Makalah 118: Mahatinggi dan Mahaakhir—Ruang dan Waktu

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 118

Mahatinggi dan Mahaakhir—Ruang dan Waktu

MENGENAI beberapa kodrat (sifat dasar) Deitas, dapat dikatakan bahwa:

1. Bapa itu diri yang ada-sendiri.

2. Putra itu diri yang ada-bersama.

3. Roh itu diri yang ada-gabungan.

4. Yang Mahatinggi adalah diri yang berpengalaman-berevolusi.

5. Yang Lipat Tujuh adalah keilahian yang membagikan diri.

6. Yang Mahaakhir adalah diri yang berpengalaman-transendental.

7. Yang Absolut adalah diri berpengalaman-eksistensial.

Meskipun Tuhan Lipat Tujuh itu sangat diperlukan untuk pencapaian evolusi Yang Mahatinggi, Yang Mahatinggi juga sangat diperlukan untuk pada akhirnya kemunculan Yang Mahaakhir. Kehadiran rangkap dua Yang Mahatinggi dan Yang Mahaakhir itu membentuk ikatan dasar Deitas yang subabsolut dan turunan, karena mereka secara saling tergantung saling melengkapi dalam pencapaian takdir. Bersama-sama mereka merupakan jembatan pengalaman yang menghubungkan permulaan-permulaan dan penyelesaian-penyelesaian semua pertumbuhan kreatif dalam alam semesta master.

Pertumbuhan kreatif itu tidak berakhir tetapi selalu memuaskan, tanpa akhir dalam tarafnya tetapi selalu diselingi oleh saat-saat yang memuaskan kepribadian untuk pencapaian tujuan sementara yang berfungsi secara efektif sebagai pengantar-pengantar mobilisasi kepada petualangan baru dalam pertumbuhan kosmis, eksplorasi alam semesta, dan pencapaian Deitas.

Meskipun domain matematika dikelilingi oleh keterbatasan-keterbatasan kualitatif, namun matematika itu memang memberikan pada pikiran terbatas dengan suatu dasar konseptual untuk merenungkan infinitas atau ketanpabatasan itu. Tidak ada batasan kuantitatif pada angka-angka, bahkan dalam pemahaman pikiran terbatas. Tidak peduli seberapa besarpun angka yang dipikirkan, kamu selalu dapat membayangkan satu lagi yang bisa ditambahkan. Dan juga, kamu dapat memahami bahwa hal itu adalah ketanpabatasan, karena tidak peduli berapa kalipun kamu mengulangi penambahan pada angka ini, selalu masih ada satu lagi yang bisa ditambahkan.

Pada saat yang sama, deret-deret tak terhingga dapat ditotalkan pada suatu titik tertentu, dan total ini (lebih tepatnya, suatu subtotal) memberikan kepenuhan dari manisnya pencapaian tujuan untuk pribadi tertentu pada waktu dan status tertentu. Namun cepat atau lambat, pribadi yang sama ini mulai lapar dan merindukan tujuan-tujuan yang baru dan lebih besar, dan petualangan pertumbuhan seperti itu selamanya akan datang dalam kepenuhan waktu dan siklus-siklus kekekalan.

Setiap era alam semesta yang berturut-turut itu adalah ruang depan dari era pertumbuhan kosmis yang berikutnya, dan masing-masing zaman alam semesta menyediakan tujuan langsung untuk semua tahap sebelumnya. Havona, dalam dan dari dirinya sendiri, adalah ciptaan yang sempurna, namun yang terbatas-kesempurnaan; kesempurnaan Havona, yang meluas keluar ke alam-alam semesta super yang berevolusi itu, menemukan tidak hanya takdir kosmis tetapi juga pembebasan dari keterbatasan-keterbatasan keberadaan pra-evolusi.

1. Waktu dan Kekekalan

Akan bermanfaat bagi orientasi kosmisnya manusia untuk mencapai semua kemungkinan pemahaman mengenai hubungan Deitas dengan kosmos. Meskipun Deitas absolut itu kekal dalam kodratnya, para Tuhan itu terkait dengan waktu sebagai suatu pengalaman dalam kekekalan. Dalam alam-alam semesta yang evolusioner, kekekalan adalah keabadian yang sementara—sekarangyang abadi.

Kepribadian makhluk fana bisa menjadi kekal melalui identifikasi diri (penyamaan diri) dengan roh yang mendiaminya melalui teknik memilih untuk melakukan kehendak Bapa. Konsekrasi (pengabdian) kehendak tersebut sama saja dengan realisasi dari realitas-kekekalan maksud. Hal ini berarti bahwa maksud dari makhluk itu telah menjadi dipastikan tetap berkenaan dengan urutan peristiwa; dengan kata lain, bahwa urutan peristiwa akan menyaksikan tidak adanya perubahan dalam maksud makhluk itu. Satu juta atau satu milyar peristiwa tidak ada bedanya. Angka telah berhenti memiliki makna berkenaan dengan maksud maksud makhluk itu. Demikianlah pilihan makhluk plus pilihan Tuhan mengakibatkan terjadinya realitas-realitas kekal, yaitu persatuan tanpa akhir antara roh Tuhan dan kodrat manusia, dalam layanan kekal dari anak-anak Tuhan dan dari Bapa Firdaus mereka.

Ada suatu hubungan langsung antara kematangan dan satuan kesadaran waktu dalam suatu kecerdasan tertentu. Satuan waktu mungkin satu hari, satu tahun, atau periode yang lebih lama, namun tidak bisa dihindarkan hal itu adalah kriteria dengan mana diri sadar itu mengevaluasi keadaan-keadaan hidup, dan dengan mana kecerdasan yang memahami hal itu mengukur dan mengevaluasi fakta-fakta keberadaan yang sementara.

Pengalaman, kebijaksanaan, dan penilaian adalah seiring dengan pemanjangan satuan waktu dalam pengalaman manusia. Ketika pikiran manusia menghitung mundur ke masa lalu, pikiran itu mengevaluasi pengalaman masa lalu agar membuahkan hasil untuk situasi sekarang. Ketika pikiran menjangkau ke masa depan, pikiran itu mencoba untuk mengevaluasi pengaruh masa depan dari tindakan yang mungkin. Kemudian setelah memperhitungkan dengan pengalaman maupun kebijaksanaan, kehendak manusia menggunakan penilaian-keputusan dalam masa sekarang, dan rencana tindakan yang lahir dari masa lalu dan masa depan tersebut menjadi ada.

Dalam kematangan diri yang berkembang itu, masa lalu dan masa depan itu dibawa bersama-sama untuk menerangi makna sebenarnya masa kini. Ketika diri itu menjadi dewasa, diri itu menjangkau semakin jauh kembali ke masa lalu untuk mendapat pengalaman, sementara prakiraan kebijaksanaannya berusaha untuk menembus semakin dalam ke masa depan yang belum diketahui. Dan sementara diri yang memikirkan itu memperluas jangkauan ini semakin lebih jauh ke masa lalu maupun masa depan, demikian pula penilaian menjadi semakin kurang bergantung pada masa kini yang sesaat. Dengan cara ini keputusan-aksi mulai lepas dari belenggu masa kini yang bergerak, sementara mulai mengambil aspek-aspek pentingnya masa lalu-masa depan.

Kesabaran digunakan oleh orang-orang tertentu yang satuan-satuan waktunya pendek; kedewasaan sejati melampaui kesabaran dengan suatu ketekunan yang lahir dari pemahaman yang sebenarnya.

Menjadi dewasa adalah hidup lebih intens (giat) dalam masa kini, namun pada saat yang sama melepaskan diri dari batasan-batasan masa kini. Rencana untuk kedewasaan, yang didasarkan atas pengalaman masa lalu, sedang menjadi ada dalam masa kini dengan cara seperti itu sehingga meningkatkan nilai-nilai masa depan.

Satuan waktunya kebelum-dewasaan itu mengkonsentrasikan nilai-makna ke dalam masa kini dalam cara demikian rupa sehingga menceraikan masa kini dari hubungan sebenarnya dengan yang bukan-masa-kini—yaitu masa lalu dan masa depan. Satuan waktu kedewasaan itu diperbandingkan sedemikian sehingga mengungkapkan hubungan sederajat dari masa lalu-kini-depan sehingga diri itu mulai mendapatkan wawasan tentang keutuhan peristiwa, mulai untuk melihat bentang waktu dari perspektif panorama dari cakrawala yang diperluas, mungkin mulai menduga tentang kontinum kekal tak berawal, tak berakhir, yang potongan-potongannya itu disebut waktu.

Pada tingkat-tingkat yang tanpa batas dan yang absolut, momen masa kini itu memuat semua dari masa lalu serta semua masa depan. AKU ADA menandakan juga AKU TELAH ADA dan AKU AKAN ADA. Dan hal ini merupakan konsep terbaik kami mengenai kekekalan dan yang kekal.

Pada tingkat absolut dan kekal, realitas potensial adalah sama bermaknanya seperti realitas aktual. Hanya pada tingkat terbatas dan pada makhluk yang terbatas-waktu tampaknya memang ada perbedaan yang besar seperti itu. Bagi Tuhan, sebagai yang absolut, seorang manusia fana menaik yang telah membuat keputusan kekal adalah sudah menjadi finaliter Firdaus. Namun Bapa Semesta, melalui kehadiran Pelaras Pikiran yang mendiami, tidak terbatas seperti demikian dalam kesadaran namun juga bisa mengetahui, dan ikut serta dalam, setiap perjuangan terkait waktu dengan masalah-masalah kenaikan makhluk dari tingkatan keberadaan seperti hewan ke tingkatan seperti Tuhan.

2. Kemahahadiran dan Ubikuitas

Ada di mana-mana (ubikuitas)-nya Deitas itu jangan dirancukan dengan ultimasi dari kemahahadiran ilahi. Merupakan kehendak bebas Bapa Semesta bahwa Yang Mahatinggi, Yang Mahaakhir, dan Yang Absolut itu akan menutup kekurangan, mengkoordinasikan, dan menyatukan ada di mana-mana ruang-waktu-Nya, dan kemahahadiran melampaui-ruang-waktu-Nya itu, dengan kehadiran-Nya yang menyeluruh dan mutlak yang tanpa waktu dan tanpa ruang itu. Kamu perlu ingat bahwa, meskipun Deitas ada di mana-mana itu mungkin begitu sering terkait ruang, namun tidak harus dipengaruhi waktu.

Sebagai penaik fana dan morontia kamu semakin melihat Tuhan melalui pelayanan Tuhan Lipat Tujuh. Melalui Havona kamu menemukan Tuhan Mahatinggi. Di Firdaus kamu menemukan Dia sebagai suatu pribadi, dan kemudian sebagai finaliter kamu akan sebentar lagi berusaha untuk mengenalnya sebagai Yang Mahaakhir. Sebagai finaliter, sepertinya akan ada hanya satu saja arah yang dikejar setelah mencapai Yang Mahaakhir, dan itu adalah untuk memulai pencarian terhadap Yang Absolut. Tidak ada finaliter yang akan terganggu oleh ketidakpastian terhadap pencapaian Absolut Deitas karena pada akhir kenaikan tertinggi dan terakhir itu ia bertemu Tuhan sang Bapa. Para finaliter tersebut tidak diragukan lagi akan percaya bahwa, bahkan sekalipun jika mereka akan berhasil dalam menemukan Tuhan Absolut, mereka hanya akan menemukan Tuhan yang sama, Bapa Firdaus yang memanifestasikan diri-Nya pada tingkatan yang lebih nyaris tak terbatas dan semesta itu. Tidak diragukan lagi pencapaian Tuhan dalam absolut akan mengungkapkan Leluhur Perdana alam-alam semesta serta Bapa Finalnya kepribadian-kepribadian.

Tuhan Mahatinggi mungkin bukanlah suatu demonstrasi dari kemahahadiran ruang-waktu Deitas, tapi Ia benar-benar merupakan suatu manifestasi dari ubikuitas ilahi. Antara kehadiran spiritual (rohani) dari Pencipta dan manifestasi material (jasmani) ciptaan terdapat wilayah luas kehadiran dimana-mana apa yang sedang menjadi ada—munculnya Deitas evolusioner alam semesta.

Jika Tuhan Mahatinggi selamanya memegang kontrol langsung atas alam-alam semesta ruang dan waktu, kami yakin bahwa pemerintahan Deitas tersebut akan berfungsi di bawah pengendalian dari Yang Mahaakhir. Dalam peristiwa demikian Tuhan Mahaakhir akan mulai menjadi mewujud pada alam-alam semesta waktu sebagai Mahakuasa yang transendental (Omnipoten) yang melakukan pengendalian atas suprawaktu dan ruang yang dilampaui mengenai fungsi-fungsi pemerintahan dari Yang Mahatinggi Mahakuasa.

Pikiran fana mungkin bertanya, seperti kami juga: Jika evolusi Tuhan Mahatinggi untuk otoritas pemerintahan di alam semesta agung itu disertai oleh meningkatnya manifestasi Tuhan Mahaakhir, akankah suatu kemunculan yang berhubungan dari Tuhan Mahaakhir di alam semesta ruang angkasa bagian luar yang diteorikan itu akan disertai oleh pengungkapan yang serupa dan diperluas dari Tuhan Absolut? Tapi kami sebenarnya tidak tahu.

3. Relasi-relasi Ruang-Waktu

Hanya dengan kehadiran dimana dan kapan saja itu maka Deitas bisa menyatukan manifestasi-manifestasi ruang-waktu dengan konsepsi terbatas, karena waktu adalah suksesi instan-instan sementara ruang adalah suatu sistem titik-titik yang berkaitan. Kamu, bagaimanapun, memang memahami waktu dengan analisis dan ruang dengan sintesis. Kamu mengkoordinasikan dan menghubungkan dua konsepsi berbeda ini dengan wawasan kepribadian yang mengintegrasikan. Dari semua dunia hewani hanya manusia yang memiliki kemampuan memahami ruang-waktu ini. Bagi seekor hewan, gerak memiliki arti, tetapi gerak menunjukkan nilai hanya pada makhluk dengan status kepribadian.

Benda-benda dipengaruhi waktu, tetapi kebenaran itu tanpa waktu. Lebih banyak kebenaran kamu tahu, lebih banyak kebenaran kamu adanya, lebih banyak dari masa lalu yang dapat kamu pahami dan dari masa depan yang dapat kamu mengerti.

Kebenaran itu tidak dapat digoncangkan—selamanya bebas dari semua perubahan-perubahan yang sementara, namun tidak pernah mati dan formal, selalu bergetar dan dapat disesuaikan—hidup bersinar-sinar. Namun ketika kebenaran itu dihubungkan dengan fakta, maka waktu maupun ruang mempengaruhi makna-maknanya dan menghubungkan nilai-nilainya. Realitas kebenaran yang dikawinkan pada fakta seperti itu menjadi konsep-konsep-konsep dan oleh karena itu diturunkan ke wilayah realitas-realitas kosmis yang relatif.

Menghubungkan antara kebenaran mutlak dan kekal dari Pencipta dengan pengalaman faktual dari makhluk yang terbatas dan temporal itu menjadikan adanya nilai yang baru dan muncul tentang Yang Mahatinggi. Konsep tentang Yang Mahatinggi itu sangat penting untuk pengkoordinasian antara alam atas yang ilahi dan tidak berubah itu dengan alam bawah yang terbatas dan selalu berubah.

Ruang, dari semua hal yang bukan-absolut, adalah yang terdekat untuk menjadi absolut. Ruang tampaknya secara mutlak adalah ultimat. Kesulitan sesungguhnya yang kami miliki dalam memahami ruang pada tingkat material ini disebabkan oleh fakta bahwa, meskipun badan jasmani ada dalam ruang, ruang juga ada dalam badan material yang sama ini pula. Meskipun ada banyak tentang ruang yang adalah absolut, namun tidak berarti bahwa ruang itu absolut.

Mungkin dapat membantu untuk memahami relasi-relasi ruang ini jika kamu bisa menduga bahwa, berbicara secara relatif, ruang itu bagaimanapun juga adalah suatu properti (milik) dari semua badan jasmani. Oleh karena itu, ketika suatu badan bergerak melalui ruang, badan itu juga membawa semua miliknya bersamanya, juga ruang yang di dalam dan dari tubuh yang bergerak tersebut.

Semua pola-pola realitas menempati ruang pada tingkat material, tetapi pola-pola roh hanya ada dalam hubungan dengan ruang; pola tidak menempati atau menggusur ruang, tidak pula pola memuat ruang. Tetapi bagi kami teka-teki utama tentang ruang berkaitan dengan polanya suatu ide. Ketika kita memasuki wilayah batin, kita menemukan banyak teka-teki. Apakah pola — realitas — dari suatu ide itu menempati ruang? Kami benar-benar tidak tahu, meskipun kami yakin bahwa suatu pola ide tidak memuat ruang. Namun sulit dikatakan aman untuk mendalilkan bahwa yang bukan material selalu tidak berkaitan dengan ruang.

4. Penyebab Primer dan Sekunder

Banyak dari kesulitan teologis dan dilema-dilema metafisis manusia fana itu disebabkan salah-penempatan manusia tentang kepribadian Ketuhanan dan akibatnya atribut-atribut tanpa batas dan mutlak dipakai untuk Keilahian yang bawahan dan Ketuhanan yang berevolusi. Jangan kamu lupa bahwa, meskipun memang ada suatu Sebab Pertama yang sebenarnya, ada juga sejumlah sebab-sebab yang sederajat dan yang bawahan, sebab-sebab yang setara maupun yang sekunder.

Perbedaan pokok antara sebab pertama dan sebab kedua adalah bahwa sebab pertama menghasilkan efek-efek asli yang bebas dari pewarisan semua faktor yang berasal dari semua penyebab sebelumnya. Sebab sekunder menghasilkan efek-efek yang selalu menunjukkan pewarisan sifat dari penyebab yang lain dan mendahuluinya.

Potensial-potensial yang murni statis yang melekat dalam Absolut Nirkualifikasi itu reaktif pada penyebab-penyebab dari Absolut Deitas yang dihasilkan oleh aksi-aksi dari Trinitas Firdaus. Dalam kehadiran Absolut Semesta potensial-potensial statis yang diresapi-penyebab ini kemudian menjadi aktif dan responsif terhadap pengaruh agen-agen transendental tertentu yang tindakannya mengakibatkan perubahan wujud dari potensial-potensial diaktifkan ini kepada status kemungkinan pengembangan alam semesta yang sesungguhnya, kapasitas-kapasitas yang diaktualkan untuk pertumbuhan. Terhadap potensial-potensial yang dimatangkan inilah para pencipta dan pengendali alam semesta agung memberlakukan drama tanpa akhir evolusi kosmis.

Penyebab, dengan mengabaikan eksistensial-eksistensial, adalah lipat tiga dalam susunan dasarnya. Ketika beroperasi dalam era alam semesta ini dan mengenai tingkat terbatas dari tujuh alam-alam semesta super, hal itu mungkin dapat dipahami sebagai berikut:

1. Aktivasi potensial-potensial statis. Pembentukan takdir dalam Absolut Semesta oleh aksi-aksi dari Absolut Deitas, yang beroperasi dalam dan terhadap Absolut Nirkualifikasi dan sebagai akibat dari amanat-amanat kehendak dari Trinitas Firdaus.

2. Eventuasi kapasitas-kapasitas alam semesta. Hal ini mencakup transformasi potensial-potensial yang tidak-dibedakan menjadi rencana-rencana yang terpisah-pisah dan terdefinisi. Hal ini adalah tindakan dari Ultimasi Deitas dan berbagai agen-agen dari tingkat transendental. Aksi-aksi tersebut adalah dalam antisipasi sempurna terhadap kebutuhan masa depan alam semesta master seluruhnya. Sehubungan dengan pemisah-misahan potensial inilah bahwa para Arsitek Alam Semesta Master ada sebagai perwujudan sejati dari konsep Deitas tentang alam-alam semesta. Rencana mereka tampaknya akan pada akhirnya terbatas ruang dalam tarafnya oleh pinggiran-keliling konsep alam semesta master, tetapi sebagai rencana-rencana mereka selain itu tidak dipengaruhi oleh waktu atau ruang.

3. Penciptaan dan evolusi aktual-aktualnya alam semesta. Terhadap suatu kosmos yang diresapi oleh kehadiran memproduksi-kapasitas dari Ultimasi Deitas itulah bahwa para Pencipta Tertinggi beroperasi untuk menghasilkan perubahan-perubahan waktu dari potensial-potensial yang dimatangkan itu menjadi aktual-aktual pengalaman. Di dalam alam semesta master semua aktualisasi realitas potensial itu dibatasi oleh kapasitas terakhir untuk pengembangan dan dipengaruhi waktu-ruang dalam tahap-tahap akhir kemunculannya. Para Putra Pencipta yang keluar dari Firdaus adalah, dalam kenyataannya, pencipta-pencipta transformatif dalam pengertian kosmis. Namun hal ini sama sekali tidak membatalkan konsepnya manusia tentang mereka sebagai pencipta; dari sudut pandang terbatas mereka pasti bisa dan memang mencipta.

5. Kemahakuasaan dan Komposibilitas

Kemahakuasaan Deitas tidak mengandung arti kuasa untuk melakukan apa yang tidak bisa dilakukan. Di dalam bingkai ruang-waktu dan dari titik acuan intelektual pemahaman fana, bahkan Tuhan yang tanpa batas itupun tidak dapat membuat lingkaran yang persegi atau menghasilkan kejahatan yang hakikatnya baik. Tuhan tidak bisa melakukan hal yang tidak seperti Tuhan (ungodlike). Kontradiksi istilah-istilah filosofis seperti itu setara dengan bukan entitas dan berarti bahwa tidak ada yang diciptakan seperti itu. Suatu ciri sifat kepribadian tidak bisa pada saat yang sama seperti Tuhan dan tidak seperti Tuhan. Komposibilitas itu adalah bawaan dalam kuasa ilahi. Semua ini berasal dari fakta bahwa kemahakuasaan itu tidak hanya menciptakan hal-hal dengan suatu sifat dasar tetapi juga melahirkan sifat dasar semua benda dan makhluk.

Pada mulanya Bapa melakukan semuanya, tetapi ketika panorama keabadian berjalan dalam menanggapi kehendak dan amanat dari Yang Tanpa Batas, semakin jelaslah bahwa para makhluk, bahkan manusia, akan menjadi mitra-mitra-Nya Tuhan dalam realisasi untuk finalitas takdir. Hal ini benar bahkan dalam kehidupan badani; ketika manusia dan Tuhan masuk ke dalam kemitraan, tidak ada pembatasan yang dapat ditempatkan pada kemungkinan masa depan kemitraan tersebut. Ketika seorang manusia menyadari bahwa Bapa Semesta adalah mitranya dalam kemajuan kekal, ketika ia melebur dengan kehadiran Bapa yang mendiaminya itu, ia telah, dalam roh, mematahkan belenggu waktu dan telah masuk pada kemajuan kekekalan dalam pencarian akan Bapa Semesta.

Kesadaran manusia fana berangkat dari fakta, kepada makna, dan kemudian kepada nilai. Kesadaran Pencipta berasal dari pikiran-nilai, melalui kata-makna, sampai ke fakta aksi. Selalu Tuhan harus bertindak untuk memecahkan kebuntuan dari kesatuan tanpa batasan yang melekat dalam ketanpabatasan eksistensial. Selalu Deitas harus menyediakan alam semesta pola, kepribadian-kepribadian yang sempurna, kebenaran, keindahan, dan kebaikan yang asli untuk mana semua ciptaan di bawah deitas mengupayakannya. Selalu harus Tuhan yang pertama kali menemukan manusia sehingga manusia bisa kemudian menemukan Tuhan. Selalu harus ada Bapa Semesta sebelum ada keanakan semesta dan persaudaraan semesta sebagai akibatnya.

6. Kemahakuasaan dan Kemahapenciptaan

Tuhan itu benar-benar mahakuasa, tetapi Dia tidak mencipta segala sesuatu—Dia tidak secara pribadi melakukan semua yang sudah dikerjakan. Kemahakuasaan mencakup potensial-kuasa dari Yang Mahatinggi Mahakuasa dan Sang Mahatinggi, tetapi tindakan kemauan bebas dari Tuhan Mahatinggi itu bukanlah perbuatan-perbuatan pribadi Tuhan Yang Tanpa Batas.

Menyarankan bahwa Deitas perdana itu adalah yang mencipta segalanya akan sama dengan menyangkal hak hampir satu juta Putra Pencipta dari Firdaus, belum lagi tak terhitung kawanan berbagai golongan asisten kreatif yang bekerja bersama. Hanya ada satu Sebab tanpa penyebab di alam semesta seluruhnya. Semua penyebab lain adalah turunan dari yang satu Sumber dan Pusat Besar Pertama ini. Tak satupun dari filosofi ini melanggar kehendak bebas dari begitu banyak anak-anak Deitas yang tersebar di seluruh alam semesta yang luas.

Dalam suatu bingkai lokal, kemauan bebas dapat kelihatan berfungsi sebagai sebab tanpa penyebab, tetapi hal itu selalu menunjukkan faktor warisan yang menjalin hubungan dengan Sebab Pertama yang unik, asli, dan mutlak itu.

Semua kemauan bebas itu relatif. Dalam pengertian asal-usul, hanya Bapa-AKU ADA yang memiliki finalitas kemauan bebas; dalam arti mutlak, hanya Bapa, Putra, dan Roh yang menunjukkan hak istimewa kemauan bebas yang tidak dipengaruhi oleh waktu dan tidak dibatasi oleh ruang. Manusia fana diberkahi dengan kehendak bebas, kuasa untuk pilihan, dan meskipun pemilihan tersebut tidak mutlak, sekalipun demikian, pilihan itu relatif final pada tingkat terbatas dan menyangkut takdir dari kepribadian yang memilih itu.

Kehendak bebas pada setiap tingkat yang kurang dari absolut menemui keterbatasan yang melekat dalam kepribadian yang menggunakan kuasa memilih itu sendiri. Manusia tidak dapat memilih di luar jangkauan apa yang bisa dipilih. Ia tidak bisa, misalnya, memilih untuk menjadi selain manusia kecuali bahwa ia dapat memilih untuk menjadi lebih dari seorang manusia; ia dapat memilih untuk menempuh perjalanan kenaikan alam semesta, tetapi hal ini karena pilihan manusia dan kehendak ilahi kebetulan bertemu bersamaan pada titik ini. Apa yang seorang anak inginkan dan Bapa kehendaki pasti akan terjadi.

Dalam kehidupan manusia fana, jalur-jalur perilakuyang berbeda terus menerus membuka dan menutup, dan pada saat-saat ketika pilihan itu mungkin, kepribadian manusia itu tak henti-hentinya memutuskan dari antara banyak arah tindakan ini. Kemauan sementara itu terkait dengan waktu, dan hal itu harus menunggu berlalunya waktu agar menemukan kesempatan untuk berekspresi. Kemauan rohani sudah mulai merasakan pembebasan dari belenggu waktu, setelah mencapai kelepasan sebagian dari urut-urutan waktu, dan itu karena kemauan rohani adalah menyamakan diri dengan kehendak Tuhan.

Kemauan, tindakan untuk memilih, harus berfungsi di dalam bingkai alam semesta yang telah diaktualisasikan sebagai tanggapan pada pilihan yang lebih tinggi dan sebelumnya. Seluruh rentang kehendak manusia itu secara ketat adalah dibatasi-finit kecuali dalam satu hal tertentu: Ketika seorang manusia memilih untuk mencari Tuhan dan menjadi seperti Dia, pilihan tersebut adalah supraterbatas; hanya kekekalan yang dapat mengungkapkan apakah pilihan ini juga supra-absonit.

Mengenali kemahakuasaan Deitas adalah menikmati keamanan dalam pengalaman kewargaan kosmismu, memiliki jaminan keselamatan dalam perjalanan panjang ke Firdaus. Tetapi menerima kesalahan dari konsep kemahapenciptaan itu adalah berarti memeluk kesalahan besarnya panteisme.

7. Kemahatahuan dan Pradestinasi

Fungsi dari kehendak Pencipta dan kehendak makhluk, dalam alam semesta agung, beroperasi di dalam batas-batas, dan sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan, yang ditetapkan oleh para Arsitek Master. Namun demikian, penetapan -di-muka batas-batas maksimum ini tidak sedikitpun mengurangi kedaulatan kehendak makhluk di dalam batas-batas ini. Begitu juga pengetahuan-di-muka yang ultimat—kelonggaran penuh untuk semua pilihan terbatas—merupakan suatu pencabutan kehendak bebas yang terbatas. Seorang manusia yang dewasa dan berpandangan jauh ke depan mungkin bisa meramalkan keputusan beberapa rekan muda dengan paling akurat, tetapi pengetahuan-di-muka ini tidak mengambil apapun kebebasan dan keaslian dari keputusan itu sendiri. Para Tuhan telah dengan bijaksana membatasi rentang jangkauan tindakan kehendak yang belum dewasa, namun demikian kehendak itu adalah kehendak sejati, di dalam batasan-batasan yang telah ditentukan ini.

Bahkan korelasi tertinggi dari semua pilihan masa lalu, masa kini, dan masa depan tidak membatalkan keaslian dari pemilihan tersebut. Hal ini lebih menunjukkan tren yang sudah ditetapkan-sebelumnya dari kosmos dan menunjukkan pengetahuan-di-muka dari makhluk-makhluk berkehendak bebas itu yang mungkin, atau mungkin tidak, memilih untuk menjadi bagian penyumbang untuk aktualisasi pengalaman semua realitas.

Kesalahan dalam pemilihan terbatas itu terikat waktu dan terbatas waktu. Kesalahan itu dapat berada hanya dalam waktu dan di dalam kehadiran evolusionernya Sang Mahatinggi. Pilihan salah demikian itu mungkin terjadi dalam waktu dan menunjukkan (selain belum-selesainya Yang Mahatinggi) rentang pilihan tertentu dengan mana makhluk yang belum dewasa itu harus dilengkapi dalam rangka untuk menikmati kemajuan alam semesta dengan membuat kontak kehendak bebas dengan realitas.

Dosa dalam ruang yang dipengaruhi-waktu jelas membuktikan adanya kebebasan sementara—bahkan lisensi—untuk kehendak terbatas. Dosa menggambarkan ketidak-dewasaan yang disilaukan oleh kebebasan untuk kehendak kepribadian yang relatif berdaulat, sedangkan gagal untuk memahami kewajiban dan tugas-tugas tertinggi untuk kewargaan kosmis.

Kedurhakaan dalam wilayah terbatas mengungkapkan realitas sementara dari semua diri yang tidak terkait-Tuhan. Hanya ketika sesosok makhluk menjadi terkait erat dengan Tuhan, maka ia menjadi benar-benar nyata di alam semesta. Kepribadian terbatas itu tidak tercipta sendiri, tetapi dalam arena pilihan alam semesta super, kepribadian itu memang menentukan sendiri takdirnya.

Penganugerahan kehidupan membuat sistem-sistem energi-material mampu untuk pelestarian diri, perbanyakan diri, dan penyesuaian diri. Penganugerahan kepribadian memberikan pada organisme-organisme hidup itu hak-hak istimewa lebih lanjut untuk determinasi diri, evolusi diri, dan penyamaan diri dengan suatu roh peleburan dari Deitas.

Benda-benda hidup yang subpribadi menunjukkan adanya batin yang mengaktifkan energi-materi, pertama sebagai pengendali fisik, dan kemudian sebagai roh-batin ajudan. Karunia kepribadian datang dari Bapa dan memberikan hak istimewa pilihan yang unik pada sistem-sistem hidup itu. Tetapi jika kepribadian memiliki hak istimewa menggunakan pilihan kemauan untuk identifikasi realitas, dan jika ini adalah pilihan yang benar dan bebas, maka haruslah kepribadian yang berevolusi itu juga memiliki kemungkinan pilihan untuk mengacaukan diri, merusak diri, dan menghancurkan diri sendiri. Kemungkinan penghancuran diri kosmis tidak dapat dihindari jika kepribadian yang berkembang itu akan menjadi benar-benar bebas dalam penggunaan kehendak terbatas.

Oleh karena itu lebih aman mempersempit batas-batas pilihan kepribadian di seluruh tingkat keberadaan yang lebih rendah. Pilihan menjadi semakin dibebaskan sementara alam-alam semesta dijalani naik; pilihan akhirnya mendekati kebebasan ilahi ketika kepribadian yang menaik itu mencapai keilahian status, supremasi konsekrasi pada tujuan-tujuan alam semesta, penyelesaian pencapaian kebijaksanaan-kosmis, dan finalitas penyamaan makhluk dengan kehendak dan jalan Tuhan.

8. Pengendalian dan Pengendalian Keseluruhan

Dalam kreasi-kreasi ruang-waktu, kehendak bebas dipagari sekitarnya dengan kekangan-kekangan, dengan batasan-batasan. Evolusi hidup-material itu pertama adalah mekanis, kemudian diaktifkan batin, dan (setelah penganugerahan kepribadian) kehendak bebas itu mungkin menjadi dipimpin roh. Evolusi organik di dunia yang dihuni secara fisik itu dibatasi oleh potensi-potensi dari penanaman kehidupan-fisik yang semula dari para Pembawa Kehidupan.

Manusia fana adalah sebuah mesin, suatu mekanisme hidup; akar-akarnya benar-benar dalam dunia energi fisik. Banyak reaksi manusia yang bersifat mekanis; banyak dari kehidupan yang seperti mesin. Tetapi manusia, suatu mekanisme, adalah jauh lebih lagi dari sebuah mesin; ia dikaruniai kemampuan batin dan didiami roh; dan meskipun ia tidak pernah sepanjang hidup jasmaninya melepaskan diri dari mekanika-mekanika kimia dan listrik keberadaannya, ia bisa semakin belajar bagaimana untuk menundukkan mesin hidup-fisik ini kepada pimpinan kebijaksanaan pengalaman, melalui proses mengabdikan batin manusia pada pelaksanaan dorongan-dorongan rohani dari Pelaras Pikiran yang mendiami.

Roh itu membebaskan, dan mekanisme itu membatasi, fungsi kehendak. Pilihan yang tidak sempurna, tidak dikendalikan oleh mekanisme, tidak disamakan dengan roh, adalah berbahaya dan tidak stabil. Dominasi mekanis menjamin stabilitas dengan mengorbankan kemajuan; aliansi roh membebaskan pilihan dari tingkat fisik dan pada saat yang sama memastikan stabilitas ilahi yang dihasilkan oleh bertambahnya wawasan alam semesta dan meningkatnya pemahaman kosmis.

Bahaya besar yang menimpa makhluk adalah bahwa, dengan mencapai pembebasan dari belenggu-belenggu mekanisme hidup itu, ia akan gagal untuk menutup kehilangan stabilitas ini dengan membuat hubungan kerjasama yang harmonis dengan roh. Pilihan makhluk, ketika relatif dibebaskan dari stabilitas mekanis, bisa mengusahakan pembebasan diri lebih lanjut, terlepas dari identifikasi (penyamaan diri dengan) roh yang lebih besar.

Seluruh prinsip evolusi biologis membuatnya mustahil bagi manusia primitif untuk muncul di dunia-dunia dihuni dengan suatu kemampuan besar untuk menahan diri. Karena itulah desain kreatif yang sama dengan yang menghendaki evolusi itu juga menyediakan mereka kekangan eksternal dari waktu dan ruang, kelaparan dan ketakutan, yang secara efektif membatasi jangkauan pilihan subrohani dari makhluk-makhluk yang belum berbudaya tersebut. Ketika pikiran manusia berhasil mengatasi hambatan-hambatan yang semakin sulit, maka desain kreatif yang sama ini juga menyediakan untuk akumulasi perlahan-lahan pewarisan rasial tentang kebijaksanaan pengalaman yang diperoleh secara susah payah itu—dengan kata lain, untuk menjaga keseimbangan antara berkurangnya kekangan eksternal dan bertambahnya kekangan internal.

Lambatnya evolusi, dari kemajuan budaya manusia, membuktikan tentang efektivitas rem itu—inersia material—yang dengan sangat efisien beroperasi untuk menghambat laju-laju kemajuan yang berbahaya. Demikianlah waktu itu sendiri melindungi dan menyebarkan hasil-hasil dari pelepasan diri prematur yang berbahaya itu dari rintangan-rintangan yang berlangsung-berikutnya terhadap aksi manusia. Karena ketika budaya maju terlalu cepat, ketika pencapaian material lari mendahului evolusi kebijaksanaan-penyembahan, maka memang peradaban itu mengandung dalam dirinya benih-benih kemunduran; dan kecuali ditopang oleh penambahan cepat kebijaksanaan pengalaman, masyarakat manusia tersebut akan surut dari tingkat pencapaian tinggi tetapi prematur, dan “zaman kegelapan” masa peralihan kebijaksanaan akan menjadi saksi dari pemulihan yang tak bisa dicegah terhadap ketidak-seimbangan antara kebebasan diri dan pengendalian diri.

Kedurhakaan Kaligastia adalah ia melakukan by-pass (potong-singkat) pengatur waktu terhadap pembebasan manusia progresif itu—penghancuran secara serampangan hambatan-hambatan yang menahan, hambatan-hambatan yang oleh pikiran manusia di masa-masa itu belum diatasi secara pengalaman.

Bahwa ada pikiran yang dapat menghasilkan suatu penyingkatan sebagian ruang dan waktu, melalui tindakan ini membuktikan bahwa pikiran itu sendiri memiliki benih-benih kebijaksanaan yang secara efektif dapat berfungsi sebagai pengganti halangan kekangan yang dilampaui.

Lucifer sama pula berusaha untuk memutus pengatur waktu itu yang beroperasi untuk mengekang pencapaian prematur kebebasan-kebebasan tertentu dalam sistem lokal. Suatu sistem lokal yang dimapankan dalam terang dan hidup telah secara pengalaman mencapai sudut pandang dan wawasan-wawasan tertentu yang membuat layak bekerjanya banyak teknik yang akan merusak dan menghancurkan dalam era-era pra-mapan di alam itu sendiri.

Ketika manusia melemparkan belenggu-belenggu ketakutan, ketika ia menjembatani benua dan samudra dengan mesin-mesinnya, generasi dan abad-abad dengan rekamannya, ia harus menggantikan untuk tiap pembatasan yang dilampaui itu dengan pembatasan yang baru dan dipikul secara sukarela sesuai dengan aturan-aturan moral dari meluasnya hikmat manusia. Pembatasan yang dipikul sendiri ini adalah sekaligus yang paling kuat dan paling lemah dari semua faktor peradaban manusia—konsep-konsep keadilan dan ideal-ideal persaudaraan. Manusia bahkan membuat dirinya memenuhi syarat untuk pakaian rahmat yang mengekang ketika ia berani untuk mengasihi manusia sesamanya, sementara ia mencapai permulaan persaudaraan rohani ketika ia memilih untuk memberikan kepada orang lain perlakuan seperti yang ia sendiri ingin diberi, bahkan perlakuan seperti yang ia percaya Tuhan akan berikan untuk mereka.

Suatu reaksi alam semesta yang otomatis itu adalah stabil dan, dalam beberapa bentuk, terus berlanjut dalam kosmos. Sesosok kepribadian yang mengenal Tuhan dan berkeinginan untuk melakukan kehendak-Nya, yang memiliki wawasan roh, adalah secara ilahi stabil dan secara kekal ada. Petualangan alam semesta besarnya manusia terdiri dari perpindahan batin fana itu dari stabilitas statika mekanis kepada keilahian dinamika rohani, dan ia mencapai transformasi ini dengan kekuatan dan keteguhan keputusan kepribadiannya sendiri, dalam setiap situasi kehidupan menyatakan, “Kehendakku adalah agar kehendak-Mulah yang akan terjadi.”

9. Mekanisme Alam Semesta

Waktu dan ruang adalah suatu mekanisme yang digabungkan bersama di alam semesta master. Hal-hal itu adalah alat-alat dengan bantuan mana makhluk terbatas dimampukan untuk hidup bersama dalam kosmos dengan Yang Tanpa Batas. Makhluk terbatas itu secara efektif disekat dari tingkat absolut oleh ruang dan waktu. Tapi media penyekat ini, tanpa mana tidak ada manusia bisa ada, beroperasi secara langsung untuk membatasi rentang jangkauan tindakan terbatas. Tanpa ruang dan waktu itu tidak ada makhluk yang bisa berbuat, tetapi karena ruang dan waktu maka perbuatan setiap makhluk pasti terbatas.

Mekanisme yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran yang lebih tinggi berfungsi untuk membebaskan sumber-sumber kreatif mereka tetapi sampai taraf tertentu selalu membatasi aksi semua kecerdasan bawahan. Kepada para makhluk alam-alam semesta pembatasan ini menjadi tampaknya sebagai mekanisme alam-alam semesta. Manusia tidak memiliki kehendak bebas yang tidak dikekang; ada batas-batas untuk rentang pilihannya, tetapi di dalam jangkauan dari pilihan ini kehendaknya secara relatif berdaulat penuh.

Mekanisme kehidupan dari kepribadian manusia, tubuh manusia itu, adalah produk dari desain kreatif supramanusia; sebab itu tidak pernah dapat dengan sempurna dikendalikan oleh manusia itu sendiri. Hanya ketika manusia yang menaik itu, dalam hubungan dengan Pelaras yang dilebur, menciptakan sendiri mekanisme untuk ekspresi kepribadian, maka ia akan mencapai pengendalian yang disempurnakan terhadapnya.

Alam semesta agung adalah mekanisme demikian pula organisme, yang mekanis dan hidup—suatu mekanisme hidup yang diaktifkan oleh suatu Batin Mahatinggi, berkoordinasi dengan suatu Roh Mahatinggi, dan menemukan ekspresi pada tingkat-tingkat maksimum penyatuan kuasa dan kepribadian sebagai Sang Mahatinggi. Menolak mekanisme dari ciptaan terbatas itu adalah sama dengan menyangkal fakta dan mengabaikan realitas.

Mekanisme adalah produk dari batin (mind), pikiran kreatif yang beraksi pada dan dalam potensial-potensial kosmis. Mekanisme adalah kristalisasi tetap dari pemikiran Pencipta, dan mereka selalu berfungsi tepat sesuai dengan konsep kehendak yang memberi mereka asal. Tetapi kebermaksudan setiap mekanisme itu ada dalam asal-usulnya, bukan dalam fungsinya.

Mekanisme-mekanisme ini tidak boleh dianggap sebagai membatasi aksi Deitas; melainkan benarlah bahwa dalam mekanika ini sendiri Deitas telah mencapai satu fase untuk ekspresi kekal. Mekanisme dasar alam semesta telah muncul menjadi keberadaan sebagai tanggapan pada kehendak mutlak dari Sumber dan Pusat Pertama, dan karena itu hal-hal itu akan berfungsi secara kekal dalam harmoni yang sempurna dengan rencana dari Yang Tanpa Batas; memang, mekanisme-mekanisme itu adalah pola-pola dari rencana itu sendiri yang tidak memiliki kehendak atau kemauan bebas.

Kami memahami beberapa tentang bagaimana mekanisme Firdaus itu dikaitkan dengan kepribadian dari Putra Kekal; ini adalah fungsi dari Pelaku Bersama. Kami memiliki teori-teori mengenai operasi-operasi dari Absolut Semesta berkenaan pada mekanisme-mekanisme teoritis tentang Yang Nirkualifikasi dan pribadi potensial dari Absolut Deitas. Namun dalam berkembangnya Deitas-deitas yang Mahatinggi dan Mahaakhir itu kami mengamati bahwa beberapa fase bukan-pribadi tertentu sebenarnya sedang menyatu dengan padanan-padanan (counterparts) mereka yang memiliki kehendak bebas, dan dengan demikian sedang berkembang hubungan baru antara pola dan pribadi.

Dalam keabadian masa lalu, Bapa dan Putra mendapatkan penyatuan dalam kesatuan ekspresi dari Roh Tanpa Batas. Jika, dalam kekekalan masa depan, para Putra Pencipta dan Roh Kreatif dari alam semesta lokal waktu dan ruang itu akan mencapai penyatuan kreatif dalam alam-alam ruang angkasa bagian luar, apa yang akan diciptakan persatuan mereka sebagai ekspresi gabungan dari kodrat-kodrat ilahi mereka? Mungkin saja bahwa kita akan menyaksikan manifestasi yang sampai sekarang belum terungkap dari Deitas Mahaakhir, suatu jenis baru administrator super. Sosok-sosok tersebut akan mencakup hak-hak prerogatif unik kepribadian, sebagai persatuan dari Pencipta yang berpribadi, Roh Kreatif yang bukan pribadi, pengalaman makhluk-fana, dan personalisasi progresif dari Penatalayan Ilahi. Sosok-sosok tersebut bisa menjadi ultimat dalam hal mereka akan mencakup realitas yang pribadi dan bukan-pribadi, sementara mereka akan menggabungkan pengalaman Pencipta dan ciptaan. Apapun atribut-atribut dari pribadi-pribadi ketiga dari berfungsinya trinitas di ciptaan angkasa luar yang didalilkan tersebut, mereka akan mempertahankan suatu hubungan yang sama dengan Bapa Pencipta mereka dan Ibu Kreatif mereka seperti yang dilakukan Roh Tanpa Batas kepada Bapa Semesta dan Putra Kekal.

Tuhan Mahatinggi adalah personalisasi semua pengalaman alam semesta, pemusatan semua evolusi terbatas, maksimasi semua realitas makhluk, penyempurnaan kebijaksanaan kosmis, perwujudan dari keindahan harmonis galaksi-galaksi waktu, kebenaran makna-makna batin kosmis, dan kebaikan nilai-nilai roh tertinggi. Tuhan Mahatinggi akan, dalam masa depan kekal, mensintesis beraneka-ragam perbedaan terbatas ini menjadi satu keseluruhan yang bermakna secara pengalaman, sama seperti mereka sekarang secara eksistensial bersatu pada tingkat-tingkat absolut dalam Trinitas Firdaus.

10. Fungsi-fungsi Providensia

Providensia (keterlibatan dan pemeliharaan Tuhan) tidak berarti bahwa Tuhan telah menentukan segala sesuatu bagi kita dan di muka. Tuhan demikian mengasihi kita sehingga tidak melakukan hal itu, karena hal itu tidak lebih akan menjadi tirani kosmis. Manusia memiliki kuasa pilihan yang relatif. Kasih ilahi juga tidak akan memberikan perhatian yang picik yang akan membuat anak-anak manusia menjadi manja.

Bapa, Putra, dan Roh—sebagai Trinitas—adalah bukan Yang Mahatinggi Mahakuasa, tetapi supremasi Yang Mahakuasa itu tidak pernah bisa mewujud tanpa Mereka. Pertumbuhan Yang Mahakuasa itu dipusatkan pada para Absolut aktualitas dan didasarkan pada Absolut potensialitas. Tetapi fungsi-fungsi Yang Mahatinggi Mahakuasa dikaitkan dengan fungsi-fungsi Trinitas Firdaus.

Akan tampak bahwa, dalam Sang Mahatinggi, semua fase kegiatan alam semesta sedang sebagian dipersatukan lagi oleh kepribadian Deitas pengalaman ini. Sebab itu, ketika kita ingin melihat Trinitas sebagai satu Tuhan, dan jika kita membatasi konsep ini pada alam semesta agung sekarang yang dikenal dan diorganisir, kita menemukan bahwa Sang Mahatinggi yang berevolusi itu adalah potret parsial dari Trinitas Firdaus. Kami lebih lanjut menemukan bahwa Deitas Mahatinggi ini berkembang sebagai sintesis kepribadian dari materi, batin, dan roh terbatas dalam alam semesta agung.

Para Tuhan memiliki atribut-atribut tetapi Trinitas memiliki fungsi-fungsi, dan seperti Trinitas, providensia adalah suatu fungsi, paduan dari pengendalian keseluruhan terhadap yang lain-dari-pribadi alam semesta segala alam-alam semesta, membentang dari tingkat evolusioner Yang Lipat Tujuh yang mensintesis dalam kuasa Yang Mahakuasa terus ke atas melalui alam-alam transendental dari Ultimasi Deitas.

Tuhan mengasihi setiap makhluk sebagai anak, dan kasih itu menaungi setiap makhluk sepanjang waktu dan kekekalan. Providensia Tuhan itu berfungsi sehubungan dengan total dan berurusan dengan fungsi setiap makhluk sebagaimana fungsi tersebut terkait dengan total. Campur tangan providensial terhadap sesosok makhluk merupakan indikasi dari pentingnya fungsi dari makhluk itu berkaitan dengan pertumbuhan evolusi dari suatu total; total tersebut mungkin total ras, total bangsa, total planet, atau bahkan total yang lebih tinggi. Pentingnya fungsi dari makhluk itulah yang membuat perlunya campur tangan keterlibatan Tuhan, bukan pentingnya makhluk itu sebagai suatu pribadi.

Namun demikian, Bapa sebagai pribadi dapat kapan saja menempatkan tangan kebapaan dalam aliran peristiwa kosmis sesuai semuanya dengan kehendak Tuhan dan selaras dengan hikmat Tuhan serta dimotivasi oleh kasih Tuhan.

Namun apa yang manusia sebut sebagai keterlibatan Tuhan itu terlalu sering adalah produk dari imajinasinya sendiri, posisi kebetulan dari kemungkinan keadaan. Namun demikian, ada keterlibatan yang nyata dan berkembang dalam alam terbatas dari keberadaan alam semesta, suatu korelasi sebenarnya dan menjadi aktual, antara energi-energi ruang, gerakan-gerakan waktu, pikiran-pikiran kecerdasan, ideal-ideal karakter, keinginan-keinginan yang bersifat rohani, dan tindakan-tindakan kemauan bertujuan dari kepribadian-kepribadian yang berevolusi. Keadaan-keadaan di alam material menemukan integrasi terbatas yang final dalam kehadiran-kehadiran Yang Mahatinggi dan Yang Mahaakhir yang saling berpaut itu.

Seperti halnya mekanisme alam semesta agung disempurnakan sampai ke titik presisi akhir melalui pengendalian menyeluruh dari batin, dan sebagaimana batin makhluk naik ke kesempurnaan pencapaian keilahian melalui pengintegrasian disempurnakan dengan roh, dan ketika sebagai akibatnya muncul Yang Mahatinggi sebagai pemersatu aktual semua fenomena alam semesta ini, demikian pula keterlibatan Tuhan menjadi semakin jelas bisa diamati.

Beberapa kondisi menakjubkan kebetulan yang sesekali terjadi di dunia-dunia evolusi itu mungkin karena kehadiran kemunculan secara bertahap Yang Mahatinggi, rasa pendahuluan untuk kegiatan-kegiatan semesta masa depannya. Sebagian besar dari apa yang manusia sebut sebagai keterlibatan Tuhan itu adalah bukan demikian; penilaiannya terhadap hal-hal tersebut sangat terkendala oleh kurangnya pandangan ke depan ke dalam makna sebenarnya keadaan-keadaan hidup. Banyak dari apa yang manusia sebut nasib baik mungkin sebenarnya nasib buruk; senyum keberuntungan yang memberikan kesenangan yang tidak selayaknya dan kekayaan yang tidak halal itu mungkin adalah yang terbesar dari penderitaan manusia; apa yang sepertinya kekejaman dari nasib buruk yang menimpakan aniaya pada beberapa manusia yang menderita itu mungkin dalam kenyataannya adalah api penempa yang sedang mengubah besi lunak kepribadian yang belum matang menjadi baja keras karakter yang nyata.

Ada suatu keterlibatan Tuhan dalam alam-alam semesta yang berkembang, dan hal itu dapat ditemukan oleh para makhluk hanya sejauh bahwa mereka telah mencapai kapasitas untuk memahami tujuan alam-alam semesta yang berkembang. Kapasitas penuh untuk melihat maksud-maksud alam semesta itu sama dengan penyelesaian evolusi makhluk itu dan mungkin dengan kata lain dapat dikatakan sebagai pencapaian Yang Mahatinggi di dalam batas-batas keadaan sekarang dari alam-alam semesta yang belum selesai.

Kasih dari Bapa bekerja langsung dalam hati individu, tidak tergantung pada tindakan atau reaksi dari semua individu lain; hubungan itu pribadi—manusia dan Tuhan. Kehadiran Deitas yang bukan bersifat pribadi (Mahatinggi Mahakuasa dan Trinitas Firdaus) mewujudkan perhatian untuk keseluruhan, bukan untuk bagian. Keterlibatan dari pengendalian menyeluruh Supremasi menjadi semakin jelas sebagai bagian-bagian berturut-turut dari kemajuan alam semesta dalam pencapaian takdir-takdir terbatas. Sementara sistem-sistem, konstelasi, alam-alam semesta, dan alam-alam semesta super menjadi dimapankan dalam terang dan hidup, Yang Mahatinggi semakin muncul sebagai korelator yang penuh makna terhadap semua yang sedang berlangsung, sedangkan Yang Mahaakhir secara bertahap muncul sebagai pemersatu transendental segala sesuatu.

Pada permulaan suatu dunia yang berevolusi, kejadian-kejadian alami dari golongan material dan keinginan-keinginan pribadi manusia sering tampak saling bertentangan. Banyak yang terjadi pada dunia yang berevolusi itu agak sulit bagi manusia fana untuk memahaminya—hukum alam sering tampaknya kejam, tak berperasaan, dan acuh tak acuh terhadap semua yang benar, indah, dan baik dalam pemahaman manusia. Namun ketika umat manusia bergerak maju dalam perkembangan planet, kami mengamati bahwa sudut pandang ini diubah oleh faktor-faktor berikut ini:

1. Bertambahnya visi manusia—pemahamannya yang meningkat tentang dunia di dalam mana ia hidup; kapasitasnya yang makin luas untuk pemahaman tentang fakta-fakta material dari waktu, ide-ide yang bermakna dari pikiran, dan ideal-ideal yang berharga dari wawasan rohani. Selama manusia mengukur hanya dengan kayu pengukur dari benda-benda yang bersifat fisik, mereka tidak pernah bisa berharap untuk menemukan kesatuan dalam ruang dan waktu.

2. Meningkatnya pengendalian manusia—akumulasi bertahap pengetahuan tentang hukum-hukum dunia material, maksud-maksud keberadaan spiritual, dan kemungkinan-kemungkinan untuk koordinasi filosofis antara dua realitas ini. Manusia, orang primitif itu, tak berdaya menghadapi gempuran kekuatan alam, adalah seperti budak menghadapi majikan kejam rasa takut dari dalam dirinya sendiri. Manusia yang setengah berbudaya mulai membuka gudang rahasia wilayah-wilayah alam, dan ilmunya perlahan tetapi efektif menghancurkan takhyulnya sementara pada saat yang sama menyediakan dasar faktual yang baru dan diperluas untuk pemahaman makna-makna filsafat dan nilai-nilai pengalaman rohani yang sejati. Manusia, yang sudah beradab, suatu hari nanti akan mencapai penguasaan relatif atas kekuatan-kekuatan fisik di planetnya; kasih Tuhan dalam hatinya akan dengan efektif tercurah keluar sebagai kasih untuk manusia sesamanya, sedangkan nilai-nilai keberadaan manusiawi akan mendekati batas-batas kapasitas fana.

3. Integrasi alam semestanya manusia—peningkatan wawasan manusia ditambah peningkatan pencapaian pengalaman manusia membawanya pada harmoni yang lebih erat dengan kehadiran-kehadiran Supremasi yang mempersatukan—Trinitas Firdaus dan Sang Mahatinggi. Dan inilah yang membentuk kedaulatan Yang Mahatinggi di dunia-dunia yang lama mapan dalam terang dan hidup. Planet-planet yang maju seperti itu memang puisi-puisi harmoni, gambar-gambar indahnya kebaikan yang diraih melalui pencarian kebenaran kosmis. Jika hal-hal tersebut dapat terjadi pada sebuah planet, maka hal-hal yang bahkan lebih besar lagi dapat terjadi pada sebuah sistem dan unit-unit yang lebih besar di alam semesta agung karena mereka juga mencapai kemapanan yang menunjukkan habisnya potensial-potensial untuk pertumbuhan terbatas.

Di sebuah planet dari golongan yang sudah maju ini, keterlibatan Tuhan telah menjadi suatu kenyataan, keadaan-keadaan kehidupan itu saling dikaitkan, tetapi hal ini bukan hanya karena manusia telah tiba untuk menguasai masalah-masalah material dunianya; hal itu juga karena ia sudah mulai hidup sesuai dengan tren alam-alam semesta; ia sedang mengikuti jalur jalan Supremasi menuju ke pencapaian Bapa Semesta.

Kerajaan Tuhan ada di dalam hati manusia, dan ketika kerajaan ini menjadi nyata dalam hati setiap individu di sebuah dunia, maka pemerintahan Tuhan telah menjadi nyata di planet itu; dan ini adalah tercapainya kedaulatan yang diraih oleh Sang Mahatinggi.

Untuk merealisir providensi dalam alam waktu, manusia harus menyelesaikan tugas untuk mencapai kesempurnaan. Namun manusia bahkan sekarang pun bisa mencicipi keterlibatan Tuhan ini dalam makna-makna kekekalannya saat ia merenungkan fakta alam semesta bahwa segala sesuatu, apakah itu baik atau jahat, bekerja bersama untuk pemajuan manusia yang kenal-Tuhan dalam pencarian mereka untuk Bapa segalanya.

Providensi menjadi semakin terlihat ketika manusia menjangkau naik ke atas dari yang material ke yang spiritual. Pencapaian wawasan rohani yang tuntas itu memungkinkan kepribadian yang menaik itu mendeteksi harmoni dalam apa yang sejauh itu sebelumnya adalah kekacauan. Bahkan mota morontia pun merupakan kemajuan nyata ke arah ini.

Providensi itu sebagian adalah pengendalian menyeluruh dari Yang Mahatinggi (yang belum selesai itu) dimanifestasikan dalam alam semesta yang belum selesai, dan karena itu harus selalu menjadi:

1. Parsial—karena belum selesainya aktualisasi Sang Mahatinggi, dan

2. Tidak dapat diprediksi—karena fluktuasi-fluktuasi dalam sikap makhluk, yang selalu berubah-ubah dari tingkat ke tingkat, sehingga tampaknya menyebabkan tanggapan timbal balik yang variabel dalam Yang Mahatinggi.

Ketika manusia berdoa untuk keterlibatan Tuhan dalam peristiwa-peristiwa hidup, banyak kali jawaban untuk doa mereka adalah perubahan sikap mereka sendiri terhadap kehidupan. Tapi keterlibatan Tuhan itu tidak sewenang-wenang, juga bukan fantastis atau magis. Hal itu adalah kebangkitan secara lambat tapi pasti sang penguasa perkasa atas alam-alam semesta terbatas, yang kehadiran agungnya sesekali terdeteksi makhluk berkembang dalam kemajuan perjalanan alam semesta mereka. Providensi (keterlibatan) Tuhan adalah barisan tentu dan pasti galaksi-galaksi ruang dan kepribadian-kepribadian waktu menuju tujuan-tujuan kekekalan, pertama dalam Yang Mahatinggi, kemudian dalam Yang Mahaakhir, dan mungkin dalam Yang Absolut. Dan dalam infinitas kami percaya ada keterlibatan yang sama, dan ini adalah kehendak, aksi-aksi, maksud dari Trinitas Firdaus yang demikian memotivasi panorama kosmis alam semesta segala alam-alam semesta.

[Disponsori oleh sesosok Utusan Perkasa yang sementara berkunjung di Urantia.]

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved