Makalah 94: Ajaran-ajaran Melkisedek di Dunia Timur

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 94

Ajaran-ajaran Melkisedek di Dunia Timur

PARA GURU mula-mula agama Salem itu menembus hingga ke suku-suku Afrika dan Eurasia yang paling jauh, senantiasa memberitakan kabar baiknya Machiventa tentang iman dan percaya manusia pada satu Tuhan semesta sebagai satu-satunya harga untuk memperoleh perkenanan ilahi. Perjanjian Melkisedek dengan Abraham adalah pola untuk semua propaganda awal yang keluar dari Salem dan pusat-pusat yang lain. Urantia belum pernah memiliki misionaris agama manapun yang lebih bersemangat dan agresif daripada para laki-laki dan perempuan mulia ini yang membawa ajaran-ajaran Melkisedek ke seluruh Belahan Dunia Timur. Para misionaris ini direkrut dari banyak bangsa dan ras, dan mereka sebagian besar menyebarkan ajaran-ajaran mereka melalui perantaraan para mualaf dari penduduk asli. Mereka mendirikan pusat-pusat pelatihan di bagian-bagian yang berbeda di dunia dimana mereka mengajari penduduk asli agama Salem dan kemudian mengutus murid-murid ini untuk berfungsi sebagai guru-guru di kalangan rakyat mereka sendiri.

1. Ajaran-ajaran Salem di India Weda

Pada masa-masa Melkisedek, India adalah negara kosmopolitan (internasional) yang telah baru-baru saja tiba di bawah kekuasaan politik dan keagamaan dari para penyerbu Aryan-Andit dari utara dan barat. Pada waktu ini hanya bagian utara dan barat dari semenanjung yang telah secara luas ditembus oleh orang-orang Arya. Para pendatang Weda ini telah membawa serta banyak dewata suku mereka. Bentuk-bentuk ibadah keagamaan mereka sangat mengikuti praktek-praktek upacara dari nenek-moyang Andit mereka yang lebih awal dalam hal ayah masih berfungsi sebagai seorang imam atau pendeta dan ibu adalah seorang imam wanita, dan tungku-api keluarga masih digunakan sebagai sebuah mezbah.

Kultus Weda kemudian berada dalam proses pertumbuhan dan perubahan bentuk di bawah pimpinan kasta pendeta-guru Brahmana, yang berangsur-angsur memegang kendali atas ritual ibadah yang meluas, penggabungan dewata Aryan yang dulunya pernah berjumlah tiga puluh tiga sedang berlangsung ketika para misionaris Salem menembus bagian utara India.

Politeisme bangsa Arya ini merupakan suatu kemerosotan dari monoteisme mereka yang lebih awal, disebabkan oleh pemisahan mereka menjadi unit-unit kesukuan, tiap suku memiliki dewa pujaan masing-masing. Penurunan perkembangan monoteisme dan trinitarianisme yang awal dari bangsa Andit Mesopotamia ini sedang dalam proses sintesis ulang dalam abad-abad awal milenium kedua sebelum Kristus. Dewa-dewi yang banyak itu diorganisir menjadi sebuah kahyangan di bawah kepemimpinan rangkap tiga Dyaus pitar, tuhan surga; Indra, tuhan atmosfer yang bergelora; dan Agni, dewa api berkepala tiga, tuhan atas bumi dan simbol sisa peninggalan dari suatu konsep Trinitas yang lebih awal.

Perkembangan-perkembangan henoteistik (percaya satu tuhan tapi juga percaya ada tuhan-tuhan lain) membuka jalan untuk berkembangnya monoteisme. Agni, deitas yang paling kuno, sering ditinggikan sebagai bapa-kepala atas seluruh kahyangan. Prinsip bapa-deitas itu, kadang-kadang disebut Prajapati, kadang-kadang disebut Brahma, menjadi terbenam dalam pertempuran teologis yang belakangan dipertarungkan para imam Brahman melawan para guru Salem. Brahman adalah dianggap sebagai prinsip keilahian-energi yang menghidupkan seluruh kahyangan dewata Weda.

Para misionaris Salem mengkhotbahkan satu Tuhannya Melkisedek, Yang Paling Tinggi di surga. Penggambaran ini tidak sepenuhnya bertentangan dengan bangkitnya konsep Brahma-Bapa sebagai sumber semua dewata, tetapi doktrin Salem adalah bukan tatacara dan sebab itu berlawanan langsung dengan dogma, tradisi, dan ajaran-ajaran dari kependetaan Brahmana. Tidak pernah imam-imam Brahmana mau menerima ajaran Salem tentang keselamatan melalui iman, perkenanan Tuhan terpisah dari tatacara-tatacara ritualistik dan upacara-upacara pengorbanan.

Penolakan terhadap injil Melkisedek tentang percaya pada Tuhan dan keselamatan melalui iman itu menandai suatu titik balik vital untuk India. Para misionaris Salem telah menyumbang banyak pada hilangnya kepercayaan pada semua dewa-dewa Weda kuno, tetapi para pemimpin, para imam atau pendeta agama Weda, menolak untuk menerima ajaran Melkisedek tentang satu Tuhan dan satu iman yang sederhana.

Para Brahmana itu memilih dari antara tulisan-tulisan suci dari masa mereka sebagai suatu usaha untuk memerangi guru-guru Salem, dan kumpulan ini, seperti yang belakangan direvisi, telah sampai di jaman modern sebagai Rig-Weda, satu dari kitab suci yang paling kuno. Weda yang kedua, ketiga, dan keempat menyusul selagi para Brahmana berusaha untuk mengkristalisir, memformalisir, dan menetapkan ritual-ritual ibadah dan korban mereka terhadap orang-orang pada masa itu. Diambil yang terbaiknya, tulisan-tulisan ini setara dengan semua kumpulan lain dari jenis yang sama, dalam hal keindahan konsep dan kebenaran pengetahuan. Tetapi ketika agama unggul ini menjadi tercemar oleh beribu-ribu takhyul, pemujaan, dan tatacara dari India selatan, agama itu secara progresif berubah wujud menjadi sistem ajaran agama yang paling beraneka-ragam yang pernah dikembangkan oleh manusia. Suatu penelitian tentang Weda akan mengungkapkan beberapa konsep yang tertinggi dan beberapa yang paling rendah tentang konsep-konsep Ketuhanan yang pernah dipercaya.

2. Brahmanisme

Ketika misionaris-misionaris Salem menembus ke arah selatan ke Dekkan Dravida, mereka menjumpai makin meningkatnya sistem kasta, rancangan orang-orang Arya untuk mencegah kehilangan identitas kebangsaan mereka menghadapi arus pasang orang-orang Sangik sekunder. Karena kasta pendeta Brahmana adalah benar-benar intisari dari sistem ini, tatanan sosial ini sangat menghambat kemajuan guru-guru Salem. Sistem kasta ini gagal menyelamatkan ras Arya, tetapi berhasil untuk melestarikan para Brahmana, yang pada gilirannya, telah mempertahankan hegemoni keagamaan mereka di India sampai sekarang.

Dan sekarang, dengan pelemahan Vedisme (agama Weda) melalui penolakan kebenaran yang lebih tinggi, kultus pemujaan bangsa Arya menjadi sasaran meningkatnya masukan-masukan dari orang-orang Dekka. Dalam usaha putus asa untuk membendung arus kemusnahan rasial dan penghapusan keagamaan itu, kasta Brahmana berusaha untuk meninggikan diri mereka di atas segala yang lain. Mereka mengajarkan bahwa pengorbanan pada dewa itu sendiri adalah maha manjur, bahwa hal itu adalah maha memaksa dalam daya kekuatannya. Mereka memberitakan bahwa dari dua prinsip ilahi pokok alam semesta, yang satu adalah Brahman sang deitas, dan satunya lagi adalah kependetaan Brahmana. Tidak ada di antara bangsa-bangsa Urantia yang para imam atau pendetanya berani untuk meninggikan diri mereka bahkan di atas dewa-dewa mereka sendiri, yang mengalihkan kepada mereka sendiri kehormatan untuk dewa-dewa mereka. Tetapi mereka keterlaluan tidak masuk akal dengan pernyataan-pernyataan yang terlalu berani ini sehingga seluruh sistem yang rentan ini runtuh menghadapi kultus-kultus pemujaan rendah yang mengalir masuk dari peradaban-peradaban sekitarnya yang kurang maju. Kependetaan Weda yang luas itu sendiri menggelepar dan terbenam di bawah banjir gelap keengganan berubah dan pesimisme yang melalui kelancangan egois dan bodoh mereka sendiri telah mereka timpakan ke atas seluruh India.

Pemusatan yang tidak semestinya terhadap diri sendiri membawa dengan pasti kepada suatu ketakutan akan pelestarian diri yang non-evolusioner dalam putaran rangkaian inkarnasi tanpa-akhir sebagai manusia, binatang, atau rumput-rumputan. Dan dari semua kepercayaan pencemar yang dapat melekat pada kepercayaan yang mungkin menjadi munculnya monoteisme, tidak ada yang demikian melemahkan seperti kepercayaan akan transmigrasi ini—doktrin tentang reinkarnasi jiwa-jiwa— yang datangnya dari orang Dekka Dravida. Kepercayaan akan putaran transmigrasi berulang-ulang yang melelahkan dan monoton ini merampas dari manusia yang berjuang itu, harapan yang lama dirindukan untuk menemukan kelepasan dan kemajuan rohani itu dalam kematian yang telah menjadi suatu bagian dari keyakinan Weda yang lebih awal.

Ajaran-ajaran yang secara filosofis memperlemah ini segera diikuti oleh penemuan doktrin tentang kelepasan kekal dari diri melalui penenggelaman dalam istirahat dan damai semesta oleh penyatuan mutlak dengan Brahman, jiwa segala ciptaan. Akibatnya hasrat dan ambisi manusia dirampas dan nyaris dimusnahkan. Selama lebih dari dua ribu tahun pemikir-pemikir yang lebih unggul di India telah berusaha untuk melepaskan diri dari semua hasrat keinginan, dan dengan demikian telah membuka lebar pintu untuk masuknya aliran dan ajaran-ajaran tertentu yang pada hakikatnya telah membelenggu jiwa banyak orang Hindu dalam rantai keputus-asaan rohani. Dari semua peradaban, bangsa Aryan-Weda itulah membayar harga paling mengerikan akibat penolakannya terhadap kabar baik Salem.

Kasta saja tidak dapat melanggengkan sistem religio-kultural Arya, dan ketika agama-agama rendahan Dekka itu merasuk ke utara, berkembanglah suatu zaman putus asa dan tanpa harapan. Selama masa-masa gelap inilah muncul aliran pemujaan untuk tidak membunuh apapun, dan sejak itu terus bertahan. Banyak dari aliran-aliran baru itu terang-terangan tidak-bertuhan atau ateistik, menyatakan bahwa keselamatan tersebut dapat dicapai dapat datang hanya oleh usaha manusia sendiri tanpa dibantu. Tetapi pada sebagian besar semua filsafat malang ini, sisa-sisa dari ajaran-ajaran Melkisedek yang sudah terdistorsi dan bahkan ajaran-ajaran Adam dapat ditelusuri jejaknya.

Inilah waktu-waktu pengumpulan kitab-kitab suci agama Hindu yang belakangan, Brahmana dan Upanishad. Setelah menolak ajaran-ajaran agama pribadi melalui pengalaman iman pribadi dengan Tuhan yang Esa, dan setelah tercemar oleh banjir aliran-pemujaan dan kepercayaan yang merendahkan dan melemahkan dari Dekka, dengan ajaran antropomorfisme dan reinkarnasi mereka, kependetaan Brahmana mengalami suatu reaksi keras yang melawan kepercayaan-kepercayaan yang merusak ini; terjadi suatu upaya jelas untuk mencari dan menemukan kenyataan sejati. Para Brahmana berusaha untuk membuat konsep ketuhanan orang India supaya Tuhan tidak menyerupai manusia lagi, tetapi dengan berbuat demikian mereka terjerumus dalam kesalahan menyedihkan dengan membuat Tuhan tidak berpribadi, dan mereka bangkit, bukan dengan suatu ideal yang hebat dan rohani tentang Bapa Firdaus, tetapi dengan suatu ide yang jauh dan bersifat metafisika tentang suatu Absolut yang meliputi segala sesuatu.

Dalam usaha-usaha mereka melestarikan diri, orang-orang Brahmana telah menolak Tuhan yang Esa dari Melkisedek, dan kini mereka mendapati diri mereka dengan hipotesis tentang Brahman, diri filosofis yang tidak pasti dan khayal, sesuatu yang tidak-berpribadi dan tidak-berdaya yang telah membuat kehidupan rohani di India mati kutu dan letih lesu mulai dari hari yang malang itu sampai abad kedua puluh.

Selama masa-masa penulisan Upanishad itulah, Buddhisme bangkit di India. Meskipun ada keberhasilannya dalam seribu tahun, ajaran itu tidak dapat bersaing dengan Hinduisme yang belakangan; meskipun moralitasnya lebih tinggi, penggambaran awalnya tentang Tuhan bahkan kurang terdefinisikan dengan baik ketimbang Hinduisme, yang menyediakan dewa-dewa yang lebih rendah dan berpribadi. Buddhisme akhirnya menyerah di India Utara menghadapi serangan gencar Islam militan dengan konsepnya yang jelas tentang Allah sebagai Tuhan tertinggi alam semesta.

3. Filsafat Brahmana

Meskipun fase tertinggi Brahmanisme sulit disebut sebagai suatu agama, namun hal itu benar-benar satu dari pencapaian pikiran manusia yang paling mulia ke dalam wilayah-wilayah filsafat dan metafisika. Setelah memulai untuk menemukan kenyataan akhir, pikiran orang-orang India tidak berhenti sampai telah berspekulasi mengenai hampir setiap fase teologi kecuali dua konsep pokok agama: keberadaan Bapa Semesta atas segala makhluk alam semesta, dan fakta tentang pengalaman menaik makhluk-makhluk ini dalam alam semesta sementara mereka berusaha mencapai Bapa yang kekal itu, yang telah memerintahkan mereka untuk menjadi sempurna, sama seperti juga Dia adalah sempurna.

Dalam konsep Brahman, pikiran orang-orang dari masa-masa itu benar-benar menangkap gagasan tentang suatu Absolut yang meliputi-segala-sesuatu, karena postulat ini pada satu waktu yang sama dikenali sebagai energi kreatif dan reaksi kosmis. Brahman dianggap melampaui semua definisi, mampu untuk dipahami hanya melalui penyangkalan berturut-turut terhadap semua kualitas yang terbatas (finit). Konsep itu adalah jelas suatu kepercayaan akan suatu sosok yang absolut atau mutlak, bahkan suatu sosok yang tanpa batas (infinit), tetapi konsep ini sebagian besarnya tanpa sifat-sifat kepribadian sehingga tidak dapat dialami oleh penganut agama perorangan.

Narayana-Brahman itu dianggap sebagai yang Absolut, ITU ADA yang tanpa batas, potensi kreatif purbakala dari kosmos potensial, Diri Semesta yang berada secara statis dan potensial di dalam seluruh kekekalan. Seandainya para filsuf di masa-masa itu dapat untuk membuat kemajuan berikutnya dalam konsepsi ketuhanan, seandainya mereka dapat memahami Brahman sebagai asosiatif dan kreatif, sebagai suatu kepribadian yang dapat didekati oleh sosok-sosok yang diciptakan dan berevolusi, maka mungkin ajaran seperti itu menjadi penggambaran yang paling maju tentang Ketuhanan di Urantia, karena ajaran itu akan mencakup lima tingkat pertama dari fungsi ketuhanan total dan mungkin telah bisa membayangkan dua sisanya.

Dalam fase-fase tertentu, konsep tentang Satu Jiwa Semesta sebagai totalitas penjumlahan semua eksistensi makhluk itu membawa para filsuf India sangat dekat pada kebenaran tentang Sang Mahatinggi, tetapi kebenaran ini tidak bermanfaat apa-apa bagi mereka karena mereka gagal untuk mengembangkan suatu pendekatan pribadi yang masuk akal atau rasional menuju ke pencapaian sasaran monoteistis teoretis mereka tentang Narayana-Brahman.

Prinsip karma tentang kontinuitas sebab-akibat adalah, lagi-lagi, sangat dekat pada kebenaran tentang sintesis dampak semua tindakan ruang-waktu dalam kehadiran Deitas dari Yang Mahatinggi; tetapi dalil ini tidak pernah menyediakan untuk pencapaian pribadi sederajat terhadap Deitas oleh pengikut agama secara perorangan, hanya sampai pada peleburan terakhir semua kepribadian oleh Jiwa Semesta (seperti satu titik air kembali ke samudra).

Filsafat Brahmanisme itu juga sampai sangat dekat pada kesadaran tentang berdiamnya Pelaras Pikiran, hanya kemudian disimpangkan melalui kesalah-pahaman kebenaran. Ajaran bahwa jiwa adalah berdiamnya Brahman itu akan membuka jalan untuk suatu agama yang maju seandainya konsep ini tidak dilemahkan sepenuhnya oleh kepercayaan bahwa tidak ada individualitas manusia yang terpisah dari berdiamnya Yang Esa Semesta ini.

Dalam doktrin tentang meleburnya jiwa-diri dengan Jiwa Semesta, para teolog India gagal menyediakan keselamatan bagi sesuatu yang manusiawi, sesuatu yang baru dan unik, sesuatu yang lahir dari penyatuan kehendak manusia dan kehendak Tuhan. Ajaran tentang kembalinya jiwa ke Brahman itu amat sejajar dengan kebenaran tentang kembalinya Pelaras ke pangkuan Bapa Semesta, tetapi ada sesuatu yang lain berbeda dari Pelaras yang juga bertahan, yaitu pasangan kepribadian manusia yang berwujud morontia. Dan konsep vital ini secara fatal tidak ada dalam filsafat Brahmana.

Filsafat Brahmana telah hampir mendekati banyak fakta-fakta alam semesta dan telah mendekati banyak kebenaran kosmis, tetapi filsafat itu terlalu sering jadi korban pada kesalahan karena gagal membedakan antara beberapa tingkat realitas, seperti absolut, transendental, dan terbatas (finit). Filsafat itu telah gagal memperhitungkan bahwa apa yang mungkin adalah khayalan-terbatas pada tingkat absolut bisa menjadi nyata secara absolut pada tingkatan terbatas. Dan filsafat itu juga tidak mengetahui tentang kepribadian pokok dari Bapa Semesta, yang secara pribadi dapat dikontak pada semua tingkatan mulai dari pengalaman terbatasnya makhluk yang berevolusi itu dengan Tuhan, naik sampai ke pengalaman tak terbatas Putra Kekal dengan Bapa Firdaus.

4. Agama Hindu

Dengan berlalunya abad-abad di India, masyarakat kembali sebagian pada ritual-ritual kuno Weda seperti yang telah dimodifikasi oleh ajaran-ajaran misionaris-misionaris Melkisedek dan dibakukan oleh kependetaan Brahman yang belakangan. Agama ini, agama dunia yang paling tua dan paling kosmopolitan ini, telah mengalami perubahan-perubahan lebih lanjut sebagai tanggapan terhadap Buddhisme dan Jainisme dan pada pengaruh-pengaruh yang muncul belakangan dari pengikut Muhammad dan Kekristenan. Tetapi pada waktu ajaran-ajaran Yesus tiba, ajaran-ajaran itu telah menjadi di-Barat-kan sehingga menjadi suatu “agamanya orang kulit putih,” sebab itu aneh dan asing pada pikiran Hindu.

Teologi Hindu, saat ini, melukiskan empat tingkat ketuhanan dan keilahian yang menurun:

1. Brahman, yang Absolut, Yang Esa Tanpa Batas, YANG ADA (IT IS).

2. Trimurti, trinitas tertinggi Hinduisme. Dalam ikatan hubungan ini Brahma, anggota yang pertama, dipahami sebagai yang tercipta sendiri keluar dari Brahman—dari ketanpa-batasan. Seandainya itu bukan karena identifikasi dekat dengan Yang Tanpa Batas yang panteistik, Brahma dapat merupakan dasar untuk suatu konsep tentang Bapa Semesta. Brahma juga diidentifikasikan dengan nasib.

Penyembahan terhadap anggota kedua dan ketiga, Siwa dan Wisnu, muncul dalam milenium pertama setelah Kristus. Siwa adalah tuhan atas kehidupan dan kematian, dewa kesuburan, dan penguasa kerusakan. Wisnu adalah sangat populer karena kepercayaan bahwa dia secara berkala menjelma dalam wujud manusia. dengan cara ini, Wisnu menjadi nyata dan hidup dalam imajinasi orang-orang India. Siwa dan Wisnu masing-masing dianggap oleh sebagian orang sebagai yang tertinggi atas semuanya.

3. Dewata Weda dan pasca Weda. Banyak dari dewa-dewa kuno orang Arya, seperti Agni, Indra, Soma, telah bertahan sebagai anggota sekunder dibandingkan ketiga anggota Trimurti. Banyak dewa-dewi tambahan telah muncul sejak masa-masa awal India Weda, dan mereka ini juga telah digabungkan ke dalam kahyangan Hindu.

4. Setengah dewa: para manusia super, setengah dewa, pahlawan, setan, hantu, roh jahat, peri, raksasa, jin, dan orang-orang suci dari aliran-aliran pemujaan yang belakangan.

Walaupun Hinduisme telah lama gagal menghidupkan bangsa India, pada waktu yang sama agama itu biasanya telah menjadi agama yang toleran. Kekuatannya yang besar terletak pada fakta bahwa agama itu telah terbukti menjadi yang paling adaptif, agama tanpa bentuk pasti, yang muncul di Urantia. Agama itu mampu untuk perubahan yang hampir tak terbatas dan memiliki suatu rentang jangkauan luar biasa untuk penyesuaian fleksibel mulai dari spekulasi-spekulasi tinggi dan semi monoteistik tentang Brahman yang intelektual itu sampai pada penyembahan berhala terang-terangan dan praktek-praktek pemujaan primitif yang hina dan rendah dari kelas-kelas orang percaya yang bodoh.

Hinduisme telah bertahan karena agama itu pada intinya adalah suatu bagian integral dari susunan sosial dasar India. Agama itu tidak mempunyai hirarki besar yang dapat diganggu atau dirusak; agama itu terjalin ke dalam pola kehidupan rakyat. Agama itu memiliki suatu kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi yang melebihi semua agama yang lain, dan agama itu menunjukkan suatu sikap yang toleran untuk penerimaan terhadap banyak agama yang lain. Buddha Gautama dan bahkan Kristus sendiri diakui sebagai inkarnasi-inkarnasi Wisnu.

Hari ini, di India, kebutuhan besar adalah penggambaran injilnya Yesus—Kebapaan Tuhan dan keanakan serta berikutnya persaudaraan semua manusia, yang secara pribadi diwujudkan dalam pelayanan kasih dan layanan sosial. Di India, kerangka filosofisnya ada, struktur kultus ada; semua yang diperlukan adalah percikan menghidupkan dari kasih dinamis yang digambarkan dalam injil yang asli dari Anak Manusia, yang ditanggalkan dari semua dogma dan doktrin Barat yang telah cenderung untuk membuat anugerah kehidupan Mikhael menjadi suatu agamanya orang kulit putih.

5. Perjuangan untuk Kebenaran di Cina

Ketika para misionaris Salem melintasi Asia, menyebarkan doktrin Tuhan yang Paling Tinggi dan keselamatan melalui iman, mereka menyerap banyak filosofi dan pemikiran keagamaan dari berbagai negara yang dijelajahi. Tetapi para guru yang diutus oleh Melkisedek dan para penerusnya tidak gagal dalam tanggung jawab mereka; mereka menembus ke semua bangsa di benua Eurasia, dan pada pertengahan milenium kedua sebelum Kristus tibalah mereka di Cina. Di See Fuch (Suifu atau Yibin), selama lebih dari seratus tahun, orang-orang Salem membangun markas besar mereka, di sana melatih para guru Cina yang mengajar ke seluruh wilayah ras kuning.

Karena akibat langsung dari ajaran inilah maka bentuk paling awal dari Taoisme bangkit di Cina, suatu agama yang sangat jauh berbeda dari agama yang menyandang nama itu hari ini. Taoisme awal atau proto-Taoisme itu adalah suatu campuran dari faktor-faktor berikut:

1. Ajaran lama Singlangton, yang bertahan dalam konsep Shang-ti, Tuhan Langit. Dalam masa-masa Singlangton orang-orang Cina pada hakikatnya menjadi monoteistik; mereka memusatkan ibadah mereka pada Satu Kebenaran, yang belakangan dikenal sebagai Roh Langit, penguasa alam semesta. Dan ras kuning tidak pernah sepenuhnya kehilangan konsep Deitas yang awal ini, meskipun dalam abad-abad selanjutnya banyak dewata dan roh-roh bawahan merayap masuk dengan diam-diam ke dalam agama mereka.

2. Agama Salem tentang Tuhan Pencipta Paling Tinggi yang akan menganugerahkan perkenannya ke atas umat manusia sebagai tanggapan terhadap iman manusia. Tetapi benar juga bahwa, pada waktu para misionaris Melkisedek telah menembus ke tanah-tanah ras kuning, pesan asli mereka telah banyak berubah dari doktrin sederhana Salem pada masa-masa Machiventa.

3. Konsep Absolut-Brahman dari filsuf-filsuf India, digabungkan dengan keinginan untuk lepas dari semua kejahatan. Mungkin pengaruh dari luar terbesar dalam penyebaran ke arah timur agama Salem adalah oleh para guru India dari kepercayaan Weda, yang menyuntikkan konsepsi mereka tentang Brahman—Yang Mutlak—ke dalam pemikiran keselamatan orang-orang Salem.

Kepercayaan campuran ini menyebar melalui tanah-tanah ras kuning dan coklat sebagai suatu pengaruh yang melatar-belakangi dalam pemikiran filsafat-agama. Di Jepang proto-Taoisme ini dikenal sebagai Shinto, dan di negara ini, yang jauh terpisah dari Salem Palestina, orang-orang belajar tentang inkarnasi Melkisedek Machiventa, yang tinggal di atas bumi supaya nama Tuhan jangan sampai dilupakan oleh umat manusia.

Di Cina, semua kepercayaan ini kemudian dikacaukan dan dicampurkan dengan aliran-pemujaan penyembahan nenek moyang yang terus berkembang. Tetapi sejak masa Singlangton tidak pernah orang-orang Cina jatuh ke dalam perbudakan tanpa daya kepada kepintaran golongan imam atau pendeta. Ras kuning adalah yang pertama muncul dari belenggu kebiadaban ke peradaban yang tertata karena mereka yang pertama mencapai tingkat kemerdekaan tertentu dari ketakutan setengah mati terhadap para dewa, orang kuning juga tidak takut pada arwah orang mati seperti ras-ras yang lain takut mereka. Cina menemui kekalahannya karena gagal maju melampaui pembebasan awal dari para imam itu; bangsa Cina jatuh dalam suatu kesalahan yang hampir sama gawatnya, yaitu penyembahan nenek-moyang.

Tetapi orang-orang Salem tidak bekerja sia-sia. Di atas fondasi dari kabar baik mereka itulah maka para filsuf besar Cina abad keenam membangun ajaran-ajaran mereka. Atmosfer moral dan sentimen rohani dari masa-masa Lao-tse dan Konfusius tumbuh dari ajaran-ajaran para misionaris Salem dari zaman yang lebih awal.

6. Lao-Tse dan Konfusius

Sekitar enam ratus tahun sebelum kedatangan Mikhael, tampak bagi Melkisedek, yang telah lama berangkat dari badan daging, bahwa kemurnian ajarannya di bumi telah menjadi terancam oleh penyerapan umum ke dalam kepercayaan-kepercayaan Urantia yang lebih tua. tampak untuk sesaat bahwa misinya sebagai pendahulu Mikhael mungkin ada dalam bahaya kandas. Dan dalam abad ke enam sebelum Kristus, melalui suatu koordinasi tidak biasa dari agen-agen rohani, yang tidak semua dipahami bahkan oleh para pengawas planet sekalipun, Urantia menyaksikan suatu pernyataan paling luar biasa tentang berbagai macam kebenaran keagamaan. Melalui perantaraan beberapa guru manusia, injil Salem dinyatakan ulang dan dihidupkan lagi, dan seperti yang saat itu disampaikan, banyak yang masih bertahan sampai pada masa-masa penulisan ini.

Abad kemajuan rohani yang unik ini dicirikan oleh guru-guru agung keagamaan, moral, dan filosofis di seluruh dunia beradab. Di Cina, dua guru yang terkemuka adalah Lao-tse dan Konfusius.

Lao-tse membangun langsung di atas konsep-konsep tradisi Salem ketika ia menyatakan Tao sebagai Satu Penyebab Pertama semua ciptaan. Lao adalah seorang dengan visi rohani yang besar. Dia mengajarkan bahwa takdir kekal manusia adalah “penyatuan abadi dengan Tao, Tuhan Mahatinggi dan Raja Semesta.” Pemahamannya tentang penyebab yang terakhir adalah yang paling arif, karena ia menulis: “Kesatuan muncul dari Tao Absolut, dan dari Kesatuan muncullah Dualitas kosmis, dan dari Dualitas tersebut, Trinitas muncul menjadi ada, dan Trinitas adalah Sumber utama semua kenyataan.” “Semua kenyataan itu selalu dalam keseimbangan antara potensial-potensial dan aktual-aktual kosmos, dan hal-hal ini secara kekal diselaraskan oleh roh keilahian.”

Lao-tse juga membuat satu dari pernyataan paling awal dari doktrin tentang membalas kebaikan terhadap kejahatan: “Kebaikan memperanakkan kebaikan, tetapi untuk orang yang benar-benar baik, kejahatan juga memperanakkan kebaikan.”

Dia mengajarkan kembalinya ciptaan pada Pencipta dan menggambarkan kehidupan sebagai kemunculan suatu kepribadian dari potensial-potensial kosmis, sedangkan kematian adalah seperti kembali pulangnya kepribadian ciptaan ini. Konsepnya tentang iman yang benar adalah luar biasa, dan dia juga menyamakan iman itu dengan “sikap seorang anak kecil.”

Pengertiannya tentang maksud kekal Tuhan itu jelas, karena ia berkata: “Deitas Absolut tidak berjuang tetapi selalu berjaya; dia tidak memaksa umat manusia tetapi selalu siap menanggapi keinginan-keinginan sesungguhnya mereka; kehendak Tuhan itu kekal dalam kesabaran dan kekal karena tidak bisa dihindari perwujudannya.” Dan tentang pengikut agama yang benar dia berkata, dengan menyatakan kebenaran bahwa adalah lebih diberkati untuk memberi daripada untuk menerima: “Orang yang baik tidak berusaha menyimpan kebenaran bagi dirinya sendiri tetapi sebaliknya berusaha untuk mengaruniakan harta-harta ini pada sesamanya, karena itu adalah perwujudan kebenaran. Kehendak dari Tuhan Absolut selalu bermanfaat, tidak pernah merugikan; tujuan orang percaya yang benar adalah selalu berbuat namun tidak pernah memaksa.”

Ajaran Lao tentang tidak-melawan dan perbedaan yang dia buat antara perbuatan dan paksaan menjadi kemudian diselewengkan menjadi kepercayaan tentang “tidak melihat, melakukan, dan memikirkan apapun.” Tetapi Lao tidak pernah mengajarkan kesalahan itu, meskipun penyajiannya tentang tidak-melawan itu telah menjadi suatu faktor dalam perkembangan lebih lanjut kecenderungan suka damai bangsa Cina.

Namun Taoisme populer dari Urantia abad kedua puluh memiliki sedikit kesamaan dengan perasaan luhur dan konsep kosmis dari filsuf tua itu yang mengajarkan kebenaran sebagaimana yang ia ketahui, yang adalah: Bahwa percaya akan Tuhan Absolut adalah sumber dari energi ilahi itu yang akan membentuk-ulang dunia, dan oleh iman itu manusia naik ke penyatuan rohani dengan Tao, Deitas Kekal dan Pencipta Absolut alam-alam semesta.

Konfusius (Kung Fu-tze) adalah rekan sejaman lebih muda dari Lao di Cina abad keenam sebelum Masehi itu. Konfusius mendasarkan doktrin-doktrinnya pada tradisi-tradisi moral yang lebih baik dari sejarah panjang ras kuning, dan dia juga agak terpengaruh oleh sisa tradisi para misionaris Salem. Karya utamanya terdapat dalam kumpulan peribahasa bijak filsuf-filsuf kuno. Dia adalah guru yang ditolak selama masa hidupnya, tetapi tulisan-tulisan dan ajaran-ajarannya sejak itu terus menanamkan pengaruh besar di Cina dan Jepang. Konfusius menetapkan ukuran baru untuk para dukun dalam hal ia menaruh moralitas menggantikan sihir. Tetapi dia membangun terlalu jauh; dia membuat suatu berhala baru yang keluar dari tatanannya dan mendirikan suatu penghormatan untuk perbuatan nenek moyang yang masih dipuja oleh orang Cina pada waktu penulisan ini.

Khotbah Konfusius tentang moralitas didasarkan di atas teori bahwa jalan duniawi adalah bayangan menyimpang dari jalan surgawi; bahwa pola sejati dari peradaban duniawi adalah pantulan cermin dari tatanan kekal surga. Konsep Tuhan yang potensial dalam Konfusianisme itu hampir sepenuhnya diletakkan di bawah penekanan mengenai Jalan Suci (Way of Heaven), pola alam semesta.

Ajaran-ajaran Lao telah hilang bagi semua kecuali sedikit orang di Dunia Timur, tetapi tulisan-tulisan Konfusius sejak itu telah membentuk dasar susunan moral untuk kebudayaan hampir sepertiga penduduk Urantia. Pedoman-pedoman Konfusian ini, walaupun melestarikan yang terbaik dari masa lalu, namun agak berlawanan dengan semangat penyelidikan orang Cina itu sendiri yang telah menghasilkan prestasi-prestasi yang demikian dipuja. Pengaruh dari doktrin-doktrin ini tidak berhasil diserang oleh usaha-usaha kerajaan dari Ch’in Shih Huang Ti maupun oleh ajaran-ajaran Mo Ti, yang memberitakan suatu persaudaraan yang didasarkan bukan di atas kewajiban sopan-santun tetapi di atas kasih Tuhan. Dia berusaha untuk menyalakan ulang pencarian kuno untuk kebenaran baru, tetapi ajaran-ajarannya gagal karena perlawanan keras dari murid-murid Konfusius.

Seperti banyak guru rohani dan moral yang lain, baik Konfusius maupun Lao-tse akhirnya didewakan oleh para pengikutnya dalam zaman-zaman kegelapan rohani Cina itu, yang berada di antara kemunduran dan penyelewengan iman Taois dan kedatangan para misionaris Budhis dari India. Selama abad-abad yang merosot secara rohani ini agama ras kuning turun derajatnya menjadi suatu teologi menyedihkan di mana di dalamnya bergentayangan setan-setan, naga-naga, dan roh-roh jahat, semua menandakan kembalinya rasa takut pikiran manusia yang belum diterangi. Dan Cina, yang dahulu pernah menjadi pemuka masyarakat manusia karena agama yang maju, kemudian tertinggal di belakang karena kegagalan sementara untuk maju dalam jalur yang benar menuju pengembangan kesadaran akan Tuhan yang harus ada untuk kemajuan yang sesungguhnya, tidak hanya manusia perorangan, tetapi juga peradaban yang rumit dan kompleks yang menjadi ciri kemajuan kebudayaan dan masyarakat di sebuah planet ruang dan waktu yang berevolusi.

7. Siddharta Gautama

Sejaman dengan Lao-tse dan Konfusius di Cina, seorang guru besar kebenaran yang lain muncul di India. Siddharta Gautama dilahirkan dalam abad keenam sebelum Kristus di provinsi Nepal di India utara. Para pengikutnya belakangan membuat seakan-akan dia adalah anak dari seorang penguasa yang sangat kaya, tetapi, sebenarnya, ia adalah pewaris jelas untuk tahta seorang kepala suku kecil yang memerintah berdasarkan izin tanpa kata-kata atas suatu lembah gunung yang kecil dan terpencil di Himalaya bagian selatan.

Gautama merumuskan teori-teori tertentu itu yang bertumbuh menjadi filosofi Buddhisme setelah enam tahun praktek sia-sia Yoga. Siddharta membuat perlawanan dengan gigih tetapi tidak berhasil melawan perkembangan sistem kasta. Ada suatu ketulusan yang luhur dan tidak-mementingkan-diri yang unik dalam diri sang pangeran nabi muda ini yang sangat menarik orang-orang masa itu. Dia mengurangi praktek mencari keselamatan perorangan melalui penderitaan fisik dan rasa sakit pribadi. Dan dia mendesak para pengikutnya untuk membawa kabar baiknya ini ke seluruh dunia.

Di tengah-tengah kebingungan dan praktek-praktek pemujaan yang ekstrim di India, ajaran-ajaran Gautama yang lebih bijak dan lebih moderat itu datang sebagai suatu pertolongan yang melegakan. Dia mencela para dewa, pendeta, dan pengorbanan mereka, tetapi dia juga gagal untuk memahami tentang kepribadian Semesta Esa. Karena tidak mempercayai akan keberadaan jiwa manusia secara individual, Gautama, tentu saja, membuat perlawanan berani melawan kepercayaan yang kuno dan dihormati tentang transmigrasi jiwa (reinkarnasi). Dia membuat suatu upaya mulia untuk melepaskan manusia dari rasa takut, untuk membuat mereka merasa nyaman dan betah di alam semesta besar, tapi ia gagal untuk menunjukkan mereka jalan ke rumah yang nyata dan adiluhur bagi para manusia menaik itu, yaitu Firdaus, dan kepada layanan yang makin luas dari keberadaan kekal.

Gautama adalah benar-benar nabi, dan seandainya saja dia memperhatikan ajaran dari petapa Godad, dia mungkin telah membangunkan seluruh India melalui inspirasi kebangkitan lagi injil Salem tentang keselamatan oleh iman. Godad diturunkan dari sebuah keluarga yang tidak pernah kehilangan tradisi-tradisi dari para misionaris Melkisedek.

Di Benares Gautama mendirikan perguruannya, dan selama tahun keduanya itulah seorang murid, Bautan, menyampaikan pada gurunya tradisi-tradisi dari misionaris Salem tentang perjanjian Melkisedek dengan Abraham; dan walaupun Siddharta tidak memiliki suatu konsep yang sangat jelas tentang Bapa Semesta, ia mengambil suatu pendirian maju tentang keselamatan melalui iman, yaitu percaya yang sederhana. Dia dengan demikian menyatakan dirinya di depan para pengikutnya dan mulai mengutus para muridnya dalam kelompok-kelompok enam puluh untuk memberitakan pada rakyat India “kabar gembira tentang keselamatan yang cuma-cuma; bahwa semua orang, tinggi dan rendah, dapat mencapai bahagia melalui beriman akan kebenaran dan keadilan.”

Istri Gautama mempercayai kabar baik yang dibawa suaminya itu, dan menjadi pendiri suatu ordo biarawati. Putranya menjadi penerusnya dan sangat memperluas aliran itu; dia menangkap gagasan baru tentang keselamatan melalui iman saja namun dalam tahun-tahun berikutnya ia bimbang mengenai injil Salem tentang perkenanan ilahi melalui iman saja, dan di usia tuanya kata-kata terakhirnya adalah, “Kerjakanlah keselamatanmu sendiri.”

Ketika diberitakan yang terbaiknya, kabar baik Gautama tentang keselamatan semesta, bebas dari korban, penyiksaan, tatacara, dan imam, adalah suatu doktrin yang revolusioner dan menakjubkan pada masanya. Dan hal itu secara mengherankan hampir mendekati suatu kebangkitan lagi injil Salem. Kabar itu membawa pertolongan bagi jutaan jiwa yang putus asa, dan meskipun terjadi penyimpangan ajaran selama abad-abad berikutnya, ajaran itu masih bertahan sebagai harapan bagi jutaan umat manusia.

Siddharta mengajarkan jauh lebih banyak kebenaran daripada yang masih bertahan dalam agama modern yang membawa namanya itu. Agama Buddha modern itu tidak lagi ajaran-ajaran Siddharta Gautama, daripada agama Kristen dengan ajaran-ajaran Yesus dari Nazaret.

8. Kepercayaan Buddha

Untuk menjadi seorang pengikut Buddha, seseorang hanya membuat pengakuan kepercayaan di depan umum dengan mengucapkan Perlindungan: “Aku berlindung pada Buddha; aku berlindung pada Dhamma (Doktrin); aku berlindung pada Sangha (Persaudaraan).”

Buddhisme berasal dari seorang pribadi historis, bukan dari dongeng. Pengikut-pengikut Gautama memanggil dia Sasta, yang berarti tuan atau guru. Walaupun ia tidak membuat pengakuan supramanusia tentang dirinya sendiri ataupun ajaran-ajarannya, para muridnya dari awal mulai menyebut dia yang mendapat pencerahan, sang Buddha; berikutnya lagi, disebut Buddha Sakyamuni.

Ajaran-ajaran kabar baik Gautama yang asli didasarkan pada empat kebenaran mulia:

1. Kebenaran mulia penderitaan.

2. Asal-mula penderitaan.

3. Pemusnahan penderitaan.

4. Jalan untuk pemusnahan penderitaan.

Berkaitan erat dengan doktrin tentang penderitaan dan kelepasan dari penderitaan itu adalah filosofi tentang Delapan Jalan Utama: pengertian, pemikiran, ucapan, perbuatan, pencaharian, daya-upaya, perhatian, dan konsentrasi yang benar. Bukanlah niat Gautama untuk mencoba menghancurkan semua daya-upaya, hasrat, dan perhatian untuk melepaskan diri dari penderitaan; sebaliknya ajarannya dirancang untuk menggambarkan pada manusia kesia-siaan mengikatkan semua harapan dan cita-cita seluruhnya pada sasaran-sasaran yang sementara dan tujuan-tujuan jasmani. Bukan berarti kasih dari sesama harus dijauhi, melainkan orang percaya sejati harus melihat juga melampaui hubungan-hubungan dunia jasmani ini kepada kenyataan-kenyataan di masa depan yang kekal.

Perintah-perintah moral dari pemberitaan Gautama adalah berjumlah lima:

1. Jangan membunuh.

2. Jangan mencuri.

3. Jangan menjadi pezinah.

4. Jangan berbohong.

5. Jangan minum minuman keras.

Ada beberapa perintah tambahan atau sekunder, yang ketaatan terhadapnya boleh dipilih oleh orang-orang percaya.

Siddharta hampir tidak percaya akan kebakaan kepribadian manusia; filosofinya hanya menyediakan sejenis kontinuitas fungsional. Dia tidak pernah secara jelas mendefinisikan apa yang dia maksudkan untuk dicakup dalam doktrin Nirwana. Fakta bahwa hal itu dapat secara teoretis dialami selama kehidupan fana akan menunjukkan bahwa hal itu tidak dipandang sebagai suatu keadaan musnah sempurna. Nirwana itu mengandung arti suatu kondisi pencerahan tertinggi dan kebahagiaan adiluhur di dalam mana semua belenggu yang mengikat manusia pada dunia jasmani telah dipatahkan; ada kebebasan dari nafsu-nafsu kehidupan fana dan kelepasan dari semua bahaya akan terus mengalami inkarnasi lagi.

Sesuai dengan ajaran asli Gautama, keselamatan itu dicapai oleh usaha manusia, terpisah dari pertolongan ilahi; tidak ada tempat untuk iman yang menyelamatkan atau doa-doa pada kuasa-kuasa di atas manusia. Gautama, dalam upayanya untuk mengurangi sekecil mungkin takhyul-takhyul India, berusaha keras untuk menjauhkan orang-orang dari pernyataan-pernyataan menyolok tentang keselamatan secara magis. Dan dengan membuat usaha ini, dia meninggalkan pintu terbuka lebar bagi para penerusnya untuk menyalah-tafsirkan ajarannya dan untuk menyatakan bahwa semua perjuangan manusia untuk prestasi itu tidak enak dan menyakitkan. Para pengikutnya mengabaikan fakta bahwa kebahagiaan tertinggi itu terkait dengan upaya keras yang cerdas dan bersemangat untuk mencapai sasaran-sasaran yang pantas, dan bahwa prestasi-prestasi demikian itu merupakan kemajuan sesungguhnya dalam realisasi diri kosmis.

Kebenaran besar dari ajaran Siddharta adalah pernyataannya tentang suatu alam semesta yang berkeadilan mutlak. Dia mengajarkan filosofi terbaik tanpa-Tuhan yang pernah ditemukan oleh manusia fana; ajaran itu adalah humanisme ideal dan dengan paling efektif menghilangkan semua pijakan untuk takhyul, ritual-ritual magis, dan ketakutan pada arwah hantu atau setan-setan.

Kelemahan besar dalam ajaran asli Buddhisme adalah ajaran itu tidak menghasilkan suatu agama untuk layanan sosial yang tidak mementingkan diri sendiri. Persaudaraan pengikut Buddha, selama waktu yang lama, adalah bukan suatu persaudaraan orang-orang percaya tetapi lebih tepatnya suatu komunitas guru dan murid. Gautama melarang mereka menerima uang dan dengan demikian berusaha untuk mencegah bertumbuhnya kecenderungan hirarkis. Gautama sendiri adalah sangat sosial; sungguh, kehidupannya jauh lebih agung daripada yang ia beritakan.

9. Penyebaran Buddhisme

Buddhisme berkembang pesat karena agama itu menawarkan keselamatan melalui percaya akan Buddha, yang mendapat pencerahan. Agama itu lebih mewakili kebenaran-kebenaran Melkisedek daripada semua sistem keagamaan lain yang dijumpai di seluruh Asia timur. Tetapi Buddhisme belum tersebar luas sebagai suatu agama sampai agama itu dianut dalam pembelaan dirinya oleh raja kasta-rendah Asoka, yang, setelah Ikhnaton di Mesir, adalah satu dari penguasa sipil yang paling istimewa antara Melkisedek dan Mikhael. Asoka membangun suatu imperium India yang besar melalui propaganda para misionaris Buddhisnya. Selama jangka waktu dua puluh lima tahun ia melatih dan mengutus lebih dari tujuh belas ribu misionaris ke garis depan terjauh seluruh dunia yang dikenal. Dalam satu generasi ia membuat Buddhisme agama dominan setengah dari dunia. Agama itu segera mapan di Tibet, Kashmir, Srilangka, Burma, Jawa, Siam, Korea, Cina, dan Jepang. Dan dikatakan secara umum, agama itu adalah suatu agama yang jauh lebih unggul dibandingkan agama-agama yang digantikan atau ditingkatkan olehnya.

Penyebaran Buddhisme dari tanah kelahirannya di India ke seluruh Asia adalah salah satu dari cerita-cerita menggetarkan tentang pengabdian rohani dan kegigihan pekabaran dari para penganut agama yang tulus. Para pengajar kabar baiknya Gautama itu tidak hanya menghadapi marabahaya rute-rute kafilah melalui darat tetapi menghadapi bahaya-bahaya Laut Cina sementara mereka melanjutkan misi mereka ke seluruh benua Asia, membawa pada semua bangsa pesan keyakinan mereka. Tetapi Buddhisme ini bukan lagi doktrin sederhana dari Gautama; ajaran itu menjadi kabar baik yang diajaibkan yang membuat dia menjadi sosok dewa. Dan makin jauh Buddhisme menyebar dari asalnya di pegunungan India, agama itu menjadi semakin menjadi tidak sama dengan ajaran-ajaran Gautama, dan makin mirip dengan agama-agama yang digantikannya.

Buddhisme, berikutnya, banyak dipengaruhi oleh Taoisme di Cina, Shinto di Jepang, dan Kekristenan di Tibet. Setelah seribu tahun, di India Buddhisme memudar dan habis begitu saja. Agama itu di-Brahmanisasi dan belakangan secara hina takluk pada Islam, sedangkan di sebagian besar sisa Dunia Timur lainnya agama itu merosot menjadi suatu ritual yang tidak akan pernah diakui oleh Siddharta Gautama itu sendiri.

Di selatan, stereotip fundamentalis dari ajaran-ajaran Siddharta bertahan di Srilangka, Burma, dan semenanjung Indocina. Ini adalah divisi Buddhisme Hinayana yang berpegang erat pada doktrin yang lebih awal yang tidak sosial.

Tetapi bahkan sebelum runtuh di India, kelompok-kelompok pengikut Gautama di Cina dan India utara telah memulai pengembangan ajaran Mahayana tentang “Jalan Besar” menuju keselamatan, bertentangan dengan yang lebih fanatik di selatan yang menganut Hinayana, atau “Jalan Kecil.” Dan para pengikut Mahayana ini melonggarkan batasan-batasan sosial yang melekat dalam doktrin Buddhis, dan sejak itu cabang Buddhisme utara ini terus berkembang di Cina dan Jepang.

Buddhisme adalah agama yang hidup dan berkembang hari ini karena berhasil memelihara banyak nilai-nilai moral tertinggi para pengikutnya. Agama itu meningkatkan ketenangan dan pengendalian diri, menambahkan ketenteraman dan kebahagiaan, dan banyak berbuat untuk mencegah dukacita dan ratapan. Mereka yang percaya filsafat ini hidup lebih baik daripada banyak yang tidak.

10. Agama di Tibet

Di Tibet bisa dijumpai suatu hubungan yang paling aneh dari ajaran-ajaran Melkisedek digabungkan dengan Buddhisme, Hinduisme, Taoisme, dan Kekristenan. Ketika para misionaris Buddha memasuki Tibet, mereka menjumpai kebuasan primitif yang sangat mirip dengan yang dijumpai para misionaris Kristen di kalangan suku-suku Eropa utara.

Orang-orang Tibet yang pikirannya sederhana ini tidak mau sepenuhnya meninggalkan sihir dan jimat kuno mereka. Penelitian tentang upacara-upacara keagamaan dari ritual Tibet pada masa kini memperlihatkan suatu persaudaraan pendeta yang bertumbuh cepat, dengan kepala tercukur yang mempraktekkan suatu ritual rumit yang mencakup lonceng, nyanyian diulang-ulang, dupa, arak-arakan, rosario, patung, jimat, gambar, air suci, jubah indah, dan paduan suara yang rumit. Mereka memiliki dogma-dogma yang kaku dan kredo-kredo yang dibakukan, upacara-upacara mistik, serta puasa-puasa khusus. Hirarki mereka mencakup para biarawan, biarawati, kepala biara, dan Lama Agung. Mereka berdoa pada malaikat-malaikat, orang-orang suci, Bunda Suci, dan para dewa. Mereka mempraktekkan pengakuan dosa dan percaya akan api penyucian. Biara-biara mereka luas dan katedral-katedral mereka megah. Mereka memelihara suatu pengulangan tanpa-henti ritual-ritual suci dan percaya bahwa upacara-upacara semacam itu menganugerahkan keselamatan. Doa-doa diikatkan pada roda, dan dengan berputarnya roda itu mereka percaya bahwa permohonan-permohonan akan menjadi manjur. Tidak ada di kalangan bangsa lain di masa modern ini dijumpai begitu banyak tatacara ibadah dari demikian banyak agama; dan tidak bisa dihindarkan lagi bahwa kumpulan liturgi itu akan menjadi sangat merepotkan dan membebani tak tertahankan lagi.

Orang-orang Tibet memiliki sesuatu dari semua agama dunia utama kecuali ajaran-ajaran sederhana dari injil ajaran Yesus: manusia sebagai anak Tuhan, persaudaraan sesama manusia, dan kewargaan yang terus naik dalam alam semesta yang kekal.

11. Filsafat Buddhis

Buddhisme memasuki Cina dalam milenium pertama sesudah Kristus, dan ajaran itu masuk dengan baik ke dalam adat keagamaan ras kuning. Dalam pemujaan nenek moyang mereka telah lama berdoa pada arwah orang yang meninggal; sekarang mereka juga bisa berdoa untuk mereka. Buddhisme segera melebur dengan praktek-praktek tatacara yang masih bertahan dari Taoisme yang sedang mengalami kemerosotan. Agama sintetik baru ini dengan kuil-kuil ibadahnya dan upacara keagamaan yang jelas itu segera menjadi kultus yang diterima secara umum oleh bangsa Cina, Korea, dan Jepang.

Walaupun dalam beberapa hal disayangkan bahwa Buddhisme belum dibawa ke dunia sampai setelah para pengikut Gautama demikian rupa menyimpangkan tradisi dan ajaran agama itu sehingga membuat dirinya sebagai sosok ilahi, meskipun ada mitos tentang kehidupan manusiawinya ini, dihiasi seperti itu dengan sejumlah besar keajaiban, namun hal itu terbukti sangat menarik bagi para pendengar ajaran Buddhisme Mahayana atau utara.

Beberapa pengikutnya yang belakangan mengajarkan bahwa rohnya Buddha Sakyamuni kembali secara berkala ke bumi sebagai Buddha yang hidup, dengan demikian membuka jalan untuk suatu pelestarian tak terbatas patung-patung Buddha, kuil-kuil, ritual-ritual, dan mereka yang berpura-pura mengaku “Buddha yang hidup.” Dengan demikian agama besar kaum protestan India ini mendapati dirinya terikat dengan praktek-praktek yang sangat seremonial dan perkataan diulang-ulang ritualistik tersebut, praktek-praktek itu sendiri yang justru telah diperangi oleh Buddha dengan tanpa gentar, dan yang telah ia cela dengan demikian berani.

Kemajuan besar yang dibuat dalam filosofi Buddhis itu terkandung dalam pemahamannya tentang relativitas semua kebenaran. Melalui mekanisme dari hipotesis ini, pengikut-pengikut Buddha telah dapat untuk menyelesaikan dan menghubungkan perbedaan-perbedaan di dalam kitab-kitab suci agama mereka sendiri dan demikian pula perbedaan-perbedaan antara agama mereka dengan banyak agama yang lain. Diajarkan bahwa kebenaran kecil adalah untuk pikiran kecil, kebenaran besar untuk pikiran besar.

Filosofi ini juga menganggap bahwa kodrat Buddha (ilahi) itu tinggal dalam semua manusia; bahwa manusia, melalui usahanya sendiri, dapat mencapai kesadaran akan keilahian batiniah ini. Dan ajaran ini adalah satu dari presentasi paling jelas tentang kebenaran berdiamnya Pelaras yang pernah dibuat oleh suatu agama Urantia.

Tetapi suatu keterbatasan besar dalam kabar baik yang asli dari Siddharta, seperti yang ditafsirkan oleh para pengikutnya, adalah bahwa ajaran itu mengupayakan kebebasan penuh diri manusia dari semua keterbatasan kodrat manusia melalui teknik mengasingkan diri dari kenyataan yang objektif. Kesadaran diri kosmis yang sejati adalah hasil dari pengenalan kenyataan kosmis dan dengan kosmos terbatas dari energi, pikiran, dan roh, dibatasi oleh ruang dan dipengaruhi oleh waktu.

Namun meskipun upacara-upacara dan ibadah-ibadah tampak luarnya Buddhisme menjadi tercemar oleh tatacara negeri-negeri kemanapun agama itu pergi, pemerosotan ini tidak sepenuhnya menjadi persoalan dalam kehidupan filosofis para pemikir besar yang, dari waktu ke waktu, memeluk sistem pemikiran dan kepercayaan ini. Melalui lebih dari dua ribu tahun, banyak dari pemikir-pemikir terbaik Asia telah memusatkan pikiran pada masalah untuk memastikan kebenaran absolut dan kebenaran tentang Yang Absolut.

Evolusi suatu konsep tinggi tentang Yang Absolut dicapai melalui banyak saluran pemikiran dan oleh jalur-jalur penalaran yang berliku-liku. Kenaikan ke atas dari doktrin ketanpabatasan ini tidak begitu jelas didefinisikan seperti halnya evolusi konsep Tuhan dalam teologi Ibrani. Sekalipun demikian, ada beberapa tingkatan luas tertentu yang pikiran Buddhis mencapainya, menunggu sementara di situ, kemudian lewat terus pada perjalanan mereka untuk membayangkan Sumber Utama alam-alam semesta:

1. Legenda Gautama. Pada dasar dari konsep ini ada fakta historis tentang kehidupan dan ajaran Siddharta, sang pangeran nabi India. Legenda ini bertumbuh dalam mitos ketika menempuh abad demi abad dan melintasi tanah-tanah luas Asia sampai legenda itu melebihi status dari gagasan Gautama sebagai yang diterangi dan mulai mengambil sifat-sifat tambahan.

2. Banyak Buddha. Dipikirkan bahwa, jika Gautama telah datang pada bangsa India, maka, di masa lalu yang jauh dan di masa depan yang jauh, bangsa-bangsa umat manusia pastilah telah, dan pastilah akan, diberkati dengan guru-guru kebenaran yang lain. Hal ini menimbulkan ajaran bahwa ada banyak Buddha, suatu jumlah yang tak-terbatas dan tanpa batas, bahkan bahwa siapa saja dapat bercita-cita untuk menjadi satu di antaranya—untuk mencapai keilahian seorang Buddha.

3. Buddha Absolut. Pada waktu jumlah Buddha mendekati tanpa batas, perlu untuk pikiran-pikiran pada masa itu untuk menyatukan lagi konsep yang sulit ini. Sesuai dengan itu mulai diajarkan bahwa semua Buddha adalah hanya manifestasi dari suatu esensi yang lebih tinggi, suatu Yang Esa Kekal yang eksistensinya tanpa batas dan tanpa perkecualian, suatu Sumber Absolut untuk semua kenyataan. Dari sinilah, konsep Ketuhanan Buddhisme, dalam bentuk tertingginya, menjadi dipisahkan dari pribadi manusia Siddharta Gautama dan dilepas dari batasan-batasan antropomorfis (mirip manusia) yang telah menahannya dalam ikatan. Konsepsi final ini tentang Buddha Kekal itu dapat dengan baik dikenal sebagai Yang Absolut atau Mutlak, kadang-kadang bahkan sebagai AKU ADA yang tanpa batas.

Walaupun gagasan tentang Deitas Absolut ini tidak pernah mendapat dukungan populer yang besar dari bangsa-bangsa Asia, gagasan itu memampukan para intelektual di negeri-negeri itu untuk menyatukan filosofi mereka untuk mengharmoniskan kosmologi mereka. Konsep tentang Buddha Absolut ini kadang-kadang bersifat setengah pribadi, kadang-kadang sepenuhnya bukan-pribadi, bahkan suatu daya cipta yang tanpa batas. Konsep-konsep tersebut, meskipun bermanfaat untuk filsafat, namun tidak vital untuk pengembangan keagamaan. Bahkan Yahweh yang mirip manusia (antropomorfis) itu lebih besar nilai keagamaannya daripada suatu Absolut Buddhisme atau Brahmanisme yang jauh tak terbatas.

Kadang-kadang Yang Absolut bahkan dipikirkan sebagai terkandung di dalam AKU ADA yang tanpa batas. Namun spekulasi-spekulasi ini adalah hiburan dingin bagi orang banyak lapar yang rindu mendengar kata-kata janji, mendengar injil sederhana dari Salem, bahwa iman pada Tuhan akan menjamin perkenanan) ilahi dan keselamatan kekal.

12. Konsep Tuhan Buddhisme

Kelemahan besar dalam kosmologi Buddhisme adalah lipat dua: tercemarnya dengan banyak takhyul-takhyul India dan Cina, dan pengagungan Gautama, pertama sebagai yang mendapat pencerahan, dan kemudian sebagai Buddha Kekal. Sama seperti Kekristenan telah menderita dari penyerapan banyak filsafat manusia yang keliru, demikian pula Buddhisme membawa tanda manusia yang dibawanya sejak lahir. Tetapi ajaran-ajaran Gautama telah terus berkembang selama dua setengah milenium yang lalu. Konsep tentang Buddha, bagi seorang Buddhis yang mendapat pencerahan, adalah tidak lebih dari kepribadian manusia Gautama seperti konsep Yehova adalah identik dengan roh penunggu Horeb bagi seorang Kristen yang mendapat pencerahan. Sedikitnya pengistilahan, bersama dengan masih tersimpannya perasaan sentimental terhadap tata nama kuno, adalah yang sering memicu kegagalan untuk memahami makna sebenarnya dari evolusi konsep-konsep keagamaan.

Perlahan-lahan konsep tentang Tuhan, yang dibedakan dengan Yang Absolut, mulai muncul dalam Buddhisme. Sumbernya kembali dalam masa-masa awal pembedaan pengikut-pengikut Jalan Kecil dan Jalan Besar ini. Di antara cabang-cabang Buddhisme yang lebih akhir itulah bahwa dwikonsepsi tentang Tuhan dan Yang Absolut akhirnya menjadi matang. Langkah demi langkah, abad demi abad, konsep Tuhan telah berkembang, dengan ajaran-ajaran Ryonin, Honen Shonin, dan Shinran di Jepang, konsep ini akhirnya membuahkan kepercayaan akan Buddha Amida.

Di antara orang-orang percaya ini, diajarkan bahwa jiwa, pada saat mengalami kematian, boleh memilih untuk menikmati kunjungan ke Firdaus sebelum memasuki Nirvana, yang terakhir dari eksistensi. Dinyatakan bahwa keselamatan baru ini dicapai oleh percaya pada rahmat ilahi dan kasih sayang dari Amida, Tuhan dari Firdaus di barat. Dalam filosofi mereka, pengikut-pengikut Amida berpegang pada suatu Kenyataan Tanpa Batas yang melampaui semua pemahaman manusia yang terbatas; dalam agama mereka, mereka beriman pada Amida yang maha penyayang, yang demikian mengasihi dunia sehingga dia tidak akan membiarkan satu manusia yang memanggil namanya dalam iman yang benar dan dengan hati yang bersih untuk gagal dalam mencapai kebahagiaan adiluhur Firdaus.

Kekuatan besar Buddhisme adalah bahwa para penganutnya bebas untuk memilih kebenaran dari semua agama; kebebasan memilih seperti itu jarang menjadi ciri suatu keyakinan Urantia. Berkenaan dengan ini aliran Shin dari Jepang telah menjadi satu dari kelompok keagamaan yang paling progresif di dunia; aliran itu telah menghidupkan kembali semangat misionari kuno dari para pengikut Gautama dan telah mulai untuk mengirim guru-guru ke bangsa-bangsa yang lain. Kesediaan mereka untuk memakai kebenaran dari setiap dan semua sumber ini sungguh suatu kecenderungan yang patut dipuji yang muncul di antara orang-orang percaya agama selama paruh pertama abad kedua puluh setelah Kristus.

Buddhisme itu sendiri sedang mengalami suatu kebangkitan abad kedua puluh. Melalui kontak dengan Kekristenan aspek-aspek sosial Buddhisme telah sangat ditingkatkan. Keinginan untuk belajar telah dinyalakan lagi dalam hati para bhikku persaudaraan (sangha), dan penyebaran pendidikan di seluruh agama ini akan pasti memicu kemajuan-kemajuan baru dalam evolusi keagamaan.

Pada saat penulisan ini, sebagian besar Asia meletakkan harapannya pada Buddhisme. Akankah keyakinan yang mulia ini, yang telah demikian beraninya berjalan terus melalui zaman-zaman kegelapan masa lalu, sekali lagi menerima kebenaran tentang meluasnya kenyataan kosmis, seperti juga dulu murid-murid sang guru besar India itu pernah mendengarkan pemberitaan tentang kebenaran baru? Akankah agama kuno ini menanggapi sekali lagi pada rangsangan yang membangkitkan semangat dari presentasi tentang konsep-konsep baru tentang Tuhan dan Yang Absolut yang telah begitu lama dicari?

Seluruh Urantia sedang menunggu proklamasi pesan yang memuliakan dari Mikhael, tidak terhalang oleh tumpukan doktrin dan dogma dari sembilan belas abad perjumpaan dengan agama-agama yang berasal dari evolusi. Jam sedang berdentang untuk menyampaikan pada Buddhisme, pada Kekristenan, pada Hinduisme, bahkan juga pada bangsa-bangsa dari semua keyakinan, bukan injil tentang diri Yesus, tetapi kenyataan rohani yang hidup dari injilnya Yesus.

[Dipresentasikan oleh sesosok Melkisedek dari Nebadon.]

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved