Makalah 140: Pentahbisan Dua Belas

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 140

Pentahbisan Dua Belas

TEPAT sebelum tengah hari pada hari Minggu, 12 Januari 27 M., Yesus memanggil rasul-rasul bersama-sama untuk pentahbisan mereka sebagai pengkhotbah publik untuk injil kerajaan. Dua belas orang ini mengharapkan dipanggil kapan saja; maka pagi ini mereka tidak pergi jauh dari pantai untuk menangkap ikan. Beberapa dari mereka berlama-lama di dekat pantai memperbaiki jala mereka dan mengutak-atik dengan perlengkapan menangkap ikan mereka.

Sementara Yesus mulai menyusuri pantai memanggil para rasul, dia pertama kali memanggil Andreas dan Petrus, yang sedang menangkap ikan dekat pantai; berikutnya ia memberi isyarat kepada Yakobus dan Yohanes, yang berada dalam sebuah perahu yang berdekatan, sedang bercakap-cakap dengan ayah mereka, Zebedeus, dan sedang memperbaiki jaring mereka. Berdua-dua dia mengumpulkan rasul-rasul yang lain, dan setelah dia menghimpun dua belas itu seluruhnya, dia melakukan perjalanan dengan mereka ke dataran tinggi utara Kapernaum, dimana dia kemudian mengajar mereka dalam persiapan untuk pentahbisan resmi mereka.

Untuk sesaat dua belas rasul itu semua diam; bahkan Petrus dalam suasana hati yang tafakur. Akhirnya waktu yang lama ditunggu-tunggu itu tiba! Mereka akan pergi memisahkan diri dengan Guru mengikuti semacam upacara khidmat untuk konsekrasi pribadi dan dedikasi kolektif untuk pekerjaan suci mewakili Guru mereka dalam proklamasi kedatangan kerajaan Bapanya.

1. Instruksi Pendahuluan

Sebelum ibadah pentahbisan resmi Yesus berbicara kepada dua belas sementara mereka duduk di sekitarnya: “Saudara-saudaraku, waktu untuk kerajaan ini telah tiba. Aku telah membawa kamu terpisah di sini dengan aku untuk mempersembahkan kamu kepada Bapa sebagai duta-duta dari kerajaan. Beberapa dari kamu mendengar aku berbicara tentang kerajaan ini di sinagog ketika kamu pertama kali dipanggil. Masing-masing dari kamu telah belajar lebih banyak tentang kerajaan Bapa karena kamu telah bersamaku bekerja di kota-kota seputar Danau Galilea. Tetapi sekarang ada lagi yang akan kuceritakan mengenai kerajaan ini.

“Kerajaan baru yang akan dibangun Bapaku di dalam hati anak-anak-Nya di bumi itu akan menjadi suatu kekuasaan yang kekal. Tidak akan ada akhir dari pemerintahan Bapaku ini dalam hati mereka yang ingin melakukan kehendak ilahi-Nya. Aku menyatakan kepada kamu bahwa Bapaku itu bukan Tuhan orang Yahudi atau orang kafir. Banyak orang akan datang dari timur dan dari barat untuk duduk bersama kita di dalam kerajaannya Bapa, sementara banyak anak-anak Abraham akan menolak untuk memasuki persaudaraan baru dari pemerintahan roh-Nya Bapa di dalam hati anak-anak manusia ini.

“Kekuasaan kerajaan ini akan tersusun bukan dari keperkasaan tentara ataupun kekuatan kekayaan, melainkan dari kemuliaan roh ilahi yang akan datang untuk mengajari pikiran-pikiran dan memerintah hati-hati para warga yang terlahir kembali di kerajaan surga ini, anak-anak Tuhan. Kerajaan ini adalah persaudaraan kasih di dalam mana kebenaran memerintah, dan yang seruan peperangannya adalah: Damai di bumi dan sejahtera untuk semua manusia. Kerajaan ini, yang kamu akan segera pergi mewartakannya, adalah keinginan dari orang-orang saleh dari segala masa, pengharapan seluruh bumi, dan pemenuhan janji-janji bijaksana dari semua nabi.

“Namun bagi kamu semua, anak-anakku, dan bagi semua orang lain yang akan mengikuti kamu masuk ke dalam kerajaan ini, disiapkan suatu ujian yang berat. Hanya iman saja yang akan membawa kamu melewati gerbang-gerbangnya, tetapi kamu harus mengeluarkan buah-buah dari roh Bapaku jika kamu mau untuk terus naik dalam kehidupan maju dari persekutuan ilahi itu. Sesungguhnya, aku berkata kepadamu, bukan setiap orang yang berseru, ‘Tuhan, Tuhan,’ akan masuk kerajaan surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku yang di surga.

“Pesan kamu kepada dunia haruslah: Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dan dengan menemukan hal-hal ini, semua hal lain yang penting untuk keselamatan hidup kekal akan diperoleh bersamanya. Dan sekarang aku akan menjelaskan bagi kamu bahwa kerajaan Bapaku ini tidak akan datang dengan suatu unjuk kekuasaan yang kelihatan atau dengan pertunjukan yang tidak semestinya. Sebab itu kamu tidak akan pergi dalam pemberitaan kerajaan dengan berkata, ‘kerajaan itu ada di sini’ atau ‘kerajaan itu ada di sana,’ karena kerajaan yang kamu beritakan itu adalah Tuhan ada di dalam kamu.

“Barangsiapa ingin menjadi besar dalam kerajaan Bapaku hendaklah ia menjadi pelayan bagi semuanya; dan barangsiapa yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, biarlah ia menjadi pelayan untuk saudara-saudaranya. Tetapi sekali kamu benar-benar diterima sebagai warga dalam kerajaan surga, kamu bukan lagi hamba tetapi anak, anak-anak Tuhan yang hidup. Dan demikianlah hendaknya kerajaan ini maju di dunia sehingga akan meruntuhkan setiap penghalang dan membawa semua orang untuk mengenal Bapaku dan percaya pada kebenaran menyelamatkan yang aku telah datang untuk menyatakannya. Bahkan sekarang juga kerajaan itu sudah dekat, dan beberapa dari kamu tidak akan mati sebelum kamu melihat pemerintahan Tuhan itu datang dalam kuasa yang besar.

“Dan apa yang matamu sekarang lihat, permulaan kecil dua belas orang biasa ini, akan berlipat ganda dan bertumbuh sampai akhirnya seluruh bumi akan dipenuhi dengan pujian untuk Bapaku. Dan hal itu bukan karena kata-kata yang kamu ucapkan, melainkan lebih karena hidup yang kamu jalani itu sehingga orang lain tahu bahwa kamu ada bersamaku dan telah belajar tentang kenyataan-kenyataan kerajaan. Dan meskipun aku tidak akan meletakkan beban yang pedih ke atas pikiranmu, aku akan menaruh ke atas jiwamu tanggung jawab sungguh-sungguh untuk mewakili aku di dunia ketika tidak lama nanti aku akan meninggalkan kamu, seperti halnya aku sekarang mewakili Bapaku dalam kehidupan ini yang aku jalani dalam daging.” Dan setelah dia selesai berbicara, dia berdiri.

2. Pentahbisan

Yesus sekarang menyuruh dua belas orang yang baru saja mendengarkan deklarasi tentang kerajaan itu untuk berlutut dalam sebuah lingkaran sekitar dia. Kemudian Guru meletakkan tangannya di atas kepala masing-masing rasul, dimulai dari Yudas Iskariot dan berakhir dengan Andreas. Setelah dia memberkati mereka, dia mengulurkan tangannya dan berdoa:

“Bapaku, sekarang aku membawa kepada-Mu orang-orang ini, utusan-utusanku. Dari antara anak-anak kita di bumi aku telah memilih dua belas ini untuk pergi mewakili aku seperti aku datang untuk mewakili Engkau. Kasihilah mereka dan beradalah bersama mereka seperti Engkau mengasihi dan ada bersamaku. Dan sekarang, Bapaku, berilah orang-orang ini hikmat sementara aku menempatkan semua urusan kerajaan yang akan datang itu di tangan mereka. Dan aku mau, jika itu adalah kehendak-Mu, untuk menunggu sementara waktu di bumi untuk membantu mereka dalam pekerjaan mereka untuk kerajaan. Sekali lagi, Bapaku, aku berterima kasih karena orang-orang ini, dan aku serahkan mereka dalam pemeliharaan-Mu sementara aku lanjutkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang Engkau telah berikan untuk aku lakukan.”

Setelah Yesus selesai berdoa, para rasul tetap bertelut di tempat masing-masing. Dan bermenit-menit kemudian barulah Petrus yang berani mengangkat matanya memandang kepada Guru. Satu demi satu mereka memeluk Yesus, tetapi tidak ada yang mengatakan apapun. Suatu keheningan besar merasuki tempat itu sementara kawanan makhluk angkasa melihat adegan khidmat dan sakral ini—Pencipta sebuah alam semesta menempatkan urusan-urusan persaudaraan ilahi umat manusia di bawah pengarahan pikiran manusia.

3. Khotbah Pentahbisan

Kemudian Yesus berbicara, berkata: “Sekarang kamu semua adalah duta-duta dari kerajaan Bapaku, sebab itu kamu menjadi sebuah kelas orang-orang yang terpisah dan berbeda dari semua orang lain di bumi. Kamu sekarang tidak lagi sebagai manusia biasa di antara manusia, tetapi sebagai warga yang dicerahkan dari sebuah negeri lain yang surgawi, berada di antara makhluk-makhluk yang tidak sadar di dunia yang gelap ini. Tidaklah cukup bahwa kamu hidup seperti kamu sebelum saat ini, tetapi untuk selanjutnya haruslah kamu hidup sebagai orang-orang yang telah merasakan kemuliaan dari kehidupan yang lebih baik dan telah dikirim kembali ke bumi sebagai duta-duta dari Penguasa dunia yang baru dan lebih baik itu. Dari seorang guru diharapkan lebih daripada murid; dari tuan dituntut lebih daripada hamba. Dari para warga kerajaan surga dituntut lebih daripada warga pemerintahan dunia. Beberapa hal yang hendak kukatakan kepadamu mungkin kelihatannya keras, tetapi kamu telah memilih untuk mewakili aku di dunia sama seperti aku sekarang mewakili Bapa; dan sebagai agen-agenku di bumi kamu akan diwajibkan untuk mematuhi ajaran-ajaran dan praktek-praktek yang adalah cerminan dari cita-citaku mengenai hidup fana di dunia-dunia ruang, dan yang aku contohkan dalam kehidupanku di bumi untuk mewahyukan Bapa yang ada di surga.

“Aku mengutus kamu untuk memberitakan kebebasan kepada para tawanan rohani, sukacita kepada mereka yang dalam belenggu ketakutan, dan untuk menyembuhkan orang sakit sesuai dengan kehendak Bapaku yang di surga. Bila kamu menemukan anak-anakku dalam kesulitan, berbicaralah memberikan semangat kepada mereka, katakanlah:

“Berbahagialah orang yang miskin dalam roh, orang yang rendah hati, karena punya merekalah harta kerajaan surga.

“Berbahagialah mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan mewarisi bumi.

“Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Tuhan.

“Dan demikian pula katakanlah kepada anak-anakku lebih lanjut kata-kata penghiburan dan janji rohani ini:

“Berbahagialah mereka yang berkabung, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah mereka yang menangis, karena mereka akan menerima roh bersukacita.

“Berbahagialah mereka yang penuh belas kasihan, karena mereka akan memperoleh belas kasihan.

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Tuhan.

“Berbahagialah mereka yang dianiaya karena kebenaran, karena milik merekalah kerajaan surga. Berbahagialah kamu, jika manusia mencaci maki dan menganiaya kamu dan mengatakan segala yang jahat terhadap kamu secara palsu. Bersukacitalah dan sangat bergembiralah, sebab besar upahmu di surga.

“Saudara-saudaraku, ketika aku mengutus kamu pergi, kamu adalah garam dunia, garam dengan rasa yang mengawetkan. Tetapi jika garam ini telah kehilangan rasanya, dengan apa ia diasinkan? Tidak berguna apa-apa selain dibuang dan diinjak-injak di bawah kaki orang-orang.

“Kamu adalah terang dunia. Sebuah kota yang dibangun di atas bukit tidak dapat disembunyikan. Demikian pula orang tidak menyalakan lilin dan meletakkannya di bawah gantang, tetapi di tempat lilin; maka lilin itu memberikan terang kepada semua yang di dalam rumah. Biarlah terangmu bercahaya seperti itu di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan dipimpin untuk memuliakan Bapamu yang di surga.

“Aku mengutus kamu pergi ke dunia untuk mewakili aku dan untuk bertindak sebagai duta-duta Kerajaan Bapa-Ku, dan sementara kamu pergi untuk mewartakan kabar gembira itu, taruhlah kepercayaanmu pada Bapa yang kamu adalah utusan-Nya. Jangan melawan ketidakadilan dengan kekerasan; janganlah menaruh percayamu pada kekuatan tangan. Jika tetanggamu menamparmu di pipi kanan, berikan kepadanya yang satunya juga. Bersedialah menderita ketidakadilan daripada saling menghakimi antara kamu sendiri. Dalam kebaikan dan dengan belas kasihan layanilah semua orang yang dalam kesusahan dan membutuhkan.

“Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, berkatilah mereka yang mengutuk kamu dan berdoalah bagi mereka yang berbuat jahat kepadamu. Dan apapun yang kamu percaya aku akan lakukan pada orang-orang, lakukan juga pada mereka.

“Bapamu di surga membuat matahari bersinar atas orang jahat sama seperti ke atas orang baik; demikian juga Dia mengirimkan hujan ke atas yang adil dan yang tidak adil. Kamu adalah anak-anak Tuhan; bahkan lebih lagi, kamu sekarang adalah duta-duta dari kerajaan Bapaku. Jadilah penuh belas kasihan, sama seperti Tuhan penuh belas kasihan, dan di masa depan kekal kerajaan itu kamu harus menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.

“Kamu diutus dengan tugas untuk menyelamatkan manusia, bukan untuk menghakimi mereka. Pada akhir hidup kamu di bumi kamu semua akan mengharapkan belas kasihan; oleh karena itu aku haruskan kamu semua selama kehidupan fanamu agar kamu menunjukkan belas kasihan kepada semua saudara-saudaramu dalam daging. Jangan membuat kesalahan dengan mencoba mencabut debu dari mata saudaramu sedangkan ada balok dalam matamu sendiri. Setelah terlebih dahulu membuang balok keluar dari matamu sendiri, kamu dapat melihat lebih baik untuk mencabut debu itu dari mata saudaramu.

“Perhatikan kebenaran itu dengan jelas; jalanilah hidup yang benar tanpa rasa takut; dan demikianlah kamu menjadi rasul-rasul dan duta-duta Bapaku. Kamu telah mendengar dikatakan: ‘Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.’ Jika kamu hendak membimbing orang lain ke dalam kerajaan, kamu sendiri harus berjalan dalam sinar terang dari kebenaran yang hidup. Dalam semua urusan pekerjaan kerajaan aku menasihati kamu untuk menunjukkan penilaian yang adil dan kebijaksanaan yang tajam. Jangan memberikan apa yang suci kepada anjing, dan jangan pula melemparkan mutiara di depan babi, agar jangan sampai mereka menginjak-injak permatamu dan berbalik mengoyakkan kamu.

“Aku memperingatkan kamu terhadap nabi-nabi palsu yang akan datang kepadamu dalam pakaian domba, sedangkan di dalamnya mereka adalah seperti serigala yang buas. Melalui buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Apakah orang memetik buah anggur dari onak atau buah ara dari semak berduri? Demikianlah juga, setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, tetapi pohon yang jahat menghasilkan buah yang jahat. Pohon yang baik tidak dapat menghasilkan buah yang jahat, ataupun pohon jahat menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan segera ditebang dan dibuang ke dalam api. Untuk masuk ke dalam kerajaan surga, niat hati itulah yang diperhitungkan. Bapaku melihat ke dalam hati manusia dan menghakimi mereka berdasarkan kerinduan batin dan niat tulus mereka.

“Pada hari besar penghakiman kerajaan, banyak yang akan berkata kepadaku, ‘Bukankah kami bernubuat demi namamu dan oleh namamu melakukan banyak pekerjaan ajaib?’ Tetapi aku akan terpaksa mengatakan kepada mereka, ‘Aku tidak pernah kenal kamu; pergi dari padaku kamu guru-guru palsu.’ Tetapi setiap orang yang mendengar perintah ini dan dengan tulus melaksanakan tugasnya untuk mewakili aku di depan manusia sama seperti aku telah mewakili Bapaku kepadamu, mereka akan menemukan banyak pintu masuk ke dalam pelayananku dan ke dalam kerajaan Bapa surgawi.”

Belum pernah para rasul mendengar Yesus berbicara dengan cara ini, karena ia telah berbicara kepada mereka seperti orang yang memiliki kewenangan tertinggi. Mereka turun dari gunung sekitar matahari terbenam, tetapi tidak ada seorangpun yang menanyai Yesus.

4. Kamu adalah Garam Dunia

Apa yang disebut “Khotbah di Bukit” itu bukanlah injil Yesus. Khotbah itu memang memuat banyak petunjuk yang membantu, tetapi itu adalah perintah pentahbisan dari Yesus kepada dua belas rasul. Khotbah itu adalah penugasan pribadi dari Guru kepada mereka yang akan pergi memberitakan injil dan bercita-cita untuk mewakilinya dalam dunia manusia sama seperti dia yang adalah perwakilan yang begitu jelas dan sempurna dari Bapanya.

“Kamu adalah garam dunia, garam dengan rasa yang mengawetkan. Tetapi jika garam ini telah kehilangan rasanya, dengan apa ia akan diasinkan? Sebab itu tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak-injak di bawah kaki orang-orang.”

Pada masa Yesus garam itu berharga. Garam bahkan digunakan sebagai uang. Kata modern “salary” atau gaji berasal dari “salt” atau garam. Garam tidak hanya melezatkan rasa makanan, tetapi juga suatu pengawet. Garam membuat yang lain lebih sedap, dan dengan demikian berguna karena dipakai.

“Kamu adalah terang dunia. Sebuah kota yang dibangun di atas bukit tidak dapat disembunyikan. Demikian pula orang tidak menyalakan lilin dan meletakkannya di bawah gantang, tetapi ditaruh di atas tempat lilin, sehingga memberikan terang untuk semua orang yang di rumah. Biarlah terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan dipimpin untuk memuliakan Bapamu yang ada di surga.”

Meskipun terang menghalau kegelapan, terang juga bisa begitu “menyilaukan” sehingga membuat bingung dan frustrasi. Kita dinasihati untuk membiarkan terang kita bersinar begitu rupasehinggarekan-rekan kita akan dibimbing ke jalan yang baru dan saleh untuk hidup yang lebih baik. Terang kita harus bersinar begitu rupa bukan untuk menarik perhatian pada diri kita sendiri. Bahkan pekerjaan seseorang dapat dimanfaatkan sebagai “reflektor” yang efektif untuk penyebaran terang kehidupan ini.

Karakter yang kuat itu tidak diperoleh karena tidak melakukan kesalahan melainkan karena sungguh-sungguh berbuat benar. Tidak mementingkan diri sendiri adalah lencana kebesaran manusia. Tingkat tertinggi realisasi diri itu dicapai oleh penyembahan dan pelayanan. Orang yang bahagia dan efektif itu termotivasi, bukan oleh rasa takut melakukan kesalahan, tetapi oleh cinta untuk berbuat benar.

“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Kepribadian itu pada dasarnya tidak berubah; bahwa yang berubah—bertumbuh—adalah karakter moral. Kesalahan utama dari agama-agama modern adalah negativisme. Pohon yang tidak berbuah “ditebang dan dibuang ke dalam api.” Nilai moral tidak dapat diperoleh hanya dari penindasan—yaitu dari mematuhi perintah “Janganlah kamu.” Rasa takut dan malu adalah motivasi yang tidak layak untuk hidup beragama. Agama itu absah hanya kalau mengungkapkan kebapaan Tuhan dan meningkatkan persaudaraan manusia.

Suatu filosofi hidup yang efektif dibentuk oleh kombinasi dari wawasan kosmis dan total dari reaksi emosional seseorang terhadap lingkungan sosial dan ekonomi. Ingatlah: Meskipun dorongan-dorongan nafsu yang diwarisi tidak dapat diubah secara mendasar, tanggapan emosional terhadap dorongan nafsu tersebut dapat diubah; sebab itu sifat dasar moral dapat diubah, karakter dapat diperbaiki. Dalam karakter yang kuat tanggapan-tanggapan emosional itu diintegrasikan dan dikoordinasikan, dan dengan demikian dihasilkanlah kepribadian yang dipersatukan. Kurangnya penyatuan melemahkan sifat moral dan melahirkan ketidak-bahagiaan.

Tanpa tujuan yang layak, hidup menjadi tanpa tujuan dan tidak bermanfaat, dan banyak ketidak-bahagiaan dihasilkan. Pembicaraan Yesus pada pentahbisan dua belas murid merupakan filsafat induk kehidupan. Yesus menasihati para pengikutnya untuk menjalankan iman yang didasarkan pada pengalaman. Ia memperingatkan mereka untuk tidak bergantung hanya pada persetujuan intelektual, kemudahan percaya, dan kekuasaan yang sudah mapan.

Pendidikan harus menjadi teknik untuk mempelajari (menemukan) metode yang lebih baik untuk memuaskan dorongan alamiah yang kita warisi, dan kebahagiaan adalah hasil total dari perluasan teknik-teknik untuk kepuasan emosional ini. Kebahagiaan itu sedikit tergantung pada lingkungan, meskipun lingkungan yang menyenangkan mungkin sangat menyumbang ke arah itu.

Setiap manusia fana benar-benar mengidamkan menjadi orang yang lengkap, untuk menjadi sempurna seperti Bapa di surga adalah sempurna, dan pencapaian tersebut dimungkinkan karena dalam analisis terakhir “alam semesta itu sesungguhnya kebapaan.”

5. Kasih Kebapaan dan Persaudaraan

Dari Khotbah di Bukit sampai dengan ceramah Perjamuan Malam Terakhir, Yesus mengajarkan pengikutnya untuk mewujudkan kasih kebapaan lebih daripada kasih persaudaraan. Kasih persaudaraan akan mengasihi sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri, dan hal itu akan menjadi pemenuhan yang memadai tentang “aturan emas.” Tetapi kasih sayang kebapaan akan mengharuskan kamu mengasihi manusia sesamamu seperti Yesus mengasihi kamu.

Yesus mengasihi umat manusia dengan kasih sayang rangkap dua. Dia hidup di bumi sebagai kepribadian lipat dua—manusiawi dan ilahi. Sebagai Anak Tuhan, dia mengasihi manusia dengan kasih kebapaan—dia adalah Pencipta manusia, Bapa alam semesta mereka. Sebagai Anak Manusia, Yesus mengasihi manusia sebagai saudara—dia benar-benar seorang manusia di antara manusia.

Yesus tidak mengharapkan pengikutnya untuk mencapai suatu perwujudan yang mustahil dari kasih persaudaraan, tetapi dia memang mengharapkan mereka agar berusaha untuk menjadi seperti Tuhan—untuk menjadi sempurna sama seperti Bapa di surga adalah sempurna -- bahwa mereka bisa mulai memandang manusia seperti halnyaTuhan memandang kepada makhluk-makhluk-Nya dan karena itu bisa mulai mengasihi manusia seperti Tuhan mengasihi mereka—untuk menunjukkan awal mula dari kasih sayang kebapaan. Dalam memberikan nasihat kepada keduabelas rasul ini, Yesus berusaha untuk mengungkapkan konsep baru mengenai kasih kebapaan ini yang terkait dengan sikap emosional tertentu yang bersangkutan dalam membuat banyak penyesuaian sosial lingkungan.

Guru memulai ceramah penting ini dengan mengarahkan perhatian pada empat sikap iman sebagai pendahuluan pada penggambaran berikutnya tentang empat reaksi transenden dan tertinggi dari kasih kebapaan yang dibedakan dengan keterbatasan-keterbatasan dari semata-mata kasih persaudaraan.

Dia pertama kali berbicara tentang mereka yang miskin dalam roh, lapar akan kebenaran, tetap lemah-lembut, dan yang murni hatinya. Manusia yang mengenal roh tersebut bisa diharapkan untuk mencapai tingkat tidak mementingkan diri ilahi tersebut sehingga dapat mencobakan pelaksanaan menakjubkan tentang kasih sayang kebapaan; bahwa bahkan ketika sebagai orang-orang yang berdukacita mereka akan diberi kekuatan untuk menunjukkan belas kasihan, mempromosikan perdamaian, dan menanggung penganiayaan, dan dalam seluruh situasi yang sulit ini mengasihi walaupun terhadap umat manusia yang tidak indah itu dengan kasih kebapaan. Kasih sayang seorang bapa dapat mencapai tingkat pengabdian yang tak terkira melampaui kasih sayang seorang saudara.

Iman dan kasih dari Ucapan Bahagia ini memperkuat karakter moral dan menciptakan kebahagiaan. Ras takut dan marah melemahkan karakter dan menghancurkan kebahagiaan. Khotbah penting ini dimulai berdasarkan nada kebahagiaan.

1. “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh— yang rendah hati.” Bagi seorang anak kecil, kebahagiaan adalah kepuasan dari keinginan kesenangan langsung. Orang dewasa bersedia untuk menabur benih penyangkalan diri dalam rangka untuk menuai panen bertambahnya kebahagiaan berikutnya. Pada masa-masa Yesus dan sejak itu, kebahagiaan telah terlalu sering dikaitkan dengan ide kepemilikan kekayaan. Dalam kisah orang Farisi dan pemungut pajak yang berdoa di bait suci, yang satu merasa kaya dalam roh—egois; yang lain merasa “miskin dalam roh”—rendah hati. Yang satu merasa tidak kurang apapun, yang lain bisa diajar dan mencari kebenaran. Orang yang miskin dalam roh mencari tujuan-tujuan kekayaan rohani—mencari Tuhan. Pencari kebenaran demikian itu tidak perlu harus menunggu upahnya di masa depan yang jauh; mereka mendapat upah sekarang. Mereka menemukan kerajaan surga dalam hati mereka sendiri, dan mereka mengalami kebahagiaan itu sekarang.

2. “Berbahagialah mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Hanya mereka yang merasa miskin dalam roh akan selalu lapar akan kebenaran. Hanya orang yang rendah hati mencari kekuatan ilahi dan merindukan kuasa rohani. Namun paling berbahaya jika dengan sengaja melakukan puasa rohani dalam rangka untuk meningkatkan minat seseorang untuk karunia-karunia rohani. Puasa secara fisik menjadi berbahaya setelah empat atau lima hari; seseorang cenderung kehilangan semua nafsu untuk makan. Puasa yang berkepanjangan, baik fisik ataupun rohani, cenderung untuk menghancurkan rasa lapar.

Kebenaran yang dari pengalaman ituadalah suatu kenikmatan, bukan kewajiban. Kebenarannya Yesus adalah kasih yang dinamis—kasih sayang kebapaan-persaudaraan. Ini bukan kebenaran jenis negatif atau “janganlah-engkau.” Bagaimana mungkin seorang lapar akan sesuatu yang negatif—sesuatu yang “tidak untuk dilakukan”?

Tidaklah begitu mudah untuk mengajari jiwa yang kekanak-kanakan tentang dua hal pertama dari Ucapan Bahagia ini, tetapi jiwa yang dewasa akan bisa memahami maknanya.

3. “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan mewarisi bumi.” Kelemah-lembutan yang tulen tidak ada hubungannya dengan rasa takut. Hal ini lebih merupakan sikap manusia yang bekerjasama dengan Tuhan—“Kehendak-Mu jadilah.” Hal itu mencakup kesabaran dan ketabahan dan dimotivasi oleh iman yang tak tergoyahkan akan alam semesta yang adil dan ramah. Hal ini menguasai semua godaan untuk memberontak melawan pimpinan ilahi. Yesus adalah manusia lemah lembut Urantia yang ideal, dan dia mewarisi alam semesta yang luas.

4. “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Tuhan.” Kemurnian rohani itu bukanlah suatu kualitas yang negatif, kecuali bahwa kemurnian itu tidak mengandung kecurigaan dan balas dendam. Dalam membahas kemurnian, Yesus tidak berniat untuk berurusan secara khusus dengan sikap seks manusia. Ia menyebut lebih mengenai kepercayaan yang harus orang miliki pada manusia sesamanya; kepercayaan itu yang orang tua miliki pada anaknya, dan yang memungkinkan dia untuk mencintai sesamanya seperti seorang ayah mencintai mereka. Kasih seorang ayah tidak perlu memanjakan, dan tidak membenarkan kejahatan, tetapi selalu tidak sinis. Kasih kebapaan itu punya ketunggalan tujuan, dan selalu mencari yang terbaik dalam diri manusia; itulah sikap orang tua yang benar.

Melihat Tuhan—oleh iman—berarti memperoleh wawasan rohani yang benar. Wawasan rohani itu meningkatkan bimbingan Pelaras, dan hal-hal ini pada akhirnya meningkatkan kesadaran akan Tuhan. Dan ketika kamu mengenal Bapa, ditegaskan kamu berada dalam jaminan keanakan ilahi, dan kamu dapat semakin saling mengasihi masing-masing saudaramu di dalam daging, tidak hanya sebagai saudara—dengan kasih persaudaraan—tetapi juga sebagai seorang bapa—dengan kasih sayang kebapaan.

Mudah untuk mengajarkan nasihat ini sekalipun kepada seorang anak kecil. Anak-anak secara alami percaya penuh, dan orang tua harus memastikan agar mereka tidak kehilangan iman yang sederhana itu. Ketika berurusan dengan anak-anak, hindari semua penipuan dan jangan menganjurkan kecurigaan. Dengan bijak bantulah mereka untuk memilih pahlawan mereka dan memilih pekerjaan seumur hidup mereka.

Kemudian Yesus melanjutkan dengan mengajar para pengikutnya tentang perwujudan tujuan utama semua perjuangan manusia—kesempurnaan—bahkan hingga pencapaian keilahian. Selalu ia menasihati mereka: “Jadilah kamu sempurna, seperti juga Bapamu yang di surga adalah sempurna.” Dia tidak mendorong dua belas murid itu untuk mengasihi sesama mereka seperti mereka mengasihi diri mereka sendiri. Hal itu mungkin akan menjadi prestasi yang pantas; hal itu akan menandakan pencapaian kasih persaudaraan. Tetapi ia mengajar para rasulnya untuk mengasihi orang-orang seperti dia mengasihi mereka—untuk mengasihi dengan kasih sayang kebapaan serta kasih sayang persaudaraan. Dan dia menggambarkan hal ini dengan menunjukkan empat reaksi tertinggi dari kasih kebapaan:

1. “Berbahagialah mereka yang berkabung, karena mereka akan dihibur.” Apa yang disebut akal sehat atau yang terbaik dari logika tidak akan pernah menganjurkan bahwa kebahagiaan bisa diperoleh dari perkabungan. Tetapi Yesus tidak mengacu kepada perkabungan yang tampak luar atau pamer. Dia menyebut tentang suatu sikap emosional dari kelembutan hati. Merupakan kesalahan besar untuk mengajar anak laki-laki dan pria muda bahwa tidak jantan menunjukkan kelembutan atau sebaliknya menunjukkan tanda tentang perasaan emosional atau penderitaan fisik. Simpati adalah atribut yang pantas dari laki-laki serta dari perempuan. Tidak diperlukan tampilan yang kasaragar menjadi jantan. Ini cara yang salah untuk menciptakan lelaki yang pemberani. Lelaki-lelaki besar dunia tidak takut untuk berkabung. Musa, sang peratap itu, adalah seorang pria yang lebih besar dari Simson atau Goliat. Musa adalah seorang pemimpin yang hebat, tetapi ia juga seorang lelaki yang lemah lembut. Menjadi sensitif dan responsif terhadap kebutuhan manusia menciptakan kebahagiaan sejati dan lestari, sementara sikap ramah tersebut menjaga jiwa dari pengaruh merusak dari kemarahan, kebencian, dan kecurigaan.

2. “Berbahagialah mereka yang penuh belas kasihan, karena mereka akan mendapat belas kasihan.” belas kasihan atau rahmat itu di sini menunjukkan tinggi dan dalam dan luasnya persahabatan yang paling sejati—yaitu cinta kasih. Rahmat kadang-kadang mungkin pasif, tetapi di sini adalah aktif dan dinamis—yaitu sifat kebapaan yang tertinggi. Orang tua yang mengasihi tidak mengalami kesulitan dalam memaafkan anaknya, bahkan berkali-kali. Dan dalam diri anak yang masih polos dorongan untuk meringankan penderitaan itu alami. Anak-anak secara normal itu ramah dan simpatik saat sudah cukup umur untuk menghargai kondisi sebenarnya.

3. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Tuhan.” Para pendengarnya Yesus merindukan pembebasan militer, bukan pembawa damai. Namun damainya Yesus itu bukan dari jenis yang pasif dan negatif. Dalam menghadapi pencobaan dan penganiayaan dia berkata, “Damaiku kutinggalkan bagimu.” “Janganlah gelisah hatimu, lagipula janganlah takut.” Damai ini adalah damai yang mencegah konflik yang menghancurkan. Kedamaian pribadi mengintegrasikan kepribadian. Kedamaian sosial mencegah rasa takut, keserakahan, dan kemarahan. Perdamaian politik mencegah permusuhan ras, kecurigaan nasional, dan perang. Usaha perdamaian adalah obat untuk ketidakpercayaan dan kecurigaan.

Anak-anak dengan mudah dapat diajari untuk berfungsi sebagai pembawa damai. Mereka menikmati kegiatan tim; mereka suka bermain bersama. Kata Guru pada waktu yang lain: “Barangsiapa ingin menyelamatkan nyawanya ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan mendapatkannya.”

4. “Berbahagialah mereka yang dianiaya demi kebenaran, karena milik merekalah kerajaan surga. Berbahagialah kamu, jika manusia mencaci maki dan menganiaya kamu dan mengatakan segala yang jahat terhadap kamu secara palsu. Bersukacita dan sangat bergembiralah, sebab besar upahmu di surga.”

Begitu sering penganiayaan mengikuti perdamaian. Tetapi orang-orang muda dan dewasa yang pemberani tidak pernah menghindari kesulitan atau bahaya. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Dan kasih kebapaan itu dapat dengan bebas melakukan semua hal ini—hal-hal yang sulit untuk bisa dicakup oleh kasih persaudaraan. Dan kemajuan telah selalu menjadi panen akhir dari penganiayaan.

Anak-anak selalu tanggap pada tantangan keberanian. Orang muda selalu bersedia untuk “menerima tantangan.” Dan setiap anak sejak dini harus belajar untuk berkorban.

Demikianlah terungkap bahwa Ucapan Bahagia dari Khotbah di Bukit itu didasarkan pada iman dan kasih dan bukan pada hukum—etika dan kewajiban.

Kasih kebapaan senang membalas kejahatan dengan kebaikan—berbuat baik sebagai pembalasan terhadap ketidakadilan.

6. Malam Pentahbisan

Minggu malam, ketika sampai di rumah Zebedeus dari dataran tinggi di utara Kapernaum, Yesus dan dua belas makan sederhana bersama. Setelah itu, sementara Yesus berjalan-jalan sepanjang pantai, dua belas murid saling bercakap-cakap. Setelah pertemuan singkat, sementara si kembar menyalakan api kecil untuk memberi mereka kehangatan dan lebih banyak cahaya, Andreas pergi untuk mencari Yesus, dan setelah dia menyusul Yesus, dia berkata: “Guru, saudara-saudaraku tidak dapat memahami apa yang engkau katakan tentang kerajaan. Kami tidak merasa mampu untuk memulai pekerjaan ini sampai engkau memberi kami petunjuk lebih lanjut. Aku telah datang untuk meminta engkau bergabung dengan kami di taman dan membantu kami untuk memahami arti kata-katamu.” Maka Yesus pergi dengan Andreas untuk bertemu dengan para rasul.

Setelah dia memasuki taman, dia mengumpulkan para rasul di sekelilingnya dan mengajar mereka lebih lanjut dengan mengatakan: “Kamu merasa sulit untuk menerima pesanku karena kamu hendak membangun ajaran yang baru itu langsung di atas ajaran yang lama, tetapi aku menyatakan bahwa kamu harus dilahirkan kembali. Kamu harus mulai lagi baru seperti anak kecil dan bersedia untuk mempercayai ajaranku dan percaya pada Tuhan. Injil baru kerajaan itu tidak dapat dibuat agar sesuai dengan apa yang telah ada. Kamu memiliki ide-ide yang keliru tentang Anak Manusia dan misinya di bumi. Namun jangan membuat kesalahan dengan berpikir bahwa aku telah datang untuk mengesampingkan hukum dan para nabi; aku telah datang bukan untuk menghancurkan melainkan untuk menggenapinya, untuk memperluas dan meneranginya. Aku datang bukan untuk melanggar hukum melainkan untuk menulis perintah-perintah baru pada papan-papan hatimu.

“Aku menuntut dari kamu suatu kebenaran yang akan melebihi kebenaran orang-orang yang berusaha untuk mendapat perkenanan Bapa melalui pemberian sedekah, doa, dan berpuasa. Jika kamu mau memasuki kerajaan, kamu harus memiliki kebenaran yang terdiri dari kasih, rahmat, dan kebenaran—yaitu keinginan tulus untuk melakukan kehendak Bapaku yang di surga.”

Maka kata Simon Petrus: “Guru, jika engkau memiliki perintah baru, kami mau mendengarnya. Tunjukkanlah jalan yang baru itu pada kami.” Jawab Yesus pada Petrus: “Kamu telah mendengar yang dikatakan oleh mereka yang mengajarkan hukum: ‘jangan membunuh, bahwa barangsiapa membunuh haruslah dihakimi.’ Tetapi aku melihat melampaui perbuatan itu untuk menyingkapkan niatnya. Aku nyatakan kepada kamu bahwa setiap orang yang marah kepada saudaranya berada dalam bahaya penghukuman. Siapa yang memelihara kebencian dalam hatinya dan merancang pembalasan dendam dalam pikirannya berada dalam bahaya penghakiman. Kamu harus menghakimi sesamamu berdasarkan perbuatan mereka; Bapa di surga menghakimi berdasarkan niat.

“Kamu telah mendengar para guru hukum agama mengatakan, ‘Jangan kamu berzinah.’ Tetapi aku berkata kepadamu bahwa setiap orang yang memandang seorang wanita dengan niat ingin berzinah dengan dia sudah melakukan perzinahan itu dengan dia dalam hatinya. Kamu hanya bisa menilai orang dari tindakan mereka, tetapi Bapaku melihat ke dalam hati anak-anak-Nya dan dalam rahmat menghakimi mereka sesuai dengan niat dan keinginan mereka yang sebenarnya.”

Yesus bermaksud untuk melanjutkan membahas perintah-perintah yang lain ketika Yakobus anak Zebedeus menyela dia, dengan bertanya: “Guru, apa yang harus kami ajarkan tentang perceraian? Haruskah kami memperbolehkan seorang pria untuk menceraikan istrinya seperti yang telah Musa perintahkan?” Ketika Yesus mendengar pertanyaan ini, ia berkata: “Aku tidak datang untuk membuat peraturan tetapi untuk memberi pencerahan. Aku telah datang bukan untuk mereformasi kerajaan-kerajaan dunia ini melainkan untuk mendirikan kerajaan surga. Bukan kehendak Bapa agar aku menyerah pada godaan untuk mengajari kamu aturan-aturan pemerintahan, perdagangan, atau perilaku sosial, yang meskipun mungkin baik untuk hari ini, tetapi akan jauh dari sesuai untuk masyarakat pada zaman yang lain. Aku ada di bumi hanyalah untuk menghibur batin-batin, membebaskan roh-roh, dan menyelamatkan jiwa-jiwa manusia. Tetapi aku akan mengatakan, mengenai pertanyaan perceraian ini, bahwa, meskipun Musa mendukung hal-hal seperti itu, namun tidaklah demikian pada masa-masa Adam dan di Taman Eden.”

Setelah para rasul berbicara di antara mereka sendiri sebentar, Yesus melanjutkan dengan mengatakan: “Selalu haruslah kamu mengenali dua sudut pandang dari semua perilaku manusia—sudut pandang manusiawi dan ilahi; cara daging dan cara roh; taksiran waktu dan sudut pandang kekekalan.” Meskipun dua belas murid tidak bisa memahami semua yang ajarkan, mereka benar-benar terbantu oleh petunjuk ini.

Kemudian kata Yesus: “Tetapi kamu akan tersandung atas ajaranku karena kamu terbiasa menafsirkan pesanku secara harfiah; kamu lambat untuk melihat roh dari ajaranku. Sekali lagi harus kamu ingat bahwa kamu adalah utusan-utusanku; kamu bertanggung jawab untuk menjalani hidupmu seperti aku dalam roh menjalani hidupku. Kamu adalah wakil-wakil pribadiku; tetapi jangan keliru mengharapkan semua orang untuk hidup seperti yang kamu lakukan dalam setiap hal tertentu. Juga harus kamu ingat bahwa aku punya domba-domba bukan dari kawanan ini, dan bahwa aku bertanggung jawab pada mereka juga, dengan tujuan agar aku harus menyediakan bagi mereka pola melakukan kehendak Tuhan sementara menjalani kehidupan yang bersifat fana.”

Lalu bertanyalah Natanael: “Guru, apakah kita tidak memberikan tempat bagi keadilan? Hukum Musa mengatakan, ‘mata ganti mata, dan gigi ganti gigi.’ Apa yang akan kita katakan?” Dan Yesus menjawab: “Kamu harus membalas kejahatan dengan kebaikan. Utusan-utusanku tidak boleh bertengkar dengan orang-orang, tetapi ramah kepada semuanya. Ukur mengukur tidak boleh jadi pedomanmu. Para penguasa manusia mungkin memiliki undang-undang seperti itu, tetapi tidak begitu dalam kerajaan; rahmat selalu harus menentukan penilaianmu dan kasih menentukan tingkah lakumu. Dan jika ini adalah ucapan-ucapan yang keras, kamu sekarangpun dapat mundur. Jika kamu menemukan persyaratan kerasulan terlalu berat, kamu boleh kembali ke jalur pemuridan yang kurang ketat.”

Ketika mendengar kata-kata yang mengejutkan ini, para rasul memisahkan diri mereka untuk sementara, tetapi mereka segera kembali, dan Petrus berkata: “Guru, kami akan pergi dengan engkau; tidak ada satupun dari kami akan mundur. Kami sepenuhnya siap untuk membayar harga tambahan itu; kami akan minum cawan itu. Kami akan menjadi rasul, bukan hanya murid-murid.”

Ketika Yesus mendengar ini, ia berkata: “Bersedialah, sebab itu, untuk memikul tanggung jawabmu dan ikutlah aku. Lakukan perbuatan baikmu secara rahasia; ketika kamu memberi sedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang tangan kananmu lakukan. Dan ketika kamu berdoa, pisahkanlah dirimu sendiri dan jangan gunakan pengulangan kata sia-sia dan kalimat-kalimat tanpa makna. Selalu ingat bahwa Bapa mengetahui apa yang kamu butuhkan bahkan sebelum kamu meminta kepada-Nya. Dan jangan terbiasa berpuasa dengan wajah sedih agar terlihat oleh orang-orang. Sebagai rasul pilihanku, sekarang pisahkan dirimu untuk tugas kerajaan, janganlah mencari bagi dirimu harta di bumi, tetapi oleh layanan tanpa mementingkan diri sendiri carilah bagi dirimu harta di surga, karena dimana hartamu ada, di situpun juga hatimu ada.

“Lampu tubuh adalah mata; karena itu, jika matamu baik, seluruh tubuhmu akan penuh terang. Tapi jika matamu mementingkan diri sendiri, seluruh tubuh akan diisi dengan kegelapan. Jika terang itu yang ada dalam kamu itu berubah menjadi kegelapan, betapa gelapnya kegelapan itu!”

Kemudian Tomas bertanya kepada Yesus apakah mereka “boleh memiliki segala sesuatu bersama.” Kata Guru: “Ya, saudara-saudaraku, aku mau kita hidup bersama sebagai satu keluarga yang memahami. Kamu diserahi pekerjaan yang besar, dan aku mendambakan layananmu tidak terbagi. Kamu tahu apa yang dikatakan bahwa: ‘Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.’ Kamu tidak bisa dengan tulus menyembah Tuhan dan pada saat yang sama sepenuh hati melayani mamon. Setelah sekarang mendaftar tanpa syarat dalam pekerjaan kerajaan, janganlah cemas untuk hidupmu; apalagi kuatir dengan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum; atau lagi tubuhmu, pakaian apa yang akan kamu kenakan. Kamu sudah belajar bahwa tangan yang bersedia dan hati yang sungguh-sungguh tidak akan kelaparan. Dan sekarang, ketika kamu bersiap untuk mencurahkan semua tenaga kamu untuk pekerjaan kerajaan, yakinlah bahwa Bapa tidak akan lalai pada kebutuhan kamu. Carilah dahulu kerajaan Tuhan, dan setelah kamu menemukan pintu masuk ke dalamnya, semua hal yang diperlukan akan ditambahkan kepadamu. Oleh karena itu, jangan terlalu cemas untuk esok. Kesulitan hari ini cukup untuk hari ini.”

Ketika Yesus melihat mereka berniat tetap bangun sepanjang malam untuk mengajukan pertanyaan, ia berkata kepada mereka: “Saudara-saudaraku, kamu adalah bejana-bejana tanah liat; adalah yang terbaik bagimu untuk beristirahat sehingga siap untuk pekerjaan besok.” Namun tidur telah pergi dari mata mereka. Petrus berani untuk mengajukan permohonan pada Gurunya agar “aku dapat berbicara sedikit secara pribadi dengan engkau. Bukan supaya dirahasiakan dari saudara-saudaraku, tetapi hatiku sedang bingung, dan jika, barangkali, aku pantas untuk ditegur Guru, aku lebih baik menanggungnya sendirian dengan engkau.” Dan Yesus berkata, “Mari ikut aku, Petrus,”—sambil mengajak masuk rumah. Ketika Petrus kembali dari hadapan Guru dengan jauh lebih riang dan sangat dikuatkan, maka Yakobus memutuskan untuk masuk berbicara dengan Yesus. Demikian seterusnya melalui jam-jam awal dini hari, para rasul lain masuk satu persatu untuk berbicara dengan Guru. Setelah mereka semua mengadakan pembicaraan pribadi dengan Yesus kecuali si kembar, yang telah tertidur lelap, Andreas pergi kepada Yesus dan berkata: "Guru, si kembar telah tertidur di kebun dekat api; haruskah aku membangunkan mereka untuk menanyakan apakah mereka akan juga berbicara dengan engkau?” Yesus berkata kepada Andreas sambil tersenyum, “Mereka baik-baik saja—jangan ganggu mereka.” Adapun malam sedang berlalu; cahaya fajar hari yang baru sedang terbit.

7. Pekan Setelah Pentahbisan

Setelah tidur beberapa jam, ketika dua belas rasul berkumpul untuk sarapan terlambat dengan Yesus, ia berkata: “Sekarang haruslah kamu mulai pekerjaanmu memberitakan kabar gembira dan mengajar orang percaya. Bersiaplah untuk pergi ke Yerusalem.” Setelah Yesus berbicara, Tomas mengumpulkan keberanian untuk mengatakan: “Aku tahu, Guru, bahwa kita sekarang harus siap untuk memasuki pekerjaan, tapi aku takut kita belum mampu melakukan tugas besar ini. Apakah engkau setuju agar kami tinggal di sekitar sini beberapa hari saja sebelum kita memulai pekerjaan kerajaan?” Dan ketika Yesus melihat bahwa semua rasulnya dicekam oleh ketakutan yang sama, ia berkata: “Jadilah seperti yang telah kamu minta; kita akan tetap di sini melewati hari Sabat.”

Minggu demi minggu kelompok-kelompok kecil pencari kebenaran yang sungguh-sungguh, bersama-sama dengan para penonton yang ingin tahu, telah datang ke Betsaida untuk menemui Yesus. Kabar tentang dia telah menyebar ke pedesaan; kelompok-kelompok penanya datang dari kota-kota yang jauh seperti Tirus, Sidon, Damaskus, Kaisarea, dan Yerusalem. Sampai sejauh ini, Yesus telah menyambut orang-orang ini dan mengajar mereka tentang kerajaan, namun sekarang Guru mengalihkan pekerjaan ini pada dua belas rasul. Andreas akan memilih salah satu dari para rasul dan menugaskan dia untuk sekelompok pengunjung, dan kadang-kadang dua belas mereka semua sibuk seperti itu.

Selama dua hari mereka bekerja, mengajar pada siang hari dan mengadakan pertemuan-pertemuan pribadi hingga larut malam. Pada hari ketiga Yesus bercakap-cakap dengan Zebedeus dan Salome sementara dia menyuruh berlibur rasul-rasul untuk “pergi menangkap ikan, mencari acara bebas, atau barangkali mengunjungi keluarga.” Pada hari Kamis mereka kembali untuk tiga hari lagi mengajar.

Selama minggu latihan ini, Yesus banyak kali mengulang kepada para rasul dua motif besar dari misi pasca-baptisannya di bumi:

1. Untuk menyatakan Bapa kepada manusia.

2. Untuk memimpin manusia agar menjadi sadar-anak—untuk sadar-beriman bahwa mereka adalah anak-anak dari Yang Mahatinggi.

Satu minggu pengalaman yang bervariasi ini berguna banyak untuk dua belas rasul; beberapa bahkan menjadi terlalu percaya diri. Pada pertemuan terakhir, malam setelah hari Sabat, Petrus dan Yakobus datang kepada Yesus, mengatakan, “Kami siap—sekarang marilah kita pergi untuk merebut kerajaan.” Untuk hal itu Yesus menjawab, “Semoga hikmatmu menyamai semangatmu dan keberanianmu menebus ketidak-tahuanmu.”

Meskipun para rasul gagal memahami banyak mengenai ajarannya, mereka tidak gagal untuk memahami arti dari kehidupan yang indah mempesona yang ia jalani bersama mereka.

8. Kamis Sore di Danau

Yesus juga tahu bahwa para rasulnya tidak sepenuhnya menyerap ajaran-ajarannya. Dia memutuskan untuk memberikan beberapa pelajaran khusus kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes, berharap mereka akan mampu meluruskan ide-ide rekan-rekan mereka. Dia melihat bahwa, meskipun beberapa aspek dari ide kerajaan rohani itu dipahami oleh dua belas rasul, namun mereka tetap saja mengaitkan ajaran-ajaran rohani baru itu langsung dengan konsep harfiah lama dan telah berakar kuat bahwa kerajaan surga itu adalah pemulihan takhta Daud dan pendirian kembali Israel sebagai kekuasaan duniawi di bumi. Oleh karena itu, pada Kamis sore Yesus pergi dari pantai naik kapal dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk membicarakan perkara-perkara kerajaan. Pertemuan pengajaran ini berlangsung selama empat jam, mencakup lusinan pertanyaan dan jawaban, dan mungkin akan paling berguna dimasukkan dalam catatan ini dengan menata ulang ringkasan pertemuan sore yang penting ini sebagaimana hal itu diberikan oleh Simon Petrus kepada saudaranya, Andreas, pagi berikutnya:

1. Melakukan kehendak Bapa. Ajaran Yesus untuk percaya pada pemeliharaan Bapa surgawi bukan pasrah yang buta dan pasif. Dia mengutip dengan persetujuan, pada sore ini, ayat Ibrani kuno yang mengatakan: “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Dia menunjuk pada pengalamannya sendiri sebagai komentar yang cukup untuk ajaran-ajarannya. Petunjuknya tentang mempercayai Bapa tidak boleh dinilai oleh kondisi sosial atau ekonomi zaman modern atau suatu zaman lainnya. Ajarannya mencakup prinsip-prinsip ideal untuk hidup dekat dengan Tuhan dalam segala zaman dan di semua dunia.

Yesus menjelaskan mengenai tiga perbedaan antara persyaratan kerasulan dan pemuridan. Dan bahkan ia tidak melarang pelaksanaan kehati-hatian dan pandangan jauh ke depan oleh rasul dua belas. Apa yang dia lawan dalam khotbahnya adalah bukan pemikiran ke depan tetapi kecemasan, kekuatiran. Dia mengajarkan penundukan yang aktif dan waspada pada kehendak Tuhan. Dalam menjawab banyak pertanyaan mereka mengenai sikap hemat dan irit, dia hanya menujukan perhatian pada hidupnya sebagai tukang kayu, pembuat kapal, dan nelayan, dan pada pengorganisasian hati-hati keduabelasnya. Dia berusaha untuk membuat jelas bahwa dunia ini tidak dianggap sebagai musuh; bahwa keadaan-keadaan kehidupan itu merupakan suatu tatanan ilahi yang bekerja bersama dengan anak-anak Tuhan.

Yesus mengalami kesulitan besar untuk membuat mereka memahami praktek pribadinya untuk tidak melawan. Dia sama sekali menolak untuk membela dirinya sendiri, dan tampak kepada para rasul bahwa dia akan senang jika mereka mengikuti kebijakan yang sama. Dia mengajarkan mereka untuk tidak melawan kejahatan, tidak memerangi ketidak-adilan atau luka, tetapi dia tidak mengajarkan toleransi yang pasif terhadap kesalahan. Dan dia menjelaskan pada sore itu bahwa dia menyetujui hukuman sosial terhadap pelaku kejahatan dan kriminal, dan bahwa pemerintahan sipil kadang-kadang harus menggunakan kekuatan paksaan untuk pemeliharaan ketertiban sosial dan dalam pelaksanaan keadilan.

Dia tidak pernah berhenti untuk memperingatkan para muridnya terhadap praktek jahat pembalasan dendam; dia tidak mengizinkan pembalasan dendam, gagasan agar impas. Dia sangat tidak setuju menyimpan dendam. Dia tidak membolehkan gagasan mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Dia menolak seluruh konsep balas dendam yang sendiri dan pribadi, menyerahkan perkara-perkara ini seluruhnya kepada pemerintah sipil, di satu sisi, dan penghakiman Tuhan, di sisi lain. Dia membuat jelas kepada ketiganya bahwa ajarannya itu diterapkan pada perorangan, bukan negara. Ia meringkas pengajarannya sampai saat itu mengenai hal-hal ini, sebagai:

Kasihilah musuhmu—ingatlah tuntutan-tuntutan moral dari persaudaraan manusia.

Kesia-siaan kejahatan: Suatu kesalahan tidak dibuat benar oleh balas dendam. Jangan membuat kesalahan memerangi kejahatan dengan cara jahatnya itu sendiri.

Milikilah iman—keyakinan akan kemenangan keadilan ilahi dan kebaikan kekal pada akhirnya.

2. Sikap politik. Dia memperingatkan para rasul untuk berhati-hati dalam komentar mereka tentang hubungan tegang yang saat itu terjadi antara rakyat Yahudi dan pemerintah Romawi; dia melarang mereka dalam cara apapun terlibat dalam kesulitan-kesulitan ini. Dia selalu berhati-hati untuk menghindari perangkap politik dari musuh-musuhnya, dengan selalu menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang Kaisar punya dan kepada Tuhan apa yang Tuhan punya.” Dia menolak perhatiannya dialihkan dari misinya untuk mendirikan jalan yang baru untuk keselamatan itu; dia tidak mau mengizinkan dirinya sendiri untuk berurusan dengan semua hal yang lain. Dalam kehidupan pribadinya dia selalu dengan hormat menaati semua hukum dan aturan sipil; dalam semua ajaran-ajaran publiknya dia tidak mengajarkan bidang-bidang kewarganegaraan, sosial, dan ekonomi ini. Dia memberitahukan pada tiga rasul itu bahwa ia hanya berurusan dengan prinsip-prinsip kehidupan kerohanian bagian dalam dan pribadinya manusia.

Oleh karena itu, Yesus bukanlah seorang reformis politik. Dia tidak datang untuk menata ulang dunia; bahkan jika dia telah melakukannya, hal itu akan berlaku hanya untuk masa dan generasi itu saja. Meskipun demikian, dia memang menunjukkan kepada manusia cara terbaik untuk hidup, dan tidak ada generasi yang dikecualikan dari usaha menemukan cara terbaik untuk menyesuaikan kehidupan Yesus pada masalah-masalah generasi itu sendiri. Tetapi jangan pernah membuat kesalahan dengan menyamakan ajaran-ajaran Yesus dengan suatu teori politik atau ekonomi, dengan suatu sistem sosial atau industrial apapun.

3. Sikap sosial. Para rabi Yahudi telah lama memperdebatkan pertanyaan: Siapakah tetanggaku itu? Yesus datang menyajikan ide tentang kebaikan yang aktif dan spontan, kasih pada sesama orang itu yang begitu tulus sehingga memperluas lingkungan tetangga sampai mencakup seluruh dunia, sehingga dengan demikian membuat semua manusia adalah menjadi tetangga orang itu. Namun dengan semua ini, Yesus hanya tertarik pada individu, bukan pada massa. Yesus bukan seorang sosiolog, tetapi dia bekerja untuk mendobrak segala bentuk isolasi mementingkan diri sendiri. Dia mengajarkan simpati murni, belas kasihan. Mikhael dari Nebadon adalah Putra yang dikuasai-rahmat; belas kasihan itu adalah kodratnya itu sendiri.

Guru tidak berkata bahwa manusia tidak boleh menjamu makan teman-teman mereka, tetapi ia mengatakan hendaknya para pengikutnya membuat pesta untuk yang miskin dan tidak beruntung. Yesus memiliki rasa keadilan yang kokoh, tetapi selalu dilunakkan oleh rahmat. Dia tidak mengajari rasulnya agar mereka itu dibebani oleh parasit-parasit sosial atau pencari-sedekah profesional. Yang paling dekat ia membuat pernyataan sosiologis adalah mengatakan, “Janganlah menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”

Dia menjelaskan bahwa kebaikan yang sembarangan bisa disalahkan sebagai sumber banyak kejahatan sosial. Hari berikutnya Yesus dengan jelas menyuruh Yudas bahwa tidak ada dana kerasulan yang boleh diberikan sebagai sedekah kecuali atas permintaannya atau permohonan bersama dari dua rasul. Dalam semua urusan itu kebiasaan Yesus adalah selalu berkata, “Jadilah cerdik seperti ular tapi tidak berbahaya seperti merpati.” Tampaknya menjadi tujuannya dalam semua situasi sosial untuk mengajarkan kesabaran, toleransi, dan pengampunan.

Keluarga menduduki pusat filsafat hidupnya Yesus itu sendiri—di dunia ini dan berikutnya. Dia mendasarkan ajarannya tentang Tuhan berdasarkan keluarga, sementara dia berusaha untuk memperbaiki kecenderungan Yahudi untuk terlalu menghormati leluhur. Dia meninggikan kehidupan keluarga sebagai kewajiban manusia tertinggi tetapi membuat jelas bahwa hubungan keluarga tidak boleh mengganggu kewajiban agama. Dia mengarahkan perhatian pada kenyataan bahwa keluarga adalah sebuah lembaga yang sementara; bahwa hal itu tidak tetap bertahan melewati kematian. Yesus tidak ragu untuk meninggalkan keluarganya ketika keluarganya langsung melawan kehendak Bapa. Dia mengajarkan persaudaraan manusia yang baru dan lebih besar—anak-anak Tuhan. Di masa Yesus praktek perceraian terjadi bebas di Palestina dan di seluruh Kekaisaran Romawi. Dia berulang kali menolak untuk menetapkan hukum tentang perkawinan dan perceraian, namun banyak dari pengikut awal Yesus memiliki pendapat yang kuat tentang perceraian dan tidak ragu untuk mengaitkan hal-hal itu berasal dari dia. Semua penulis Perjanjian Baru memegang ide-ide yang lebih ketat dan maju tentang perceraian, kecuali Yohanes Markus.

4. Sikap ekonomi. Yesus bekerja, hidup, dan berdagang di dunia yang dia jumpai. Dia bukan seorang reformis ekonomi, walaupun dia sering mengarahkan perhatian pada ketidak-adilan distribusi kekayaan yang tidak seimbang. Tetapi dia tidak menawarkan saran perbaikan apapun. Dia sudah menjelaskan kepada ketiganya, bahwa meskipun rasulnya tidak akan menyimpan harta, ia tidak berkhotbah menentang kekayaan dan harta, tetapi hanya terhadap distribusinya yang tidak seimbang dan tidak adil itu. Dia mengakui perlunya keadilan sosial dan keadilan industrial, tetapi dia tidak memberikan aturan untuk pencapaian hal-hal itu.

Dia tidak pernah mengajarkan pengikutnya untuk menghindari kepemilikan harta duniawi, kecuali dua belas rasulnya itu saja. Lukas, sang dokter, adalah orang yang sangat percaya pada kesetaraan sosial, dan ia berbuat banyak untuk menafsirkan perkataan Yesus selaras dengan keyakinan pribadinya. Yesus tidak pernah secara pribadi menyuruh para pengikutnya untuk mengadopsi mode hidup komunal; ia tidak mengucapkan apapun tentang hal-hal tersebut.

Yesus sering memperingatkan para pendengarnya terhadap ketamakan, menyatakan bahwa “kebahagiaan manusia itu bukan karena kelimpahan harta bendanya.” Dia terus-menerus mengulangi, “Apa gunanya seseorang jika ia memperoleh seluruh dunia namun kehilangan jiwanya sendiri?” Dia tidak menyerang langsung terhadap kepemilikan harta, tetapi dia bersikeras bahwa yang pokok secara kekal bahwa nilai-nilai rohani itu yang nomor satu. Dalam ajaran-ajarannya yang kemudian dia berusaha untuk memperbaiki banyak pandangan hidup Urantia yang keliru dengan menceritakan berbagai perumpamaan yang dia sampaikan dalam perjalanan pelayanan publiknya. Yesus tidak pernah bermaksud untuk merumuskan teori ekonomi; dia tahu betul bahwa setiap zaman harus mengembangkan solusinya sendiri untuk masalah-masalah yang sedang terjadi. Seandainya Yesus ada di bumi hari ini, hidup secara jasmani dalam daging, dia akan menjadi kekecewaan besar bagi sebagian besar pria wanita yang baik karena alasan sederhana bahwa ia tidak akan berpihak dalam sengketa politik, sosial, atau ekonomi masa kini. Dia akan tetap dengan anggunnya acuh tak acuh sambil mengajar kamu bagaimana untuk menyempurnakan kehidupan batin rohanimu sehingga membuat kamu menjadi berlipat kali lebih kompeten untuk mendapat solusi atas masalah-masalahmu yang murni manusiawi.

Yesus hendak membuat semua orang menjadi seperti-Tuhan dan kemudian mengawasi dengan penuh simpati, sementara anak-anak Tuhan ini memecahkan masalah politik, sosial, dan ekonomi mereka sendiri. Bukan kekayaan yang dia kecam, tetapi apa yang dilakukan kekayaan pada sebagian besar umatnya. Pada Kamis sore ini pertama kali Yesus mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa “adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

5. Agama pribadi. Kamu, seperti para rasul, akan lebih memahami ajaran-ajaran Yesus melalui kehidupannya. Dia menghidupi hidup yang disempurnakan di Urantia, dan ajarannya yang unik ini hanya bisa dipahami ketika hidup itu digambarkan dalam latar belakang langsungnya. Hidupnya itulah, dan bukan pelajaran kepada dua belas atau khotbahnya kepada orang banyak, yang akan paling membantu dalam mengungkapkan karakter ilahi dan kepribadian pengasih-Nya Bapa.

Yesus tidak menyerang ajaran-ajaran dari para nabi Ibrani atau moralis Yunani. Guru mengakui banyak hal yang baik dari guru-guru besar ini, tetapi dia turun ke bumi untuk mengajarkan sesuatu yang tambahan, “penyesuaian sukarela kehendak manusia pada kehendak Tuhan.” Yesus tidak ingin hanya menghasilkan orang yang beragama, seorang manusia yang sepenuhnya dikuasai perasaan-perasaan religius dan digerakkan hanya oleh dorongan-dorongan rohani. Seandainya kamu bisa melihat dia sekali pandang saja, kamu akan tahu bahwa Yesus adalah seorang manusia sejati dengan pengalaman besar dalam hal-hal dunia ini. Ajaran Yesus dalam hal ini telah terlalu banyak diselewengkan dan disalah-diartikan sepanjang berabad-abad era Kristen; kamu juga menyimpan gagasan-gagasan yang disimpangkan tentang kelemah-lembutan dan kerendahan hatinya Guru. Apa yang dia tuju dalam hidupnya tampaknya adalah rasa harga diri yang hebat. Dia hanya menasihati orang untuk merendahkan dirinya sendiri sehingga dia mungkin menjadi benar-benar ditinggikan; apa yang benar-benar menjadi sasarannya adalah kerendahan hati sesungguhnya kepada Tuhan. Dia menempatkan nilai besar pada ketulusan—hati yang murni. Kemurnian adalah kebajikan terbesar dalam taksiran karakternya, sementara keberanian adalah jantung dari ajaran-ajarannya. “Jangan takut” adalah semboyannya, dan ketahanan panjang sabar adalah idealnya untuk kekuatan karakter. Ajaran Yesus merupakan agama semangat, keberanian, dan kepahlawanan. Dan inilah mengapa dia hanya memilih sebagai wakil-wakil pribadinya dua belas orang biasa, mayoritas dari mereka adalah nelayan yang kasar, kuat, dan jantan.

Yesus hanya sedikit bicara tentang keburukan sosial pada masanya; jarang ia menyinggung tentang kebobrokan moral. Ia adalah seorang guru kebajikan sejati yang positif. Dia sengaja menghindari metode negatif untuk menyampaikan ajaran; dia menolak untuk mengiklankan kejahatan. Dia bahkan bukan pembaharu moral. Dia tahu dengan baik, dan mengajarkannya demikian kepada para rasul, bahwa nafsu indrawi umat manusia tidak bisa ditekan oleh teguran keagamaan ataupun larangan hukum. Beberapa kecamannya sebagian besar ditujukan melawan kesombongan, kekejaman, penindasan, dan kemunafikan.

Yesus bahkan tidak mencela dengan keras orang-orang Farisi, seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis. Dia tahu banyak ahli-ahli kitab dan orang Farisi itu jujur hati; dia mengerti perbudakan tradisi keagamaan yang membelenggu mereka. Yesus meletakkan penekanan besar pada “pertama-tama membuat pohon menjadi baik.” Dia menekankan kepada ketiga rasul bahwa dia menilai kehidupan seutuhnya, bukan hanya kebajikan istimewa tertentu.

Satu hal yang diperoleh Yohanes dari ajaran pada hari ini adalah bahwa inti agamanya Yesus itu terdiri dari perolehan karakter yang berbelas kasihan digabung dengan pribadi yang bermotivasi untuk melakukan kehendak Bapa di surga.

Petrus menangkap gagasan bahwa injil yang akan mereka kabarkan itu adalah benar-benar sebuah permulaan baru bagi seluruh umat manusia. Dia menyampaikan kesan ini kemudian kepada Paulus, yang merumuskan doktrinnya dari hal itu tentang Kristus sebagai “Adam kedua.”

Yakobus memahami kebenaran yang mendebarkan bahwa Yesus ingin anak-anaknya di bumi untuk hidup seakan mereka sudah warga kerajaan surgawi yang telah diselesaikan.

Yesus tahu manusia itu berbeda-beda, dan demikianlah ia mengajar para rasulnya. Dia terus-menerus menganjurkan mereka untuk menghindari usaha mencetak murid dan orang percaya mengikuti beberapa pola tertentu. Dia berusaha untuk memungkinkan setiap jiwa agar mengembangkan jalannya sendiri, menjadi sosok individu yang makin sempurna dan tersendiri di hadapan Tuhan. Dalam menjawab satu dari banyak pertanyaan Petrus, Guru berkata: “Aku ingin membebaskan manusia sehingga mereka dapat memulainya baru seperti anak kecil pada kehidupan yang baru dan lebih baik.” Yesus selalu menekankan bahwa kebaikan sejati haruslah tanpa disadari, dalam memberikan amal tidak membiarkan tangan kiri tahu apa yang diperbuat tangan kanan.

Ketiga rasul terkejut sore ini ketika mereka menyadari bahwa agamanya Guru mereka itu tidak membuat ketentuan untuk pemeriksaan diri rohani. Semua agama sebelum dan sesudah zaman Yesus, bahkan agama Kristen, dengan hati-hati menyediakan pemeriksaan diri yangteliti. Namun tidak demikian dengan agamanya Yesus dari Nazaret. Filsafat hidupnya Yesus itu tanpa introspeksi agama. Sang anak tukang kayu itu tidak pernah mengajarkan pembentukan karakter; dia mengajarkan pertumbuhan karakter, menyatakan bahwa kerajaan surga itu seumpama biji mustard. Tetapi Yesus tidak mengatakan apapun yang akan melarang analisis diri sebagai pencegahan terhadap egotisme mementingkan diri yang berlebihan.

Hak untuk memasuki kerajaan itu dipengaruhi oleh iman, keyakinan pribadi. Biaya untuk tetap tinggal dalam kenaikan maju kerajaan itu adalah mutiara dengan harga yang mahal, dalam rangka untuk memilikinya seseorang menjual segala yang ia miliki.

Ajaran Yesus adalah agama untuk semua orang, bukan semata untuk yang lemah dan para budak. Agamanya tidak pernah menjadi dikristalkan (pada masanya) ke dalam kredo-kredo dan hukum-hukum teologis; dia tidak meninggalkan satu baris tulisanpun. Kehidupannya dan ajaran-ajarannya diwarisi alam semesta sebagai sebuah warisan inspirasional dan idealistis yang cocok untuk bimbingan rohani dan petunjuk moral untuk segala zaman di semua dunia. Dan bahkan hari ini, ajaran Yesus itu berdiri terpisah dari semua agama, seperti demikian, meskipun ajaran itu adalah harapan hidup setiap agama tersebut.

Yesus tidak mengajari rasulnya bahwa agama itu adalah satu-satunya yang dikejar manusia di dunia; gagasan itu adalah gagasan Yahudi untuk melayani Tuhan. Namun dia memang bertahan bahwa agama adalah urusan eksklusif khusus untuk dua belas rasul. Yesus tidak mengajarkan apa-apa yang mencegah orang-orang percaya itu agar tidak mengejar suatu budaya peradaban yang benar; dia hanya mencela sekolah-sekolah agama di Yerusalem yang terikat tradisi itu. Dia berpandangan luas, berhati besar, terpelajar, dan toleran. Kesalehan yang disadari sendiri itu tidak mendapat tempat dalam filosofinya untuk hidup yang benar.

Guru tidak menawarkan solusi untuk masalah-masalah yang bersifat bukan keagamaan pada masanya maupun untuk semua masa selanjutnya. Yesus ingin mengembangkan wawasan rohani ke dalam realitas-realitas yang kekal dan untuk merangsang inisiatif dalam keaslian hidup; dia mengkhususkan dirinya pada kebutuhan rohani yang mendasar dan permanen dari ras manusia. Dia mengungkapkan suatu kebaikan yang setara dengan Tuhan. Dia meninggikan kasih—kebenaran, keindahan, dan kebaikan—sebagai ideal ilahi dan realitas kekal.

Guru datang untuk menciptakan dalam manusia suatu roh yang baru, suatu kehendak baru—agar memberikan kapasitas baru untuk mengetahui kebenaran, mengalami belas kasihan, dan memilih kebaikan—kehendak untuk menjadi selaras dengan kehendak-Nya Tuhan, ditambah dengan dorongan kekal untuk menjadi sempurna, seperti juga Bapa di surga itu sempurna.

9. Hari Konsekrasi

Hari Sabat berikutnya Yesus mengkhususkan waktu bagi para rasulnya, berjalan kembali ke dataran tinggi dimana dia telah mentahbiskan mereka; dan di sana, setelah pesan penguatan pribadi yang panjang dan indah menyentuh hati, dia ikut serta dalam tindakan khidmat konsekrasi dua belas rasul. Hari Sabat sore ini Yesus mengumpulkan para rasul di sekitarnya di lereng bukit dan menyerahkan mereka ke tangan Bapa surgawinya sebagai persiapan untuk hari ketika dia akan terpaksa meninggalkan mereka sendirian di dunia. Tidak ada pengajaran baru pada kesempatan ini, hanya bercakap-cakap dan bersekutu.

Yesus meninjau lagi banyak fitur dari khotbah pentahbisan, yang disampaikan pada tempat yang sama ini, dan kemudian, dia memanggil mereka satu per satu, dia mengutus mereka untuk pergi ke dalam dunia sebagai wakilnya. Penugasan konsekrasinya Guru adalah: “Pergilah ke seluruh dunia dan beritakan kabar gembira tentang kerajaan. Bebaskan tawanan-tawanan rohani, hiburkan yang tertindas, dan layanilah yang sakit. Dengan cuma-cuma kamu telah terima, dengan cuma-cuma berilah.”

Yesus menasihati mereka untuk tidak membawa uang ataupun pakaian ekstra, mengatakan, “pekerja layak menerima upahnya.” Dan akhirnya ia berkata: “Lihatlah aku mengutus kamu seperti domba di tengah-tengah serigala; oleh karena itu jadilah secerdik ular dan sejinak merpati. Tetapi awaslah, karena musuh-musuhmu akan membawamu ke depan dewan-dewan mereka, sementara di rumah-rumah ibadah mereka, mereka akan menghukum berat kamu. Ke depan para gubernur dan penguasa kamu akan dibawa karena kamu percaya injil ini, dan kesaksianmu itu akan menjadi saksi bagiku untuk mereka. Dan ketika mereka membawa kamu ke pengadilan, janganlah cemas tentang apa yang harus kamu katakan, karena roh Bapaku tinggal di dalam kamu dan akan pada saat seperti itu berbicara melalui kamu. Beberapa dari kamu akan dihukum mati, dan sebelum kamu mendirikan kerajaan itu di bumi, kamu akan dibenci oleh orang banyak karena injil ini; tetapi jangan takut, aku akan menyertai kamu, dan rohku akan pergi mendahului kamu ke seluruh dunia. Dan kehadiran Bapaku akan tinggal bersama kamu sementara kamu pergi pertama kepada orang-orang Yahudi, kemudian kepada orang-orang kafir.”

Setelah mereka turun dari gunung, mereka berjalan kembali ke tempat mereka di rumahnya Zebedeus.

10. Malam setelah Konsekrasi

Malam itu ketika mengajar di dalam rumah, karena hujan mulai turun, Yesus berbicara panjang lebar, mencoba untuk menunjukkan mereka harus jadi apa, bukan apa yang harus mereka lakukan. Mereka hanya tahu sebuah agama yang mengharuskan untuk melakukan hal-hal tertentu sebagai sarana mencapai kebenaran—keselamatan. Tetapi Yesus menegaskan lagi, “Dalam kerajaan kamu haruslah benar supaya bisa bekerja.” Banyak kali dia mengulangi, “Karena itu jadilah kamu sempurna, seperti juga Bapamu yang di surga itu sempurna.” Setiap waktu Guru menjelaskan kepada para rasulnya yang kebingungan bahwa keselamatan yang dia bawa ke dunia itu akan dimiliki hanya dengan mempercayai, melalui iman yang sederhana dan tulus. Yesus berkata: “Yohanes mengkhotbahkan suatu baptisan pertobatan, berduka karena cara hidup yang lama. Kamu akan memberitakan baptisan persekutuan dengan Tuhan. Khotbahkan pertobatan kepada mereka yang membutuhkan ajaran seperti itu, tetapi bagi mereka yang sudah berusaha dengan tulus masuk ke dalam kerajaan, bukalah pintu lebar-lebar dan mintalah mereka masuk ke dalam persekutuan sukacita anak-anak Tuhan.” Tetapi ini tugas yang sulit untuk meyakinkan nelayan-nelayan Galilea ini, bahwa dalam kerajaan itu, menjadi orang benar, oleh iman, harus mendahului (sebelum) melakukan perbuatan benar dalam kehidupan sehari-hari manusia bumi.

Satu lagi hambatan besar dalam pekerjaan mengajar dua belas itu adalah kecenderungan mereka untuk mengambil prinsip-prinsip kebenaran agama yang sangat idealis dan rohani dan membentuknya lagi menjadi aturan-aturan perilaku pribadi yang konkret. Yesus hendak menyampaikan kepada mereka semangat indah tentang sikapnya jiwa itu, tetapi mereka tetap saja menterjemahkan ajaran-ajaran tersebut menjadi aturan-aturan perilaku pribadi. Banyak kali, ketika mereka memastikan untuk mengingat apa yang Guru katakan, mereka hampir pasti melupakan apa yang tidak ia katakan. Namun mereka perlahan-lahan menyerap pengajarannya karena Yesus itulah semua yang dia ajarkan. Apa yang mereka tidak bisa dapatkan dari petunjuk lisannya, mereka secara bertahap peroleh dengan hidup bersama dia.

Tidaklah kelihatan pada para rasul bahwa Guru mereka sedang menghidupi suatu kehidupan untuk inspirasi rohani bagi setiap orang pada setiap zaman di setiap dunia dari alam semesta yang sangat luas. Sekalipun Yesus sudah memberitahu mereka dari waktu ke waktu, namun para rasul tidak menangkap gagasan bahwa ia sedang melakukan pekerjaan di dunia ini tetapi untuk semua dunia yang lain dalam ciptaan luasnya. Yesus menghidupi kehidupan buminya di Urantia, tidak untuk menetapkan contoh pribadi hidup fana untuk pria dan wanita di dunia ini, melainkan untuk menciptakan ideal rohani dan inspirasional tinggiuntuk semua makhluk fana di semua dunia.

Pada malam yang sama ini Tomas bertanya kepada Yesus: “Guru, engkau mengatakan bahwa kami harus menjadi seperti anak kecil sebelum kami bisa masuk ke kerajaan Bapa, namun demikian engkau telah memperingatkan kami agar tidak ditipu oleh nabi-nabi palsu atau menjadi bersalah karena melemparkan mutiara kami ke depan babi. Sekarang, aku sejujurnya bingung. Aku tidak bisa memahami ajaranmu.” Jawab Yesus kepada Tomas: “Berapa lama lagi aku harus sabar terhadap kamu! Selalu kamu bersikeras untuk membuat harfiah semua yang aku ajarkan. Ketika aku meminta kamu untuk menjadi seperti anak kecil sebagai harga memasuki kerajaan, aku tidak mengacu pada kemudahan untuk ditipu, kesediaan semata-mata untuk percaya, ataupun cepat mempercayai orang asing yang menyenangkan. Apa yang kuinginkan agar kamu tangkap dari contoh itu adalah hubungan anak-ayah. Kamu adalah anak, dan kerajaan Bapa itulah yang ingin kamu masuki. Ada kasih sayang alami antara setiap anak yang normal dan ayahnya yang menjamin suatu hubungan yang memahami dan mengasihi, dan yang selamanya mencegah semua kecenderungan tawar menawar untuk mendapat kasih dan rahmat Bapa. Dan injil yang kamu akan pergi beritakan itu ada hubungannya dengan keselamatan yang tumbuh dari perwujudan-iman dari hubungan anak-ayah yang kekal ini.”

Salah satu ciri khas ajarannya Yesus adalah bahwa moralitas dari filosofinya itu berasal dari hubungan pribadi individu dengan Tuhan—hubungan anak dan bapak itu sendiri. Yesus memberikan penekanan pada perorangan, bukan pada ras atau bangsa. Sambil makan malam, Yesus berbicara dengan Matius yang di dalamnya dia menjelaskan bahwa moralitas suatu perbuatan itu ditentukan oleh motif individu. Moralitasnya Yesus itu selalu positif. Aturan emas (golden rule) yang dinyatakan lagi oleh Yesus menuntut kontak sosial yang aktif; aturan lama yang negatif itu dapat ditaati dalam isolasi (terasing sendirian). Yesus melucuti moralitas dari semua aturan-aturan dan upacara-upacara itu dan menaikkannya ke tingkatan megah untuk pemikiran rohani dan hidup yang sungguh benar.

Agama baru Yesus ini bukan tanpa implikasi praktisnya, tetapi apapun nilai politik, sosial, atau ekonomi praktisnya, ada dapat ditemukan dalam ajarannya, pelaksanaan alami dari pengalaman batiniah jiwa ini, sementara jiwa itu mengeluarkan buah-buah roh dalam pelayanan spontan sehari-hari dari pengalaman keagamaan pribadi yang sejati.

Setelah Yesus dan Matius selesai berbicara, Simon Zelot bertanya, “Tapi, Guru, apakah semua manusia adalah anak-anak Tuhan?” Dan Yesus menjawab: “Ya, Simon, semua manusia adalah anak-anak Tuhan, dan itu adalah berita baik yang kamu akan beritakan.” Namun para rasul tidak bisa memahami doktrin seperti itu; hal itu adalah pengumuman yang baru, aneh, dan mengejutkan. Dan karena keinginannya untuk menekankan kebenaran ini terhadap mereka, maka Yesus mengajarkan para pengikutnya untuk memperlakukan semua orang sebagai saudara mereka.

Sebagai tanggapan atas pertanyaan yang diajukan oleh Andreas, Guru menyatakan bahwa moralitas ajarannya tidak dapat dipisahkan dari agama menjalani hidupnya. Dia mengajarkan moralitas, bukan dari kodrat alami manusia, tetapi dari hubungan manusia dengan Tuhan.

Yohanes bertanya kepada Yesus, “Guru, apa itu kerajaan surga?” Yesus menjawab: “Kerajaan surga terdiri dari tiga hal pokok: pertama, pengakuan tentang fakta kedaulatan Tuhan; kedua, keyakinan akan kebenaran manusia sebagai anak Tuhan, dan ketiga, iman akan efektivitas keinginan tertinggi manusia untuk melakukan kehendak Tuhan—untuk menjadi seperti Tuhan. Dan ini adalah kabar baik dari injil: bahwa oleh iman setiap manusia bisa memiliki semua pokok keselamatan ini.”

Maka kini minggu penantian telah usai, dan mereka siap untuk berangkat esoknya ke Yerusalem.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved