diturunkan dari salib oleh tentara-tentara Romawi. Dia tergantung di atas salib sekitar satu jam setelah kematiannya. Dia bisa saja diturunkan lebih cepat kalau tidak ada penundaan pada waktu membunuh dua perampok itu.

Para penguasa orang Yahudi telah merencanakan untuk membuat tubuh Yesus dilemparkan ke dalam lubang penguburan terbuka Lembah Hinom (Gehenna), di selatan kota; begitulah kebiasaan untuk membuang korban-korban penyaliban. Jika rencana ini diikuti, jasad Guru akan tidak terlindung terhadap binatang-binatang buas.

Sementara itu, Yusuf dari Arimatea, disertai oleh Nikodemus, telah pergi menghadap Pilatus dan meminta agar jenazah Yesus diserahkan kepada mereka untuk penguburan yang layak. Bukan tidak biasa bagi teman-teman orang yang disalibkan untuk menawarkan suap kepada pihak-pihak berwenang Romawi untuk mendapat hak memiliki jenazah tersebut. Yusuf pergi menghadap Pilatus dengan sejumlah besar uang, seandainya diperlukan membayar izin untuk memindahkan tubuh Yesus ke sebuah tempat pemakaman pribadi. Tetapi Pilatus tidak mau mengambil uang untuk hal ini. Ketika ia mendengar permintaan tersebut, ia dengan cepat menandatangani perintah yang memberi wewenang Yusuf untuk pergi ke Golgota dan mengambil langsung dan penuh terhadap jasad Guru. Sementara itu, badai pasir telah cukup reda, sekelompok orang Yahudi yang mewakili Sanhedrin telah pergi ke Golgota untuk tujuan memastikan bahwa jasad Yesus menyertai jasad para perampok itu ke lubang penguburan umum yang terbuka itu.

1. Pemakaman Yesus

Ketika Yusuf dan Nikodemus tiba di Golgota, mereka menemukan para prajurit sedang menurunkan Yesus dari salib dan wakil-wakil dari Sanhedrin berdiri untuk memastikan bahwa tidak ada pengikut Yesus yang mencegah jenazahnya dikirim ke lubang kuburan untuk penjahat. Ketika Yusuf menyampaikan perintah Pilatus untuk jenazahnya Guru kepada perwira itu, orang-orang Yahudi memulai keributan dan berteriak-teriak untuk mendapatkannya. Dengan mengoceh mereka berusaha dengan paksa untuk mengambil tubuh itu, dan ketika mereka melakukan ini, perwira itu memerintahkan empat prajuritnya ke sisinya, dan dengan pedang terhunus mereka berdiri di atas jasad Guru yang terbaring di sana di tanah. Perwira itu memerintahkan prajurit-prajurit lain untuk meninggalkan dua perampok itu sementara mereka mengusir mundur kerumunan marah orang-orang Yahudi yang geram ini. Setelah ketertiban dipulihkan, perwira itu membacakan izin dari Pilatus kepada orang Yahudi dan, sambil melangkah ke samping, berkata kepada Yusuf: “Tubuh ini adalah milikmu untuk kamu perlakukan terserah kamu. Aku dan prajuritku akan bersiaga untuk mengawasi agar tidak ada seorangpun yang merintangi.”

Seseorang yang disalibkan tidak boleh dikuburkan dalam sebuah pemakaman Yahudi; ada hukum yang ketat melawan prosedur tersebut. Yusuf dan Nikodemus tahu aturan ini, dan pada perjalanan keluar ke Golgota mereka telah memutuskan untuk memakamkan Yesus dalam makam keluarga Yusuf Arimatea yang baru, yang dipahat dari batu padat, terletak tidak jauh di utara Golgota dan di seberang jalan yang menuju Samaria. Tidak ada yang lain pernah dibaringkan di makam ini, dan mereka pikir pantas bahwa Guru akan beristirahat di sana. Yusuf benar-benar percaya bahwa Yesus akan bangkit dari antara orang mati, tapi Nikodemus sangat meragukan. Para mantan anggota Sanhedrin ini telah memelihara iman mereka kepada Yesus lebih atau kurangnya secara rahasia, meskipun rekan-rekan mereka anggota Sanhedrin telah lama mencurigai mereka, bahkan sebelum mereka mundur dari dewan. Mulai saat itu mereka adalah murid-murid Yesus yang paling vokal di seluruh Yerusalem.

Sekitar jam setengah lima prosesi pemakaman Yesus dari Nazaret dimulai dari Golgota menuju makam Yusuf di seberang jalan. Tubuh itu dibalut dalam selembar kain katun saat empat pria membawanya, diikuti oleh pengamat-pengamat wanita yang setia dari Galilea itu. Orang-orang yang memikul tubuh jasmani Yesus ke makam adalah: Yusuf, Nikodemus, Yohanes, dan perwira Romawi.

Mereka membawa tubuh itu ke dalam makam, sebuah ruangan sekitar 3 meter persegi, yang mereka buru-buru persiapkan untuk pemakaman. Orang-orang Yahudi sebenarnya tidak menguburkan orang mati; mereka sebenarnya membalsemnya. Yusuf dan Nikodemus telah membawa sejumlah besar mur dan gaharu, dan mereka kini membalut jenazah itu dengan perban-perban yang dibasahi dengan cairan-cairan ini. Ketika pembalseman itu selesai, mereka mengikatkan sehelai kain segi empat di wajah, membungkus tubuh dalam selembar kain linen, dan dengan hormat meletakkannya di atas sebuah rak di dalam makam.

Setelah menempatkan jenazah dalam kubur, perwira itu memberi isyarat bagi para prajuritnya untuk membantu menggulingkan batu pintu penutup di depan pintu masuk makam. Para prajurit kemudian berangkat ke Lembah Hinom dengan jasad-jasad para perampok sementara orang-orang yang lain kembali ke Yerusalem, dalam duka, untuk mengikuti perayaan Paskah menurut hukum-hukum Musa.

Penguburan Yesus amat terburu-buru dan cepat-cepat karena ini adalah hari persiapan dan Sabat sudah di depan mata. Para pria bergegas kembali ke kota, tetapi para wanita tetap berdiri di dekat kubur itu sampai sudah sangat gelap.

Sementara semua ini berlangsung, para wanita bersembunyi di dekatnya sehingga mereka melihat semuanya dan mengamati dimana Guru telah dibaringkan. Mereka merahasiakan diri mereka seperti itu karena tidak diperbolehkan bagi para wanita untuk bekerjasama dengan para pria pada saat seperti itu. Para wanita ini berpikir Yesus tidak dipersiapkan dengan pantas untuk penguburan, dan mereka setuju di antara mereka sendiri untuk kembali ke rumah Yusuf, beristirahat selama hari Sabat, menyiapkan rempah-rempah dan minyak, dan kembali pada hari Minggu pagi untuk mempersiapkan tubuh Guru dengan selayaknya untuk istirahat kematian. Para wanita yang menunggu di dekat makam pada Jumat petang ini adalah: Maria Magdalena, Maria istri Klopas, Marta saudari lain dari ibunya Yesus, dan Ribka dari Sepphoris.

Selain Daud Zebedeus dan Yusuf Arimatea, sangat sedikit murid-murid Yesus yang benar-benar percaya atau mengerti bahwa dia akan bangkit dari kubur pada hari ketiga.

2. Penjagaan Makam

Jika para pengikut Yesus tidak peduli janjinya untuk bangkit dari kubur pada hari ketiga, tidak demikian dengan musuh-musuhnya. Imam-imam kepala, orang Farisi, dan orang Saduki ingat bahwa mereka telah menerima laporan tentang perkataannya bahwa dia akan bangkit dari kematian.

Jumat malam ini, setelah makan malam Paskah, sekitar tengah malam sekelompok orang-orang Yahudi berkumpul di rumah Kayafas, dimana mereka mendiskusikan kekuatiran mereka tentang penegasan Guru bahwa dia akan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga. Pertemuan ini diakhiri dengan penunjukan suatu komite Sanhedrin yang akan mengunjungi Pilatus pagi-pagi esoknya, membawa permintaan resmi dari Sanhedrin agar suatu penjagaan Romawi ditempatkan di depan makam Yesus untuk mencegah teman-temannya agar tidak mengusiknya. Kata juru bicara komite ini kepada Pilatus: “Tuan, kami ingat bahwa penyesat ini, Yesus dari Nazaret, berkata, ketika dia masih hidup, ‘Sesudah tiga hari aku akan bangkit lagi.' Karena itu, kami telah datang di hadapanmu untuk mohon agar engkau mengeluarkan perintah yang akan membuat makam itu aman terhadap para pengikutnya, setidaknya sampai setelah hari ketiga. Kami sangat kuatir kalau-kalau murid-muridnya datang dan mencuri dia pada malam hari dan kemudian memberitakan kepada rakyat bahwa ia telah bangkit dari kematian. Jika kita membiarkan hal ini terjadi, kesalahan ini akan menjadi jauh lebih buruk daripada mengizinkan dia hidup.”

Ketika Pilatus mendengar permintaan dari anggota-anggota Sanhedrin ini, ia berkata: "Aku akan memberikan kalian penjagaan sepuluh tentara. Pergilah dan buatlah makam itu aman." Mereka kembali ke bait suci, mengambil sepuluh dari penjaga mereka sendiri, dan kemudian berbaris ke makam Yusuf dengan sepuluh penjaga Yahudi dan sepuluh tentara Romawi, sekalipun pada hari Sabat pagi ini, untuk menempatkan mereka sebagai penjaga di depan makam. Orang-orang ini masih menggulingkan satu batu lagi di depan makam dan memasang meterai Pilatus di atas dan sekitar batu-batu ini, agar jangan sampai terganggu tanpa sepengetahuan mereka. Dan dua puluh orang ini tetap berjaga sampai jam kebangkitan, orang-orang Yahudi membawakan makanan dan minuman mereka.

3. Selama Hari Sabat

Sepanjang hari Sabat ini para murid dan para rasul tetap dalam persembunyian, sementara seluruh Yerusalem membahas kematian Yesus di atas salib. Ada hampir satu setengah juta orang Yahudi hadir di Yerusalem pada saat ini, berasal dari semua bagian Kekaisaran Romawi dan dari Mesopotamia. Ini adalah permulaan minggu Paskah, dan semua musafir ini akan berada di dalam kota untuk mendengar tentang kebangkitan Yesus dan membawa laporan itu kembali ke rumah mereka.

Sabtu larut malam, Yohanes Markus mengundang sebelas rasul secara diam-diam untuk datang ke rumah ayahnya, dimana, tepat sebelum tengah malam, mereka semua berkumpul di ruang atas yang sama dimana mereka telah ikut makan Perjamuan Terakhir dengan Guru mereka dua malam sebelumnya.

Maria ibu Yesus, bersama Rut dan Yudas, kembali ke Betania untuk bergabung dengan keluarga mereka Sabtu petang ini tepat sebelum matahari terbenam. Daud Zebedeus tetap di rumah Nikodemus, dimana ia telah mengatur para utusannya untuk berkumpul pada hari Minggu pagi-pagi. Para wanita dari Galilea, yang mempersiapkan rempah-rempah untuk pembalseman lebih lanjut jenazah Yesus, menunggu di rumah Yusuf Arimatea.

Kami tidak dapat sepenuhnya menjelaskan apa tepatnya yang terjadi pada Yesus dari Nazaret selama periode satu setengah hari ini ketika dia dianggap beristirahat di kubur barunya Yusuf itu. Tampaknya dia meninggal pada kematian alami yang sama di atas salib seperti halnya setiap manusia lain dalam situasi yang sama. Kami mendengar dia berkata, "Bapa, ke dalam tangan-Mu aku serahkan rohku." Kami tidak sepenuhnya memahami arti dari pernyataan seperti itu berhubung Pelaras Pikirannya sudah sejak lama dipersonalisasi dan dengan demikian mempertahankan keberadaan yang terpisah dari sosok manusiawinya Yesus. Pelaras Dipersonalisasinya Guru itu tidak dalam arti apapun dapat dipengaruhi oleh kematian badaninya di atas salib. Apa yang Yesus taruh dalam tangan Bapa untuk saat itu tentulah roh padanan dari pekerjaan awal Pelaras dalam merohkan batin manusia sehingga menyediakan untuk transfer transkrip dari pengalaman manusia ke dunia-dunia mansion. Pastilah ada beberapa realitas rohani dalam pengalaman Yesus yang bisa disamakan dengan kodrat roh, atau jiwa, dari manusia yang bertumbuh oleh iman dari dunia-dunia. Tapi ini hanya pendapat kami—kami tidak benar-benar tahu apa yang Yesus serahkan kepada Bapanya.

Kami tahu bahwa wujud badani Guru beristirahat di sana dalam makam Yusuf sampai sekitar jam tiga hari Minggu pagi, tapi kami sepenuhnya tidak tahu pasti mengenai status kepribadian Yesus selama periode tiga puluh enam jam itu. Kami kadang-kadang berani untuk menjelaskan hal-hal ini kepada kami sendiri kira-kira sebagai berikut:

1. Kesadaran Pencipta dari Mikhael itu tentulah sebagian besar dan sepenuhnya bebas dari batin fana dari inkarnasi fisik yang berkaitan.

2. Mantan Pelaras Pikirannya Yesus kami tahu hadir di bumi selama periode ini dan memegang komando pribadi atas kawanan selestial yang berkumpul.

3. Identitas roh yang diperoleh sang manusia Nazaret itu yang dibangun selama hidupnya dalam daging, pertama, oleh upaya langsung Pelaras Pikirannya, dan berikutnya, oleh penyesuaian dirinya yang sempurna antara kebutuhan fisik dan persyaratan rohani untuk kehidupan manusia fana yang ideal, seperti yang dihasilkan oleh pilihannya yang tanpa henti akan kehendak Bapa, tentulah telah diserahkan ke tangan Bapa Firdaus. Apakah realitas roh ini kembali untuk menjadi bagian dari kepribadian yang dibangkitkan, atau tidak, kami tidak tahu, tapi kami percaya hal itu. Tapi ada mereka di alam semesta yang berpendapat bahwa identitas jiwa Yesus itu sekarang ditaruh di "pangkuan Bapa," untuk kemudian dilepaskan untuk kepemimpinan Korps Nebadon Finalitas dalam takdir mereka yang belum diungkapkan sehubungan dengan alam-alam semesta yang belum dibuat di alam-alam ruang angkasa bagian luar yang belum diorganisir.

4. Kami pikir kesadaran manusiawi atau fana Yesus itu tidur selama tiga puluh enam jam ini. Kami punya alasan untuk percaya bahwa manusia Yesus tidak tahu apa-apa tentang apa yang berlangsung di alam semesta selama jangka waktu ini. Bagi kesadaran manusia fana tidak ada jeda waktu; kebangkitan kehidupan itu menyusul tidur kematian seperti seketika itu juga.

Dan inilah tentang semua yang kami dapat tempatkan pada catatan tentang status Yesus selama periode kubur ini. Ada sejumlah fakta berkaitan yang kami dapat singgung, meskipun kami tidak bisa dikatakan kompeten untuk melakukan penafsirannya.

Di lapangan luas ruang kebangkitan di dunia mansion pertama Satania, di sana kini bisa diamati sebuah struktur material-morontia megah yang dikenal sebagai “Memorial Mikhael,” yang sekarang menyandang meterai Gabriel. Memorial ini dibuat sesaat setelah Mikhael pergi dari dunia ini, dan di situ ada tulisan ini: “Sebagai peringatan untuk transit fana Yesus Nazaret di Urantia.”

Ada catatan-catatan yang masih ada yang menunjukkan bahwa selama periode ini dewan tertinggi Salvington, berjumlah seratus, mengadakan pertemuan eksekutif di Urantia di bawah pimpinan Gabriel. Ada juga catatan-catatan yang menunjukkan bahwa Yang Purba Harinya dari Uversa berkomunikasi dengan Mikhael mengenai status alam semesta Nebadon selama waktu ini.

Kami tahu bahwa setidaknya ada satu pesan yang disampaikan antara Mikhael dan Immanuel di Salvington sementara tubuh Guru terbaring di dalam kubur.

Ada alasan kuat untuk percaya bahwa ada sesosok kepribadian yang duduk di kursi Kaligastia dalam dewan sistem Pangeran Planet di Yerusem yang mengadakan pertemuan sementara tubuh Yesus beristirahat dalam kubur.

Catatan-catatan di Edentia menunjukkan bahwa Bapa Konstelasi Norlatiadek berada di Urantia, dan bahwa dia menerima instruksi dari Mikhael selama waktu dalam kubur ini.

Dan masih ada banyak bukti lain yang menunjukkan bahwa tidak semua dari kepribadian Yesus itu tidur dan tidak sadar selama kematian badani yang tampak ini.

4. Makna Kematian di atas Salib

Meskipun Yesus tidak mati di atas salib ini untuk menebus rasa bersalah rasial manusia fana atau untuk menyediakan semacam pendekatan yang efektif kepada Tuhan yang dianggap murka dan tak mau mengampuni jika tidak demikian; bahkan meskipun Anak Manusia tidak menawarkan dirinya sebagai korban untuk meredakan murka Tuhan dan untuk membuka jalan bagi manusia berdosa untuk memperoleh keselamatan; walaupun ide-ide penebusan dan pendamaian ini keliru, namun demikian, ada makna-makna yang dikaitkan pada kematian Yesus di kayu salib ini yang jangan diabaikan. Merupakan fakta bahwa Urantia telah menjadi terkenal di kalangan planet-planet dihuni yang bertetangga lainnya sebagai “Dunia Salib.”

Yesus ingin untuk menjalani kehidupan fana yang penuh dalam daging di Urantia. Kematian itu, biasanya, adalah bagian dari kehidupan. Kematian adalah perbuatan terakhir dalam drama fana. Dalam usahamu yang bermaksud baik untuk menghindari kesalahan takhyul tentang penafsiran salah mengenai makna kematian di atas salib, kamu harus berhati-hati untuk tidak membuat kesalahan besar dengan gagal memahami makna sebenarnya dan kepentingan sesungguhnya dari kematian Guru.

Manusia fana tidak pernah menjadi milik kepunyaan para pemimpin pendusta itu. Yesus tidak mati untuk menebus manusia dari cengkeraman para penguasa yang murtad dan para pangeran planet-planet itu yang jatuh. Bapa di surga tidak pernah merencanakan ketidakadilan bodoh seperti mengutuk jiwa manusia oleh karena kejahatan leluhurnya. Tidak pula kematian Guru di atas salib adalah korban yang terdiri dalam upaya untuk membayar suatu hutang kepada Tuhan yang harus dibayar ras umat manusia kepada-Nya.

Sebelum Yesus hidup di bumi, kamu mungkin telah dibenarkan dengan mempercayai Tuhan yang seperti itu, tapi tidak demikian sejak Guru hidup dan mati di antara manusia sesamamu. Musa mengajarkan martabat dan keadilan dari Tuhan Pencipta; namun Yesus menggambarkan kasih dan rahmat dari Bapa surgawi.

Kodrat hewani—kecenderungan ke arah perbuatan jahat—mungkin bersifat keturunan, tetapi dosa itu tidak ditularkan dari orang tua ke anak. Dosa adalah tindakan pemberontakan yang sadar dan sengaja melawan kehendak Bapa dan hukum-hukum Putra oleh makhluk perorangan yang memiliki kehendak.

Yesus hidup dan mati bagi seluruh alam semesta, bukan hanya untuk bangsa-bangsa di dunia yang satu ini. Meskipun manusia-manusia fana di alam-alam lain memiliki keselamatan bahkan sebelum Yesus hidup dan mati di Urantia, namun tetap sebuah kenyataan bahwa penganugerahan dirinya di dunia ini sangat menerangi jalan keselamatan; kematiannya berbuat banyak untuk membuat selamanya jelas tentang kepastian kelangsungan hidup manusia setelah kematian dalam daging.

Meskipun sulit dikatakan tepat untuk berbicara tentang Yesus sebagai korban, pembayar tebusan, atau penebus, namun sepenuhnya benar untuk mengacu kepadanya sebagai juruselamat. Dia selamanya membuat jalan keselamatan lebih jelas dan pasti; dia memang secara lebih baik dan lebih pasti menunjukkan jalan keselamatan bagi semua manusia fana di seluruh dunia-dunia di alam semesta Nebadon.

Ketika sekali kamu menangkap ide tentang Tuhan sebagai Bapa yang benar dan pengasih, satu-satunya konsep yang Yesus pernah ajarkan, kamu harus segera, dalam segala konsistensi, sama sekali meninggalkan semua pemikiran-pemikiran yang primitif itu tentang Tuhan sebagai raja yang murka, penguasa yang keras dan mahakuasa yang kesenangan utamanya adalah untuk mendeteksi rakyatnya berbuat salah dan untuk memastikan bahwa mereka secara memadai dihukum, kecuali ada sosok yang hampir setara dengan diri-Nya harus sukarela menderita bagi mereka, untuk mati sebagai pengganti dan demi mereka. Seluruh ide tebusan dan penebusan itu tidak cocok dengan konsep Tuhan seperti yang diajarkan dan dicontohkan oleh Yesus dari Nazaret. Kasih tanpa batas Tuhan itu tidak lebih rendah dibandingkan apapun yang lain dalam kodrat (sifat dasar) ilahi.

Semua konsep penebusan dan keselamatan dengan pengorbanan ini berakar dan didasarkan pada kepentingan diri sendiri. Yesus mengajarkan bahwa pelayanan kepada sesama adalah konsep tertinggi dari persaudaraan roh orang-orang percaya. Keselamatan harus diterima begitu saja oleh mereka yang percaya pada kebapaan Tuhan. Perhatian utama orang percaya haruslah tidak pada keinginan egois untuk keselamatan pribadi, melainkan dorongan tidak egois untuk mengasihi dan, oleh karena itu, melayani sesama manusia seperti Yesus pun mengasihi dan melayani manusia fana.

Orang beriman yang sejati juga jangan terlalu banyak menguatirkan tentang hukuman masa depan. Orang percaya yang sesungguhnya hanya prihatin tentang keterpisahan saat ini dari Tuhan. Benar, ayah yang bijaksana bisa menghajar anak-anak mereka, tetapi mereka melakukan semua ini dalam kasih dan untuk tujuan mengoreksi. Mereka tidak menghukum dalam kemarahan, tidak pula mereka menghajar sebagai pembalasan.

Bahkan seandainya pun Tuhan adalah raja yang keras dan resmi dari sebuah alam semesta yang di dalamnya keadilan memerintah tertinggi, Dia pastilah tidak akan dipuaskan dengan rancangan kekanak-kanakan yaitu menghukum penderita yang tidak bersalah menggantikan pelaku yang bersalah.

Hal yang besar tentang kematian Yesus, ketika hal itu dikaitkan dengan pengayaan pengalaman manusia dan perluasan jalan keselamatan, adalah bukan fakta kematiannya melainkan sikap luhur dan keberanian tak ada taranya dalam hal dia menghadapi kematian.

Seluruh ide tebusan untuk penebusan ini menempatkan keselamatan di atas tataran bukan kenyataan; konsep tersebut adalah murni filosofis. Keselamatan manusia itu nyata; hal itu didasarkan pada dua realitas yang dapat dipegang oleh iman makhluk itu dan dengan demikian menjadi digabungkan ke dalam pengalaman manusia perorangan: fakta tentang kebapaan Tuhan dan kebenaran yang berkaitan dengannya, persaudaraan manusia. Memang benar, bagaimanapun juga, bahwa kamu akan “diampuni kesalahanmu, seperti kamu mengampuni orang yang bersalah kepadamu.”

5. Pelajaran dari Salib

Salib Yesus menggambarkan ukuran penuh pengabdian tertinggi dari gembala yang benar itu sekalipun untuk anggota-anggota kawanan dombanya yang tidak layak. Salib itu selamanya menempatkan semua hubungan antara Tuhan dan manusia atas dasar keluarga. Tuhan adalah Bapa; manusia adalah anak-Nya. Kasih, kasih seorang ayah untuk anaknya, menjadi kebenaran sentral dalam hubungan alam semesta antara Pencipta dan ciptaan -- bukan keadilan seorang raja yang mencari kepuasan dalam penderitaan dan penghukuman atas pelaku kejahatan.

Salib selamanya menunjukkan bahwa sikap Yesus terhadap orang berdosa bukanlah penghukuman atau pembenaran, melainkan keselamatan yang kekal dan penuh kasih. Yesus itu benar-benar penyelamat dalam pengertian bahwa kehidupan dan kematiannya memang memenangkan manusia kepada kebaikan dan kelangsungan hidup yang benar. Yesus mengasihi orang-orang begitu rupa sehingga kasihnya membangkitkan respon kasih dalam hati manusia. Kasih itu sungguh menular dan selamanya kreatif. Kematian Yesus di atas salib mencontohkan suatu kasih yang cukup kuat dan ilahi untuk mengampuni dosa dan menelan habis semua perbuatan jahat. Yesus mengungkapkan kepada dunia ini suatu kualitas kebajikan yang lebih tinggi daripada keadilan—yaitu keadilan yang semata-mata benar salah secara teknis. Kasih ilahi tidak hanya semata-mata memaafkan kesalahan; kasih itu menyerap dan benar-benar menghancurkannya. Pengampunan kasih itu sama sekali melampaui pengampunan belas kasihan. Belas kasihan mengesampingkan rasa bersalah dari perbuatan jahat; tapi kasih selamanya menghancurkan dosa dan semua kelemahan yang diakibatkannya. Yesus membawa metode hidup yang baru ke Urantia. Dia mengajarkan kita untuk tidak melawan kejahatan, tetapi untuk menemukan melaluinya suatu kebaikan yang ampuh untuk menghancurkan kejahatan. Pengampunan dari Yesus bukanlah pembenaran; itulah keselamatan dari penghukuman. Keselamatan tidak mengurangi kesalahan; keselamatan itu meluruskan yang salah itu. Kasih sejati tidak mengkompromikan atau membenarkan kebencian; tetapi menghancurkan kebencian itu. Kasih Yesus tidak pernah puas dengan hanya pengampunan saja. Kasih Guru berarti pemulihan, kelangsungan hidup yang kekal. Sepenuhnya tepat berbicara tentang keselamatan sebagai penebusan jika kamu mengartikannya sebagai pemulihan kekal ini.

Yesus, oleh kuasa dari kasih pribadinya untuk manusia, dapat mematahkan cengkeraman dosa dan kejahatan. Dia dengan demikian membebaskan manusia untuk bebas memilih cara hidup yang lebih baik. Yesus menggambarkan suatu pembebasan dari masa lalu yang dengan sendirinya menjanjikan kemenangan untuk masa depan. Pengampunan dengan demikian menyediakan keselamatan. Keindahan kasih ilahi, sekali sepenuhnya diterima hati manusia, selamanya menghancurkan pesona dosa dan kuasa kejahatan.

Penderitaan Yesus tidak terbatas pada penyaliban. Dalam kenyataannya, Yesus dari Nazaret menghabiskan lebih dari dua puluh lima tahun di atas salib kehidupan manusia yang nyata dan intens. Nilai sesungguhnya dari salib itu terdiri dalam fakta bahwa hal itu adalah ekspresi tertinggi dan terakhir dari kasihnya, pewahyuan lengkap dari rahmatnya.

Di jutaan dunia-dunia yang dihuni, puluhan triliun makhluk yang berevolusi yang mungkin telah tergoda untuk menyerah pada perjuangan moral dan meninggalkan pertandingan iman yang baik, telah sekali lagi memandang pada Yesus di atas salib dan kemudian telah bergerak maju, terinspirasi oleh pemandangan Tuhan yang menyerahkan kehidupan penjelmaannya sebagai pengabdian untuk layanan tidak mementingkan diri bagi manusia.

Kemenangan dari kematian di atas salib semua teringkas dalam semangat dari sikapnya Yesus terhadap orang-orang yang menyerang dia. Dia membuat salib menjadi suatu simbol kekal dari kemenangan kasih atas kebencian dan kemenangan kebenaran atas kejahatan ketika dia berdoa, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Pengabdian kasih itu menular di seluruh alam semesta yang luas; para murid menangkapnya dari Guru mereka. Pengajar injil pertama yang dipanggil untuk menyerahkan nyawanya dalam pelayanan ini, berkata, saat mereka merajamnya dengan batu sampai mati, “Janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.”

Salib membuat daya tarik tertinggi kepada yang terbaik dalam manusia karena hal itu mengungkapkan dia yang bersedia meletakkan (menyerahkan) hidupnya dalam pelayanan untuk sesama manusia. Tidak ada kasih yang manusia dapat miliki yang lebih besar dari ini: bahwa dia bersedia untuk menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya -- dan Yesus memiliki kasih begitu rupa sehingga ia bersedia menyerahkan nyawanya untuk musuh-musuhnya, suatu kasih yang lebih besar daripada semua yang sampai saat itu dikenal di bumi.

Di dunia-dunia yang lain, demikian pula di Urantia, tontonan luhur tentang kematian manusia Yesus di atas salib Golgota ini telah mengaduk-aduk emosi manusia, sementara hal itu telah membangkitkan pengabdian tertinggi dari para malaikat.

Salib adalah simbol tinggi dari layanan suci itu, pengabdian hidup seseorang pada kesejahteraan dan keselamatan sesamanya. Salib itu bukanlah simbol pengorbanan Anak Tuhan yang tak berdosa menggantikan orang-orang berdosa yang bersalah dan dalam rangka meredakan murka Tuhan yang murka, tapi hal itu memang tegak selamanya, di bumi dan seluruh sebuah alam semesta yang luas, sebagai simbol sakral dari kebaikan yang memberikan diri mereka kepada kejahatan dan dengan demikian menyelamatkan mereka melalui pengabdian kasih ini sendiri. Salib berdiri sebagai tanda dari bentuk tertinggi dari pelayanan tanpa pamrih, pengabdian tertinggi dari anugerah penuh suatu hidup yang benar dalam pelayanan sepenuh hati, bahkan dalam kematian, mati di atas salib. Dan pandangan akan simbol besar dari kehidupan penganugerahan Yesus ini benar-benar mengilhami kita semua untuk ingin pergi dan berbuat begitu pula.

Ketika pria dan wanita yang berpikir melihat kepada Yesus saat dia mempersembahkan hidupnya di atas salib, mereka tidak akan mengizinkan diri mereka mengeluh bahkan pada kesulitan terberat dalam hidup, apalagi pada gangguan-gangguan kecil dan banyak keluhan mereka yang murni semu semata. Hidupnya begitu mulia dan kematiannya begitu berjaya sehingga kita semua tertarik pada kesediaan untuk berbagi keduanya. Ada daya tarik sesungguhnya dalam seluruh penganugerahan diri Mikhael, dari sejak masa mudanya sampai ke tontonan luar biasa kematiannya di atas salib ini.

Maka, pastikanlah, bahwa ketika kamu melihat salib sebagai pewahyuan dari Tuhan, kamu tidak melihat dengan mata manusia primitif maupun dengan sudut pandang orang barbar kemudian, yang keduanya menganggap Tuhan sebagai Penguasa tanpa ampun dengan keadilan keras dan penegakan hukum yang ketat. Sebaliknya, pastikan bahwa kamu melihat dalam salib manifestasi akhir dari kasih dan pengabdian Yesus untuk misi penganugerahan hidupnya kepada ras-ras manusia fana dari alam semestanya yang luas itu. Lihatlah dalam kematian Anak Manusia itu klimaks dari pengungkapan kasih ilahi Bapa bagi anak-anaknya di dunia-dunia fana. Salib dengan demikian menggambarkan pengabdian dari kasih sayang yang rela dan penganugerahan keselamatan yang sukarela ke atas mereka yang bersedia untuk menerima karunia dan pengabdian tersebut. Tidak ada apa-apa di salib yang Bapa wajibkan -- hanya apa yang Yesus secara sukarela berikan, dan yang dia tolak untuk dihindari.

Jika manusia belum bisa menghargai Yesus dan memahami makna dari penganugerahan dirinya di bumi, ia setidaknya bisa memahami persekutuan dari penderitaannya sebagai manusia. Jangan ada manusia yang kuatir bahwa Pencipta tidak mengetahui sifat atau taraf penderitaannya yang sementara itu.

Kita tahu bahwa kematian di atas salib adalah bukan untuk mendamaikan kembali manusia dengan Tuhan tetapi untuk membangkitkan kesadaranmanusia tentang kasih abadi-Nya Bapa dan rahmat tak berujung Putra-Nya, dan untuk menyiarkan kebenaran-kebenaran semesta ini ke alam semesta seluruhnya.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved