Makalah 164: Pada Hari Raya Pentahbisan

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 164

Pada Hari Raya Pentahbisan

SEMENTARA perkemahan di Pella sedang didirikan, Yesus, membawa bersamanya Natanael dan Tomas, secara diam-diam pergi ke Yerusalem untuk menghadiri hari raya Pentahbisan Bait Allah. Setelah mereka menyeberangi sungai Yordan di penyeberangan Betania, barulah kedua rasul itu menjadi sadar bahwa Guru mereka hendak pergi ke Yerusalem. Ketika mereka menyadari bahwa dia benar-benar bermaksud untuk hadir pada perayaan pentahbisan, mereka berdebat dengan dia dengan paling sungguh-sungguh, dan dengan menggunakan setiap jenis alasan, mereka berusaha untuk mencegahnya. Tapi upaya-upaya mereka itu sia-sia; Yesus bertekad untuk mengunjungi Yerusalem. Terhadap semua bujukan mereka dan terhadap semua peringatan mereka yang menekankan kebodohan dan bahaya menempatkan dirinya di tangan Sanhedrin, dia hanya menjawab, “aku hendak memberikan guru-guru di Israel ini satu kesempatan lagi untuk melihat terang, sebelum waktuku tiba.”

Selagi mereka pergi ke arah Yerusalem, dua rasul itu terus menyatakan perasaan takut dan menyuarakan keraguan mereka tentang hikmah upaya yang tampaknya gegabah tersebut. Mereka sampai di Yerikho sekitar jam setengah lima dan bersiap untuk menginap di sana.

1. Kisah Orang Samaria yang Baik Hati

Malam itu sekumpulan cukup banyak orang berkumpul sekitar Yesus dan kedua rasul untuk mengajukan pertanyaan, banyak yang para rasul jawab, sementara yang lain dibahas oleh Guru. Pada malam itu ada seorang ahli hukum tertentu, yang berusaha untuk menjerat Yesus dalam perdebatan untuk merusak nama baiknya, berkata: “Guru, aku ingin bertanya apa yang harus kuperbuat untuk mewarisi hidup yang kekal?” Yesus menjawab, “Apa yang tertulis dalam hukum dan para nabi; bagaimana kamu membaca Kitab Suci?” Ahli hukum itu, mengetahui ajaran-ajaran Yesus maupun orang-orang Farisi, menjawab: “Mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lalu kata. Yesus: “Jawabmu itu benar; ini, jika kamu benar-benar lakukan, akan membawa pada hidup yang kekal.”

Tapi ahli hukum itu tidak sepenuhnya tulus dalam mengajukan pertanyaan ini, dan karena ingin untuk membenarkan dirinya sendiri sementara juga berharap untuk mempermalukan Yesus, ia berani untuk mengajukan pertanyaan lain lagi. Mendekat sedikit pada Guru, ia berkata, “Tapi, Guru, aku ingin engkau menceritakan padaku siapa sesamaku?” Ahli hukum yang mengajukan pertanyaan ini berharap untuk menjebak Yesus agar membuat beberapa pernyataan yang akan bertentangan dengan hukum Yahudi yang mendefinisikan sesama sebagai “anak-anak dari bangsanya orang itu.” Orang Yahudi menganggap semua yang lain sebagai “anjing-anjing kafir." Ahli hukum ini agak akrab dengan ajaran Yesus dan karena itu juga tahu bahwa Guru berpikir secara berbeda; sehingga dia berharap untuk membawa dia sehingga mengatakan sesuatu yang bisa ditafsirkan sebagai serangan terhadap hukum agama yang sakral.

Tetapi Yesus melihat motif si ahli hukum itu, dan bukannya jatuh ke dalam perangkap, dia kemudian menceritakan kepada para pendengarnya sebuah kisah, cerita yang akan sepenuhnya dihargai oleh setiap pendengar Yerikho. Kata Yesus: “Ada seorang tertentu yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, dan ia jatuh ke dalam tangan perampok-perampok yang kejam, yang merampas, menelanjangi dan memukulinya, dan pergi, meninggalkannya setengah mati. Sangat segera, secara kebetulan, ada seorang imam tertentu hendak melalui jalan itu, dan ketika ia sampai pada orang yang terluka itu, melihat penderitaannya yang parah, ia melewatinya di sisi lain jalan itu. Dan dengan cara seperti itu seorang Lewi juga, ketika ia datang dan melihat orang itu, ia melewatinya di sisi lain jalan. Alkisah, sekitar waktu ini, ada seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan ke Yerikho, melewati orang yang terluka ini; dan ketika ia melihat bagaimana ia telah dirampok dan dipukuli, ia tergerak oleh belas kasihan, dan menghampirinya, ia membalut luka-lukanya, menuangkan minyak dan anggur, dan menempatkan orang itu di atas hewan bebannya sendiri, membawanya ke sini ke penginapan dan merawatnya. Dan keesokan harinya ia mengeluarkan beberapa uang, dan sambil memberikannya kepada pemilik penginapan, ia berkata: ‘Rawatlah dengan baik temanku ini, dan jika biayanya lebih, kalau aku kembali lagi, aku akan menggantinya.' Sekarang biarkan aku bertanya pada kamu: Yang manakah dari ketiganya ini ternyata menjadi sesama dari orang yang dirampok itu?” Dan ketika ahli hukum itu merasa bahwa ia telah jatuh ke dalam perangkapnya sendiri, ia menjawab, “Dia yang menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Dan Yesus berkata, “Pergilah dan perbuatlah demikian.”

Ahli hukum itu menjawab, “Dia yang menunjukkan belas kasihan,” agar ia dapat menghindar agar tidak mengucapkan kata najis itu, orang Samaria. Ahli hukum itu terpaksa untuk memberikan jawaban seperti itu pada pertanyaan, “Siapakah sesamaku?” yang diharapkan akan diberikan Yesus, dan yang, jika dinyatakan Yesus seperti itu, akan langsung melibatkannya dalam tuduhan bidaah. Yesus tidak hanya membingungkan ahli hukum yang tidak jujur itu, tetapi dia menceritakan pada para pendengarnya sebuah cerita yang pada saat yang sama menjadi sebuah peringatan yang indah untuk semua pengikutnya dan teguran yang menakjubkan terhadap semua orang Yahudi mengenai sikap mereka terhadap orang-orang Samaria. Dan kisah ini telah terus mendorong kasih persaudaraan di antara semua yang kemudian percaya pada injil Yesus.

2. Di Yerusalem

Yesus telah menghadiri perayaan Pondok Daun agar ia dapat memberitakan injil kepada para jemaah peziarah dari semua wilayah kekaisaran; dia sekarang pergi ke perayaan Pentahbisan hanya untuk satu tujuan: untuk memberikan Sanhedrin dan para pemimpin Yahudi kesempatan lagi untuk melihat terang. Kesempatan utama dari beberapa hari di Yerusalem ini terjadi pada hari Jumat malam di rumah Nikodemus. Di sini telah berkumpul sekitar dua puluh lima pemimpin Yahudi yang percaya ajaran Yesus. Di antara kelompok ini ada empat belas orang yang kemudian, atau baru-baru ini telah, menjadi anggota Sanhedrin. Pertemuan ini dihadiri oleh Eber, Matadormus, dan Yusuf dari Arimatea.

Pada kesempatan ini pendengar Yesus semuanya orang terpelajar, dan baik mereka maupun dua rasulnya kagum akan luas dan kedalaman dari pernyataan yang dibuat Guru kepada kelompok terhormat ini. Belum lagi sejak saat-saat dia mengajar di Aleksandria, Roma, dan di pulau-pulau Mediterania, telah dia pamerkan pembelajaran tersebut dan menunjukkan suatu pemahaman yang begitu rupa terhadap urusan-urusan manusia, sekuler maupun keagamaan.

Setelah pertemuan kecil ini bubar, semua pergi terkesima oleh kepribadiannya Guru, terpesona oleh sikap ramahnya, dan jatuh hati pada orang ini. Mereka telah berusaha menasihati Yesus tentang keinginannya untuk memenangi anggota Sanhedrin yang lain. Guru mendengarkan dengan penuh perhatian, tapi dengan diam, pada semua usulan mereka. Dia tahu dengan baik bahwa tidak ada rencana mereka yang akan berhasil. Dia menduga bahwa sebagian besar pemimpin Yahudi tidak akan pernah mau menerima injil kerajaan; namun demikian, dia memberi mereka semua satu kesempatan lagi ini untuk memilih. Namun ketika dia pergi malam itu, dengan Natanael dan Tomas, untuk menginap di Bukit Zaitun, dia belum memutuskan metode yang dia akan gunakan untuk menampilkan pekerjaannya sekali lagi pada perhatian Sanhedrin.

Malam itu Natanael dan Tomas tidur sedikit; mereka terlalu takjub oleh apa yang mereka dengar di rumah Nikodemus. Mereka berpikir banyak tentang komentar terakhir Yesus mengenai tawaran dari para mantan dan anggota sekarang Sanhedrin itu untuk pergi bersama Yesus menghadap dewan Sanhedrin tujuh puluh. Guru berkata: “Tidak, saudara-saudaraku, hal itu akan tanpa tujuan. Kalian akan melipat-gandakan amarah yang akan ditimpakan ke atas kalian sendiri, tetapi kalian tidak akan sedikitpun mengurangi kebencian mereka padaku. Pergilah, kalian masing-masing, untuk melakukan urusan Bapa seperti roh memimpin kalian sementara aku sekali lagi akan membawa kerajaan kepada perhatian mereka dengan cara yang Bapaku mungkin arahkan.”

3. Menyembuhkan Pengemis Buta

Keesokan paginya ketiganya pergi ke rumah Marta di Betania untuk sarapan dan kemudian langsung pergi ke Yerusalem. Pagi hari Sabat ini, sementara Yesus dan dua rasulnya mendekati bait suci, mereka menjumpai seorang pengemis yang sudah terkenal, seorang pria yang telah dilahirkan buta, duduk di tempat biasanya. Meskipun pengemis ini tidak meminta atau menerima sedekah pada hari Sabat, mereka diizinkan untuk duduk di tempat-tempat mereka yang biasa. Yesus berhenti dan memandang pengemis itu. Saat dia menatap pada pria yang telah buta sejak lahir itu, muncul gagasan dalam benaknya tentang bagaimana dia sekali lagi akan membawa misinya di bumi kepada perhatian Sanhedrin dan para pemimpin serta guru-guru agama Yahudi yang lain.

Sementara Guru berdiri di sana di depan si orang buta, sedang asyik dalam pikiran mendalam, Natanael, merenungkan kemungkinan penyebab kebutaan orang ini, bertanya: “Guru, siapa yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia harus dilahirkan buta?”

Para rabi mengajarkan bahwa semua kasus kebutaan sejak lahir seperti itu disebabkan oleh dosa. Tidak hanya anak-anak yang dikandung dan dilahirkan dalam dosa, tetapi seorang anak bisa lahir buta sebagai hukuman atas dosa tertentu yang dilakukan oleh ayahnya. Mereka bahkan mengajarkan bahwa anak itu sendiri mungkin berdosa sebelum ia dilahirkan ke dunia. Mereka juga mengajarkan bahwa cacat tersebut dapat disebabkan oleh suatu dosa atau kegemaran lain dari si ibu sementara mengandung anak itu.

Ada di seluruh wilayah ini, kepercayaan kuno yang masih bertahan tentang reinkarnasi. Para guru Yahudi lama, bersama-sama dengan Plato, Philo, dan banyak dari orang Eseni, membiarkan adanya teori bahwa manusia bisa menuai dalam satu inkarnasi apa yang telah mereka tabur dalam kehidupan sebelumnya; sehingga dalam satu kehidupan mereka diyakini menebus dosa-dosa yang dilakukan dalam kehidupan sebelumnya. Guru menjumpai bahwa sulit untuk membuat orang-orang percaya bahwa jiwa mereka tidak punya kehidupan sebelumnya.

Namun demikian, meskipun tampaknya tidak konsisten, meskipun kebutaan tersebut dianggap merupakan hasil dari dosa, orang-orang Yahudi percaya bahwa besar pahalanya untuk memberikan sedekah kepada pengemis-pengemis buta ini. Menjadi kebiasaan orang-orang buta ini untuk terus menerus bernyanyi kepada orang-orang yang lewat, “Ya yang berhati lembut, dapatkan pahala dengan membantu yang buta.”

Yesus masuk ke dalam pembahasan tentang kasus ini dengan Natanael dan Tomas, bukan hanya karena dia sudah memutuskan untuk menggunakan orang buta ini sebagai sarana hari itu untuk membawa misinya sekali lagi agar lebih menarik perhatian para pemimpin Yahudi, tetapi juga karena dia selalu mendorong para rasulnya untuk mencari penyebab sebenarnya untuk semua fenomena, yang alami atau yang rohani. Dia sudah sering memperingatkan mereka untuk menghindari kecenderungan umum menetapkan penyebab rohani terhadap peristiwa badani yang lumrah.

Yesus memutuskan untuk memakai pengemis ini dalam rencananya untuk pekerjaan hari itu, tapi sebelum melakukan apapun untuk orang buta itu, Yosia namanya, dia menjawab pertanyaan Natanael. Kata Guru: “Bukan dosa orang ini atau orang tuanya tetapi agar pekerjaan-pekerjaan Tuhan dapat menjadi nyata dalam dia. Kebutaan ini telah datang kepadanya dalam perjalanan peristiwa yang alami, tapi sekarang kita harus melakukan pekerjaan-pekerjaan Dia yang mengutus aku, selama masih siang, karena malam pasti akan datang ketika tidak mungkin melakukan pekerjaan yang hendak kita lakukan. Ketika aku ada di dalam dunia, akulah terang dunia, tetapi sebentar lagi aku tidak akan bersama kamu.”

Setelah Yesus berbicara, ia berkata kepada Natanael dan Tomas: “Mari kita menciptakan penglihatan pada orang buta ini pada hari Sabat ini sehingga ahli-ahli kitab dan orang-orang Farisi mungkin mendapat kesempatan penuh yang mereka cari untuk menuduh Anak Manusia.” Kemudian, sambil membungkuk, dia meludah ke tanah dan mencampur tanah liat dengan ludah, dan sambil berbicara tentang semua ini sehingga orang buta itu bisa mendengar, dia pergi kepada Yosia dan menempatkan tanah liat atas mata yang tidak melihat itu, mengatakan: “Pergilah, anakku, basuhlah tanah liat ini di kolam Siloam, dan segera kamu akan menerima penglihatanmu.” dan setelah Yosia mencucinya seperti itu di kolam Siloam, ia kembali ke teman-temannya dan keluarganya, dengan melihat.

Setelah selalu menjadi pengemis, ia tidak tahu apapun yang lain; jadi, ketika kegembiraan pertama penciptaan penglihatannya itu telah lewat, ia kembali ke tempatnya yang biasa meminta sedekah. Teman-temannya, tetangganya, dan semua orang yang kenal dia sebelumnya, ketika mereka mengamati bahwa dia bisa melihat, semua berkata, “Bukanlah ini Yosia pengemis buta itu?” Ada yang mengatakan itulah dia, sementara yang lain mengatakan, “Tidak, itu orang yang seperti dia, tapi orang ini bisa melihat.” Tapi ketika mereka menanyai orang itu sendiri, ia menjawab, “akulah dia.”

Ketika mereka mulai menanyakan kepadanya bagaimana ia bisa melihat, ia menjawab mereka: “Seorang pria bernama Yesus melewati jalan ini, dan ketika berbicara mengenai aku dengan teman-temannya, ia membuat tanah liat dengan ludah, mengurapi mataku, dan menyuruh agar aku pergi dan membasuhnya di kolam Siloam. Aku melakukan apa yang orang ini katakan kepadaku, dan segera aku menerima penglihatanku. Dan itu baru beberapa jam yang lalu. Aku belum tahu arti dari banyak yang kulihat.” Dan ketika orang-orang yang mulai berkumpul di sekitarnya bertanya dimana mereka bisa menemukan pria aneh yang telah menyembuhkannya, Yosia hanya bisa menjawab bahwa ia tidak tahu.

Ini adalah salah satu yang paling aneh dari semua mujizatnya Guru. Orang ini tidak meminta kesembuhan. Dia tidak tahu bahwa Yesus itu yang telah menyuruh dia untuk membasuh di Siloam, dan yang telah menjanjikan penglihatan kepadanya, adalah nabi dari Galilea yang telah berkhotbah di Yerusalem selama perayaan Pondok Daun. Orang ini hanya sedikit percaya bahwa ia akan menerima penglihatannya, tetapi orang-orang pada masa itu memiliki iman yang besar akan kemanjuran ludah dari orang besar atau suci; dan dari percakapan Yesus dengan Natanael dan Tomas, Yosia telah menyimpulkan bahwa calon penolongnya ini adalah orang besar, seorang guru terpelajar atau seorang nabi suci; maka sesuai dengan hal itu ia lakukan seperti yang Yesus suruhkan kepadanya.

Yesus menggunakan tanah liat dan ludah dan menyuruh dia untuk membasuh di kolam simbolis Siloam itu karena tiga alasan:

1. Ini bukan tanggapan mujizat terhadap iman perorangan. Ini adalah sebuah keajaiban yang Yesus pilih untuk dikerjakan demi tujuannya sendiri, tetapi yang dia atur sedemikian agar orang ini dapat memperoleh manfaat jangka panjang dari hal itu.

2. Karena orang buta itu tidak meminta penyembuhan, dan karena iman yang ia miliki tipis, maka tindakan jasmani ini dianjurkan dengan tujuan memberi semangat kepadanya. Ia memang percaya pada takhyul tentang khasiat ludah, dan ia tahu kolam Siloam adalah tempat yang setengah keramat. Tapi dia tidak akan pergi ke sana seandainya tidak diperlukan untuk membasuh tanah liat urapannya itu. Ada cukup tatacara mengenai transaksi itu yang mendorong dia agar bertindak.

3. Tetapi Yesus punya alasan ketiga untuk beralih ke cara-cara jasmani ini sehubungan dengan transaksi yang unik ini: Ini adalah suatu mujizat yang dilakukan sepenuhnya tunduk pada pilihannya sendiri, dan dengan demikian dia ingin mengajari para pengikutnya pada hari itu dan segala zaman berikutnya untuk tidak meremehkan atau mengabaikan sarana jasmani dalam penyembuhan orang sakit. Dia ingin mengajar mereka bahwa mereka harus berhenti menganggap mujizat sebagai satu-satunya metode menyembuhkan penyakit manusia.

Yesus memberi orang ini penglihatannya dengan pekerjaan ajaib, pada hari Sabat pagi ini dan di Yerusalem dekat bait suci, dengan tujuan utama membuat perbuatan ini sebagai tantangan terbuka kepada Sanhedrin dan semua guru Yahudi dan pemimpin agama. Ini adalah caranya untuk mengumumkan pemisahan terbuka dengan orang-orang Farisi. Dia selalu positif dalam segala hal yang dia lakukan. Dan untuk tujuan membawa perkara ini ke hadapan Sanhedrin maka Yesus membawa dua rasulnya kepada orang ini pada awal sore hari Sabat ini dan sengaja memicu diskusi-diskusi tersebut yang memaksa orang-orang Farisi untuk memperhatikan mujizat itu.

4. Yosia di depan Sanhedrin

Pada pertengahan sore penyembuhan Yosia telah membangkitkan pembicaraan yang begitu rupa seputar bait suci sehingga para pemimpin Sanhedrin memutuskan untuk mengadakan sidang di tempat pertemuan bait suci yang biasa. Dan mereka melakukan ini dengan melanggar aturan berlaku yang melarang mengadakan pertemuan Sanhedrin pada hari Sabat. Yesus tahu bahwa pelanggaran Sabat akan menjadi salah satu tuduhan utama yang akan diajukan terhadap dia ketika ujian akhir itu tiba, dan dia ingin dibawa ke hadapan Sanhedrin untuk pengadilan atas tuduhan menyembuhkan seorang buta pada hari Sabat, ketika sidang pengadilan tinggi Yahudi itu sendiri akan menghakimi dia karena tindakan belas kasihan itu akan diselenggarakan tentang perkara ini pada hari Sabat dan dalam pelanggaran langsung terhadap hukum yang mereka terapkan sendiri.

Tapi mereka tidak memanggil Yesus ke hadapan mereka; mereka takut berbuat hal itu. Sebaliknya, mereka segera memanggil Yosia. Setelah beberapa pertanyaan pendahuluan, juru bicara Sanhedrin (sekitar lima puluh anggota yang hadir) menyuruh Yosia untuk memberitahu mereka apa yang telah terjadi kepadanya. Sejak kesembuhannya pagi itu Yosia telah mengetahui dari Tomas, Natanael, dan lain-lainnya bahwa orang Farisi marah tentang penyembuhannya pada hari Sabat, dan bahwa mereka kemungkinan besar akan membuat masalah bagi semua yang terkait; tapi Yosia belum mengerti, bahwa Yesus adalah dia yang disebut Pembebas itu. Jadi, ketika orang-orang Farisi menanyainya, ia berkata: “Orang ini datang, menaruh tanah liat pada mataku, menyuruhku untuk pergi membasuh di Siloam, dan benar aku sekarang melihat.”

Salah seorang Farisi yang lebih tua, setelah membuat pidato panjang lebar, berkata: “Orang ini tidak mungkin dari Allah karena kalian dapat melihat bahwa ia tidak memelihara hari Sabat. Dia melanggar hukum, pertama, dengan membuat tanah liat itu, kemudian, dengan mengirimkan pengemis ini untuk membasuh di Siloam pada hari Sabat. Orang seperti itu tidak mungkin guru yang diutus dari Allah.”

Kemudian salah seorang dari orang-orang yang lebih muda yang diam-diam percaya pada Yesus, berkata: “Jika orang ini tidak dikirim oleh Allah, bagaimana dia bisa melakukan hal-hal ini? Kita tahu bahwa orang berdosa yang biasa tidak dapat mengerjakan mujizat seperti itu. Kita semua tahu pengemis ini dan bahwa ia lahir buta; sekarang dia melihat. Apakah engkau masih mengatakan bahwa nabi ini melakukan semua keajaiban ini oleh kuasa penghulu setan?” Dan untuk setiap Farisi yang berani menuduh dan mengecam Yesus ada yang bangkit untuk menanyakan pertanyaan yang menjerat dan memalukan, sehingga perpecahan serius muncul di antara mereka. Pejabat ketua melihat ke mana arah mereka bergeser, dan untuk meredakan diskusi, ia bersiap lebih lanjut untuk menanyai orang itu sendiri. Berpaling ke Yosia, ia berkata: “Apa yang akan kamu katakan tentang orang ini, Yesus ini, yang kamu akui membuka matamu?” Dan Yosia menjawab, “aku pikir dia adalah seorang nabi.”

Para pemimpin sangat bingung dan, karena tidak tahu harus berbuat apa lagi, memutuskan untuk mendatangkan kedua orang tua Yosia agar mengetahui apakah ia benar-benar dilahirkan buta. Mereka enggan untuk percaya bahwa pengemis itu telah disembuhkan.

Telah terkenal di seputar Yerusalem, bukan hanya bahwa Yesus ditolak masuk ke dalam semua rumah ibadah, tetapi semua orang yang percaya ajarannya dibuang keluar juga dari rumah ibadah, dikucilkan (diekskomunikasi) dari jemaah Israel; dan ini berarti tidak mendapat semua jenis hak dan keistimewaan di seluruh bangsa Yahudi kecuali hak untuk membeli kebutuhan hidup.

Karena itu, ketika kedua orang tua Yosia, jiwa-jiwa yang miskin dan dibebani ketakutan itu, muncul di hadapan Sanhedrin yang agung itu, mereka takut untuk berbicara dengan bebas. Kata juru bicara pengadilan: “Apakah ini anakmu? dan kami memahami dengan benar bahwa ia lahir buta? Jika ini benar, bagaimana ia sekarang dapat melihat?” Dan kemudian ayahnya Yosia, disokong oleh ibunya, menjawab: “Kami tahu bahwa dia ini adalah anak kami, dan bahwa ia lahir buta, tapi bagaimana itu sehingga ia menjadi melihat, atau siapa yang membuka matanya, kami tidak tahu. Tanyakan padanya; ia sudah berumur; biarkan dia berbicara sendiri.”

Mereka sekarang memanggil Yosia ke depan mereka untuk kedua kalinya. Mereka tidak merasa nyaman dengan rancangan mereka mengadakan pengadilan resmi, dan beberapa dari mereka mulai merasa aneh melakukan hal ini pada hari Sabat; oleh karena itu, ketika mereka memanggil ulang Yosia, mereka berusaha untuk menjeratnya melalui mode serangan yang berbeda. Pejabat pengadilan berbicara dengan orang yang sebelumnya buta itu, berkata: “Mengapa kamu tidak memberi Allah kemuliaan untuk ini? Mengapa kamu tidak memberitahu kami kebenaran seluruhnya tentang apa yang terjadi? Kami semua tahu bahwa orang itu orang berdosa. Mengapa kamu menolak untuk melihat kebenaran? Kamu tahu bahwa kamu dan orang ini tertuduh karena melanggar Sabat. Apakah kamu tidak menebus dosamu dengan mengakui Allah sebagai penyembuhmu, jika kamu masih mengaku bahwa matamu hari ini telah dibuka?”

Tetapi Yosia tidak bodoh atau kurang dalam humor; jadi ia menjawab kepada petugas pengadilan: “Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tapi satu hal yang aku tahu—bahwa, tadinya aku buta, dan sekarang aku melihat.” Dan karena mereka tidak bisa menjerat Yosia, mereka berusaha lebih lanjut untuk menanyainya, bertanya: “Terus bagaimana dia membuka matamu? apa yang benar-benar dia lakukan padamu? Apa yang dia katakan padamu? apakah dia meminta kamu untuk percaya kepadanya?”

Yosia menjawab, dengan agak tidak sabar: “Aku telah memberitahukan kepada kalian persisnya bagaimana semua itu terjadi, dan jika kalian tidak percaya kesaksianku, mengapa kalian mau mendengarnya lagi? Apakah kalian barangkali juga mau menjadi muridnya?” Ketika Yosia berbicara demikian, Sanhedrin meledak dalam kekacauan, nyaris kekerasan, karena para pemimpin menyerbu ke Yosia, dengan marah berseru: “Kamu bisa berbicara tentang menjadi muridnya orang ini, tapi kami adalah murid-murid Musa, dan kami adalah guru-guru hukum-hukum Allah. Kami tahu bahwa Allah berbicara melalui Musa, tetapi mengenai manusia Yesus ini, kami tidak tahu dari mana dia.”

Kemudian Yosia, sambil berdiri di atas sebuah bangku, berteriak keras kepada semua yang bisa mendengar, berkata: “Dengarkan, engkau semua yang mengaku sebagai guru seluruh Israel, meskipun aku menyatakan kepada kalian bahwa di sini ada keheranan besar karena kalian mengakui bahwa kalian tidak tahu dari mana orang ini, namun kalian tahu tentang kepastian, dari kesaksian yang telah engkau dengar, bahwa ia membuka mataku. Kita semua tahu bahwa Allah tidak melakukan pekerjaan seperti itu untuk orang fasik; bahwa Allah akan melakukan hal seperti itu hanya atas permohonan dari seorang penyembah yang benar—bagi orang yang kudus dan benar. Kalian tahu bahwa belum ada sejak pemulaan dunia kalian pernah mendengar tentang pembukaan mata orang yang lahir buta. Lihatlah, karena itu, kalian semua, kepada aku dan sadarilah apa yang telah dilakukan hari ini di Yerusalem! Aku berkata kepadamu, jika orang ini bukan dari Allah, ia tidak bisa melakukan ini.” Dan sementara para anggota Sanhedrin pergi dalam kemarahan dan kebingungan, mereka berteriak kepadanya: “Kamu sama sekali dilahirkan dalam dosa, dan kamu sekarang berani mengajar kami? Mungkin kamu tidak benar-benar dilahirkan buta, dan bahkan jika matamu dibuka pada hari Sabat, ini dilakukan oleh kuasa penghulu setan.” Dan mereka langsung pergi ke rumah ibadah untuk mengucilkan Yosia.

Yosia memasuki pengadilan ini dengan sedikit gagasan tentang Yesus dan sifat penyembuhannya. Sebagian besar kesaksian berani yang ia sampaikan dengan begitu cerdik dan berani di depan pengadilan tertinggi seluruh Israel ini berkembang dalam benaknya sementara sidang berlangsung melalui cara-cara yang tidak pantas dan tidak adil tersebut.

5. Mengajar di Serambi Salomo

Sepanjang sesi Sanhedrin yang melanggar Sabat itu sedang berlangsung dalam salah satu ruang bait suci, Yesus sedang berjalan tidak jauh di dekatnya, sedang mengajar orang banyak di Serambi Salomo, berharap bahwa dia akan dipanggil ke hadapan Sanhedrin dimana dia bisa memberitahu mereka kabar baik tentang kebebasan dan sukacita keanakan ilahi dalam kerajaan Allah. Namun mereka takut untuk memanggilnya. Mereka selalu digelisahkan oleh kehadiran-kehadiran Yesus yang tiba-tiba dan di depan umum di Yerusalem ini. Kesempatan itu sendiri yang begitu gigih mereka cari, Yesus sekarang berikan pada mereka, tetapi mereka takut untuk membawa dia ke hadapan Sanhedrin bahkan sebagai saksi, dan bahkan lebih lagi mereka takut untuk menangkapnya.

Ini adalah pertengahan musim dingin di Yerusalem, dan orang-orang mencari tempat perlindungan sebagian di Serambi Sulaiman; dan sementara Yesus menunggu berlama-lama di situ, orang banyak mengajukan banyak pertanyaan, dan dia mengajar mereka selama lebih dari dua jam. Beberapa guru Yahudi berusaha untuk menjeratnya dengan bertanya di depan umum padanya: “Berapa lama engkau akan membiarkan kami dalam kegelisahan? Jika engkau adalah Mesias, mengapa engkau tidak terang-terangan memberitahu kami?” Kata Yesus: “Aku telah mengatakan kepada kalian tentang diriku dan Bapaku berkali-kali, tetapi kalian tidak mau percaya padaku. Tidak bisakah kalian melihat bahwa pekerjaan-pekerjaan yang aku lakukan dalam nama Bapaku itu menjadi saksi bagiku? Tapi banyak dari kalian tidak percaya karena kalian tidak termasuk kawananku. Guru kebenaran menarik hanya mereka yang lapar akan kebenaran dan yang haus akan kebajikan. Dombaku mendengarkan suaraku dan aku mengenal mereka dan mereka mengikut aku. Dan untuk semua yang mengikuti ajaranku, aku memberikan hidup yang kekal; mereka pasti tidak akan binasa, dan tidak ada yang akan merebut mereka dari tanganku. Bapaku, yang telah memberiku anak-anak ini, adalah lebih besar dari semuanya, sehingga tidak ada yang mampu merebut mereka dari tangan Bapaku. Aku dan Bapa adalah satu.” Beberapa orang Yahudi yang tidak percaya bergegas ke tempat dimana mereka masih membangun bait suci hendak mengambil batu untuk melempari Yesus, tetapi orang-orang yang percaya menahan mereka.

Yesus melanjutkan pengajarannya: “Banyak pekerjaan kasih yang aku telah tunjukkan kepada kalian dari Bapa, sehingga sekarang aku akan menanyakan yang mana dari karya-karya yang baik itu sehingga kalian hendak melempari aku dengan batu?” Dan kemudian jawab salah seorang Farisi: “Bukan karena pekerjaan yang baik sehingga kami hendak melemparimu, melainkan karena kamu menghujat Allah, lantaran karena kamu, sekalipun hanya seorang manusia saja, berani untuk membuat dirimu setara dengan Allah.” Yesus menjawab: “Kalian mendakwa Anak Manusia dengan penghujatan karena kalian menolak untuk percaya aku ketika aku menyatakan kepada kalian bahwa aku diutus oleh Allah. Jika aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah, janganlah percaya, tapi jika aku melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah, bahkan meskipun kalian tidak percaya kepada, aku berpikir kalian akan percaya pekerjaan-pekerjaan itu. Tetapi supaya kalian yakin akan apa yang aku nyatakan, biarlah aku tegaskan lagi bahwa Bapa ada di dalam aku dan aku di dalam Bapa, dan bahwa, seperti Bapa tinggal di dalam aku, begitu pun aku akan tinggal di dalam setiap orang yang percaya kabar baik ini.” Dan ketika orang-orang mendengar kata-kata ini, banyak dari mereka bergegas keluar hendak mengambil batu untuk dilemparkan kepadanya, tetapi dia lewat keluar melalui pelataran bait suci; dan sambil menemui Natanael dan Tomas, yang telah menghadiri sidang Sanhedrin, dia menunggu dengan mereka di dekat bait suci sampai Yosia datang dari ruang sidang.

Yesus dan kedua rasul tidak pergi mencari Yosia di rumahnya sampai mereka mendengar ia telah dikucilkan dari sinagog. Ketika mereka datang ke rumahnya, Tomas memanggilnya keluar ke halaman, dan Yesus, berbicara kepadanya, mengatakan: “Yosia, apakah kamu percaya pada Anak Allah?” Dan Yosia menjawab, “Katakan siapa dia supaya aku percaya kepadanya.” dan Yesus berkata: “Kamu telah melihat dan juga mendengar dia, dan dialah yang sekarang berbicara kepada kamu.” dan Yosia mengatakan, “Tuhan, aku percaya,” dan sambil tersungkur, ia menyembah.

Ketika Yosia mengetahui bahwa ia telah dikucilkan dari rumah ibadah, ia pada awalnya sangat sedih, tapi ia banyak dikuatkan ketika Yesus menyuruh agar ia segera mempersiapkan diri untuk pergi bersama mereka ke perkemahan di Pella. Orang Yerusalem yang berpikiran sederhana ini memang telah dikucilkan dari sebuah sinagog Yahudi, tetapi lihatlah sang Pencipta sebuah alam semesta membawanya pergi untuk terhubung dengan kelas ningrat rohani pada hari dan generasi itu.

Maka Yesus meninggalkan Yerusalem, tidak kembali lagi sampai mendekati waktu ketika dia siap untuk meninggalkan dunia ini. Bersama dua rasul dan Yosia, Guru kembali ke Pella. Yosia terbukti menjadi salah satu penerima pelayanan mujizat Guru yang ternyata berhasil, karena ia menjadi seorang pengkhotbah injil kerajaan seumur hidupnya.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved