Makalah 141: Memulai Pekerjaan Publik

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 141

Memulai Pekerjaan Publik

Pada hari pertama minggu itu, 19 Januari 27 M., Yesus dan kedua belas rasul bersiap untuk berangkat dari markas mereka di Betsaida. Duabelasnya tidak tahu apa-apa tentang rencana Guru mereka kecuali bahwa mereka pergi ke Yerusalem untuk menghadiri perayaan Paskah pada bulan April, dan bahwa niatnya untuk berjalan melalui lembah Yordan. Mereka belum pergi dari rumah Zebedeus sampai menjelang siang karena keluarga para rasul dan murid-murid yang lain telah datang untuk mengucapkan selamat jalan dan ucapan semoga berhasil dalam pekerjaan baru yang mereka akan segera mulai.

Tepat sebelum pergi, para rasul kehilangan sang Guru, dan Andreas keluar untuk mencarinya. Setelah pencarian singkat ia menemukan Yesus sedang duduk dalam sebuah perahu di pesisir pantai, dan ia sedang menangis. Dua belas rasul sudah sering melihat Guru mereka ketika dia tampak berduka, dan mereka telah melihat waktu-waktu singkat ia larut dalam pikiran yang serius, namun tidak seorangpun dari mereka pernah melihatnya menangis. Andreas agak terkejut melihat Guru terpengaruh seperti itu menjelang keberangkatan mereka ke Yerusalem, dan ia memberanikan diri untuk mendekati Yesus dan bertanya: “Pada hari besar ini, Guru, ketika kita akan berangkat ke Yerusalem untuk memberitakan kerajaan Bapa, mengapa sehingga engkau menangis? Yang mana dari kami yang telah menyinggung perasaanmu?” Dan Yesus, kembali bersama Andreas untuk bergabung dengan dua belas, menjawabnya: “Tidak seorangpun dari kamu telah menyedihkan aku. Aku menjadi sedih hanya karena tidak ada dari keluarga ayahku Yusuf yang ingat untuk singgah mengucapkan semoga berhasil.” Saat ini Rut sedang mengunjungi Yusuf kakaknya di Nazaret. Anggota keluarganya yang lain menjauh oleh karena keangkuhan, kekecewaan, kesalahpahaman, dan kebencian remeh sebagai akibat dari perasaan terluka.

1. Meninggalkan Galilea

Kapernaum tidak terlalu jauh dari Tiberias, dan ketenaran Yesus telah mulai tersebar luas ke seluruh Galilea dan bahkan ke daerah-daerah lain. Yesus tahu bahwa Herodes akan segera mulai memperhatikan pekerjaannya; maka dia berpikir bahwa yang terbaik adalah pergi ke selatan dan ke Yudea dengan para rasulnya. Serombongan lebih dari seratus orang percaya ingin untuk pergi dengan mereka, tetapi Yesus berbicara kepada mereka dan minta mereka untuk tidak menemani kelompok apostolik dalam perjalanan mereka menyusuri sungai Yordan. Meskipun mereka setuju untuk tetap tinggal, banyak dari mereka mengikuti Guru dalam beberapa hari.

Hari pertama Yesus dan para rasul hanya berjalan sejauh Tarichea, dimana mereka beristirahat semalam. Keesokan harinya mereka melakukan perjalanan ke sebuah titik di sungai Yordan dekat Pella dimana Yohanes telah berkhotbah sekitar satu tahun sebelumnya, dan dimana Yesus telah menerima baptisan. Di sini mereka tinggal selama lebih dari dua minggu, mengajar dan berkhotbah. Pada akhir minggu pertama beberapa ratus orang telah berkumpul di sebuah perkemahan dekat tempat Yesus dan dua belas tinggal, dan mereka telah datang dari Galilea, Fenisia, Syria, Dekapolis, Perea, dan Yudea.

Yesus tidak melakukan pemberitaan publik. Andreas membagi orang banyak dan menugaskan para pengkhotbah untuk pertemuan pagi dan sore hari; setelah makan malam Yesus berbicara dengan dua belas rasul. Dia tidak mengajar mereka sesuatu yang baru tetapi meninjau lagi ajaran sebelumnya dan menjawab banyak pertanyaan mereka. Pada salah satu dari malam-malam ini dia menceritakan pada dua belas beberapa tentang empat puluh hari dia berada di perbukitan dekat tempat ini.

Banyak dari mereka yang datang dari Perea dan Yudea telah dibaptis oleh Yohanes dan tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang ajaran-ajaran Yesus. Para rasul membuat banyak kemajuan dalam mengajar murid-murid Yohanes lantaran mereka tidak dengan cara apapun mengecilkan pemberitaannya Yohanes, dan karena mereka pada saat itu tidak membaptiskan murid-murid baru mereka. Tetapi selalu menjadi batu sandungan bagi pengikut Yohanes mengapa Yesus, jika dia adalah yang telah diumumkan Yohanes, tidak melakukan apapun untuk mengeluarkan Yohanes dari penjara. Murid-murid Yohanes tidak pernah bisa mengerti mengapa Yesus tidak mencegah kematian kejam pemimpin yang mereka kasihi itu.

Dari malam ke malam Andreas dengan hati-hati mengajari rekan-rekan rasulnya tugas yang peka dan sulit supaya lancar bekerjasama dengan para pengikut Yohanes Pembaptis. Selama tahun pertama pelayanan publik Yesus ini, lebih dari tiga perempat pengikutnya sebelumnya telah mengikuti Yohanes dan telah menerima baptisannya. Seluruh tahun 27 M ini dihabiskan dengan diam-diam mengambil alih pekerjaan Yohanes di Perea dan Yudea.

2. Hukum Tuhan dan Kehendak Bapa

Malam sebelum mereka meninggalkan Pella, Yesus memberikan para rasul beberapa pengajaran lebih lanjut sehubungan dengan kerajaan yang baru. Kata Guru: “Kamu telah diajar untuk menunggu kedatangan kerajaan Allah, dan aku sekarang datang mengumumkan bahwa kerajaan yang lama ditunggu itu sudah dekat, bahkan sudah ada di sini dan di tengah-tengah kita. Dalam setiap kerajaan harus ada seorang raja duduk di atas takhtanya dan menetapkan hukum kerajaan. Dan sebab itulah kamu telah mengembangkan konsep kerajaan surga sebagai pemerintahan dimuliakan bangsa Yahudi atas semua bangsa di bumi dengan Mesias duduk di atas takhta Daud dan dari tempat kuasa ajaib ini menyebarkan hukum ke seluruh dunia. Tetapi, anak-anakku, kamu tidak melihat dengan mata iman, dan kamu tidak mendengar dengan pengertian roh. Aku menyatakan bahwa kerajaan surga adalah perwujudan dan pengakuan akan pemerintahan Tuhan di dalam hati manusia. Benar, ada Raja dalam kerajaan ini, dan Raja itu adalah Bapaku dan Bapamu. Kami memang bawahan-bawahan-Nya yang setia, tetapi jauh melampaui fakta itu adalah kebenaran yang mengubahkan bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Dalam hidupku kebenaran ini akan menjadi nyata kepada semuanya. Bapa kita juga duduk di atas takhta, tetapi yang tidak satupun dibuat dengan tangan manusia. Takhta dari Yang Tanpa Batas itu adalah tempat tinggal yang kekal dari Bapa di langit segala langit; Ia mengisi segala sesuatu dan menyatakan hukum-Nya untuk alam-alam semesta raya. Dan Bapa juga memerintah di dalam hati anak-anak-Nya di atas bumi dengan roh yang telah Dia kirimkan untuk tinggal di dalam jiwa manusia fana.

“Bila kamu adalah rakyat dari kerajaan ini, kamu memang dibuat untuk mendengar hukum dari Penguasa Semesta; tetapi kalau, karena injil kerajaan yang aku datang untuk menyatakannya itu, kamu menemukan dirimu oleh iman sebagai anak, maka kamu selanjutnya tidak memandang diri kamu sendiri sebagai makhluk yang tunduk pada hukum seorang raja yang mahakuasa tetapi sebagai anak istimewa dari Bapa yang penuh kasih dan ilahi. Sesungguhnya, aku berkata kepadamu, ketika kehendak Bapa menjadi hukum kamu, kamu hampir ada dalam kerajaan. Tetapi ketika kehendak Bapa menjadi benar-benar kehendakmu, maka kamu sesungguhnya berada dalam kerajaan itu karena kerajaan itu telah menjadi pengalaman yang terbentuk dalam dirimu. Kalau kehendak Tuhan adalah hukum kamu, kamu adalah bawahan-bawahan budak yang mulia; tetapi ketika kamu percaya injil baru tentang keanakan ilahi ini, kehendak Bapaku menjadi kehendakmu, dan kamu diangkat ke posisi yang tinggi sebagai anak-anak merdeka Tuhan, anak-anak kerajaan yang dibebaskan.”

Beberapa dari para rasul memahami sebagian dari ajaran ini, namun tidak satupun dari mereka memahami makna penuh dari pengumuman yang luar biasa ini, kecuali Yakobus anak Zebedeus. Namun kata-kata ini mengendap ke dalam hati mereka dan timbul lagi untuk membahagiakan pelayanan mereka selama tahun-tahun pelayanan kemudian.

3. Kunjungan di Amathus

Guru dan rasul-rasulnya tetap tinggal dekat Amathus selama hampir tiga minggu. Para rasul terus berkhotbah dua kali sehari untuk orang banyak, dan Yesus berkhotbah setiap hari Sabat sore. Tidak mungkin lagi untuk melanjutkan waktu bermain hari Rabu; maka Andreas mengatur agar dua rasul harus beristirahat tiap harinya dari enam hari dalam seminggu, sementara semua bertugas selama pelayanan Sabat.

Petrus, Yakobus, dan Yohanes melakukan sebagian besar pemberitaan publik. Filipus, Natanael, Tomas, dan Simon melakukan banyak pekerjaan pribadi dan menyelenggarakan kelas untuk kelompok khusus para penanya; si kembar melanjutkan pengawasan polisi umum mereka, sementara Andreas, Matius, dan Yudas berkembang menjadi sebuah komite manajerial umum tiga orang, meskipun masing-masing dari ketiganya juga melakukan banyak pekerjaan keagamaan.

Andreas amat disibukkan tugas menyesuaikan kesalah-pahaman dan perselisihan yang terus berulang antara murid-murid Yohanes dan murid-murid Yesus yang lebih baru. Situasi serius akan muncul setiap beberapa hari, tetapi Andreas, dengan bantuan dari rekan-rekan kerasulannya, berhasil mendorong pihak-pihak yang bertentangan itu untuk sampai pada beberapa jenis kesepakatan tertentu, setidaknya untuk sementara. Yesus menolak untuk ikut serta dalam semua pertemuan-pertemuan ini; tidak pula dia memberikan saran tentang penyesuaian yang tepat atas kesulitan-kesulitan ini. Dia tidak pernah memberi saran tentang bagaimana para rasul seharusnya memecahkan masalah-masalah ini. Ketika Andreas datang kepada Yesus dengan pertanyaan-pertanyaan ini, dia akan selalu berkata: “Tidaklah bijaksana bagi tuan rumah untuk ikut campur dalam masalah keluarga tamu-tamunya; orang tua yang bijaksana tidak pernah memihak dalam pertengkaran kecil anak-anaknya sendiri.”

Guru menampilkan kebijaksanaan yang besar dan menunjukkan keadilan yang sempurna dalam semua urusannya dengan para rasulnya dan dengan seluruh muridnya. Yesus adalah benar-benar ahli manusia; dia memberikan pengaruh besar atas manusia sesamanya karena gabungan pesona dan kekuatan kepribadiannya. Ada pengaruh berwibawa yang halus dalam hidupnya yang sukar, berpindah-pindah, dan tanpa rumah itu. Ada daya tarik intelektual dan daya penarik rohani dalam caranya mengajar yang berwibawa, dalam logikanya yang jernih, kekuatan penalarannya, wawasan cerdasnya, kewaspadaan batinnya, sikap tenangnya yang tak tertandingi, dan toleransi mendalamnya. Dia sederhana, jantan, jujur, dan tak kenal takut. Dengan semua pengaruh fisik dan intelektual ini mewujud dalam kehadiran Guru, ada juga semua pesona rohani yang telah menjadi terkait dengan kepribadiannya—kesabaran, kehalusan, kelemah-lembutan, kesopanan, dan kerendahan hati.

Yesus dari Nazaret itu memang kepribadian yang kuat dan berpengaruh; dia adalah suatu kekuatan intelektual dan suatu benteng rohani. Kepribadiannya tidak hanya menarik bagi para wanita yang berpikiran rohani di kalangan pengikutnya, tetapi juga bagi Nikodemus yang berpendidikan dan intelektual, dan pada prajurit Romawi yang keras, kapten yang ditempatkan berjaga di kayu salib, yang ketika dia selesai menonton Guru wafat, berkata, “Sungguh, ini adalah seorang Anak Tuhan.” Dan para nelayan Galilea yang jantan dan kasar itu memanggilnya Guru.

Gambar-gambar Yesus itu yang paling disayangkan. Lukisan-lukisan tentang Kristus ini telah memberikan pengaruh yang merugikan terhadap kaum muda; para pedagang bait suci tidak akan melarikan diri dari hadapan Yesus jika saja dia seperti seorang laki-laki yang biasanya digambarkan para senimanmu itu. Gambaran dirinya itu kejantanan yang bermartabat; dia itu baik, tetapi alami. Yesus tidak berpose sebagai penganut kebatinan yang lunak, manis, lembut, dan baik hati. Ajarannya dinamis menggetarkan hati. Dia tidak hanya bermaksud baik, tapi dia berkeliling benar-benar berbuat baik.

Guru tidak pernah berkata, “Datanglah kepadaku semua kamu yang pemalas dan semua kamu yang pemimpi.” Tetapi dia berkali-kali mengatakan, “Datanglah kepadaku semua yang kamu yang bersusah payah, dan aku akan memberi kamu istirahat—kekuatan rohani.” Kuknya Guru itu memang mudah, namun demikian, dia tidak pernah memasangnya; setiap individu harus memikul kuk ini karena kehendak bebasnya sendiri.

Yesus menggambarkan penaklukan oleh pengorbanan, pengorbanan kesombongan dan kepentingan diri sendiri. Dengan menunjukkan belas kasihan, dia bermaksud untuk menggambarkan pembebasan rohani dari semua dendam, keluhan, amarah, dan nafsu untuk kekuasaan dan balas dendam untuk kepentingan sendiri. Dan ketika ia berkata, “Jangan melawan kejahatan,” ia kemudian menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud untuk membenarkan dosa atau menganjurkan bersahabat dengan ketidakadilan. Dia bermaksud lebih untuk mengajarkan pengampunan, untuk “tidak melawan perlakuan jahat terhadap kepribadian seseorang, luka jahat terhadap perasaan martabat pribadi orang itu.”

4. Mengajarkan tentang Bapa

Sementara berkunjung di Amathus, Yesus menghabiskan banyak waktu dengan para rasul mengajari mereka konsep baru tentang Tuhan; lagi dan lagi dia menekankan kepada mereka bahwa Tuhan adalah sosok Bapa, bukan pemegang buku yang besar dan agung yang urusannya membuat entri hukuman terhadap anak-anaknya yang berdosa di bumi, catatan-catatan dosa dan kejahatan yang akan dipergunakan melawan mereka ketika dia kemudian duduk dalam penghakiman terhadap mereka sebagai Hakim yang adil atas semua ciptaan. Orang-orang Yahudi telah lama membayangkan Allah sebagai raja atas semuanya, bahkan sebagai Bapa untuk bangsa, tetapi belum pernah sejumlah besar manusia meyakini gagasan tentang Tuhan sebagai Bapa yang penuh kasih untuk perorangan.

Dalam menjawab pertanyaan Tomas, “Siapakah Tuhannya kerajaan ini?” Jawab Yesus: “Tuhan adalah Bapamu, dan agama—yaitu kabar baikku—adalah tidak lebih dan tidak kurang dari pengakuan percaya mengenai kebenaran bahwa kamu adalah anak-Nya. Dan aku ada di sini ada di antaramu dalam daging untuk membuat jelas kedua ide ini dalam hidup dan dalam ajaran-ajaranku.”

Yesus juga berusaha untuk membebaskan pikiran para rasulnya dari ide mempersembahkan korban binatang sebagai kewajiban keagamaan. Tetapi orang-orang ini, karena sudah dididik dalam agama pengorbanan harian, lambat untuk memahami apa yang dimaksudkannya. Namun demikian, Guru tidak menjadi lelah dalam pengajarannya. Kalau dia gagal menjangkau pikiran semua rasul dengan memakai suatu ilustrasi, dia akan menyatakan ulang pesannya dan menggunakan jenis perumpamaan yang lain untuk tujuan pencerahan.

Pada saat yang sama ini Yesus mulai mengajari dua belas rasul secara lebih penuh mengenai misi mereka “untuk menghibur yang menderita dan melayani yang sakit.” Guru mengajar mereka banyak hal tentang manusia seutuhnya—kesatuan tubuh, batin, dan roh untuk membentuk individu lelaki atau perempuan. Yesus memberitahu kepada rekan-rekannya tentang tiga bentuk penderitaan yang mereka akan temui kemudian menjelaskan bagaimana mereka akan melayani semua orang yang menderita duka karena sakit penyakit manusia. Dia mengajar mereka untuk mengenali:

1. Penyakit badani—penderitaan yang biasanya dianggap sebagai sakit fisik.

2. Pikiran bermasalah—penderitaan bukan badani yang kemudian dipandang sebagai kesulitan dan gangguan emosional serta mental.

3. Kerasukan roh-roh jahat.

Yesus menjelaskan kepada para rasulnya pada beberapa kesempatan tentang keadaan, dan beberapa mengenai asal usul roh-roh jahat ini, yang pada hari itu sering juga disebut roh najis. Guru tahu betul perbedaan antara kerasukan roh-roh jahat dan kegilaan, tetapi para rasul tidak. Hal itu memang tidak mungkin juga, mengingat keterbatasan pengetahuan mereka tentang sejarah awal Urantia, bagi Yesus untuk membuat perkara ini sepenuhnya dimengerti. Tetapi ia berkali-kali berkata kepada mereka, mengacu tentang roh-roh jahat ini: “Mereka tidak akan menganiaya orang-orang lagi kalau aku telah naik kepada Bapa di surga, dan setelah aku mencurahkan rohku ke atas semua manusia pada saat-saat itu ketika kerajaan akan datang dalam kuasa yang besar dan kemuliaan rohani.”

Dari minggu ke minggu dan dari bulan ke bulan, sepanjang tahun ini, para rasul memberikan perhatian lebih dan lebih lagi untuk pelayanan penyembuhan orang sakit.

5. Kesatuan Rohani

Salah satu peristiwa paling penting dari semua pertemuan malam di Amathus adalah sesi yang berkaitan dengan diskusi tentang kesatuan rohani. Yakobus Zebedeus telah bertanya, “Guru, bagaimana kami belajar agar kami kelihatan serupa dan karena itu lebih harmonis di antara kami sendiri?” Ketika Yesus mendengar pertanyaan ini, hatinya bergejolak, demikian rupa sehingga ia menjawab: “Yakobus, Yakobus, kapan aku mengajarkan kamu agar kamu semua harus terlihat serupa? Aku datang ke dunia untuk mewartakan kemerdekaan rohani sehingga manusia dapat diberdayakan untuk menjalani hidup perorangan yang asli dan bebas di hadapan Tuhan. Aku tidak menginginkan harmoni sosial dan damai persaudaraan harus dibeli oleh pengorbanan kepribadian bebas dan keaslian rohani. Apa yang aku minta dari kamu, rasul-rasulku, adalah kesatuan roh—dan bahwa kamu dapat mengalami sukacita dalam pengabdian menyatu untuk sepenuh hati melakukan kehendak Bapaku yang di surga. Kamu tidak harus terlihat serupa atau merasa serupa atau bahkan berpikir serupa agar secara rohani menjadi serupa. Kesatuan rohani diperoleh dari kesadaran bahwa kamu masing-masing didiami, dan semakin dikuasai, oleh karunia roh dari Bapa surgawi. Harmoni kerasulan kamu harus bertumbuh dari fakta bahwa pengharapan roh masing-masing kamu itu sama persis dalam asal, sifat, dan tujuannya.

“Dengan cara inilah kamu mungkin mengalami kesatuan maksud roh dan pemahaman roh yang disempurnakan yang tumbuh dari kesadaran bersama dari identitas setiap roh Firdaus yang mendiami kamu; dan kamu bisa menikmati semua kesatuan rohani yang mendalam ini sekalipun kamu menghadapi keanekaragaman terbesar dalam sikap individual dalam pikiran intelektual, perasaan temperamental, dan perilaku sosialmu. Kepribadian kamu mungkin luar biasa beragam dan secara menyolok berbeda, sedangkan kodrat-tabiat rohanimu dan buah-buah roh dari ibadah ilahi dan kasih persaudaraan itu mungkin bisa menjadi begitu dipersatukan sehingga semua yang menyaksikan hidup kamu akan pasti mengenali identitas roh dan kesatuan jiwa ini; mereka akan mengenali bahwa kamu telah bersama aku dan dengan demikian belajar, bagaimana melakukan kehendak Bapa di surga dengan memuaskan. Kamu dapat mencapai kesatuan untuk pelayanan pada Tuhan bahkan saat kamu memberikan pelayanan tersebut sesuai dengan kemampuan asli batin, tubuh, dan jiwamu sendiri.

“Kesatuan rohmu itu menyiratkan dua hal, yang akan selalu perlu diselaraskan dalam kehidupan setiap orang percaya: Pertama, kamu dipenuhi oleh motif bersama untuk pelayanan hidup; kamu semua menginginkan di atas segalanya untuk melakukan kehendak Bapa di surga. Kedua, kamu semua memiliki tujuan kehidupan bersama; kamu semua bertujuan untuk menemukan Bapa di surga, sehingga membuktikan kepada alam semesta bahwa kamu telah menjadi seperti Dia.”

Banyak kali selama pelatihan dua belas, Yesus kembali ke tema ini. Berulang kali dia mengatakan kepada mereka bahwa bukan keinginannya agar mereka yang percaya kepadanya harus menjadi didogmatisir dan dibakukan meskipun sesuai dengan penafsiran keagamaan dari orang-orang yang baik. Berulang kali dia memperingatkan para rasulnya untuk menghindari perumusan akidah dan pembentukan tradisi sebagai sarana untuk membimbing dan mengendalikan orang-orang yang percaya dalam injil kerajaan.

6. Minggu Terakhir di Amathus

Mendekati penghujung pekan terakhir di Amathus, Simon Zelot membawa kepada Yesus seorang bernama Teherma, seorang Persia yang sedang berbisnis di Damaskus. Teherma telah mendengar tentang Yesus dan telah datang ke Kapernaum untuk melihat dia, dan di sana ketika ia tahu bahwa Yesus telah pergi bersama para rasulnya melewati sungai Yordan dalam perjalanan ke Yerusalem, ia berangkat untuk mencarinya. Andreas telah memperkenalkan Teherma kepada Simon untuk diajar. Simon memandang si Persia itu sebagai “penyembah api,” meskipun Teherma berusaha susah payah untuk menjelaskan api itu hanya simbol kasat mata tentang Yang Murni dan Kudus. Setelah berbicara dengan Yesus, orang Persia itu menunjukkan niatnya untuk tinggal selama beberapa hari mendengarkan ajaran dan mendengarkan khotbah.

Ketika Simon Zelot dan Yesus sendirian berdua, Simon bertanya kepada Guru: “Mengapa aku tidak bisa meyakinkannya? Mengapa dia begitu melawanku namun begitu mudah membuka telinganya padamu?” Yesus menjawab: “Simon, Simon, berapa kali aku mengajari kamu untuk menghindari semua upaya untuk mencabut keluar sesuatu dari hati mereka yang mencari keselamatan? Berapa kali aku mengatakan kepadamu agar bekerja hanya untuk menaruh sesuatu ke dalam jiwa-jiwa yang lapar ini? Pimpinlah orang-orang ke dalam kerajaan, dan kebenaran-kebenaran yang besar dan hidup dari kerajaan itu akan segera mengusir semua kesalahan yang serius. Setelah kamu menyampaikan kepada manusia kabar baik bahwa Tuhan adalah Bapanya, maka kamu dapat lebih mudah meyakinkannya bahwa ia dalam kenyataannya adalah anak Tuhan. Dan setelah melakukan hal itu, kamu telah membawa terang keselamatan kepada orang itu yang duduk dalam kegelapan. Simon, ketika Anak Manusia datang pertama kepada kamu, apakah dia datang mencela Musa dan para nabi dan memberitakan cara hidup yang baru dan lebih baik? Tidak, aku datang bukan untuk mengambil apa yang telah kamu dapatkan dari nenek moyangmu, tetapi untuk menunjukkan pandangan yang disempurnakan yang hanya dilihat sebagian oleh para leluhurmu. Maka pergilah, Simon, ajarkan dan beritakan kerajaan itu, dan setelah kamu mendapatkan seseorang dengan aman dan pasti di dalam kerajaan, maka adalah waktunya, ketika orang tersebut akan datang kepadamu dengan pertanyaan-pertanyaan, maka sampaikan ajaran yang berkaitan dengan kemajuan progresif jiwa itu di dalam kerajaan ilahi.”

Simon heran pada kata-kata itu, tetapi ia melakukan seperti yang Yesus telah ajarkan padanya, dan Teherma, orang Persia itu, terhitung di antara mereka yang memasuki kerajaan.

Malam itu Yesus membicarakan kepada para rasul tentang kehidupan baru dalam kerajaan. Dia katakan sebagiannya: “Ketika kamu memasuki kerajaan itu, kamu dilahirkan kembali. Kamu tidak bisa mengajarkan hal yang mendalam tentang roh kepada mereka yang dilahirkan hanya dari daging; pertama-tama lihatlah apakah orang itu sudah dilahirkan dari roh sebelum kamu berusaha untuk mengajar mereka cara-cara lanjutan tentang roh. Jangan berusaha untuk menunjukkan pada orang tentang keindahan bait suci sebelum kamu bawa mereka dulu masuk ke dalam bait suci. Perkenalkan manusia kepada Tuhan dan sebagai anak-anak Tuhan sebelum kamu bahas doktrin-doktrin tentang kebapaan Tuhan dan keanakan manusia. Jangan bertengkar dengan orang-orang—selalu bersabar. Ini bukan kerajaan kamu; kamu adalah hanyalah duta-duta saja. Pergilah beritakan saja: Inilah kerajaan surga—Tuhan adalah Bapamu dan kamu adalah anak-anak-Nya, dan kabar baik ini, jika kamu percaya dengan sepenuh hati, adalah keselamatan kekalmu.”

Para rasul membuat kemajuan besar selama kunjungan di Amathus. Tapi mereka sangat kecewa karena Yesus tidak memberi mereka saran bagaimana berurusan dengan murid-murid Yohanes. Bahkan dalam hal penting mengenai baptisan, semua yang Yesus katakan adalah: “Yohanes memang membaptis dengan air, tetapi ketika kamu memasuki kerajaan surga, kamu akan dibaptis dengan Roh.”

7. Di Betania Seberang Yordan

Pada tanggal 26 Februari, Yesus, para rasulnya, dan sekelompok besar pengikut berangkat menuruni Yordan, ke tempat penyeberangan dekat Betania di Perea, tempat Yohanes pertama kali membuat proklamasi kerajaan yang akan datang. Yesus dengan para rasulnya tetap di sini, mengajar dan berkhotbah, selama empat minggu sebelum mereka melanjutkan pergi ke Yerusalem.

Minggu kedua kunjungan di Betania yang di seberang Yordan, Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke bukit-bukit di seberang sungai dan selatan Yerikho untuk beristirahat tiga hari. Guru mengajarkan pada tiga orang ini banyak kebenaran baru dan lanjutan tentang kerajaan surga. Untuk tujuan catatan ini kami akan menata ulang dan mengelompokkan ajaran-ajaran ini sebagai berikut:

Yesus berusaha untuk memperjelas bahwa ia menginginkan murid-muridnya, setelah mencicipi realitas-realitas roh yang baik dari kerajaan itu, agar hidup di dunia begitu rupa sehingga orang lain, dengan melihat kehidupan mereka, akan menjadi sadar akan kerajaan dan karenanya terdorong untuk menanyakan pada orang-orang percaya itu tentang cara-cara kerajaan. Semua pencari kebenaran yang tulus tersebut selalu senang mendengar kabar gembira tentang pemberian iman yang menjamin masuk ke kerajaan dengan realitas-realitas rohnya yang kekal dan ilahi itu.

Guru berusaha menekankan kepada semua guru injil kerajaan bahwa urusan pekerjaan mereka hanyalah untuk mengungkapkan Tuhan kepada manusia perorangan sebagai Bapanya—untuk memimpin manusia perorangan ini untuk menjadi sadar bahwa ia adalah anak; kemudian untuk mempersembahkan kepada Tuhan orang yang sama ini sebagai anak imani-Nya. Kedua pewahyuan pokok ini terpenuhi dalam Yesus. Memang dia menjadi “jalan, kebenaran, dan hidup.” Agama Yesus itu sepenuhnya didasarkan pada menghidupi hidup anugerahnya di bumi. Setelah Yesus meninggalkan dunia ini, dia tidak meninggalkan buku, hukum, atau bentuk organisasi manusia lain yang mempengaruhi kehidupan keagamaan individu.

Yesus menjelaskan bahwa dia telah datang untuk membangun hubungan pribadi dan kekal dengan manusia yang selamanya akan mendahului semua hubungan manusiawi lainnya. Dan dia menekankan bahwa persekutuan rohani yang intim ini akan diperluas kepada semua manusia dari segala zaman dan semua kondisi sosial di antara semua bangsa. Satu-satunya imbalan yang ia janjikan untuk anak-anaknya adalah: di dunia ini—sukacita rohani dan persekutuan ilahi; dalam dunia berikutnya—hidup kekal dalam kemajuan realitas-realitas roh ilahi dari Bapa Firdaus.

Yesus memberi penekanan besar pada apa yang disebut dua kebenaran terpenting dalam ajaran kerajaan, dan itu adalah: pencapaian keselamatan oleh iman, dan hanya iman saja, dikaitkan dengan ajaran revolusioner mengenai pencapaian kebebasan manusia melalui pengenalan kebenaran yang jujur, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan membuat kamu merdeka.” Yesus adalah kebenaran yang diwujudkan dalam daging, dan dia berjanji untuk mengirimkan Roh Kebenarannya ke dalam hati semua anaknya setelah dia kembali kepada Bapa di surga.

Guru sedang mengajari rasul-rasul ini pokok-pokok kebenaran bagi segala zaman di atas bumi. Mereka sering mendengarkan ajaran-ajarannya sedangkan pada kenyataannya apa yang dia katakan itu dimaksudkan untuk inspirasi dan pencerahan dunia-dunia yang lain. Dia memberikan teladan suatu rencana kehidupan yang baru dan asli. Dari sudut pandang manusia dia memang seorang Yahudi, tetapi dia menjalani hidupnya untuk seluruh dunia sebagai manusia fana dari alam.

Untuk memastikan pengenalan akan Bapanya dalam pelaksanaan rencana kerajaan, Yesus menjelaskan bahwa dia sengaja mengabaikan “orang-orang besar di bumi.” Dia mulai bekerja dengan kaum miskin, kelas yang telah begitu diabaikan oleh sebagian besar agama evolusi dari masa-masa sebelumnya. Dia tidak merendahkan siapapun; rencananya adalah untuk seluruh dunia, bahkan universal. Dia begitu berani dan tegas dalam pernyataan-pernyataan ini sehingga Petrus, Yakobus, dan Yohanes bahkan tergoda untuk berpikir bahwa dia mungkin saja tidak waras.

Dia berusaha dengan lunak untuk menyampaikan kepada rasul-rasul kebenaran bahwa dia telah datang pada misi penganugerahan ini, tidak untuk menetapkan contoh untuk beberapa manusia bumi saja, tetapi untuk mendirikan dan memperagakan suatu standar kehidupan manusia bagi semua bangsa pada semua dunia di seluruh alam semestanya. Dan standar ini mendekati kesempurnaan tertinggi, bahkan kebaikan terakhir Bapa Semesta. Tapi rasul-rasul tidak bisa memahami makna dari kata-katanya.

Dia menyatakan bahwa dia telah datang untuk berfungsi sebagai seorang guru, seorang guru yang dikirim dari surga untuk menyampaikan kebenaran rohani kepada pikiran jasmani. Dan inilah tepatnya apa yang dia lakukan; dia adalah seorang pengajar, bukan pengkhotbah. Dari sudut pandang manusia, Petrus adalah pengkhotbah yang jauh lebih efektif daripada Yesus. Khotbahnya Yesus begitu efektif karena kepribadiannya yang unik, tidak terlalu karena pidato meyakinkan atau daya tarik emosional. Yesus berbicara langsung kepada jiwa manusia. Dia adalah seorang guru untuk rohnya manusia, tetapi melalui pikiran. Dia hidup dengan manusia.

Pada kesempatan ini Yesus mengisyaratkan kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes bahwa pekerjaannya di bumi dalam beberapa hal dibatasi oleh penugasan dari “rekan di tempat tinggi,” yang mengacu pada instruksi pra-penganugerahan dari kakak Firdausnya, Immanuel. Dia memberitahu mereka bahwa dia telah datang untuk melakukan kehendak Bapanya dan hanya kehendak Bapanya. Karena menjadi demikian dimotivasi oleh ketunggalan tujuan yang sepenuh hati itu, maka dia tidak kuatir terganggu oleh kejahatan dalam dunia.

Para rasul mulai mengenali keramahan Yesus yang tidak terpengaruh itu. Meskipun Guru itu mudah didekati, dia selalu hidup independen dari, dan di atas, semua manusia. Tidak pernah sekalipun dia dikuasai oleh suatu pengaruh fana murni atau tunduk pada penilaian lemah manusia. Dia tidak peduli opini publik, dan dia tidak terpengaruh oleh pujian. Dia jarang berhenti untuk membetulkan kesalahpahaman atau mempermasalahkan kekeliruan. Dia tidak pernah minta nasihat dari siapapun; dia tidak pernah membuat permintaan doa.

Yakobus heran bagaimana Yesus tampaknya melihat yang akhir dari awalnya. Guru jarang kelihatan terkejut. Dia tidak pernah gelisah, jengkel, atau bingung. Dia tidak pernah meminta maaf kepada siapapun. Dia kadang-kadang sedih, tetapi tidak pernah berkecil hati.

Lebih jelas Yohanes melihat bahwa, meskipun memiliki semua kemampuan ilahinya, bagaimanapun juga Yesus adalah manusia. Yesus hidup sebagai manusia di antara manusia dan memahami, mengasihi, dan mengetahui bagaimana mengelola manusia. Dalam kehidupan pribadinya dia begitu manusiawi, namun demikian tanpa cacat. Dan selalu dia tidak mementingkan diri.

Meskipun Petrus, Yakobus, dan Yohanes tidak bisa memahami banyak dari apa yang Yesus katakan pada kesempatan ini, namun kata-kata Yesus yang ramah itu lama mengiang di dalam hati mereka, dan setelah penyaliban dan kebangkitan kata-kata ini muncul dengan kuat untuk memperkaya dan mengangkat pelayanan mereka berikutnya. Tak heran rasul-rasul tidak sepenuhnya memahami kata-kata Guru, karena dia sedang memproyeksikan kepada mereka rencana dari sebuah zaman yang baru.

8. Bekerja di Yerikho

Sepanjang persinggahan empat minggu di Betania yang di seberang sungai Yordan, beberapa kali setiap minggunya Andreas akan menugaskan para rasul berdua-dua untuk pergi ke Yerikho selama satu atau dua hari. Yohanes memiliki banyak pengikut di Yerikho, dan mayoritas dari mereka menyambut ajaran yang lebih maju dari Yesus dan para rasulnya. Pada kunjungan-kunjungan Yerikho ini para rasul mulai lebih spesifik melaksanakan instruksi Yesus untuk melayani orang sakit; mereka mengunjungi setiap rumah di dalam kota dan berusaha untuk menghibur setiap orang yang menderita.

Para rasul melakukan beberapa pekerjaan publik di Yerikho, namun usaha mereka terutama yang bersifat lebih diam-diam dan pribadi. Mereka sekarang menemukan bahwa kabar baik tentang kerajaan itu sangat menghibur bagi orang sakit; bahwa pesan mereka membawa penyembuhan untuk yang menderita. Dan di Yerikho itulah bahwa penugasan Yesus kepada keduabelas murid, untuk memberitakan kabar gembira kerajaan dan melayani yang menderita itu untuk pertama kalinya sepenuhnya dilaksanakan.

Mereka singgah di Yerikho dalam perjalanan ke Yerusalem dan disusul oleh sebuah delegasi dari Mesopotamia yang datang untuk berbicara dengan Yesus. Para rasul telah merencanakan untuk hanya satu hari di sini, tapi ketika para pencari kebenaran dari Timur ini tiba, Yesus menghabiskan tiga hari dengan mereka, dan mereka kembali ke berbagai rumah mereka di sepanjang Sungai Efrat dengan bahagia dalam pengetahuan tentang kebenaran-kebenaran baru dari kerajaan surga.

9. Berangkat ke Yerusalem

Pada hari Senin, hari terakhir bulan Maret, Yesus dan para rasul memulai perjalanan mereka menaiki perbukitan menuju Yerusalem. Lazarus dari Betania telah turun ke sungai Yordan dua kali untuk menjumpai Yesus, dan setiap pengaturan telah dibuat untuk Guru dan rasul-rasulnya agar bermarkas di rumah Lazarus dan saudari-saudarinya di Betania selama mereka ingin tinggal di Yerusalem.

Murid-murid Yohanes tetap di Betania yang di seberang sungai Yordan, mengajar dan membaptis orang banyak, sehingga Yesus disertai hanya oleh dua belas ketika dia tiba di rumah Lazarus. Di sini Yesus dan para rasul menunggu selama lima hari, beristirahat dan menyegarkan diri mereka sebelum pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Merupakan peristiwa besar dalam kehidupan Marta dan Maria, karena Guru dan rasul-rasulnya ada di rumah kakak mereka, dimana mereka dapat membantu kebutuhan orang-orang itu.

Pada Minggu pagi, 6 April, Yesus dan para rasul pergi ke Yerusalem; dan inilah pertama kalinya Guru dan dua belas semuanya berada di sana bersama-sama.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved