Makalah 166: Kunjungan Terakhir ke Perea Utara

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 166

Kunjungan Terakhir ke Perea Utara

DARI tanggal 11 hingga 20 Februari, Yesus dan dua belas membuat perjalanan keliling ke semua kota dan desa-desa di Perea bagian utara dimana rekan-rekan sekerja Abner dan para anggota korps wanita sedang bekerja. Mereka mendapati para utusan injil ini menemui keberhasilan, dan Yesus berulang kali menujukan perhatian para rasulnya pada fakta bahwa injil kerajaan itu bisa menyebar tanpa iringan mujizat dan keajaiban.

Seluruh misi tiga bulan di Perea ini berhasil dijalankan dengan sedikit bantuan dari dua belas rasul, dan injil sejak dari waktu ini tercermin tidak terlalu banyak pada kepribadiannya Yesus, melainkan lebih pada ajaran-ajarannya. Namun para pengikutnya tidak lama mengikuti instruksinya, karena segera setelah kematian dan kebangkitan Yesus mereka menyimpang dari ajaran-ajarannya dan mulai membangun gereja mula-mula seputar konsep-konsep mujizat dan kenangan-kenangan yang diagungkan tentang kepribadian manusiawi-ilahinya.

1. Orang-orang Farisi di Ragaba

Pada hari Sabat, 18 Februari, Yesus berada di Ragaba, dimana hiduplah seorang Farisi kaya bernama Natanael; dan karena cukup banyak rekannya sesama orang Farisi mengikuti Yesus dan dua belas berkeliling negeri, ia menyiapkan makan pagi pada hari Sabat pagi ini untuk mereka semua, sekitar dua puluh jumlahnya, dan mengundang Yesus sebagai tamu kehormatan.

Pada saat Yesus tiba pada acara makan pagi ini, sebagian besar orang-orang Farisi, bersama dua atau tiga ahli hukum, sudah berada di sana dan duduk di meja. Guru segera menempati tempat duduknya di sebelah kiri Natanael tanpa pergi ke baskom air untuk mencuci tangannya. Banyak dari orang-orang Farisi, terutama mereka yang setuju pada ajaran Yesus, tahu bahwa ia mencuci tangannya hanya untuk tujuan kebersihan, bahwa ia membenci pertunjukan yang murni seremonial ini; maka mereka tidak terkejut oleh kedatangannya langsung ke meja sebelum dua kali mencuci tangannya. Tapi Natanael terkejut oleh ketidak-taatan Guru pada persyaratan ketat dari kebiasaan orang Farisi ini. Yesus juga tidak mencuci tangannya, seperti yang dilakukan orang-orang Farisi, setelah setiap sajian makanan maupun pada akhir makan.

Setelah banyak bisik-bisik antara Natanael dan seorang Farisi yang tidak bersahabat di sebelah kanannya dan setelah banyak angkat alis dan cibiran bibir oleh mereka yang duduk di seberang Guru, Yesus akhirnya berkata: “Aku telah berpikir bahwa engkau mengundangku ke rumah ini untuk memecahkan roti dengan engkau dan barangkali untuk menanyai aku tentang pemberitaan injil baru tentang kerajaan Allah; tapi aku merasa bahwa engkau telah membawaku kemari untuk menyaksikan pameran bakti keupacaraan untuk kebenaran dirimu sendiri. Layanan seperti itu engkau berikan padaku; dengan apa berikutnya engkau akan menghormati aku sebagai tamumu pada acara ini?”

Setelah Guru bersabda demikian, mereka menatap ke atas meja dan tetap diam. Karena tidak ada yang berbicara, Yesus melanjutkan: “Banyak dari kamu orang Farisi ada di sini bersama aku sebagai teman, beberapa bahkan murid-muridku, namun sebagian besar orang-orang Farisi itu tetap dalam penolakan mereka untuk melihat terang dan mengakui kebenaran, bahkan ketika pekerjaan injil dibawa ke hadapan mereka dalam kuasa yang besar. Bagaimana dengan hati-hatinya kamu membersihkan bagian luar cawan dan piring-piring sementara bejana-bejana makanan-rohani itu kotor dan tercemar! Kamu memastikan untuk menyajikan penampilan yang saleh dan kudus pada orang-orang, tapi jiwa bagian dalammu itu dipenuhi kebenaran diri sendiri, ketamakan, pemerasan, dan segala macam kebejatan rohani. Pemimpin kamu bahkan berani untuk merancang dan merencanakan pembunuhan terhadap Anak Manusia. Apakah kamu orang-orang bodoh tidak mengerti bahwa Allah di surga melihat pada motif-motif bagian dalam dari jiwa demikian pula pada kepura-puraan tampak luar dan penampilan saleh kamu? Jangan berpikir bahwa pemberian sedekah dan membayar zakat akan membersihkan kamu dari ketidakbenaran dan memungkinkan kamu untuk berdiri bersih di hadapan Hakim semua manusia. Celakalah kamu orang-orang Farisi yang terus bertahan menolak terang hidup! Kamu sangat teliti dalam zakat persepuluhan dan berlagak dalam memberi sedekah, tapi kamu dengan sadar menolak kunjungan Allah dan menolak pewahyuan kasih-Nya. Meskipun adalah baik bagi kamu untuk memberikan perhatian kepada tugas-tugas kecil ini, kamu seharusnya tidak membiarkan kewajiban-kewajiban yang lebih berat ini tidak dikerjakan. Celakalah atas semua mereka yang menghindari keadilan, memandang rendah rahmat, dan menolak kebenaran! Celakalah semua yang memandang hina pewahyuan dari Bapa sementara mereka mencari kursi-kursi kepala di rumah ibadah dan mendambakan salam-salam sanjungan di pasar-pasar!”

Ketika Yesus hendak bangkit untuk pergi, salah satu ahli hukum yang berada di meja, berbicara padanya, mengatakan: “Tapi, Guru, dalam beberapa pernyataanmu, engkau mencela kami juga. Apakah tidak ada yang baik dalam ahli-ahli kitab, orang-orang Farisi, atau ahli-ahli hukum?” Dan Yesus, sambil berdiri, menjawab pada ahli hukum itu: “Kamu, seperti orang Farisi, senang berada di tempat-tempat terdepan di pesta-pesta dan mengenakan jubah panjang sementara kamu meletakkan beban-beban yang berat, pedih untuk ditanggung, di atas bahu orang-orang. Dan ketika jiwa-jiwa manusia itu terhuyung-huyung di bawah beban berat ini, kamu tidak mau mengangkatnya dengan hanya satu jari pun. Celakalah kamu yang mendapatkan kesenangan terbesar kamu dengan membangun makam-makam untuk nabi-nabi yang bapa-bapamu bunuh! Dan bahwa kamu menyetujui apa yang dibuat bapa-bapamu itu dinyatakan ketika kamu kini merencanakan untuk membunuh mereka yang datang di hari ini untuk melakukan apa yang dilakukan para nabi di hari mereka—yaitu menyatakan kebenaran Allah dan mengungkapkan rahmat dari Bapa surgawi. Namun dari semua generasi yang lalu, darah para nabi dan para rasul akan dituntut dari generasi yang jahat dan merasa benar sendiri ini. Celakalah kamu semua ahli-ahli hukum yang telah mengambil kunci pengetahuan dari orang-orang kebanyakan! Kamu sendiri menolak untuk masuk ke dalam jalan kebenaran, dan pada saat yang sama kamu hendak menghambat semua orang lain yang berusaha untuk masuk ke dalamnya. Tapi kamu tidak bisa begitu saja menutup pintu-pintu kerajaan surga; pintu-pintu ini kami telah buka untuk semua orang yang memiliki iman untuk masuk, dan gerbang-gerbang rahmat ini tidak akan ditutup oleh prasangka dan keangkuhan dari guru-guru palsu dan gembala-gembala tidak benar yang seperti kuburan dilabur putih yang, meskipun luarnya tampak indah, di dalamnya penuh tulang orang mati dan segala macam kenajisan rohani.”

Setelah Yesus selesai berbicara di meja Natanael, dia keluar dari rumah tanpa ikut serta makan. Dan dari antara orang-orang Farisi yang mendengar kata-kata ini, beberapa menjadi orang percaya dalam ajarannya dan masuk ke dalam kerajaan, tetapi jumlah yang lebih besar bertahan dalam jalan kegelapan, menjadi semakin lebih bertekad untuk siap menunggu agar mereka dapat menangkap beberapa kata-katanya yang dapat digunakan untuk membawa dia ke pengadilan dan penghakiman di hadapan Sanhedrin di Yerusalem.

Hanya ada tiga hal yang orang-orang Farisi memberikan perhatian secara khusus:

1. Praktek zakat yang ketat.

2. Pelaksanaan cermat hukum pentahiran (penyucian).

3. Menghindari hubungan dengan semua orang bukan-Farisi

Pada saat ini Yesus berusaha untuk membuka kemandulan rohani dari dua praktek yang pertama, sementara dia menyimpan perkataannya yang dirancang untuk menegur penolakan orang-orang Farisi untuk terlibat dalam pergaulan sosial dengan bukan-Farisi pada kesempatan lain dan berikutnya ketika dia akan kembali duduk makan dengan banyak dari orang-orang yang sama ini.

2. Sepuluh Penderita Kusta

Hari berikutnya Yesus pergi dengan dua belas ke Amathus, dekat perbatasan Samaria, dan saat mereka mendekati kota itu, mereka menjumpai sekelompok sepuluh penderita kusta yang tinggal dekat tempat ini. Sembilan dari kelompok ini adalah orang Yahudi, satu seorang Samaria. Biasanya orang-orang Yahudi ini akan menghindar dari semua hubungan atau kontak dengan orang Samaria ini, tapi penyakit bersama mereka lebih dari cukup untuk mengatasi semua prasangka keagamaan. Mereka telah mendengar banyak tentang Yesus dan mujizat-mujizat penyembuhan sebelumnya, dan karena utusan tujuh puluh membuat kebiasaan mengumumkan waktu yang diharapkan untuk kedatangan Yesus ketika Guru pergi dengan dua belas pada perjalanan-perjalanan keliling ini, sepuluh orang kusta itu telah tahu bahwa dia diperkirakan akan muncul di sekitar tempat ini pada sekitar waktu ini; dan karena itu mereka menempatkan diri di sini di pinggiran luar kota dimana mereka berharap dapat menarik perhatiannya dan meminta kesembuhan. Ketika orang-orang kusta itu melihat Yesus mendekati mereka, karena tidak berani mendekatinya, mereka berdiri jauh-jauh dan berseru-seru kepadanya: “Guru, kasihanilah kami; tahirkan kami dari penyakit kami. Sembuhkan kami seperti engkau telah menyembuhkan yang lain.”

Yesus baru saja menjelaskan kepada dua belas mengapa orang-orang kafir Perea, bersama-sama dengan orang-orang Yahudi yang tidak terlalu ortodoks, lebih bersedia untuk percaya injil yang diberitakan oleh tujuh puluh daripada orang-orang Yahudi yang lebih ortodoks dan terikat tradisi di Yudea. Dia telah meminta perhatian mereka pada fakta bahwa pesan mereka juga telah diterima lebih mudah oleh orang-orang Galilea, dan bahkan oleh orang-orang Samaria. Tapi dua belas rasul masih sulit bersedia untuk berperasaan baik terhadap orang-orang Samaria yang sudah lama dihina itu.

Oleh sebab itu, ketika Simon Zelot mengamati ada orang Samaria di antara para penderita kusta itu, ia berusaha untuk membujuk Guru agar lewat saja masuk ke dalam kota tanpa berhenti untuk bertukar salam dengan mereka. Kata Yesus kepada Simon: “Tapi bagaimana kalau orang Samaria mengasihi Allah seperti juga orang-orang Yahudi? Haruskah kita duduk sebagai hakim atas sesama kita? Siapa yang tahu? Jika kita membuat sepuluh orang ini sembuh, mungkin orang Samaria akan membuktikan lebih bersyukur bahkan daripada orang-orang Yahudi. Apakah kamu merasa yakin tentang pendapatmu, Simon?” Dan Simon dengan cepat menjawab, “Jika engkau mentahirkan mereka, engkau akan segera tahu.” Dan Yesus menjawab: “Demikianlah itu akan jadi, Simon, dan kamu akan segera mengetahui kebenaran mengenai rasa terima kasih manusia dan rahmat kasihnya Allah.”

Yesus, pergi mendekati para penderita kusta itu, mengatakan: “Jika kamu ingin disembuhkan, pergilah segera dan tunjukkanlah dirimu kepada para imam seperti yang diwajibkan oleh hukum Musa.” Dan sementara mereka pergi, mereka disembuhkan. Tapi ketika orang Samaria itu melihat bahwa ia disembuhkan, dia berbalik dan, pergi mencari Yesus, mulai memuliakan Allah dengan suara nyaring. Dan setelah ia menemukan Guru, ia berlutut di kakinya dan bersyukur karena pentahirannya. Kesembilan orang yang lain, orang-orang Yahudi, juga telah mendapati mereka disembuhkan, dan meskipun mereka juga bersyukur karena pentahiran mereka, mereka terus melanjutkan perjalanan mereka untuk menunjukkan diri mereka kepada para imam.

Saat orang Samaria itu tetap berlutut di kaki Yesus, sang Guru, melihat sekeliling pada dua belas, khususnya pada Simon Zelot, mengatakan: “Bukankah sepuluh orang yang ditahirkan? Lalu dimana, sembilan yang lainnya, orang-orang Yahudi itu? Hanya satu, orang asing ini, yang telah kembali untuk memberikan kemuliaan kepada Allah.” Dan kemudian dia berkata kepada orang Samaria itu, “Bangunlah dan pergilah; imanmu telah membuat kamu sembuh.”

Yesus memandang lagi kepada rasul-rasulnya ketika orang asing itu pergi. Dan para rasul semua memandang pada Yesus, kecuali Simon Zelot, yang matanya tertunduk. Dua belas tidak mengatakan sepatah kata pun. Yesus juga tidak berbicara; tidak perlu dia harus bicara.

Meskipun kesepuluh orang-orang ini benar-benar percaya bahwa mereka menderita penyakit kusta, hanya empat yang terjangkit kusta. Enam lainnya disembuhkan dari suatu penyakit kulit yang telah keliru dianggap sebagai kusta. Tapi orang Samaria itu benar-benar mengidap kusta.

Yesus menyuruh dua belas untuk tidak mengatakan apa- apa tentang pentahiran para penderita kusta itu, dan saat mereka pergi ke Amathus, dia berkomentar: “Kamu melihat bagaimana bahwa anak-anak dari rumah, bahkan ketika mereka tidak taat pada kehendak Bapa mereka, mengambil berkat-berkat mereka seakan sudah haknya. Mereka pikir itu masalah kecil jika mereka lalai untuk bersyukur ketika Bapa melimpahkan kesembuhan atas mereka, tetapi orang-orang asing itu, ketika mereka menerima pemberian-pemberian dari kepala rumah, dipenuhi dengan keheranan dan terdorong untuk bersyukur sebagai pengakuan terhadap hal-hal baik yang dikaruniakan ke atas mereka.” Dan rasul-rasul masih tidak berkata apa-apa sebagai jawaban untuk kata-kata Guru itu.

3. Khotbah di Gerasa

Ketika Yesus dan dua belas bercakap-cakap dengan para utusan kerajaan di Gerasa, salah seorang Farisi yang percaya kepadanya mengajukan pertanyaan ini: “Tuhan, apakah akan ada sedikit atau banyak yang benar-benar diselamatkan?” Yesus menjawabnya, mengatakan:

“Kamu telah diajari bahwa hanya anak-anak Abraham yang akan diselamatkan; bahwa hanya orang kafir yang diangkat yang bisa berharap untuk keselamatan. Beberapa dari kamu telah berpendapat bahwa, karena Kitab Suci mencatat bahwa hanya Kaleb dan Yosua dari antara semua rombongan yang keluar dari Mesir yang masih hidup untuk memasuki tanah yang dijanjikan, maka hanya relatif sedikit mereka yang mencari kerajaan surga yang akan menemukan pintu masuk ke dalamnya.

“Kamu juga punya pepatah lain di kalanganmu, dan itu yang mengandung banyak kebenaran: Bahwa jalan yang menuju kepada kehidupan kekal itu lurus dan sempit, bahwa pintu yang mengarah ke sana adalah juga sempit sehingga, dari mereka yang mencari keselamatan, hanya sedikit dapat masuk melalui pintu ini. Kamu juga memiliki ajaran bahwa jalan yang mengarah ke kebinasaan itu lebar, bahwa pintu masuk ke dalamnya lebar, dan bahwa ada banyak orang yang memilih untuk melalui jalan ini. Dan pepatah ini bukan tanpa maknanya. Tapi aku menyatakan bahwa keselamatan adalah pertama soal pilihan pribadimu. Sekalipun pintu ke jalan hidup itu sempit, namun itu cukup lebar untuk mengizinkan semua yang dengan tulus berusaha untuk masuk, karena akulah pintu itu. Anak tidak akan pernah menolak masuk setiap anak dari alam semesta, yang oleh iman berusaha untuk menemukan Bapa melalui Anak.

“Tapi di sinilah bahaya bagi semua orang yang hendak menunda-nunda masuk ke dalam kerajaan sementara mereka terus mengejar kenikmatan ketidakdewasaan dan menikmati kepuasan kepentingan sendiri: Setelah menolak untuk memasuki kerajaan itu sebagai pengalaman rohani, mereka mungkin selanjutnya berusaha masuk ke dalamnya ketika kemuliaan jalan yang lebih baik itu dinyatakan dalam zaman yang akan datang. Karena itu, ketika mereka yang menolak kerajaan ketika aku datang dalam rupa manusia itu berusaha untuk masuk ketika kerajaan itu dinyatakan dalam rupa keilahian, maka akan aku katakan kepada semua orang yang egois seperti: Aku tidak tahu dari mana kamu. Kamu punya kesempatan untuk mempersiapkan kewargaan surgawi ini, tapi kamu menolak semua tawaran belas kasihan tersebut; kamu menolak semua undangan untuk datang sementara pintu terbuka. Sekarang, pada kamu yang telah menolak keselamatan, pintu itu tertutup. Pintu ini tidak terbuka bagi mereka yang akan memasuki kerajaan itu untuk kemuliaan kepentingan diri sendiri. Keselamatan itu bukanlah bagi mereka yang tidak mau membayar harga pengabdian sepenuh hati untuk melakukan kehendak Bapaku. Ketika dalam roh dan jiwa kamu telah menolak kerajaan Bapa, maka tidak ada gunanya dalam batin dan tubuh untuk berdiri di depan pintu ini dan mengetuk, dengan mengatakan, 'Tuhan, bukakanlah pada kami; kami juga ingin menjadi besar dalam kerajaan.' Kemudian akan aku nyatakan bahwa kamu bukan dari kawananku. Aku tidak akan menerima kamu berada di antara mereka yang telah berjuang dalam pertarungan iman yang baik dan memenangi pahala dari pelayanan yang tidak mementingkan diri dalam kerajaan surga di bumi. Dan ketika kamu mengatakan, 'Bukankah kami makan dan minum dengan engkau, dan bukankah engkau mengajar di jalan-jalan kami?' maka aku akan menyatakan lagi bahwa kamu adalah orang-orang asing rohani; bahwa kita bukan kawan-kawan sesama pelayan dalam pelayanan rahmat Bapa di bumi; bahwa aku tidak kenal kamu; dan kemudian Hakim seluruh bumi akan berkata kepadamu: 'Pergilah dari kami, semua orang yang telah bersenang-senang dalam pekerjaan kedurhakaan.'

“Tapi jangan takut; setiap orang yang dengan tulus berkeinginan untuk mendapatkan kehidupan kekal dengan masuk ke dalam kerajaan Allah pasti akan menemukan keselamatan kekal tersebut. Tapi kamu yang menolak keselamatan ini suatu hari akan melihat para nabi dari keturunan Abraham duduk bersama orang-orang percaya dari bangsa-bangsa kafir dalam kerajaan yang dimuliakan ini untuk makan roti hidup dan menyegarkan diri mereka dengan air daripadanya. Dan mereka yang akan menduduki kerajaan dalam kuasa rohani, dan dengan serangan iman yang hidup yang terus menerus itu, akan datang dari utara dan selatan dan dari timur dan barat. Dan, lihatlah, banyak yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan mereka yang terakhir banyak kali akan menjadi yang pertama.”

Ajaran ini memang versi yang baru dan aneh dari pepatah lama dan terkenal tentang jalan yang lurus dan sempit itu.

Perlahan-lahan para rasul dan banyak dari para murid belajar arti deklarasi awal Yesus: “Kalau kamu tidak dilahirkan kembali, lahir dari roh, kamu tidak bisa masuk ke dalam kerajaan Allah.” Namun demikian, bagi semua orang yang jujur hati dan tulus dalam iman, tetap secara kekal benar: “Lihat, aku berdiri di pintu hatinya manusia dan mengetuk, dan jika ada orang yang membukanya untukku, aku akan masuk dan makan bersama dia dan akan memberinya makan dengan roti hidup; kita akan menjadi satu dalam roh dan tujuan, dan maka kita akan selalu menjadi saudara dalam pelayanan yang panjang dan berhasil untuk pencarian Bapa Firdaus.” Jadi, apakah sedikit atau banyak yang diselamatkan sama sekali tergantung pada apakah sedikit atau banyak yang akan mengindahkan undangan: “Akulah pintu, akulah jalan yang baru dan yang hidup itu, dan barangsiapa mau boleh masuk untuk memulai pencarian kebenaran tanpa akhir untuk hidup yang kekal.”

Bahkan para rasul tidak dapat sepenuhnya memahami ajarannya mengenai kebutuhan untuk menggunakan kuasa rohani untuk tujuan menembus semua hambatan jasmani dan untuk mengatasi setiap rintangan duniawi yang mungkin kebetulan merintangi jalan untuk memahami nilai-nilai rohani yang maha-penting untuk kehidupan baru dalam roh sebagai anak-anak Tuhan yang dimerdekakan.

4. Ajaran tentang Kecelakaan

Meskipun sebagian besar orang Palestina hanya makan dua kali sehari, menjadi kebiasaan Yesus dan para rasul, ketika dalam perjalanan, untuk berhenti sejenak di tengah hari untuk istirahat dan makan minum. Dan pada perhentian tengah hari seperti itu dalam perjalanan ke Filadelfia, Tomas bertanya kepada Yesus: “Guru, dari mendengar komentar-komentarmu selagi kita berangkat pagi ini, aku ingin menanyakan apakah makhluk-makhluk roh terlibat dalam membuat kejadian-kejadian aneh dan luar biasa dalam dunia materi, dan berikutnya untuk menanyakan apakah para malaikat dan sosok-sosok roh lainnya dapat mencegah kecelakaan.”

Sebagai jawaban atas pertanyaan Tomas, Yesus berkata: “Bukankah aku telah begitu lama bersama kamu, namun kamu masih terus menanyakan kepadaku pertanyaan seperti itu? Apakah kamu gagal untuk mengamati bagaimana Anak Manusia hidup sama seperti kamu dan terus menerus menolak untuk menggunakan kuasa-kuasa surga bagi kebutuhan pribadinya? Bukankah kita semua hidup dengan cara yang sama seperti halnya semua orang itu ada? Apakah kamu melihat kuasa alam roh diwujudkan dalam kehidupan jasmani di dunia ini, kecuali pewahyuan tentang Bapa dan kadang-kadang penyembuhan anak-anak-Nya yang menderita?

“Terlalu lama bapa leluhurmu percaya bahwa kemakmuran adalah tanda persetujuan ilahi; bahwa kesulitan itu adalah bukti bahwa Tuhan tidak berkenan. Aku menyatakan bahwa keyakinan-keyakinan tersebut adalah takhyul. Tidakkah kamu memperhatikan bahwa jumlah yang jauh lebih besar orang miskin yang dengan sukacita menerima injil dan dengan segera memasuki kerajaan itu? Jika kekayaan membuktikan perkenanan ilahi, mengapa orang kaya begitu banyak kali menolak untuk percaya kabar baik dari surga ini?

“Bapa membuat hujan-Nya itu jatuh pada orang yang adil dan orang yang tidak adil; matahari demikian pula bersinar bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Kamu tahu tentang orang-orang Galilea, yang darahnya Pilatus campurkan dengan korban, tapi aku katakan padamu orang-orang Galilea ini tidak dalam cara apapun berdosa melebihi semua rekan-rekan mereka hanya karena hal ini terjadi terhadap mereka. Kamu juga tahu tentang delapan belas orang yang tertimpa menara Siloam yang runtuh, membunuh mereka. Jangan berpikir orang-orang yang terbunuh seperti ini adalah orang-orang yang bersalah melebihi semua saudara-saudara mereka di Yerusalem. Orang-orang ini hanyalah korban tak berdosa dari salah satu kecelakaan-kecelakaan yang terjadi dalam waktu.

“Ada tiga kelompok peristiwa yang mungkin terjadi dalam hidupmu:

"1. Kamu mungkin ikut terlibat dalam kejadian-kejadian normal itu yang merupakan bagian dari kehidupan yang kamu dan rekan-rekanmu jalani di permukaan bumi.

“2. Kamu mungkin kebetulan menjadi korban salah satu kecelakaan alam, salah satu nasib buruk manusia, tahu benar sepenuhnya bahwa kejadian-kejadian tersebut sama sekali tidak diatur sebelumnya atau dengan kata lain tidak dihasilkan oleh kuasa-kuasa rohani yang ada di dunia.

“3. Kamu bisa menuai akibat dari upaya langsung kamu untuk mematuhi hukum-hukum alam yang mengatur dunia.

“Ada seorang laki-laki yang menanam pohon ara di halaman rumahnya, dan ketika ia telah berkali-kali mencari buah darinya dan tidak menemukannya, ia memanggil penggarap kebun ke depan dia dan berkata: ‘Di sini aku telah datang tiga musim ini mencari buah pada pohon ara ini dan tidak menemukan apapun. Tebang saja pohon mandul ini; mengapa harus membebani tanah.’ Tetapi kepala tukang kebun menjawab tuannya: 'Biarkan saja selama satu tahun lagi supaya aku dapat menggali sekitarnya dan menaruh pupuk, dan kemudian, tahun depan, jika tidak menghasilkan buah, pohon itu akan ditebang.’ Dan setelah mereka mematuhi hukum kesuburan seperti itu, karena pohon itu hidup dan baik, mereka mendapat hasil melimpah.

“Dalam urusan penyakit dan kesehatan, kamu harus tahu bahwa keadaan-keadaan badani ini adalah hasil dari sebab-sebab jasmani; kesehatan bukanlah senyum surga, tidak pula penderitaan merupakan muka masam Allah.

“Anak-anak manusia Bapa memiliki daya tampung yang sama untuk penerimaan berkat jasmani; karena itu Dia memberikan hal-hal yang bersifat fisik pada anak-anak manusia tanpa membeda-bedakan. Ketika sampai ke penganugerahan karunia-karunia rohani, Bapa dibatasi oleh daya tampung manusia untuk menerima anugerah-anugerah ilahi ini. Meskipun Bapa tidak membeda-bedakan orang, dalam penganugerahan karunia rohani Dia dibatasi oleh iman manusia itu dan oleh kesediaannya untuk selalu tinggal dalam kehendak Bapa.”

Sambil mereka terus melanjutkan perjalanan menuju Filadelfia, Yesus terus mengajar mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang berkaitan dengan kecelakaan, sakit penyakit, dan mujizat, tetapi mereka tidak dapat sepenuhnya memahami pengajaran ini. Satu jam pelajaran tidak akan sepenuhnya mengubah kepercayaan seumur hidup, sehingga Yesus merasa perlu untuk mengulangi lagi pesannya, untuk memberitahu lagi dan lagi apa yang dia berharap mereka pahami; dan bahkan kemudian mereka pun gagal untuk memahami makna misi buminya sampai setelah kematian dan kebangkitannya.

5. Jemaah di Filadelfia

Yesus dan dua belas sedang dalam perjalanan mereka untuk mengunjungi Abner dan rekan-rekannya, yang berkhotbah dan mengajar di Filadelfia (Philadelphia) atau Amman. Dari semua kota Perea, di Filadelfia kelompok terbesar orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi, kaya dan miskin, terpelajar dan tidak terpelajar, mempercayai ajaran dari tujuh puluh, sehingga masuk ke dalam kerajaan surga. Sinagog di Filadelfia tidak pernah tunduk pada pengawasan Sanhedrin di Yerusalem dan karena itu tidak pernah tertutup pada ajaran Yesus dan rekan-rekannya. Pada saat itu, Abner mengajar tiga kali sehari di sinagog Filadelfia.

Sinagog ini kemudian menjadi sebuah gereja Kristen dan markas misionaris untuk penyebaran injil melalui kawasan-kawasan ke timur. Tempat itu lama menjadi kubu ajaran Guru dan berdiri sendirian di daerah ini sebagai pusat pembelajaran Kristen selama berabad-abad.

Orang-orang Yahudi di Yerusalem selalu bermasalah dengan orang-orang Yahudi dari Filadelfia. Dan setelah kematian dan kebangkitan Yesus, gereja Yerusalem, yang mana Yakobus adiknya Yesus adalah kepalanya, mulai mengalami kesulitan serius dengan jemaat orang percaya di Filadelfia. Abner menjadi kepala gereja Filadelfia, terus seperti itu sampai kematiannya. Dan kerenggangan dengan Yerusalem ini menjelaskan mengapa tidak terdengar apa-apa tentang Abner dan pekerjaannya dalam catatan kitab-kitab Injil Perjanjian Baru. Perseteruan antara Yerusalem dan Filadelfia berlangsung sepanjang masa hidup Yakobus dan Abner dan berlanjut selama beberapa waktu setelah kehancuran Yerusalem. Filadelfia adalah benar-benar markas besar gereja mula-mula di selatan dan timur seperti halnya Antiokhia di utara dan barat.

Tampaknya Abner tidak beruntung karena berbeda dengan semua pemimpin gereja Kristen mula-mula. Dia berselisih dengan Petrus dan Yakobus (adiknya Yesus) mengenai persoalan-persoalan pemerintahan dan kewenangan hukum gereja Yerusalem; ia berpisah kawan dengan Paulus karena perbedaan filsafat dan teologi. Abner lebih bersifat Babilonia ketimbang Yunani dalam filsafatnya, dan dia dengan keras kepala menolak semua upaya Paulus untuk membentuk kembali ajaran Yesus sehingga dapat mengurangi apa yang bisa dipertanyakan, pertama pada orang-orang Yahudi, kemudian pada para pengikut aliran-aliran misteri Yunani-Romawi.

Demikianlah Abner terpaksa untuk hidup terisolasi. Dia adalah kepala dari sebuah gereja yang tanpa kedudukan di Yerusalem. Dia berani menentang Yakobus, saudaranya Tuhan, yang kemudian didukung oleh Petrus. Perilaku tersebut secara efektif memisahkan dirinya dari semua mantan rekan-rekannya. Kemudian ia berani menentang Paulus. Meskipun ia sepenuhnya bersimpati dengan Paulus dalam misinya untuk orang kafir, dan meskipun ia mendukung Paulus dalam perselisihannya dengan gereja di Yerusalem, namun ia menentang keras versi ajaran Yesus yang Paulus pakai untuk dikhotbahkan. Dalam tahun-tahun terakhirnya Abner mengecam Paulus sebagai “koruptor pintar terhadap ajaran-ajaran hidupnya Yesus dari Nazaret, Anak dari Allah yang hidup.”

Selama tahun-tahun kemudian Abner dan selama beberapa waktu setelah itu, orang-orang percaya di Filadelfia berpegang lebih ketat pada agamanya Yesus, seperti yang Yesus hidupi dan ajarkan, daripada semua kelompok lain di bumi.

Abner hidup sampai usia 89 tahun, meninggal di Filadelfia pada tanggal 21 November, 74 M. Dan sampai wafatnya ia adalah orang percaya yang setia pada, dan guru dari, injil tentang kerajaan surga.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved