Makalah 54: Masalah-masalah dari Pemberontakan Lucifer

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 54

Masalah-masalah dari Pemberontakan Lucifer

MANUSIA yang berevolusi itu menemukan kesulitan untuk sepenuhnya memahami makna dan menangkap arti tentang kejahatan, kesalahan, dosa, dan kedurhakaan. Manusia itu lamban untuk melihat bahwa kesempurnaan dan ketidaksempurnaan yang berlawanan itu menghasilkan kejahatan potensial atau kemungkinan untuk jahat; bahwa kebenaran dan kepalsuan yang bertentangan itu menciptakan kesalahan yang membingungkan; bahwa kemampuan ilahi untuk pilihan kehendak bebas itu menghasilkan adanya ranah-ranah dosa dan perbuatan benar yang berbeda; bahwa upaya gigih untuk mengejar keilahian membawa ke kerajaan Tuhan, dibedakan dengan penolakan terus-menerus terhadapnya, yang membawa ke wilayah-wilayah kedurhakaan.

Tuhan tidak menciptakan kejahatan atau mengizinkan dosa dan pemberontakan. Potensi jahat itu ada karena waktu dalam suatu alam semesta yang mencakup tingkat-tingkat yang berbeda untuk makna-makna dan nilai-nilai kesempurnaan. Dosa itu mungkin dalam semua alam di mana makhluk yang tidak sempurna diberkahi dengan kemampuan untuk memilih antara yang baik dan yang jahat. Hadirnya kebenaran dan ketidak-benaran yang bertentangan itu sendiri, fakta dan kepalsuan, merupakan potensi kemungkinan untuk kesalahan. Pilihan jahat yang disengaja menjadi dosa; penolakan disengaja terhadap kebenaran adalah kesalahan; pengejaran terus menerus terhadap dosa dan kesalahan itu adalah kedurhakaan.

1. Kemerdekaan Sejati dan Palsu

Dari semua masalah-masalah memusingkan yang berkembang dari pemberontakan Lucifer, tidak ada yang menyebabkan lebih banyak kesulitan daripada kegagalan manusia evolusioner yang belum matang untuk membedakan antara kemerdekaan yang sejati dan yang palsu.

Kemerdekaan (kebebasan) sejati adalah pencarian segala zaman dan pahala untuk kemajuan evolusioner. Kemerdekaan palsu adalah penipuan halus dari kesalahan waktu dan kejahatan ruang. Kebebasan yang langgeng itu didasarkan pada realitas keadilan—kecerdasan, kedewasaan, persaudaraan, dan kesetaraan.

Kebebasan adalah teknik yang menghancurkan diri sendiri untuk kehidupan kosmis kalau motivasinya tidak cerdas, tidak dibatasi, dan tidak dikendalikan. Kebebasan sejati itu secara progresif terkait dengan realitas dan selalu mempedulikan kesetaraan sosial, keadilan kosmis, persaudaraan alam semesta, dan kewajiban ilahi.

Kebebasan itu bunuh diri ketika diceraikan dari keadilan material, keadilan intelektual, kesabaran sosial, kewajiban moral, dan nilai-nilai rohani. Kemerdekaan itu tidak ada jika terpisah dari realitas kosmis, dan semua realitas kepribadian itu sebanding dengan hubungan-hubungan keilahiannya

Kehendak diri yang tidak dikekang dan ekspresi diri yang tidak diatur itu adalah sama dengan mementingkan diri sendiri sepenuhnya, puncak dari kefasikan. Kebebasan perlu penaklukan diri yang terkait dan terus semakin meningkat, tanpa itu maka kebebasan menjadi suatu khayalan dari imajinasi manusia yang egois. Kebebasan yang dimotivasi diri sendiri adalah suatu ilusi konseptual, suatu penipuan yang kejam. Penyalahgunaan kebebasan yang menyamar dalam busana kemerdekaan itu adalah pendahulu untuk perbudakan yang keji.

Kebebasan yang benar adalah teman dari penghargaan diri yang sejati; kebebasan yang palsu adalah pasangan dari pengaguman diri. Kebebasan sejati adalah buah dari pengendalian diri; kebebasan palsu, adalah asumsi untuk penegasan diri. Kontrol diri mengarah ke layanan yang mementingkan orang lain; pengaguman diri cenderung ke arah eksploitasi orang lain untuk membesarkan ego individu yang keliru itu karena bersedia mengorbankan pencapaian yang adil demi memiliki kekuasaan yang tidak adil atas sesamanya.

Bahkan hikmat itu adalah ilahi dan aman hanya bila hal hikmat itu kosmis dalam lingkupnya dan rohani dalam motivasinya.

Tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada jenis penipuan diri yang menyebabkan makhluk cerdas menginginkan kekuasaan atas makhluk lainnya untuk tujuan merampas kebebasan alami dari mereka. Aturan emas (golden rule) dari keadilan manusia berteriak melawan semua penipuan, ketidak-adilan, keegoisan, dan ketidak-benaran tersebut. Hanya kebebasan yang benar dan sejati itu yang sesuai dengan kuasa kasih dan pelayanan rahmat.

Alangkah beraninya makhluk yang dengan kemauannya sendiri melanggar hak-hak sesamanya atas nama kebebasan pribadi, jika para Penguasa Agung alam semesta saja menahan diri, sebagai penghargaan penuh rahmat untuk hak-hak istimewa dari kehendak dan potensi-potensi dari kepribadian! Dalam pelaksanaan apa yang dianggap kebebasan pribadi, tidak ada makhluk yang berhak untuk merampas dari makhluk lain hak-hak istimewa untuk keberadaan yang dikaruniakan oleh para Pencipta, hak-hak yang dihormati oleh semua rekan, bawahan dan rakyat mereka yang setia.

Manusia evolusioner mungkin harus berjuang untuk kebebasan jasmaninya dari para diktator dan penindas di dunia dosa dan kedurhakaan, atau selama masa-masa awal planet berevolusi yang primitif, tetapi hal itu tidak demikian di dunia-dunia morontia atau di dunia-dunia roh. Perang adalah warisan manusia evolusi yang mula-mula, tetapi di dunia-dunia peradaban maju yang normal, pertempuran fisik sebagai teknik menyelesaikan kesalahpahaman rasial itu telah lama dianggap sebagai cara yang hina.

2. Pencurian Kebebasan

Bersama dengan Sang Putra dan dalam Roh, Tuhan memproyeksikan Havona yang kekal, dan sejak itu telah diperoleh pola kekal untuk partisipasi sederajat dalam penciptaan, yaitu sharing atau berbagi. Pola berbagi ini adalah desain induk untuk setiap Putra dan Putri Tuhan yang pergi ke ruang angkasa untuk terlibat dalam upaya menduplikasi alam semesta pusat kesempurnaan kekal itu ke dalam alam waktu.

Setiap makhluk dari setiap alam semesta berkembang yang bercita-cita untuk melakukan kehendak Bapa itu ditakdirkan untuk menjadi mitra para Pencipta ruang-waktu dalam petualangan luar biasa untuk pencapaian kesempurnaan pengalaman ini. Seandainya hal ini tidak benar, Bapa tentulah tidak akan melengkapi makhluk-makhluk tersebut dengan kehendak bebas kreatif, tidak pula Ia akan mendiami mereka, benar-benar masuk dalam kemitraan dengan mereka dengan sarana roh-Nya itu sendiri.

Kebodohan Lucifer adalah upaya untuk melakukan hal yang tidak bisa dilakukan, yaitu menghubung-singkatkan waktu dalam suatu alam semesta pengalaman. Kejahatan Lucifer adalah mengupayakan pencabutan hak kreatif dari setiap kepribadian di Satania, penyingkatan yang tidak-disadari terhadap partisipasi pribadi makhluk—partisipasi sukarela—dalam perjuangan evolusi panjang untuk mencapai status terang dan hidup secara individu maupun secara kolektif. Dengan melakukan hal ini mantan Daulat dari sistemmu itu menetapkan tujuan temporal dari kehendaknya sendiri secara langsung merintangi tujuan kekal kehendak Tuhan seperti yang terungkap dalam anugerah kehendak bebas kepada semua makhluk yang berpribadi. Pemberontakan Lucifer dengan demikian mengancamkan pelanggaran maksimum yang mungkin terhadap pilihan sukarela para penaik dan pelayan di sistem Satania—suatu ancaman yang selama-lamanya mencabut kesempatan setiap makhluk dari pengalaman yang menggetarkan untuk menyumbangkan sesuatu yang pribadi dan unik, untuk secara perlahan mendirikan monumen menuju kebijaksanaan pengalaman yang suatu kali akan ada sebagai sistem Satania yang disempurnakan. Demikianlah manifesto Lucifer, menyamar dalam kedok pakaian kebebasan, muncul jelas dalam cahaya terang akal sebagai ancaman monumental untuk menyempurnakan pencurian kebebasan pribadi, dan untuk melakukannya dalam skala yang telah didekati hanya dua kali dalam seluruh sejarah Nebadon.

Singkatnya, apa yang Tuhan telah berikan kepada manusia dan malaikat, Lucifer hendak mengambilnya dari mereka, yaitu hak istimewa ilahi untuk ikut serta dalam penciptaan takdir-takdir mereka sendiri dan takdir sistem lokal dunia-dunia yang dihuni ini.

Tidak ada siapapun di seluruh alam semesta yang memiliki kebebasan yang sah untuk mencabut kebebasan sejati dari makhluk lain, hak untuk mencintai dan dicintai, hak istimewa untuk menyembah Tuhan dan untuk melayani sesamanya.

3. Jeda Waktu Penghakiman

Makhluk-makhluk berkehendak yang bermoral di dunia evolusi selalu terganggu oleh pertanyaan yang tidak dipikirkan seperti mengapa Pencipta yang mahabijaksana itu mengizinkan kejahatan dan dosa. Mereka gagal untuk memahami bahwa kedua hal itu tak terelakkan jika makhluk itu ingin benar-benar bebas. Kehendak bebas dari manusia yang berevolusi atau malaikat yang sempurna itu bukanlah konsep filosofis belaka, atau suatu cita-cita simbolis. Kemampuan manusia untuk memilih yang baik atau yang jahat itu adalah suatu kenyataan alam semesta. Kebebasan untuk memilih untuk diri sendiri ini adalah karunia dari para Penguasa Tertinggi, dan Mereka tidak akan mengizinkan oknum atau kelompok oknum manapun untuk mencabut karunia kebebasan ilahi dari satupun pribadi di alam semesta yang luas ini—apalagi hanya untuk memuaskan oknum tersesat dan bebal yang menikmati kebebasan pribadi yang keliru nama ini.

Meskipun penyamaan diri yang sadar dan sepenuh hati dengan kejahatan (dosa) itu adalah sama dengan tidak ada (pemusnahan), namun harus selalu berada di tengahnya antara waktu penyamaan pribadi dengan dosa tersebut dan eksekusi hukumannya—hasil otomatis dari memeluk kejahatan secara sengaja tersebut—periode waktu yang cukup panjang untuk memungkinkan penghakiman terhadap status alam semestanya individu tersebut supaya akan membuktikan sepenuhnya memuaskan pada semua pribadi alam semesta yang terkait, dan yang akan menjadi begitu jujur dan adil sehingga mendapatkan persetujuan dari si pendosa itu sendiri.

Tetapi jika pemberontak alam semesta yang melawan terhadap realitas kebenaran dan kebaikan ini menolak untuk menyetujui vonis, dan jika yang bersalah itu tahu dalam hatinya tentang keadilan hukumannya, tetapi menolak untuk membuat pengakuan tersebut, maka eksekusi hukuman harus ditunda sesuai dengan kebijaksanaan dari Yang Purba Harinya. Yang Purba Harinya menolak untuk memusnahkan siapa saja sampai semua nilai-nilai moral dan semua realitas rohani itu sudah punah, baik dalam diri si penjahat dan dalam diri semua pendukung yang terkait dan simpatisan yang mungkin.

4. Jeda Waktu Rahmat

Masalah lain yang agak sulit dijelaskan dalam konstelasi Norlatiadek berkenaan dengan alasan untuk mengizinkan Lucifer, Satan, dan pangeran-pangeran yang jatuh itu untuk mengerjakan perbuatan merusak begitu lama sebelum ditangkap, ditahan, dan dihakimi.

Para orang tua, orang-orang yang telah melahirkan dan membesarkan anak-anak, dakan lebih mampu memahami mengapa Mikhael, sesosok ayah dan Pencipta, barangkali lamban untuk mengutuk dan membinasakan Putra-putranya sendiri. Cerita dari Yesus tentang anak yang hilang menggambarkan dengan baik bagaimana seorang ayah yang penuh kasih dapat menunggu lama untuk pertobatan seorang anak yang bersalah.

Kenyataan itu sendiri, bahwa sesosok makhluk pelaku-kejahatan benar-benar dapat memilih untuk berbuat salah—melakukan dosa—membuktikan fakta tentang kehendak-bebas dan sepenuhnya membenarkan setiap penundaan panjang dalam pelaksanaan keadilan, asalkan perpanjangan belas kasihan itu mungkin menghasilkan pertobatan dan pemulihan.

Sebagian besar kebebasan yang Lucifer cari sudah ia miliki; yang lainnya akan ia terima di masa depan. Semua karunia berharga ini hilang karena kalah pada ketidaksabaran dan menyerah pada keinginan untuk memiliki apa yang ia inginkan sekarang dan memilikinya dengan menentang semua kewajiban untuk menghormati hak-hak dan kebebasan semua makhluk lain yang menyusun alam-alam semesta. Kewajiban etis adalah bawaan dari lahir, ilahi, dan semesta.

Ada banyak alasan yang kami ketahui mengapa para Penguasa Tertinggi tidak segera memusnahkan atau menahan para pemimpin dari pemberontakan Lucifer. Tidak ragu lagi masih ada alasan-alasan lainnya yang mungkin lebih baik yang tidak kami ketahui. Aspek-aspek rahmat dari penundaan eksekusi peradilan ini diperpanjang secara pribadi oleh Mikhael Nebadon. Kalau saja bukan karena kasih sayang dari bapa-Pencipta ini untuk para Putranya yang bersalah, maka peradilan tertinggi alam semesta super tentulah telah bertindak. Jika saja sebuah episode seperti pemberontakan Lucifer itu terjadi di Nebadon sementara Mikhael diinkarnasikan di Urantia, para penghasut kejahatan seperti itu mungkin telah secara seketika dan sepenuhnya dimusnahkan.

Keadilan tertinggi dapat bertindak seketika kalau tidak dikekang oleh rahmat ilahi. Namun pelayanan rahmat kepada anak-anak ruang dan waktu itu selalu menyediakan jeda waktu ini, interval penyelamat antara waktu pembenihan dan panennya. Jika benih yang ditabur itu baik, selang waktu ini menyediakan pengujian dan pembinaan karakter; jika benih yang ditabur itu jahat, penundaan rahmat ini menyediakan waktu untuk pertobatan dan pembetulan. Waktu tunda dalam penghakiman dan eksekusi pelaku kejahatan ini melekat dalam pelayanan rahmat dari tujuh alam semesta super. Pengekangan peradilan oleh rahmat ini membuktikan bahwa Tuhan itu kasih, dan bahwa Tuhan kasih itu menguasai alam-alam semesta dan dalam rahmat mengendalikan nasib dan penghakiman terhadap semua makhluk-Nya.

Penundaan waktu rahmat itu adalah oleh amanat dari kehendak bebas para Pencipta. Ada yang baik yang akan diperoleh dalam alam semesta dari teknik kesabaran ini dalam menghadapi pemberontak yang berdosa. Meskipun benar sekali bahwa yang baik tidak dapat datang dari yang jahat bagi siapa yang merenungkan dan mengerjakan kejahatan, namun benar juga bahwa segala perkara (termasuk kejahatan, yang masih kemungkinan dan yang sudah mewujud) bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi semua yang mengenal Tuhan, suka melakukan kehendak-Nya, dan sedang naik ke arah Firdaus sesuai dengan rencana yang kekal dan tujuan ilahi-Nya.

Namun penundaan karena rahmat ini tidak dapat terus menerus. Meskipun penundaan itu panjang (kalau waktunya dihitung di Urantia) dalam mengadili pemberontakan Lucifer, kami dapat mencatat bahwa, selama masa membuat pewahyuan ini, sidang dengar pendapat pertama dalam kasus tunda Gabriel lawan Lucifer itu telah diselenggarakan di Uversa, dan segera setelah itu dikeluarkanlah amanat dari Yang Purba Harinya memerintahkan agar Satan mulai saat itu ditahan di dunia penjara bersama dengan Lucifer. Hal ini mengakhiri kemampuan Satan berkunjung lebih lanjut ke salah satu dunia yang jatuh di sistem Satania. Peradilan dalam alam semesta yang dikuasai oleh rahmat itu mungkin lambat, tetapi pasti.

5. Hikmat dari Penundaan

Dari banyak alasan yang aku tahu seperti mengapa Lucifer dan para sekutunya tidak cepat ditahan atau diadili, aku diperbolehkan untuk menguraikan berikut ini:

1. Rahmat itu mengharuskan agar setiap pelaku salah memiliki waktu yang cukup untuk merumuskan sikap yang disengaja dan sepenuhnya dipilih mengenai pikiran-pikiran jahat dan perbuatan-perbuatan dosanya.

2. Keadilan tertinggi itu dikuasai oleh kasih Bapa; sebab itu keadilan tidak akan pernah menghancurkan apa yang rahmat bisa selamatkan. Waktu untuk menerima keselamatan itu dipercayakan kepada setiap pelaku kejahatan.

3. Tidak ada ayah yang penyayang itu terburu-buru dalam mendatangkan hukuman atas sesosok anggota keluarganya yang bersalah. Kesabaran tidak dapat berfungsi mandiri dari waktu.

4. Meskipun perbuatan salah itu selalu merugikan suatu keluarga, tetapi kebijaksanaan dan kasih menganjurkan agar anak-anak yang baik bersabar pada saudara yang bersalah itu selama waktu yang diberikan oleh ayah yang penyayang, sehingga si pendosa dapat melihat kesalahan jalannya dan memeluk keselamatan.

5. Terlepas dari sikapnya Mikhael terhadap Lucifer, meskipun dirinya sebagai bapa-Penciptanya Lucifer, namun tidak dalam kewenangan Putra Pencipta untuk melaksanakan penghakiman langsung atas Daulat Sistem yang murtad itu karena sang Putra Pencipta saat itu belum menyelesaikan karier anugerahnya, sehingga dengan itu mencapai kedaulatan tanpa pengecualian atas Nebadon.

6. Yang Purba Harinya bisa saja segera memusnahkan para pemberontak ini, tetapi mereka jarang mengeksekusi pelaku kejahatan tanpa dengar pendapat penuh. Dalam contoh ini mereka menolak untuk membatalkan keputusan Mikhael.

7. Jelaslah bahwa Immanuel menasihati Mikhael untuk tetap menjauh dari para pemberontak dan memungkinkan pemberontakan itu mengikuti arah alami untuk pemusnahan diri mereka sendiri. Hikmat dari Yang Bersatu Harinya itu adalah cerminan waktu dari hikmat disatukan dari Trinitas Firdaus.

8. Yang Setia Harinya di Edentia menasihati para Bapa Konstelasi untuk membiarkan para pemberontak itu berlaku bebas sampai akhirnya supaya semua simpati bagi para pelaku kejahatan itu akan semakin cepat tercabut dalam hati setiap warga masa kini dan masa depan Norlatiadek—setiap sosok manusia, morontia, atau roh.

9. Di Yerusem, perwakilan pribadi dari Eksekutif Tertinggi Orvonton menasihati Gabriel untuk mendorong kesempatan penuh bagi setiap makhluk hidup untuk mematangkan pilihan yang disengaja dalam urusan-urusan yang tercakup dalam Deklarasi Kemerdekaan Lucifer. Isu-isu pemberontakan yang telah diangkat, penasihat darurat dari Firdaus untuk Gabriel itu menguraikan bahwa, jika kesempatan penuh dan bebas seperti itu tidak diberikan pada semua makhluk Norlatiadek, maka karantina Firdaus terhadap semua makhluk yang mungkin setengah hati atau bimbang ragu itu akan diperpanjang dalam rangka perlindungan diri terhadap seluruh konstelasi. Untuk tetap membuka pintu kenaikan Firdaus bagi sosok-sosok dari Norlatiadek, maka perlu untuk menyediakan pengembangan penuh pemberontakan dan untuk memastikan penentuan sikap yang tuntas pada pihak semua makhluk dalam cara apapun yang bersangkutan dengan hal itu.

10. Penatalayan Ilahi Salvington menerbitkan sebagai pengumuman mandiri ketiganya sebuah amanat yang mengarahkan agar tidak ada yang dilakukan untuk setengah menyembuhkan, menindas secara pengecut, atau sebaliknya menyembunyikan tampang mengerikan dari para pemberontak dan pemberontakan itu. Kawanan malaikat diperintahkan untuk mengerjakan pengungkapan penuh dan kesempatan tak terbatas untuk pengekspresian dosa sebagai teknik tercepat untuk mencapai penyembuhan yang sempurna dan final terhadap wabah kejahatan dan dosa itu.

11. Suatu dewan darurat mantan manusia yang terdiri dari para Utusan Perkasa, manusia dimuliakan yang telah memiliki pengalaman pribadi dengan situasi-situasi serupa seperti ini, bersama-sama dengan rekan-rekan mereka, telah dibentuk di Yerusem. Mereka menasihati Gabriel bahwa setidaknya tiga kali lagi jumlah makhluk akan tersesat jika diupayakan metode-metode penindasan secara sewenang-wenang atau seketika. Seluruh Korps konselor Uversa bersepakat menasihati Gabriel agar mengizinkan pemberontakan untuk berjalan secara penuh dan alami, bahkan jika hal itu harus memerlukan satu juta tahun untuk menyudahi dampak-dampaknya.

12. Waktu, bahkan di alam semesta waktu, adalah relatif: Jika seorang manusia Urantia dengan panjang umur rata-rata melakukan kejahatan yang menghasilkan bencana seluruh dunia, dan jika ia ditangkap, diadili, dan dieksekusi dalam waktu dua atau tiga hari setelah pelaksanaan kejahatan, apakah hal itu tampak lama bagi kamu? Namun hal itu mirip jika dibandingkan dengan panjang hidupnya Lucifer bahkan jika pengadilan, yang sekarang dimulai, belum diselesaikan selama seratus ribu tahun Urantia. Jeda waktu relatif dari sudut pandang Uversa, di mana proses perkaranya sedang menunggu keputusan, dapat ditunjukkan dengan mengatakan bahwa kejahatan Lucifer sedang dibawa ke pengadilan di dalam waktu dua setengah detik dari pelaksanaan perbuatan tersebut. Dari sudut pandang Firdaus pengadilan itu bersamaan dengan pemberlakuannya.

Ada sejumlah alasan yang sama untuk tidak sewenang-wenang menghentikan pemberontakan Lucifer yang akan sebagian dapat kamu pahami, tetapi yang aku tidak diizinkan untuk menceritakannya. Aku boleh memberitahu kamu bahwa di Uversa kami ajarkan empat puluh delapan alasan untuk membiarkan kejahatan berjalan penuh menuju kebangkrutan moral dan kepunahan rohaninya sendiri. Aku tidak ragu bahwa ada banyak alasan tambahan lain lagi yang tidak aku ketahui.

6. Kemenangan Kasih

Apapun kesulitan-kesulitan yang mungkin manusia evolusi hadapi dalam upaya mereka untuk memahami pemberontakan Lucifer, haruslah jelas bagi semua pemikir reflektif bahwa teknik untuk berurusan dengan para pemberontak adalah usaha mempertahankan kasih ilahi. Rahmat kasih yang diulurkan kepada pemberontak tampaknya telah melibatkan banyak makhluk tak berdosa dalam kesengsaraan dan penderitaan, tetapi semua pribadi yang tak berdaya ini bisa bergantung dengan aman pada Hakim yang mahabijaksana itu untuk mengadili nasib mereka dalam rahmat serta dalam keadilan.

Dalam semua urusan mereka dengan sosok-sosok cerdas, baik Putra Pencipta maupun Bapa Firdausnya itu dikuasai oleh kasih. Tidak mungkin untuk memahami berbagai tahapan dari sikap para penguasa alam semesta terhadap pemberontak dan pemberontakan—dosa dan pendosa—kecuali diingat bahwa Tuhan sebagai Bapa telah ada lebih dahulu atas semua tahap manifestasi Deitas lainnya dalam semua urusan ketuhanan dengan kemanusiaan. Perlu diingat pula bahwa para Putra Firdaus Pencipta itu termotivasi sepenuhnya oleh rahmat.

Jika seorang ayah yang penyayang di keluarga besar memilih untuk menunjukkan belas kasihan kepada salah satu anaknya yang melakukan kesalahan yang mencemaskan, bisa jadi juga bahwa perpanjangan rahmat bagi si anak nakal ini akan menimpakan kesulitan sementara terhadap semua anak lainnya yang berperilaku baik. Kejadian-kejadian akibat tersebut tidak bisa terelakkan; risiko seperti itu tidak terlepas dari situasi kenyataan memiliki orang tua yang penuh kasih dan menjadi anggota dari sebuah kelompok keluarga. Setiap anggota keluarga mendapat manfaat dari perilaku benar dari setiap anggota lainnya; demikian juga haruslah setiap anggota menderita dampak-waktu langsung karena perbuatan keliru dari setiap anggota lainnya. Keluarga, kelompok, bangsa, ras, dunia, sistem, konstelasi, dan alam-alam semesta adalah hubungan-hubungan ikatan yang memiliki individualitas; dan karena itu setiap anggota dari suatu kelompok tersebut, besar atau kecil, akan menuai manfaat dan menderita konsekuensi dari perbuatan baik dan perbuatan salah dari semua anggota lain dari kelompok yang bersangkutan.

Tapi ada satu hal yang harus diperjelas: Jika kamu dibuat menderita akibat-akibat buruk dari dosa suatu anggota keluargamu, dari beberapa sesama warga atau sesama manusia, bahkan dari pemberontakan di sistem atau di tempat lain—terlepas dari apapun yang mungkin harus kamu tanggung karena kesalahan dari rekan, sesama, atau atasanmu itu—kamu bisa aman bersandar dalam jaminan kekal bahwa kesengsaraan tersebut adalah penderitaan sementara. Tak ada satupun dampak persaudaraan dari perilaku keliru dalam kelompok ini yang bisa membahayakan prospek kekalmu atau sedikitpun menghalangi kamu dari hak ilahi untuk kenaikan Firdaus dan pencapaian Tuhan.

Dan ada kompensasi untuk cobaan, penundaan, dan kekecewaan ini yang selalu menyertai dosa pemberontakan. Dari banyak akibat-akibat susulan yang berharga dari pemberontakan Lucifer yang bisa disebutkan, aku hanya akan menyebutkan mengenai peningkatan karier para penaik fana itu, para warga Yerusem, yang karena melawan tipu daya dosa, menempatkan diri mereka dalam barisan untuk menjadi para Utusan Perkasa di masa depan, yaitu rekan-rekan golonganku sendiri. Setiap makhluk yang tahan uji dalam episode jahat itu dengan demikian segera dimajukan status administratifnya dan ditingkatkan nilai rohaninya.

Pertamanya pergolakan Lucifer tampak menjadi bencana yang tak terkendali pada sistem dan pada alam semesta. Secara bertahap manfaat mulai bertambah. Dengan berlalunya dua puluh lima ribu tahun waktu sistem (dua puluh ribu tahun waktu Urantia), para Melkisedek mulai mengajarkan bahwa kebaikan yang dihasilkan dari kebodohan Lucifer itu telah menyamai kejahatan yang dibuat. Jumlah kejahatan yang dilakukan pada saat itu menjadi hampir tetap, terus meningkat hanya pada dunia terisolasi tertentu, sedangkan akibat yang menguntungkan terus berlipat ganda dan meluas keluar melalui alam semesta lokal dan alam semesta super, bahkan sampai Havona. Para Melkisedek sekarang mengajarkan bahwa kebaikan yang dihasilkan dari pemberontakan Satania itu lebih dari seribu kali dari jumlah semua kejahatannya.

Tetapi panen dari perbuatan salah yang luar biasa dan bermanfaat seperti itu hanya bisa dihasilkan oleh sikap bijak, ilahi, dan penuh belas kasihan dari semua atasannya Lucifer, yang mencakup mulai dari Bapa Konstelasi di Edentia sampai kepada Bapa Semesta di Firdaus. Berlalunya waktu telah meningkatkan akibat baik yang diperoleh dari kebodohan Lucifer; dan karena kejahatan yang harus dihukum itu cukup berkembang sepenuhnya dalam waktu yang relatif singkat, maka jelaslah bahwa para penguasa alam semesta yang mahabijaksana dan berpandangan jauh itu akan pasti memperpanjang waktu demi untuk menuai hasil yang semakin menguntungkan. Terlepas dari banyak alasan tambahan untuk menunda penangkapan dan penghakiman para pemberontak Satania, keuntungan yang satu ini sudah cukup untuk menjelaskan mengapa para pendosa ini tidak lebih cepat ditahan, dan mengapa mereka belum diadili dan dimusnahkan.

Pikiran manusia yang berpandangan pendek dan terikat waktu itu janganlah cepat mengkritik penundaan-penundaan waktu oleh para administrator urusan-urusan alam semesta yang berpandangan jauh dan mahabijaksana itu.

Satu kesalahan pemikiran manusia mengenai masalah-masalah ini terdiri dari gagasan bahwa semua manusia evolusioner di suatu planet berkembang akan memilih untuk memasuki karier Firdaus jika saja dosa tidak mengutuk dunia mereka. Kemampuan untuk menolak keselamatan itu tidak berasal dari masa-masa pemberontakan Lucifer. Manusia fana itu selalu memiliki kemampuan untuk pilihan kehendak bebas mengenai karier Firdaus.

Selagi kamu naik dalam pengalaman selamat, kamu akan memperlebar konsep-konsep alam semestamu dan memperluas cakrawala makna-makna dan nilai-nilaimu; maka dengan demikian kamu akan dapat lebih baik memahami mengapa oknum seperti Lucifer dan Satan diizinkan untuk meneruskan pemberontakan. Kamu juga akan lebih memahami bagaimana yang baik pada akhirnya (jika tidak segera) dapat diperoleh dari kejahatan yang dibatasi-waktu. Setelah kamu mencapai Firdaus, kamu benar-benar akan tercerahkan dan terhibur ketika kamu mendengarkan para filsuf superafik mendiskusikan dan menjelaskan masalah-masalah besar untuk penyesuaian alam semesta ini. Tetapi itupun kemudian, aku ragu bahwa kamu akan sepenuhnya dipuaskan dalam pikiranmu sendiri. Setidaknya aku tidak puas bahkan ketika aku sudah mencapai puncak filsafat alam semesta. Aku belum mencapai pemahaman penuh terhadap kompleksitas ini sampai setelah aku ditugaskan untuk tugas-tugas administratif dalam alam semesta super, di mana oleh pengalaman nyata aku telah memperoleh kemampuan konseptual yang memadai untuk pemahaman masalah yang bersisi banyak tersebut dalam keadilan kosmis dan filsafat rohani. Sementara kamu naik ke arah Firdaus, kamu akan semakin belajar bahwa banyak fitur problematik dalam administrasi alam semesta hanya dapat dipahami setelah perolehan kapasitas pengalaman yang ditingkatkan dan setelah pencapaian wawasan rohani yang diperluas. Hikmat kosmis itu amat diperlukan untuk memahami situasi-situasi kosmis.

[Disampaikan oleh sesosok Utusan Perkasa dengan pengalaman selamat dalam pemberontakan sistem pertama dalam alam-alam semesta waktu yang sekarang diperbantukan ke pemerintahan alam semesta super Orvonton dan bertindak dalam urusan ini atas permintaan dari Gabriel Salvington.]

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved