Makalah 160: Rodan dari Aleksandria

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 160

Rodan dari Aleksandria

PADA HARI Minggu pagi, 18 September, Andreas mengumumkan bahwa tidak ada pekerjaan yang akan direncanakan untuk minggu mendatang. Semua rasul, kecuali Natanael dan Tomas, pulang ke rumah untuk mengunjungi keluarga mereka atau untuk tinggal bersama teman-teman. Minggu ini Yesus menikmati masa istirahat hampir sepenuhnya, namun Natanael dan Tomas sangat sibuk berdiskusi dengan seorang filsuf Yunani tertentu dari Aleksandria bernama Rodan. Orang Yunani ini baru saja menjadi seorang murid Yesus melalui ajaran dari salah seorang rekan Abner yang telah melakukan misi ke Aleksandria. Rodan sekarang sungguh-sungguh terlibat dalam tugas menyelaraskan filosofi hidupnya dengan ajaran agama barunya Yesus, dan dia datang ke Magadan berharap agar Guru akan membicarakan masalah-masalah ini dengan dia. Dia juga ingin untuk mendapatkan versi injil yang langsung tangan pertama dan otoritatif dari Yesus atau dari salah satu dari para rasulnya. Meskipun Guru menolak untuk masuk ke dalam pembicaraan seperti itu dengan Rodan, dia menerimanya dengan ramah dan segera menyuruh agar Natanael dan Tomas mendengarkan semua yang akan dia katakan dan memberitahukan kepadanya tentang injil sebagai balasannya.

1. Filsafat Yunaninya Rodan

Senin pagi-pagi, Rodan memulai rangkaian sepuluh pidato kepada Natanael, Tomas, dan sekelompok sekitar dua lusin orang percaya yang kebetulan berada di Magadan. Pembicaraan ini, diringkas, digabungkan, dan disajikan kembali dalam ungkapan modern, menyampaikan pemikiran-pemikiran berikut untuk pertimbangan:

Kehidupan manusia terdiri dari tiga penggerak besar—dorongan, keinginan, dan pemikat. Karakter yang kuat, kepribadian berwibawa, hanya diperoleh dengan mengubah dorongan kehidupan alami menjadi seni sosial untuk hidup, dengan mengubah keinginan-keinginan yang ada ini menjadi kerinduan-kerinduan yang lebih tinggi yang mampu untuk pencapaian yang abadi, sementara pemikat kehidupan sehari-hari harus dipindahkan dari gagasan-gagasan orang itu yang biasa dan mapan ke wilayah-wilayah yang lebih tinggi dalam hal ide-ide yang belum dijelajahi dan ideal-ideal yang belum ditemukan.

Semakin peradaban lebih kompleks, semakin sulit jadinya seni (daya upaya) untuk hidup. Semakin cepat perubahan dalam kebiasaan sosial, akan lebih rumit jadinya tugas untuk pengembangan karakter. Setiap sepuluh generasi umat manusia harus belajar baru kembali seni untuk hidup jika kemajuan hendak dilanjutkan. Dan jika manusia menjadi begitu cerdik sehingga ia dengan lebih cepat lagi menambah kompleksitas masyarakat, seni untuk hidup itu perlu dikuasai lagi dalam waktu lebih sedikit, mungkin setiap satu generasi. Jika evolusi seni untuk hidup itu gagal untuk mengikuti laju dari teknik keberadaan, umat manusia akan dengan cepat kembali ke dorongan yang sederhana untuk hidup—pencapaian kepuasan untuk keinginan-keinginan sekarang ini. Dengan demikian umat manusia akan tetap tidak matang; masyarakat akan gagal bertumbuh hingga kematangan penuh.

Kematangan sosial itu setara dengan tingkat sejauh mana manusia itu bersedia untuk menyerahkan pemuasan keinginan yang hanya sementara dan saat ini demi untuk memberikan perhatian pada kerinduan-kerinduan yang unggul itu, perjuangan yang pencapaiannya memberikan kepuasan lebih berlimpah untuk kemajuan progresif ke arah sasaran-sasaran yang permanen. Namun lencana sejati dari kematangan sosial itu adalah kesediaan suatu bangsa untuk menyerahkan hak untuk hidup dengan damai dan dengan puas di bawah standar-standar mencari-gampang dari daya pikat keyakinan-keyakinan yang mapan dan ide-ide yang biasa, demi untuk daya pikat mengejar peluang-peluang yang belum dijelajahi, yang menggelisahkan dan membutuhkan energi itu, untuk mengejar tujuan-tujuan untuk realitas-realitas rohani yang idealis, yang belum ditemukan.

Hewan merespon dengan mulia pada dorongan (nafsu) kehidupan, tetapi hanya manusia yang dapat mencapai seni daya upaya untuk hidup, meskipun mayoritas umat manusia hanya mengalami dorongan nafsu hewani untuk hidup. Hewan hanya tahu dorongan nafsu yang buta dan naluriah ini; manusia mampu melampaui dorongan nafsu untuk fungsi alami ini. Manusia dapat memilih untuk hidup pada tataran tinggi seni yang cerdas, bahkan sampai pada kegembiraan surgawi dan sukacita rohani. Hewan-hewan tidak membuat pertanyaan tentang tujuan-tujuan hidup; oleh karena itu, mereka tidak pernah khawatir, tidak pula mereka melakukan bunuh diri. Bunuh diri di antara manusia membuktikan bahwa makhluk tersebut telah bangkit dari tingkatan murni keberadaan hewani, dan pada fakta lebih lanjut bahwa upaya-upaya eksplorasi dari insan manusia tersebut telah gagal untuk mencapai tingkatan pengalaman fana yang artistik. Hewan tidak mengetahui makna kehidupan; manusia tidak hanya memiliki kapasitas untuk pengenalan nilai-nilai dan pemahaman makna-makna, tapi ia juga sadar akan makna dari makna—manusia itu sadar diri akan pengetahuan yang mendalam.

Ketika orang-orang berani meninggalkan kehidupan nafsu yang alamiah demi untuk salah satu seni petualangan dan logika yang tidak pasti, mereka harus siap untuk menderita risiko dari korban-korban emosional—konflik, ketidakbahagiaan, dan ketidakpastian—setidaknya sampai saat pencapaian mereka akan suatu tingkat kematangan intelektual dan emosional. Keputusasaan, kekuatiran, dan kemalasan adalah bukti positif dari ketidakmatangan moral. Masyarakat manusia dihadapkan dengan dua masalah: pencapaian kematangan individu dan pencapaian kematangan bangsa. Manusia yang dewasa segera mulai memandang semua manusia lainnya dengan perasaan kelembutan dan dengan emosi toleransi. Manusia yang dewasa melihat sesama yang belum dewasa dengan cinta dan pengertian seperti orang tua pada anak-anak mereka.

Hidup sukses itu tidak lebih atau kurang dari seni penguasaan teknik-teknik yang bisa diandalkan untuk memecahkan masalah-masalah yang biasa. Langkah pertama dalam pemecahan setiap masalah adalah menemukan kesulitan itu, untuk mengisolasi masalah, dan dengan terus terang mengenali sifat dan bobot masalah itu. Kesalahan besar adalah bahwa, ketika masalah kehidupan membangkitkan rasa-rasa takut kita yang mendalam, maka kita menolak untuk mengakuinya. Demikian juga, ketika pengenalan terhadap kesulitan-kesulitan itu mengharuskan kita mengurangi keangkuhan yang lama kita simpan, mengakui iri hati, atau meninggalkan prasangka-prasangka yang sudah berakar-mendalam, rata-rata orang lebih memilih untuk berpegang pada khayalan-khayalan keselamatan yang lama dan pada perasaan aman palsu yang lama dipelihara. Hanya orang berani yang bersedia dengan jujur mengakui, dan tanpa takut menghadapi, apa yang pikiran yang tulus dan logis temukan.

Solusi yang bijaksana dan efektif terhadap setiap masalah menuntut agar batin itu harus bebas dari bias, nafsu, dan semua prasangka murni pribadi lainnya yang mungkin merintangi pemeriksaan tidak memihak terhadap faktor-faktor sebenarnya yang membentuk masalah itu sehingga bisa diselesaikan. Solusi masalah-masalah kehidupan membutuhkan keberanian dan ketulusan. Hanya orang-orang yang jujur dan berani dapat mengikuti dengan tabah melalui labirin hidup yang membingungkan dan memusingkan, ke arah mana logika pikiran yang tanpa takut itu mungkin menuju. Dan pembebasan pikiran dan jiwa ini tidak dapat dihasilkan tanpa daya dorong dari suatu antusiasme cerdas yang berbatasan dengan fanatisme keagamaan. Dibutuhkan pemikat dari suatu cita-cita besar untuk mendorong manusia dalam mengejar tujuan yang penuh dengan masalah-masalah material yang sulit dan berbagai bahaya intelektual.

Meskipun kamu secara efektif diperlengkapi untuk menghadapi situasi-situasi sulit dalam kehidupan, kamu sulit berharap bisa berhasil kecuali kamu dilengkapi dengan kebijaksanaan pikiran dan pesona kepribadian itu yang memungkinkan kamu untuk memenangi dukungan dan kerjasama sepenuh hati dari rekan-rekanmu. Kamu tidak bisa berharap untuk keberhasilan ukuran besar dalam pekerjaan sekuler ataupun keagamaan kecuali kamu dapat belajar bagaimana meyakinkan rekan-rekanmu, untuk mempengaruhi orang-orang. Kamu hanya harus memiliki budi bahasa dan toleransi.

Namun yang terbesar dari semua metode pemecahan masalah telah kupelajari dari Yesus, Gurumu. Aku mengacu pada kebiasaan apa yang dia praktekkan begitu konsisten, dan yang dia telah begitu setia ajarkan pada kamu, yaitu sendirian untuk meditasi menyembah. Dalam kebiasaan Yesus untuk begitu sering pergi sendirian untuk bersekutu (berkomunikasi) dengan Bapa di surga ini akan dapat ditemukan cara, tidak hanya mengumpulkan kekuatan dan kebijaksanaan untuk konflik hidup yang biasa, tetapi juga memperoleh energi untuk solusi masalah yang lebih tinggi yang bersifat moral dan rohani. Tetapi metode-metode yang betul untuk memecahkan masalah itu juga tidak akan menutup cacat-cacat kepribadian yang melekat atau menebus ketiadaan rasa lapar dan haus akan kebajikan yang sejati.

Aku sangat terkesan oleh kebiasaan Yesus untuk pergi terpisah sendiri untuk masuk dalam masa penyelidikan sendirian terhadap masalah-masalah hidup ini; untuk mencari kumpulan-kumpulan baru kebijaksanaan dan energi untuk menghadapi berbagai tuntutan pelayanan sosial; untuk meningkatkan dan memperdalam tujuan tertinggi hidup dengan benar-benar menundukkan kepribadian total itu kepada kesadaran melakukan kontak dengan keilahian; menangkap untuk dimiliki metode-metode baru dan lebih baik untuk menyesuaikan diri seseorang dengan situasi-situasi keberadaan hidup yang selalu berubah; untuk menghasilkan rekonstruksi dan penyesuaian ulang yang vital dari sikap pribadi seseorang, yang begitu penting untuk meningkatkan wawasan ke dalam segala sesuatu yang bernilai dan nyata; dan untuk melakukan semua ini dengan tujuan tunggal untuk kemuliaan Tuhan—untuk melantunkan dalam ketulusan doa favorit Gurumu, “Bukan kehendakku, tapi kehendak-Mu, jadilah.”

Praktek penuh penyembahan dari Gurumu ini membawa relaksasi itu yang memperbaharui pikiran; pencerahan itu yang mengilhami jiwa; keberanian itu yang memungkinkan seseorang dengan tabah menghadapi masalah orang itu; pemahaman diri itu yang melenyapkan rasa takut yang melumpuhkan; dan kesadaran persatuan dengan keilahian ini yang melengkapi manusia dengan kepastian yang memungkinkan dia untuk berani menjadi seperti Tuhan. Relaksasi penyembahan, atau persekutuan rohani seperti yang dipraktekkan oleh Guru itu, mengurangi ketegangan, menghilangkan konflik, dan dengan hebat menambah sumberdaya-sumberdaya total kepribadian itu. Dan semua filosofi ini, ditambah kabar baik tentang kerajaan, merupakan agama baru itu seperti yang aku pahami.

Prasangka membutakan jiwa terhadap pengenalan kebenaran, dan prasangka dapat dibuang hanya melalui pengabdian yang tulus dari jiwa untuk pemujaan sebuah tujuan yang mencakup semua dan meliputi semua sesama orang itu. Prasangka itu tak bisa dipisahkan terkait dengan mementingkan diri sendiri. Prasangka bisa dihilangkan hanya dengan meninggalkan pencarian keuntungan sendiri dan dengan menggantikan prasangka itu dengan pencarian akan kepuasan pelayanan terhadap suatu tujuan yang tidak hanya lebih besar dari diri sendiri, tapi yang bahkan lebih besar daripada seluruh umat manusia—pencarian untuk Tuhan, pencapaian keilahian. Bukti akan kedewasaan kepribadian itu terdiri dalam transformasi keinginan manusia sehingga terus-menerus berusaha untuk mewujudkan nilai-nilai yang tertinggi dan paling nyata secara ilahi.

Dalam dunia yang terus berubah, di tengah-tengah suatu tatanan sosial yang berkembang, adalah mustahil untuk mempertahankan tujuan akhir yang tetap dan mapan. Stabilitas kepribadian dapat dialami hanya oleh mereka yang telah menemukan dan menerima Tuhan yang hidup sebagai tujuan pencapaian tak terbatas yang kekal. Dan dengan memindahkan sasaran seseorang dari waktu kepada kekekalan, dari bumi ke Firdaus, dari yang manusiawi kepada yang ilahi, mengharuskan bahwa manusia akan menjadi diregenerasi, diubahkan, dilahirkan kembali; bahwa ia akan menjadi anak roh ilahi yang yang diciptakan kembali; bahwa ia akan menemukan jalan masuk ke dalam persaudaraan kerajaan surga. Semua filsafat dan agama yang masih kurang dari ideal ini adalah belum dewasa. Filosofi yang kuajarkan, terkait dengan injil yang kalian khotbahkan, merupakan agama kedewasaan yang baru, ideal untuk semua generasi mendatang. Dan hal ini benar karena ideal kita itu final, tidak bisa salah, kekal, universal, mutlak, dan tanpa batas.

Filosofiku memberi aku dorongan untuk mencari realitas-realitas pencapaian sejati, sasaran kedewasaan. Tapi doronganku itu tanpa daya; pencarianku kekurangan daya penggerak; pencarianku menderita karena tidak adanya kepastian pengarahan. Dan kekurangan-kekurangan ini telah dengan berlimpah disediakan oleh injil baru dari Yesus ini, dengan perluasan wawasan, peningkatan ideal-ideal, dan kemapanan sasaran-sasarannya. Tanpa rasa bimbang ragu dan was-was sekarang aku bisa dengan sepenuh hati masuk ke petualangan kekal.

2. Seni Menjalani Hidup

Hanya ada dua cara dalam mana manusia mungkin hidup bersama: cara jasmani atau hewani, dan cara rohani atau manusiawi. Melalui penggunaan sinyal dan suara hewan-hewan dapat berkomunikasi satu sama lain dalam cara yang terbatas. Tapi bentuk-bentuk komunikasi tersebut tidak memuat makna, nilai, atau ide-ide. Satu perbedaan antara manusia dan hewan adalah bahwa manusia dapat berkomunikasi dengan sesamanya melalui sarana simbol-simbol yang paling pasti menyebut dan mengenali makna-makna, nilai-nilai, ide-ide, dan bahkan ideal-ideal.

Karena hewan tidak dapat mengkomunikasikan ide satu sama lain, mereka tidak dapat mengembangkan kepribadian. Manusia mengembangkan kepribadian karena ia dapat berkomunikasi dengan sesamanya seperti itu mengenai ide-ide maupun ideal-ideal.

Kemampuan untuk berkomunikasi dan berbagi makna inilah yang merupakan kebudayaan manusia dan memungkinkan manusia, melalui ikatan-ikatan sosial, untuk membangun peradaban. Pengetahuan dan kebijaksanaan menjadi kumulatif karena kemampuan manusia untuk mengkomunikasikan apa dimiliki ini ke generasi-generasi berikutnya. Dan dengan demikian timbullah kegiatan-kegiatan budaya bangsa: seni, ilmu pengetahuan, agama, dan filsafat.

Komunikasi simbolis antar manusia itu menentukan lahirnya kelompok-kelompok sosial. Yang paling efektif dari semua kelompok sosial adalah keluarga, lebih khususnya kedua orang tua. Kasih sayang pribadi adalah ikatan rohani yang memegang bersama ikatan-ikatan jasmani ini. Hubungan yang efektif tersebut juga mungkin antara dua orang dari jenis kelamin yang sama, seperti yang begitu banyak dicontohkan dalam kesetiaan persahabatan yang sejati.

Hubungan-hubungan persahabatan dan perhatian timbal balik ini mensosialiasikan (menjadikan milik umum) dan memuliakan karena hal-hal itu mendorong dan membantu kemajuan faktor-faktor pokok berikut dari tingkat-tingkat seni hidup yang lebih tinggi:

1. Ekspresi diri dan pemahaman diri timbal balik. Banyak dorongan manusiawi yang mulia mati karena tidak ada yang mendengar ekspresi mereka. Sesungguhnya, tidak baik bagi manusia untuk sendirian. Beberapa taraf pengakuan dan sejumlah penghargaan tertentu sangat penting untuk perkembangan karakter manusia. Tanpa kasih yang sejati dari sebuah rumah, tidak ada anak yang dapat mencapai perkembangan penuh untuk karakter normal. Karakter adalah sesuatu yang lebih dari sekedar pikiran dan moral. Dari semua hubungan sosial yang diperhitungkan untuk mengembangkan karakter, yang paling ideal dan efektif adalah persahabatan kasih sayang dan pemahaman pria dan wanita dalam pelukan bersama ikatan nikah yang cerdas. Pernikahan, dengan aneka hubungannya itu, adalah terbaik dirancang untuk menarik keluar dorongan-dorongan berharga tertentu dan motif-motif yang lebih tinggi itu yang diperlukan untuk pengembangan karakter yang kuat. Aku tidak segan untuk memuliakan kehidupan keluarga seperti itu, karena Gurumu telah dengan bijaksana memilih hubungan ayah-anak sebagai batu penjuru dari kabar baik baru tentang kerajaan ini. Dan komunitas hubungan yang tiada tara tersebut, pria dan wanita dalam pelukan mesra dari ideal-ideal tertingginya waktu itu, adalah pengalaman yang begitu berharga dan memuaskan sehingga layak berapapun harganya, berapapun pengorbanan, yang diperlukan untuk memilikinya.

2. Persatuan jiwa-jiwa—mobilisasi kebijaksanaan. Setiap manusia cepat atau lambat memperoleh suatu konsep tertentu tentang dunia ini dan visi tertentu tentang dunia berikutnya. Adapun itu mungkin, melalui hubungan kepribadian, untuk menyatukan pandangan-pandangan eksistensi temporal dan prospek kekal ini. Demikianlah pikiran seseorang menambah nilai-nilai rohaninya dengan mendapatkan banyak dari wawasan orang lain. Dengan cara ini manusia memperkaya jiwa dengan mengumpulkan bersama harta rohani masing-masing. Demikian juga, dengan cara yang sama ini, manusia dimampukan untuk menghindari kecenderungan (yang terus ada itu) agar tidak terjatuh menjadi korban dari penyimpangan visi, prasangka sudut pandang, dan kesempitan penilaian. Ketakutan, iri hati, dan kesombongan dapat dicegah hanya melalui kontak intim dengan pikiran-pikiran lain. Aku meminta perhatianmu terhadap kenyataan bahwa Guru tidak pernah mengutus kamu keluar sendirian bekerja untuk perluasan kerajaan; ia selalu mengirim kamu berdua-dua. Dan karena hikmat itu di atas pengetahuan, maka bahwa, di dalam persatuan kebijaksanaan, kelompok sosial, kecil atau besar, saling berbagi semua pengetahuan bersama-sama.

3. Antusiasme untuk menjalani hidup. Keterasingan cenderung menguras muatan energi dari jiwa. Hubungan dengan rekan-rekan itu penting untuk pembaharuan semangat untuk hidup dan sangat diperlukan untuk pemeliharaan keberanian untuk bertarung dalam pertempuran-pertempuan yang mengikuti kenaikan kehidupan manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Persahabatan meningkatkan kegembiraan dan memuliakan kemenangan-kemenangan hidup. Ikatan manusia yang penuh kasih dan akrab cenderung mencabut penderitaan dari kesedihannya dan kesusahan dari banyak kepahitannya. Kehadiran seorang teman memperluas semua keindahan dan meninggikan setiap kebaikan. Dengan simbol-simbol cerdas manusia dapat meninggikan dan memperbesar kapasitas menghargai dari teman-temannya. Salah satu kemuliaan puncak persahabatan manusia adalah kekuatan dan kemungkinan stimulasi timbal-balik dari imajinasi ini. Kuasa rohani besar itu melekat dalam kesadaran pengabdian sepenuh hati pada suatu tujuan bersama, kesetiaan bersama pada sesosok Tuhan alam semesta.

4. Pertahanan yang ditingkatkan melawan semua kejahatan. Hubungan kepribadian dan kasih sayang bersama adalah jaminan yang efisien melawan kejahatan. Kesulitan, kesedihan, kekecewaan, dan kekalahan itu lebih menyakitkan dan menyedihkan bila ditanggung sendiri. Ikatan hubungan tidak mengubah kejahatan menjadi kebenaran, tetapi sangat membantu dalam mengurangi sengatannya. Kata Gurumu, “Berbahagialah mereka yang berdukacita”—jika ada seorang teman yang dekat untuk menghibur. Ada kekuatan positif dalam pengetahuan bahwa kamu hidup untuk kesejahteraan orang lain, dan orang lain demikian pula juga hidup untuk kesejahteraan dan kemajuanmu. Manusia merana dalam keterasingan. Manusia selalu saja menjadi patah semangat ketika mereka melihat hanya urusan-urusan waktu yang sementara. Masa kini, ketika diceraikan dari masa lalu dan masa depan, menjadi biasa-biasa saja menjengkelkan. Hanya sekilas dari lingkaran kekekalan yang dapat mengilhami orang untuk melakukan yang terbaik dan dapat menantang yang terbaik dalam dirinya untuk berbuat yang terbaik. Dan ketika manusia itu pada kondisi terbaiknya, ia hidup paling tanpa pamrih untuk kebaikan orang lain, para sesama pengunjung dalam waktu dan kekekalan.

Aku ulangi, ikatan hubungan yang mengilhami dan memuliakan seperti itu menemukan kemungkinan-kemungkinan idealnya dalam hubungan pernikahan manusia. Benar, banyak yang dicapai di luar perkawinan, dan banyak, banyak pernikahan yang sama sekali gagal menghasilkan buah-buah moral dan rohani ini. Terlalu banyak kali pernikahan dimasuki oleh mereka yang mencari nilai-nilai lain yang lebih rendah dari pengiring-pengiring kedewasaan manusia yang unggul ini. Pernikahan yang ideal harus didasarkan pada sesuatu yang lebih stabil dari naik-turunnya perasaan dan kerentanan daya tarik seks semata; pernikahan itu harus didasarkan pada pengabdian pribadi yang sejati dan timbal balik. Dan dengan demikian, jika kamu dapat membangun unit-unit kecil hubungan manusia yang dapat dipercaya dan efektif tersebut, ketika semua ini dirakit menjadi agregat, dunia akan melihat struktur sosial yang besar dan dimuliakan, peradaban kematangan manusia. Bangsa semacam itu mungkin mulai mewujudkan sesuatu mengenai cita-citanya Guru tentang “damai di bumi dan sejahtera di antara manusia.” Meskipun masyarakat seperti itu tidak akan sempurna atau sepenuhnya bebas dari kejahatan, setidaknya hal itu akan mendekati stabilisasi kedewasaan.

3. Pemikat Kedewasaan

Upaya menuju kedewasaan membutuhkan kerja, dan bekerja membutuhkan energi. Dari mana kekuatan untuk mencapai semua ini? Hal-hal yang fisik dapat diterima begitu saja, tetapi Guru mengatakan dengan baik, “Manusia tidak dapat hidup dari roti saja.” Dikaruniai kepemilikan tubuh normal dan kesehatan yang cukup baik, kita harus selanjutnya mencari pemikat itu yang akan bertindak sebagai perangsang untuk membangkitkan kekuatan rohani manusia yang sedang tidur. Yesus telah mengajari kita bahwa Tuhan hidup dalam manusia; lalu bagaimana kita bisa membujuk manusia untuk melepaskan kuasa-kuasa keilahian dan ketanpabatasan yang terbelenggu oleh jiwa ini? Bagaimana kita akan membujuk orang untuk membebaskan Tuhan sehingga Ia dapat bangkit untuk memberi makan jiwa kita sementara dalam perjalanan ke arah luar dan kemudian agar bekerja untuk tujuan mencerahkan, mengangkat, dan memberkati jiwa-jiwa lain yang tak terhitung jumlahnya itu? Bagaimana yang terbaik aku dapat membangkitkan kekuatan-kekuatan untuk kebaikan terpendam yang tertidur dalam jiwa-jiwamu? Satu hal yang aku yakin: kegembiraan emosional bukanlah stimulus rohani yang ideal. Kegembiraan tidak menambah energi; sebaliknya menghabiskan kekuatan pikiran maupun tubuh. Lalu dari mana muncul energi untuk melakukan hal-hal besar ini? Lihatlah Gurumu. Bahkan sekarang dia ke sana di bukit-bukit sedang mengambil masuk kekuatan itu sementara kita di sini sedang mengeluarkan energi. Rahasia semua masalah ini terbungkus dalam persekutuan rohani, dalam penyembahan. Dari sudut pandang manusia hal itu adalah persoalan tentang meditasi dan relaksasi digabungkan. Meditasi membuat kontak batin dengan roh; relaksasi menentukan kapasitas untuk penerimaan rohani. Dan pertukaran kekuatan untuk mengganti kelemahan ini, keberanian untuk ketakutan, kehendak Tuhan untuk pikiran diri sendiri, adalah yang merupakan penyembahan itu. Setidaknya, itu adalah cara filsuf memandang hal itu.

Ketika pengalaman-pengalaman ini sering diulang, hal itu mengkristal menjadi kebiasaan, kebiasaan-kebiasaan pemberian-kekuatan dan menyembah, dan kebiasaan-kebiasaan tersebut pada akhirnya membentuk sendiri menjadi suatu karakter rohani, dan karakter seperti itu akhirnya diakui oleh rekan-rekan seseorang sebagai kepribadian yang dewasa. Praktek-praktek ini sulit dan makan waktu pada awalnya, tetapi ketika menjadi kebiasaan, hal-hal itu sekaligus menenangkan dan menghemat waktu. Semakin masyarakat menjadi lebih kompleks, dan semakin banyak pemikat peradaban bertambah, lebih mendesak lagi kebutuhan bagi individu yang kenal Tuhan untuk membentuk praktek-praktek kebiasaan pelindung seperti itu yang dirancang untuk melestarikan dan meningkatkan energi-energi rohani mereka.

Persyaratan lain untuk pencapaian kedewasaan adalah penyesuaian kooperatif dari kelompok sosial terhadap lingkungan yang terus berubah. Individu yang belum dewasa membangkitkan permusuhan sesamanya; orang yang dewasa mendapatkan kerjasama hangat dari rekan-rekannya, sehingga berkali-kali melipat-gandakan hasil-hasil dari upaya hidupnya.

Filosofiku memberitahu aku bahwa ada saat-saat ketika aku harus bertarung, jika perlu, untuk pembelaan konsepku tentang perbuatan benar, tetapi aku tidak ragu bahwa Guru, dengan jenis kepribadian yang lebih dewasa, akan dengan mudah dan anggun memperoleh kemenangan yang sama melalui teknik budi bahasa dan toleransinya yang unggul dan menawan. Terlalu sering, ketika kita berjuang untuk hak, ternyata baik yang menang maupun yang takluk telah menderita kekalahan. Aku mendengar Guru mengatakan baru kemarin bahwa “orang yang bijak, ketika mencari jalan masuk melalui pintu terkunci, tidak akan menghancurkan pintu itu melainkan akan mencari kunci untuk membukanya.” Terlalu sering kita terlibat dalam pertarungan hanya untuk meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita tidak takut.

Kabar baik baru tentang kerajaan ini menyediakan layanan besar pada seni hidup karena kabar baik itu memasok insentif yang baru dan lebih kaya untuk hidup yang lebih tinggi. Injil itu menyajikan tujuan takdir yang baru dan mulia, suatu maksud kehidupan yang tertinggi. Dan konsep-konsep baru tentang tujuan keberadaan yang kekal dan ilahi ini dalam hal-hal itu sendiri adalah rangsangan yang transenden, membangkitkan reaksi yang terbaik dari yang tinggal dalam kodrat lebih tingginya manusia. Pada setiap puncak gunung pemikiran intelektual akan dapat ditemukan relaksasi bagi batin, kekuatan bagi jiwa, dan komuni untuk roh. Dari titik-titik pandang hidup tinggi tersebut, manusia mampu melampaui gangguan jasmani dari tingkat pemikiran yang lebih rendah—kuatir, cemburu, iri hati, dendam, dan keangkuhan dari kepribadian yang belum dewasa. Jiwa yang mendaki tinggi ini melepaskan diri mereka dari banyak konflik persilangan arus dari urusan-urusan hidup yang sepele, sehingga menjadi bebas untuk mencapai kesadaran akan arus-arus konsep roh dan komunikasi selestial yang lebih tinggi. Tapi tujuan hidup itu harus dijaga ketat dari godaan untuk mencari pencapaian mudah dan sementara; demikian pula tujuan itu harus begitu dipupuk supaya menjadi kebal terhadap ancaman fanatisme yang berbahaya.

4. Keseimbangan Kedewasaan

Meskipun kamu memiliki tujuan tunggal menuju pencapaian kenyataan-kenyataan kekal, kamu juga harus membuat persediaan untuk kebutuhan-kebutuhan hidup duniawi. Meskipun roh itu adalah sasaran kita, daging itu adalah fakta. Kadang-kadang kebutuhan hidup bisa jatuh ke tangan kita secara tidak sengaja, tetapi secara umum, kita harus secara pintar bekerja untuk mendapatkannya. Dua masalah utama dalam kehidupan adalah: mencari nafkah duniawi dan pencapaian keselamatan yang kekal. Dan bahkan masalah mencari nafkah itupun membutuhkan agama untuk solusi idealnya. Keduanya ini merupakan masalah-masalah yang sangat pribadi. Agama yang benar, pada kenyataannya, tidak berfungsi terpisah dari perorangan.

Intisari kehidupan duniawi, seperti aku memandangnya, adalah:

1. Kesehatan badani yang baik.

2. Pemikiran yang jelas dan bersih.

3. Kemampuan dan keterampilan.

4. Kekayaan—barang-barang kehidupan.

5. Kemampuan untuk menahan kekalahan.

6. Budaya—pendidikan dan kebijaksanaan.

Bahkan masalah-masalah fisik kesehatan dan efisiensi tubuh itu terbaik diselesaikan bila hal-hal itu dilihat dari sudut pandang agama ajaran Guru kita: Bahwa tubuh dan batin manusia itu adalah tempat kediaman dari pemberian Tuhan, roh Tuhan menjadi roh manusia. Batin manusia dengan demikian menjadi perantara antara benda-benda materi dan kenyataan-kenyataan rohani.

Dibutuhkan kecerdasan untuk mendapatkan bagian seseorang terhadap hal-hal yang diinginkan dalam hidup. Sepenuhnya keliru untuk menganggap bahwa kesetiaan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari seseorang akan menjamin imbalan kekayaan. Terkecuali perolehan kekayaan yang sesekali dan kebetulan, imbalan materi dari kehidupan duniawi itu ditemukan mengalir dalam saluran-saluran tertentu yang tertata dengan baik, dan hanya mereka yang memiliki akses ke saluran-saluran ini mungkin berharap bisa memperoleh imbalan yang baik untuk usaha duniawi mereka. Kemiskinan tentulah selalu menjadi nasib semua orang yang mencari kekayaan dalam saluran-saluran yang terpisah sendiri dan perorangan. Perencanaan yang bijaksana, oleh karena itu, menjadi satu hal yang pokok untuk kemakmuran duniawi. Sukses tidak hanya menuntut pengabdian kepada pekerjaan seseorang, tetapi juga orang itu harus berfungsi sebagai bagian dari salah satu saluran kekayaan materi. Jika kamu tidak bijaksana, kamu bisa memberikan hidup yang penuh pengabdian kepada generasimu tanpa imbalan materi; jika kamu adalah seorang penerima yang kebetulan terhadap aliran kekayaan itu, kamu dapat bergelimang dalam kemewahan meskipun kamu tidak berbuat apapun yang bernilai untuk manusia sesamamu.

Kemampuan adalah apa yang kamu warisi, sedangkan keterampilan adalah apa yang kamu peroleh. Hidup ini tidak nyata bagi orang yang tidak bisa melakukan suatu hal dengan baik, secara ahli. Keterampilan itu adalah salah satu sumber-sumber nyata untuk kepuasan hidup. Kemampuan menyiratkan bakat untuk tinjauan masa depan, visi jauh ke depan. Jangan tertipu oleh imbalan menggoda dari prestasi yang tidak jujur; bersedialah untuk bekerja keras untuk hasil belakangan yang melekat dalam kerja keras yang jujur. Orang bijak mampu membedakan antara cara dan tujuan; jika tidak, kadang-kadang terlalu banyak perencanaan untuk masa depan mengalahkan tujuan tingginya itu sendiri. Sebagai pencari kesenangan kamu harus berusaha selalu menjadi produsen serta sebagai konsumen.

Latihlah ingatanmu untuk menyimpan dalam kepercayaan suci episode-episode kehidupan yang memberi kekuatan dan berharga, yang dapat kamu ingat kapan saja untuk kesenangan dan kemajuanmu. Jadi bangunlah untuk diri sendiri dan dalam dirimu galeri-galeri cadangan untuk keindahan, kebaikan, dan keagungan artistik. Tapi yang paling mulia dari semua memori adalah kenangan-kenangan berharga tentang momen-momen besar persahabatan yang luhur. Dan semua harta ingatan tersebut memancarkan pengaruh-pengaruh mereka yang paling berharga dan agung di bawah sentuhan membebaskan dari penyembahan rohani.

Tapi hidup akan menjadi beban keberadaan kecuali kamu belajar bagaimana gagal dengan ikhlas. Ada suatu seni dalam kekalahan yang selalu diperoleh jiwa-jiwa yang mulia; kamu harus tahu bagaimana untuk kalah dengan riang; kamu harus tidak takut untuk kecewa. Jangan enggan untuk mengakui kegagalan. Jangan berusaha untuk menyembunyikan kegagalan di bawah senyum yang menipu dan optimisme yang berbinar-binar. Bunyinya baik selalu meraih keberhasilan, tetapi hasil akhirnya mengenaskan. Cara seperti itu mengarah langsung pada penciptaan suatu dunia yang tidak nyata dan keruntuhan kekecewaan akhir yang tak bisa dielakkan.

Sukses bisa menghasilkan keberanian dan meningkatkan keyakinan, tetapi kebijaksanaan datang hanya dari pengalaman-pengalaman penyesuaian terhadap hasil-hasil kegagalannya seseorang. Orang yang menyukai ilusi-ilusi optimis pada kenyataan tidak akan pernah menjadi bijaksana. Hanya mereka yang menghadapi fakta dan menyesuaikannya pada cita-cita itulah yang dapat mencapai kebijaksanaan. Kebijaksanaan mencakup fakta maupun ideal dan karena itu menyelamatkan para penganutnya dari kedua ekstrem tandus filsafat—yaitu orang yang idealismenya mengecualikan fakta, dan materialis yang kosong wawasan rohani. Jiwa-jiwa penakut yang hanya bisa mengikuti perjuangan hidup dengan bantuan ilusi-ilusi palsu keberhasilan terus menerus itu ditakdirkan untuk menderita kegagalan dan mengalami kekalahan sementara mereka pada akhirnya terbangun dari dunia mimpi khayalan-khayalan mereka sendiri.

Dan dalam urusan menghadapi kegagalan dan menyesuaikan pada kekalahan inilah bahwa visi agama yang jauh ke depan itu menerapkan pengaruh tertingginya. Kegagalan hanyalah suatu episode pendidikan—suatu eksperimen budaya dalam perolehan kebijaksanaan—dalam pengalaman manusia yang mencari Tuhan yang telah memulai petualangan abadi untuk penyelidikan sebuah alam semesta. Bagi orang-orang seperti ini kekalahan hanyalah suatu sarana baru untuk pencapaian tingkat-tingkat kenyataan alam semesta yang lebih tinggi.

Perjalanan hidup seorang manusia yang mencari Tuhan mungkin terbukti menjadi sukses besar dilihat dari terang kekekalan, bahkan meskipun usaha hidup duniawi seluruhnya itu mungkin kelihatan sebagai kegagalan yang besar, asalkan setiap kegagalan hidup menghasilkan budaya kebijaksanaan dan pencapaian roh. Jangan membuat kesalahan dengan menyalah-artikan pengetahuan, kebudayaan, dan kebijaksanaan. Hal-hal itu terkait dalam hidup, tapi mewakili nilai-nilai roh yang sangat berbeda; kebijaksanaan selalu mendominasi pengetahuan dan selalu memuliakan kebudayaan.

5. Agama yang Ideal

Kamu telah memberitahukan kepadaku bahwa Gurumu menganggap agama manusia yang sejati sebagai pengalaman individu itu dengan kenyataan-kenyataan rohani. Aku telah menganggap agama sebagai pengalaman manusia yang bereaksi pada sesuatu yang ia anggap sebagai layak untuk penghormatan dan pemujaan dari seluruh umat manusia. Dalam pengertian ini, agama melambangkan pengabdian tertinggi kita kepada apa yang merupakan konsep tertinggi kita tentang ideal-ideal realitas dan jangkauan terjauh dari pikiran kita ke arah kemungkinan-kemungkinan kekal untuk pencapaian rohani.

Ketika manusia bereaksi pada agama dalam pengertian kesukuan, kenegaraan, atau kebangsaan, itu karena mereka memandang mereka yang tanpa kelompok mereka itu bukan sebagai benar-benar manusia. Kita selalu memandang objek loyalitas keagamaan kita sebagai layak dipuja semua manusia. Agama tidak pernah bisa menjadi perihal keyakinan intelektual atau penalaran filosofis belaka; agama selalu dan selamanya suatu mode bereaksi pada situasi-situasi kehidupan; agama itu adalah suatu jenis perilaku. Agama mencakup memikirkan, merasakan, dan bertindak dengan hormat ke arah suatu realitas yang kita anggap layak untuk pemujaan seluruh manusia.

Jika sesuatu telah menjadi agama dalam pengalamanmu, adalah jelas dengan sendirinya bahwa kamu sudah menjadi pengabar aktif dari agama itu karena kamu anggap konsep tertinggi agamamu itu sebagai layak untuk disembah seluruh umat manusia, semua kecerdasan alam semesta. Jika kamu bukan seorang pengabar positif dan misioner untuk agamamu, kamu tertipu sendiri oleh karena apa yang kamu sebut agama itu hanya kepercayaan tradisional atau sistem filsafat intelektual belaka. Jika agamamu adalah suatu pengalaman rohani, objek penyembahanmu haruslah kenyataan roh yang universal dan ideal dari semua konsepmu yang dirohanikan. Semua agama yang didasarkan pada ketakutan, emosi, tradisi, dan filosofi aku istilahkan sebagai agama intelektual, sedangkan yang didasarkan pada pengalaman roh sejati aku akan sebut sebagai agama yang benar. Objek dari bakti keagamaan mungkin bersifat jasmani atau rohani, benar atau palsu, nyata atau tidak nyata, manusiawi atau ilahi. Agama dengan demikian dapat menjadi baik ataupun jahat.

Moralitas dan agama tidak harus sama. Sebuah sistem moral (tata susila), dengan memegang suatu objek penyembahan, bisa menjadi sebuah agama. Sebuah agama, jika kehilangan daya tarik universalnya untuk kesetiaan dan pengabdian tertinggi, dapat berkembang menjadi sebuah sistem filsafat atau kode moral. Benda, makhluk, negara, atau golongan keberadaan ini, atau kemungkinan pencapaian yang membentuk ideal tertinggi loyalitas keagamaan, dan yang merupakan penerima bakti keagamaan dari mereka yang menyembah itu, adalah Tuhan. Terlepas dari nama yang dipakai untuk idealnya kenyataan roh ini, itulah Tuhan.

Karakteristik sosial dari suatu agama yang benar terdiri dalam fakta bahwa agama itu selalu berusaha untuk mengubah individu dan untuk mentransformasi dunia. Agama menyiratkan adanya ideal-ideal yang belum ditemukan yang jauh melampaui standar etika dan moralitas yang dikenal bahkan yang terkandung dalam kebiasaan-kebiasaan sosial tertinggi dari lembaga-lembaga peradaban yang paling matang. Agama menjangkau ideal-ideal yang belum ditemukan, kenyataan-kenyataan yang belum dijelajahi, nilai-nilai yang di atas manusia, kebijaksanaan ilahi, dan pencapaian roh yang sebenarnya. Agama yang benar melakukan semua ini; semua keyakinan lain tidak layak menyandang nama itu. Kamu tidak dapat memiliki agama rohani sejati tanpa ideal-ideal tertinggi dan luhur tentang Tuhan yang kekal. Sebuah agama tanpa Tuhan ini adalah sebuah penemuan manusia, lembaga manusia dari keyakinan-keyakinan intelektual tak bernyawa dan upacara-upacara emosional tak berarti. Sebuah agama mungkin mengklaim sebagai objek pemujaannya suatu ideal yang agung. Tapi ideal-ideal yang bukan kenyataan tersebut tidak dapat dicapai; konsep tersebut bersifat ilusi. Satu-satunya ideal yang mungkin untuk pencapaian manusia adalah realitas-realitas ilahi dari nilai-nilai tak terbatas yang tinggal dalam fakta rohani tentang Tuhan yang kekal.

Kata Tuhan, idetentang Tuhan yang dibedakan dengan ideal tentang Tuhan, dapat menjadi suatu bagian dari agama apapun, tidak peduli seberapa naif atau salahnya agama itu mungkin. Dan ide tentang Tuhan ini bisa menjadi apa saja, sesuai yang dipilih untuk dibuat oleh mereka yang memikirkannya itu. Agama-agama yang lebih rendah membentuk ide-ide mereka tentang Tuhan sesuai dengan keadaan alami hati manusia; agama-agama yang lebih tinggi menuntut agar hati manusia yang harus diubah untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dari ideal-ideal agama yang benar.

Agama Yesus melampaui semua konsep kita sebelumnya tentang ide penyembahan dalam hal bahwa ia tidak hanya menggambarkan Bapanya sebagai ideal untuk kenyataan yang tanpa batas tetapi secara positif menyatakan bahwa sumber nilai-nilai ilahi dan pusat abadi alam semesta ini benar-benar dan secara pribadi bisa dicapai oleh setiap makhluk fana yang memilih untuk masuk ke dalam kerajaan surga di bumi, dengan demikian mengakui penerimaan sebagai anak Tuhan dan persaudaraan dengan manusia. Hal itu, aku sampaikan, adalah konsep tertinggi agama yang dunia pernah kenal, dan aku mengumumkan bahwa tidak akan pernah dapat menjadi lebih tinggi karena injil ini mencakup ketanpabatasan kenyataan-kenyataan, keilahian nilai-nilai, dan kekekalan pencapaian-pencapaian semesta. Konsep seperti itu merupakan pencapaian pengalaman tentang idealisme mengenai yang mahatinggi dan yang mahaakhir.

Aku tidak hanya tertarik oleh ideal-ideal yang sempurna dari agama Gurumu ini, tapi aku tergerak hebat untuk mengakui keyakinanku pada pengumumannya bahwa ideal-ideal kenyataan roh ini dapat dicapai; bahwa kamu dan aku bisa masuk pada petualangan panjang dan abadi ini dengan jaminannya tentang kepastian kedatangan kita terakhirnya di gerbang Firdaus. Saudara-saudara, aku seorang percaya, aku telah berangkat; aku dalam perjalanan dengan kalian dalam perjalanan kekal ini. Guru mengatakan dia datang dari Bapa, dan bahwa dia akan menunjukkan kepada kita jalannya. Aku sepenuhnya yakin dia mengatakan kebenaran. Aku akhirnya diyakinkan bahwa tidak ada ideal kenyataan atau nilai-nilai kesempurnaan yang dapat dicapai selain dari Bapa yang kekal dan Semesta itu.

Aku datang, sebab itu, untuk menyembah, bukan hanya Tuhan semua keberadaan, tetapi Tuhan untuk kemungkinan semua keberadaan masa depan. Oleh karena itu haruslah ibadahmu pada suatu ideal tertinggi, jika ideal itu nyata, menjadi ibadah kepada Tuhan masa lalu, masa kini, dan masa depan alam semesta benda dan makhluk ini. Dan tidak ada Tuhan lain, karena tidak mungkin akan ada Tuhan lain. Semua dewa lainnya adalah isapan jempol dari imajinasi, ilusi dari pikiran fana, distorsi dari logika palsu, dan berhala-berhala yang menipu diri dari orang-orang yang menciptakan mereka. Ya, kamu dapat memiliki sebuah agama tanpa Tuhan ini, tapi itu tidak berarti apa-apa. Dan jika kamu berusaha untuk menggantikan kata Tuhan dengan kenyataan tentang ideal mengenai Tuhan yang hidup ini, kamu hanya menyesatkan dirimu sendiri dengan menempatkan suatu ide menggantikan suatu ideal, suatu kenyataan ilahi. Kepercayaan tersebut hanyalah agama angan-angan.

Aku melihat dalam ajaran Yesus, agama yang terbaiknya. Injil ini memungkinkan kita untuk mencari Tuhan yang benar dan untuk menemukan-Nya. Tapi apakah kita bersedia membayar harga masuk ke dalam kerajaan surga ini? Apakah kita bersedia untuk dilahirkan kembali? Untuk dibentuk ulang? Apakah kita bersedia untuk tunduk pada proses penghancuran diri dan pembentukan ulang jiwa yang sulit dan menguji ini? Bukankah Guru berkata: “Siapa yang akan menyelamatkan hidupnya harus kehilangannya. Jangan pikirkan bahwa aku datang untuk membawa damai melainkan perjuangan jiwa”? Benar, setelah kita membayar harga pengabdian pada kehendak Bapa, kita memang mengalami kedamaian yang besar asalkan kita terus berjalan di jalan rohani hidup yang dikuduskan ini.

Sekarang kita benar-benar meninggalkan pemikat-pemikat dari golongan keberadaan yang diketahui sementara kita tanpa syarat mengabdikan pencarian kita kepada pemikat-pemikat dari golongan keberadaan yang tidak diketahui dan belum dijelajahi, ke suatu kehidupan masa depan petualangan dalam dunia-dunia roh dari idealisme kenyataan ilahi yang lebih tinggi. Dan kita mencari simbol-simbol makna itu yang kita pakai untuk menyampaikan kepada sesama kita konsep-konsep tentang kenyataan idealisme agama Yesus ini, dan kita tidak akan berhenti berdoa untuk hari itu ketika semua manusia akan digetarkan oleh visi bersama tentang kebenaran tertinggi ini. Sekarang ini, konsep kita yang dipusatkan tentang Bapa, seperti yang disimpan dalam hati kita, adalah bahwa Tuhan adalah roh; seperti yang disampaikan kepada rekan-rekan kita, bahwa Tuhan itu kasih.

Agama Yesus menuntut pengalaman yang hidup dan rohani. Agama-agama lain mungkin terdiri dari kepercayaan-kepercayaan tradisional, perasaan-perasaan emosional, kesadaran filosofis, dan semuanya itu, namun ajaran Guru mengharuskan pencapaian tingkat-tingkat aktual untuk kemajuan roh yang nyata.

Kesadaran akan dorongan untuk menjadi seperti Tuhan itu bukanlah agama yang benar. Perasaan-perasaan dari emosi untuk menyembah Tuhan itu bukan agama yang benar. Pengetahuan tentang keyakinan untuk meninggalkan kepentingan diri dan melayani Tuhan itu bukanlah agama yang benar. Kebijaksanaan dari akal bahwa agama ini adalah yang terbaik dari semuanya adalah bukan agama sebagai pengalaman pribadi dan rohani. Agama yang benar itu mengacu pada tujuan akhir dan realitas pencapaian serta pada realitas dan idealisme dari apa yang diterima-iman dengan sepenuh hati. Dan semua ini harus dibuat pribadi kepada kita melalui pewahyuan dari Roh Kebenaran.

Dan demikianlah berakhir disertasi dari sang filsuf Yunani, salah seorang yang terbesar dari bangsanya, yang telah menjadi orang percaya pada injil Yesus.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved