Makalah 139: Dua Belas Rasul

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 139

Dua Belas Rasul

MERUPAKAN suatu kesaksian meyakinkan tentang daya pesona dan kebenaran dari kehidupan buminya Yesus bahwa, meskipun berulang kali dia menghancurkan berkeping-keping harapan para rasulnya dan merobek sampai hancur setiap ambisi mereka untuk peninggian diri pribadi, hanya satu orang yang meninggalkannya.

Para rasul belajar dari Yesus tentang kerajaan surga, dan Yesus belajar banyak dari mereka tentang kerajaan manusia, kodrat manusia yang dihidupi di Urantia dan di dunia evolusi waktu dan ruang yang lain. Kedua belas orang ini mewakili berbagai jenis temperamen manusia, dan mereka tidak dibuat serupa dengan penyekolahan. Banyak dari nelayan Galilea ini membawa turunan darah bukan Yahudi sebagai hasil dari pemindahan agama (konversi) paksa penduduk bukan Yahudi di Galilea seratus tahun sebelumnya.

Jangan membuat kesalahan menganggap para rasul sebagai sama sekali bodoh dan tidak terpelajar. Semuanya, kecuali kembar Alfeus, adalah lulusan dari sekolah-sekolah sinagog, yang telah dididik secara menyeluruh dalam kitab-kitab suci Ibrani dan dalam banyak pengetahuan pada masa itu. Tujuh adalah lulusan dari sekolah sinagog Kapernaum, dan tidak ada lagi sekolah Yahudi lain yang lebih baik di seluruh Galilea.

Ketika catatanmu mengacu kepada para utusan kerajaan ini sebagai “orang biasa yang tidak terpelajar,” hal itu dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan bahwa mereka adalah orang awam, tidak terpelajar dalam pengetahuan para rabi dan terlatih dalam metode kerabbian untuk penafsiran Kitab Suci. Mereka kurang dalam apa yang disebut pendidikan tinggi. Di zaman modern mereka pastilah akan dianggap tidak berpendidikan, dan di beberapa kalangan masyarakat bahkan tak berbudaya. Satu hal yang pasti: Mereka tidak semua dimasukkan melalui kurikulum pendidikan yang sama yang ketat dan distandarkan. Sejak dari remaja mereka telah menikmati pengalaman-pengalaman terpisah, belajar bagaimana untuk hidup.

1. Andreas, Yang Pertama Dipilih

Andreas, ketua korps kerasulan kerajaan, dilahirkan di Kapernaum. Ia adalah anak tertua dalam keluarga lima—dirinya sendiri, saudaranya Simon, dan tiga adik perempuan. Ayahnya, yang saat itu sudah meninggal, telah menjadi mitra Zebedeus dalam usaha pengeringan ikan di Betsaida, pelabuhan penangkapan ikan Kapernaum. Ketika ia menjadi seorang rasul, Andreas belum menikah tetapi serumah dengan saudaranya yang menikah, Simon Petrus. Keduanya adalah nelayan dan mitra-mitranya Yakobus dan Yohanes anak Zebedeus.

Dalam tahun 26 M, tahun ia dipilih sebagai rasul, Andreas berumur 33 tahun, setahun penuh lebih tua dari Yesus dan yang tertua dari para rasul. Dia berasal dari garis leluhur yang istimewa dan adalah orang paling cakap dari dua belas. Kecuali berpidato, ia adalah setara rekan-rekannya dalam hampir setiap kemampuan yang dapat dibayangkan. Yesus tidak pernah memberi Andreas nama julukan, suatu sebutan persaudaraan. Tetapi segera saat para rasul mulai menyebut Yesus sebagai Guru, mereka juga menjuluki Andreas dengan istilah yang setara dengan Kepala.

Andreas adalah seorang organisator yang baik tetapi administrator yang lebih baik lagi. Dia adalah salah satu dari lingkaran dalam yang terdiri dari empat rasul, tetapi penunjukannya oleh Yesus sebagai kepala kelompok kerasulan membuat perlu baginya untuk tetap bertugas dengan saudara-saudaranya, sementara tiga lainnya menikmati persekutuan yang sangat dekat dengan Guru. Sampai akhir hayatnya Andreas tetap ketua korps kerasulan.

Meskipun Andreas tidak pernah menjadi pengkhotbah yang efektif, ia adalah seorang pekerja pribadi yang efisien, menjadi misionaris pelopor kerajaan dalam hal bahwa, sebagai rasul yang dipilih pertama, ia segera membawa kepada Yesus saudaranya, Simon, yang kemudian menjadi salah seorang pengkhotbah terbesar kerajaan. Andreas adalah pendukung utama kebijakan Yesus untuk memanfaatkan program pekerjaan pribadi sebagai suatu sarana untuk pelatihan kelompok dua belas itu sebagai utusan-utusan kerajaan.

Dalam hal apakah Yesus secara pribadi mengajari para rasul ataupun berkhotbah kepada orang banyak, Andreas biasanya sangat paham dengan apa yang sedang terjadi; ia adalah seorang pelaksana yang mengerti dan administrator (pengelola) yang efisien. Dia mengeluarkan keputusan yang cepat pada setiap masalah yang dibawa kepada perhatiannya, kecuali jika ia menganggap masalah itu hal yang di luar wilayah kewenangannya, jika itu terjadi ia akan membawanya langsung ke Yesus.

Andreas dan Petrus sangat tidak sama dalam karakter dan temperamen, tetapi harus dicatat selamanya mereka untuk menghargai mereka bahwa mereka bekerja bersama dengan baik sekali. Andreas tidak pernah iri pada kemampuan pidatonya Petrus. Tidak sering pria yang lebih tua dengan tipe seperti Andreas diamati memberikan pengaruh yang demikian besar atas seorang adik yang berbakat. Andreas dan Petrus tampaknya paling sedikit cemburu karena kemampuan atau prestasi satu sama lain. Larut malam pada hari Pentakosta, ketika, terutama melalui khotbah yang penuh tenaga dan memikat dari Petrus, dua ribu jiwa ditambahkan ke kerajaan, Andreas berkata kepada adiknya: “Aku tidak bisa melakukan itu, tapi aku senang aku punya seorang adik yang bisa.” Petrus menjawabnya: “Tetapi kalau bukan karena engkau membawa aku kepada Guru dan karena keteguhanmu menjaga agar aku tetap dengan dia, tentulah aku tidak akan berada di sini untuk berbuat ini.” Andreas dan Petrus adalah pengecualian terhadap aturan, membuktikan bahwa bahkan sesama saudarapun bisa hidup bersama dengan damai dan bekerja sama secara efektif.

Setelah Pentakosta Petrus menjadi terkenal, tetapi hal itu tidak pernah menjengkelkan kakaknya Andreas yang menjalani sisa hidupnya diperkenalkan sebagai “saudaranya Simon Petrus.”

Dari semua rasul, Andreas adalah hakim yang terbaik terhadap manusia. Dia tahu bahwa masalah sedang merebak dalam hati Yudas Iskariot bahkan ketika tidak ada satupun yang lain menduga bahwa ada yang salah dengan bendahara mereka; tetapi ia tidak memberitahukan pada siapapun dari mereka tentang kekuatirannya. Layanan besar Andrew pada kerajaan adalah dalam hal menasihati Petrus, Yakobus, dan Yohanes mengenai pilihan para misionaris pertama yang dikirim untuk memberitakan injil, dan juga dalam mengkonseling para pemimpin awal ini mengenai pengorganisasian urusan administrasi kerajaan. Andreas memiliki bakat besar untuk menemukan sumberdaya yang tersembunyi dan bakat terpendam orang-orang muda.

Segera sekali setelah kenaikan Yesus ke tempat tinggi, Andreas memulai penulisan catatan pribadinya untuk banyak perkataan dan perbuatan Gurunya yang telah pergi. Setelah kematian Andreas salinan-salinan lain dari catatan pribadi ini dibuat dan diedarkan secara bebas di kalangan para guru mula-mula gereja Kristen. Catatan-catatan informal Andreas ini kemudian diedit, diperbaiki, diubah, dan ditambahi sampai membentuk sebuah kisah yang cukup urut tentang kehidupan Guru di bumi. Yang terakhir dari beberapa salinan yang diubah dan diperbaiki ini dihancurkan oleh api di Aleksandria sekitar seratus tahun setelah aslinya ditulis oleh rasul pertama yang dipilih dari dua belas rasul itu.

Andreas adalah seorang dengan wawasan yang jelas, pikiran yang logis, dan keputusan yang tegas, kekuatan besar karakternya berada pada stabilitasnya yang unggul. Kekurangan wataknya adalah kurangnya antusiasme; ia berkali-kali gagal untuk memberi semangat rekan-rekannya dengan pujian yang bijaksana. Dan keengganan untuk memuji prestasi-prestasi layak teman-temannya ini tumbuh dari kebenciannya pada pujian berlebihan dan ketidak-tulusan. Andreas adalah satu dari pria sederhana yang serba bisa, berwatak tenang, maju dengan usaha sendiri, dan berhasil.

Setiap para rasul mengasihi Yesus, namun tetap benar bahwa masing-masing dari dua belas itu tertarik ke arah dia karena beberapa ciri kepribadian tertentu yang membuat daya tarik khusus terhadap masing-masing pribadi rasul. Andreas mengagumi Yesus karena ketulusannya yang konsisten, martabatnya yang tidak terpengaruh. Sekali orang kenal Yesus, mereka akan dirasuki dorongan untuk membagikan tentang dia dengan teman-teman mereka; mereka benar-benar ingin agar seluruh dunia mengenal dia.

Ketika penganiayaan kemudian akhirnya menceraiberaikan para rasul dari Yerusalem, Andreas bepergian melalui Armenia, Asia Kecil, dan Makedonia, dan setelah membawa ribuan orang ke dalam kerajaan, akhirnya ia ditangkap dan disalibkan di Patrae di Akhaya. Perlu dua hari penuh sebelum orang kuat ini wafat di kayu salib, dan di seluruh jam-jam tragis ini ia masih terus dengan efektif mewartakan kabar gembira keselamatan kerajaan surga.

2. Simon Petrus

Ketika Simon bergabung dengan para rasul, ia berusia tiga puluh tahun. Ia menikah, memiliki tiga anak, dan tinggal di Betsaida, dekat Kapernaum. Kakaknya, Andreas, dan ibu dari istrinya tinggal bersamanya. Petrus dan Andreas keduanya adalah mitra-mitra nelayan anak-anak Zebedeus.

Guru telah mengenal Simon untuk beberapa waktu sebelum Andreas mengajukan dia sebagai yang kedua dari para rasul. Ketika Yesus memberi Simon nama Petrus, dia melakukannya dengan senyum; nama itu menjadi semacam nama panggilan. Simon diketahui semua teman-temannya sebagai rekan yang tidak menentu dan berbuat tanpa dipikir. Benar, di kemudian hari, Yesus memang melampirkan makna baru dan penting terhadap nama julukan yang diberikan dengan ringan ini.

Simon Petrus adalah seorang lelaki impulsif, seorang optimis. Dia bertumbuh dewasa dengan membiarkan dirinya bebas untuk memanjakan perasaan-perasaan yang kuat; ia terus-menerus masuk dalam kesulitan karena dia terus saja berbicara tanpa dipikir. Jenis kesembronoan ini juga membuat kesulitan terus-menerus terhadap semua teman-teman dan rekan-rekan kerjanya dan menjadi penyebab dirinya menerima banyak teguran ringan dari Gurunya. Satu-satunya alasan Petrus tidak mendapat lebih banyak masalah lagi karena bicara tanpa dipikir adalah karena ia sejak awal sekali belajar membicarakan banyak rencana dan rancangannya dengan saudaranya, Andreas, sebelum ia berani untuk mengajukan usulan-usulan di depan umum.

Petrus adalah seorang pembicara yang fasih, lancar dan dramatis. Dia juga seorang pemimpin manusia yang alami dan inspiratif, seorang pemikir cepat tetapi bukan pemikir mendalam. Dia mengajukan banyak pertanyaan, lebih dari semua rasul disatukan, dan sementara sebagian besar pertanyaan-pertanyaan ini baik dan relevan, banyak juga yang tanpa dipikir dan bodoh. Petrus tidak memiliki pikiran yang mendalam, tetapi ia tahu pikirannya cukup baik. Karena itu ia adalah seorang pria dengan keputusan cepat dan tindakan mendadak. Sementara yang lain membicarakan keheranan mereka saat melihat Yesus di pantai, Petrus melompat dan berenang ke darat untuk bertemu Guru.

Satu sifat yang paling dikagumi Petus dari Yesus adalah kelembutan ilahinya. Petrus tidak pernah bosan-bosannya merenungkan kesabaran Yesus. Dia tidak pernah lupa pelajaran tentang memaafkan pelaku salah, tidak hanya tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh. Dia berpikir banyak tentang kesan karakter pemaaf Guru selama hari-hari kelabu dan suram segera setelah penyangkalan pada Yesus yang tidak ia pikirkan dan tidak ia maksudkan itu di halaman istana Imam Besar.

Simon Petrus sangat mudah terombang-ambing secara mengkhawatirkan; ia akan tiba-tiba berayun dari satu ekstrim ke yang lain. Pertama ia menolak untuk membiarkan Yesus membasuh kakinya dan kemudian, ketika mendengar jawaban Guru, malah memohon untuk dibasuh seluruhnya. Namun, bagaimanapun pula, Yesus tahu bahwa kesalahan Petrus adalah dari kepalanya dan bukan dari hatinya. Dia adalah salah satu kombinasi yang paling tidak bisa dijelaskan antara keberanian dan kepengecutan yang pernah hidup di bumi. Kekuatan karakternya yang besar adalah kesetiaan, persahabatan. Petrus benar-benar dan sungguh-sungguh mengasihi Yesus. Meskipun memiliki kekuatan pengabdian yang menjulang tinggi namun ia begitu tidak stabil dan tidak tetap sehingga ia membiarkan seorang gadis pelayan untuk menggodanya sehingga menyangkal Tuhan dan Gurunya. Petrus bisa menahan penganiayaan dan bentuk lain dari serangan langsung, tetapi ia layu dan menyusut menghadapi ejekan. Dia adalah seorang prajurit yang berani ketika menghadapi serangan frontal, tetapi dia adalah seorang pengecut yang mengernyit ketakutan ketika dikejutkan oleh serangan dari belakang.

Petrus adalah yang pertama dari rasul Yesus yang maju ke depan untuk membela pekerjaan Filipus di kalangan orang Samaria dan Paulus di antara orang bukan Yahudi; namun belakangan di Antiokhia ia berbalik arah ketika berhadapan dengan ejekan dari penganut adat Yahudi, untuk sementara menarik diri dari orang bukan-Yahudi yang hanya membuatnya tertimpa kecaman berani dari Paulus.

Dia adalah yang pertama dari para rasul yang membuat pengakuan sepenuh hati pada gabungan kemanusiaan dan keilahiannya Yesus dan yang pertama—kecuali Yudas—yang menyangkali dia. Petrus bukanlah seorang yang pemimpi, namun ia tidak suka untuk turun dari awan ekstasi dan antusiasme kegemaran dramatis menuju ke dunia kenyataan yang polos dan fakta apa adanya.

Pada waktu mengikuti Yesus, secara harfiah dan secara kiasan, ia memimpin arak-arakan atau sebaliknya mengikuti dari belakang—“mengikuti dari jauh.” Tetapi ia adalah pengkhotbah terkemuka dari dua belas; ia melakukan lebih dari setiap orang yang lain, selain Paulus, untuk membangun kerajaan dan mengirimkan para utusannya ke empat penjuru bumi dalam satu generasi.

Setelah penyangkalan gegabahnya terhadap Guru ia mulai sadar, dan dengan bimbingan simpatik dan memahami dari Andreas ia kembali memimpin jalan kembali ke jaring ikan sementara para rasul menunggu untuk mencari tahu apa yang akan terjadi setelah penyaliban. Setelah ia sepenuhnya yakin bahwa Yesus telah memaafkannya dan tahu bahwa ia telah diterima kembali dalam kawanannya Guru, api kerajaan berkobar begitu terangnya di dalam jiwanya sehingga ia menjadi terang yang besar dan menyelamatkan bagi ribuan orang yang duduk dalam kegelapan.

Setelah meninggalkan Yerusalem dan sebelum Paulus menjadi pemimpin utama di kalangan gereja-gereja Kristen bukan Yahudi, Petrus bepergian secara luas, mengunjungi semua gereja-gereja dari Babilon sampai Korintus. Dia bahkan mengunjungi dan melayani banyak gereja yang telah didirikan oleh Paulus. Meskipun Petrus dan Paulus berbeda banyak dalam watak dan pendidikan, bahkan dalam teologi, namun mereka bekerja sama secara harmonis untuk membangun gereja-gereja selama tahun-tahun mereka kemudian.

Sedikit tentang gaya dan pengajaran Petrus ditampilkan dalam khotbah-khotbah yang sebagian dicatat oleh Lukas dan dalam Injil Markus. Gayanya yang penuh semangat ditunjukkan secara lebih baik dalam suratnya yang dikenal sebagai Surat Pertama Petrus; setidaknya hal ini benar sebelum kemudian diubah oleh seorang murid Paulus.

Namun Petrus tetap saja membuat kesalahan dengan mencoba untuk meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa Yesus, bagaimanapun pula, adalah benar-benar dan sungguh-sungguh Mesias Yahudi. Sampai pada hari kematiannya, Simon Petrus terus menderita kebingungan dalam pikirannya antara konsep Yesus sebagai Mesias Yahudi, Kristus sebagai penebus dunia, dan Anak Manusia sebagai pewahyuan Tuhan, Bapa pengasih untuk seluruh umat manusia.

Istri Petrus adalah wanita yang sangat cakap. Selama bertahun-tahun ia bekerja secara memuaskan sebagai anggota korps perempuan, dan ketika Petrus terusir keluar dari Yerusalem, ia menemaninya pada semua perjalanan ke gereja-gereja serta pada semua kunjungan misinya. Dan pada hari suaminya yang terkenal itu mengakhiri hidupnya, ia dilemparkan ke binatang-binatang buas dalam arena di Roma.

Maka demikianlah Petrus ini, seorang rekan dekat Yesus, salah satu dari lingkaran dalam, berangkat dari Yerusalem mewartakan kabar gembira kerajaan dengan kuasa dan kemenangan sampai kepenuhan pelayanannya telah tercapai; dan ia menganggap dirinya sebagai penerima penghargaan tinggi ketika para penangkapnya memberitahunya bahwa ia harus mati seperti Gurunya telah wafat—yaitu di kayu salib. Demikianlah Simon Petrus disalibkan di Roma.

3. Yakobus Zebedeus

Yakobus, yang lebih tua dari dua rasul anak Zebedeus, yang Yesus juluki “anak-anak guruh,” berumur tiga puluh tahun ketika ia menjadi seorang rasul. Ia telah menikah, memiliki empat anak, dan tinggal dekat orangtuanya di pinggiran Kapernaum, Betsaida. Dia adalah seorang nelayan, melakukan pekerjaannya dalam kerjasama dengan adiknya Yohanes dan dalam hubungan dengan Andreas dan Simon. Yakobus dan saudaranya Yohanes menikmati keuntungan telah mengenal Yesus lebih lama daripada para rasul lainnya.

Rasul yang cakap ini adalah kontradiksi temperamental; ia tampaknya benar-benar memiliki dua tabiat, yang keduanya digerakkan oleh perasaan yang kuat. Dia khususnya keras ketika kegeramannya sekali sepenuhnya dibangkitkan. Dia memiliki temperamen yang berapi-api sekali cukup diprovokasi, dan ketika badai itu berlalu, ia selalu terbiasa membenarkan dan memaafkan amarahnya dengan dalih bahwa hal itu sepenuhnya merupakan manifestasi kemarahan yang benar. Kecuali pergolakan murka yang berkala ini, kepribadian Yakobus itu mirip seperti Andreas. Dia tidak memiliki kearifan atau wawasan ke dalam tabiat manusia seperti Andreas, tetapi dia adalah seorang pembicara publik yang jauh lebih baik. Setelah Petrus, kecuali Matius, Yakobus adalah orator publik terbaik di antara dua belas.

Meskipun Yakobus tidaklah berarti pemurung, satu hari dia bisa tenang dan pendiam lalu hari berikutnya menjadi pembicara dan pendongeng yang sangat baik. Dia biasanya berbicara secara bebas dengan Yesus, tetapi di antara kedua belas, hari-hari biasanya ia adalah lelaki yang pendiam. Salah satu kelemahan besarnya adalah masa-masa diam yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan ini.

Fitur istimewa dari kepribadian Yakobus adalah kemampuannya untuk melihat semua sisi dari suatu proposisi. Dari semua dua belas, ia yang terdekat bisa menangkap arti dan makna sebenarnya dari ajaran Yesus. Ia juga lambat pada awalnya untuk memahami makna apa yang disampaikan Guru, tetapi sebelum mereka menyelesaikan pelatihan mereka, ia telah memperoleh konsep unggul tentang pesan Yesus. Yakobus mampu memahami rentang luas tabiat manusia; ia bergaul dengan baik dengan Andreas yang serba bisa, Petrus yang tidak sabaran, dan saudaranya Yohanes yang mandiri.

Meskipun Yakobus dan Yohanes mengalami kesulitan-kesulitan mereka mencoba untuk bekerja bersama, namun menarik untuk mengamati bagaimana baiknya mereka hidup bersama. Mereka tidak seberhasil seperti Andreas dan Petrus, tetapi mereka jauh lebih baik daripada yang biasanya diharapkan dari dua bersaudara, terutama saudara-saudara yang keras kepala dan tetap pendirian seperti itu. Namun, walaupun tampaknya aneh, dua anak Zebedeus ini jauh lebih toleran satu sama lain daripada terhadap orang-orang asing. Mereka memiliki perhatian yang besar satu sama lain; mereka selalu teman bermain yang bahagia. Adalah “anak-anak guruh” ini yang ingin memanggil api turun dari langit untuk membinasakan orang-orang Samaria yang berani menunjukkan rasa tidak hormat pada Guru mereka. Namun kematian Yakobus yang terlalu cepat itu banyak mengubah watak Yohanes adiknya yang berapi-api itu.

Karakteristik Yesus yang paling dikagumi Yakobus adalah perhatian simpatik Guru. Minat pemahaman Yesus pada yang kecil dan yang besar, yang kaya dan yang miskin, membuat daya tarik yang besar baginya.

Yakobus Zebedeus adalah seorang pemikir dan perencana yang seimbang. Seiring dengan Andreas, dia adalah seorang yang lebih berkepala dingin dari kelompok kerasulan. Dia adalah seorang individu yang bersemangat tetapi tidak pernah terburu-buru. Dia adalah seorang roda penyeimbang yang sangat baik bagi Petrus.

Dia sederhana dan tidak dramatis, pelayan harian, pekerja bersahaja, tidak mencari imbalan khusus ketika ia memahami sesuatu makna sebenarnya tentang kerajaan. Bahkan dalam kisah tentang ibu Yakobus dan Yohanes, yang meminta agar anaknya diberikan tempat di sebelah kanan dan kiri Yesus, harus diingat bahwa ibunya itulah yang membuat permintaan ini. Dan ketika mereka menunjukkan bahwa mereka siap untuk memikul tanggung jawab tersebut, perlu diketahui bahwa mereka sadar akan bahaya yang menyertai anggapan tentang pemberontakan Guru melawan kekuasaan Romawi, dan bahwa mereka juga bersedia membayar harga. Ketika Yesus bertanya apakah mereka siap untuk minum cawan itu, mereka menjawab bahwa mereka bersedia. Dan mengenai Yakobus, hal itu terjadi secara harfiah—dia memang meminum cawan itu dengan Guru, karena ia adalah yang pertama dari para rasul yang mengalami kemartiran, karena secara dini dihukum mati dengan pedang oleh Herodes Agripa. Yakobus dengan demikian menjadi yang pertama dari dua belas yang mengorbankan hidupnya pada garis pertempuran yang baru untuk kerajaan. Herodes Agripa paling takut Yakobus melebihi semua rasul lainnya. Dia memang sering tenang dan diam, tapi ia berani dan teguh ketika keyakinannya terangsang dan tertantang.

Yakobus menjalani hidupnya hingga penuh, dan ketika akhir itu datang, ia menanggungnya dengan keikhlasan dan ketabahan sedemikian rupa sehingga bahkan penuduhnya dan informannya, yang menghadiri persidangan dan eksekusinya, menjadi sangat tersentuh sehingga ia bergegas lari menjauh dari adegan kematian Yakobus untuk menggabungkan diri dengan murid-murid Yesus.

4. Yohanes Zebedeus

Ketika ia menjadi seorang rasul, Yohanes berusia dua puluh empat tahun dan adalah yang termuda dari dua belas. Dia belum menikah dan tinggal bersama orangtuanya di Betsaida; ia adalah seorang nelayan dan bekerja dengan saudaranya Yakobus dalam kemitraan dengan Andreas dan Petrus. Baik sebelum dan setelah menjadi seorang rasul, Yohanes berfungsi sebagai agen pribadi Yesus dalam berurusan dengan keluarga sang Guru, dan ia terus memikul tanggung jawab ini selama Maria ibu Yesus masih hidup.

Karena Yohanes adalah yang termuda dari dua belas dan begitu berhubungan erat dengan Yesus dalam urusan keluarganya, ia sangat disayangi Guru, tetapi tidak bisa dengan benar dikatakan bahwa dia adalah “murid yang dikasihi Yesus.” Kamu akan sulit mencurigai kepribadian yang begitu dermawan seperti Yesus kedapatan bersalah menunjukkan pilih kasih, mengasihi salah seorang dari para rasulnya lebih dari yang lain. Fakta bahwa Yohanes adalah satu dari tiga ajudan pribadi Yesus mewarnai lebih lanjut gagasan keliru ini, apalagi bahwa Yohanes, bersama dengan saudaranya Yakobus, telah mengenal Yesus lebih lama dari yang lain.

Petrus, Yakobus, dan Yohanes ditugasi sebagai ajudan pribadi Yesus segera setelah mereka menjadi rasul. Tak lama setelah pemilihan dua belas dan pada saat Yesus menunjuk Andreas untuk bertindak sebagai direktur kelompok, dia berkata kepadanya: “Dan sekarang aku ingin agar kamu menugaskan dua atau tiga rekanmu untuk berada bersama aku dan untuk tetap berada di sisiku, untuk menghibur aku dan untuk melayani kebutuhan sehari-hariku.” Andreas berpikir untuk memilih yang terbaik untuk tugas khusus ini adalah tiga rasul pertama yang dipilih berikutnya setelah dia. Dia sendiri ingin menjadi sukarelawan untuk layanan diberkati tersebut, tetapi sang Guru telah memberikan tugas kepadanya; sehingga ia langsung menyuruh agar Petrus, Yakobus, dan Yohanes mengikatkan diri mereka pada Yesus.

Yohanes Zebedeus memiliki banyak sifat-sifat karakter yang indah, tetapi satu yang tidak begitu indah adalah keangkuhan diri yang berlebihan tetapi biasanya tersembunyi rapat. Hubungannya yang lama dengan Yesus membuat perubahan banyak dan besar dalam karakternya. Kesombongan ini sangat berkurang, namun setelah menjadi tua dan lebih atau kurangnya menjadi kekanak-kanakan, rasa penghargaan diri ini muncul kembali sampai batas tertentu, sehingga, ketika terlibat dalam mengarahkan Natan dalam penulisan Injil yang sekarang menyandang namanya, rasul jompo ini tidak ragu-ragu berulang kali menunjuk dirinya sebagai “murid yang dikasihi Yesus.” Melihat fakta bahwa Yohanes adalah menjadi sahabat Yesus yang terdekat daripada manusia bumi lainnya, bahwa dialah wakil pribadi pilihannya dalam begitu banyak urusan, maka tidak aneh bahwa ia telah menganggap dirinya sebagai “murid yang dikasihi Yesus” karena ia dengan pasti tahu bahwa ia adalah murid yang begitu sering dipercayai Yesus.

Sifat paling kuat dalam karakternya Yohanes adalah bisa diandalkan; ia cepat dan berani, setia dan berbakti. Kelemahan terbesarnya adalah ciri keangkuhan diri ini. Dia adalah anggota paling muda dari keluarga ayahnya dan yang paling muda dalam kelompok kerasulan. Mungkin dia sedikit dimanja; bisa jadi dia telah terlalu banyak disayang-sayang. Namun Yohanes setelah bertahun-tahun menjadi jenis pribadi yang sangat berbeda daripada dia sebagai anak muda yang mengagumi diri sendiri dan sembarangan, yang bergabung dengan jajaran rasul Yesus ketika dia berumur dua puluh empat.

Karakteristik Yesus yang paling dihargai Yohanes adalah kasih dan ketidak-egoisan Guru; sifat-sifat ini membuat kesan sedemikian rupa pada dirinya sehingga dalam seluruh hidup selanjutnya ia dikuasai oleh sentimen kasih dan pengabdian persaudaraan. Ia berbicara tentang kasih dan menulis tentang kasih. “Anak guruh” ini menjadi “rasul kasih”; dan di Efesus, ketika uskup lansia ini tidak lagi mampu berdiri di mimbar dan berkhotbah tetapi harus dibawa ke gereja dengan kursi, dan ketika pada penutupan ibadah ia diminta untuk mengatakan sepatah kata untuk orang-orang beriman, selama bertahun-tahun ucapannya hanyalah, “anak-anakku yang masih kecil, kasihilah satu sama lain.”

Yohanes adalah seorang lelaki dengan sedikit bicara kecuali ketika emosinya bangkit. Dia berpikir banyak tetapi berkata sedikit. Saat ia makin tua, emosinya menjadi lebih terkuasai, lebih terkontrol, namun ia tidak pernah mengatasi keengganannya untuk berbicara; ia tidak pernah sepenuhnya menguasai sikap diam ini. Namun dia dikaruniai imajinasi yang luar biasa dan kreatif.

Ada sisi lain dari Yohanes yang orang tidak akan berharap untuk menemukannya dalam jenis yang tenang dan introspektif ini. Dia agak fanatik dan intoleran berlebihan. Dalam hal ini dirinya dan Yakobus sangat mirip—mereka berdua ingin memanggil api turun dari langit ke atas kepala orang-orang Samaria yang tidak sopan itu. Ketika Yohanes menjumpai beberapa orang asing mengajar dalam nama Yesus, ia langsung melarang mereka. Namun ia bukan satu-satunya dari dua belas yang ternoda oleh jenis kesadaran yang menghargai tinggi diri sendiri dan merasa lebih unggul ini.

Kehidupan Yohanes itu sangat dipengaruhi oleh pemandangan Yesus pergi berkeliling tanpa rumah karena ia tahu bagaimana setianya Yesus membuat persediaan untuk perawatan ibu dan keluarganya. Yohanes juga sangat bersimpati pada Yesus karena kegagalan keluarga Yesus untuk memahami dia, menyadari bahwa mereka secara bertahap menarik diri dari dia. Seluruh situasi ini, bersama-sama dengan Yesus yang selalu menundukkan keinginannya yang terkecil kepada kehendak Bapa di surga dan kehidupan percaya yang tersirat sehari-harinya, membuat kesan yang mendalam pada Yohanes sehingga hal itu menghasilkan perubahan menyolok dan permanen dalam karakternya, perubahan yang muncul sendiri dalam seluruh kehidupan dia berikutnya.

Yohanes memiliki nyali yang tenang dan berani yang sedikit dimiliki rasul-rasul lainnya. Ia adalah satu-satunya rasul yang ikut bersama Yesus, pada malam penangkapannya dan punya nyali untuk menemani Gurunya hingga sakratul maut itu sendiri. Ia hadir dan ada dekat sampai jam terakhir Yesus di bumi dan ditemukan setia melaksanakan apa yang dipercayakan kepadanya berkenaan dengan ibunya Yesus dan siap menerima instruksi tambahan yang mungkin diberikan selama saat-saat terakhir kehidupan fana Guru. Satu hal yang pasti, Yohanes sepenuhnya bisa diandalkan. Yohanes biasanya duduk di sebelah kanan Yesus ketika dua belas sedang makan. Ia adalah yang pertama dari dua belas yang benar-benar dan sepenuhnya percaya pada kebangkitan, dan ia adalah orang pertama yang mengenali Guru ketika dia datang kepada mereka di tepi pantai setelah kebangkitannya.

Anak Zebedeus ini sangat erat bekerjasama dengan Petrus dalam kegiatan awal gerakan Kristen, menjadi salah satu pendukung utama gereja Yerusalem. Dia adalah pendukung utama Petrus pada hari Pentakosta.

Beberapa tahun setelah kesyahidan Yakobus, Yohanes menikahi janda saudaranya. Dua puluh tahun terakhir hidupnya ia dirawat oleh seorang cucu perempuan yang penuh kasih.

Yohanes berada di penjara beberapa kali dan dibuang ke Pulau Patmos selama jangka waktu empat tahun sampai kaisar lain berkuasa di Roma. Kalau bukan karena Yohanes berbicara bijaksana dan cerdas, tak diragukan lagi tentulah ia telah dibunuh seperti saudaranya (Yakobus) yang lebih terang-terangan bicara itu. Seiring tahun-tahun berlalu, Yohanes, bersama dengan Yakobus adik Yesus, belajar untuk menerapkan upaya perdamaian bijaksana ketika mereka tampil di hadapan hakim-hakim sipil. Mereka menemukan bahwa “jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman.” Mereka juga belajar untuk menyatakan gereja sebagai “persaudaraan rohani yang dikhususkan untuk pelayanan sosial umat manusia” dan bukan sebagai “kerajaan surga.” Mereka mengajarkan pelayanan kasih daripada kuasa memerintah—kerajaan dan raja.

Ketika dalam pengasingan sementara di Patmos, Yohanes menulis Kitab Wahyu, yang kini kamu miliki dalam bentuk yang sangat dipersingkat dan diubah. Kitab Wahyu ini berisi fragmen yang masih tersisa dari suatu pewahyuan besar, bagian-bagian besar dari pewahyuan itu hilang, bagian lain ada yang dihapus, setelah Yohanes menulisnya. Kitab ini diawetkan hanya dalam bentuk sepotong-sepotong dan tidak asli lagi.

Yohanes banyak bepergian, bekerja tanpa henti, dan setelah menjadi uskup gereja-gereja Asia, menetap di Efesus. Dia mengarahkan rekannya, Natan, dalam penulisan apa yang disebut “Injil menurut Yohanes,” di Efesus, ketika ia berusia sembilan puluh sembilan tahun. Dari seluruh dua belas rasul, Yohanes Zebedeus akhirnya menjadi teolog yang tersohor. Dia meninggal secara wajar di Efesus pada tahun 103 M ketika dia berusia seratus satu tahun.

5. Filipus yang Ingin Tahu

Filipus adalah rasul kelima yang dipilih, dipanggil ketika Yesus dan empat rasul pertamanya sedang dalam perjalanan mereka dari tempat pertemuannya Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan ke Kana di Galilea. Karena ia tinggal di Betsaida, Filipus selama beberapa waktu telah kenal Yesus, tetapi tidak pernah terpikir olehnya bahwa Yesus adalah orang yang benar-benar agung sampai hari itu di lembah Yordan ketika ia berkata, “Ikutlah aku.” Filipus juga agak dipengaruhi oleh fakta bahwa Andreas, Petrus, Yakobus, dan Yohanes telah menerima Yesus sebagai Pembebas itu.

Filipus berumur dua puluh tujuh tahun ketika ia bergabung dengan para rasul; ia baru saja menikah, tetapi ia belum punya anak saat itu. Julukan yang para rasul berikan kepadanya menandakan “rasa ingin tahu.” Filipus selalu ingin kepadanya diperlihatkan. Ia tampaknya tidak pernah melihat sangat jauh ke dalam rencanaapapun. Belum tentu berarti pikirannya tumpul, tetapi ia kurang imajinasi. Kurangnya imajinasi ini adalah kelemahan besar dari karakternya. Dia adalah seorang yang biasa-biasa dan individu yang suka fakta apa adanya.

Ketika para rasul diorganisir untuk pelayanan, Filipus dibuat menjadi pengurus; adalah tugasnya untuk memastikan bahwa mereka setiap saat dicukupi dengan perbekalan. Dan dia adalah seorang pengurus yang baik. Karakteristik terkuatnya adalah ketelitian metodisnya; dia matematis dan juga sistematis.

Filipus berasal dari keluarga bertujuh, tiga anak laki-laki dan empat perempuan. Dia adalah kedua dari yang tertua, dan setelah kebangkitan dia membaptis seluruh keluarganya masuk ke dalam kerajaan. Keluarganya Filipus adalah kaum nelayan. Ayahnya adalah orang yang sangat cakap, seorang pemikir yang mendalam, tetapi ibunya adalah dari keluarga yang sangat sedang-sedang saja. Filipus bukan orang yang bisa diharapkan untuk melakukan hal-hal besar, tetapi ia adalah orang yang bisa melakukan hal-hal kecil dengan cara besar, melakukannya dengan baik dan memuaskan. Hanya beberapa kali dalam empat tahun ia gagal untuk memiliki makanan di tangan untuk memenuhi kebutuhan semuanya. Bahkan banyak tuntutan kebutuhan darurat yang mengiringi kehidupan yang mereka jalani jarang membuat dia tidak siap. Departemen sandang pangan keluarga kerasulan dikelola dengan cerdas dan efisien.

Titik kuat tentang Filipus adalah keandalan metodisnya; titik lemah dalam sifatnya adalah sama sekali kurang imajinasi, tidak adanya kemampuan untuk menempatkan dua dan dua bersama-sama untuk memperoleh empat. Dia itu pada intinya matematis tetapi tidak konstruktif dalam imajinasinya. Ia hampir seluruhnya kurang dalam jenis-jenis imajinasi tertentu. Dia adalah tipikal pria rata-rata sehari-hari dan biasa. Ada banyak sekali pria dan wanita yang demikian di antara orang banyak yang datang untuk mendengar Yesus mengajar dan berkhotbah, dan mereka mendapat kelegaan besar dengan mengamati seseorang yang seperti mereka diangkat ke suatu posisi terhormat dalam dewan-dewan Guru; mereka mendapat keberanian dari kenyataan bahwa seseorang seperti mereka sudah menemukan tempat yang tinggi dalam urusan kerajaan. Yesus belajar banyak tentang cara beberapa batin manusia berfungsi ketika ia dengan begitu sabar mendengarkan pertanyaan-pertanyaan bodoh Filipus dan begitu banyak kali memenuhi permintaan pengurusnya ini untuk “ditunjuki.”

Satu kualitas tentang Yesus yang Filipus begitu kagumi terus menerus adalah kemurahan hati Guru yang tak pernah gagal. Tidak pernah Filipus menemukan apapun dalam Yesus yang kecil, kikir, atau pelit, dan ia memuja kemurahan yang selalu hadir dan tidak pernah gagal ini.

Hanya ada sedikit tentang kepribadian Filipus yang mengesankan. Dia sering disebut sebagai “Filipus dari Betsaida, kota tempat Andreas dan Petrus hidup.” Ia hampir tanpa visi yang cerdas; ia tidak dapat menangkap kemungkinan dramatis dari situasi tertentu. Dia bukan pesimistik; ia hanya prosaik (biasa saja). Dia juga sangat kurang dalam wawasan rohani. Dia tidak akan ragu untuk memotong pembicaraan Yesus di tengah-tengah salah satu pembahasan yang paling mendalam dari Guru untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang tampaknya bodoh. Tetapi Yesus tidak pernah menegur dia karena kesembronoan tersebut; ia sabar dengannya dan paham ketidak-mampuannya untuk memahami makna yang lebih mendalam dari ajaran itu. Yesus juga tahu dengan baik bahwa, jika dia sekali menegur Filipus karena mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menjengkelkan ini, dia tidak hanya akan melukai jiwa yang jujur ini, tetapi teguran seperti itu akan melukai Filipus begitu rupa sehingga ia tidak akan pernah lagi merasa bebas untuk mengajukan pertanyaan. Yesus tahu bahwa di dunia-dunia ruang angkasanya ada milyaran tak terhitung manusia fana serupa yang lambat berpikir, dan ia ingin mendorong mereka semua untuk melihat kepadanya dan selalu merasa bebas untuk datang kepadanya dengan pertanyaan dan masalah mereka. Bagaimanapun juga, Yesus sebetulnya lebih tertarik pada pertanyaan-pertanyaan bodoh Filipus daripada khotbah yang dia mungkin sedang sampaikan. Yesus paling tertarik pada manusia, semua jenis manusia.

Pengurus kerasulan ini bukanlah pembicara publik yang baik, tetapi dia adalah seorang pekerja pribadi yang sangat persuasif dan berhasil. Ia tidak mudah kecewa; ia seorang pekerja keras dan sangat ulet dalam apapun yang ia lakukan. Ia memiliki karunia yang besar dan langka untuk berkata, “Mari.” Ketika petobat pertamanya, Natanael, ingin berdebat tentang kelebihan dan kekurangan Yesus dan Nazaret, jawaban yang efektif dari Filipus adalah, “Marilah dan lihatlah.” Dia bukan pengkhotbah dogmatis yang mendesak para pendengarnya untuk “Pergi”—melakukan ini dan melakukan itu. Dia menghadapi semua situasi ketika muncul dalam pekerjaannya dengan “Mari datanglah”—“mari datang dengan aku; aku akan menunjukkan kamu jalannya.” Dan itu adalah selalu teknik yang efektif dalam segala bentuk dan tahap mengajar. Bahkan orang tua dapat belajar dari Filipus cara yang lebih baik untuk mengatakan kepada anak-anak mereka untuk tidak “Pergilah lakukan ini dan lakukan itu,” melainkan, “Mari ikutlah dengan kami sementara kami menunjukkan dan berbagi dengan kalian jalan yang lebih baik.”

Ketidak-mampuan Filipus untuk menyesuaikan dirinya pada suatu situasi yang baru ditunjukkan dengan baik ketika orang-orang Yunani datang kepadanya di Yerusalem, mengatakan: “Tuan, kami ingin bertemu Yesus.” Filipus akan mengatakan kepada setiap orang Yahudi yang mengajukan pertanyaan seperti itu, “Mari.” Tetapi orang-orang ini adalah orang asing, dan Filipus ingat tidak ada instruksi dari atasannya mengenai hal-hal tersebut; jadi satu-satunya hal yang ia bisa pikir untuk dilakukan adalah untuk berkonsultasi dengan sang kepala, Andreas, dan kemudian mereka berdua mengantar orang-orang Yunani yang bertanya itu kepada Yesus. Demikian juga, ketika ia pergi ke Samaria berkhotbah dan membaptis orang-orang percaya, seperti telah diajarkan oleh Gurunya, ia menghindari menumpangkan tangan pada orang yang baru percaya sebagai tanda mereka telah menerima Roh Kebenaran. Hal ini dilakukan oleh Petrus dan Yohanes, yang tak lama kemudian turun dari Yerusalem untuk mengamati pekerjaannya atas nama gereja induk.

Filipus melalui masa-masa sulit kematian Guru, ikut serta dalam reorganisasi kedua belas rasul, dan adalah yang pertama pergi keluar untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi kerajaan di luar barisan orang Yahudi langsung, menjadi yang paling berhasil dalam karyanya untuk orang-orang Samaria dan dalam semua pekerjaan berikutnya demi injil.

Istri Filipus, yang merupakan anggota efisien korps perempuan, menjadi aktif bekerjasama dengan suaminya dalam pekerjaan penginjilannya setelah mereka lari dari penganiayaan di Yerusalem. Istrinya adalah seorang wanita yang tak kenal takut. Dia berdiri di kaki salib Filipus mendorong dia untuk mewartakan kabar gembira bahkan kepada para pembunuhnya, dan ketika kekuatannya melemah, istrinya mulai menceritakan kisah keselamatan oleh iman di dalam Yesus dan dibungkam hanya ketika orang-orang Yahudi yang murka bergegas menyerbu dirinya dan merajamnya dengan batu sampai mati. Putri tertua mereka, Lea, melanjutkan pekerjaan mereka, kemudian menjadi nabiah Hierapolis yang terkenal.

Filipus, mantan pengurus untuk dua belas rasul, adalah seorang pria perkasa dalam kerajaan, memenangi jiwa kemanapun ia pergi; dan ia akhirnya disalibkan karena imannya dan dimakamkan di Hierapolis.

6. Natanael yang Jujur

Natanael, yang keenam dan terakhir dari para rasul yang dipilih oleh Guru sendiri, dibawa kepada Yesus oleh temannya Filipus. Ia telah bekerjasama dalam beberapa usaha bisnis dengan Filipus dan, bersama dia, sedang dalam perjalanan turun untuk melihat Yohanes Pembaptis ketika mereka bertemu Yesus.

Ketika Natanael bergabung dengan para rasul, ia berusia dua puluh lima tahun dan kedua yang termuda di kelompok itu. Dia adalah anak bungsu dari keluarga bertujuh, belum menikah, dan satu-satunya pencari nafkah untuk orangtuanya yang sudah lanjut usia dan lemah, dengan siapa ia tinggal di Kana; kakak laki-laki dan perempuannya sudah menikah atau sudah meninggal, dan tidak ada yang tinggal di sana. Natanael dan Yudas Iskariot adalah dua orang berpendidikan terbaik di antara dua belas. Natanael telah berpikir ingin menjadi seorang pedagang.

Yesus sendiri tidak memberikan Natanael nama julukan, tapi dua belas segera mulai berbicara tentang dia dalam istilah yang menandakan kejujuran, ketulusan. Ia “tanpa tipu daya.” Hal ini adalah kebajikannya yang besar; ia jujur dan juga tulus. Kelemahan karakternya adalah kebanggaannya; dia sangat bangga terhadap keluarganya, kotanya, reputasinya, dan bangsanya, semua itu terpuji jika tidak dilakukan keterlaluan. Namun Natanael cenderung untuk pergi sampai ekstrim dengan prasangka pribadinya. Ia cenderung untuk berprasangka pada orang-orang sesuai dengan pendapat pribadinya. Ia tidak lambat untuk mengajukan pertanyaan, bahkan sebelum ia bertemu dengan Yesus, “Dapatkah hal yang baik datang dari Nazaret?” Namun demikian Natanael tidak keras kepala, bahkan jika dia sombong. Ia cepat untuk membalik arahnya sekali ia menatap wajah Yesus.

Dalam banyak hal Natanael adalah seorang jenius aneh dari dua belas. Dia adalah filsuf dan pemimpi kerasulan, namun ia adalah sejenis pemimpi yang sangat praktis. Dia berganti-ganti antara masa-masa filsafat yang mendalam dan periode humor yang aneh-aneh dan lucu; ketika dalam suasana hati yang baik, ia mungkin adalah pendongeng terbaik di antara dua belas. Yesus sangat menikmati mendengar pembahasan Natanael tentang hal-hal yang dalam maupun yang dangkal. Natanael semakin menganggap Yesus dan kerajaan lebih serius, tetapi tidak pernah dia menganggap dirinya sendiri terlalu serius (terlalu penting.)

Para rasul semua mengasihi dan menghargai Natanael, dan ia bergaul dengan mereka baik sekali, terkecuali Yudas Iskariot. Yudas tidak berpikir Natanael menghargai cukup serius jabatan kerasulannya dan sekali pernah berani diam-diam pergi kepada Yesus dan mengajukan keluhan mengenai dia. Kata Yesus: “Yudas, perhatikan dengan baik langkah-langkahmu; jangan terlalu menganggap besar jabatanmu. Siapa dari kita yang layak untuk menghakimi saudaranya? Bukan kehendak Bapa bahwa anak-anak-Nya harus mengalami hanya hal-hal yang serius dalam hidup. Biarlah aku ulangi: Aku telah datang agar saudara-saudaraku dalam daging bisa memiliki sukacita, kebahagiaan, dan hidup yang lebih berkelimpahan. Karena itu pergilah, Yudas, dan lakukan dengan baik apa yang telah dipercayakan kepadamu tetapi biarkanlah Natanael, saudaramu, untuk memberi pertanggung-jawaban tentang dirinya sendiri kepada Tuhan.” Dan kenangan ini, dengan banyak pengalaman yang serupa, lama bertahan dalam hati Yudas Iskariot yang menipu dirinya sendiri itu.

Banyak kali, ketika Yesus sedang jauh di gunung bersama Petrus, Yakobus, dan Yohanes, dan suasana menjadi tegang dan kusut di antara para rasul, bahkan ketika Andreas dalam keraguan tentang apa yang harus dikatakan kepada saudara-saudaranya yang sedih, Natanael yang akan meredakan ketegangan dengan sedikit filsafat atau sekilas humor; humor yang baik, juga.

Tugas Natanael adalah untuk mengurus keluarga dari dua belas. Dia sering absen dari sidang-sidang kerasulan, karena ketika ia mendengar bahwa ada penyakit atau sesuatu yang tidak biasa telah terjadi terhadap salah seorang yang menjadi tanggung jawabnya, ia tidak membuang waktu untuk sampai ke rumah itu. Dua belas beristirahat dengan tenang dalam pengetahuan bahwa kesejahteraan keluarga mereka aman di tangan Natanael.

Natanael paling menghormati Yesus karena toleransinya. Ia tidak pernah bosan merenungkan keluasan hati dan simpati berlimpah dari Anak Manusia.

Ayah Natanael (Bartolomeus) meninggal tak lama setelah Pentakosta, setelah itu rasul ini pergi ke Mesopotamia dan India mewartakan kabar gembira kerajaan dan membaptis orang-orang percaya. Saudara-saudaranya tidak pernah tahu menjadi apa mantan filsuf, penyair, dan pelawak mereka. Namun ia juga adalah orang besar dalam kerajaan dan berbuat banyak untuk menyebarkan ajaran Gurunya, meskipun ia tidak ikut serta dalam pengorganisasian gereja Kristen selanjutnya. Natanael meninggal di India.

7. Matius Lewi

Matius, rasul yang ketujuh, dipilih oleh Andreas. Matius termasuk keluarga petugas atau pemungut pajak, tetapi dirinya seorang pemungut cukai di Kapernaum, dimana ia tinggal. Ia berumur tiga puluh satu tahun dan sudah menikah dan memiliki empat anak. Ia adalah seorang pria yang cukup kaya, satu-satunya yang berada (mampu) yang termasuk korps kerasulan. Ia adalah pebisnis yang baik, pandai dalam pergaulan sosial, dan berbakat dengan kemampuan untuk berteman dan bergaul dengan lancar dengan berbagai macam orang.

Andreas menunjuk Matius sebagai perwakilan keuangan para rasul. Di satu sisi ia adalah agen fiskal dan juru bicara publisitas untuk organisasi kerasulan. Ia adalah seorang hakim yang tajam terhadap sifat manusia dan pelaku propaganda yang sangat pandai. Dirinya adalah suatu kepribadian yang sulit untuk digambarkan, tetapi dia adalah seorang murid yang sangat sungguh-sungguh dan semakin percaya pada misi Yesus dan akan kepastian kerajaan. Yesus tidak pernah memberi Lewi nama panggilan, tetapi sesama rasulnya sering menyebutnya sebagai “yang mendapatkan uang.”

Sisi kuat Lewi adalah pengabdian sepenuh hati kepada penyebab. Bahwa dia, seorang pemungut cukai, telah diambil oleh Yesus dan para rasulnya adalah penyebab rasa syukur yang besar pada diri mantan kolektor pajak penghasilan ini. Namun demikian, diperlukan beberapa waktu untuk rasul-rasul yang lain, terutama Simon Zelot dan Yudas Iskariot, untuk bisa menerima kehadiran pemungut cukai ini di tengah-tengah mereka. Kelemahan Matius adalah sudut pandang hidupnya yang picik dan materialistik. Tetapi sementara bulan-bulan berlalu, dalam semua perkara ini dia membuat kemajuan besar. Dia, tentu saja, harus absen dari banyak musim pengajaran yang paling berharga karena adalah tugasnya untuk menjaga kas terisi ulang.

Sikap pemaaf Guru itulah yang Matius paling hargai. Dia tidak akan pernah berhenti untuk menceritakan lagi bahwa hanya iman yang diperlukan dalam usaha menemukan Tuhan. Dia selalu suka berbicara tentang kerajaan sebagai “bisnis menemukan Tuhan ini.”

Meskipun Matius adalah seorang pria dengan cacat masa lalu, ia memberikan pertanggung-jawaban dirinya sangat baik, dan seiring berjalannya waktu, rekan-rekannya menjadi bangga terhadap kinerja pemungut cukai itu. Dia adalah salah satu dari para rasul yang membuat catatan ekstensif terhadap perkataan Yesus, dan catatan-catatan ini digunakan sebagai dasar dari narasinya Isador kemudian tentang perkataan dan perbuatan Yesus, yang telah menjadi dikenal sebagai Injil menurut Matius.

Kehidupan agung dan berguna dari Matius, pengusaha dan kolektor cukai dari Kapernaum itu, telah menjadi sarana memimpin beribu-ribu pengusaha, pejabat pemerintah, dan politisi lain, selama berabad-abad berikutnya, yang juga mendengar suara ajakan Guru mengatakan, “Ikutlah aku.” Matius benar-benar seorang politikus cerdas, tetapi ia sangat setia kepada Yesus dan amat mengabdi untuk tugas mengawasi agar para utusan kerajaan yang akan datang itu dibiayai dengan cukup.

Kehadiran Matius di antara dua belas rasul adalah cara menjaga pintu kerajaan terbuka lebar untuk sejumlah besar jiwa yang hilang harapan dan terbuang yang menganggap diri mereka telah lama tanpa lindungan penghiburan agama. Pria dan wanita yang terbuang dan putus asa berbondong-bondong untuk mendengar Yesus, dan ia tidak pernah menolak satu orangpun.

Matius menerima persembahan yang sukarela diserahkan dari para murid percaya dan auditor langsung ajaran Guru, namun ia tidak pernah secara terbuka meminta dana dari orang banyak. Dia melakukan semua pekerjaan keuangannya dalam cara yang diam-diam dan pribadi dan mendapatkan sebagian besar uang di kalangan kelas yang lebih kaya dari orang-orang percaya yang tertarik. Dia praktis memberikan seluruh kekayaannya yang sedang-sedang itu untuk pekerjaan Guru dan rasul-rasulnya, tetapi mereka tidak pernah tahu kedermawanan ini, kecuali Yesus, yang tahu semua tentang hal itu. Matius ragu-ragu untuk menyumbang secara terbuka pada dana kerasulan karena takut bahwa Yesus dan rekan-rekannya mungkin menganggap uangnya sebagai uang haram; jadi ia memberi atas nama banyak orang-orang percaya lainnya. Selama bulan-bulan sebelumnya, ketika Matius tahu kehadirannya di antara mereka lebih atau kurangnya merupakan cobaan, ia sangat tergoda agar mereka tahu bahwa dana dari dirinya itulah yang sering menyediakan roti sehari-hari mereka, namun ia tidak menyerah. Ketika muncul gejala-gejala penghinaan terhadap pemungut cukai, Lewi sering panas hati untuk mengungkapkan tentang kemurahan hatinya itu, tetapi selalu ia berhasil untuk tetap diam.

Ketika dana untuk minggu itu kurang dari kebutuhan yang diperkirakan, Lewi sering mengambil banyak dari sumberdaya pribadinya sendiri. Juga, kadang-kadang ketika ia menjadi sangat tertarik pada ajaran Yesus, ia lebih suka untuk tetap tinggal dan mendengar pengajaran, meskipun dia tahu dia secara pribadi harus menebus kegagalannya untuk mendapat dana yang diperlukan. Tetapi Lewi berbuat seperti itu juga berharap agar Yesus tahu bahwa sebagian besar uang itu datang dari sakunya! Dia sedikit menyadari bahwa Guru tahu semua tentang hal itu. Para rasul semua meninggal tanpa mengetahui bahwa Matius adalah penyandang dana mereka sampai taraf demikian rupa sehingga, ketika ia pergi untuk memberitakan injil kerajaan setelah permulaan penganiayaan, ia praktis tidak punya uang.

Ketika penganiayaan-penganiayaan ini menyebabkan orang-orang beriman meninggalkan Yerusalem, Matius bertualang ke utara, memberitakan injil kerajaan dan membaptis orang-orang percaya. Ia hilang dari pengetahuan mantan rekan-rekan kerasulannya, tetapi ia pergi terus, berkhotbah dan membaptis, melalui Syria, Kapadokia, Galatia, Bitinia, dan Thrace. Di Thrace, di kota Lysimachia itulah, ada orang-orang Yahudi tertentu yang tidak percaya bersekongkol dengan tentara Romawi untuk mendatangkan ajalnya. Maka pemungut cukai yang dilahirkan lagi ini meninggal berkemenangan dalam iman keselamatan yang ia pelajari begitu pasti dari ajaran-ajaran Guru selama kunjungannya baru-baru ini di bumi.

8. Tomas Didimus

Tomas adalah rasul kedelapan, dan ia dipilih oleh Filipus. Pada masa-masa kemudian ia telah terkenal sebagai “Tomas yang meragukan,” tetapi sesama rasulnya tidak memandang dia sebagai peragu yang kronis. Benar, dirinya adalah pikiran dari jenis yang skeptis dan logis, tetapi ia memiliki bentuk kesetiaan yang berani sehingga orang-orang yang mengenalnya dengan akrab tidak menganggapnya sebagai skeptis yang remeh.

Ketika Tomas bergabung dengan para rasul, ia berusia dua puluh sembilan tahun, menikah, dan memiliki empat anak. Sebelumnya ia telah menjadi tukang kayu dan tukang batu, tetapi belakangan ia telah menjadi seorang nelayan dan tinggal di Tarichea, terletak di tepi barat sungai Yordan dimana sungai itu mengalir keluar dari Danau Galilea, dan ia dianggap sebagai warga terkemuka di desa kecil ini. Dia mendapat sedikit pendidikan, tetapi ia memiliki pikiran penalaran yang tajam dan ia adalah anak dari orang tua yang cemerlang, yang tinggal di Tiberias. Tomas memiliki pikiran yang benar-benar analitis dari dua belas; ia adalah ilmuwan sebenarnya dari kelompok kerasulan.

Kehidupan awal Tomas kurang beruntung; kedua orangtuanya tidak bahagia sama sekali dalam kehidupan pernikahan mereka, dan hal ini tercermin dalam pengalaman dewasanya Tomas. Ia dibesarkan memiliki kecenderungan sangat suka berselisih dan bertengkar. Bahkan istrinya senang melihat ia bergabung dengan para rasul; istrinya merasa lega oleh pikiran bahwa suaminya yang pesimis itu akan jauh dari rumah sebagian besar waktunya. Tomas juga memiliki ciri sifat kecurigaan yang membuatnya sangat sulit untuk bergaul rukun dengan dia. Petrus sangat terganggu oleh Tomas pada awalnya, mengeluh kepada saudaranya, Andreas, bahwa Tomas itu “kasar, jelek, dan selalu curiga.” Namun semakin rekan-rekannya kenal Tomas, semakin mereka menyukainya. Mereka menemukan bahwa ia luar biasa jujur dan setia sepenuhnya. Ia tulus sempurna dan tidak diragukan lagi jujur, tetapi ia adalah seorang penemu kesalahan yang alamiah sejak lahir dan dibesarkan untuk menjadi seorang pesimis yang sebenarnya. Pikiran analitisnya telah tercemar oleh kecurigaan. Kepercayaan pada rekan-rekan sesamanya sedang merosot cepat ketika ia bergabung dengan dua belas sehingga ia sampai pada kontak dengan karakter mulia Yesus. Hubungan dengan Guru ini mulai seketika mengubah watak seluruhnya Tomas dan menghasilkan perubahan besar dalam reaksi mentalnya kepada manusia sesamanya.

Kekuatan besar Tomas adalah pikiran analitisnya yang unggul ditambah dengan keberaniannya yang tegar menghadapi apapun —begitu ia sekali mengambil keputusan. Kelemahan besarnya adalah keraguannya yang mencurigai, yang tidak pernah ia sepenuhnya bisa atasi dalam seluruh hidupnya sebagai manusia.

Dalam organisasi dua belas Tomas ditugasi untuk mengatur dan mengelola rencana perjalanan, dan ia adalah seorang direktur yang pintar untuk pekerjaan dan pergerakan korps kerasulan. Dia adalah seorang eksekutif yang baik, seorang pengusaha yang ulung, tetapi ia dihambat oleh suasana hatinya yang banyak; satu hari ia menjadi satu orang dan hari berikutnya menjadi orang lain. Dia cenderung ke arah melamun sedih ketika ia bergabung dengan para rasul, tetapi kontak dengan Yesus dan para rasul sebagian besar menyembuhkannya dari introspeksi tidak sehat ini.

Yesus sangat suka Tomas dan melakukan banyak pembicaraan pribadi dan panjang lebar dengan dia. Kehadirannya di antara para rasul adalah penghiburan besar bagi semua peragu yang jujur dan mendorong banyak jiwa yang bermasalah untuk datang ke kerajaan, bahkan jika mereka tidak bisa sepenuhnya memahami segala sesuatu tentang tahap-tahap rohani dan filosofis dari ajaran-ajaran Yesus. Keanggotaan Tomas dalam dua belas itu adalah sebuah deklarasi permanen bahwa Yesus pun mengasihi para peragu yang jujur.

Para rasul lain menghormati Yesus karena beberapa sifat khusus dan istimewa dari kepribadiannya yang lengkap sempurna itu, tetapi Tomas memuja Gurunya karena karakternya yang luar biasa seimbang. Semakin lama semakin Tomas mengagumi dan menghormati dia yang begitu penuh rahmat pengasih namun begitu tetap adil dan benar tidak berubah-ubah; begitu teguh tetapi tidak pernah keras kepala; begitu tenang tetapi tidak pernah acuh tak acuh; begitu suka membantu dan begitu simpatik tetapi tidak pernah usil mencampuri urusan orang atau mendikte; begitu kuat tetapi pada saat yang sama begitu ramah; begitu positif tetapi tidak pernah kasar atau tidak sopan; begitu lembut tetapi tidak pernah bimbang; begitu murni dan polos tetapi pada saat yang sama begitu jantan, agresif, dan tegas; begitu benar-benar berani tetapi tidak pernah gegabah atau membabi buta; begitu cinta alam tetapi begitu bebas dari segala kecenderungan untuk memuja alam; begitu humoris dan suka bermain, tetapi begitu bebas dari main-main dan senda gurau keterlaluan. Simetri kepribadian yang tanpa tanding inilah yang begitu memesona Tomas. Dia mungkin menikmati pemahaman intelektual dan penghargaan kepribadian yang tertinggi terhadap Yesus dibanding setiap dari dua belas.

Dalam sidang-sidang dari dua belas Tomas selalu berhati-hati, menganjurkan kebijakan yang penting aman selamat, tetapi jika konservatismenya itu kalah suara atau dikesampingkan, ia selalu yang pertama bergerak tanpa rasa takut dalam pelaksanaan program yang telah diputuskan itu. Lagi dan lagi ia akan melawan suatu rencana tertentu dan menyebutnya sebagai hal yang bodoh dan gegabah; ia akan mendebatnya sampai akhir, namun ketika Andreas akan menempatkan rencana itu untuk pemungutan suara, dan setelah dua belas memilih untuk melakukan apa yang telah ia tentang dengan begitu keras itu, maka justru Tomas itulah orang pertama yang mengatakan, “Mari kita pergi!” Dia adalah seorang pecundang yang baik. Dia tidak menyimpan dendam atau memelihara perasaan terluka. Berkali-kali ia menentang membiarkan Yesus membuka dirinya terhadap bahaya, tetapi ketika Guru memutuskan hendak mengambil risiko tersebut, selalu Tomas itulah yang menggerakkan para rasul dengan kata-katanya yang berani, “Ayo, kawan-kawan, marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan dia.”

Tomas dalam beberapa hal tertentu sama seperti Filipus; ia juga ingin “ditunjuki,” tetapi ekspresi keraguannya yang tampak keluar itu didasarkan pada operasi intelektual yang sama sekali berbeda. Tomas itu analitis, bukan hanya skeptis. Sejauh berkenaan dengan keberanian fisik pribadi, ia adalah salah satu yang paling berani dari antara dua belas.

Tomas mengalami beberapa masa-masa yang sangat buruk; dia kadang galau dan murung. Kehilangan saudari kembarnya ketika ia berusia sembilan tahun telah menyebabkan banyak kesedihan masa mudanya dan telah menambah masalah temperamentalnya pada hidupnya kemudian. Ketika Tomas menjadi gundah gulana, kadang-kadang Natanael itu yang membantunya untuk pulih, kadang-kadang Petrus, dan tidak jarang salah satu dari kembar Alfeus. Ketika ia sangat tertekan, sayangnya ia selalu berusaha menghindari datang dalam kontak langsung dengan Yesus. Tetapi Guru tahu semua tentang ini dan memiliki simpati yang memahami bagi rasulnya ketika ia terserang depresi dan diganggu oleh keraguan seperti itu.

Terkadang Tomas akan mendapatkan izin dari Andreas untuk pergi sendirian selama satu atau dua hari. Tetapi kemudian Tomas menyadari bahwa cara tersebut tidak bijaksana; ia sejak awal menemukan bahwa yang terbaik adalah, ketika ia murung, untuk tetap berpegang erat pada pekerjaannya dan tetap dekat rekan-rekannya. Tetapi apapun yang terjadi dalam kehidupan emosionalnya, ia terus menjadi seorang rasul. Ketika saatnya benar-benar datang untuk bergerak maju, maka selalu Tomaslah yang mengatakan, “Ayo kita pergi!”

Tomas adalah contoh yang bagus tentang seorang manusia yang memiliki keraguan, yang menghadapinya, dan menang. Dia memiliki pikiran besar; ia bukan kritikus yang gemar mencela. Dia adalah seorang pemikir yang logis; dia adalah tes langsung terhadap Yesus dan sesama rasulnya. Jika saja Yesus dan pekerjaannya itu tidak benar, tidak akan bisa menahan seorang seperti Tomas dari awal sampai akhir. Dia memiliki rasa tajam dan pasti tentang fakta. Kalau saja pertama kali muncul dusta atau penipuan, Tomas akan meninggalkan mereka semua. Para ilmuwan mungkin tidak sepenuhnya memahami semua tentang Yesus dan pekerjaannya di bumi, tetapi di sana hidup dan bekerja dengan Guru dan rekan-rekan manusianya seseorang yang pikirannya adalah pikiran seorang ilmuwan sejati—Tomas Didimus—dan ia percaya pada Yesus dari Nazaret.

Tomas mengalami masa sulit selama hari-hari pengadilan dan penyaliban. Dia untuk semusim terbenam dalam jurang keputusasaan, namun ia menggalang keberaniannya, tetap bersama-sama dengan para rasul, dan hadir dengan mereka untuk menyambut Yesus di Danau Galilea. Untuk sementara ia jatuh pada depresi meragukan tetapi akhirnya ia menggalang iman dan semangatnya. Ia memberikan nasihat yang bijaksana kepada para rasul setelah Pentakosta dan, ketika penganiayaan mencerai-beraikan orang-orang percaya, ia pergi ke Siprus, Kreta, pantai Afrika Utara, dan Sisilia, memberitakan kabar gembira kerajaan dan membaptis orang-orang percaya. Tomas terus berkhotbah dan membaptis sampai ia ditangkap oleh agen-agen pemerintah Romawi dan dihukum mati di Malta. Hanya beberapa minggu sebelum kematiannya ia mulai menulis tentang kehidupan dan ajaran Yesus.

9 dan 10. Yakobus dan Yudas Alfeus

Yakobus dan Yudas anak-anak Alfeus, para nelayan kembar yang tinggal dekat Kheresa, adalah rasul kesembilan dan kesepuluh dan dipilih oleh Yakobus dan Yohanes anak Zebedeus. Mereka berumur dua puluh enam tahun dan menikah, Yakobus memiliki tiga anak, Yudas dua anak.

Tidak ada banyak yang bisa dikatakan tentang dua nelayan yang biasa-biasa ini. Mereka mengasihi Guru dan Yesus mengasihi mereka, tetapi mereka tidak pernah menyela pembicaraan dengan pertanyaan. Mereka hanya mengerti sangat sedikit tentang diskusi filosofis atau perdebatan teologis dari para rasul rekan mereka, tetapi mereka bersukacita menemukan diri mereka terhitung di antara kelompok orang-orang perkasa ini. Kedua orang ini hampir identik dalam penampilan pribadi, karakteristik mental, dan tingkat persepsi rohani. Apa yang dapat dikatakan tentang yang satu perlu dicatat mengenai yang lainnya.

Andreas menugasi mereka untuk pekerjaan menjaga ketertiban orang banyak. Mereka adalah kepala penerima tamu pada waktu-waktu khotbah tapi pada kenyataannya mereka adalah pelayan umum dan pesuruh untuk dua belas. Mereka membantu Filipus dengan perbekalan, mereka membawakan uang kepada keluarga-keluarga untuk membantu Natanael, dan mereka selalu siap untuk mengulurkan tangan pertolongan kepada setiap rasul.

Orang banyak yang berasal dari rakyat biasa merasa sangat berbesar hati menemukan dua orang seperti mereka yang dihormati dengan kedudukan di antara para rasul. Dengan penerimaan mereka sebagai rasul-rasul ini si kembar yang biasa-biasa ini menjadi sarana membawa sejumlah orang percaya yang penakut masuk ke dalam kerajaan. Dan, juga, orang-orang biasa lebih senang disuruh dan diatur oleh penerima tamu resmi yang sangat mirip seperti mereka sendiri.

Yakobus dan Yudas, yang juga disebut Tadeus dan Lebeus, tidak memiliki titik kuat atau titik lemah. Julukan yang diberikan kepada mereka oleh para murid adalah sebutan yang bersifat baik bagi orang yang sedang-sedang saja. Mereka adalah “yang paling hina dari semua rasul”; mereka tahu itu dan merasa senang tentang hal itu.

Yakobus Alfeus terutama menyukai Yesus karena kesederhanaan Guru. Si kembar ini tidak bisa memahami batin Yesus, tetapi mereka bisa menangkap ikatan simpatik antara diri mereka dan hati Guru mereka. Batin mereka bukan dari golongan yang tinggi; mereka mungkin bahkan dengan hormat bisa disebut bodoh, tetapi mereka memiliki pengalaman nyata dalam sifat-sifat rohani mereka. Mereka percaya pada Yesus; mereka adalah anak-anak Tuhan dan rekan sekerja dalam kerajaan.

Yudas Alfeus tertarik kepada Yesus karena kerendahan hati sang Guru yang tidak dibuat-buat. Kerendahan hati tersebut yang terkait dengan martabat pribadi seperti itu menjadi daya tarik yang besar bagi Yudas. Fakta bahwa Yesus akan selalu menyuruh agar tetap diam mengenai aksi-aksinya yang tidak biasa itu membuat kesan besar pada anak alam yang sederhana ini.

Si kembar itu bersifat baik hati, pembantu-pembantu yang berpikiran sederhana, dan semua orang mengasihi mereka. Yesus menyambut orang-orang muda dengan satu bakat ini untuk posisi kehormatan pada staf pribadinya dalam kerajaan itu karena ada jutaan tak terhitung jiwa-jiwa lain, mereka yang sederhana dan penuh rasa takut, di dunia-dunia angkasa yang ia juga ingin sambut ke dalam persekutuan yang aktif dan percaya dengan dirinya sendiri dan Roh Kebenaran yang ia curahkan. Yesus tidak memandang rendah terhadap yang kecil, melainkan terhadap kejahatan dan dosa. Yakobus dan Yudas itu kecil, tetapi mereka juga setia. Mereka sederhana dan bodoh, tapi mereka juga besar hati, baik hati, dan murah hati.

Dan bagaimana bersyukur dan bangganya orang-orang yang rendah ini pada hari itu ketika Guru menolak menerima orang kaya tertentu sebagai seorang penginjil kecuali ia mau menjual barang-barangnya dan membantu orang miskin. Ketika orang-orang mendengar ini dan melihat, si kembar di antara para konselornya, mereka tahu dengan pasti bahwa Yesus tidak membeda-bedakan orang. Namun hanya suatu lembaga ilahi—kerajaan surga—yang mungkin dapat dibangun di atas fondasi manusia yang sedang-sedang saja seperti itu!

Hanya sekali atau dua kali dalam semua hubungan mereka dengan Yesus si kembar ini berani untuk mengajukan pertanyaan di depan umum. Yudas suatu kali pernah tertarik untuk mengajukan kepada Yesus suatu pertanyaan ketika Guru telah berbicara tentang mengungkapkan dirinya secara terbuka kepada dunia. Dia merasa sedikit kecewa bahwa akan tidak ada lagi rahasia di antara dua belas, dan ia memberanikan diri untuk bertanya: “Tapi, Guru, kalau engkau menyatakan dirimu seperti itu kepada dunia, bagaimana nanti engkau akan menolong kami dengan bentuk-bentuk khusus dari kebaikanmu?”

Si kembar melayani dengan setia sampai akhir, sampai hari-hari kelam pengadilan, penyaliban, dan keputus-asaan. Mereka tidak pernah kehilangan kepercayaan hati mereka kepada Yesus, dan (kecuali Yohanes) mereka adalah yang pertama yang percaya pada kebangkitannya. Tetapi mereka tidak bisa memahami pendirian kerajaan. Segera setelah Guru mereka disalibkan, mereka kembali ke keluarga dan jaring mereka; pekerjaan mereka telah selesai. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk masuk dalam pertempuran yang lebih rumit bagi kerajaan. Namun mereka hidup dan mati sadar telah dihormati dan diberkati dengan empat tahun hubungan dekat dan pribadi dengan sesosok Anak Tuhan, pencipta berdaulat sebuah alam semesta.

11. Simon orang Zelot

Simon Zelot, rasul kesebelas, dipilih oleh Simon Petrus. Dia adalah seorang pria cakap dari keturunan yang baik dan tinggal bersama keluarganya di Kapernaum. Dia berusia dua puluh delapan tahun ketika ia bergabung dengan para rasul. Dia adalah seorang penghasut yang berapi-api dan juga seseorang yang berbicara banyak tanpa berpikir. Dia pernah menjadi pedagang di Kapernaum sebelum dia memalingkan seluruh perhatiannya kepada organisasi patriotik orang-orang Zelot (Zealot).

Simon Zelot diberi tugas untuk hiburan dan relaksasi kelompok kerasulan, dan dia adalah seorang organisator yang sangat efisien untuk aktivitas bermain dan rekreasi untuk dua belas.

Kekuatan Simon adalah kesetiaan inspirasionalnya. Kalau para rasul menemukan seorang pria atau wanita yang terjatuh dalam keragu-raguan mengenai memasuki kerajaan, mereka akan mengirimnya kepada Simon. Biasanya dibutuhkan hanya sekitar lima belas menit bagi si advokat keselamatan melalui iman kepada Tuhan yang antusias ini untuk menuntaskan semua keraguan dan menghapus semua kebimbangan, untuk memastikan ada sesosok jiwa yang baru dilahirkan ke dalam “kemerdekaan iman dan sukacita keselamatan.”

Kelemahan besar Simon adalah kecenderungan berpikiran jasmani. Dia tidak bisa cepat mengubah dirinya dari seorang nasionalis Yahudi menjadi internasionalis yang berpikiran rohani. Empat tahun waktu terlalu singkat untuk membuat transformasi intelektual dan emosional seperti itu, tetapi Yesus selalu sabar dengan dia.

Satu hal tentang Yesus yang Simon begitu kagumi adalah ketenangan Guru, kepastiannya, sikap seimbang, dan penguasaan dirinya yang tak bisa dijelaskan.

Meskipun Simon adalah seorang revolusioner yang fanatik, seorang penghasut kerusuhan yang tidak kenal takut, ia secara bertahap menundukkan sifatnya yang berapi-api itu sampai ia menjadi seorang pengkhotbah yang kuat dan efektif tentang “Damai di bumi dan sejahtera di antara manusia.” Simon adalah seorang pendebat besar; ia memang suka berbantah-bantah. Kalau berurusan dengan pikiran legalistik orang-orang Yahudi terpelajar atau kebawelan intelektual orang Yunani, tugas selalu diberikan pada Simon.

Secara alamiah dia itu pemberontak dan dari pelatihan dia seorang ikonoklas (pemberontak terhadap tatanan lama), tetapi Yesus memenangkan dia untuk konsep kerajaan surga yang lebih tinggi. Dia selalu mengidentifikasi dirinya dengan partai protes, tetapi dia sekarang bergabung dengan partai progres, kemajuan yang tak terbatas dan kekal dari roh dan kebenaran. Simon adalah seorang dengan kesetiaan yang tinggi dan pengabdian pribadi yang hangat, dan ia amat mengasihi Yesus.

Yesus tidak takut untuk menyamakan dirinya dengan pebisnis, pekerja, optimis, pesimis, filsuf, skeptis, pejabat pemerintah, politisi, dan patriot.

Guru melakukan banyak pembicaraan dengan Simon, namun dia tidak pernah sepenuhnya berhasil dalam membuat orang Yahudi yang bergairah ini dari nasionalis menjadi internasionalis. Yesus sering mengatakan kepada Simon jika ingin melihat tatanan sosial, ekonomi, dan politik diperbaiki, itu baik, tetapi dia akan selalu menambahkan: “Hal itu bukan urusan kerajaan surga. Kita harus mengabdikan diri untuk pelaksanaan kehendak Bapa. Urusan kita adalah untuk menjadi duta dari pemerintah rohani di tempat yang tinggi, dan kita tidak boleh serta-merta menyibukkan diri dengan apapun kecuali pernyataan dari kehendak dan karakter Bapa ilahi yang merupakan kepala pemerintahan yang amanah-Nya kita sandang.” Semua itu sulit bagi Simon untuk memahaminya, namun secara bertahap ia mulai memahami sesuatu tentang makna ajaran Guru.

Setelah penyebaran karena penganiayaan di Yerusalem, Simon untuk sementara pensiun. Dia benar-benar hancur. Sebagai seorang patriot nasionalis ia telah menyerah demi rasa hormat pada ajarannya Yesus; tetapi sekarang semuanya hilang. Dia putus asa, tetapi dalam beberapa tahun ia membangkitkan harapannya dan berangkat untuk memberitakan injil kerajaan.

Dia pergi ke Aleksandria dan, setelah bekerja naik sepanjang Sungai Nil, ia menembus ke dalam jantung Afrika, ke mana-mana memberitakan injil Yesus dan membaptiskan orang-orang percaya. Demikianlah ia bekerja sampai ia menjadi tua dan lemah. Maka ia meninggal dan dimakamkan di jantung Afrika.

12. Yudas Iskariot

Yudas Iskariot, rasul kedua belas, dipilih oleh Natanael. Ia lahir di Keriot, sebuah kota kecil di Yudea selatan. Ketika ia masih seorang anak muda, orangtuanya pindah ke Yerikho, dimana ia tinggal dan telah bekerja dalam berbagai perusahaan bisnis ayahnya sampai ia menjadi tertarik pada khotbah dan pekerjaan Yohanes Pembaptis. Orangtuanya Yudas adalah orang-orang Saduki, dan ketika anak mereka bergabung dengan murid-murid Yohanes, mereka tidak mengakui dia lagi.

Ketika Natanael bertemu Yudas di Tarichea, di sedang mencari pekerjaan pada usaha pengeringan ikan di ujung lebih rendah Danau Galilea. Dia berusia tiga puluh tahun dan tidak menikah ketika dia bergabung dengan para rasul. Dia mungkin pria yang paling berpendidikan di antara dua belas dan satu-satunya orang Yudea dalam keluarga kerasulan Guru. Yudas tidak memiliki sifat kekuatan pribadi yang menonjol, meskipun ia memiliki banyak sifat-sifat budaya dan kebiasaan pelatihan yang tampak secara lahiriah. Dia adalah seorang pemikir yang baik tetapi tidak selalu pemikir yang benar-benar jujur. Yudas tidak benar-benar memahami dirinya sendiri; dia tidak benar-benar tulus dalam berurusan dengan dirinya sendiri.

Andreas menunjuk Yudas sebagai bendahara dua belas, suatu posisi yang jelas sesuai untuk ia pegang, dan sampai saat pengkhianatan terhadap Guru ia menjalankan tanggung jawab jabatannya dengan jujur, setia, dan paling efisien.

Tidak ada sifat khusus tentang Yesus yang dikagumi Yudas melebihi kepribadian Guru yang secara umumnya menarik dan indah menawan itu. Yudas tidak pernah mampu bangkit di atas prasangka Yudeanya terhadap rekan-rekan Galileanya; ia bahkan mengkritisi dalam pikirannya banyak hal tentang Yesus. Kepada dia yang dipandang sebelas dari para rasul sebagai manusia yang sempurna, sebagai yang “putih bersih dan merah cerah, menyolok mata di antara selaksa orang,” orang Yudea yang puas diri ini malah sering berani mengkritiknya dalam hatinya sendiri. Dia benar-benar meyakini gagasan bahwa Yesus itu pemalu dan agak takut untuk menegaskan kuasa dan kewenangannya sendiri.

Yudas adalah seorang pebisnis yang baik. Diperlukan kebijaksanaan, kemampuan, dan kesabaran, serta pengabdian sungguh-sungguh, untuk mengelola urusan-urusan keuangan dari seorang yang idealis seperti Yesus, apalagi untuk bergulat dengan metode bisnis yang kacau balau dari beberapa rasulnya. Yudas benar-benar seorang eksekutif yang besar, seorang ahli keuangan yang berpandangan jauh ke depan dan cakap. Dan dia adalah seorang yang taat aturan organisasi. Tak satupun dari dua belas pernah mengkritik Yudas. Sejauh yang mereka bisa lihat, Yudas Iskariot adalah bendahara tanpa tanding, seorang terpelajar, seorang rasul yang setia (meskipun kadang-kadang kritis), dan dalam setiap makna kata adalah seorang yang sukses besar. Para rasul mengasihi Yudas; dia benar-benar salah satu dari mereka. Dia tentulah telah percaya kepada Yesus, tetapi kami ragu apakah dia benar-benar mengasihi Guru dengan sepenuh hati. Kasus Yudas menggambarkan kebenaran perkataan: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya adalah maut.” Sungguh mungkin untuk menjadi korban penipuan tenang dari penyesuaian menyenangkan ke jalan dosa dan kematian. Yakinlah bahwa Yudas secara keuangan selalu setia kepada Guru dan sesama rasulnya. Uang tidak akan pernah menjadi motif pengkhianatannya terhadap Guru.

Yudas adalah anak tunggal dari orang tua yang tidak bijaksana. Ketika masih sangat muda, dia dimanjakan dan disayang-sayang; dia adalah anak manja. Sementara dia tumbuh dewasa, dia punya ide berlebihan tentang pentingnya dirinya. Dia adalah seorang pecundang yang payah. Dia memiliki ide-ide yang longgar dan menyimpang tentang keadilan; dia biasa menggemari kebencian dan kecurigaan. Dia adalah seorang ahli dalam hal salah menafsirkan kata-kata dan tindakan teman-temannya. Sepanjang hidupnya Yudas telah memupuk kebiasaan membalas dendam pada orang-orang yang dia anggap telah memperlakukan tidak baik dirinya. Perasaan nilai-nilai dan loyalitasnya cacat.

Bagi Yesus, Yudas adalah suatu petualangan iman. Dari permulaan, Guru sepenuhnya memahami kelemahan rasul ini dan juga tahu bahaya menerima dia dalam persekutuan. Tetapi sifat dasar para Putra Tuhan itu adalah untuk memberikan setiap makhluk ciptaan suatu kesempatan penuh dan setara bagi keselamatan dan kelangsungan hidupnya. Yesus tidak hanya ingin manusia di dunia ini, tetapi juga para penonton dari dunia-dunia lain yang tak terhitung jumlahnya, untuk mengetahui bahwa, kalau terjadi keraguan mengenai ketulusan dan kesepenuh-hatian pengabdian sesosok makhluk pada kerajaan, maka selalu menjadi kebiasaan para Hakim manusia itu untuk sepenuhnya menerima calon yang diragukan itu. Pintu kehidupan kekal itu terbuka lebar untuk semuanya; “barangsiapa yang mau boleh datang”; tidak ada pembatasan atau persyaratan apapun kecuali iman dari orang yang datang itu.

Hal inilah alasan mengapa Yesus mengizinkan Yudas untuk melanjutkan hingga akhirnya, selalu melakukan segala yang mungkin untuk mengubah dan menyelamatkan rasul yang lemah dan bingung ini. Namun ketika terang itu secara tidak jujur diterima dan dihidupi, terang itu cenderung menjadi kegelapan di dalam jiwa. Yudas tumbuh secara intelektual mengenai ajarannya Yesus tentang kerajaan, tetapi dia tidak membuat kemajuan dalam perolehan karakter rohani seperti halnya rasul-rasul yang lain. Dia gagal membuat kemajuan pribadi yang memuaskan dalam pengalaman rohani.

Yudas menjadi semakin sering merenungi kekecewaan pribadi, dan akhirnya ia menjadi korban dari kebencian. Perasaannya telah banyak kali terluka, dan dia tumbuh menjadi curiga secara tidak normal terhadap teman-teman terbaiknya, bahkan terhadap Guru. Segera dia menjadi terobsesi dengan ide membalas dendam, apapun untuk membalas sakit hatinya, ya, bahkan melakukan pengkhianatan pada rekan-rekannya dan Gurunya.

Namun demikian ide-ide yang jahat dan berbahaya ini belum mengambil bentuk yang jelas sampai hari ketika seorang wanita yang bersyukur memecahkan sebuah kotak dupa wangi mahal di kaki Yesus. Hal ini tampaknya pemborosan bagi Yudas, dan ketika protesnya di depan umum ditolak habis oleh Yesus langsung di sana dalam pendengaran semua orang, baginya itu sudah keterlaluan. Peristiwa itu menentukan bangkitnya semua timbunan kebencian, sakit hati, kedengkian, prasangka, cemburu, dan dendam seumur hidupnya, dan ia memutuskan untuk membalas dendam yang dia tidak tahu kepada siapa; tetapi ia mengkristalisir segala yang jahat dari sifatnya itu terhadap satu orang yang tidak bersalah dalam semua drama kotor dari hidupnya yang malang itu hanya karena Yesus kebetulan menjadi pelaku utama dalam episode yang menandai kepindahannya dari kerajaan terang yang maju ke dalam wilayah kegelapan yang dipilihnya sendiri.

Guru berkali-kali, baik secara pribadi maupun secara publik, telah memperingatkan Yudas bahwa ia sedang tergelincir, tetapi peringatan ilahi biasanya tidak berguna jika berurusan dengan kodrat manusia yang sudah pahit hati. Yesus melakukan segala sesuatu yang mungkin, konsisten dengan kebebasan moralnya manusia, untuk mencegah Yudas agar tidak memilih pergi ke jalan yang salah. Ujian besar itu akhirnya datang. Anak kebencian itu gagal; ia menyerah kepada perintah kecut dan kotor dari batin yang angkuh dan penuh dendam, batin yang merasa penting berlebihan dan dengan cepat terjatuh masuk ke dalam kebingungan, keputusasaan, dan kebejatan.

Yudas kemudian masuk ke dalam intrik yang kotor dan memalukan itu untuk mengkhianati Tuhan dan Gurunya dan dengan segera melaksanakan rencana kejinya. Selama berlangsungnya rancangan-rancangan pengkhianatan yang dikandung kemarahannya itu, ia mengalami saat-saat rasa sesal dan malu, dan dalam selang-selang waktu ia sadar ini ia samar-samar membayangkan, sebagai pembelaan dalam pikirannya sendiri, gagasan bahwa Yesus mungkin bisa mengerahkan kuasanya dan melepaskan dirinya pada saat terakhir.

Ketika urusan kotor dan berdosa itu selesai, manusia pemberontak ini, yang menganggap enteng menjual temannya demi tiga puluh keping perak demi memuaskan kerinduan lamanya untuk membalas dendam itu, lari keluar dan melakukan tindakan terakhir dalam drama melarikan diri dari kenyataan-kenyataan kehidupan fana—bunuh diri.

Sebelas rasul menjadi ngeri, tertegun. Yesus memandang si pengkhianat itu hanya dengan rasa kasihan. Dunia-dunia telah menemukan bahwa mereka sulit mengampuni Yudas, dan namanya telah dijauhi di seluruh alam semesta yang amat luas.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved