Makalah 5: Hubungan Tuhan dengan Perorangan

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 5

Hubungan Tuhan dengan Perorangan

SEANDAINYA pikiran terbatas manusia tidak mampu memahami bahwa Tuhan sebagai Bapa Semesta yang demikian agung dan mulia itu dapat turun dari kediaman kekal kesempurnaan tanpa batas untuk bersekutu dengan insan manusia perorangan, maka haruslah kecerdasan yang terbatas itu meletakkan kepastian adanya persekutuan ilahi itu di atas kebenaran tentang fakta bahwa ada pecahan nyata dari Tuhan yang hidup yang tinggal di dalam akalbudi setiap manusia yang berpikiran normal dan sadar moral di Urantia. Pelaras Pikiran yang mendiami itu adalah bagian dari Ketuhanan kekal dari Bapa Firdaus. Manusia tidak perlu pergi jauh daripada pengalaman di dalam dirinya sendiri, dalam perenungan jiwa terhadap kehadiran realitas rohani ini, untuk menemukan Tuhan dan berusaha berkomunikasi dengan Dia.

Tuhan telah membagikan ketanpa-batasan dari kodrat kekal-Nya di seluruh realitas eksistensial untuk enam rekan sederajat absolutnya, tetapi Dia bisa, kapan saja, membuat kontak pribadi langsung dengan semua bagian atau fase atau jenis ciptaan melalui perantaraan pecahan-pecahan prapribadi-Nya tersebut. Dan Tuhan yang kekal itu juga masih mencadangkan untuk diri-Nya sendiri hak istimewa untuk menganugerahkan kepribadian kepada para Pencipta ilahi dan makhluk hidup di alam-alam semesta, sementara Dia juga lebih lanjut mempertahankan hak memelihara kontak langsung dan sebagai orang tua dengan semua makhluk-makhluk berpribadi ini melalui sirkuit kepribadian.

Ketidak-mampuan makhluk yang terbatas untuk mendekati Bapa yang tanpa batas itu bersifat melekat, bukan karena ketidak-pedulian Bapa, tetapi karena keterbatasan dan kendala-kendala jasmani makhluk-makhluk ciptaan itu. Tak terbayangkan besarnya perbedaan rohani antara kepribadian tertinggi yang ada di alam semesta dan golongan-golongan ciptaan cerdas yang lebih rendah. Seandainya mungkin untuk golongan kecerdasan rendah ini diangkut seketika ke hadapan Bapa itu sendiri, mereka tidak akan tahu mereka berada di sana. Mereka akan berada di sana tanpa mengetahui kehadiran Bapa Semesta, sama seperti mereka sekarang. Ada jalan yang panjang, amat panjang, di depan manusia fana sebelum dia bisa, secara konsisten dan di dalam wilayah kemungkinan agar berhak masuk ke dalam hadirat Firdaus Bapa Semesta. Secara rohani, manusia harus dialih-wujudkan berkali-kali sebelum ia dapat mencapai suatu tataran yang akan menghasilkan penglihatan rohani yang akan memungkinkan dia melihat meskipun hanya salah satu dari Tujuh Roh Master.

Bapa kita tidak dalam persembunyian, Dia tidak mengasingkan diri sesukanya. Dia telah menggerakkan sumberdaya-sumberdaya hikmat ilahi dalam suatu upaya yang tanpa henti untuk mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada anak-anak-Nya di wilayah semesta-Nya. Ada kebesaran yang tanpa batas dan kemurahan yang tak terungkapkan terkait dengan keagungan kasih-Nya yang menyebabkan Dia merindukan persekutuan dengan setiap makhluk ciptaan yang bisa memahami, mengasihi, atau mendekati Dia; oleh sebab itu keterbatasan-keterbatasan yang melekat dalam dirimu, yang tak terpisahkan dari kepribadian terbatas dan keberadaan jasmanimu, itulah yang menentukan waktu dan ruang dan keadaan dengan mana kamu bisa mencapai tujuan perjalanan kenaikan manusia dan berdiri di hadapan Bapa di pusat segala sesuatu.

Meskipun pendekatan ke hadirat Bapa di Firdaus harus menunggu kamu mencapai tingkat-tingkat terbatas tertinggi dalam kemajuan roh, kamu haruslah bersukacita karena tahu bahwa selalu ada kemungkinan untuk bersekutu langsung dengan roh Bapa yang dianugerahkan kepadamu, yang begitu erat berhubungan dengan jiwa batiniahmu dan dirimu yang sedang menjadi rohani.

Manusia-manusia di alam ruang dan waktu mungkin berbeda sekali dalam kemampuan bawaan lahiriah dan bakat kecerdasan, mereka mungkin menikmati lingkungan yang amat mendukung perkembangan sosial dan kemajuan moral, atau mereka mungkin menderita kekurangan hampir setiap bantuan manusiawi untuk pendidikan dan kemajuan seharusnya dalam seni peradaban; namun peluang-peluang kemajuan rohani dalam karier kenaikan itu setara untuk semuanya; bertambahnya tingkat wawasan rohani dan makna-makna kosmis itu dicapai cukup independen dari semua perbedaan sosiomoral yang disebabkan perbedaan lingkungan jasmani di dunia-dunia evolusioner.

Sekalipun manusia Urantia mungkin berbeda-beda dalam intelektual, sosial, ekonomi, dan bahkan peluang-peluang dan bakat-bakat moral mereka, jangan lupa bahwa karunia kemampuan rohani mereka itu seragam dan unik. Mereka semua menikmati kehadiran ilahi yang sama dari roh pemberian Bapa itu, dan mereka semua secara setara berhak mencari persekutuan pribadi intim dengan roh asal ilahi yang mendiami mereka ini, sedangkan mereka semua bisa memilih secara setara untuk menerima pimpinan rohani yang seragam dari para Monitor Misteri ini.

Bila manusia fana dengan sepenuh hati secara rohani termotivasi, dengan tanpa syarat mengabdikan diri untuk melakukan kehendak Bapa, maka, karena dia begitu pasti dan efektifnya secara rohani diperlengkapi oleh Pelaras ilahi yang mendiami itu, maka tidak mungkin gagal terbentuklah dalam pengalaman orang itu kesadaran mendalam mengenal Tuhan dan kepastian luhur bertahan hidup untuk tujuan mencari Tuhan melalui pengalaman maju menjadi lebih dan lebih seperti Dia.

Manusia itu didiami secara rohani oleh Pelaras Pikiran yang bertahan hidup. Jika batin manusia tersebut dimotivasi secara tulus dan rohani, bila jiwa manusia tersebut rindu mengenal Tuhan dan menjadi seperti Dia, secara jujur ingin melakukan kehendak Bapa, maka tidak ada pengaruh negatif dari keterasingan manusia atau kekuatan positif campur tangan apapun yang mungkin yang bisa mencegah jiwa yang termotivasi secara ilahi itu naik dengan aman ke gerbang-gerbang Firdaus.

Bapa ingin agar semua makhluk-Nya ada dalam persekutuan pribadi dengan Dia. Di Firdaus Dia memiliki sebuah tempat untuk menerima semua mereka yang status selamat dan kodrat rohani mereka memungkinkan pencapaian tersebut. Sebab itu tetapkanlah dalam filosofimu sekarang dan selamanya: Bahwa bagi setiap kamu dan semua kita, Tuhan itu bisa didekati, Bapa dapat dicapai, jalan itu terbuka; kekuatan-kekuatan kasih ilahi dan jalan-jalan serta sarana-sarana pemerintahan ilahi itu semua saling bertautan dalam upaya untuk membantu memudahkan kemajuan setiap makhluk cerdas yang layak dari setiap alam semesta menuju hadirat Bapa Semesta di Firdaus.

Fakta bahwa diperlukan waktu yang sangat lama dalam pencapaian Tuhan itu tidak berarti kehadiran dan kepribadian Yang Tanpa Batas menjadi kurang nyata. Kenaikanmu adalah bagian dari sirkuit tujuh alam semesta super, dan meskipun tak terhitung kamu beredar mengelilinginya, kamu bisa berharap, dalam roh dan dalam status, untuk terus beredar ke arah dalam. Kamu dapat yakin akan dipindahkan dari satu jagat ke jagat lain, dari sirkuit-sirkuit bagian luar terus makin mendekat ke pusat dalam, dan suatu hari nanti, jangan ragu, kamu akan berdiri dalam hadirat ilahi dan pusat itu dan melihat Dia, dikatakan secara kiasan, muka bertemu muka. Pertanyaannya adalah tentang pencapaian tingkat-tingkat rohani yang nyata dan harfiah itu; dan level-level rohani ini bisa dicapai oleh setiap makhluk yang telah didiami oleh Monitor Misteri, dan yang selanjutnya telah dilebur selamanya dengan Pelaras Pikiran itu.

Bapa tidak dalam persembunyian rohani, tetapi demikian banyak makhluk-Nya telah menyembunyikan diri mereka dalam kabut keputusan mereka yang disengaja dan selama ini telah memisahkan diri mereka dari persekutuan roh-Nya dan roh dari Putra-Nya, dengan memilih jalan mereka yang sesat dan kecanduan mereka pada kesombongan diri akan pikiran-pikiran yang tidak toleran dan sifat-sifat yang tidak rohani mereka.

Manusia fana bisa mendekat pada Tuhan dan bisa berulang kali meninggalkan kehendak ilahi itu sejauh masih tetap ada hak untuk memilih. Kebinasaan akhir manusia belum dimeteraikan sampai ia kehilangan kuasa untuk memilih kehendak Bapa. Tidak pernah hati Bapa tertutup bagi kebutuhan dan permohonan anak-anak-Nya. Hanya memang anak-anak-Nya yang menutup hati mereka selamanya ketika mereka akhirnya dan selamanya kehilangan keinginan untuk melakukan kehendak Bapa, yaitu mengenal Dia dan menjadi seperti Dia. Demikian pula takdir kekal manusia itu dipastikan ketika peleburan dengan Pelaras mengumumkan ke alam semesta, bahwa si manusia yang naik itu telah membuat pilihan final dan tidak bisa dibatalkan lagi, untuk menghidupi kehendak Tuhan.

Tuhan yang akbar membuat kontak langsung dengan manusia fana dan memberikan sebagian dari diri-Nya yang tanpa batas dan kekal serta tak terpahami itu, untuk hidup dan tinggal di dalam manusia. Tuhan telah berangkat menempuh petualangan kekal bersama manusia. Bila kamu tunduk pada pimpinan kuasa-kuasa rohani di dalam dan di seputar kamu itu, maka kamu tidak dapat gagal mencapai takdir tinggi yang ditetapkan oleh Tuhan yang pengasih sebagai sasaran alam semesta bagi para makhluk-Nya yang naik dari dunia-dunia evolusioner ruang angkasa.

Kehadiran fisik dari Yang Tanpa Batas itu adalah realitas alam semesta material. Kehadiran batin dari Deitas harus ditentukan oleh kedalaman pengalaman intelektual perorangan dan oleh tingkatan kepribadian evolusioner. Kehadiran rohani dari Keilahian itu tentu haruslah berbeda-beda dalam alam semesta. Kehadiran itu ditentukan oleh kapasitas rohani untuk penerimaan dan oleh tingkat pengabdian kehendak makhluk itu untuk melakukan kehendak ilahi.

Tuhan hidup dalam satu persatu anak-Nya yang dilahirkan roh. Para Putra Firdaus selalu mempunyai akses ke hadirat Tuhan, “di sebelah kanan Bapa,” dan semua kepribadian makhluk-Nya memiliki akses ke “pangkuan Bapa.” Hal ini mengacu ke sirkuit kepribadian, kapan saja, di mana saja, dan bagaimana saja dikontak, atau dengan kata lain memerlukan kontak dan komunikasi yang pribadi, sadar diri, dengan Bapa Semesta, apakah itu di tempat kediaman pusat atau di tempat tertentu lain, seperti di salah satu dari tujuh dunia sakral Firdaus.

Namun demikian, hadirat ilahi tidak bisa ditemukan di manapun di alam atau bahkan dalam hidup manusia yang kenal Tuhan dengan begitu penuh dan pasti, dibandingkan seperti dalam upaya komunikasimu dengan Monitor Misteri yang berdiam di dalammu, Pelaras Pikiran dari Firdaus itu. Alangkah salahnya bermimpi tentang Tuhan yang jauh di langit sementara roh Bapa Semesta itu hidup di dalam batinmu sendiri!

Karena pecahan Tuhan yang tinggal di dalammu inilah maka kamu bisa berharap, sambil kamu maju terus sesuai pimpinan rohani Pelaras, agar lebih penuh melihat kehadiran dan kekuatan perubahan dari pengaruh-pengaruh rohani lain itu yang mengelilingimu dan bersentuhan denganmu tetapi bukan berfungsi sebagai bagian integral diri kamu. Fakta bahwa kamu secara intelektual tidak menyadari akan kontak dekat dan erat dengan Pelaras di dalam ini sedikitpun bukan berarti bahwa pengalaman mulia ini tidak terbukti. Bukti persekutuan dengan Pelaras ilahi itu terletak sepenuhnya dalam kodrat dan taraf buah-buah roh yang dihasilkan dalam pengalaman hidup pribadi seorang percaya. “Dari buahnya kamu akan mengenal mereka.”

Amat sulit bagi pikiran jasmani manusia yang kurang dirohanikan, untuk mengalami kesadaran jelas akan kegiatan roh entitas ilahi seperti Pelaras Firdaus ini. Ketika jiwa yang adalah hasil karya gabungan batin dan Pelaras itu menjadi semakin ada, berkembang juga suatu fase baru kesadaran jiwa yang mampu untuk mengalami kehadiran, dan untuk mengenali pimpinan roh dan kegiatan supramaterial lain, dari Monitor Misteri itu.

Seluruh pengalaman persekutuan dengan Pelaras itu adalah sesuatu yang mencakup status moral, motivasi mental, dan pengalaman rohani. Kesadaran diri akan pencapaian seperti itu terutama, walaupun tidak secara eksklusif, terbatas pada wilayah kesadaran jiwa, tetapi bukti-buktinya bermunculan dan berlimpah dalam bentuk manifestasi buah-buah roh dalam hidup semua orang yang melakukan kontak roh batiniah seperti itu.

Meskipun para Deitas Firdaus, dari sudut pandang alam semesta, adalah satu, namun dalam hubungan rohani mereka dengan makhluk-makhluk seperti penduduk Urantia mereka juga adalah tiga pribadi yang terpisah dan berbeda. Ada perbedaan antara Oknum Trinitas dalam urusan permohonan pribadi, persekutuan, dan hubungan-hubungan erat lainnya. Dalam pengertian tertinggi, kita menyembah Bapa Semesta dan hanya Dia saja. Benar, kita dapat dan memang menyembah Bapa sebagaimana Dia terwujud dalam diri para Putra Pencipta-Nya, tetapi Bapa itulah yang disembah dan diagungkan, baik langsung ataupun tidak langsung.

Doa-doa permohonan dari semua jenisnya termasuk pada wilayah Putra Kekal dan organisasi rohani Sang Putra. Doa-doa, semua komunikasi formal, segala sesuatu kecuali pemujaan dan penyembahan pada Bapa Semesta, adalah hal-hal yang berhubungan dengan suatu alam semesta lokal; hal-hal itu umumnya tidak keluar dari wilayah kewenangan Putra Pencipta. Tetapi tak disangsikan lagi penyembahan itu disirkuitkan dan disampaikan kepada pribadi Pencipta oleh fungsi sirkuit kepribadian Bapa. Kami lebih lanjut yakin bahwa penyampaian hormat makhluk yang didiami-Pelaras itu dibantu oleh hadirat roh-Nya Bapa itu. Ada demikian banyak bukti untuk mendukung keyakinan seperti itu, dan aku tahu bahwa semua golongan pecahan Bapa itu diberi kuasa untuk menyampaikan sembah sejati dari subjek manusia mereka itu dengan memuaskan dalam hadirat Bapa Semesta. Tak diragukan lagi Pelaras juga menggunakan kanal-kanal komunikasi prapribadi langsung dengan Tuhan, dan demikian pula mereka mampu memanfaatkan sirkuit gravitasi-roh dari Putra Kekal.

Penyembahan itu adalah karena hal itu sendiri berharga untuk dilakukan; doa mengandung unsur kepentingan diri atau makhluk; itulah dia perbedaan besar antara penyembahan dan doa. Dalam penyembahan yang sejati sama sekali tidak ada permohonan diri atau unsur kepentingan pribadi yang lain; kita semata-mata menyembah Tuhan karena apa yang kita pahami tentang Dia. Penyembahan tidak memohonkan apapun dan tidak mengharapkan apapun bagi si penyembah. Kita tidak menyembah Bapa karena apapun yang akan kita peroleh dari pengagungan itu; kita menghaturkan hormat dan sembah sebagai reaksi alami dan spontan pada kepribadian Bapa yang tiada duanya dan karena kodrat-Nya yang patut dikasihi dan sifat-sifat-Nya yang layak dikagumi.

Pada saat unsur kepentingan diri menyusup masuk ke dalam penyembahan, seketika itu juga ibadah itu berpindah dari penyembahan kepada doa, dan lebih tepatnya harus ditujukan kepada pribadi Putra Kekal atau Putra Pencipta. Tetapi dalam pengalaman keagamaan praktis tidak ada alasan bahwa doa tidak ditujukan kepada Tuhan Sang Bapa sebagai bagian dari penyembahan yang sejati.

Ketika kamu berurusan dengan hal-hal praktis hidupmu sehari-hari, kamu berada di tangan kepribadian-kepribadian roh yang berasal dari Sumber dan Pusat Ketiga; kamu bekerjasama dengan agen-agen dari Pelaku Bersama. Maka demikianlah: kamu menyembah Tuhan; berdoa, dan bersekutu dengan, Sang Putra; serta melaksanakan rincian-rincian perjalananmu di bumi dalam hubungan dengan kecerdasan-kecerdasan Roh Tanpa Batas yang beroperasi di duniamu dan di seluruh alam semestamu.

Para Putra Pencipta atau Putra Daulat yang berkuasa atas takdir alam-alam semesta lokal itu berdiri di tempat Bapa Semesta maupun Putra Kekal Firdaus. Dalam nama Bapa, para Putra Alam Semesta ini menerima sembah hormat dan mendengarkan doa permohonan makhluk-makhluk di dalam alam ciptaan mereka masing-masing. Bagi anak-anak alam semesta lokal, untuk semua maksud dan tujuan praktis, sosok Putra Mikhael itu adalah Tuhan. Dialah personifikasi alam semesta lokal dari Bapa Semesta dan Putra Kekal. Roh Tanpa Batas menjaga kontak pribadi dengan anak-anak di alam-alam ini melalui Roh-roh Alam Semesta, yaitu rekan-rekan administratif dan kreatif para Putra Pencipta Firdaus.

Penyembahan yang tulus mengandung arti mobilisasi semua kuasa dari kepribadian manusia di bawah dominasi jiwa yang berkembang itu dan tunduk pada pengarahan ilahi dari Pelaras Pikiran. Batin dengan keterbatasan-keterbatasan jasmani itu tidak pernah menjadi sangat sadar akan makna sesungguhnya dari penyembahan yang sejati. Kesadaran manusia tentang realitas pengalaman penyembahan itu terutama ditentukan oleh status jiwa bakanya yang berkembang. Pertumbuhan rohani jiwa itu berlangsung sepenuhnya independen dari kesadaran diri intelektual.

Pengalaman penyembahan terdiri dalam upaya mendalam dari Pelaras yang dipertunangkan itu untuk mengkomunikasikan kepada Bapa ilahi mengenai kerinduan-kerinduan tak terungkapkan dan cita-cita tak terucapkan dari jiwa manusia—yaitu ciptaan gabungan antara jiwa manusia yang mencari-Tuhan dan sang Pelaras baka yang mewahyukan-Tuhan. Oleh sebab itu, penyembahan adalah tindakan batin manusia yang menyetujui upaya perohanian dirinya itu, di bawah bimbingan roh yang terkait, untuk berkomunikasi dengan Tuhan sebagai anak imani Bapa Semesta. Batin manusia setuju untuk menyembah; jiwa baka merindukan dan memulai penyembahan; kehadiran Pelaras ilahi memimpin penyembahan itu untuk kepentingan batin manusia dan jiwa baka itu. Kesimpulan akhirnya, penyembahan yang sejati menjadi suatu pengalaman yang diwujudkan pada empat level kosmis: intelektual, morontial, spiritual, dan personal—yaitu kesadaran batin, jiwa, dan roh, dan penyatuan hal-hal ini dalam kepribadian.

Moralitas dari agama-agama evolusi mendorong manusia maju dalam mencari Tuhan melalui motif kuasa rasa takut. Agama-agama wahyu memikat manusia untuk mencari Tuhan yang pengasih itu karena mereka rindu untuk menjadi seperti Dia. Namun agama bukan semata-mata perasaan pasif “ketergantungan mutlak” dan “kepastian selamat”; agama adalah pengalaman hidup dan dinamis dalam pencapaian keilahian yang didasarkan pada layanan kemanusiaan.

Layanan yang besar dan segera dari agama yang benar itu adalah pembentukan suatu kesatuan yang langgeng dalam pengalaman manusia, kedamaian yang abadi dan kepastian yang mendalam. Bagi manusia primitif, bahkan politeisme itupun adalah penyatuan relatif terhadap berkembangnya konsep Deitas; politeisme adalah monoteisme yang sedang dibentuk. Cepat atau lambat, Tuhan itu pada akhirnya akan dipahami sebagai realitas nilai-nilai, substansi makna-makna, dan kehidupan kebenaran.

Tuhan bukan hanya penentu tujuan akhir; Dia itulah tujuan kekalnya manusia. Semua kegiatan bukan keagamaan manusia berusaha membengkokkan alam semesta ke arah layanan menyimpang untuk diri sendiri; tetapi individu yang benar-benar relijius berusaha untuk menyamakan diri dengan alam semesta dan kemudian untuk mengabdikan kegiatan-kegiatan diri yang dipersatukan itu pada pelayanan keluarga sesama makhluk alam semesta, manusia maupun supramanusia.

Wilayah filsafat dan seni itu berada di antara kegiatan nonrelijius dan relijius dari diri manusia. Melalui seni dan filsafat, manusia yang cenderung berpikiran jasmani itu dibujuk masuk ke dalam perenungan realitas-realitas rohani dan nilai-nilai alam semesta yang bermakna kekal.

Semua agama mengajarkan penyembahan pada Deitas dan suatu doktrin untuk keselamatan manusia. Agama Buddha menjanjikan keselamatan dari penderitaan, damai yang tidak berakhir; agama Yahudi menjanjikan keselamatan dari kesulitan, kemakmuran didasarkan pada perbuatan benar; agama orang Yunani menjanjikan keselamatan dari ketidak-harmonisan, keburukan, melalui perwujudan keindahan; Kekristenan menjanjikan keselamatan dari dosa, kesucian; agamanya pengikut Muhammad menyediakan kebebasan dari standar moral ketat Yudaisme dan Kekristenan. Agamanya Yesus adalah keselamatan dari diri, kelepasan dari jahatnya keterasingan makhluk dalam waktu dan kekekalan.

Orang Ibrani mendasarkan agama mereka pada kebaikan; orang Yunani pada keindahan; kedua agama itu mencari kebenaran. Yesus mewahyukan Tuhan yang kasih, dan kasih itu mencakup seluruh kebenaran, keindahan, dan kebaikan.

Pengikut Zoroastrian memiliki suatu agama moral; orang Hindu agama metafisika; Konfusianis suatu agama etika. Yesus menghidupi agama pelayanan. Semua agama ini bernilai dalam hal mereka adalah pendekatan-pendekatan yang absah menuju pada agama Yesus. Agama ditujukan untuk menjadi realitas penyatuan rohani untuk semua yang baik, indah, dan benar dalam pengalaman manusia.

Agama Yunani memiliki kata kunci “Kenalilah dirimu”; orang Ibrani memusatkan ajaran mereka pada “Kenalilah Allahmu”; orang Kristen mengabarkan injil yang bertujuan pada “pengetahuan tentang Tuhan Yesus Kristus”; Yesus memberitakan kabar baik tentang “Mengenal Tuhan, dan dirimu sendiri sebagai anak Tuhan.” Konsep-konsep yang berbeda-beda tentang maksud tujuan agama itu menentukan sikapnya individu dalam berbagai situasi kehidupan dan memberi pertanda tentang kedalaman penyembahan dan seperti apa kebiasaan doa pribadinya. Status rohani dari setiap agama bisa ditentukan oleh seperti apa doa-doanya.

Konsep Tuhan yang semimanusia dan cemburuan itu adalah transisi yang tidak bisa dihindari antara politeisme dan monoteisme yang agung. Suatu antropomorfisme yang dimuliakan adalah tingkat pencapaian tertinggi agama yang murni evolusioner. Kekristenan telah mengangkat konsep antropomorfisme dari ideal manusia menuju konsep transenden dan ilahi tentang pribadi Kristus yang dimuliakan. Dan inilah antropomorfisme tertinggi yang manusia dapat bayangkan.

Konsep Kristen tentang Tuhan adalah upaya untuk menggabungkan tiga ajaran terpisah:

1. Konsep Ibrani—Tuhan adalah pembela nilai-nilai moral, Tuhan yang adil dan benar.

2. Konsep Yunani—Tuhan adalah pemersatu, Tuhan kebijaksanaan.

3. Konsep Yesus—Tuhan adalah teman yang hidup, Bapa yang pengasih, kehadiran ilahi.

Oleh sebab itu jelaslah bahwa teologi Kristen yang campuran itu menghadapi kesulitan besar dalam mencapai konsistensi. Kesulitan ini diperparah lagi oleh fakta bahwa doktrin Kristen awal itu umumnya didasarkan pada pengalaman keagamaan pribadi dari tiga orang yang berbeda: Philo dari Aleksandria, Yesus dari Nazaret, dan Paulus dari Tarsus.

Dalam studi tentang kehidupan keagamaan Yesus, pandanglah dia secara positif. Jangan terlampau banyak memikirkan tentang ketidak-berdosaannya dibandingkan dengan perbuatan benarnya, pelayanan kasihnya. Yesus meningkatkan kasih pasif yang diungkapkan dalam konsep Ibrani tentang Bapa surgawi menuju kasih sayang aktif yang lebih tinggi dan kasih sayang mengasihi makhluk dari Tuhan yang adalah Bapa setiap orang, sekalipun orang berdosa.

Moralitas berasal dari nalar kesadaran diri; hal itu suprahewani tetapi sepenuhnya berasal dari evolusi. Dalam perjalanannya, evolusi manusia mencakup semua kemampuan yang mendahului penganugerahan Pelaras dan pada pencurahan Roh Kebenaran. Tetapi pencapaian tingkat-tingkat moralitas itu tidak membebaskan manusia dari perjuangan-perjuangan nyata hidup manusia. Lingkungan fisik manusia memerlukan perjuangan untuk tetap hidup; lingkungan sosial membutuhkan penyesuaian tingkah laku; situasi moral memerlukan pembuatan keputusan dalam wilayah akal (nalar) yang tertinggi; pengalaman rohani (setelah menyadari adanya Tuhan) menuntut agar manusia mengenal Dia dan setulusnya berjuang menjadi seperti Dia.

Agama tidak didasarkan pada fakta-fakta ilmu pengetahuan, tanggung jawab masyarakat, asumsi-asumsi filsafat, atau tugas-tugas moralitas yang tersirat. Agama adalah suatu wilayah independen tanggapan manusia terhadap situasi-situasi kehidupan dan senantiasa tampak pada semua tahap perkembangan manusia yang pascamoral. Agama bisa meresapi seluruh empat level realisasi nilai dan menikmati persekutuan alam semesta: level pelestarian hidup fisik atau material; level persekutuan sosial atau emosional; level akal budi moral atau kewajiban; level spiritual akan kesadaran persekutuan semesta melalui penyembahan ilahi.

Para ilmuwan pencari-fakta memahami Tuhan sebagai Sebab Pertama, Tuhan kekuatan. Artis yang emosional memandang Tuhan sebagai ideal keindahan, Tuhan estetika. Filsuf pemikir kadang-kadang cenderung mendalilkan Tuhan kesatuan semesta, bahkan sebagai Deitas panteistik. Para agamawan iman percaya pada Tuhan yang memelihara keselamatan, Bapa di surga, Tuhan yang kasih.

Perilaku moral selalu menjadi pendahulu agama yang dikembangkan dan bahkan bagian dari agama yang diwahyukan, tetapi tak pernah menjadi keseluruhan pengalaman keagamaan. Pelayanan sosial adalah hasil dari pemikiran moral dan hidup keagamaan. Moralitas tidak secara biologis membawa pada tingkat-tingkat pengalaman keagamaan rohani yang lebih tinggi. Kekaguman pada yang indah abstrak itu bukan penyembahan pada Tuhan; penghormatan akan alam ataupun pengagungan akan kesatuan itu juga bukan penyembahan Tuhan.

Agama evolusioner adalah induk bagi ilmu pengetahuan, seni, dan filsafat yang mengangkat manusia ke tingkat penerimaan pada agama yang diwahyukan, termasuk penganugerahan Pelaras dan kedatangan Roh Kebenaran. Gambar evolusioner keberadaan manusia itu mulai dan berakhir dengan agama, meskipun kualitas agama yang amat berbeda, yang satu evolusional dan biologis, satunya lagi pewahyuan dan berkala. Maka dengan demikian, meskipun agama itu normal dan alami bagi manusia, agama itu juga opsional. Manusia tidak harus menjadi relijius melawan kehendaknya.

Pengalaman keagamaan, karena pada intinya spiritual, maka tidak pernah akan dipahami sepenuhnya oleh pikiran material; sebab itulah diperlukan fungsi teologi, psikologi agama. Doktrin inti tentang kesadaran manusia akan Tuhan menciptakan paradoks dalam pemahaman terbatas manusia. Nyaris tidak mungkin bagi logika manusia dan nalar terbatas untuk mengharmonisasikan konsep imanensi ilahi, Tuhan yang ada di dalam dan bagian dari setiap individu, dengan gagasan tentang transendensi Tuhan, dominasi ilahi terhadap alam semesta dari segala alam-alam semesta. Dua konsep inti Deitas ini harus disatukan dalam pemahaman-iman mengenai konsep transendensi Tuhan yang berpribadi dan dalam kesadaran akan kehadiran pecahan Tuhan yang mendiami itu, agar dapat membenarkan penyembahan yang cerdas dan memvalidasi pengharapan akan keselamatan. Kesulitan-kesulitan dan paradoks-paradoks agama itu melekat dalam fakta bahwa realitas agama itu sama sekali melampaui kapasitas manusia fana untuk pemahaman secara intelektual.

Manusia memperoleh tiga kepuasan besar dari pengalaman keagamaan, bahkan selama dalam masa-masa perjalanan sementaranya di bumi:

1. Secara intelektual dia memperoleh kepuasan tentang suatu kesadaran manusiawi yang lebih dipersatukan.

2. Secara filosofis dia menikmati pembuktian terhadap ideal-idealnya tentang nilai-nilai moral.

3. Secara rohani dia berkembang pesat dalam pengalaman pertemanan ilahi, dalam kepuasan rohani dari penyembahan yang sejati.

Kesadaran akan Tuhan, sebagaimana yang dialami oleh seorang manusia fana yang berevolusi di alam-alam, haruslah terdiri dari tiga faktor berbeda, tiga level kesadaran realitas yang berbeda. Pertama, ada kesadaran batin—pemahaman akan ide tentang Tuhan. Berikutnya kesadaran jiwa—kesadaran akan ideal tentang Tuhan. Terakhir, terbitlah kesadaran roh—kesadaran akan realitas roh Tuhan. Melalui penyatuan faktor-faktor kesadaran ilahi ini, tidak peduli bagaimanapun tidak sempurnanya, kepribadian manusia setiap saat memperluas semua level sadar dengan kesadaran akan kepribadian Tuhan. Dalam diri manusia fana yang telah mencapai Korps Finalitas semuanya ini akan menuju pada kesadaran akan supremasi Tuhan dan selanjutnya bisa mengakibatkan kesadaran akan ultimasi Tuhan, suatu fase dari suprakesadaran absonit (melampaui terbatas) Bapa Firdaus.

Pengalaman kesadaran akan Tuhan itu tetap sama dari generasi ke generasi, tetapi dengan tiap majunya zaman dalam pengetahuan manusia, konsep filosofis dan definisi teologis tentang Tuhan harus berubah. Pengetahuan akan Tuhan, kesadaran beragama, adalah suatu realitas alam semesta, tetapi tak peduli betapa absah (nyata) pengalaman keagamaan itu, hal itu harus bersedia tunduk pada kritik cerdas dan penafsiran filosofis yang masuk akal; pengalaman itu tidak boleh berupaya menjadi sesuatu yang terpisah dalam totalitas pengalaman manusia.

Keselamatan kekal kepribadian itu sepenuhnya bergantung pada pemilihan batin manusia fana, yang keputusan-keputusannya menentukan potensi keselamatan jiwa yang baka itu. Ketika batin itu percaya Tuhan dan jiwa itu mengenal Tuhan, dan ketika, bersama dengan Pelaras yang memelihara, mereka semua menginginkan Tuhan, maka keselamatan itu dipastikan. Keterbatasan intelek, kekurangan pendidikan, kerugian budaya, kemelaratan status sosial, bahkan rendahnya standar moralitas manusiawi yang dihasilkan karena kurangnya keunggulan pendidikan, budaya, dan sosial, semua tidak bisa membuat kehadiran roh ilahi itu tidak berlaku dalam individu yang percaya, meskipun ia tidak beruntung dan terkendala secara manusiawi. Berdiamnya Monitor Misteri itu merupakan permulaan lahirnya dan menjamin kemungkinan untuk potensi pertumbuhan dan keselamatan jiwa yang baka itu.

Kemampuan para orang tua manusia untuk memiliki keturunan itu tidak dilandaskan pada status pendidikan, budaya, sosial, atau ekonomi mereka. Penyatuan faktor-faktor keorang-tuaan di bawah kondisi-kondisi yang alami itu sudah cukup untuk menghasilkan keturunan. Batin manusia mengamati apa yang benar dan salah, dan memiliki kapasitas untuk menyembah Tuhan, dalam kesatuan dengan Pelaras ilahi, dan itulah semua yang diperlukan dalam manusia itu untuk memulai dan memupuk pembuatan jiwa baka yang memiliki kualitas selamat (bertahan hidup), bila individu yang dikaruniai roh tersebut mencari Tuhan dan secara tulus ingin menjadi seperti Dia, secara tulus memilih melakukan kehendak Bapa di surga.

Bapa Semesta adalah Tuhan kepribadian-kepribadian. Wilayah kepribadian alam semesta, dari status kepribadian manusia fana dan jasmani yang terendah sampai pribadi-pribadi tertinggi dengan martabat pencipta dan status ilahi, semua memiliki pusat dan kelilingnya dalam Bapa Semesta. Tuhan Sang Bapa adalah pemberi dan pelestari setiap kepribadian. Dan Bapa Firdaus itu demikian pula adalah tujuan akhir semua kepribadian terbatas yang sepenuh hati memilih untuk melakukan kehendak ilahi, mereka yang mengasihi Tuhan dan rindu menjadi seperti Dia.

Kepribadian adalah salah satu dari misteri yang tak terpecahkan di alam-alam semesta. Kami mampu membentuk konsep memadai tentang faktor-faktor yang masuk dalam penyusunan berbagai golongan dan tingkat kepribadian, namun kami tidak dapat sepenuhnya memahami apa sesungguhnya kepribadian itu sendiri. Kami jelas mengenali banyak faktor, yang jika disatukan bersama, membentuk wahana (kendaraan) untuk kepribadian manusia, tetapi kami tidak sepenuhnya memahami apa itu dan makna penting suatu kepribadian yang terbatas tersebut.

Kepribadian itu potensial dalam semua makhluk yang memiliki kemampuan batin, mencakup dari minimum kesadaran diri sampai maksimum kesadaran Tuhan. Tetapi kemampuan batin itu itu sendiri bukan kepribadian, bukan pula roh atau energi fisik. Kepribadian adalah kualitas dan nilai dalam realitas kosmis itu yang secara eksklusif dikaruniakan oleh Tuhan Bapa ke atas sistem-sistem hidup yang dibentuk dari asosiasi dan koordinasi energi-energi materi, batin, dan roh. Kepribadian itu juga bukan pencapaian progresif. Kepribadian bisa material atau spiritual, tetapi hanya bisa ada kepribadian atau tanpa kepribadian. Apa yang selain-berpribadi itu tidak pernah mencapai tingkatan berpribadi, kecuali oleh tindakan langsung dari Bapa Firdaus.

Penganugerahan kepribadian itu adalah fungsi eksklusif dari Bapa Semesta, personalisasi sistem-sistem energi hidup yang Dia karuniai dengan sifat-sifat kesadaran kreatif yang relatif dan kendali kehendak bebas darinya. Tidak ada kepribadian terpisah dari Tuhan Bapa, dan tidak ada kepribadian yang ada kecuali karena Tuhan Bapa. Sifat-sifat (atribut-atribut) mendasar diri manusia, demikian pula inti Pelaras absolut dari kepribadian manusia itu, adalah anugerah-anugerah dari Bapa Semesta, bertindak dalam wilayah pribadi pelayanan kosmis-Nya secara eksklusif.

Pelaras yang berstatus prapribadi mendiami banyak jenis makhluk fana, dengan demikian menjamin agar makhluk yang sama ini bisa selamat melewati kematian fana untuk menjadi pribadi sebagai makhluk morontia dengan potensi untuk pencapaian roh yang terakhir. Karena, ketika batin makhluk yang dikaruniai kepribadian tersebut didiami oleh suatu pecahan dari roh Tuhan yang kekal, anugerah prapribadi dari Bapa yang berpribadi itu, maka memang kepribadian terbatas ini memiliki potensi untuk yang ilahi dan kekal dan berpeluang menuju takdir sama dengan Yang Mahaakhir, bahkan menjangkau sampai ke realisasi Yang Absolut.

Kapasitas untuk kepribadian ilahi itu melekat dalam Pelaras yang prapribadi; kapasitas untuk kepribadian manusia itu potensial dalam kemampuan batin-kosmisnya manusia itu. Tetapi kepribadian berpengalaman dari manusia fana itu tidak dapat diamati sebagai realitas yang aktif dan fungsional sebelum wahana kehidupan jasmani itu disentuh oleh keilahian yang membebaskan dari Bapa Semesta, sehingga diluncurkan di atas lautan pengalaman sebagai kepribadian yang sadar diri dan (secara relatif) menentukan nasib sendiri serta berdaya cipta sendiri. Diri material (jasmani) itu benar-benar dan secara lengkap adalah pribadi.

Diri jasmani itu memiliki kepribadian dan identitas, identitas yang sementara; roh Pelaras yang prapribadi juga mempunyai identitas, identitas yang kekal. Kepribadian jasmani dan roh prakepribadian ini mampu untuk menyatukan sifat-sifat kreatif mereka sedemikian sehingga melahirkan identitas yang bertahan hidup untuk jiwa baka itu.

Setelah menyediakan untuk pertumbuhan jiwa baka itu dan setelah membebaskan diri batiniah manusia dari belenggu ketergantungan mutlak pada sebab-akibat asal-usulnya, lalu Bapa menyingkir. Sekarang, manusia telah dibebaskan dari belenggu-belenggu respons sebab-akibat, setidaknya berkaitan pada takdir kekal, dan perlengkapan telah disediakan untuk pertumbuhan diri baka, jiwa itu, maka tinggal untuk manusia itu sendiri untuk menghendaki penciptaan atau menghambat penciptaan diri yang bertahan hidup dan kekal ini, dan hal ini terserah pilihan manusia. Tidak ada sosok, kekuatan, pencipta, atau perwakilan di segenap alam semesta luas ini yang bisa ikut campur pada taraf apapun dengan kedaulatan mutlaknya kehendak bebas manusia, selagi hal itu beroperasi di dalam wilayah-wilayah pilihan, mengenai tujuan kekal dari kepribadian manusia yang memilih itu. Sehubungan dengan keselamatan kekal, Tuhan telah menetapkan kedaulatan kehendak manusia yang jasmani dan fana itu, dan ketetapan itu mutlak.

Penganugerahan kepribadian makhluk memberikan pembebasan relatif dari tanggapan seperti budak terhadap sebab-akibat asal-usul, dan kepribadian-kepribadian dari semua sosok moral seperti itu, yang berevolusi atau selain itu, adalah berpusat dalam kepribadian Bapa Semesta. Mereka selalu ditarik ke arah hadirat Firdaus-Nya oleh kekerabatan kehidupan yang menyusun lingkaran keluarga dan jaringan persaudaraan yang luas dan menyeluruh dari Tuhan yang kekal. Ada kekerabatan spontanitas ilahi dalam semua kepribadian.

Sirkuit kepribadian di alam-alam semesta itu dipusatkan dalam pribadi Bapa Semesta, dan Bapa Firdaus itu secara pribadi sadar akan, dan dalam hubungan pribadi dengan, semua kepribadian di semua tingkat keberadaan yang sadar diri. Dan kesadaran kepribadian dari semua ciptaan ini ada secara independen dari misi para Pelaras Pikiran.

Seperti halnya semua gravitasi disirkuitkan di Pulau Firdaus, seperti halnya semua batin disirkuitkan dalam Pelaku Bersama, dan semua roh dalam Putra Kekal, demikian pula semua kepribadian disirkuitkan dalam hadirat pribadi Bapa Semesta, dan sirkuit ini dengan tanpa salah mengirimkan penyembahan dari semua kepribadian kepada Kepribadian yang Orisinal dan Kekal itu.

Mengenai kepribadian yang tidak didiami Pelaras: Sifat bebas-memilih itu juga dikaruniakan oleh Bapa Semesta, dan pribadi-pribadi itu demikian pula dirangkul dalam sirkuit besar kasih ilahi, sirkuit kepribadian Bapa Semesta. Tuhan menyediakan pilihan berdaulat untuk semua kepribadian yang sejati. Tidak ada makhluk berpribadi yang dapat dipaksa masuk ke dalam petualangan abadi; gerbang kekekalan terbuka hanya sebagai tanggapan pada pilihan kehendak bebas dari anak-anak berkehendak bebas dari Tuhan kehendak bebas.

Dan inilah yang merupakan upayaku untuk menyampaikan hubungan antara Tuhan yang hidup dengan anak-anak waktu. Dan ketika semua telah dikatakan dan dilakukan, aku tidak bisa berbuat yang lebih membantu lagi kecuali mengulang lagi bahwa Tuhan adalah Bapa alam semestamu, dan kamu semua adalah anak-anak planet-Nya.

[Ini adalah tulisan yang kelima dan terakhir dari rangkaian tulisan yang menyajikan cerita tentang Bapa Semesta oleh sesosok Konselor Ilahi dari Uversa.]

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved