Makalah 100: Agama dalam Pengalaman Manusia

   
   Paragraph Numbers: On | Off
Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Buku Urantia

Makalah 100

Agama dalam Pengalaman Manusia

PENGALAMAN hidup beragama yang dinamis mengubah orang yang biasa-biasa saja menjadi kepribadian dengan kekuatan yang idealis. Agama melayani kemajuan semuanya dengan cara memupuk kemajuan setiap orang, dan kemajuan masing-masing ditingkatkan melalui pencapaian keseluruhan.

Pertumbuhan kerohanian itu dirangsang timbal balik oleh hubungan erat dengan pengikut agama yang lainnya. Kasih menyediakan tanah untuk pertumbuhan keagamaan— suatu pemikat objektif yang menggantikan pemuasan subjektif—walaupun demikian kasih memberi kepuasan subjektif yang tertinggi. Dan agama memuliakan kehidupan sehari-hari yang membosankan.

1. Pertumbuhan Keagamaan

Meskipun agama menghasilkan pertumbuhan makna-makna dan perluasan nilai-nilai, namun kejahatan selalu menjadi hasilnya jika penilaian pribadi murni diangkat sampai taraf mutlak. Seorang anak menilai pengalaman sesuai dengan kadar kenikmatannya; kedewasaan itu sebanding dengan penggantian kenikmatan pribadi itu dengan makna-makna yang lebih tinggi, bahkan hingga kesetiaan pada konsep-konsep tertinggi untuk berbagai situasi hidup dan hubungan kosmis.

Beberapa orang terlalu sibuk untuk bertumbuh sehingga berada dalam bahaya besar kemandegan kerohanian. Kelonggaran perlu dibuat untuk pertumbuhan makna pada zaman yang berlainan, dalam kebudayaan-kebudayaan yang berturut-turut, dan dalam berlalunya tahap-tahap peradaban yang sedang maju. Penghambat utama pertumbuhan adalah prasangka dan kebodohan.

Berilah kesempatan bagi setiap anak kecil yang sedang bertumbuh untuk mengembangkan pengalaman keagamaannya sendiri; jangan memaksakan pengalaman orang dewasa yang sudah siap pakai kepada dirinya. Ingatlah, kemajuan selama bertahun-tahun melewati pendidikan formal tidak mesti menghasilkan kemajuan intelektual, apalagi pertumbuhan kerohanian. Perbanyakan kosa kata tidak menandakan pengembangan karakter. Pertumbuhan tidak benar-benar ditunjukkan oleh hasil semata-mata melainkan oleh kemajuan. Pertumbuhan pendidikan nyata itu ditunjukkan oleh perluasan ideal-ideal, meningkatnya penghargaan akan nilai-nilai, makna-makna baru untuk nilai-nilai, dan bertambahnya kesetiaan pada nilai-nilai tertinggi.

Anak-anak hanya terkesan secara permanen oleh kesetiaan rekan-rekan mereka yang dewasa; perintah atau bahkan teladan tidak lama berpengaruh. Orang-orang yang setia adalah orang-orang yang bertumbuh, dan pertumbuhan adalah kenyataan yang mengesankan dan mengilhami. Hiduplah dengan setia hari ini—bertumbuhlah—dan esok hari akan mengikuti dengan sendirinya. Cara tercepat bagi seekor kecebong untuk menjadi seekor katak adalah dengan hidup dengan setia setiap saat sebagai seekor kecebong.

Lahan yang pokok bagi pertumbuhan keagamaan itu memerlukan syarat suatu hidup kesadaran diri yang progresif, koordinasi kecenderungan-kecenderungan alamiah, pemupukan rasa ingin tahu dan kegemaran untuk petualangan yang masuk akal, mengalami perasaan puas, berfungsinya rangsangan ketakutan untuk perhatian dan kesadaran, daya pikat hal-hal ajaib, dan suatu kesadaran normal tentang kecilnya diri, kerendahan hati. Pertumbuhan juga didasarkan pada penemuan hakikat diri, disertai oleh kritik diri sendiri— hati nurani— karena hati nurani itu sebenarnya kritik diri sendiri oleh kebiasaan-nilai, ideal-ideal pribadi orang itu sendiri.

Pengalaman keagamaan itu sangat kentara dipengaruhi oleh kesehatan badani, watak yang diwarisi, dan lingkungan sosial. Namun kondisi-kondisi yang sementara ini tidak menghambat pertumbuhan kerohanian bagian dalam suatu jiwa yang bertekad untuk melaksanakan kehendak Bapa di surga. Dalam setiap diri manusia yang normal pasti ada semacam dorongan lahiriah ke arah pertumbuhan dan kesadaran diri, yang berfungsi kecuali secara khusus dihambat. Cara yang pasti untuk memupuk-kembangkan karunia sejak lahir ini, yaitu potensi untuk bertumbuh secara kerohanian itu, adalah dengan menjaga suatu sikap pengabdian sepenuh hati pada nilai-nilai yang tertinggi.

Agama tidak bisa diberikan, diterima, dipinjamkan, dipelajari, atau hilang. Agama itu adalah pengalaman pribadi yang bertumbuh sejalan dengan bertumbuhnya pencarian untuk nilai-nilai yang final. Maka pertumbuhan kosmis mengikuti akumulasi makna-makna dan peningkatan nilai-nilai yang terus makin meluas. Akan tetapi budi mulia itu sendiri adalah suatu proses pertumbuhan yang tidak disadari.

Kebiasaan beragama untuk berpikir dan bertindak memberi sumbangan bagi ekonomi (pengelolaan hati-hati)pertumbuhan rohani. Seseorang dapat mengembangkan sebelumnya sikap beragama ke arah reaksi yang baik terhadap rangsangan rohani, sejenis refleks rohani yang diatur. Kebiasaan-kebiasaan yang membantu pertumbuhan keagamaan mencakup pemupukan kepekaan terhadap nilai-nilai ilahi, penghargaan terhadap penghayatan keagamaan orang lain, perenungan reflektif tentang makna-makna kosmis, pemecahan masalah yang penuh hormat, berbagi kehidupan rohani dengan sesama, menjauhkan sikap mementingkan diri sendiri, menolak sikap menyalah-gunakan rahmat ilahi, hidup seperti dalam hadirat Tuhan. Faktor-faktor pertumbuhan keagamaan itu mungkin disengaja, namun pertumbuhan itu sendiri tetap tidak disadari.

Pertumbuhan keagamaan berlangsung secara tidak disadari, namun tidak berarti bahwa hal itu adalah suatu aktivitas yang dianggap berlangsung dalam alam bawah sadar intelek manusia. Lebih tepatnya hal itu menunjukkan adanya kegiatan kreatif dalam tingkat-tingkat atas sadar dari batin manusia. Pengalaman kesadaran mengenai realitas pertumbuhan keagamaan yang tak disadari itu adalah salah satu bukti positif akan ada dan berfungsinya superkesadaran.

2. Pertumbuhan Rohani

Pertumbuhan rohani bergantung pada, yang pertama, pemeliharaan suatu hubungan rohani yang hidup dengan kekuatan-kekuatan rohani yang benar, dan kedua, pada kemampuan terus-menerus untuk menghasilkan buah roh: yaitu memberikan pelayanan bagi sesama seperti yang telah ia terima dari penolong rohani orang itu. Kemajuan rohani itu dilandaskan pada pengakuan intelektual bahwa dirinya miskin secara rohani, dibarengi dengan kesadaran diri untuk selalu lapar akan kesempurnaan, hasrat untuk mengenal Tuhan dan ingin menjadi seperti Dia, tekad sepenuh hati untuk melaksanakan kehendak Bapa di surga.

Pertumbuhan rohani itu pertama-tama adalah suatu kebangkitan pada kebutuhan, selanjutnya pemahaman makna-makna, dan kemudian penemuan nilai-nilai. Bukti dari perkembangan rohani yang sejati adalah terdiri dari penampilan kepribadian manusia yang dimotivasi oleh kasih, digerakkan oleh sikap pelayanan yang tidak mencari keuntungan sendiri, dan dikuasai oleh penghormatan sepenuh hati terhadap ideal-ideal kesempurnaan keilahian. Dan seluruh pengalaman ini membentuk kenyataan agama, jika dibedakan dengan keyakinan-keyakinan teologis semata-mata.

Agama dapat melaju hingga ke suatu tingkat pengalaman dimana agama itu menjadi teknik yang dicerahkan dan bijak untuk tanggapan rohani pada alam semesta. Agama yang mulia tersebut dapat berfungsi dalam tiga jenjang kepribadian manusia: intelektual, morontial dan spiritual; ke atas batin, dalam jiwa yang berkembang, dan dengan roh yang mendiami.

Kerohanian menjadi sekaligus tolok ukur kedekatan seseorang kepada Tuhan dan ukuran kemaslahatan orang tersebut bagi sesama. Kerohanian memperluas kemampuan untuk menemukan keindahan dalam hal-hal, mengenali kebenaran di dalam makna-makna, dan menemukan kebaikan di dalam nilai-nilai. Perkembangan rohani itu ditentukan oleh kemampuan tersebut di atas, dan juga sebanding dengan penghapusan sifat-sifat yang egois dari kasih.

Status rohani yang sebenarnya itu adalah ukuran dari pencapaian Ketuhanan, yaitu Pelarasan dengan Pelaras Pikiran. Pencapaian finalitas kerohanian itu setara dengan pencapaian maksimum realitas, maksimum keserupaan dengan Tuhan. Kehidupan abadi adalah pencarian tanpa akhir untuk nilai-nilai yang tanpa batas.

Tujuan dari realisasi diri manusia haruslah rohani, bukan jasmani. Satu-satunya realitas yang pantas untuk dikejar adalah yang bersifat ilahi, rohani, dan kekal. Manusia yang fana berhak mendapatkan kenikmatan badani dan kepuasan kasih sayang manusiawi; ia akan diuntungkan oleh kesetiaan pada hubungan manusia dan lembaga yang sementara; namun semua ini bukan fondasi-fondasi kekal dimana di atasnya bisa dibangun kepribadian yang baka, yang harus melintasi ruang, menaklukkan waktu, dan meraih takdir kekal untuk kesempurnaan ilahi dan pelayanan sebagai finaliter.

Yesus pernah menggambarkan tentang teguhnya kepastian hidup manusia yang mengenal Tuhan ketika ia berkata: “Bagi seorang beriman kerajaan yang mengenal Tuhan, apakah itu penting apabila segala perkara duniawi gagal?” Keamanan duniawi itu rentan, tapi kepastian rohani itu teguh tidak tergoyahkan. Ketika terjadi terpaan gelombang kesukaran, kepentingan diri sendiri, kekejaman, kebencian, kedengkian, dan kecemburuan menghantam jiwa manusia, kamu dapat tetap tenang dalam kepastian bahwa ada satu kubu pertahanan di dalam, benteng dari roh, yang mutlak tak dapat diserang; setidaknya hal ini benar mengenai setiap manusia yang telah mengabdikan penjagaan jiwanya kepada roh yang berdiam di dalam, roh dari Tuhan yang kekal.

Setelah pencapaian rohani seperti itu, yang digapai melalui proses pertumbuhan bertahap ataupun karena krisis tertentu, terjadilah orientasi kepribadian yang baru demikian pula terjadi pengembangan suatu standar nilai-nilai yang baru. Orang-orang yang lahir dari roh tersebut akan begitu dimotivasi ulang dalam hidup mereka sehingga mereka dapat bertahan dengan tenang sementara ambisi-ambisi kesayangan mereka musnah dan harapan-harapan terdalam mereka gagal; mereka secara positif mengerti bahwa segala petaka tersebut hanyalah bencana yang mengarahkan ulang yang menghancurkan karya-karya sementara seseorang, sebagai pendahuluan ke pembentukan realitas yang lebih mulia dan abadi pada suatu tingkat pencapaian alam semesta yang baru dan lebih luhur.

3. Konsep-konsep Nilai Tertinggi

Agama itu bukanlah metode untuk mencapai kedamaian batin yang statis dan penuh bahagia; agama adalah suatu dorongan untuk menata jiwa untuk layanan yang dinamis. Agama adalah penyerahan totalitas diri seluruhnya dalam pelayanan setia mengasihi Tuhan dan melayani manusia. Agama membayar setiap harga yang pokok untuk pencapaian tujuan tertinggi, yaitu pahala yang kekal. Ada keparipurnaan yang disucikan dalam kesetiaan keagamaan yang luar biasa mendalam. Loyalitas seperti ini adalah efektif secara sosial dan progresif secara rohani.

Bagi agamawan istilah “Tuhan” menjadi suatu simbol yang menunjukkan pendekatan pada realitas tertinggi dan pengenalan nilai ilahi. Apa yang disukai atau tidak disukai manusia tidak menentukan baik dan jahat; nilai-nilai moral tidak bertumbuh dari pemenuhan keinginan atau frustrasi emosional.

Dalam perenungan tentang nilai-nilai, kamu harus bedakan antara apa yang adalah nilai dan apa yang memiliki nilai. Kamu harus mengenal hubungan antara kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dengan integrasi bermakna dan perluasan kesadaran mereka pada taraf pengalaman manusia yang terus semakin tinggi secara progresif.

Makna adalah sesuatu yang ditambahkan pengalaman pada nilai; makna adalah kesadaran yang menghargai nilai-nilai. Suatu kesenangan yang sendirian dan semata-mata mementingkan diri sendiri dapat berarti penurunan sesungguhnya terhadap makna-makna, suatu penikmatan tanpa makna yang berbatasan dengan kejahatan relatif. Nilai-nilai itu adalah pengalaman kalau realitas-realitas itu bermakna dan terkait secara mental, ketika hubungan-hubungan tersebut dikenali dan dihargai oleh pikiran.

Nilai-nilai tidak pernah menjadi statis; realitas menandakan perubahan, pertumbuhan. Perubahan tanpa pertumbuhan, perluasan makna dan peninggian nilai, adalah tanpa nilai—adalah berpotensi jahat. Semakin besar taraf penyesuaian kosmis, semakin besar makna yang setiap pengalaman itu miliki. Nilai-nilai itu bukan ilusi konseptual; nilai-nilai itu nyata, walaupun harus selalu bergantung pada fakta tentang hubungan-hubungan. Nilai-nilai itu selalu aktual dan juga potensial—bukan apa yang telah, tapi yang adalah dan akan.

Hubungan antara aktual-aktual dan potensial-potensial itu sama dengan pertumbuhan, kesadaran pengalaman akan nilai-nilai. Namun pertumbuhan bukanlah semata-mata kemajuan. Kemajuan itu selalu bermakna, tapi relatif tak bernilai tanpa pertumbuhan. Nilai tertinggi dari kehidupan manusia terdiri dari pertumbuhan nilai-nilai, kemajuan dalam makna-makna, dan kesadaran akan kesaling-terkaitan kosmis dari kedua pengalaman tersebut. Pengalaman seperti ini akan setara dengan kesadaran-Tuhan. Manusia yang seperti itu, meskipun tidak adikodrati, namun sesungguhnya sedang menjadi supramanusiawi; sesosok jiwa yang baka sedang berkembang.

Manusia tidak bisa menyebabkan pertumbuhan, namun ia dapat menciptakan kondisi-kondisi yang mendukung. Pertumbuhan itu selalu tidak disadari, baik itu fisik, intelektual ataupun spiritual. Kasih dengan demikian bertumbuh; kasih tidak dapat diciptakan, dibikin, atau dibeli; kasih harus bertumbuh. Evolusi adalah cara kosmis untuk pertumbuhan. Pertumbuhan sosial tidak dapat diperoleh melalui peraturan, dan pertumbuhan moral tidak dimiliki melalui perbaikan pengelolaan. Manusia bisa membuat sebuah mesin, namun nilai sebenarnya mesin itu harus bersumber dari kebudayaan manusia dan penghargaan pribadi. Satu-satunya sumbangan manusia bagi pertumbuhan adalah pengerahan seluruh daya dari kepribadiannya—yaitu iman yang hidup.

4. Masalah-masalah Pertumbuhan

Hidup agamis itu adalah hidup yang dibaktikan, dan hidup yang dibaktikan itu adalah kehidupan yang kreatif, asli dan spontan. Banyak wawasan keagamaan baru yang muncul dari konflik-konflik yang mengawali pemilihan kebiasaan reaksi yang baru dan lebih baik untuk menggantikan pola-pola reaksi yang lama dan lebih rendah. Makna-makna baru hanya muncul di tengah konflik; dan konflik itu terus ada hanya karena penolakan untuk menerima nilai-nilai yang lebih tinggi yang tersirat dalam makna-makna yang lebih unggul.

Kegalauan keagamaan tidak dapat dihindari; tidak akan ada pertumbuhan tanpa konflik psikis dan gejolak rohani. Penataan standar hidup yang filosofis membutuhkan banyak keributan di dalam wilayah-wilayah filosofis dari batin. Kesetiaan-kesetiaan itu tidak dilaksanakan demi apa yang besar, yang baik, yang benar, dan yang mulia tanpa pergumulan. Upaya itu mengiringi penjernihan pandangan rohani dan perluasan wawasan kosmis. Dan sisi intelek manusia akan berontak karena disapih dari energi-energi non-rohani dari keberadaan fana. Pikiran hewani yang malas memberontak melawan pengerahan upaya yang diperlukan untuk bergumul dengan pemecahan permasalahan kosmis.

Akan tetapi permasalahan besar dalam hidup beragama terdiri dalam tugas untuk menyatukan kekuatan-kekuatan jiwa dari kepribadian melalui dominasi KASIH. Kesehatan, efisiensi mental, dan kebahagiaan muncul dari penyatuan sistem-sistem fisik, sistem-sistem batin, dan sistem-sistem roh. Tentang kesehatan dan kebersihan manusia mampu menangkap banyak hal, namun tentang kebahagiaan benar-benar baru sedikit yang ia rasakan. Kebahagiaan tertinggi tidak bisa dilepaskan terkait dengan kemajuan rohani. Pertumbuhan rohani menghasilkan sukacita yang bertahan lama, damai sejahtera yang melampaui segala pengetahuan.

Dalam kehidupan badani, indra-indra mampu memberitahukan tentang keberadaan benda-benda; pikiran menemukan kenyataan makna-makna; tapi pengalaman rohani membukakan pada perorangan nilai-nilai kehidupan yang sejati. Taraf hidup manusia yang tinggi ini diraih dalam kasih Tuhan yang tertinggi dan dalam kasih manusia yang tidak mementingkan diri. Jika kamu mengasihi sesamamu manusia, kamu pasti telah menemukan nilai-nilai mereka. Yesus begitu mengasihi orang-orang oleh karena ia memberi harkat nilai yang tinggi ke atas mereka. Kamu paling baik dapat menemukan nilai-nilai dalam diri rekan-rekanmu dengan menemukan motivasi mereka. Jika seseorang melukai perasaanmu, menimbulkan rasa kesal, kamu perlu dengan simpatik mencoba untuk menelaah sudut pandangnya, alasan-alasannya sehingga ia berbuat hal yang tidak menyenangkan tersebut. Sekali kamu mampu memahami sesamamu, kamu akan menjadi toleran, dan toleransi ini akan bertumbuh menjadi persahabatan dan matang menjadi kasih.

Dalam mata batinmu tampilkan gambaran tentang salah satu nenek moyang primitifmu—seorang lelaki kasar yang pendek, perawakan aneh, dekil, menggeram, yang sedang berdiri, kaki direntangkan, tongkat diacungkan, menapaskan kebencian dan kemarahan saat dengan ganas ia menatap lurus ke depan. Gambaran seperti itu sulit bisa dikatakan menggambarkan martabat ilahi manusia. Tapi izinkan kami untuk memperluas gambaran itu. Di depan manusia yang bernyawa ini meringkuk seekor macan bergigi pedang. Di belakangnya, seorang perempuan dan dua anak-anak. Segera kamu mengenali bahwa gambaran tersebut mewakili permulaan dari banyak hal yang indah dan mulia dalam ras manusia, namun lelaki itu sama dalam kedua gambaran itu. Hanya saja, dalam sketsa kedua kamu disenangkan dengan cakrawala yang diperluas. Kamu di situ melihat motivasi dari manusia yang berevolusi ini. Sikapnya menjadi terpuji karena kamu memahami dia. Jika saja kamu menyelami motif dari rekan-rekanmu, alangkah lebih baiknya kamu akan mengerti mereka. Jika saja kamu dapat mengetahui sesamamu, kamu pada akhirnya akan jatuh cinta pada mereka.

Kamu tidak bisa sungguh-sungguh mencintai sesamamu oleh karena semata-mata perbuatan dari kehendak. Kasih itu hanya lahir dari pemahaman menyeluruh tentang motif dan perasaan sesamamu. Tidak terlalu penting kamu mengasihi seluruh manusia di dunia hari ini namun lebih baik setiap hari kamu belajar mengasihi satu orang lagi. Jika setiap hari, atau setiap minggu kamu memperoleh pemahaman terhadap satu sesamamu lagi, dan jika memang inilah batas dari kemampuanmu, maka tentulah kamu sedang bersosialisasi dan benar-benar merohanikan kepribadianmu. Kasih itu menular, dan kalau bakti pengabdian manusia itu cerdas dan bijaksana, kasih itu lebih menarik daripada kebencian. Namun hanya kasih yang asli dan tidak mengejar keuntungan diri sendiri itu yang benar-benar menular. Jika saja setiap manusia rela menjadi fokus untuk kasih sayang dinamis ini, tentulah virus cinta kasih yang mulia ini segera akan merasuki arus emosi sentimental umat manusia sedemikian sehingga seluruh peradaban akan diliputi oleh kasih, dan itulah yang akan menjadi perwujudan persaudaraan umat manusia.

5. Pertobatan dan Mistisme

Dunia dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang terhilang, bukan terhilang dalam arti teologis melainkan tersesat dalam arti arah hidup. Mereka berkelana kian kemari dalam kebingungan di tengah berbagai isme dan kultus di era filosofis yang bingung. Hanya sedikit yang mampu belajar bagaimana cara untuk menempatkan filsafat hidup sebagai ganti otoritas keagamaan. (Simbol-simbol agama yang disosialisasikan itu jangan dipandang rendah sebagai kanal-kanal pertumbuhan, walaupun demikian dasar sungai bukanlah sungai itu sendiri).

Kemajuan pertumbuhan keagamaan berpangkal dari kemandegan melalui konflik kepada koordinasi. dari rasa tidak aman menuju iman tanpa keraguan, dari kebingungan kesadaran kosmis menuju penyatuan kepribadian, dari sasaran fana menuju yang kekal, dari belenggu ketakutan menuju kebebasan sebagai putra ilahi.

Perlu diperjelas bahwa pernyataan kesetiaan pada ideal-ideal yang tertinggi—kewaskitaan psikis, emosional, dan spiritual tentang kesadaran Tuhan—mungkin bermula dari pertumbuhan yang alami dan bertahap, atau bisa juga dialami pada persimpangan jalan hidup tertentu, seperti dalam suatu krisis. Rasul Paulus mengalami pertobatan yang spektakuler dan tiba-tiba seperti itu pada hari yang berkesan di jalan Damaskus itu. Sidharta Gautama mendapatkan pengalaman serupa ketika di malam hari ia duduk sendirian dan mencoba untuk menerawang misteri tentang kebenaran akhir. Banyak orang lain yang juga telah memperoleh pengalaman serupa, dan banyak orang percaya sejati yang telah maju dalam roh tanpa pertobatan secara tiba-tiba.

Kebanyakan fenomena spektakuler yang bersangkut-paut dengan apa yang disebut sebagai pertobatan keagamaan itu sepenuhnya bersifat psikologis, walaupun kadang-kadang ada pula pengalaman yang juga rohani asalnya. Ketika pengerahan mental seseorang itu mutlak total pada suatu tingkatan jangkauan psikis ke arah pencapaian roh, maka terjadilah kesempurnaan dari motivasi kesetiaan manusia kepada gagasan keilahian, lalu sering sekali terjadi suatu sentuhan-turun yang tiba-tiba dari roh yang mendiami, untuk menyelaraskan dengan tujuan yang dikonsentrasikan dan dikonsekrasikan dari batin suprasadar manusia yang percaya itu. Dan pengalaman fenomena intelektual dan spiritual yang dipersatukan tersebut itulah yang merupakan pertobatan yang terdiri dari faktor-faktor yang melampaui dan di atas keterlibatan psikologis semata.

Tapi emosi saja adalah pertobatan yang palsu; seseorang harus memiliki keyakinan dan juga perasaan. Sampai taraf bahwa pengerahan daya psikis itu parsial, dan sejauh motivasi kesetiaan manusiawi tersebut tidak tuntas, maka sampai taraf itu pula pengalaman pertobatan menjadi suatu paduan realitas intelektual, emosional dan spiritual.

Kehidupan intelektual itu dipersatukan, tapi jika seseorang cenderung mengakui suatu batin bawah sadar yang teoretis itu sebagai suatu hipotesis kerja yang praktis dalam kehidupan intelektual (yang dipersatukan itu), maka, agar konsisten, ia harus mendalilkan juga adanya suatu alam kegiatan intelektual menaik yang sama dan berkaitan sebagai tingkatan supra sadar, zona kontak langsung dengan sosok roh yang mendiami, yaitu Pelaras Pikiran. Bahaya besar dalam semua spekulasi psikis ini adalah bahwa visi dan pengalaman lain yang sering disebut pengalaman mistis itu, bersama dengan mimpi yang luar biasa, bisa dianggap sebagai komunikasi ilahi kepada batin manusia. Di masa-masa lalu, sosok-sosok ilahi telah mengungkapkan diri mereka kepada orang-orang tertentu yang mengenal Tuhan, bukan karena trans mistis atau penglihatan seram mereka, tapi terlepas dari semua fenomena ini.

Sebaliknya dari mencari-pertobatan, pendekatan lebih baik ke zona-zona morontia untuk kontak yang mungkin dengan Pelaras Pikiran adalah melalui iman yang hidup dan ibadah yang tulus, doa yang sepenuh hati dan tidak mementingkan diri. Sering sekali gelora-gelora naik memori dari tingkatan tidak sadar batin manusia itu disalah-artikan sebagai pewahyuan ilahi dan petunjuk roh.

Ada bahaya besar yang berkaitan dengan praktek kebiasaan lamunan religius; mistisisme bisa menjadi cara untuk menghindari kenyataan, meskipun memang kadang-kadang menjadi sarana komuni (persekutuan) rohani yang sejati. Masa singkat retret dari kesibukan hidup mungkin tidak berbahaya secara serius, tapi pengasingan kepribadian yang berlama-lama itu sangat tidak dikehendaki. Dalam hal apapun janganlah keadaan kesadaran visioner yang mirip trans (trance) itu dikembangkan sebagai pengalaman keagamaan.

Ciri-ciri khas dari keadaan mistis adalah difusi kesadaran dengan pulau-pulau fokus perhatian yang jelas yang bekerja pada suatu intelek yang relatif pasif. Semua ini cenderung menurunkan kesadaran ke arah bawah sadar, bukannya ke arah zona kontak rohani, yaitu suprasadar. Banyak pelaku mistik telah mengalami disosiasi mental hingga ke tingkat manifestasi-manifestasi mental yang abnormal.

Sikap yang lebih sehat untuk meditasi rohani dapat dijumpai dalam penyembahan reflektif (berkaca diri) dan dalam doa ucapan syukur. Persekutuan (communion) langsung dengan Pelaras yang mendiami seseorang, seperti yang terjadi dalam tahun-tahun belakangan kehidupan Yesus di bumi, jangan disalah-artikan dengan apa yang disebut pengalaman mistis. Faktir-faktor yang menyumbang pada mulainya persekutuan mistik adalah petunjuk akan bahaya dari keadaan psikis tersebut. Status mistik itu didorong oleh hal-hal seperti: kelelahan fisik, berpuasa, disosiasi psikis, pengalaman estetis mendalam, dorongan seks yang kuat, ketakutan, kecemasan, murka, dan tarian yang liar. Banyak dari hal-hal yang muncul dalam batin sebagai hasil dari persiapan pendahuluan seperti itu berasal dari batin bawah sadar.

Bagaimanapun memungkinkannya kondisi-kondisi untuk fenomena mistis, harus jelas dipahami bahwa Yesus dari Nazaret tidak pernah beralih pada metode-metode tersebut untuk bersekutu dengan Bapa Firdaus. Yesus tidak memiliki delusi bawah sadar ataupun ilusi atas sadar.

6. Tanda-tanda Kehidupan Beragama

Agama-agama yang evolusioner dan diwahyukan mungkin mempunyai perbedaan yang menyolok dalam metodenya, namun dalam hal motif ada kesamaan besar. Agama bukanlah suatu fungsi spesifik dalam hidup; agama lebih merupakan suatu mode hidup. Agama yang benar adalah bakti sepenuh hati kepada suatu kenyataan yang para agamawan itu anggap sebagai nilai tertinggi untuk dirinya dan untuk seluruh umat manusia. Ciri-ciri yang menonjol dari semua agama adalah: kesetiaan tanpa diragukan dan pengabdian sepenuh hati pada nilai-nilai tertinggi. Pengabdian keagamaan pada nilai-nilai tertinggi ini ditunjukkan dalam hubungan ibu yang dianggap tidak beragama kepada anaknya, dan dalam kesetiaan sungguh-sungguh orang-orang yang bukan penganut agama pada suatu gerakan yang mereka dukung.

Nilai tertinggi yang dianut oleh agamawan mungkin saja rendah atau bahkan keliru, namun tetap saja hal itu bersifat keagamaan. Suatu agama itu benar sejauh mana nilai yang dianggap tertinggi itu benar-benar merupakan realitas kosmis yang mempunyai harkat rohani yang asli.

Tanda-tanda dari tanggapan manusia terhadap dorongan keagamaan itu mencakup kualitas-kualitas keagungan dan kebesaran. Orang beragama yang tulus itu sadar akan kewargaan semesta dan sadar untuk melakukan kontak dengan sumber-sumber kekuatan supramanusia. Ia digairahkan dan disemangati dengan kepastian dirinya terbilang pada persekutuan anak-anak Tuhan yang luhur dan dimuliakan. Kesadaran akan harkat diri itu telah diperkuat oleh rangsangan untuk mencari sasaran-sasaran semesta yang paling tinggi—tujuan-tujuan tertinggi.

Diri telah ditundukkan pada dorongan yang membangkitkan minat, dari suatu motivasi menyeluruh yang menerapkan disiplin diri yang lebih tinggi, mengurangi konflik emosional dan membuat kehidupan yang fana di dunia benar-benar layak dijalani. Pengenalan menakutkan akan keterbatasan manusia diubah menjadi kesadaran alamiah akan kekurangan manusia fana, dikaitkan dengan tekad moral dan cita-cita rohani untuk mencapai sasaran-sasaran alam semesta dan alam semesta super yang tertinggi. Dan upaya keras untuk pencapaian ideal-ideal supramanusia ini selalu dicirikan oleh meningkatnya kesabaran, ketabahan, keteguhan, dan toleransi.

Namun demikian, agama yang benar adalah kasih yang hidup, hidup pelayanan. Upaya orang beragama yang melepaskan diri dari banyak perkara duniawi yang fana dan sia-sia itu tidak pernah menjurus pada ketertutupan sosial, dan hal itu jangan sampai menghancurkan rasa humor. Agama yang tulen tidak pernah merampas apa-apa dari keberadaan manusiawi, tetapi menambahkan makna-makna baru ke seluruh kehidupan; agama itu membangkitkan jenis baru antusiasme, semangat, dan keberanian. Agama itu bahkan menimbulkan semangat untuk bertempur demi agama, yang akan lebih dari berbahaya apabila tidak dikendalikan oleh wawasan rohani dan pengabdian setia pada tanggung jawab sosial sehari-hari untuk kesetiaan manusia.

Salah satu pertanda hidup beragama yang paling menakjubkan adalah damai sejahtera yang dinamis dan mendalam itu, damai yang melampaui segala akal, ketenangan sikap kosmis itu yang menandakan tiadanya semua rasa ragu dan galau. Tingkatan kestabilan rohani tersebut kebal terhadap kekecewaan. Para pemeluk agama itu adalah seperti Rasul Paulus, yang berkata, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah.”

Ada rasa aman, yang terkait dengan kesadaran akan kejayaan kemenangan, yang tinggal di dalam kesadaran pemeluk agama yang telah meraih kenyataan tentang Yang Mahatinggi, dan yang mengejar sasaran Yang Mahaakhir.

Bahkan agama yang berevolusi memiliki semua ini dalam kesetiaan dan kebesaran oleh karena hal itu suatu pengalaman yang asli. Namun agama wahyu itu istimewa dan sekaligus asli. Kesetiaan-kesetiaan baru tentang visi rohani yang kian luas itu menciptakan tataran-tataran baru kasih dan pengabdian, pelayanan serta persekutuan; dan semua peningkatan pandangan sosial ini menghasilkan suatu perluasan kesadaran akan Kebapaan Tuhan dan persaudaraan umat manusia.

Perbedaan khas antara agama yang dievolusikan dan yang diwahyukan adalah suatu kualitas kebijaksanaan ilahi yang baru, yang diimbuhkan pada kebijaksanaan manusia yang murni dari pengalaman. Namun adalah pengalaman dalam dan dengan agama-agama manusia itulah yang memperbesar kapasitas untuk dapat menerima lebih banyak lagi karunia kebijaksanaan ilahi dan wawasan kosmis.

7. Puncak Hidup Beragama

Meskipun manusia Urantia pada umumnya tidak mungkin berharap untuk dapat menggapai kesempurnaan karakter tinggi yang telah diperoleh Yesus dari Nazaret selama Ia berkelana di dunia dalam badan jasmani, namun sungguh mungkin bagi setiap orang percaya untuk mengembangkan kepribadian yang manunggal dan kuat, mengikuti garis-garis yang disempurnakan dari kepribadian Yesus. Sisi unik dari kepribadian Guru adalah tidak terlalu pada kesempurnaannya, melainkan lebih pada simetrinya, kemanunggalan kepribadian yang menakjubkan dan berimbang. Presentasi paling efektif tentang Yesus terdiri dari mengikuti contoh orang yang berkata, saat ia menunjuk ke arah Guru yang berdiri di depan para penuduhnya, “Lihatlah manusia itu!”

Kebaikan hati Yesus yang tidak kunjung gagal itu menyentuh hati manusia, tapi kekuatan mantap karakternya itu mengagumkan para pengikutnya. Ia benar-benar tulus; tidak sedikitpun kemunafikan dalam dirinya. Ia bebas dari kepura-puraan; ia selalu ikhlas menyegarkan hati. Ia tidak pernah mencari-cari alasan, dan tidak pernah mempergunakan tipuan. Ia hidup dalam kebenaran, sebagaimana yang ia ajarkan sendiri. Ia adalah kebenaran. Ia sangat berhasrat untuk menyampaikan berita kebenaran yang menyelamatkan kepada generasinya, walaupun ketulusan tersebut kadang menyebabkan kepedihan. Ia tidak diragukan lagi setia pada seluruh kebenaran.

Namun Guru begitu masuk akal, begitu bisa didekati. Ia begitu praktis dalam semua pelayanannya, sementara segenap rencananya dicirikan oleh akal sehat yang disucikan seperti itu. Ia begitu bebas dari segala kecenderungan aneh, berubah-ubah pikiran, dan eksentrik. Ia tidak pernah plin-plan, bertingkah aneh-aneh, atau histeria. Dalam semua ajarannya dan dalam segala hal yang ia kerjakan selalu ada pemilahan yang indah, berkaitan dengan rasa sopan santun yang luar biasa.

Anak Manusia adalah selalu kepribadian yang bersikap tenang. Bahkan para musuhnya menunjukkan penghargaan yang sehat terhadap dia; mereka bahkan gentar akan kehadirannya. Yesus tidak takut. Ia dipenuhi dengan antusiasme ilahi, namun tidak pernah menjadi fanatik. Ia secara emosional aktif namun tidak pernah angin-anginan. Ia imajinatif namun selalu praktis. Ia dengan terus terang menghadapi kenyataan hidup, tapi ia tidak membosankan atau menjemukan. Ia pemberani tetapi tidak ceroboh; berhati-hati namun bukan pengecut. Ia bersimpati namun tidak sentimental; unik tetapi tidak eksentrik. Ia saleh namun tidak sok suci. Dan ia pribadi yang sangat seimbang karena ia telah dengan sempurna dipersatukan.

Keaslian Yesus tidak meniru siapapun. Ia tidak terikat oleh tradisi atau dikekang oleh penghambaan pada adat-istiadat yang sempit. Ia berbicara dengan penuh kepastian dan mengajar dengan kewibawaan mutlak. Namun keasliannya yang luar biasa tersebut tidak menyebabkan ia mengabaikan permata-permata kebenaran dalam ajaran para pendahulunya maupun tokoh-tokoh pada masanya. Dan yang paling asli dari ajarannya adalah penekanan kasih dan rahmat sebagai ganti rasa takut dan pengorbanan.

Yesus sangat luas dalam pandangannya. Ia mendorong para pengikutnya agar memberitakan injil kepada semua orang. Ia bebas dari kepicikan pikiran. Hatinya yang simpatik merangkul seluruh umat manusia, bahkan sebuah alam semesta. Selalu undangannya adalah, “Barangsiapa mau, biarlah ia datang.”

Tentang Yesus benarlah jika dikatakan, “Ia menaruh harapan-Nya pada Allah.” Sebagai seorang manusia di antara manusia ia paling mendalam mempercayai Bapa di surga. Ia percaya kepada Bapa laksana seorang anak kecil percaya pada ayahnya di bumi. Imannya sempurna namun tidak pernah ia lancang. Tidak peduli bagaimana alam tampaknya kejam atau bagaimana tidak pedulinya pada kesejahteraan manusia di bumi, tidak pernah imannya bimbang. Ia kebal pada kekecewaan dan tahan pada penganiayaan. Ia tidak terpengaruh oleh apa yang tampaknya kegagalan.

Ia mengasihi sesama manusia sebagai saudara dan saudari, sambil terus mengenali bagaimana mereka berbeda-beda dalam bakat-bakat bawaan dan sifat-sifat perolehan. “Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik.”

Yesus adalah pribadi yang luar biasa ceria, namun ia bukan seorang optimis yang buta atau asal saja. nasihat yang selalu Ia sampaikan adalah, “Bergembiralah.” Ia dapat terus menjaga sikap percaya diri ini karena percayanya yang tidak tergoyahkan akan Tuhan dan keyakinannya yang tak tergoncangkan akan manusia. Ia selalu tenggang rasa secara mendalam kepada semua manusia karena ia mengasihi mereka dan mempercayai mereka. Namun demikian ia selalu setia pada keyakinannya dan dengan agung tetap teguh dalam pengabdiannya untuk melakukan kehendak Bapanya.

Sang Guru selalu murah hati. Tak jemu-jemunya ia berpesan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Katanya, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Namun demikian, dengan segala kemurahan hati yang tak terbatas itu ia tidak pernah boros atau bermewah-mewah. Ia mengajarkan bahwa kamu harus percaya agar dapat menerima keselamatan. “Setiap orang yang mencari, mendapat.”

Ia jujur, namun selalu ramah. Katanya, “Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.” Ia terang-terangan, namun selalu bersahabat. Ia berbicara terbuka dalam kasihnya untuk orang berdosa dan kebenciannya untuk dosa. Namun dalam segala keterus-terangan yang mengagumkan ini ia wajar tidak tercela sedikitpun.

Yesus terus menerus selalu ceria, walaupun sering ia mereguk cukup dalam dari cawan duka manusia. Tanpa gentar ia menghadapi kenyataan kehidupan, namun tetap ia demikian dipenuhi semangat untuk injil kerajaan. Walau demikian ia senantiasa mengendalikan antusiasmenya; antusiasmenya tidak pernah mengendalikan dia. Ia tanpa syarat berdedikasi untuk “urusan Bapa.” Antusiasme ilahi ini membuat saudara-saudarinya yang tidak rohani berpikir bahwa ia sudah hilang ingatan, namun alam semesta yang menyaksikan memuji dia sebagai model kesehatan jiwa dan pola pengabdian manusia tertinggi pada standar tinggi hidup rohani. Dan antusiasmenya yang terkendali itu menular; rekan-rekannya ingin ikut berbagi optimisme ilahinya.

Pria dari Galilea ini bukanlah seorang yang pemurung; Ia adalah jiwa kegembiraan. Selalu ia berkata, “Bersukacita dan bergembiralah.” Namun saat ada tugas diperlukan, ia bersedia untuk berjalan dengan penuh keberanian melewati “lembah kekelaman.” Ia periang tetapi sekaligus juga rendah hati.

Keberaniannya disamai hanya oleh kesabarannya. Ketika ia didesak untuk bertindak terlalu dini, ia hanya akan menjawab, “Saatku belum tiba.” Ia tidak pernah tergesa-gesa; penguasaan dirinya luar biasa. Namun acap kali ia murka terhadap kejahatan, tidak toleran terhadap dosa. Ia sering tergerak hebat untuk melawan segala perkara yang merugikan kesejahteraan anak-anaknya di bumi. Akan tetapi kegeramannya terhadap dosa tidak membuat ia marah pada si pendosa.

Keberaniannya luar biasa, namun ia tidak pernah membabi buta. Semboyannya adalah, “Jangan takut.” Keberaniannya sangat luhur dan kadang-kadag heroik. Namun keberaniannya dikaitkan dengan kearifan dan dikendalikan oleh akal sehat. Keberanian itu lahir dari iman, bukan kelancangan buta yang gegabah. Ia sungguh-sungguh berani namun tidak pernah kurang ajar.

Guru adalah pola untuk rasa hormat. Doanya sejak masa mudanya itupun dimulai dengan, “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.” Ia bahkan menghormati ibadah keliru dari sesamanya. Namun hal ini tidak membuat ia gentar untuk menentang tradisi keagamaan atau menyerang kesalahan-kesalahan keyakinan manusia. Ia menjunjung kesucian yang sejati, namun dapat dengan adil membela diri pada sesamanya, berkata “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?”

Yesus itu agung oleh karena ia baik, namun demikian ia bersahabat dengan anak-anak kecil. Ia lemah lembut dan tidak pernah berprasangka dalam kehidupan pribadinya, namun demikian ia adalah manusia yang disempurnakan dari sebuah alam semesta. Rekan-rekannya memanggil dia Guru (Master) tanpa diminta.

Yesus adalah kepribadian manusia yang dipersatukan sempurna. Dan hari ini, seperti di Galilea, ia masih terus mempersatukan pengalaman manusia dan menyelaraskan upaya manusia. Ia mempersatukan hidup, memuliakan karakter, dan menyederhanakan pengalaman. Ia memasuki batin manusia untuk menaikkan, mengubah bentuk, dan mengubah wujudnya. Sungguh harfiah pernyataan ini: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

[Disampaikan oleh sesosok Melkisedek dari Nebadon]

Foundation Info

Versi printer-friendlyVersi printer-friendly

Urantia Foundation, 533 W. Diversey Parkway, Chicago, IL 60614, USA
Tel: +1-773-525-3319; Fax: +1-773-525-7739
© Urantia Foundation. All rights reserved