Makalah 104: Perkembangan Konsep Trinitas

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 104

Perkembangan Konsep Trinitas

KONSEP Trinitas dari agama yang diwahyukan jangan dirancukan dengan kepercayaan-kepercayaan triad tiga-tuhan dari agama-agama evolusioner. Gagasan mengenai tiga-tuhan itu muncul dari banyak hubungan yang menyarankan ke arah itu namun terutama karena adanya tiga sendi jari, karena tiga kaki adalah yang paling sedikit agar dapat menstabilkan sebuah bangku, karena tiga titik dukung dapat mendirikan sebuah tenda; lagipula, manusia primitif, lama sekali tidak dapat menghitung melebihi tiga.

Selain pasangan ganda alamiah tertentu, misalnya masa lalu dan masa kini, siang dan malam, panas dan dingin, serta laki-laki dan perempuan, manusia pada umumnya cenderung berpikir dalam triad: kemarin, hari ini, dan besok; matahari terbit, siang dan terbenam; ayah, ibu, dan anak. Tiga sorakan diberikan untuk pemenang. Orang mati dikebumikan pada hari ketiga, dan arwah itu ditenangkan oleh tiga kali pembasuhan dengan air.

Sebagai akibat dari pertalian-pertalian alamiah ini dalam pengalaman manusia, triad muncul dalam agama, dan hal ini lama sebelum Trinitas Firdaus para Deitas, atau bahkan satupun perwakilan-perwakilan mereka yang lain, diwahyukan kepada umat manusia. Belakangan, orang Persia, Hindu, Yunani, Mesir, Babilonia, Romawi, dan Skandinavia semuanya punya dewata triad, namun ini masih bukan trinitas yang sesungguhnya. Dewata triad semua memiliki asal mula alamiah dan telah muncul pada suatu masa atau masa yang lain di antara sebagian besar bangsa-bangsa cerdas Urantia. Kadang-kadang konsep tentang suatu triad yang evolusioner telah bercampur dengan suatu konsep Trinitas yang diwahyukan; dalam hal-hal ini sering tidak mungkin membedakan yang satu dari yang lain.

1. Konsep-konsep Trinitas Urantia

Pewahyuan Urantia pertama yang mengarah pada pemahaman mengenai Trinitas Firdaus dibuat oleh staf Pangeran Kaligastia sekitar setengah juta tahun silam. Konsep Trinitas yang paling awal ini hilang di dunia dalam masa-masa kacau setelah pemberontakan planet.

Penyajian kedua mengenai Trinitas dibuat oleh Adam dan Hawa dalam taman pertama dan kedua. Ajaran-ajaran ini tidak sepenuhnya dipunahkan bahkan sampai masa-masa Melkisedek Machiventa sekitar tiga puluh lima ribu tahun berikutnya, karena konsep Trinitas dari orang-orang Setit (imam-imam keturunan Set) masih bertahan di Mesopotamia dan Mesir namun lebih teristimewa di India, dimana konsep itu lama dilanggengkan dalam Agni, dewa api Weda yang berkepala-tiga.

Penyampaian ketiga mengenai Trinitas dibuat oleh Melkisedek Machiventa, dan doktrin ini disimbolkan oleh tiga lingkaran konsentris yang dipakai sang guru bijak Salem itu pada perisai dadanya. Tetapi Machiventa mendapati bahwa sangat sulit mengajari orang-orang Badui Palestina itu mengenai Bapa Semesta, Putra Kekal, dan Roh Tanpa Batas. Sebagian terbesar murid-muridnya berpikir bahwa Trinitas itu terdiri dari tiga Yang Paling Tinggi dari Norlatiadek; beberapa memahami Trinitas sebagai Daulat Sistem, Bapa Konstelasi, dan Tuhan Pencipta alam semesta lokal; tetapi bahkan lebih sedikit lagi murid yang secara samar-samar menangkap gagasan mengenai hubungan (asosiasi) Firdaus antara Bapa, Putra, dan Roh itu.

Melalui kegiatan-kegiatan para misionaris Salem, pengajaran Melkisedek mengenai Trinitas berangsur-angsur menyebar di sebagian besar Eurasia dan Afrika Utara. Sering sulit untuk membedakan antara triad-triad dan trinitas-trinitas dalam zaman Andit berikutnya dan pasca-Melkisedek, ketika kedua konsep itu sampai taraf tertentu bercampur dan berpadu.

Di kalangan orang-orang Hindu konsep trinitarian itu mengakar sebagai Keberadaan, Kecerdasan, dan Kebahagiaan. (Konsepsi orang India yang belakangan adalah Brahma, Siwa, dan Wisnu). Sementara penggambaran Trinitas yang lebih awal dibawa ke India oleh imam-imam Set, gagasan yang belakangan tentang Trinitas didatangkan oleh misionaris-misionaris Salem dan dikembangkan oleh intelek-intelek pribumi India melalui suatu persenyawaan doktrin-doktrin ini dengan konsep-konsep triad yang evolusioner.

Keyakinan Buddhis mengembangkan dua doktrin yang bersifat trinitarian: Yang lebih awal adalah Guru, Hukum, dan Persaudaraan; doktrin itu adalah penyajian yang dibuat oleh Siddharta Gautama. Gagasan yang belakangan, berkembang di kalangan cabang utara pengikut-pengikut Buddha, mencakup Dewa Tertinggi (Adi Buddha), Roh Suci (Buddha dhatu), dan Penyelamat yang Menjelma (Maitreya).

Gagasan-gagasan dari orang Hindu dan Buddhis ini adalah dalil-dalil trinitarian yang sebenarnya, yaitu gagasan tentang manifestasi lipat tiga dari suatu Tuhan yang monoteistis. Suatu konsepsi trinitas yang sejati adalah bukan hanya suatu pengelompokan bersama tiga tuhan yang berbeda.

Orang-orang Ibrani mengetahui tentang Trinitas dari tradisi orang Keni dari masa-masa Melkisedek, tetapi semangat monoteistik (tauhid) mereka akan satu Tuhan, Yahweh, begitu menutupi semua pengajaran tersebut, sehingga pada saat kemunculan Yesus, doktrin Elohim praktis telah dihapuskan dari teologi Yahudi. Pikiran Ibrani tidak dapat menyelaraskan konsep trinitarian dengan kepercayaan monoteistik akan Satu Tuhan, Allah Israel.

Pengikut-pengikut agama Islam demikian pula gagal menangkap gagasan Trinitas. Memang selalu sulit bagi suatu monoteisme yang sedang bangkit untuk mentoleransi trinitarianisme ketika diperhadapkan pada politeisme. Gagasan trinitas mendapat pijakan paling baik pada agama-agama yang memiliki tradisi monoteistik yang teguh digabungkan dengan kelenturan doktrinal. Para monoteis yang akbar, orang Ibrani dan pengikut Muhammad, mendapati bahwa sulit membedakan antara menyembah tiga tuhan, atau politeisme, dengan trinitarianisme, penyembahan satu Deitas yang berada dalam manifestasi keilahian dan kepribadian yang rangkap tiga.

Yesus mengajari rasul-rasulnya kebenaran mengenai pribadi-pribadi Trinitas Firdaus, namun mereka berpikir bahwa dia berbicara secara kiasan dan secara simbolis. Karena dibesarkan dalam monoteisme Ibrani, mereka sulit menerima kepercayaan lain yang kelihatan bertentangan dengan konsep mereka yang dominan mengenai Yahweh. Dan orang Kristen yang mula-mula juga mewarisi prasangka Ibrani itu terhadap konsep Trinitas.

Trinitas Kekristenan pertama kali diproklamasikan di Antiokhia dan terdiri dari Tuhan, Firman-Nya dan Hikmat-Nya. Paulus tahu tentang Trinitas Firdaus Bapa, Putra, dan Roh itu, tetapi ia jarang mengkhotbahkan mengenai hal itu dan menyebutkan tentang hal itu hanya dalam beberapa suratnya kepada gereja-gereja yang baru membentuk. Bahkan kemudian, seperti rasul-rasul rekannya, Paulus keliru menganggap Yesus, Putra Pencipta alam semesta lokal, dengan Pribadi Kedua Deitas, yaitu Putra Kekal Firdaus.

Konsep Kristen mengenai Trinitas, yang mulai meraih pengakuan menjelang akhir abad pertama sesudah Kristus, adalah terdiri dari Bapa Semesta, Putra Pencipta Nebadon, dan Penatalayan Ilahi Salvington—Roh Ibu alam semesta lokal dan pasangan kreatif Putra Pencipta.

Sejak masa-masa Yesus tidak pernah lagi identitas sebenarnya tentang Trinitas Firdaus diketahui di Urantia (kecuali oleh beberapa orang yang kepada mereka diwahyukan secara khusus) sampai penyampaiannya dalam pengungkapan pewahyuan ini. Meskipun secara fakta konsep Kristen mengenai Trinitas itu keliru, namun secara praktis hal itu benar berkaitan dengan hubungan-hubungan rohani. Hanya dalam implikasi filosofis dan akibat kosmologisnya konsep ini mendapat celaan: Sulit bagi mereka yang berpikiran kosmis untuk percaya bahwa Pribadi Kedua Deitas, anggota kedua suatu Trinitas yang tanpa batas, pernah suatu kali tinggal di Urantia; dan meskipun dalam roh hal ini benar, secara nyatanya ini bukan suatu fakta. Pencipta-pencipta dari golongan Mikhael itu sepenuhnya meragakan (embody) keilahian Putra Kekal, tetapi mereka bukan kepribadian yang absolut.

2. Kesatuan Trinitas dan Kemajemukan Deitas

Monoteisme itu muncul sebagai protes filosofis terhadap ketidak-konsistenan politeisme. Hal itu berkembang pertama kali melalui pengorganisasian kahyangan dewata dengan pembagian kegiatan-kegiatan adikodrati, kemudian melalui peninggian henoteistik satu dewa di atas banyak yang lain, dan akhirnya melalui pengecualian yang lain dan hanya Satu Tuhan yang bernilai final.

Trinitarianisme bertumbuh sebagai protes pengalaman terhadap ketidak-mungkinan untuk memahami kesatuan dari Deitas yang tidak mirip manusia dan sendirian tidak ada kaitannya dengan alam semesta. Jika diberi waktu yang cukup, filsafat cenderung membuat abstrak sifat-sifat pribadi dari konsep Ketuhanan monoteisme yang murni, sehingga menurunkan gagasan tentang Tuhan yang tidak berkaitan ini menjadi status suatu Absolut yang panteistik. Memang selalu sulit untuk mengerti kodrat pribadi dari sosok Tuhan yang tidak punya hubungan pribadi dalam kesetaraan dengan makhluk berpribadi yang lain dan sejajar. Kepribadian dalam Deitas menuntut bahwa Deitas tersebut berada dalam hubungan dengan Deitas yang lain dan sama-sama berpribadi.

Melalui pengenalan akan konsep Trinitas, pikiran manusia dapat berharap untuk memahami sesuatu mengenai keterhubungan antara kasih dan hukum dalam ciptaan-ciptaan ruang-waktu. Melalui iman rohani manusia mendapatkan wawasan ke dalam kasih Tuhan, tetapi segera menemukan bahwa iman rohani ini tidak berpengaruh pada hukum-hukum yang sudah ditahbiskan di alam semesta material. Tidak peduli bagaimanapun teguhnya kepercayaan manusia akan Tuhan sebagai Bapa Firdausnya, meluasnya cakrawala kosmis menuntut agar ia juga mengakui realitas Deitas Firdaus sebagai hukum semesta, agar ia mengenali kedaulatan Trinitas yang meluas keluar dari Firdaus dan menaungi hingga berevolusinya alam-alam semesta para Putra Pencipta dan Putri Kreatif dari ketiga pribadi kekal yang kesatuan ketuhanannya adalah fakta dan realitas, serta ketidak-terbagian kekalnya Trinitas Firdaus.

Trinitas Firdaus yang sama ini juga adalah entitas yang nyata—bukan suatu kepribadian namun tetap suatu realitas yang sesungguhnya dan absolut; bukan suatu kepribadian namun demikian tetap sesuai dengan kepribadian-kepribadian yang sama-sama ada—yaitu kepribadian Bapa, Putra dan Roh itu. Trinitas adalah suatu superpenjumlahan realitas Deitas yang diakibatkan dari bergabung bersamanya ketiga Deitas Firdaus itu. Sifat-sifat, ciri-ciri, dan fungsi-fungsi Trinitas adalah bukan jumlah sederhana dari atribut-atribut ketiga Deitas Firdaus itu; fungsi-fungsi Trinitas adalah sesuatu yang unik, asli, dan tak dapat ditebak sepenuhnya dari suatu analisis terhadap sifat-sifat atau atribut-atribut Bapa, Putra, dan Roh.

Sebagai contoh: Sang Guru. Ketika ada di bumi, memperingatkan para pengikutnya bahwa keadilan adalah tidak pernah suatu tindakan pribadi; keadilan selalu suatu fungsi kelompok. Demikian pula para Tuhan tidak demikian, sebagai pribadi-pribadi, dalam melaksanakan peradilan. Tetapi mereka melaksanakan fungsi peradilan ini sebagai suatu keutuhan kolektif, sebagai Trinitas Firdaus.

Pemahaman konseptual tentang ikatan-hubungan Trinitas Bapa, Putra, dan Roh itu mempersiapkan pikiran manusia untuk penyampaian berikutnya tentang hubungan-hubungan lipat tiga tertentu lainnya. Nalar teologis bisa sepenuhnya dipuaskan oleh konsep tentang Trinitas Firdaus, namun nalar filosofis dan kosmologis menuntut pengenalan akan ikatan-ikatan rangkap tiga lainnya dari Sumber dan Pusat Pertama, triunitas-triunitas itu yang dalam mana Yang Tanpa Batas berfungsi dalam berbagai kapasitas manifestasi semesta yang bukan-Bapa—hubungan-hubungan dari Tuhannya forsa, energi, daya, sebab, reaksi, potensialitas, aktualitas, gravitasi, tegangan, pola, prinsip, dan kesatuan.

3. Trinitas dan Triunitas

Meskipun umat manusia kadang-kadang telah memahami suatu pengertian Trinitas terhadap tiga pribadi Deitas, konsistensi menuntut agar akal manusia melihat bahwa ada hubungan-hubungan tertentu antara tujuh Absolut. Namun semua yang benar tentang Trinitas Firdaus tidaklah harus benar mengenai suatu triunitas, karena triunitas adalah sesuatu yang lain dari trinitas. Dalam aspek-aspek fungsional tertentu suatu triunitas bisa analog (asal usul berbeda dengan struktur dan fungsi sama) dengan suatu trinitas, namun triunitas itu tidak pernah homolog (asal usul sama dengan struktur dan fungsi berbeda) dalam sifat dasarnya dengan suatu trinitas.

Manusia fana sedang melewati suatu era besar perluasan cakrawala wawasan dan peningkatan konsep di Urantia, dan filosofi kosmisnya harus makin cepat dalam evolusi agar dapat mengikuti perluasan arena intelektual pemikiran manusia. Sementara kesadaran kosmis manusia fana berkembang, ia melihat kesaling-terkaitan semua yang ia temui dalam sains material, filsafat intelektual, dan wawasan rohaninya. Namun demikian, dengan semua kepercayaan tentang kesatuan kosmos ini, manusia juga melihat keberagaman semua keberadaan. Meskipun adanya semua konsep mengenai ketidak-berubahan Deitas, manusia melihat bahwa ia hidup dalam suatu alam semesta yang terus berubah dan bertumbuh dalam pengalaman. Tak peduli bagaimanapun realisasi untuk kelestarian nilai-nilai rohani, manusia harus terus memperhitungkan matematika dan pramatematika untuk forsa, energi, dan daya.

Dalam cara tertentu kepenuhan tanpa batas yang kekal itu harus diselaraskan dengan pertumbuhan-waktu dari alam-alam semesta yang berevolusi dan dengan ketidak-sempurnaan pengalaman para penghuninya. Dalam cara tertentu konsepsi tentang ketanpa-batasan total itu harus disegmentasikan dan diberi batasan sedemikian sehingga akal fana dan jiwa morontia dapat menangkap konsep yang bernilai final dan bermakna merohanikan ini.

Meskipun nalar (akal) menuntut suatu kesatuan monoteistik tentang realitas kosmis, pengalaman terbatas itu memerlukan dalil tentang Absolut-absolut yang jamak dan tentang koordinasi mereka dalam hubungan-hubungan kosmis. Tanpa keberadaan-keberadaan yang sederajat itu, tidak ada kemungkinan untuk munculnya keberagaman hubungan-hubungan mutlak, tidak ada peluang untuk beroperasinya turunan-turunan, variabel, pemodifikasi, pengencer, pembatasan, atau pengurang-pengurang.

Dalam makalah-makalah ini realitas total infinitas) telah disampaikan sebagai berada dalam tujuh Absolut:

1. Bapa Semesta.

2. Putra Kekal.

3. Roh Tanpa Batas.

4. Pulau Firdaus.

5. Absolut Deitas.

6. Absolut Semesta.

7. Absolut Nirkualifikasi.

Sumber dan Pusat Pertama, yang adalah Bapa bagi Putra Kekal, adalah juga Pola untuk Pulau Firdaus. Dia adalah kepribadian tanpa-syarat dalam Sang Putra namun kepribadian yang dipotensialkan dalam Absolut Deitas. Bapa itu energi yang dinyatakan dalam Firdaus-Havona, dan pada waktu yang sama energi yang disembunyikan dalam Absolut Nirkualifikasi. Sang Tanpa Batas itu senantiasa ditunjukkan dalam tindakan-tindakan tanpa henti dari Pelaku Bersama sementara Dia secara kekal berfungsi dalam kegiatan-kegiatan yang mengimbangi namun terselubung dari Absolut Semesta. Maka demikianlah Bapa berkaitan dengan enam Absolut yang sederajat itu, dan demikianlah ketujuhnya mencakup lingkaran ketanpa-batasan pada seluruh siklus kekekalan yang tanpa akhir.

Akan tampak bahwa sepertinya triunitas hubungan-hubungan absolut itu tak dapat dihindari. Kepribadian mencari ikatan dengan kepribadian yang lain, pada level absolut begitu pula pada semua level yang lain. Dan ikatan dari ketiga kepribadian Firdaus itu mengabadikan triunitas yang pertama, serikat kepribadian dari Bapa, Putra, dan Roh. Karena ketika tiga pribadi ini, sebagai pribadi-pribadi, bergabung bersama untuk fungsi bersatu, mereka dengan itu membentuk suatu triunitas kesatuan fungsional, bukan suatu trinitas—yaitu suatu entitas organik—namun masih tetap suatu triunitas, suatu kebulatan pengelompokanfungsional lipat tiga.

Trinitas Firdaus adalah bukan suatu triunitas; itu bukan suatu kebulatan fungsional; melainkan merupakan Deitas yang tak terbagi dan tak dapat dibagi. Bapa, Putra, dan Roh (sebagai pribadi-pribadi) dapat mempertahankan suatu hubungan terhadap Trinitas Firdaus, karena Trinitas itu adalah Ketuhanan tak terbagi Mereka. Bapa, Putra, dan Roh tidak mempertahankan hubungan pribadi sedemikian pada triunitas yang pertama, karena itu adalah serikat fungsional mereka sebagai tiga pribadi. Hanya sebagai Trinitas—sebagai Deitas tak terbagi—Mereka secara kolektif mempertahankan suatu hubungan eksternal pada triunitas pengelompokan pribadi Mereka.

Maka demikianlah Trinitas Firdaus berada unik di antara hubungan-hubungan mutlak; ada beberapa triunitas yang eksistensial (selalu ada), namun hanya satu Trinitas yang eksistensial. Suatu triunitas itu bukan suatu entitas. Triunitas itu fungsional bukan organik. Anggota-anggotanya adalah mitra-mitra bukan korporatif. Komponen-komponen dari triunitas itu bisa merupakan entitas, namun suatu triunitas itu sendiri adalah suatu ikatan.

Namun demikian, ada satu poin perbandingan antara trinitas dan triunitas: Keduanya menghasilkan fungsi-fungsi yang adalah sesuatu yang lain dari jumlah yang bisa dilihat dari atribut-atribut para anggota komponennya. Tapi meskipun mereka dapat dibandingkan seperti itu dari sudut pandang fungsional, mereka sebaliknya tidak menampakkan hubungan kategoris. Mereka secara umumnya terkait sebagai relasi fungsi terhadap struktur. Namun fungsi dari ikatan triunitas itu bukan fungsi dari struktur atau entitas trinitas.

Triunitas-triunitas itu walaupun demikian adalah tetap nyata; mereka sangat nyata. Di dalam mereka itulah realitas total difungsionalkan, dan melalui mereka Bapa Semesta menjalankan pengendalian langsung dan pribadi atas fungsi-fungsi induk infinitas.

4. Tujuh Triunitas

Dengan mencoba menguraikan tujuh triunitas, perhatian diarahkan pada fakta bahwa Bapa Semesta adalah anggota perdana dari masing-masing triunitas itu. Dia adalah, telah, dan selamanya akan tetap menjadi: Bapa-Sumber Semesta Pertama, Pusat Absolut, Sebab Perdana, Pengendali Semesta, Pemberi Energi Tak Terbatas, Kesatuan Awal, Penopang Tanpa Batasan, Pribadi Pertama Deitas, Pola Kosmis Perdana, dan Hakikat Ketanpabatasan. Bapa Semesta adalah sebab pribadi untuk para Absolut itu; Dia adalah yang absolut dari segala Yang Absolut.

Sifat dasar dan makna tujuh triunitas itu bisa disarankan sebagai berikut:

Triunitas Pertama—triunitas yang bermaksud-berpribadi. Ini adalah pengelompokan tiga personalia Deitas:

1. Bapa Semesta.

2. Putra Kekal.

3. Roh Tanpa Batas.

Ini adalah penyatuan lipat tiga dari kasih, rahmat, dan pelayanan—ikatan hubungan yang memiliki maksud dan pribadi dari ketiga kepribadian Firdaus kekal itu. Ini adalah ikatan yang secara ilahi bersaudara, mengasihi ciptaan, bertindak secara kebapaan, dan mendukung kenaikan. Pribadi-pribadi ilahi dari triunitas pertama ini adalah para Tuhan yang mewariskan kepribadian, menganugerahkan roh, dan mengaruniakan batin.

Triunitas ini adalah triunitas yang berkehendak bebas tanpa batas; triunitas itu bertindak di seluruh masa kini kekal dan dalam semua aliran waktu masa lalu-kini-mendatang. Ikatan ini menghasilkan ketanpabatasan kehendak dan menyediakan mekanisme dimana Deitas yang berpribadi itu menjadi pewahyuan-diri kepada para makhluk di kosmos yang berkembang.

Triunitas Kedua—triunitas pola-daya. Apakah itu suatu ultimaton yang sangat kecil, bintang yang menyala-nyala, atau suatu nebula yang berpusar, bahkan alam semesta pusat atau super, dari organisasi materi yang terkecil sampai ke yang terbesar, selalu pola fisiknya—konfigurasi kosmisnya—berasal dari fungsi triunitas ini. Ikatan ini terdiri dari:

1. Bapa-Putra.

2. Pulau Firdaus.

3. Pelaku Bersama.

Energi itu diorganisir oleh agen-agen kosmis dari Sumber dan Pusat Ketiga; energi dibentuk menurut pola Firdaus, materialisasi yang absolut; namun di belakang semua manipulasi tanpa henti ini ada kehadiran Bapa-Putra, yang penyatuannya pertama kali mengaktifkan pola Firdaus dalam kemunculan Havona bersamaan dengan kelahiran Roh Tanpa Batas, sang Pelaku Terpadu.

Dalam pengalaman keagamaan, para ciptaan membuat kontak dengan Tuhan yang adalah kasih, namun wawasan rohani tersebut haruslah jangan pernah menutupi pengenalan cerdas mengenai fakta alam semesta tentang pola yang adalah Firdaus. Pribadi-pribadi Firdaus memperoleh pemujaan sukarela dari semua makhluk oleh kekuatan kasih ilahi yang tidak bisa ditolak, dan memimpin semua pribadi yang dilahirkan-roh ke dalam sukacita mulia pelayanan tanpa-akhir dari para putra finaliter Tuhan. Triunitas kedua adalah arsitek panggung ruang angkasa dimana transaksi-transaksi ini digelar; triunitas itu menentukan pola-pola untuk konfigurasi kosmis.

Kasih bisa mencirikan keilahian dari triunitas pertama, namun pola adalah perwujudan galaktik dari triunitas kedua. Seperti triunitas pertama adalah untuk pribadi-pribadi yang berevolusi, demikian pula triunitas kedua untuk alam-alam semesta yang berevolusi. Pola dan kepribadian adalah dua dari manifestasi-manifestasi besar dari perbuatan-perbuatan Sumber dan Pusat Pertama; dan tidak jadi soal bagaimanapun sulitnya untuk memahaminya, tetap benar bahwa pola-daya dan pribadi yang pengasih adalah realitas semesta yang satu dan sama; Pulau Firdaus dan Putra Kekal adalah pengungkapan yang sederajat namun bertolak belakang dari kodrat Bapa-Forsa Semesta yang tak dapat diselami.

Triunitas Ketiga—triunitas evolusi roh. Keseluruhan manifestasi rohani memiliki permulaan dan akhirnya dalam ikatan ini, yang terdiri dari:

1. Bapa Semesta.

2. Putra-Roh.

3. Absolut Deitas.

Dari potensi roh sampai roh Firdaus, semua roh mendapatkan ekspresi realitas dalam persekutuan rangkap tiga ini yang terdiri dari hakikat roh murni dari Bapa, nilai-nilai roh aktif dari Putra-Roh, dan potensial-potensial roh tak-terbatas dari Absolut Deitas. Nilai-nilai eksistensial roh itu memiliki kejadian mula-mula, manifestasi lengkap, dan tujuan akhir mereka dalam triunitas ini.

Bapa ada sebelum roh ada; Putra-Roh berfungsi sebagai roh daya-cipta yang aktif; Absolut Deitas itu ada sebagai roh yang meliputi segala sesuatu, bahkan melebihi roh.

Triunitas Keempat—triunitas ketanpa-batasan (infinitas) energi. Di dalam triunitas ini dikekalkan permulaan-permulaan dan akhir-akhir untuk semua realitas energi, mulai dari potensi ruang sampai monota. Pengelompokan ini mencakup yang berikut:

1. Bapa-Roh.

2. Pulau Firdaus.

3. Absolut Nirkualifikasi.

Firdaus adalah pusat dari aktivasi energi-forsa kosmos—posisi alam semesta dari Sumber dan Pusat Pertama, titik fokus kosmis dari Absolut Nirkualifikasi, dan sumber semua energi. Ada secara eksistensial di dalam triunitas ini potensial energi untuk kosmos-tanpa-batas, yang mana alam semesta agung dan alam semesta master adalah hanya perwujudan sebagian saja.

Triunitas keempat ini secara mutlak mengendalikan unit-unit fundamental energi kosmis dan melepaskannya dari genggaman Absolut Nirkualifikasi dalam proporsi langsung dengan kemunculan para Deitas pengalaman yang kapasitasnya subabsolut untuk mengendalikan dan menstabilkan kosmos yang sedang berubah wujud itu.

Triunitas ini adalah forsa dan energi. Kemungkinan-kemungkinan tanpa akhir dari Absolut Nirkualifikasi itu dipusatkan sekeliling absolutum Pulau Firdaus, dari mana memancar agitasi-agitasi yang tak terbayangkan terhadap ketenangan statis Yang Nirkualifikasi. Dan denyut-denyut tanpa-akhir dari jantung Firdaus material dari kosmos tanpa-batas itu berdetak seirama dengan pola tak terduga dan rencana tak terselami dari Pemberi Energi Tanpa Batas, Sumber dan Pusat Pertama.

Triunitas Kelima—triunitas ketanpa-batasan reaktif. Ikatan ini terdiri dari:

1. Bapa Semesta.

2. Absolut Semesta.

3. Absolut Nirkualifikasi.

Pengelompokan ini menghasilkan pengabadian untuk realisasi tanpa-batas fungsional terhadap segala yang dapat diaktualkan di dalam wilayah realitas yang bukan deitas. Triunitas ini mewujudkan kapasitas reaktif yang tak terbatas pada aksi dan kehadiran triunitas-triunitas lain yang berkehendak bebas, merupakan penyebab, berkaitan dengan tegangan, dan berkaitan dengan pola.

Triunitas Keenam—triunitas Deitas yang terkait-kosmis. Pengelompokan ini terdiri dari:

1. Bapa Semesta.

2. Absolut Deitas.

3. Absolut Semesta.

Ini adalah ikatan dari Deitas-dalam-kosmos, imanensi Deitas dalam sambungan dengan transendensi Deitas. Inilah jangkauan terakhir keilahian pada tingkat-tingkat ketanpabatasan ke arah realitas-realitas tertentu yang terletak di luar wilayah realitas yang dipertuhan.

Triunitas Ketujuh—triunitas kesatuan tanpa batas. Ini adalah kesatuan ketanpabatasan yang secara fungsional mewujud dalam waktu dan kekekalan, penyatuan sederajat dari yang aktual dan yang potensial. Kelompok ini terdiri dari:

1. Bapa Semesta.

2. Pelaku Bersama.

3. Absolut Semesta.

Pelaku Bersama (Roh Tanpa Batas) secara semesta mengintegrasikan berbagai aspek fungsional dari semua realitas yang diaktualkan pada semua level manifestasi, dari yang terbatas (finit) melalui yang transendental hingga sampai ke yang absolut. Absolut Semesta secara sempurna menutup perbedaan-perbedaan yang melekat dalam berbagai aspek dari semua realitas yang belum sempurna itu, dari potensialitas tak terbatas dari realitas Deitas berkehendak-aktif dan penyebab itu, sampai ke kemungkinan-kemungkinan tak terbatas untuk realitas yang statis, reaktif, bukan-deitas, dalam wilayah-wilayah Absolut Nirkualifikasi yang tak dapat dipahami.

Sementara mereka berfungsi dalam triunitas ini, Pelaku Bersama dan Absolut Semesta adalah sama-sama responsifnya terhadap Deitas dan terhadap kehadiran-kehadiran yang bukan-deitas, seperti juga Sumber dan Pusat Pertama, yang dalam hubungan ini untuk semua maksud dan tujuan secara konseptual tak dapat dibedakan dari AKU ADA.

Pendekatan-pendekatan ini cukup untuk menguraikan konsep triunitas. Tanpa mengetahui level terakhir dari triunitas-triunitas itu, kamu tak dapat sepenuhnya memahami tujuh triunitas yang pertama itu. Meskipun kami tidak menganggap bijaksana untuk mencobakan penjelasan lebih lanjut, kami bisa mengatakan bahwa ada lima belas ikatan rangkap tigadari Sumber dan Pusat Pertama, delapan diantaranya tidak diungkapkan dalam makalah-makalah ini. Ikatan-ikatan yang tidak diungkapkan ini berhubungan dengan realitas-realitas, aktualitas-aktualitas, dan potensialitas-potensialitas yang berada di luar tingkat pengalaman supremasi.

Triunitas-triunitas adalah roda penyeimbang yang fungsional untuk ketanpabatasan, penyatuan dari keunikan Tujuh Absolut Tanpa Batas. Kehadiran triunitas-triunitas secara eksistensial itulah yang memungkinkan Bapa-AKU ADA itu untuk mengalami penyatuan infinitas fungsional meskipun ada diversifikasi infinitas menjadi tujuh Absolut. Sumber dan Pusat Pertama adalah anggota pemersatu semua triunitas; dalam Dia segala hal memiliki permulaan tanpa batasan, keberadaan kekal, dan tujuan akhir tanpa batas mereka— “segala sesuatu ada di dalam Dia.”

Meskipun semua ikatan ini tak dapat menambahi infinitas Bapa-AKU ADA, mereka memang muncul untuk memungkinkan manifestasi-manifestasi subinfinit dan subabsolut dari realitas-Nya. Tujuh triunitas itu melipat-gandakan keserba-gunaan, mengabadikan kedalaman-kedalaman baru, mempertuhankan nilai-nilai baru, membukakan potensialitas-potensialitas baru, mengungkapkan makna-makna baru; dan semua manifestasi yang beraneka ragam ini dalam waktu dan ruang dan dalam kosmos kekal adalah berada dalam stasis hipotetis dari infinitas pertama dari AKU ADA.

5. Trioditas-trioditas

Ada hubungan-hubungan rangkap tiga tertentu lainnya yang bukan-Bapa dalam susunannya, namun mereka itu bukan triunitas yang sesungguhnya, dan mereka selalu dibedakan dari triunitas-triunitas Bapa. Mereka disebut bermacam-macam sebagai triunitas sejawat, triunitas sederajat, dan trioditas. Mereka adalah sebagai akibat dari keberadaan triunitas-triunitas. Dua dari ikatan ini tersusun sebagai berikut:

Trioditas Aktualitas. Trioditas ini terdiri dari saling-hubungan antara tiga aktual yang absolut:

1. Putra Kekal.

2. Pulau Firdaus.

3. Pelaku Bersama.

Putra Kekal adalah absolutnya realitas roh, kepribadian yang absolut. Pulau Firdaus adalah absolutnya realitas kosmis, pola yang absolut. Pelaku Bersama adalah absolutnya realitas batin, sederajatnya realitas roh absolut, dan sintesis Deitas eksistensial untuk kepribadian dan daya. Ikatan rangkap tiga ini menjadikan ada koordinasi untuk jumlah total realitas yang diaktualkan—roh, kosmis, atau batin. Trioditas ini tanpa batasan dalam aktualitasnya.

Trioditas Potensialitas. Trioditas ini terdiri dari ikatan tiga Absolut potensialitas:

1. Absolut Deitas.

2. Absolut Semesta.

3. Absolut Nirkualifikasi.

Demikianlah saling-hubungan dari reservoirs (penyimpanan-penyimpanan) tanpa batas untuk semua realitas energi yang belum kelihatan—roh, batin, atau kosmis. Ikatan ini menghasilkan integrasi semua realitas energi yang laten. Ikatan ini berpotensi tanpa batas.

Seperti halnya triunitas-triunitas itu terutama berhubungan dengan penyatuan fungsional untuk infinitas, demikian pula trioditas-trioditas terlibat dalam tampilan kosmis Deitas-deitas pengalaman. Triunitas-triunitas itu terhubung secara tidak langsung, namun trioditas-trioditas berhubungan langsung, dalam Deitas-deitas yang bersifat pengalaman—Yang Mahatinggi, Yang Mahaakhir, dan Yang Absolut. Mereka muncul dalam sintesis kepribadian-kuasa Sang Mahatinggi yang sedang bangkit. Dan bagi makhluk-makhluk waktu dari ruang, Sang Mahatinggi itu adalah suatu pewahyuan dari kesatuan AKU ADA.

[Disajikan oleh sesosok Melkisedek dari Nebadon.]

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved