Makalah 179: Perjamuan Malam Terakhir

   
   Red Jesus Text: On | Off    Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 179

Perjamuan Malam Terakhir

SELAMA sore hari Kamis ini, ketika Filipus mengingatkan Guru tentang Paskah yang makin dekat dan menanyakan mengenai rencananya untuk perayaannya, ia berpikir dalam benaknya makan malam Paskah yang hendak dimakan pada malam hari berikutnya, hari Jumat. Menjadi kebiasaan untuk memulai persiapan untuk perayaan Paskah paling lambat pada siang hari sebelumnya. Dan karena orang-orang Yahudi menghitung hari dimulai dari matahari terbenam, ini berarti bahwa makan malam Paskah hari Sabtu itu akan dimakan pada Jumat malam, kira-kira sebelum tengah malam.

Rasul-rasul, oleh karena itu, sama sekali tidak memahami pengumuman Guru bahwa mereka akan merayakan Paskah satu hari lebih awal. Mereka pikir, setidaknya beberapa orang dari mereka, bahwa dia tahu dia akan ditangkap sebelum waktu perjamuan Paskah pada hari Jum’at malam dan karena itu dia memanggil mereka bersama-sama untuk makan malam istimewa pada Kamis malam ini. Lainnya berpikir bahwa ini hanyalah acara istimewa yang akan mendahului perayaan Paskah yang biasa.

Para rasul tahu bahwa Yesus telah merayakan Paskah-Paskah yang lainnya tanpa daging domba; mereka tahu bahwa dia secara pribadi tidak ikut serta apapun dalam ibadah pengorbanan sistem Yahudi. Dia telah berkali-kali makan domba Paskah sebagai tamu, tapi selalu, ketika dia adalah tuan rumah, tidak ada daging domba yang disajikan. Tidak akan menjadi kejutan besar bagi para rasul melihat daging domba dihilangkan bahkan pada malam Paskah, dan karena makan malam ini disajikan satu hari sebelumnya, mereka tidak berpikir apa-apa tentang tidak adanya daging domba.

Setelah menerima salam selamat datang yang disampaikan oleh ayah dan ibunya Yohanes Markus, para rasul segera pergi ke ruang atas, sementara Yesus masih berlama-lama di belakang untuk berbicara dengan keluarga Markus.

Sudah dipahami sebelumnya bahwa Guru akan merayakan kesempatan ini sendirian dengan dua belas rasulnya; karena itu tidak ada pembantu yang disediakan untuk menunggu mereka.

1. Keinginan untuk Diutamakan

Setelah para rasul diantar ke atas oleh Yohanes Markus, mereka melihat sebuah ruang besar dan lapang, yang sepenuhnya dilengkapi untuk makan malam, dan mengamati bahwa roti, anggur, air, dan rempah-rempah semua siap di salah satu ujung meja. Kecuali di ujung di mana terletak roti dan anggur, meja panjang ini dikelilingi oleh tiga belas sofa untuk berbaring (reclining couches), sama seperti yang disediakan untuk perayaan Paskah dalam sebuah rumah tangga Yahudi yang kaya.

Saat dua belas memasuki ruang atas ini, mereka melihat, tepat di belakang pintu, ada kendi-kendi air, baskom-baskom, dan handuk-handuk untuk mencuci kaki berdebu mereka; dan karena tidak ada hamba yang disediakan untuk memberikan layanan ini, para rasul mulai berpandangan satu sama lain segera setelah Yohanes Markus meninggalkan mereka, dan masing-masing mulai berpikir dalam diri mereka sendiri, Siapa yang akan mencuci kaki kita? Dan masing-masing juga berpikir bahwa bukan dia yang akan bertindak sebagai pembantu yang lain.

Sementara mereka berdiri di sana, berdebat dalam hati mereka, mereka memeriksa penataan duduk di meja, memperhatikan dipan yang lebih tinggi untuk tuan rumah dengan satu sofa di kanan dan sebelas diatur seputar meja hingga sampai seberang tempat kehormatan kedua di sebelah kanan tuan rumah itu.

Mereka mengharapkan Guru untuk tiba kapan saja, tetapi mereka dalam kebingungan mengenai apakah mereka akan duduk sendiri atau menunggu kedatangannya dan bergantung pada dia untuk menetapkan tempat mereka. Sementara mereka ragu-ragu, Yudas melangkah ke tempat kehormatan, di sebelah kiri tuan rumah, dan menunjukkan bahwa ia hendak berbaring di sana sebagai tamu kehormatan. Tindakan Yudas ini segera menimbulkan pertikaian panas antara para rasul lainnya. Yudas baru saja merebut kursi kehormatan ini saat Yohanes Zebedeus menduduki tempat yang diutamakan berikutnya, satu di sebelah kanan tuan rumah. Simon Petrus begitu marah pada pengambilan posisi pilihan ini oleh Yudas dan Yohanes itu sehingga, sementara rasul-rasul lain yang marah memandangi, ia melangkah dengan tegap mengelilingi meja dan mengambil tempatnya di tempat terendah, akhir urutan tempat duduk dan tepat berseberangan dengan tempat yang dipilih oleh Yohanes Zebedeus. Karena orang lain telah merebut tempat-tempat tinggi, Petrus berpikir untuk memilih yang terendah, dan ia melakukan hal ini, bukan hanya sebagai protes terhadap kebanggaan tidak sepantasnya dari saudara-saudaranya, tetapi dengan harapan bahwa Yesus, ketika ia akan datang dan melihat dia di tempat paling tidak terhormat itu, akan memanggilnya ke tempat yang lebih tinggi, sehingga menggusur siapa yang telah berani menghormati dirinya sendiri.

Karena posisi tertinggi dan terendah telah diduduki seperti itu, sisa rasul-rasul lain memilih tempat mereka, beberapa dekat Yudas dan beberapa dekat Petrus, sampai semua mendapat tempat. Mereka duduk sekitar meja berbentuk U di atas dipan-dipan berbaring ini dalam urutan sebagai berikut: di sebelah kanan Guru, Yohanes (ujung U); di sebelah kiri Guru: Yudas, kemudian Simon Zelot, Matius, Yakobus anak Zebedeus, Andreas, kembar Alfeus, Filipus, Natanael, Tomas, dan Simon Petrus (di ujung U satunya di seberang Yohanes).

Mereka berkumpul untuk merayakan, setidaknya dalam roh, suatu lembaga yang telah ada bahkan sebelum Musa dan mengacu ke saat-saat ketika nenek moyang mereka menjadi budak di Mesir. Makan malam ini adalah acara pertemuan terakhir mereka dengan Yesus, dan bahkan dalam pengaturan khidmat tersebut, di bawah kepemimpinan Yudas para rasul terbawa sekali lagi untuk mengutamakan kecenderungan lama mereka untuk kehormatan, hal diutamakan, dan peninggian pribadi.

Mereka masih sibuk menyuarakan tuduhan-tuduhan marah ketika Guru muncul di ambang pintu, dimana dia berhenti sejenak sementara ekspresi kekecewaan perlahan-lahan merebak di wajahnya. Tanpa komentar dia pergi ke tempatnya, dan dia tidak mengganggu pengaturan tempat duduk mereka.

Mereka sekarang siap untuk mulai makan malam, kecuali bahwa kaki mereka masih belum dicuci, dan mereka sama sekali tidak dalam kerangka pikiran yang nyaman. Ketika Guru tiba, mereka masih berkomentar tidak terpuji satu sama lain, belum lagi pikiran-pikiran beberapa orang yang telah memiliki kontrol emosi yang cukup untuk menahan diri agar tidak mengungkapkan perasaan mereka di depan umum.

2. Memulai Perjamuan

Selama beberapa saat setelah Guru pergi ke tempatnya, tak sepatahpun kata yang diucapkan. Yesus melihat semua mereka sekeliling, meredakan ketegangan dengan senyum, mengatakan: “Aku sangat rindu makan Paskah ini dengan kamu. Aku ingin makan dengan kamu sekali lagi sebelum aku menderita, dan menyadari bahwa waktuku telah tiba, aku mengatur untuk makan malam ini dengan kamu malam ini, karena, mengenai esok hari, kita semua ada dalam tangan Bapa, yang kehendak-Nya aku telah datang untuk melaksanakannya. Aku tidak akan lagi makan dengan kamu sampai kamu duduk dengan aku dalam kerajaan yang Bapaku akan berikan padaku setelah aku selesaikan apa yang untuk itulah Dia utus aku ke dalam dunia ini.”

Setelah anggur dan air dicampur, mereka membawa cawan itu kepada Yesus, yang, setelah ia menerimanya dari tangan Tadeus, memegangnya sambil mengucap syukur. Dan setelah dia selesai mengucap syukur, dia berkata: “Ambillah cawan ini dan bagilah di antara kamu dan, ketika kamu minum dari itu, sadarilah bahwa aku tidak akan lagi minum dengan kamu buah dari pohon anggur karena ini adalah makan malam terakhir kita. Ketika kita duduk lagi dengan cara ini, itu akan dalam kerajaan yang akan datang.”

Yesus mulai berbicara dengan para rasulnya seperti itu karena dia tahu, bahwa waktunya sudah tiba. Dia mengerti bahwa waktunya telah tiba ketika dia akan kembali kepada Bapa, dan bahwa karyanya di bumi hampir selesai. Guru tahu dia telah mewahyukan kasih Bapa di bumi dan telah menunjukkan rahmat-Nya kepada umat manusia, dan bahwa dia telah menyelesaikan apa yang untuk itulah dia datang ke dunia, bahkan sampai menerima semua kekuasaan dan wewenang di surga dan di bumi. Demikian juga, dia tahu Yudas Iskariot telah sepenuhnya mengambil keputusan untuk menyerahkan dirinya malam itu ke tangan musuh-musuhnya. Dia menyadari sepenuhnya bahwa pengkhianatan ini adalah pekerjaan Yudas, tetapi hal itu juga menyenangkan Lucifer, Satan, dan Kaligastia penghulu kegelapan. Tapi dia tidak takut pada mereka yang mengupayakan dia jatuh secara rohani lebih daripada dia takut pada orang-orang yang berusaha untuk mendatangkan kematiannya secara jasmani. Guru hanya memiliki satu kecemasan, dan itu adalah keamanan dan keselamatan pengikut-pengikut pilihannya. Maka, dengan pengetahuan penuh bahwa Bapa telah menempatkan segala sesuatu di bawah wewenangnya, Guru sekarang bersiap untuk memerankan perumpamaan tentang kasih persaudaraan.

3. Membasuh Kaki para Rasul

Setelah minum cawan pertama Paskah, menjadi kebiasaan orang Yahudi agar tuan rumah bangun dari meja dan mencuci tangannya. Belakangan pada waktu makan dan setelah cawan kedua, semua tamu juga bangun dan mencuci tangan mereka. Karena para rasul tahu bahwa Guru mereka tidak pernah melakukan tata cara mencuci tangan ini, mereka sangat ingin tahu apa yang hendak dilakukannya saat, setelah mereka minum dari cawan pertama ini, dia bangkit dari meja dan dengan diam berjalan ke dekat pintu, dimana kendi-kendi air, baskom-baskom, dan handuk telah ditempatkan. Dan rasa ingin tahu mereka tumbuh menjadi keheranan karena mereka melihat Guru melepas pakaian luarnya, mengenakan sehelai handuk, dan mulai menuangkan air ke dalam salah satu baskom kaki. Bayangkan keheranan dua belas orang ini, yang belum lama menolak untuk mencuci kaki satu sama lain, dan yang telah terlibat dalam pertengkaran tidak pantas tentang posisi kehormatan di meja, ketika mereka melihat dia berjalan seputar ujung yang tidak ditempati dari meja menuju tempat terendah perjamuan, dimana Simon Petrus berbaring, dan, sambil berlutut dalam sikap seorang pelayan, bersiap-siap untuk mencuci kaki Simon. Saat Guru berlutut, semua dua belas bangkit berdiri serempak; bahkan si pengkhianat Yudas lupa hujatannya untuk sejenak sehingga bangun berdiri dengan sesama rasulnya dalam ungkapan terkejut, hormat, dan sama sekali heran ini.

Di sana berdirilah Simon Petrus, memandang ke bawah ke wajah Gurunya yang mendongak ke atas. Yesus tidak berkata apa-apa; tidak perlu bahwa dia harus berbicara. Sikapnya jelas mengungkapkan bahwa dia berniat untuk mencuci kaki Simon Petrus. Terlepas dari kelemahan-kelemahan secara jasmaninya, Petrus mengasihi Guru. Nelayan Galilea ini adalah manusia pertama yang sepenuh hati percaya akan keilahian Yesus dan membuat pengakuan penuh dan di depan umum untuk keyakinan itu. Dan Petrus sejak itu tidak pernah benar-benar meragukan kodrat ilahinya Guru. Karena Petrus begitu memuja dan menghormati Yesus dalam hatinya, tidak aneh bahwa jiwanya membenci pemikiran Yesus berlutut di hadapannya dalam sikap seorang pelayan kasar dan mengusulkan untuk membasuh kakinya seperti seorang budak. Ketika Petrus tak lama kemudian cukup mengumpulkan akalnya untuk berbicara kepada Guru, ia mengucapkan perasaan hati semua rekan rasulnya.

Setelah beberapa saat rasa malu yang besar ini, Petrus berkata, “Guru, apakah engkau benar-benar berniat hendak mencuci kakiku?” Dan kemudian, sambil memandang ke atas ke wajah Petrus, Yesus berkata: “Kamu mungkin tidak sepenuhnya memahami apa yang aku akan lakukan, tapi setelah ini kamu akan tahu arti dari semua hal ini.” Kemudian Simon Petrus, menarik napas panjang, berkata, “Guru, engkau tidak boleh mencuci kakiku!” Dan masing-masing dari para rasul mengangguk setuju akan deklarasi tegas Petrus menolak untuk mengizinkan Yesus merendahkan diri di hadapan mereka seperti demikian.

Daya tarik dramatis dari adegan yang tidak biasa ini pada awalnya menyentuh hati Yudas Iskariot juga; tapi ketika akalnya yang angkuh memberikan penilaian ke atas tontonan itu, ia menyimpulkan bahwa sikap kerendahan hati ini hanyalah satu episode lagi yang secara meyakinkan membuktikan bahwa Yesus tidak pernah akan memenuhi syarat sebagai pembebas Israel, dan bahwa ia tidak membuat kesalahan dalam keputusan untuk meninggalkan pergerakan Guru.

Sementara mereka semua berdiri di sana dalam ketakjuban menahan napas, Yesus berkata: “Petrus, aku menyatakan bahwa, jika aku tidak mencuci kakimu, kamu tidak akan mendapat bagian dengan aku dalam apa yang hendak aku lakukan.” Ketika Petrus mendengar pernyataan ini, ditambah dengan fakta bahwa Yesus terus berlutut di kakinya, ia membuat salah satu keputusan setuju buta sesuai dengan keinginan dari seseorang yang ia hormati dan cintai. Saat mulai disadari Simon Petrus bahwa ada melekat pada usulan perlakuan layanan ini suatu dampak yang menentukan hubungan masa depan seseorang dengan pekerjaan Guru, maka ia tidak hanya menjadi setuju dengan pikiran membiarkan Yesus membasuh kakinya, tetapi dalam gayanya yang khas dan terburu nafsu, ia berkata: “Kalau begitu, Guru, cuci jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tanganku dan kepalaku.”

Saat Guru bersiap-siap untuk mulai membasuh kaki Petrus, ia berkata: “Siapa yang sudah bersih hanya perlu untuk dibasuh kakinya. Kamu yang duduk dengan aku malam ini bersih—tapi tidak semua. Namun debu dari kakimu haruslah telah dicuci bersih sebelum kamu duduk makan dengan aku. Dan selain itu, aku akan melakukan layanan ini untuk kamu sebagai perumpamaan untuk menggambarkan makna dari suatu perintah baru yang aku akan segera berikan padamu.”

Dengan cara serupa Guru berkeliling meja, dalam keheningan, membasuh kaki dua belas rasul, juga tidak melewatkan Yudas. Ketika Yesus telah selesai membasuh kaki dua belas, dia mengenakan jubahnya, kembali ke tempatnya sebagai tuan rumah, dan setelah melihat keliling para rasulnya yang kebingungan, dia berkata:

“Apakah kamu benar-benar memahami apa yang telah aku lakukan pada kamu? Kamu menyebut aku Guru (Master), dan katamu itu benar, sebab memang begitulah. Jika, kemudian, Guru telah mencuci kakimu, mengapa sehingga kamu tidak mau mencuci kaki satu sama lain? Pelajaran apa yang harus kamu pelajari dari perumpamaan ini jika Guru begitu rela melakukan layanan itu yang saudara-saudaranya tidak mau lakukan untuk satu sama lain? Sesungguhnya, aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidak lebih besar dari tuannya; tidak pula orang yang diutus lebih besar dari yang mengutus dia. Kamu telah melihat cara pelayanan dalam hidupku di antara kamu, dan berbahagialah kamu yang mau memiliki keberanian ramah demikian untuk melayani. Tapi mengapa kamu begitu lamban belajar bahwa rahasia kebesaran dalam kerajaan rohani itu tidak seperti metode-metode kekuasaan dalam dunia jasmani?

“Ketika aku datang ke dalam ruangan ini malam ini, kamu yang tidak puas dengan sombong menolak untuk mencuci kaki satu sama lain, tetapi kamu pastilah juga berselisih antara kamu siapa yang harus mendapat tempat-tempat kehormatan di mejaku. Penghargaan seperti itulah yang dicari orang-orang Farisi dan anak-anak dunia ini, tetapi tidak boleh demikian di antara duta-duta kerajaan surgawi. Tidak tahukah kamu, bahwa tidak ada tempat keistimewaan di mejaku? Apakah kamu tidak mengerti bahwa aku mengasihi masing-masing kamu seperti aku kepada yang lain-lain? Tidak tahukah kamu, bahwa tempat yang terdekat dengan aku, seperti anggapan orang tentang penghormatan itu, tidak berarti apa-apa tentang kedudukanmu dalam kerajaan surga? Kamu tahu bahwa raja-raja orang kafir berkuasa atas rakyat jajahan mereka, sementara mereka yang menjalankan wewenang ini kadang-kadang disebut dermawan. Tapi tidak akan begitu dalam kerajaan surga. Siapa yang ingin menjadi besar di antara kamu, biarlah ia menjadi seperti yang lebih muda; sementara siapa yang ingin menjadi kepala, biarlah ia menjadi seperti orang yang melayani. Siapakah yang lebih besar, yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah umumnya dianggap bahwa yang duduk makan adalah yang lebih besar? Tapi kamu akan melihat bahwa aku ada di antara kamu sebagai yang melayani. Jika kamu bersedia untuk menjadi kawan-kawan pelayan dengan aku dalam melakukan kehendak Bapa, dalam kerajaan yang akan datang kamu akan duduk dengan aku dalam kekuasaan, masih melakukan kehendak Bapa dalam kemuliaan masa depan.”

Setelah Yesus selesai berbicara, kembar Alfeus mengeluarkan roti dan anggur, dengan sayur pahit dan pasta buah-buahan kering, untuk sajian berikutnya dari Perjamuan Terakhir.

4. Kata-kata Terakhir untuk Pengkhianat

Selama beberapa menit para rasul makan dengan diam, tetapi di bawah pengaruh sikap ceria Guru mereka segera ditarik ke dalam percakapan, dan tak lama kemudian makan malam itu berlangsung seolah-olah tidak terjadi hal di luar kebiasaan yang mengganggu kegembiraan dan keserasian sosial dari acara yang luar biasa ini. Setelah beberapa waktu berlalu, sekitar pada pertengahan sajian kedua makan ini, Yesus, melihat sekeliling atas mereka, mengatakan: “Aku telah memberitahu kamu betapa aku ingin untuk makan malam ini bersama kamu, dan mengetahui bagaimana kuasa-kuasa kegelapan yang jahat telah bersekongkol untuk mendatangkan kematian Anak Manusia, aku bertekad untuk makan malam ini dengan kamu dalam ruang rahasia ini dan satu hari sebelum Paskah karena aku tidak akan bersama kamu pada waktu ini besok malam. Aku telah berulang kali katakan bahwa aku harus kembali kepada Bapa. Kini waktuku telah tiba, tapi tidak diharuskan bahwa salah satu dari kamu akan mengkhianati aku ke tangan musuh-musuhku.”

Ketika dua belas mendengar ini, karena ketegasan diri dan kepercayaan diri mereka telah banyak dirampas oleh perumpamaan tentang pembasuhan kaki dan ceramah Guru berikutnya, mereka mulai melihat satu sama lain sementara dalam nada bingung mereka dengan ragu-ragu bertanya, “Apakah itu aku?” Dan ketika mereka semua bertanya seperti itu, Yesus berkata: "Meskipun penting bahwa aku pergi kepada Bapa, tidaklah diharuskan bahwa salah satu dari kamu akan menjadi pengkhianat untuk memenuhi kehendak Bapa. Ini adalah berbuahnya kejahatan tersembunyi dalam hati orang yang gagal untuk mengasihi kebenaran dengan segenap jiwanya. Sungguh alangkah menipunya kebanggaan intelektual yang mendahului kejatuhan rohani! Temanku bertahun-tahun, yang bahkan sekarang makan rotiku, mau bersedia untuk mengkhianati aku, bahkan saat ini pun ia mencelupkan tangannya dengan aku dalam piring.”

Dan setelah Yesus telah bersabda demikian, mereka semua mulai lagi untuk bertanya, “Apakah itu aku?” Dan saat Yudas, yang duduk di sebelah kiri Gurunya, kembali bertanya, “Apakah itu aku?” Yesus, mencelupkan roti dalam piring besar berisi bumbu, menyerahkannya kepada Yudas, berkata, “Kamu telah mengatakannya.” Tapi yang lain tidak mendengar Yesus berbicara kepada Yudas. Yohanes, yang berbaring di sebelah kanan Yesus, menyondongkan badan dan bertanya Guru: “Siapa itu? Kami harus tahu siapa yang telah terbukti tidak bisa dipercaya.” Jawab Yesus: “Sudah aku beritahukan kamu, dia yang aku berikan roti itu.” Tapi sudah sangat biasa bagi tuan rumah untuk memberikan sepotong roti kepada orang yang duduk di sampingnya di sebelah kiri sehingga tidak satupun dari mereka memperhatikan hal ini, meskipun Guru telah begitu terus terang mengucapkannya. Tetapi Yudas secara menyakitkan sadar akan makna kata-kata Guru yang terkait dengan tindakannya, dan ia menjadi takut jangan-jangan saudara-saudaranya juga sekarang menyadari bahwa ia adalah pengkhianat itu.

Petrus sangat tergerak oleh apa yang telah dikatakan, dan sambil menyondongkan badan ke depan di atas meja, ia berbicara pada Yohanes, “Tanyakan dia siapa itu, atau jika ia telah memberitahu kamu, beritahu aku siapa pengkhianat itu.”

Yesus mengakhiri bisik-bisik mereka dengan mengatakan: “Aku sedih bahwa kejahatan ini sampai bisa terjadi dan berharap bahkan sampai jam ini juga bahwa kuasa dari kebenaran dapat menang atas penipuan-penipuan kejahatan, namun kemenangan-kemenangan tersebut tidak diraih tanpa iman terhadap cinta kebenaran yang tulus. Aku tidak mau memberitahu kamu hal-hal pada ini, makan malam terakhir kita, tapi aku ingin memperingatkan kamu tentang dukacita ini dan dengan demikian mempersiapkan kamu apa yang sekarang di depan kita. Aku telah memberitahu kamu tentang hal ini karena aku ingin agar kamu akan mengingat kembali, setelah aku pergi, bahwa aku tahu tentang semua rancangan jahat ini, dan bahwa aku telah memperingatkan kamu lebih dahulu tentang pengkhianatan terhadapku. Dan aku melakukan semua ini hanya agar kamu dapat dikuatkan untuk cobaan dan ujian yang tepat di depan.”

Sesudah Yesus berbicara demikian, sambil menyondongkan badan ke arah Yudas, dia berkata: “Apa yang telah kamu putuskan untuk kamu lakukan, lakukan cepat.” Dan ketika Yudas mendengar kata-kata ini, dia bangun dari meja dan dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan, keluar ke dalam kegelapan malam untuk melakukan apa yang telah ia tetapkan dalam pikirannya untuk dicapai. Ketika para rasul yang lain melihat Yudas buru-buru keluar setelah Yesus berbicara kepadanya, mereka berpikir dia telah pergi untuk membeli sesuatu tambahan untuk makan malam atau untuk melakukan suatu urusan lainnya untuk Guru karena mereka menganggap dia masih membawa tas uang.

Yesus sekarang tahu bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk menjaga Yudas agar tidak berubah menjadi pengkhianat. Dia mulai dengan dua belas—sekarang dia memiliki sebelas. Dia memilih enam dari rasul-rasul ini, dan meskipun Yudas berada di antara mereka yang dicalonkan oleh rasul-rasul pilihan pertamanya, namun Guru masih menerima dia dan telah, sampai jam ini juga, melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk membersihkan dan menyelamatkan dia, seperti juga yang telah dia kerjakan untuk kedamaian dan keselamatan mereka yang lain.

Makan malam ini, dengan adegan-adegannya yang lembut dan sentuhan-sentuhannya yang melunakkan, adalah permohonan terakhir Yesus kepada Yudas yang membelot, tapi hal itu tidak berguna. Peringatan, bahkan bila hal itu diberikan dengan cara yang paling bijaksana dan disampaikan dalam suasana yang paling ramah, sebagai suatu kaidah, hanya memperkuat kebencian dan menyalakan tekad jahat untuk melaksanakan penuh proyek-proyek kepentingan sendiri orang itu, ketika kasih itu sekali sudah benar-benar mati.

5. Meresmikan Perjamuan Peringatan

Ketika mereka membawakan Yesus cawan anggur ketiga, “cawan berkat,” dia bangun dari sofa dan, mengambil cawan itu di tangannya, memberkatinya, mengatakan: “Ambillah cawan ini, semua kamu, dan minumlah darinya. Ini akan menjadi cawan peringatan akan aku. Ini adalah cawan berkat sebuah zaman baru rahmat dan kebenaran. Ini akan bagi kamu menjadi lambang tentang penganugerahan dan pelayanan dari Roh Kebenaran ilahi. Dan aku tidak akan lagi minum cawan ini dengan kamu, sampai aku minum dalam bentuk yang baru bersama kamu dalam kerajaan kekal-Nya Bapa.”

Para rasul semua merasakan bahwa sesuatu yang bukan biasa sedang berlangsung ketika mereka minum dari cawan berkat ini dengan hormat yang mendalam dan keheningan yang sempurna. Paskah yang lama memperingati bangkitnya bapa leluhur mereka dari keadaan perbudakan bangsa menjadi kebebasan individu; sekarang Guru melembagakan suatu perjamuan peringatan yang baru sebagai simbol zaman baru yang di dalamnya individu yang diperbudak bangkit dari belenggu keupacaraan dan kepentingan sendiri ke dalam sukacita rohani persaudaraan dan persekutuan anak-anak iman yang dimerdekakan, anak-anak Tuhan yang hidup.

Setelah mereka selesai minum cawan peringatan yang baru ini, Guru mengambil roti, dan setelah mengucap syukur, memecah-mecahkannya menjadi potongan-potongan, dan sambil menyuruh mereka untuk meneruskannya berkeliling, mengatakan: “Ambillah roti peringatan ini dan makanlah. Aku telah memberitahu kamu bahwa akulah roti hidup. Dan roti hidup ini adalah kehidupan bersatu Bapa dan Anak dalam satu pemberian. Firman dari sang Bapa, seperti yang diwahyukan dalam sang Anak, adalah memang roti hidup.” Setelah mereka makan roti peringatan itu, simbol dari firman kebenaran hidup yang menjelma dalam keserupaan manusia fana, mereka semua duduk.

Dalam melembagakan perjamuan peringatan ini, Guru, seperti selalu kebiasaannya, memilih pada perumpamaan dan simbol. Dia menggunakan simbol karena dia ingin mengajarkan kebenaran rohani besar tertentu sedemikian rupa sehingga mempersulit bagi para penerusnya untuk memberikan penafsiran yang tepat dan makna yang pasti pada kata-katanya. Dengan cara ini ia berusaha mencegah generasi-generasi berikutnya agar tidak membakukan ajarannya dan mengikat erat makna-makna rohaninya dengan rantai mati tradisi dan dogma. Dalam penetapan satu-satunya upacara atau sakramen yang terkait dengan misi seluruh hidupnya, Yesus berusaha keras untuk menyarankan maknanya daripada mengikatkan dirinya pada definisi yang persis. Dia tidak ingin menghancurkan konsep individu tentang persekutuan ilahi dengan meresmikan suatu bentuk yang persis (tepat seperti itu); dia juga tidak ingin membatasi imajinasi rohani orang percaya dengan mengekangnya secara resmi. Dia lebih berusaha untuk membuat jiwa manusia yang lahir baru itu bebas terbang di atas sayap-sayap sukacita suatu kebebasan rohani yang baru dan hidup.

Meskipun Guru berupaya untuk meresmikan sakramen peringatan yang baru ini, mereka yang mengikutinya berabad-abad sampai saat ini memastikannya bahwa keinginan yang dinyatakannya itu secara efektif digagalkan oleh karena simbolisme rohani sederhana di malam terakhir sebagai manusia itu telah dikurangi menjadi penafsiran-penafsiran yang persis dan ditundukkan pada presisi yang hampir matematis dari sebuah perangkat rumusan. Dari semua ajaran Yesus tidak ada yang lain yang lebih dibakukan oleh tradisi.

Perjamuan peringatan ini, ketika dimakan oleh mereka yang percaya-Anak dan kenal-Tuhan, tidak perlu dikaitkan simbolismenya dengan semua salah tafsir kekanak-kanakan manusia tentang arti kehadiran ilahi, karena pada semua acara seperti itu Guru benar-benar hadir. Perjamuan peringatan adalah pertemuan simbolis orang percaya dengan Mikhael. Ketika kamu menjadi sadar roh seperti itu, sang Anak itu benar-benar hadir, dan rohnya bersekutu dengan roh pecahan Bapanya yang tinggal di dalam manusia.

Setelah mereka terlibat dalam meditasi selama beberapa saat, Yesus melanjutkan berbicara: “Ketika kamu melakukan hal-hal ini, ingatlah kehidupan yang telah aku hidupi di bumi di antara kamu dan bersukacitalah bahwa aku akan terus hidup di bumi bersama kamu dan melayani melalui kamu. Sebagai orang per orang, jangan bertengkar di antara kamu siapa yang akan menjadi yang terbesar. Jadilah kamu semua sebagai saudara. Dan ketika kerajaan tumbuh sehingga mencakup kelompok-kelompok besar orang percaya, demikian juga kamu harus menahan diri agar tidak bersaing untuk kebesaran atau mencari keutamaan di antara kelompok-kelompok tersebut.”

Dan acara hebat ini berlangsung di ruang atasnya seorang teman. Tidak ada bentuk sakral atau upacara penyucian tentang perjamuan itu atau bangunannya. Perjamuan peringatan itu ditetapkan tanpa pengukuhan kegerejaan.

Setelah Yesus menetapkan perjamuan peringatan tersebut, dia berkata kepada sebelas: “Dan sesering kamu melakukan ini, lakukanlah sebagai peringatan akan aku. Dan ketika kamu benar-benar mengingat aku, pertama lihatlah kembali kehidupanku (sebagai manusia) dalam daging, ingatlah lagi bahwa aku pernah bersama kamu, dan kemudian, oleh iman, perhatikan bahwa kamu semua suatu kali akan makan bersama aku dalam kerajaan kekal-Nya Bapa. Ini adalah Paskah baru yang kutinggalkan bagi kamu, juga kenangan tentang kehidupan anugerah diriku, firman kebenaran kekal; dan kasihku untuk kamu, pencurahan Roh Kebenaranku ke atas semua manusia.”

Dan mereka mengakhiri perayaan Paskah yang lama tapi tanpa darah ini sehubungan dengan peresmian perjamuan peringatan yang baru, dengan menyanyikan, semua bersama-sama, Mazmur seratus delapan belas.

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved