Makalah 187: Penyaliban

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 187

Penyaliban

SETELAH dua bandit itu disiapkan, para prajurit, di bawah pimpinan seorang perwira, berangkat ke tempat penyaliban. Perwira yang bertanggung jawab atas dua belas tentara ini adalah kapten yang sama yang memimpin pasukan Romawi malam sebelumnya untuk menangkap Yesus di Getsemani. Menjadi kebiasaan Romawi untuk menugaskan empat tentara untuk setiap orang yang akan disalibkan. Kedua penjahat itu didera cambuk sesuai aturan sebelum mereka dibawa keluar untuk disalibkan, tetapi Yesus tidak diberi hukuman badan lebih lanjut; si kapten tentulah berpikir dia sudah cukup didera, bahkan sebelum dia dijatuhi hukuman mati.

Dua bandit yang disalibkan bersama Yesus itu adalah rekan-rekan Barabas dan akan nanti dihukum mati bersama pemimpin mereka jika ia tidak dibebaskan sebagai pengampunan Paskah dari Pilatus. Yesus dengan demikian disalibkan menggantikan tempat Barabas.

Apa yang Yesus sekarang hendak lakukan, tunduk kepada kematian di atas salib, dia melakukannya karena kemauan bebasnya sendiri. Pada waktu meramalkan pengalaman ini, dia berkata: “Bapa mengasihi dan menyokong aku karena aku bersedia untuk meletakkan hidupku. Tapi aku akan mengambilnya lagi. Tidak ada yang mengambil hidupku dari aku—aku meletakkannya dari diriku sendiri. Aku memiliki wewenang untuk meletakkannya, dan aku memiliki wewenang untuk mengambilnya lagi. Aku telah menerima perintah seperti itu dari Bapaku.”

Tepat sebelum pukul sembilan pagi ini ketika para prajurit membawa Yesus dari praetorium dalam perjalanan ke Golgota. Mereka diikuti oleh banyak orang yang diam-diam bersimpati pada Yesus, tetapi sebagian besar dari kelompok dua ratus atau lebih ini adalah musuh-musuhnya atau para penganggur penasaran yang hanya ingin untuk menikmati kejutan menyaksikan penyaliban. Hanya beberapa pemimpin Yahudi yang keluar untuk melihat Yesus mati di atas salib. Mengetahui bahwa dia telah diserahkan kepada tentara Romawi oleh Pilatus, dan bahwa dia dihukum mati, mereka menyibukkan diri mereka dengan pertemuan mereka di bait suci, dimana mereka membahas apa yang harus dilakukan pada pengikut-pengikutnya.

1. Dalam Perjalanan ke Golgota

Sebelum meninggalkan halaman gedung praetorium, para prajurit menempatkan palang salib di bahu Yesus. Sudah menjadi kebiasaan untuk memaksa terhukum untuk membawa palang salib ke lokasi penyaliban. Terhukum tersebut tidak membawa seluruh salib, hanya balok kayu yang lebih pendek ini. Potongan balok kayu yang panjang dan tegak untuk tiga salib sudah dikirim ke Golgota dan, pada saat kedatangan para prajurit dan tahanan mereka, telah ditancapkan kuat di tanah.

Menurut kebiasaan, kapten memimpin arak-arakan, membawa papan putih kecil yang telah ditulisi dengan arang nama-nama para penjahat dan kejahatan karena apa mereka dijatuhi hukuman mati. Untuk dua bandit itu perwira itu membuat pemberitahuan nama mereka, lalu di bawahnya ditulis satu kata, “Penjahat.” Sudah menjadi kebiasaan, setelah korban dipakukan ke palang dan dinaikkan ke tempatnya ke atas kayu yang tegak, untuk memakukan pemberitahuan ini di bagian atas salib, tepat di atas kepala penjahat itu, sehingga semua saksi bisa tahu karena kejahatan apa terhukum itu disalibkan. Tulisan yang perwira itu bawa untuk dipasang pada salib Yesus telah ditulis oleh Pilatus sendiri dalam bahasa Latin, Yunani, dan Aram, dan itu dibaca: “Yesus dari Nazaret—Raja orang Yahudi.”

Beberapa penguasa Yahudi yang belum hadir ketika Pilatus menulis tulisan ini membuat protes keras terhadap sebutan Yesus “Raja orang Yahudi.” Tapi Pilatus mengingatkan mereka bahwa tuduhan tersebut adalah bagian dari dakwaan yang menyebabkan dia dihukum. Ketika orang-orang Yahudi melihat mereka tidak bisa membujuk Pilatus untuk berubah pikiran, mereka memohon agar setidaknya itu diubah sehingga terbaca, “Dia berkata, 'Aku adalah Raja orang Yahudi.'” Tapi Pilatus bersikeras; ia tidak mau mengubah tulisan itu. Terhadap semua permohonan lebih lanjut ia hanya menjawab, “Apa yang telah aku tulis, aku telah tulis.”

Biasanya, menjadi kebiasaan untuk melakukan perjalanan ke Golgota melalui jalan terpanjang agar sejumlah besar orang bisa melihat penjahat yang dihukum itu, tetapi pada hari ini mereka pergi melalui rute yang paling langsung ke gerbang Damaskus, yang mengarah keluar dari kota ke utara, dan mengikuti jalan ini, mereka segera tiba di Golgota, tempat penyaliban resmi di Yerusalem. Melewati Golgota ada vila-vila orang kaya, dan di sisi lain jalan ada makam banyak orang Yahudi terhormat.

Penyaliban bukanlah modus hukuman Yahudi. Baik orang Yunani maupun Romawi belajar metode eksekusi ini dari orang Fenisia. Bahkan Herodes, dengan segala kekejamannya, tidak memilih penyaliban. Bangsa Romawi tidak pernah menyalibkan seorang warga Romawi; hanya budak dan orang-orang jajahan yang dikenai cara kematian yang tidak terhormat ini. Selama pengepungan Yerusalem, hanya empat puluh tahun setelah penyaliban Yesus, seluruh Golgota ditutupi oleh beribu-ribu salib, di atas mana, dari hari ke hari, musnahlah kesuma bangsa Yahudi. Tuaian yang mengerikan, memang, dari taburan benih hari ini.

Sementara prosesi kematian itu lewat sepanjang jalan-jalan sempit Yerusalem, banyak perempuan Yahudi yang berhati lembut yang telah mendengar kata-kata gembira dan belas kasihan dari Yesus, dan yang kenal kehidupan pelayanan kasihnya, tidak bisa menahan tangisan ketika mereka melihat dia sedang dibawa ke kematian yang begitu tercela. Saat dia lewat, banyak dari perempuan ini meraung dan meratap. Dan ketika beberapa dari mereka bahkan berani untuk mengikuti di sisinya, Guru memalingkan kepalanya ke arah mereka dan berkata: “Putri-putri Yerusalem, janganlah kalian menangisi aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu. Pekerjaanku hampir selesai—segera aku pergi kepada Bapaku—tetapi masa-masa sulit yang mengerikan bagi Yerusalem baru dimulai. Lihatlah, waktunya akan datang ketika kalian akan berkata: Diberkatilah mereka yang mandul dan mereka yang tidak pernah menyusui bayi mereka. Pada hari-hari itu kalian akan berdoa agar batu-batu dari bukit jatuh menimpa kalian agar kalian dapat dilepaskan dari kengerian masalah kalian.”

Para wanita Yerusalem ini memang berani untuk menunjukkan simpati bagi Yesus, karena benar-benar melanggar hukum jika menunjukkan perasaan bersahabat bagi orang yang sedang dibawa ke penyaliban. Diizinkan bagi rakyat jelata untuk mengejek, mencemooh, dan mencaci-maki terhukum, tapi tidak diperbolehkan simpati apapun diungkapkan. Meskipun Yesus menghargai pernyataan simpati dalam saat kelam ini ketika teman-temannya berada dalam persembunyian, dia tidak ingin wanita-wanita yang lembut hati ini mendatangkan ketidak-senangan para penguasa karena berani menunjukkan belas kasihan demi dirinya. Bahkan pada saat yang seperti itu Yesus berpikir sedikit tentang dirinya sendiri, tetapi hanya tentang hari-hari mengerikan tragedi di depan terhadap Yerusalem dan seluruh bangsa Yahudi.

Sementara Guru melangkah susah payah sepanjang jalan ke penyaliban, dia sangat lelah; dia hampir kehabisan tenaga. Dia tidak mendapat makanan atau air sejak Perjamuan Terakhir di rumah Elia Markus; dia tidak juga diizinkan untuk menikmati tidur sejenak pun. Tambahan lagi, satu sidang dilakukan tepat setelah sidang sebelumnya sampai jam penghukumannya, belum lagi deraan kasar yang berakibat penderitaan badan dan kehilangan darah. Ditumpangkan ke atas semua ini adalah penderitaan mentalnya yang ekstrim, ketegangan rohaninya yang akut, dan suatu perasaan kesepian manusiawi yang mengerikan.

Tak lama setelah melewati gerbang pada perjalanan keluar dari kota, saat Yesus terhuyung-huyung memikul palang kayu, kekuatan badannya sejenak menyerah, dan dia jatuh di bawah bobot bebannya yang berat. Para prajurit berteriak kepadanya dan menendangnya, tapi dia tidak dapat bangun. Ketika kapten melihat ini, mengetahui apa yang Yesus sudah tanggung, ia memerintahkan para prajurit itu untuk berhenti. Kemudian ia menyuruh seorang yang lewat, seorang bernama Simon dari Kirene, untuk mengambil palang dari bahu Yesus dan memaksanya untuk membawanya pada sisa perjalanan ke Golgota.

Orang bernama Simon ini telah datang jauh-jauh dari Kirene, di Afrika Utara, untuk menghadiri Paskah. Dia sedang berhenti sebentar dengan orang-orang Kirene lain tepat di luar tembok kota dan sedang dalam perjalanan ke ibadah bait suci di dalam kota ketika kapten Romawi memerintahkan dia untuk membawa palang salibnya Yesus. Simon tetap bertahan di situ sepanjang jam kematian Guru di atas salib, berbicara dengan banyak teman-temannya dan dengan musuh-musuhnya. Setelah kebangkitan dan sebelum meninggalkan Yerusalem, ia menjadi orang percaya yang berani dalam injil kerajaan, dan ketika ia pulang, ia memimpin keluarganya masuk ke dalam kerajaan surga. Kedua putranya, Aleksander dan Rufus, menjadi guru-guru injil baru yang sangat efektif di Afrika. Namun Simon tidak pernah tahu bahwa Yesus, yang bebannya ia pikul itu, dan tutor Yahudi yang dulu pernah berteman dengan anaknya yang terluka itu, adalah orang yang sama.

Tak lama setelah jam sembilan ketika arak-arakan kematian ini tiba di Golgota, dan para prajurit Romawi mengatur diri mereka untuk tugas memakukan dua penjahat dan Anak Manusia di salib mereka masing-masing.

2. Penyaliban

Para prajurit pertama-tama mengikat lengan Guru dengan tali ke palang salib, dan kemudian mereka memakukan tangannya ke kayu itu. Setelah mereka menaikkan palang ini di atas tiang, dan setelah mereka memakukannya dengan kuat ke kayu salib yang tegak, mereka mengikat dan memakukan kakinya ke kayu, menggunakan satu paku panjang untuk menembus kedua kaki. Kayu yang tegak memiliki sebuah pasak besar, yang dipasang pada ketinggian tertentu, yang berfungsi sebagai semacam sadel (dudukan) untuk mendukung berat badan. Salib itu tidak tinggi, kakinya Guru hanya sekitar satu meter dari tanah. Karena itu dia dapat mendengar semua yang dikatakan tentang dia dengan berolok-olok dan dengan jelas bisa melihat ekspresi di wajah semua orang yang tanpa berpikir mengejeknya. Dan juga mereka yang hadir dengan mudah bisa mendengar semua yang dikatakan Yesus selama jam-jam penyiksaan yang lama dan kematian yang perlahan-lahan ini.

Menjadi kebiasaan untuk melepas semua pakaian dari mereka yang akan disalibkan, tapi karena orang-orang Yahudi sangat keberatan pada paparan di depan umum dari wujud manusia telanjang, orang Romawi selalu menyediakan kain pinggang yang sesuai untuk semua orang yang disalibkan di Yerusalem. Dengan demikian, setelah pakaian Yesus ditanggalkan, dia diberi pakaian seperti itu sebelum dia ditaruh di atas salib.

Penyaliban itu dipilih untuk memberikan hukuman yang kejam dan lama, korban kadang-kadang belum mati selama beberapa hari. Ada sentimen yang cukup besar melawan penyaliban di Yerusalem, dan di sana ada sebuah masyarakat wanita Yahudi yang selalu mengirim perwakilan ke penyaliban dengan tujuan menawarkan anggur bius kepada korban dalam rangka untuk mengurangi penderitaannya. Tetapi ketika Yesus mencicipi anggur yang diberi obat bius ini, sekalipun dia haus sekali, namun dia menolak untuk meminumnya. Guru memilih untuk mempertahankan kesadaran manusiawinya sampai pada akhirnya. Dia ingin menghadapi kematian, bahkan dalam bentuk yang kejam dan tidak manusiawi ini, dan menaklukkannya dengan penyerahan sukarela pada pengalaman manusia penuh.

Sebelum Yesus ditaruh di atas salibnya, kedua penjahat itu sudah ditempatkan pada salib mereka, semua sambil mengutuk dan meludah pada algojo-algojo mereka. Satu-satunya kata Yesus, saat mereka memakukan dia ke palang salib, adalah, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” Dia tidak bisa bersyafaat begitu penuh rahmat dan penuh kasih bagi para algojonya jika saja pikiran-pikiran pengabdian kasih sayangnya tidak menjadi motivasi utama seluruh hidup pelayanannya yang tidak mementingkan diri itu. Ide-ide, motif-motif, dan kerinduan-kerinduan seumur hidup itu secara terbuka terungkap dalam suatu krisis.

Setelah Guru dinaikkan ke atas salib, kapten memakukan gelar di atas kepalanya, dan terbaca dalam tiga bahasa, “Yesus dari Nazaret—Raja orang Yahudi.” Orang-orang Yahudi menjadi murka oleh hal ini yang mereka anggap hinaan. Tapi Pilatus dongkol oleh cara tidak sopan mereka; ia merasa telah diintimidasi dan dipermalukan, dan ia mengambil metode ini untuk mendapatkan balas dendam kecil-kecilan. Ia bisa menulis “Yesus, pemberontak.” Tapi dia juga tahu bagaimana orang-orang Yahudi Yerusalem ini membenci nama Nazaret itu sendiri, dan ia bertekad begitu untuk mempermalukan mereka. Ia tahu bahwa mereka juga akan tersinggung seketika dengan melihat orang Galilea yang dieksekusi ini disebut “Raja orang Yahudi.”

Banyak dari para pemimpin Yahudi, ketika mereka tahu bagaimana Pilatus telah berusaha untuk mencemooh mereka dengan menempatkan tulisan ini di atas salib Yesus, bergegas keluar ke Golgota, tetapi mereka tidak berani mencoba untuk mengambilnya karena tentara Romawi berdiri menjaga. Karena tidak mampu membuang gelar itu, para pemimpin ini berbaur dengan orang banyak dan berbuat sebisa mereka untuk membangkitkan ejekan dan cemoohan, supaya jangan menganggap serius tulisan itu.

Rasul Yohanes, bersama Maria, ibu Yesus, Rut, dan Yudas, tiba di tempat kejadian tepat setelah Yesus dinaikkan ke posisinya di atas salib, dan pada saat kapten sedang memakukan tulisan di atas kepalanya Guru. Yohanes adalah satu-satunya dari sebelas rasul yang menyaksikan penyaliban, dan bahkan ia tidak hadir sepanjang waktu karena ia berlari masuk Yerusalem untuk membawa kembali ibunya dan teman-temannya segera setelah ia membawa ibunya Yesus ke tempat kejadian.

Ketika Yesus melihat ibunya, bersama Yohanes dan adik-adiknya, dia tersenyum tetapi tidak berkata apa-apa. Sementara itu empat prajurit yang ditugasi untuk penyaliban Guru, seperti kebiasaan, telah membagi pakaiannya di antara mereka, satu orang mengambil sandal, satu sorban, satu ikat pinggang, dan yang keempat mantel. Tersisalah tunik, atau jubah tanpa jahitan yang sampai mencapai ke dekat lutut, yang hendak dipotong menjadi empat bagian, tetapi ketika para prajurit melihat bagaimana tidak umumnya pakaian itu, mereka memutuskan untuk membuang undi untuk itu. Yesus memandang ke bawah kepada mereka sementara mereka membagi pakaiannya, dan kerumunan orang-orang yang tidak berpikir itu mencemooh dia.

Benarlah bahwa tentara Romawi yang mengambil pakaiannya Guru. Jika tidak, jika pengikutnya memiliki pakaian-pakaian ini, mereka akan tergoda untuk berpindah ke penyembahan benda suci yang takhyul. Guru ingin agar para pengikutnya tidak memiliki apapun yang bersifat materi untuk dihubungkan dengan hidupnya di bumi. Dia ingin meninggalkan pada umat manusia hanya kenangan tentang kehidupan seorang manusia yang diabdikan pada cita-cita rohani tinggi yang disucikan untuk melakukan kehendak Bapa.

3. Mereka yang Melihat Penyaliban

Sekitar jam setengah sepuluh hari Jumat pagi ini, Yesus digantung di atas salib. Sebelum jam sebelas, lebih dari seribu orang telah berkumpul untuk menyaksikan tontonan penyaliban Anak Manusia ini. Sepanjang jam-jam mengerikan ini kawanan gaib sebuah alam semesta berdiri dalam hening sementara mereka menatap pada fenomena luar biasa Sang Pencipta saat ia sedang mengalami sekarat ajal makhluk, bahkan kematian yang paling hina dari penjahat yang dihukum.

Berdiri dekat salib pada satu waktu atau lainnya selama penyaliban itu adalah Maria, Rut, Yudas, Yohanes, Salome (ibu Yohanes), dan sekelompok perempuan yang percaya sungguh-sungguh termasuk Maria istri Klopas dan saudari ibunya Yesus, Maria Magdalena, dan Ribka, mantan dari Sepphoris. Mereka ini dan teman-teman Yesus lainnya menahan ketenangan mereka sementara mereka menyaksikan kesabaran dan ketabahannya yang besar dan menatap penderitaannya yang hebat.

Banyak orang yang lewat menggelengkan kepala mereka dan, sambil mencerca dia, mengatakan: “Kamu yang mau menghancurkan Bait Suci dan membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkan dirimu sendiri. Jika kamu Anak Allah, mengapa kamu tidak turun dari salibmu?” Dengan cara serupa beberapa penguasa orang Yahudi mengejek dia, mengatakan, “Dia menyelamatkan orang lain, tapi dirinya sendiri ia tidak dapat selamatkan.” Lainnya berkata, “Jika kamu adalah raja orang Yahudi, turun dari salib, dan kami akan percaya kepadamu.” Dan belakangan mereka tambah mengejek dia lagi, dengan mengatakan: “Dia percaya Allah akan membebaskan dia. Dia bahkan mengaku sebagai Anak Allah—lihat dia sekarang—disalibkan di antara dua penjahat.” Bahkan dua penjahat itu juga menghujat dia dan melemparkan celaan atasnya.

Berhubung Yesus tidak mau membuat jawaban terhadap ejekan mereka, dan karena sudah mendekati tengah hari pada hari persiapan khusus ini, menjelang jam setengah dua belas sebagian besar kerumunan pengolok-olok dan pencemooh telah pergi; kurang dari lima puluh orang masih di tempat kejadian. Para prajurit sekarang bersiap untuk makan siang dan minum anggur asam murahan mereka sementara mereka duduk untuk penungguan kematian yang panjang. Saat mereka minum anggur mereka, mereka dengan mengejek menawarkan bersulang kepada Yesus, mengatakan, “Salam dan nasib baik! kepada raja orang Yahudi.” Dan mereka heran akan pandangan toleran Guru terhadap ejekan dan makian mereka.

Ketika Yesus melihat mereka makan dan minum, dia melihat ke bawah atas mereka dan berkata, “aku haus.” Ketika kapten penjaga mendengar Yesus berkata, “aku haus,” ia mengambil sedikit air anggur dari botolnya dan, menaruh spons penutup botol yang basah itu di ujung sebuah tombak, mengangkatnya kepada Yesus sehingga dia bisa membasahi bibirnya yang kering.

Yesus telah bermaksud untuk hidup tanpa mempergunakan kuasa adikodratinya, dan dia demikian juga memilih untuk meninggal sebagai manusia biasa di atas salib. Dia telah hidup sebagai seorang manusia, dan dia ingin mati sebagai seorang manusia—melakukan kehendak Bapa.

4. Penjahat di atas Salib

Salah satu bandit itu mengumpat kepada Yesus, katanya: “Jika kamu Anak Allah, kenapa tidak menyelamatkan dirimu dan kami?” Tapi setelah ia mencela Yesus, bandit satunya, yang telah berkali-kali mendengar Guru mengajar, berkata: “Apakah kamu tidak takut pada Allah? Tidakkah kamu lihat bahwa kita menderita secara adil karena perbuatan kita, tetapi orang ini menderita secara tidak adil? Lebih baik kita harusnya mencari pengampunan atas dosa-dosa kita dan keselamatan bagi jiwa kita.” Ketika Yesus mendengar penjahat itu mengatakan ini, dia memalingkan wajahnya ke arahnya dan tersenyum menyetujui. Ketika si penjahat itu melihat wajah Yesus berpaling ke arahnya, ia mengerahkan keberaniannya, mengipasi nyala imannya yang berkelip-kelip, dan berkata, “Tuhan, ingatlah akan aku apabila engkau datang ke dalam kerajaanmu.” Lalu Yesus berkata, “Sesungguhnya, aku berkata kepadamu hari ini, kamu suatu waktu nanti akan bersama aku di Firdaus.”

Guru masih memiliki waktu di tengah-tengah sengatan pedihnya maut untuk mendengarkan pengakuan iman dari bandit yang percaya itu. Ketika penjahat ini mencari keselamatan, ia menemukan kebebasan. Banyak kali sebelum ini ia telah cenderung untuk percaya kepada Yesus, tetapi hanya dalam jam-jam terakhir kesadaran ini ia berpaling dengan sepenuh hati kepada ajarannya Guru. Ketika ia melihat cara bagaimana Yesus menghadapi maut di atas salib, penjahat ini tidak bisa lagi menolak keyakinan bahwa Anak Manusia ini memang Anak Tuhan.

Selama episode pertobatan dan penerimaan penjahat ini ke dalam kerajaan oleh Yesus, Rasul Yohanes tidak hadir, karena telah pergi ke dalam kota untuk membawa ibunya dan teman-temannya ke tempat penyaliban. Lukas kemudian mendengar cerita ini dari kapten penjaga Romawi yang bertobat.

Rasul Yohanes menceritakan tentang penyaliban itu seperti yang dia ingat peristiwa itu dua pertiga abad setelah kejadiannya. Catatan lain didasarkan pada kisah dari perwira Romawi yang bertugas itu, yang karena apa yang ia lihat dan dengar, kemudian percaya Yesus dan masuk ke dalam persekutuan penuh kerajaan surga di bumi.

Orang muda ini, penjahat yang bertobat ini, telah terbawa ke dalam kehidupan kekerasan dan perbuatan salah oleh orang-orang yang memuja-muja karier perampokan tersebut sebagai protes patriotik yang efektif melawan penindasan politik dan ketidakadilan sosial. Dan jenis ajaran semacam ini, ditambah dorongan untuk petualangan, menyebabkan banyak pemuda lainnya yang berniat baik mendaftar dalam ekspedisi-ekspedisi perampokan yang berani ini. Anak muda ini telah memandang Barabas sebagai pahlawan. Sekarang ia melihat bahwa ia telah keliru. Di sini di kayu salib di sampingnya ia melihat seseorang yang benar-benar hebat, seorang pahlawan sejati. Di sini ada seorang pahlawan yang menyalakan semangatnya dan mengilhamkan ide-ide tertinggi tentang harga diri moral dan membangkitkan semua ideal-idealnya tentang keberanian, kejantanan, dan kewiraan. Pada waktu menyaksikan Yesus, bangkitlah di dalam hatinya suatu rasa kasih, kesetiaan, dan kebesaran sejati yang luar biasa.

Dan jika ada orang lain di antara orang banyak yang mencemooh itu mengalami kelahiran iman di dalam jiwanya dan telah memohon rahmat dari Yesus, ia tentulah akan diterima dengan pertimbangan penuh kasih yang sama dengan yang ditunjukkan kepada perampok yang percaya itu.

Tepat setelah perampok yang bertobat itu mendengar janji Guru bahwa mereka suatu waktu nanti akan bertemu di Firdaus, Yohanes kembali dari kota, dengan membawa ibunya dan serombongan hampir selusin perempuan percaya. Yohanes mengambil tempatnya dekat Maria, ibu Yesus, mendukung dia. Anaknya Yudas berdiri di sisi lain. Ketika Yesus melihat ke bawah pada adegan ini, saat itu tengah hari, dan dia berkata kepada ibunya, “Ibu, lihatlah itu anakmu!” Dan berbicara dengan Yohanes, dia berkata, “Anakku, lihatlah itu ibumu!” Dan kemudian dia berbicara kepada mereka berdua, mengatakan, “aku ingin agar kalian pergi dari tempat ini.” Maka Yohanes dan Yudas membawa Maria menjauh dari Golgota. Yohanes membawa ibu Yesus ke tempat dimana ia tinggal di Yerusalem dan kemudian bergegas kembali ke tempat penyaliban. Setelah Paskah Maria kembali ke Betsaida, dimana ia tinggal di rumah Yohanes sepanjang sisa hidupnya di dunia. Maria hidup tidak sampai satu tahun setelah kematian Yesus.

Setelah Maria pergi, para wanita lain mundur tidak jauh dan tetap mendampingi Yesus sampai dia wafat di atas salib, dan mereka masih berdiri di dekat itu ketika tubuh Guru diturunkan untuk dimakamkan.

5. Jam Terakhir di atas Salib

Meskipun terlalu awal pada musim untuk fenomena seperti itu, tak lama setelah jam dua belas langit digelapkan oleh karena pasir halus di udara. Orang-orang Yerusalem tahu bahwa ini berarti akan datang suatu badai pasir angin panas dari gurun Arab. Sebelum jam satu langit begitu gelap sehingga matahari tertutup, dan sisa kerumunan bergegas kembali ke kota. Ketika Guru menyerahkan hidupnya tak lama setelah jam ini, kurang dari tiga puluh orang yang hadir, hanya tiga belas tentara Romawi dan sekelompok sekitar lima belas orang percaya. Orang-orang percaya ini semua wanita kecuali dua, Yudas adik Yesus, dan Yohanes Zebedeus, yang kembali ke tempat kejadian tepat sebelum Guru wafat.

Tak lama setelah jam satu, di tengah meningkatnya kegelapan akibat badai pasir yang ganas, Yesus mulai kehilangan kesadaran manusiawinya. Kata-kata terakhirnya untuk rahmat, pengampunan, dan peringatan telah diucapkan. Keinginan terakhirnya—mengenai perawatan ibunya—telah disampaikan. Selama jam mendekati kematian ini batin manusiawi Yesus beralih ke pengulangan banyak bagian dalam kitab suci Ibrani, khususnya Mazmur. Pikiran sadar terakhir dari manusia Yesus itu diisi dengan pengulangan dalam pikirannya suatu bagian dari Kitab Mazmur yang sekarang dikenal sebagai Mazmur kedua puluh, dua puluh satu, dan dua puluh dua. Meskipun bibirnya sering bergerak, ia terlalu lemah untuk mengucapkan kata-kata sementara ayat-ayat ini, yang dia begitu kenal baik di hati, mengalir melewati pikirannya. Hanya beberapa kali mereka yang berdiri menangkap beberapa ucapan, seperti, “Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya,” “Tangan-Mu akan menjangkau semua musuhku,” dan “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Yesus tidak sama sekali selama sesaat menyimpan keraguan sedikitpun mengenai bahwa dia telah hidup sesuai dengan kehendak Bapa; dan dia tidak pernah meragukan bahwa dia sekarang meletakkan hidupnya dalam daging sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. Dia tidak merasa bahwa Bapa telah meninggalkannya; dia hanya mengucapkan dalam kesadarannya yang menghilang itu banyak ayat Kitab Suci, di antaranya Mazmur dua puluh dua ini, yang dimulai dengan “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Dan ini kebetulan menjadi salah satu dari tiga bagian ayat yang diucapkan dengan kejelasan yang cukup untuk didengar oleh orang-orang yang berdiri di dekatnya.

Permintaan terakhir yang manusia Yesus buat kepada sesamanya adalah sekitar jam setengah dua ketika, untuk kedua kalinya, dia berkata, “Aku haus,” dan kapten penjaga yang sama itu membasahi bibirnya lagi dengan spons yang sama, yang dibasahi anggur asam, yang pada hari-hari itu umumnya disebut cuka.

Badai pasir menjadi semakin kuat dan langit semakin gelap. Para tentara dan kelompok kecil orang percaya masih berdiri. Para prajurit berjongkok dekat salib, meringkuk bersama-sama untuk melindungi diri mereka dari pasir yang tajam. Ibunya Yohanes dan yang lain menyaksikan dari jarak jauh dimana mereka agak terlindung oleh sebuah batu yang menggantung. Ketika Guru pada akhirnya menghembuskan napas terakhirnya, ada hadir di kaki salibnya Yohanes Zebedeus, adik lelakinya Yudas, adik perempuannya Rut, Maria Magdalena, dan Ribka, yang dulu dari Sepphoris.

Tepat sebelum jam tiga ketika Yesus, dengan suara nyaring, berseru, “Sudah selesai! Bapa, ke dalam tangan-Mu aku serahkan rohku.” Dan setelah dia berbicara demikian, dia menundukkan kepalanya dan menghentikan perjuangan hidup. Ketika perwira Romawi itu melihat bagaimana Yesus meninggal, ia memukul dadanya dan berkata: “Ini memang orang benar; sungguh dia pastilah Anak Tuhan.” Dan sejak jam itu ia mulai percaya Yesus.

Yesus wafat seperti raja—seperti dia telah hidup. Dia dengan bebas mengaku dirinya sebagai raja dan tetap menguasai keadaan di sepanjang hari yang tragis itu. Dia pergi dengan rela untuk kematiannya yang hina itu, setelah dia mempersiapkan keamanan rasul-rasul pilihannya. Dia dengan bijaksana mencegah kekerasan dari Petrus yang membuat masalah dan mengatur agar Yohanes bisa berada di dekatnya sampai ke akhir kehidupan fananya. Dia mengungkapkan sifat sejatinya kepada Sanhedrin yang garang itu dan mengingatkan Pilatus tentang sumber wewenang kedaulatannya sebagai Anak Tuhan. Dia berangkat ke Golgota memikul palang salibnya sendiri dan menyelesaikan penganugerahan kasihnya dengan menyerahkan roh dari perolehan manusia kepada Bapa Firdaus. Setelah hidup yang seperti itu—dan pada kematian yang seperti itu—Guru benar-benar dapat berkata, “Sudah selesai.”

Karena ini adalah hari persiapan untuk Paskah maupun hari Sabat, orang-orang Yahudi tidak mau tubuh-tubuh ini ditonton terbuka di Golgota. Oleh karena itu mereka pergi menghadap Pilatus meminta agar kaki-kaki ketiga orang itu dipatahkan, agar mereka dibunuh, sehingga mereka bisa diturunkan dari salib mereka dan dilemparkan ke dalam lubang pemakaman penjahat sebelum matahari terbenam. Ketika Pilatus mendengar permintaan ini, ia segera mengirim tiga tentara untuk mematahkan kaki dan membunuh Yesus serta dua bandit itu.

Ketika tentara-tentara ini tiba di Golgota, mereka lakukan sesuai perintah terhadap dua perampok itu, tetapi mereka menemukan Yesus sudah mati, yang amat mengherankan mereka. Namun demikian, dalam rangka memastikan kematiannya, salah seorang prajurit itu menikam lambung kirinya dengan tombaknya. Meskipun biasa bagi para korban penyaliban untuk masih berlama-lama hidup di atas kayu salib bahkan sampai dua atau tiga hari, penderitaan emosional yang luar biasa dan penderitaan rohani akut Yesus mengakhiri kehidupan fananya dalam daging dalam waktu sedikit kurang dari lima setengah jam.

6. Setelah Penyaliban

Di tengah kegelapan badai pasir, sekitar jam setengah empat, Daud Zebedeus mengirim keluar utusan-utusan yang terakhir yang membawa kabar tentang kematian Guru. Yang terakhir dari pelarinya ia berangkatkan ke rumah Marta dan Maria di Betania, dimana ia mengira ibu Yesus singgah sementara di situ bersama anggota keluarganya yang lain.

Setelah kematian Guru, Yohanes mengirim para perempuan, dipimpin Yudas, ke rumah Elia Markus, dimana mereka menunggu selama hari Sabat. Yohanes sendiri, karena dikenal baik sebelum saat ini oleh perwira Romawi itu, tetap di Golgota sampai Yusuf dan Nikodemus tiba di tempat kejadian dengan perintah dari Pilatus memberi wewenang mereka untuk mengambil jenazah Yesus.

Maka berakhirlah hari tragedi dan duka untuk sebuah alam semesta luas yang mana tak terhitung makhluk-makhluk cerdas telah menggigil melihat tontonan mengejutkan dari penyaliban manusia penjelmaan Penguasa terkasih mereka; mereka tercengang oleh pameran ketanpa-perasaan dan kebusukan manusia ini.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved